Tampilkan postingan dengan label ayat-ayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ayat-ayat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Agustus 2020

SUPAYA KALIAN MEMAHAMI


—Saiful Islam*—

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar…” QS.41.53

Kali ini saya hanya ingin menunjukkan kaitan ayat dengan kepahaman. Ayat menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an adalah tanda yang tampak jelas. Menurut QS.29:49 Al Qur’an disebut sebagai ayat-ayat.

Begitu juga cerita Lisan al-Arab. Bahwa ayat itu adalah tanda. Dijumpai juga arti ayat adalah ‘ibroh. Ayat untuk Qur’an, menurut satu pendapat, itu karena menjadi pemisah antar kalimat.

Jadi secara bahasa, ayat itu semacam tanda, teks, simbol, lambang, gambar, dan seterusnya yang menarik perhatian akal manusia untuk memahaminya. Karenanya berkali-kali Allah perintahkan supaya memahami ayat-ayat-Nya.

Ayat itu tanda yang memberi petunjuk. Al Qur’an adalah kumpulan Surat. Surat adalah kumpulan kalimat (kalaam). Kalimat adalah kumpulan kata (kalimah). Kata adalah kumpulan beberapa huruf. Dan huruf adalah kumpulan beberapa titik.

Al Qur’an itu mirip buku. Karenanya disebut juga Al Kitab. Alias The Book. Buku terdiri dari beberapa bab. Bab terdiri dari beberapa sub bab. Sub bab terdiri dari beberapa paragraf. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat. Kalimat terdiri dari beberapa kata. Kata terdiri dari beberapa huruf. Dan huruf sendiri terdiri dari beberapa titik.

Di dalam Al Qur’an, kata aayah (ayat, bentuk tunggal) terulang sebanyak 84 kali. Sedangkan kata aayaat (ayat-ayat, bentuk jamak) diulang sebanyak 148 kali.

Supaya kalian memahami ayat-ayat itu. Ayat-ayat qowliyah berupa Al Qur’an terutama, dan ayat-ayat realitas alam dan sosial. Begitulah kalau kita misalnya membaca QS.45:1-6. Setelah bercerita tentang realitas alam dan sosial, Allah lantas menyatakan: “Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan sebenarnya.”

Agar Mereka Memahami

Setelah diceritakan haramnya menikahi wanita musyrik, lantas ditutup dengan kalimat: “Allah menerangkan AYAT-AYAT-NYA kepada manusia SUPAYA MEREKA MEMAHAMINYA.” QS.2:221.

Pada QS.6:65, setelah menunjukkan kekuasaan-Nya, kemudian ditutup dengan: “Kami mendatangkan AYAT-AYAT KAMI silih berganti AGAR MEREKA MEMAHAMINYA.”

“Maka ceritakanlah (kepada mereka) KISAH-KISAH itu AGAR MEREKA MEMAHAMINYA,” QS.7:176.

Sesungguhnya Kami mudahkan AL QUR’AN itu dengan bahasamu SUPAYA MEREKA MEMAHAMINYA (QS.44:58).

Setelah membinasakan negeri-negeri, lalu disebutkan QS.46:27: “Kami telah mendatangkan AYAT-AYAT KAMI berulang-ulang supaya mereka bertaubat setelah MEMAHAMINYA.

Supaya Kamu Memahami

Setelah membahas sesuatu yang memabukkan pada QS.2:219, dinyatakan: “Demikianlah Allah menerangkan AYAT-AYAT-NYA kepadamu SUPAYA KAMU MEMAHAMINYA.” Begitu juga pada ayat 242.

Setelah perintah supaya semua Mukminin berpegang teguh pada Qur’an, lantas disebutkan: “Demikianlah Allah menerangkan AYAT-AYAT-NYA kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk,” DENGAN MEMAHAMINYA (QS.3:103).

 (Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya). Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, AGAR KAMU SELALU MEMAHAMI DAN MENGINGATNYA (QS.24:1).

Setelah menceritakan adab makan bersama dan bertamu, kemudian disebutkan QS.24:61: “Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagimu, AGAR KAMU MEMAHAMINYA.”

Allah-lah Yang Menghidupkan bumi sesudah matinya. Pada QS.57:17: “Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu AYAT-AYAT (KAMI) SUPAYA KAMU MEMAHAMINYA.”

Itulah Ayat-Ayat Untuk Dipahami

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu BENAR-BENAR AYAT BAGI KAUM YANG MEMAHAMINYA.” Pada QS.16:11.

“Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat AYAT-AYAT BAGI KAUM YANG MAU MEMAHAMI.” QS.13:3.

“Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat AYAT BAGI KAUM YANG MAU MEMAHAMI.”  Disebut oleh QS.16 ayat 13 dan ayat 67.

Setelah dikisahkan pembangkangan kaum Tsamud kepada Nabi Sholeh pada QS.27 mulai ayat 45, lantas pada ayat 52 disebutkan begini: “Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah AYAT BAGI KAUM YANG MEMAHAMI.”

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

Selasa, 28 Januari 2020

QUR’AN UNIVERSAL


—Saiful Islam*—

“Jangan kebalik. Yang butuh penguat, itu Hadis-Hadis, ijma’ ulama’, dan Qiyas. Bukan Qur’an…”

Seorang kawan share sebuah tulisan berikut: “Al-Qur’an itu satu kata saja bisa multi tafsir maknanya. Karena itu dibutuhkan dalil penguat seperti Hadis, Ijma’, Qiyas sesuai dengan permasalahan yang difokuskan. Bahkan satu kalimah (kata) dalam Al-Qur’an saja bisa dipakai untuk dalil ratusan permasalahan musykilat (sulit) di dunia. Lha, kalau tanpa didampingi Hadis, Ijma’, Qiyas bisa sama semua hukumnya. Padahal inti fokus masalahnya jauh berbeda.”

Baiklah. Menurut saya, kalimat: “Al-Qur’an itu satu kata saja bisa multi tafsir maknanya. Karena itu dibutuhkan dalil penguat seperti Hadis, Ijma’, Qiyas sesuai dengan permasalahan yang difokuskan,” ini tidak nyambung. Tidak logis. Karena antara sebab (satu kata Qur’an multi tafsir) dengan akibat (dibutuhkan dalil penguat Hadis, Ijma’, Qiyas), itu tidak sinkron. Antara kata yang multi tafsir dengan dalil penguat, itu tidak make sense. Yang logis itu, jika dibutuhkan dalil penguat, maka ayat Qur’an lemah. Begitu mestinya.

Menurut saya, dalil Qur’an itu sudah kuat. Sudah kokoh. Paling kokoh untuk menjadi dasar berislam umat. Ayat-ayat Qur’an, adalah dalil pertama, paling utama, sekaligus penguji untuk semua dalil doktrin Islam. Hanya Qur’an yang pasti (qath’iy). Pasti keluar dari mulut Nabi SAW, pasti dan mutlak benarnya. Karenanya, tidak membutuhkan dalil penguat. Bahkan Hadis-Hadis sekali pun, itu tidak bisa menjadi dalil penguat Qur’an. Qur’an sudah kuat. Tidak perlu diperkuat-kuat lagi.

Justru, yang butuh dalil penguat itu adalah Hadis-Hadis, Ijma’, Qiyas, dan seterusnya itu. Ya, Hadis-Hadis, Ijma’, dan Qiyas, itu harus dan wajib diperkuat. Yaitu harus dan wajib diperkuat dengan Al-Qur’an. Jangan terbalik. Kalau mengatasnamakan Islam (akidah, fikih, tasawuf, dan lain-lain), semua dalil tersebut, itu harus dan wajib diperkuat dengan Qur’an. Harus dan wajib itu!

Pesan saya bagi kawan-kawan saya semua. Jangan terburu-buru mengatakan Al-Qur’an itu global, Al-Qur’an itu umum, Al-Qur’an itu multi tafsir, dan semisalnya. Dan seterusnya. Cara beragama kita (akidah, fikih, akhlak atau tasawuf, dan lain-lain), itu memang harus begini. Pertama, carilah ayat-ayat Qur’annya. Kedua, bisa meninjau Hadis-Hadis. Ketiga, meninjau pendapat-pendapat. Keempat, meninjau Qiyas, dan seterusnya. Zaman sekarang tinggal search di Google atau aplikasi.

Setelah itu, barulah dipertimbangkan. Alias dipikir-pikirkan. Direnung-renungkan. Kalau perlu dikomunikasikan dan didiskusikan dengan guru kita, kiai kita, ustadz kita, gus kita, bindere kita, habib kita, syeikh kita, dan seterusnya. Lantas kemudian dibuat kesimpulannya. Kesimpulan itu pun, belum final. Sangat bisa jadi ke depan bisa berubah. Karena ada pendapat dengan dalil yang lebih kuat. Begitu seterusnya. Belajar sepanjang hayat.

Jadi, tidak terburu-buru mengatakan Al-Qur’an itu global, Al-Qur’an itu umum, Al-Qur’an itu multi tafsir, dan semisalnya. Tetapi ternyata kita belum menelusurinya. Dan ujug-ujug lari kepada Hadis-Hadis. Kemudian berkesimpulan sudah final. Sudah pasti benarnya. Sudah mutlak benarnya.

Yang tidak sependapat, langsung dituduh ngawur, sesat, bid’ah, wahabi, antek syi’ah, dan tuduhan-tuduhan yang tidak sehat dalam dunia spiritual dan intelektual, serta tidak bertanggung jawab. Tidak perlu menuduh-nuduh. Tidak perlu menyerang orangnya. Cukup serang dan bantah argumen dan dalil-dalinya saja! Ini yang sehat dalam dunia spiritual dan intelektual!! Mencerdaskan dan mencerahkan!!!

Berkali-kali saya jelaskan. Bahwa semua rujukan doktrin Islam selain Qur’an, itu zhanniy. Semuanya hanya berdasar dugaan. Jadi, kalau didapati sebuah kesimpulan terkait akidah, fikih, dan seterusnya, dan ternyata tidak mencantumkan ayat Qur’annya, sebaiknya kita tidak mudah menyalahkan Muslim yang lain. Sebab sangat memungkinkan, itu hanya berhakim kepada selain Allah (QS.6:114).

Memang ada kaidah tafsir, bahwa proses mengambil kesimpulan, itu dari khususnya sebab. Yakni memahami ayat-ayat Qur’an dengan meninjau asbabun nuzul-nya. Ini konteks mikro, namanya. Tetapi ingat, tidak semua ayat-ayat Qur’an, itu ada asbabun nuzul-nya. Hanya sekitar sepertiga Qur’an saja yang terdapat asbabun nuzul-nya. Perlu juga ditinjau konteks makronya, yaitu tentang budaya Arab terutama di sekitar abad ke-7 M itu.

Dan ingat pula. Bahwa ada juga kaidah tafsir: proses mengambil kesimpulan, itu dari keumuman lafaz. Al-‘ibrah bi ‘umuum al-lafzh. Memang dari lafaz yang umum itulah, justru kita bisa mengambil kesimpulan untuk masalah kita saat ini. Justru karena umum itulah, membuat Qur’an bisa sesuai dengan segala tempat dan zaman ke masa depan. Dari keumuman lafaz itulah, kita lantas bisa melakukan proses analogi. Karena Qur’an, itu bukan hanya untuk kasus spesifik. Tetapi prinsip-prinsip Qur’an, memang bisa untuk bermacam-macam kasus.

QS. Al-Nahl[16]: 89
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
Dan KAMI TURUNKAN KEPADAMU AL-KITAB (AL-QUR’AN) UNTUK MENJELASKAN SEGALA SESUATU dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

QS. Al-An’am[6]: 114
أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
Maka patutkah aku mencari HAKIM SELAIN ALLAH? PADAHAL DIA-LAH YANG TELAH MENURUNKAN KITAB (AL-QUR’AN) KEPADAMU DENGAN TERPERINCI. Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

QS. Al-An’am[6]: 153
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Ini adalah JALAN-KU YANG LURUS, MAKA IKUTILAH DIA. DAN JANGANLAH KAMU MENGIKUTI JALAN-JALAN (YANG LAIN), KARENA JALAN-JALAN ITU MENCERAI BERAIKAN KAMU DARI JALAN-NYA. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

QS. Al-Zukhruf[43]: 36 – 37
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
BARANGSIAPA YANG BERPALING DARI PENGAJARAN TUHAN YANG MAHA PEMURAH (AL-QUR’AN), KAMI ADAKAN BAGINYA SETAN (YANG MENYESATKAN). Maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka MENYANGKA BAHWA MEREKA MENDAPAT HIDAYAH.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

*Penulis Ayat-Ayat Kemenangan

Minggu, 26 Januari 2020

AYAT PENJELAS AYAT


—Saiful Islam*—

“Ternyata Hadis-Hadis, itu tidak mesti merupakan penjelas Qur’an…”

Dalam bukunya Studies in Early Hadith Literature, Prof Azami menulis tentang 4 kedudukan Sunnah dalam Islam. Di antaranya yaitu (1) menjelaskan Qur’an, dan (2) Rasulullah berwenang membuat aturan. Di bukunya yang lain, On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence, menjadi peranan Nabi dalam hukum Islam. Antara lain yaitu (1) penjelas Qur’an, dan (2) legislator (pembuat syariat atau hukum di luar Qur’an.

Saya akan komentari yang menurut saya kontroversial saja. Yaitu fungsi Rasulullah atau Sunnah sebagai mubayyin (penjelas Qur’an) dan fungsi beliau SAW sebagai legislator—pembuat syariat di luar Qur’an. Sisanya kiranya, sudah saya bahas di tulisan-tulisan saya sebelumnya. Jadi tidak perlu diulang lagi.

Perlu saya perjelas dulu di sini. Bahwa kedudukan Sunnah, atau pernanan Nabi, itu di kemudian hari ujug-ujug (tiba-tiba) ditarik dan berubah menjadi fungsi Hadis terhadap Qur’an. Yaitu (1) bayaan al-taqriir (memperkuat Qur’an), (2) bayaan tafshiil (merinci), (3) bayaan taqyiid (membatasi), (4) bayaan takhshiish (mengkhususkan), (5) bayaan tasyrii’ (membuat syariat di luar Qur’an), dan (6) bayaan nasakh (menghapus ketentuan hukum Qur’an).

Berdasar QS.16:44, Azami berpendapat bahwa kedudukan Sunnah dalam Islam adalah sebagai penjelas Qur’an. Berikut ini.

QS. Al-Nahl[16]: 44
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dengan PENJELASAN-PENJELASAN dan lembaran-lembaran (kitab). Dan KAMI TURUNKAN KEPADAMU AL-QUR’AN, AGAR KAMU MENJELASKAN PADA UMAT MANUSIA APA YANG TELAH DITURUNKAN KEPADA MEREKA dan supaya mereka memikirkan.

Baiklah. Menurut saya, penjelasan Rasulullah atau Sunnah Rasulullah terhadap Qur’an, ujug-ujug ditarik menjadi fungsi Hadis sebagai penjelas Qur’an, ini terlalu gegabah. Sebab tidak selalu penjelasan Rasulullah, itu adalah dengan sesuatu di luar Qur’an itu sendiri. Bahkan tidak mungkin dengan Hadis. Wong Hadis ketika Rasulullah masih hidup itu tidak ada. Artinya, sangat bisa jadi, penjelasan Rasulullah, itu adalah ayat-ayat Qur’an itu sendiri. Sehingga, ayat dijelaskan dengan ayat. Meskipun yang mengucapkannya adalah Rasulullah SAW. Marilah kita tinjau lebih jauh.

Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-bayyinah itu berarti petunjuk (dalaalah) yang jelas. Baik secara akal, maupun rasa.

Sedangkan al-bayaan, itu berarti penyingkap (pembuka tabir) sesuatu. Yang awalnya masih abu-abu atau remang-remang, maka dengan al-bayaan menjadi tampak jelas, dan terang.

Menurut Lisan al-‘Arab, kata al-bayaan, itu artinya adalah penjelas suatu dalil (petunjuk) dan yang semisalnya. Dengan al-bayaan, itu sebuah petunjuk menjadi semakin jelas. Bisa juga berarti keterangan. Dengan al-bayaan, sebuah dalil menjadi semakin terang. Semakin gamblang dan tampak. Baana, istabaana, tabayyana, abaana, dan bayyana, itu berarti satu. Artinya sama.

Al-tabyiin, itu berarti menerangkan atau keterangan-keterangan. Begitu juga al-tibyaan, mubiin, mubayyinah, artinya kurang lebih sama. Titik tekannya adalah kata al-bayaan dan yang semisalnya itu, lebih pada berupa kalimat-kalimat. Atau kata-kata. Nah, kalimat atau kata-kata, itu ada yang diucapkan dan ada yang tertulis.

Ingat, Qur’an itu adalah kalimat-kalimat. Qur’an adalah kata-kata. Qur’an pertama kali diterima dan diucapkan oleh Nabi, lantas kemudian ditulis sehingga sampai kepada kita. Salah satu penjagaan Allah terhadap Qur’an selain penghafalan, memang adalah penulisan.

Ternyata, al-bayaan, itu artinya lebih kepada Qur’an itu sendiri. Yakni ayat satu menjadi penjelas ayat yang lain. Artinya tubayyin-nya Rasulullah SAW, itu adalah Qur’an itu sendiri. Jadi memang Nabi yang menjelaskan, yang mengucapkan, yang menerangkan. Tetapi isi atau konten yang diucapkan Nabi, itu adalah Qur’an itu sendiri. Berikut ayat-ayat bahwa penjelas itu ternyata ayat-ayat Qur’an itu sendiri.

QS. Al-Baqarah[2]: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai PETUNJUK bagi manusia dan PENJELAS MENGENAI PETUNJUK TERSEBUT dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Sangat gamblang ayat di atas. Bahwa ternyata ayat-ayat Qur’an, itu memang bisa saling menjelaskan. Jika ada satu ayat kurang jelas, maka cobalah mencari ayat-ayat lain yang setema atau berkaitan. Insya Allah ayat-ayat yang lain, itu akan membuat ayat yang pertama tadi menjadi semakin jelas, semakin terang, semakin nyata, dan semakin gamblang. Seperti mainan menyusun puzzle begitulah. Semakin banyak potongan gambar yang disusun, maka gambar tersebut akan semakin tampak bentuknya.

QS. Ali Imran[3]: 138 & 184
هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
138. (AL-QUR’AN) INI ADALAH PENJELASAN BAGI SELURUH MANUSIA, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ جَاءُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ
184. Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya Rasul-Rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula). Mereka membawa PENJELASAN-PENJELASAN, lembaran-lembaran, dan al-kitab yang mencerahkan.

QS. Ibrahim[14]: 4
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ
Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan DENGAN BAHASA KAUMNYA, SUPAYA IA DAPAT MENJELASKAN KEPADA MEREKA.

QS. Al-Maidah[5]: 19 & 75
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ
19. Hai ahli Kitab. Sesungguhnya telah datang kepada kamu RASUL KAMI, MENJELASKAN (SYARI'AT KAMI) KEPADAMU ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul.

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
75. Al-masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul. Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang sangat benar. Kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana KAMI MENJELASKAN KEPADA MEREKA (AHLI KITAB) AYAT-AYAT (KAMI).

QS. Al-Mu’min[40]: 34
وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا زِلْتُمْ فِي شَكٍّ مِمَّا جَاءَكُمْ بِهِ ۖ
Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu DENGAN MEMBAWA PENJELASAN-PENJELASAN. Tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu.

QS. Al-Mujadilah[58]: 5
إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ وَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۚ
Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya KAMI TELAH MENURUNKAN AYAT-AYAT YANG MENJELASKAN.

QS. Al-Shaff[61]: 6
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya sangat terpuji." MAKA TATKALA RASUL (MUHAMMAD) ITU DATANG KEPADA MEREKA DENGAN MEMBAWA PENJELASAN-PENJELASAN YANG NYATA, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."

QS. Al-Thalaq[65]: 11
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا
(Dan mengutus) SEORANG RASUL YANG MEMBACAKAN KEPADAMU AYAT-AYAT ALLAH YANG MENJELASKAN (BERMACAM-MACAM HUKUM) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. dan Barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.

Bahkan menurut ayat di bawah ini, penjelasan itu, memang dari Allah. Penjelasan tersebut adalah tanggung jawab Allah. Wahyu ayat-ayat Qur’an sebagai penjelas, ini memang dari Allah.

QS. Al-Qiyamah[75]: 19
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
Kemudian, sesungguhnya ATAS TANGGUNG JAWAB KAMI LAH PENJELASANNYA (BAYAANAH).

Meski demikian, bagi kita yang hidup sekarang, saya tidak menutup 100% kemungkinan bahwa Hadis sahih bisa menjelaskan Qur’an. Tetap, Hadis masih memungkinkan menjadi media menelusuri Sunnah Nabi. Terutama teknis-teknis ibadah non-substansial. Hadis-Hadis tetap pada posisinya yang zhann. Hanya diduga. Yang 100% sudah pasti merupakan penjelas ayat, itu ya ayat-ayat Qur’an itu sendiri.

Kalau Hadis dianggap bisa menjadi penjelas Qur’an, maka memang wajib ada ayat yang dijelaskan. Jadi harus mengutip ayatnya dulu. Namanya penjelas, mesti harus ada yang dijelaskan. Jangan sampai namanya penjelas, tetapi ternyata Hadis tersebut berdiri sendiri. Alias, tidak ada cantolan Qur’an-nya. Terutama soal syariat dan akidah. Apalagi sampai ada Hadis yang bertentangan secara teks-nya dengan Qur’an. Tentu, Hadis seperti itu, meski sahih sanadnya, wajib bagi kita ‘meletakkannya’.

Maka, marilah kita memberikan porsi selayaknya kepada ayat-ayat Qur’an sebagai penjelas daripada Hadis-Hadis. Terkait al-bayaan ini, marilah kita adil di dalam memposisikan ayat-ayat Qur’an dan Hadis-Hadis. Jangan sampai kita kebablasan menempatkan Hadis-Hadis sejajar dengan Qur’an, dengan menganggap Hadis adalah wahyu teologis mandiri selain Qur’an yang turun kepada Nabi. Atau malah Hadis lebih diunggulkan dari Qur’an. Na’uudz billaah.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

*Penulis Ayat-Ayat Kemenangan

Senin, 13 Januari 2020

INGKAR HADIS DIBENARKAN


—Saiful Islam—

“Sekalipun riwayat al-Bukhari yang sudah masyhur ‘inda ‘ulama Hadis atas kehujjahannya, kalau bertentangan dengan Qur’an dan Sains, itu namanya Hadis lemah. Hadis-Hadis seperti ini, memang haqqul yaqin saya ingkari!”

Dari hati yang paling dalam, saya sampaikan terimakasih kepada kawan-kawan, terutama yang memberi komentar kepada tulisan-tulisan saya. Jujur saja, diskusi ini menjadi hidup, itu ya karena komentar kalian itu. Ibarat olahraga tinju, kalian adalah sparring partner saya. Tampaknya saja saling serang. Tetapi sejatinya, itu menguatkan saya, sekaligus melatih dan mengondisikan saya supaya kreatif.

Kalau saya baca lagi komentar-komentar itu di awal-awal tulisan tema MENGGUGAT KEWAHYUAN HADIS ini, sering saya terkekeh sendiri. Hehe. Dulu ketika kami sama-sama mahasiswa, saling ‘adu mulut’ di kelas, itu memang sangat biasa. Jangankan dengan sesama teman.  Dengan dosen yang bergelar profesor, pun itu sudah biasa. Tradisi sehat. Keluar dari kelas, ya ngopi bareng. Haha. Eh, memang indah kalau mengenang masa-masa kuliah dulu itu. Di IAIN Sunan Ampel Surabaya, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir Hadis (TH). Tahun 2008 – 2012 silam.

Kawan 1 menulis: “Iya. Tetapi jangan begitu ekstrem lah. Seolah-olah menempatkan zhann-mu yang Qur’an bil Qur’an setara dengan Qur’an yang qath’iy itu. Dan menafikan riwayat Hadis jika tidak sejalan dengan zhann-mu yang Qur’an bil Qur’an. Coba kamu teliti ulama yang mencetuskan dan menggunakan kaidah itu. Apakah kaidah itu dibangun untuk menafikan Hadis-Hadis Nabi dengan kaca mata kuda. Sebab cara-cara kamu dalam berkesimpulan sangat rentan terjebak pada PENGINGKARAN SUNNAH.”

Kawan 2 menambahi: “Nah. SAYA MAU BILANG GITU, Kawan 1. Tapi masih mikir dalam menyusun bahasa yang agak halus. Hahaha.”

Puncaknya adalah komentar Kawan 3 ini: “Nyimak. Seru. Hm, memang sejak dulu pemikiran Saiful ini selalu kontradiktif. Ini menghibur kita semua. Hayaat al-‘ilm lita’allum. Barangkali lita’allum di sini bermakna berdiskusi. Dari beberapa tulisan di atas, saya akan mengomentari beberapa hal saja. Monggo dikoreksi.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa dinamika keilmuan Islam selalu menarik untuk digeluti. Teks Al-Qur’an memang sudah final tidak boleh ada yang menambah dan mengurangi. Mengingkarinya, maka akan berimplikasi rusaknya akidah. Tugas Nabi Muhammad adalah menjelaskan makna Al-Qur’an kepada manusia. Sebagaimana termaktub dalam Surat al-Nahl ayat 44.

“Ketika Rasulullah masih hidup, layaknya Al-Qur’an yang berjalan. Begitu pun dengan Hadis Rasulullah, sebagai konfirmator tunggal yang ma’shum. Berbeda cerita ketika Rasulullah telah wafat seiring dengan dinamika problematika keislaman yang selalu berkembang. Berlanjut ke masa Sahabat, benih-benih pertikaian politik dan ideologi sudah mulai bermunculan. Begitu pun seterusnya mengikuti siklus perkembangan manusia.

“Menanggapi apa yang disampaikan Saiful melalui tulisan-tulisan di awal, AGAKNYA SAYA KURANG SEPAKAT. Kali ini saya berpihak pada Kawan 1 dan Kawan 2. Meskipun di waktu kuliah, kemana pun dengan Saiful, hahaha. Teringat masa kuliah, hihihi.

“Begini. TAMPAKNYA PEMIKIRAN SAIFUL MEMANG TERKONTAMINASI DENGAN PEMIKIRAN INGKARUS SUNNAH. Buktinya mana? Ya tulisan di atas itu. Para cendekiawan (Kawan 1, Kawan 2, Kawan 4, Kawan 5, dan seterusnya) pun menyimpulkan sama. Saya pun demikian. Perlu digarisbawahi, saya tidak men-judge (menghakimi atau menuduh) Saiful sebagai mungkirus Sunnah. Akan tetapi argumennya mirip dengan para pengingkar Sunnah.

“Ada statement (pernyataan) Saiful, bahwa saya (Saiful) tetap salat dan sebagainya. Pengingkar Sunnah yang lain juga sama (argumennya), salat dan sebagainya. Buktinya ini: Beberapa waktu yang lalu saya meneliti seorang ingkarus Sunnah yang berasal dari Malaysia. Ia bernama Mustofa Mahmud. Ia seorang mubaligh sekaligus dokter.

“Awalnya ia (Mahmud) menolak Hadis Ahad. Kemudian  Mutawatir dan merambah menolak Hadis secara keseluruhan. Saya ingin mengajukan referensi yang ditulis oleh Abdul Majid Khon yang berjudul Pemikiran Ingkarus Sunnah Modern di Mesir. Ada beberapa klasifikasi dari pemikiran ingkarus Sunnah: (1) Ingkarus Sunnah Mutlak. (2) Kulli. (3) Syibh Kulli. (4) Juz’i.

“Dari keempat klasifikasi tersebut korelasi dengan pemikiran Saiful, tampaknya sebanding pada nomor 4. Ingkarus Sunnah Juz’i. Apa itu? Yaitu golongan pengingkar yang menolak Hadis sahih yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan akal/Sains, sekalipun riwayat al-Bukhari yang sudah masyhur ‘inda ‘ulama Hadis atas kehujjahannya.

“Dengan argumen ringkas ini menyebabkan saya memberikan saran kepada Saiful untuk berhati-hati. Terlebih di ruang public yang awam. Selama di ruang diskusi, saya kira bebas argumen dan kepentingan. Hehehe. OK, next…”

*****
Berikut tanggapan saya.

Pertama. Belajar Tafsir, itu memang sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan sebelumnya. Tampaknya, mayoritas Ulama Tafsir, itu punya latar belakang Ilmu Sosial, Ilmu Bahasa, dan semisalnya. Sangat jarang ulama Tafsir yang punya latar belakang Sains. Seingat saya, mufassir klasik satu-satunya yang terkenal dengan kecenderungan Sains adalah Thanthawi Jawhariy.

Nah, begitu juga mayoritas kawan-kawan saya yang kuliah Tafsir Hadis tahun 2008 silam itu. Tampaknya tidak ada yang berlatar belakang Ilmu Pengetahuan Alam (Sains). Alias latar belakang kawan-kawan saya itu, kalau tidak Ilmu Sosial, ya Ilmu Bahasa. Cuma saya mungkin yang waktu SMA, mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam. Saya belajar terutama Kimia, Fisika, Biologi, dan Matematika.

Saya belajar Fikih melalui buku-buku Syafi’iyah secara intensif, itu kepada ayah saya sendiri. Beliau lama belajar di pesantren. Adapun Bahasa Arab, saya belalar intensif kepada saudara saya sendiri. Beliau juga bertahun-tahun ditempa oleh pendidikan ala pesantren.

Nah, hukum-hukum alam dalam teori Kimia, Fisika, dan Biologi, itu sangat membekas pada diri saya. Begitu juga dalil-dalil Matematika yang logis. Proses berpikir Sains ini yang mempengaruhi saya. Sekaligus pengalaman hidup, mengamati sebab akibat kehidupan sehari-hari. Barulah setelah itu, saya belajar Tafsir Hadis.

Wajar kalau kawan 3 berkomentar: “Hm, memang sejak dulu pemikiran Saiful ini selalu kontradiktif.” Ya, tidak jarang pemikiran saya itu kontradiktif dengan pemikirannya dan mungkin teman-teman yang lain. Lebih pasnya, tampaknya pemikiran saya ini dirasa sering kontroversial. Mungkin karena berbeda latar belakang pendidikan atau kecenderungan itu.

Tentu saja, saya tertarik sekali jika menemukan tokoh atau buku yang memikirkan Qur’an dan Hadis yang dipadukan dengan teori-teori Sains. Menurut saya, ayat-ayat qowliyah (Qur’an) dan ayat-ayat kawniyah (Sains), itu memang tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling melengkapi.

Kedua. Pernyataan: “Ketika Rasulullah masih hidup, layaknya Al-Qur’an yang berjalan. Begitu pun dengan Hadis Rasulullah, sebagai konfirmator tunggal yang ma’shum.” Menurut saya lebih tepatnya adalah Sunnah Rasulullah. Yang ma’shum itu Sunnah Nabi yang terkait syariat. Hadis, itu tidak ma’shum.

Ketiga. Pernyataan: “Saya tidak men-judge (menghakimi atau menuduh) Saiful sebagai mungkirus Sunnah. Akan tetapi argumennya mirip dengan para pengingkar Sunnah.” Syukurlah kalau tidak sampai menuduh saya ingkarus Sunnah. Sebab ingkarus Sunnah, itu sama artinya dengan ingkar Rasulullah. Alias kafir. Sudah saya tunjukkan bahwa istilah inkar al-Sunnah, itu salah istilah dan salah alamat. Baca lagi tulisan sebelumnya INKAR AL-SUNNAH SYAFI’I dan STEMPEL INKAR AL-SUNNAH.

Keempat. Soal saya salat. Argumen singkat sementara itu, saya rasa memang efektif untuk menyadarkan kesalahan istilah inkar al-Sunnah tersebut. Saya terinspirasi oleh Dr. Ali Manshur al-Kayyaliy. Pemikir Qur’an-Sains yang dituduh inkar al-Sunnah ini, dengan Bahasa Arab yang fasih dia mengatakan kurang lebih begini: “Bagaimana mungkin saya ingkar Sunnah, wong saya salat sebagaimana kalian salat. Saya zakat, sebagaimana kalian zakat. Saya puasa, sebagaimana kalian puasa. Saya haji sebagaimana kalian haji?” Cek videonya banyak di YouTube.

Kelima. Klasifikasi Abdul Majid Khon yang dikutip Kawan 3, itu saya pastikan salah istilah. Baik yang mutlak, kulli, syibh kulli, maupun yang juz’i. Itu inkar al-Hadis. Bukan inkar al-Sunnah. Istilah inkar al-Sunnah itu harus direvisi. Atau sebaiknya dihapus saja. Sebab cenderung tendensius, provokatif, dan tidak bertanggung jawab.

Keenam. Kalimat: “Pemikiran Saiful, tampaknya sebanding pada nomor 4. Ingkarus Sunnah Juz’i. Apa itu? Yaitu golongan pengingkar yang menolak Hadis sahih yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan akal/Sains, sekalipun riwayat al-Bukhari yang sudah masyhur ‘inda ‘ulama Hadis atas kehujjahannya.”

Betul sekali! Saya memang mengingkari Hadis sahih yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan akal/Sains, sekalipun riwayat al-Bukhari yang sudah masyhur ‘inda ‘ulama Hadis atas kehujjahannya. Tapi ingat. Saya mengingkari Hadis. Bukan mengingkari Sunnah. Sekaligus, saya mengingkari istilah ingkarus Sunnah itu sendiri.

Bagi saya, Hadis sahih yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan akal/Sains, itu bukan Hadis sahih. Tetapi Hadis dho’if. Hadis lemah. Wong sudah jelas-jelas bertentangan dengan Qur’an dan Sains, kok! Masak masih disebut Hadis sahih?! Ingat, salah satu kriteria kesahihan Hadis, itu redaksinya (matan-nya) tidak boleh bertentangan dengan Qur’an dan Sains!

Sekalipun riwayat al-Bukhari yang sudah masyhur ‘inda ‘ulama Hadis atas kehujjahannya, kalau bertentangan dengan Qur’an dan Sains, itu namanya Hadis lemah. Hadis-Hadis seperti ini, memang haqqul yaqin saya ingkari! Malah haram, menurut saya, kalau Hadis yang bertentangan dengan Qur’an dan Sains, itu disandarkan kepada Rasulullah SAW!!

Penyandaran kepada Imam Bukhari—Riwayat Bukhari, itu bukan dalil yang kuat. Sebab kritik Imam Bukhari, itu lebih kepada sanad-nya. Yang sahih adalah sanad-nya. Padahal untuk kesahihan sebuah Hadis, itu tidak cukup ditinjau dari sisi sanad-nya saja. Tapi juga harus matan-nya. Nah, masalah bertentangan dengan Qur’an dan Sains, ini adalah masalah matan itu.

Begitu juga dengan kemasyhuran di kalangan Ulama Hadis atas kehujjahannya. Ini juga bukan merupakan dalil yang kuat. Ingat, mayoritas itu bukan ukuran untuk menentukan kesahihan Hadis. Meskipun pendapat pakar, itu layak dipertimbangkan. Tetapi tetap, jangan asal ikut. Harus paham pondasinya.

Klaim-klaim seperti mayoritas ulama, nama besar, muttafaq ‘alayh, ulama sepakat, dan seterusnya, itu memang bukan ukuran untuk menentukan kesahihan Hadis. Meskipun mungkin efektif untuk menakut-nakuti orang awam yang tidak belajar Ulumul Hadis. Hehe. Tidak ada kaidah itu.

Patokan yang benar adalah cuma ini: Ditinjau sanad-nya, ditinjau matan-nya, dan ditinjau fakta historisnya, dengan metodologi Kritik Hadis.

Dengan argumen itu menyebabkan saya memberikan saran kepada kawan-kawan sekalian untuk ekstra berhati-hati ketika mengutip dan berprinsip dengan Hadis-Hadis. Jangan mudah terpengaruh oleh label-label buruk yang tendensius dan provokatif. Terutama di ruang publik. Supaya tanpa sadar kita tidak berbuat zalim kepada sesama Umat Rasulullah. Apa itu zalim? Yaitu menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Wadh’u al-syay’ fii ghayr mahallih.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...