Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Januari 2020

AYAT PENJELAS AYAT


—Saiful Islam*—

“Ternyata Hadis-Hadis, itu tidak mesti merupakan penjelas Qur’an…”

Dalam bukunya Studies in Early Hadith Literature, Prof Azami menulis tentang 4 kedudukan Sunnah dalam Islam. Di antaranya yaitu (1) menjelaskan Qur’an, dan (2) Rasulullah berwenang membuat aturan. Di bukunya yang lain, On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence, menjadi peranan Nabi dalam hukum Islam. Antara lain yaitu (1) penjelas Qur’an, dan (2) legislator (pembuat syariat atau hukum di luar Qur’an.

Saya akan komentari yang menurut saya kontroversial saja. Yaitu fungsi Rasulullah atau Sunnah sebagai mubayyin (penjelas Qur’an) dan fungsi beliau SAW sebagai legislator—pembuat syariat di luar Qur’an. Sisanya kiranya, sudah saya bahas di tulisan-tulisan saya sebelumnya. Jadi tidak perlu diulang lagi.

Perlu saya perjelas dulu di sini. Bahwa kedudukan Sunnah, atau pernanan Nabi, itu di kemudian hari ujug-ujug (tiba-tiba) ditarik dan berubah menjadi fungsi Hadis terhadap Qur’an. Yaitu (1) bayaan al-taqriir (memperkuat Qur’an), (2) bayaan tafshiil (merinci), (3) bayaan taqyiid (membatasi), (4) bayaan takhshiish (mengkhususkan), (5) bayaan tasyrii’ (membuat syariat di luar Qur’an), dan (6) bayaan nasakh (menghapus ketentuan hukum Qur’an).

Berdasar QS.16:44, Azami berpendapat bahwa kedudukan Sunnah dalam Islam adalah sebagai penjelas Qur’an. Berikut ini.

QS. Al-Nahl[16]: 44
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dengan PENJELASAN-PENJELASAN dan lembaran-lembaran (kitab). Dan KAMI TURUNKAN KEPADAMU AL-QUR’AN, AGAR KAMU MENJELASKAN PADA UMAT MANUSIA APA YANG TELAH DITURUNKAN KEPADA MEREKA dan supaya mereka memikirkan.

Baiklah. Menurut saya, penjelasan Rasulullah atau Sunnah Rasulullah terhadap Qur’an, ujug-ujug ditarik menjadi fungsi Hadis sebagai penjelas Qur’an, ini terlalu gegabah. Sebab tidak selalu penjelasan Rasulullah, itu adalah dengan sesuatu di luar Qur’an itu sendiri. Bahkan tidak mungkin dengan Hadis. Wong Hadis ketika Rasulullah masih hidup itu tidak ada. Artinya, sangat bisa jadi, penjelasan Rasulullah, itu adalah ayat-ayat Qur’an itu sendiri. Sehingga, ayat dijelaskan dengan ayat. Meskipun yang mengucapkannya adalah Rasulullah SAW. Marilah kita tinjau lebih jauh.

Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-bayyinah itu berarti petunjuk (dalaalah) yang jelas. Baik secara akal, maupun rasa.

Sedangkan al-bayaan, itu berarti penyingkap (pembuka tabir) sesuatu. Yang awalnya masih abu-abu atau remang-remang, maka dengan al-bayaan menjadi tampak jelas, dan terang.

Menurut Lisan al-‘Arab, kata al-bayaan, itu artinya adalah penjelas suatu dalil (petunjuk) dan yang semisalnya. Dengan al-bayaan, itu sebuah petunjuk menjadi semakin jelas. Bisa juga berarti keterangan. Dengan al-bayaan, sebuah dalil menjadi semakin terang. Semakin gamblang dan tampak. Baana, istabaana, tabayyana, abaana, dan bayyana, itu berarti satu. Artinya sama.

Al-tabyiin, itu berarti menerangkan atau keterangan-keterangan. Begitu juga al-tibyaan, mubiin, mubayyinah, artinya kurang lebih sama. Titik tekannya adalah kata al-bayaan dan yang semisalnya itu, lebih pada berupa kalimat-kalimat. Atau kata-kata. Nah, kalimat atau kata-kata, itu ada yang diucapkan dan ada yang tertulis.

Ingat, Qur’an itu adalah kalimat-kalimat. Qur’an adalah kata-kata. Qur’an pertama kali diterima dan diucapkan oleh Nabi, lantas kemudian ditulis sehingga sampai kepada kita. Salah satu penjagaan Allah terhadap Qur’an selain penghafalan, memang adalah penulisan.

Ternyata, al-bayaan, itu artinya lebih kepada Qur’an itu sendiri. Yakni ayat satu menjadi penjelas ayat yang lain. Artinya tubayyin-nya Rasulullah SAW, itu adalah Qur’an itu sendiri. Jadi memang Nabi yang menjelaskan, yang mengucapkan, yang menerangkan. Tetapi isi atau konten yang diucapkan Nabi, itu adalah Qur’an itu sendiri. Berikut ayat-ayat bahwa penjelas itu ternyata ayat-ayat Qur’an itu sendiri.

QS. Al-Baqarah[2]: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai PETUNJUK bagi manusia dan PENJELAS MENGENAI PETUNJUK TERSEBUT dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Sangat gamblang ayat di atas. Bahwa ternyata ayat-ayat Qur’an, itu memang bisa saling menjelaskan. Jika ada satu ayat kurang jelas, maka cobalah mencari ayat-ayat lain yang setema atau berkaitan. Insya Allah ayat-ayat yang lain, itu akan membuat ayat yang pertama tadi menjadi semakin jelas, semakin terang, semakin nyata, dan semakin gamblang. Seperti mainan menyusun puzzle begitulah. Semakin banyak potongan gambar yang disusun, maka gambar tersebut akan semakin tampak bentuknya.

QS. Ali Imran[3]: 138 & 184
هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
138. (AL-QUR’AN) INI ADALAH PENJELASAN BAGI SELURUH MANUSIA, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ جَاءُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ
184. Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya Rasul-Rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula). Mereka membawa PENJELASAN-PENJELASAN, lembaran-lembaran, dan al-kitab yang mencerahkan.

QS. Ibrahim[14]: 4
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ
Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan DENGAN BAHASA KAUMNYA, SUPAYA IA DAPAT MENJELASKAN KEPADA MEREKA.

QS. Al-Maidah[5]: 19 & 75
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ
19. Hai ahli Kitab. Sesungguhnya telah datang kepada kamu RASUL KAMI, MENJELASKAN (SYARI'AT KAMI) KEPADAMU ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul.

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
75. Al-masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul. Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang sangat benar. Kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana KAMI MENJELASKAN KEPADA MEREKA (AHLI KITAB) AYAT-AYAT (KAMI).

QS. Al-Mu’min[40]: 34
وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا زِلْتُمْ فِي شَكٍّ مِمَّا جَاءَكُمْ بِهِ ۖ
Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu DENGAN MEMBAWA PENJELASAN-PENJELASAN. Tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu.

QS. Al-Mujadilah[58]: 5
إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ وَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۚ
Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya KAMI TELAH MENURUNKAN AYAT-AYAT YANG MENJELASKAN.

QS. Al-Shaff[61]: 6
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya sangat terpuji." MAKA TATKALA RASUL (MUHAMMAD) ITU DATANG KEPADA MEREKA DENGAN MEMBAWA PENJELASAN-PENJELASAN YANG NYATA, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."

QS. Al-Thalaq[65]: 11
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا
(Dan mengutus) SEORANG RASUL YANG MEMBACAKAN KEPADAMU AYAT-AYAT ALLAH YANG MENJELASKAN (BERMACAM-MACAM HUKUM) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. dan Barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.

Bahkan menurut ayat di bawah ini, penjelasan itu, memang dari Allah. Penjelasan tersebut adalah tanggung jawab Allah. Wahyu ayat-ayat Qur’an sebagai penjelas, ini memang dari Allah.

QS. Al-Qiyamah[75]: 19
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
Kemudian, sesungguhnya ATAS TANGGUNG JAWAB KAMI LAH PENJELASANNYA (BAYAANAH).

Meski demikian, bagi kita yang hidup sekarang, saya tidak menutup 100% kemungkinan bahwa Hadis sahih bisa menjelaskan Qur’an. Tetap, Hadis masih memungkinkan menjadi media menelusuri Sunnah Nabi. Terutama teknis-teknis ibadah non-substansial. Hadis-Hadis tetap pada posisinya yang zhann. Hanya diduga. Yang 100% sudah pasti merupakan penjelas ayat, itu ya ayat-ayat Qur’an itu sendiri.

Kalau Hadis dianggap bisa menjadi penjelas Qur’an, maka memang wajib ada ayat yang dijelaskan. Jadi harus mengutip ayatnya dulu. Namanya penjelas, mesti harus ada yang dijelaskan. Jangan sampai namanya penjelas, tetapi ternyata Hadis tersebut berdiri sendiri. Alias, tidak ada cantolan Qur’an-nya. Terutama soal syariat dan akidah. Apalagi sampai ada Hadis yang bertentangan secara teks-nya dengan Qur’an. Tentu, Hadis seperti itu, meski sahih sanadnya, wajib bagi kita ‘meletakkannya’.

Maka, marilah kita memberikan porsi selayaknya kepada ayat-ayat Qur’an sebagai penjelas daripada Hadis-Hadis. Terkait al-bayaan ini, marilah kita adil di dalam memposisikan ayat-ayat Qur’an dan Hadis-Hadis. Jangan sampai kita kebablasan menempatkan Hadis-Hadis sejajar dengan Qur’an, dengan menganggap Hadis adalah wahyu teologis mandiri selain Qur’an yang turun kepada Nabi. Atau malah Hadis lebih diunggulkan dari Qur’an. Na’uudz billaah.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

*Penulis Ayat-Ayat Kemenangan

Jumat, 24 Januari 2020

SATU: QUR’AN & RASUL


—Saiful Islam*—

“Allah, Qur’an, dan Rasul, itu sejatinya satu. Dan saling terkait. Tidak bisa lepas antara satu dan yang lainnya…”

Dari QS.4:105, kita menjadi paham. Bahwa Rasulullah itu menghukumi perkara-perkara umatnya dengan al-Qur’an. Teks Qur’an inilah satu-satunya wahyu teologis yang diterima Rasulullah. Tidak ada wahyu teologis lain selain Qur’an. Bahkan Rasulullah sendiri, itu diperintah untuk mengikuti Qur’an (QS.45:18). Dan umatnya pun juga diperintah mengikuti Qur’an itu juga (QS.6:155).

Karenanya, beliau SAW dijuluki sebagai Rasul—penyampai pesan Tuhan. Sebelum menerima pesan Tuhan, itu beliau adalah Muhammad. Bukan Rasulullah. Ketika masih Muhammad, tampaknya mayoritas masyarakat Mekah menyukai Muhammad. Barulah ketika beliau menyampaikan Qur’an, karena memang diperintah Tuhan untuk menyampaikannya, terjadi ketegangan dan pertentangan yang serius. Beliau SAW dituduh sebagai dukun, penyihir, gila, sampai mau dibunuh, itu ya karena Muhammad telah menjadi Rasulullah—menyampaikan Qur’an.

Sehingga ketika Muhammad telah menjadi Rasulullah, Qur’an-lah yang menjadi segala sumber inspirasi beliau. Di dalam bersikap, bertindak, sampai memutuskan persoalan masyarakat. Qur’an dengan Rasulullah, itu satu. Sampai-sampai disebut sendiri oleh QS.69:40 bahwa Qur’an itu adalah perkataan Rasulullah. Innahuu laqawl Rosuul kariim. Qur’an bukan perkataan Muhammad. Tetapi Qur’an adalah sabda utusan Allah SAW. Sabda Rasulullah. Karena Qur’an sejatinya adalah firman Allah.

Kenapa QS.4:80 menyebut bahwa orang yang taat kepada Rasul, itu otomatis taat kepada Allah? Karena ya Qur’an dan Rasul itu sejatinya satu. Qur’an adalah firman Allah. Sedangkan Rasul adalah hanya penyampai firman Allah. Sehingga taat kepada Rasul, itu sejatinya taat kepada firman Allah. Dan taat kepada firman Allah, itu sejatinya adalah taat kepada Allah.

Begitu juga. Kenapa QS.3:31 menyebutkan bahwa orang yang mengaku benar-benar mencintai Allah, maka caranya adalah harus mengikuti Rasul? Lagi-lagi karena Rasul, itu hanya penyampai firman Allah. Orang yang mencintai Allah, otomatis ia akan mengikuti dan mentaati ‘perkataan-Nya’. Sedangkan ‘perkataan-Nya’ sendiri, itu ia tidak berbicara langsung. Tetapi melalui Rasul. Maka menjadi logis, untuk bisa mentaati ‘perkataan-Nya’ itu, seseorang wajib dan harus hanya mengikuti Rasulullah.

Sekali lagi, Allah, Qur’an, dan Rasul, itu sejatinya satu. Dan saling terkait. Tidak bisa lepas antara satu dan yang lainnya. Kalau sudah disebut Rasul, pasti ada kaitannya dengan Allah dan firman-Nya (Qur’an). Jika disebut Allah, pasti terkait Qur’an dan Rasul (utusan-Nya). Dan kalau disebut Qur’an, pasti itu adalah firman Allah yang disampaikan oleh Rasul. Maka jangan sampai ketika menyebut Rasul, seperti qoola Rosuulullah, qoolan Nabiy dan seterusnya, kemudian lepas dari Qur’an. Dan tiba-tiba melenceng kepada Hadis-Hadis. Atau kepada sumber-sumber yang tidak jelas dan tidak bertanggung jawab.

Dari ayat-ayat Qur’an, kita bisa menemukan contoh kesatuan antara Allah, Qur’an, dan Rasul itu. Misalnya sebagai berikut.

QS. Al-Nur[24]: 48 & 51
وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ
48. Dan apabila mereka dipanggil kepada ALLAH DAN RASUL-NYA, AGAR RASUL MENGHUKUMI (MENGADILI) DI ANTARA MEREKA, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
51. Sesungguhnya jawaban oran-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada ALLAH DAN RASUL-NYA AGAR RASUL MENGHUKUMI (MENGADILI) DI ANTARA MEREKA ialah ucapan: “Sami’naa wa atho’naa, kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Di awal-awal kedua ayat di atas, itu sama. Yakni dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya (redaksinya: dipanggil kepada Rasul-Nya, bukan kepada Muhammad). Jadi dipanggil kepada dua fariabel. Allah (misalnya X) dan rasul-Nya (misalnya Y). Tetapi kemudian lanjutan ayatnya: AGAR RASUL MENGHUKUMI… Tiba-tiba berubah menjadi satu fariabel saja. Yakni Y. Ditunjukkan dengan kata kerja tunggal (Ia atau He), liyahkuma (dhomir huwa). Itu bukti bahwa Allah, Qur’an, dan Rasul-Nya sejatinya adalah satu. Kalau bisa beda dan bisa lepas masing-masing, pastinya redaksinya akan begini: AGAR ALLAH DAN RASUL MENGHUKUMI.

Sehingga kalimat “Sami’naa wa atho’naa, kami mendengar dan kami patuh,” itu sejatinya adalah kepatuhan kepada Qur’an. Ya, sejatinya kita mengucapkan “Sami’naa wa atho’naa,” itu ketika disodorkan Qur’an kepada kita. Tetapi kalau disodorkan Hadis-Hadis? Atau sumber-sumber lain yang mengatasnamakan Islam? Itu kita harus menjawab, “Sami’naa wa sawfa nanqud, kami dengar dan kami akan kritik dulu! Terutama akan kami kritik dengan Qur’an!! Kalau sesuai dengan Qur’an, akan kami taati. Kalau bertentangan dengan Qur’an, akan kami ‘letakkan’ atau ingkari!!!”

Begitu juga ayat yang sering saya kutip di beberapa tempat, QS.8:24 berikut ini.

QS. Al-Anfal[8]: 24
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman. SAMBUTLAH SERUAN ALLAH DAN SERUAN RASUL APABILA RASUL MENYERU KALIAN KEPADA SESUATU (QUR’AN) YANG MENGHIDUPKAN KALIAN. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. Dan sesungguhnya hanya kepada-Nya lah kalian akan dikumpulkan.

Jadi kalimat di awal-awal pada ayat di atas, itu dua fariabel: seruan Allah (X) dan seruan Rasul (Y). Tetapi kemudian melebur cukup disebut satu fariabel Y saja, yakni Rasul. Tergambar dalam kalimat: “APABILA RASUL MENYERU KALIAN KEPADA SESUATU (QUR’AN) YANG MENGHIDUPKAN KALIAN.” Lebih-lebih kemudian bermuara kepada Qur’an itu sendiri, yang ditunjukkan oleh kalimat: “SESUATU YANG MENGHIDUPKAN KALIAN (QUR’AN).” Yang dimaksud ‘sesuatu yang menghidupkan kalian,’ itu memang adalah Qur’an.

Kata da’aa pada da’aakum, itu mufrad. Subjek tunggal. Bukan tatsniyah (dua subjek).

Maka tidak benar kalau diartikan begini: seruan Allah adalah Qur’an, dan seruan Rasul adalah Hadis. Tidak begitu. Sekali lagi, seruan Allah dan seruan Rasul, itu sejatinya adalah satu hal saja. Yakni Qur’an.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

*Penulis Ayat-Ayat Kemenangan

Kamis, 23 Januari 2020

QUR’AN SABDA RASULULLAH


—Saiful Islam*—

“Hadis-Hadis dianggap wahyu teologis mandiri selain Qur’an, itu penyakit intelektual dan spiritual. Sangat berbahaya dalam beragama Islam umat…”

Rasulullah, itu adalah sosok yang selalu berdasar pada Qur’an. Rasulullah, itu seseorang yang selalu berpijak, berpatokan, dan berlandaskan Qur’an—satu-satunya firman Tuhan yang diwahyukan kepadanya. Action plan Rasulullah, itu adalah Qur’an. Bahkan sampai action Rasulullah, itu sendiri adalah Qur’an. Makanya ada Hadis, “Akhlak Rasulullah, itu adalah Qur’an.” Dengan ungkapan lain, Rasulullah adalah Qur’an yang berjalan.

Pikiran Rasulullah, itu kalau tidak Qur’an itu sendiri, ya terinpirasi oleh Qur’an. Sikap Rasulullah, itu kalau tidak Qur’an itu sendiri, ya terinpirasi oleh Qur’an. Perbuatan Rasulullah, itu kalau tidak Qur’an itu sendiri, ya terinpirasi oleh Qur’an. Sampai ketetapan dan keputusan Rasulullah, itu kalau tidak Qur’an itu sendiri, ya terpinspirasi oleh Qur’an. Begitu juga, ketika Rasul memutuskan (menghukumi) suatu perkara di masyarakat, itu selalu Qur’an atau terinpirasi oleh Qur’an.

Mustahil Rasulullah memutuskan (menghakimi) perkara itu tidak berdasar Qur’an. Tidak mungkin soal akidah, syariat dan hukum, itu Rasulullah SAW sak karepe dewe. Mustahil. Sebab siapa pun yang menghukumi suatu perkara tidak berdasar wahyu Allah, maka ia adalah kafir, zalim, dan fasik. Seperti ditegaskan oleh QS.5:44-47. Nabi Musa menghukumi dengan Taurat, Nabi Isa dengan Injil. Tak terkecuali Nabi Muhammad. Beliau SAW pun menghukumi selalu dengan Qur’an. Diceritakan pada ayat berikutnya, QS.5:48 berikut.

QS. Al-Maidah[5]: 48
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan KAMI TELAH TURUNKAN KEPADAMU (MUHAMMAD) AL-QUR’AN dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya—yaitu Kitab-Kitab—dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu. MAKA PUTUSKANLAH (HUKUMILAH) PERKARA MEREKA MENURUT APA YANG ALLAH TURUNKAN (AL-QUR’AN) ITU. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya. Lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Tidak ada satu pun ayat yang berbunyi misalnya, “Siapa yang menghukumi tidak berdasar Hadis-Hadis, maka ia kafir, zalim, fasik.” Tidak ada!

Selalu Qur’an, ini rasanya perlu saya perjelas. Sebab tak jarang saya mengamati. Ketika disebut Rasululllah dan Nabi—terutama yang terkait dengan hukum—tiba-tiba kita digiring kepada Hadis-Hadis. Kalau nilai-nilai dan prinsip-prinsip dalam Hadis tersebut selaras dengan Qur’an, is OK. Sah-sah saja. Itu baru namanya penjelas. Tetapi tetap, tidak boleh berlebihan—terutama hal-hal gaib (metafisik).

Tetapi masalahnya, tidak dicek terlebih cantolan utamanya, Qur’an. Sehingga tampak sekali, Hadis-Hadis itu menjadi berdiri sendiri. Lagi-lagi karena dari awal, Hadis sudah dipastikan dari Rasul. Sampai puncak parahnya Hadis dianggap wahyu teologis mandiri selain Qur’an. Alamak! Hadis-Hadis dianggap wahyu teologis mandiri selain Qur’an, menurut saya, itu penyakit intelektual dan spiritual!! Sangat berbahaya dalam beragama Islam umat!!!

Marilah kita cermati ayat-ayat berikut.

QS. Al-Ahzab[33]: 36
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, APABILA ALLAH DAN RASUL-NYA TELAH MENETAPKAN SUATU KETETAPAN, AKAN ADA BAGI MEREKA PILIHAN (YANG LAIN) TENTANG URUSAN MEREKA. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Redaksi, “Apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,” itu adalah Qur’an itu sendiri. Qur’an, itu memang firman Allah yang diucapkan oleh Rasulullah. Makanya bisa juga disebut, bahwa Qur’an adalah ucapan Rasul (QS.69:40 dan QS.81:19). Itu tidak berarti bahwa yang ditetapkan Allah adalah Qur’an. Yang ditetapkan Rasul adalah Hadis. Tidak begitu.

QS. Al-Nisa’[4]: 61
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
Apabila dikatakan kepada mereka, "MARILAH (PATUH) KEPADA APA YANG ALLAH TELAH TURUNKAN DAN KEPADA RASUL," niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Begitu juga QS.4:61 di atas itu. Sejatinya, patuh kepada “Apa yang Allah telah turunkan dan kepada Rasul,” itu adalah patuh kepada Qur’an. Karena sekali lagi, Rasul selalu menghakimi sesuatu, itu berdasar Qur’an. Beliau SAW selalu dan selalu mengikuti apa yang Allah telah turunkan, yakni Qur’an itu sendiri.

Sebagaimana banyak disalah pahami. Ketika disebut qoola Rosuul, atau qoolan Nabiy, Nabi bersabda, ucapan Nabi, dawuh kanjeng Nabi, perkataan Rasul, adebu pasera Rosul, tiba-tiba dan ujug-ujug yang dikutip ternyata Hadis-Hadis. Sekali lagi saya ingatkan, yang pasti tepat ketika disebut kalimat-kalimat tersebut, mestinya yang dikutip adalah ayat-ayat Qur’an. Sebab tadi, Qur’an memang bisa disebut sebagai perkataan Rasul (qowl Rosuul).

Begitu juga ayat di bawah ini.

QS. Al-Nisa’[4]: 65
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu. Mereka (pada hakekatnya) tidak beriman HINGGA MEREKA MENJADIKAN KAMU HAKIM TERHADAP PERKARA YANG MEREKA PERSELISIHKAN. Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan. Dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Kalimat, “Hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,” itu artinya menjadikan Rasulullah sebagai hakim—pemutus setiap persoalan umat. Menjadikan Rasulullah hakim, itu artinya Rasulullah yang selalu menghakimi setiap perkara dengan Qur’an. Bukan dengan Hadis-Hadis.

Maka, Qur’an dan Rasulullah itu sejatinya satu. Qur’an dan Sunnah-Sunnah beliau, itu sejatinya dua hal yang padu. Sebaliknya. Qur’an dan Hadis, itu sangat jauh berbeda. Jangankan dengan Qur’an. Dengan Sunnah-Sunnah Nabi pun, Hadis itu berbeda. Memang tidak sama.

Tidak ada hal lain bagi Rasul selain Qur’an, yang menjadi dasar dan landasan beliau dalam menghakimi atau memutuskan perkara-perkara umat. Rasulullah Muhammad SAW hanya selalu menghakimi setiap persoalan umat dengan Qur’an saja, itu semakin diperjelas oleh ayat di bawah ini.

QS. Al-Nisa’[4]: 105
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
Sesungguhnya KAMI TELAH MENURUNKAN KITAB KEPADAMU DENGAN MEMBAWA KEBENARAN, SUPAYA KAMU MENGADILI (MENGHAKIMI) ANTARA MANUSIA DENGAN APA YANG TELAH ALLAH WAHYUKAN KEPADAMU. Dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.

Jadi, hukum Rasulullah SAW itu adalah Qur’an. Dan Sunnah-Sunnah beliau yang terinspirasi oleh Qur’an. Qur’an, itu sabda Rasulullah SAW. Karena memang diucapkan oleh Rasulullah. Meskipun Qur’an sejatinya adalah firman Allah.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

*Penulis Ayat-Ayat Kemenangan


Senin, 20 Januari 2020

CARA BENAR MENELADANI RASUL


—Saiful Islam—

“Mempersedikit Hadis-Hadis, adalah bentuk kehati-hatian! Dan memperbanyak ayat-ayat Qur’an, itu memperbesar peluang kita mendapatkan hidayah, obat, dan rahmat…”

Adakah ayat yang memerintahkan kita mengikuti Muhammad sebagai manusia biasa? Sepanjang penelusuran saya, tidak ada. Yang ada adalah perintah untuk mengikuti Rasulullah Muhammad SAW. Jadi yang diikuti dari Nabi itu adalah kerasulan beliau. Yakni Qur’an. Semua kebaikan dan kebenaran yang diperintahkan Qur’an, itu pasti sudah dipraktikkan oleh Rasulullah. Lantas menjadi teladan bagi kita, umat beliau. Ingat yang menjadi teladan adalah Rasulullah.

QS. Al-Ahzab[33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya TELAH ADA PADA RASULULLAH ITU SURI TELADAN YANG BAIK BAGIMU (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak mengingat Allah.

Muhammad sebagai manusia biasa, itu beda dengan Muhammad sebagai Rasulullah. Muhammad sebagai manusia biasa, itu tidak ada kewajiban bagi kita untuk mengikutinya. Seperti bentuk tubuh, bentuk rambut, kumis dan jengggot, bentuk pakaian, bentuk rumah, bentuk istri, bentuk kendaraan, bentuk teknologi, bentuk makan, bentuk minum, bentuk tidur, bentuk mandi, bentuk sosial, bentuk ekonomi, dan lain semisalnya. Yang wajib dan harus kita ikuti, itu adalah Muhammad sebagai Rasul Allah. Utusan Allah. Yaitu Muhammad yang menyampaikan Qur’an. Segala prinsip dan hukum yang tercantum di dalam Qur’an. Dan Muhammad yang berbuat berdasar Qur’an.

Yang mesti diikuti dari Rasulullah SAW, itu lebih kepada prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Qur’an. Adapun bentuk-bentuk spesifiknya, itu memang bisa beraneka rupa. Sesuai dengan masing-masing orang dengan sukus, adat, dan ras. Dan sesuai dengan tempat, waktu, situasi, dan kondisinya. Ajaran Qur’an yang dicontohkan oleh Rasulullah itu memang bersifat universal. Orang-orang Asia, Amerika, Eropa, Afrika, sampai orang-orang Australia, semuanya bisa meneladani Rasulullah.

Yang diperintah oleh ayat berikut ini, adalah mengikuti dan mentaati Rasulullah. Jadi sam’naa wa atho’naa-nya itu kepada Muhammad Rasulullah SAW. Yaitu Muhammad yang selalu terkait dengan Qur’an. Atau Muhammad yang terinspirasi oleh Qur’an, lantas berpikir, bersikap dan beraksi berdasar Qur’an itu. Ayat-ayat yang menunjukkan hal tersebut, antara lain QS.24:54; 4:80; 24:52; 9:71; 49:14; 4:64; 8:20; 3:132; 4:59; 4:69; 24;63; dan QS.59:7.

QS. Al-Nisa’[4]: 64
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
DAN KAMI TIDAK MENGUTUS SESEORANG RASUL MELAINKAN UNTUK DITAATI DENGAN SEIZIN ALLAH. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

QS. Al-Anfal[8]: 20
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ
Hai orang-orang yang beriman, TAATLAH KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA. Dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya).

QS. Ali Imran[3]: 132
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan TAATILAH ALLAH DAN RASUL, supaya kamu diberi rahmat.

QS. Al-Nisa’[4]: 80
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
BARANGSIAPA YANG MENTAATI RASUL ITU, SESUNGGUHNYA IA TELAH MENTAATI ALLAH. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

QS. Al-Nisa’[4]: 69
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
Dan barangsiapa yang MENTAATI ALLAH DAN RASUL(NYA), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

QS. Al-Nur[24]: 52
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Dan barang siapa yang TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Adakah ayat yang memerintahkan kita beriman kepada Hadis-Hadis? Sepanjang penelusuran saya, tidak ada. Yang ada adalah perintah untuk beriman kepada Rasulullah SAW. Yakni kerasulan Muhammad SAW. Gamblang sekali saya ceritakan pada tulisan sebelumnya BUKAN SOAL IMAN. Bahwa Hadis-Hadis, itu memang tidak ada kaitannya dengan keimanan.

Keimanan itu terkait hal-hal gaib (metafisika), seperti Allah, surga, neraka, malaikat, dan semisalnya. Dan keimanan kepada hal-hal metafisik seperti ini, itu sudah komplit di dalam Qur’an. Bahkan sejatinya, rukun iman itu tidak hanya enam itu. Tetapi semua informasi gaib yang ada dalam Qur’an, itu adalah rukun iman.

Sedangkan Hadis, itu teks. Menyikapi teks, itu urusan metodologi dan epistimologi. Bukan akidah. Beriman kepada Rasulullah (kerasulan) atau Nabi (kenabian), itu disebutkan misalnya QS.4:136; 2:285; 2:177; 16:36; 19:58; dan QS.22:75 sebagai berikut.

QS. Al-Nisa’[4]: 136
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman, TETAPLAH BERIMAN KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

QS. Al-Hajj[22]: 75
اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
ALLAH MEMILIH UTUSAN-UTUSAN-(NYA) DARI MALAIKAT DAN DARI MANUSIA. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.

QS. Al-Baqarah[2]: 177 & 285
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah BERIMAN KEPADA ALLAH, HARI KEMUDIAN (KIAMAT), MALAIKAT-MALAIKAT, KITAB-KITAB, NABI-NABI dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
285. Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya. Demikian pula orang-orang yang beriman. SEMUANYA BERIMAN KEPADA ALLAH, MALAIKAT-MALAIKAT-NYA, KITAB-KITAB-NYA DAN RASUL-RASUL-NYA. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."

Adakah ayat yang memerintahkan mengikuti Hadis-Hadis? Tidak ada! Bagaimana mungkin diperintahkan mengikuti Hadis-Hadis, wong ketika proses pewahyuan Qur’an selama 23 tahun, itu Hadis-Hadis dilarang ditulis. Mustahil diperintah untuk mengikuti Hadis-Hadis wong Hadis-Hadisnya tidak ada. Tidak mungkin para audiens Qur’an di awal-awal (para Sahabat Nabi) diperintah mengikuti Hadis-Hadis, wong Nabi bersama mereka. Para Sahabat cukup mengikuti Qur’an dan meneladani Sunnah Rasulullah. Tidak perlu Hadis-Hadis.

Jadi kalau ingin hidup seperti Sahabat, rujuklah pertama kali Qur’an. Melihat Sunnah-Sunnah Nabi, rujuklah sejarah beliau SAW pertama kali di Qur’an. Kalau sudah lengkap, jelas, dan mantap, maka tidak perlu merujuk Hadis-Hadis. Ingat, penggunaan Hadis adalah pilihan. Mempersedikit Hadis-Hadis, itu tak lain dan tak bukan adalah bentuk kehati-hatian! Dan memperbanyak pengutipan ayat-ayat Qur’an, itu artinya memperbesar peluang kita mendapatkan hidayah, obat, dan rahmat.

Bagaimana dengan kita yang hidup di abad 21 ini, yang tidak bisa lagi menyaksikan praktik salat, zakat, puasa, dan haji Nabi secara langsung? Terutama praktik-praktik yang non-substansial yang tidak disebutkan dalam Qur’an? Silakan menggunakan Hadis sahih yang kita pilih. Tanpa perlu memutlakkan. Tanpa perlu menyalahkan saudara Muslim lain yang tidak menggunakan Hadis kita. Atau lebih tepat lagi menurut saya, langsung saja meniru mayoritas orang-orang Madinah terkait praktik-praktik ibadah tersebut. Pemerintah harus ambil peran.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...