Tampilkan postingan dengan label saleh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saleh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 September 2019

KUALITAS SEORANG PEREMPUAN


—Saiful Islam—

“Laki-laki itu hanya makhluk maskulin dari ibunya yang feminim. Perempuan itu hanya makhluk feminim dari ayahnya yang maskulin.”

Selain pandangan patriarki, dalam kehidupan masyarakat Arab jahiliyah menjelang turunnya Qur’an, itu pendangan misogini begitu kuat. Yaitu kebencian atau tidak suka pada perempuan atau anak perempuan. Wujud misogini bisa banyak rupa. Termasuk diskriminasi seksual, fitnah perempuan, kekerasan terhadap perempuan, serta objektifikasi seksual perempuan. Gampangnya, perempuan itu dianggap rendah. Stereotip perempuan pada umumnya disepelekan. Bahkan dihinakan.

Dari cerita sebelumnya, kita telah mendapat gambaran bagaimana pandangan dan nasib yang menimpa pada rata-rata perempuan Arab jahiliyah itu. Budak-budak perempuan kerap dipaksa melacur. Anak-anak perempuan dianggap beban keluarga. Aib. Kalau sudah menginjak dewasa, dianggap hanya untuk memuaskan nafsu seksual para lelaki. Perempuan tidak dihargai layaknya manusia.

Lalu bagaimana Qur’an merespon stereotip masyarakat Arab jahiliyah itu terhadap perempuan? Benarkah perempuan itu remeh? Rendah? Kelas dua dibanding laki-laki? Atau bahkan sudah hina ‘dari sononya’? Inilah respon Qur’an.

QS. Al-Hujurat[49]: 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia. Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari SEORANG LAKI-LAKI DAN SEORANG PEREMPUAN dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang PALING MULIA diantara kamu disisi Allah ialah orang yang PALING TAQWA DIANTARA KAMU. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Sungguh di sini tegas sekali Qur’an menjawab stereotip jahiliyah yang menyepelekan dan menghinakan perempuan itu. Bahwa kemuliaan seseorang, itu tidak tergantung dia itu laki-laki atau perempuan. Tapi kemuliaan itu selaras dengan ketakwaan. Kadar kemuliaan manusia itu sebanding dengan kadar ketakwaannya. Semakin takwa seseorang, semakin mulia dia. Dan sebaliknya. Sekali lagi, bukan karena laki-laki atau perempuan.

Jelas sekali ayat di atas didahului dengan kalimat Allah, “Kami menciptakan kamu dari SEORANG LAKI-LAKI DAN SEORANG PEREMPUAN…” Ya, laki-laki dan perempuan. Jadi tidak bisa kualitas manusia itu dinilai karena dia laki-laki. Atau karena dia perempuan. Tapi tergantung nurutnya kepada Allah. Dan kemanfaatannya bagi kemanusiaan dan kehidupan secara umum.

Semakin jelas lagi dengan ayat-ayat di bawah ini.

QS. Al-Nisa’[4]: 124
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, BAIK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.

Perhatikan kalimat Qur’an itu, “BAIK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN”. Seakan-akan artinya begini: “Gak ngoros. Bah koen wedok. Bah koen lanang. Lek koen iman. Terus amal soleh. Surgo!” Maksudnya titik tekannya bukan pada jenis kelaminnya. Fokusnya bukan pada keperempuanan atau kelaki-lakiannya. Tapi pada iman dan amal salehnya.

Tak peduli laki-laki atau perempuan, siapa pun yang beriman dan beramal saleh balasannya surga. Sebaliknya, tak peduli laki-laki atau perempuan. Siapa pun yang ingkar dan berbuat kerusakan yang merugikan kemanusiaan dan kehidupan pada umumnya, balasannya adalah neraka. Baik di dunia maupun kelak lebih-lebih di kehidupan setelah mati. Bahkan tak peduli sukunya apa, keturunan siapa, bangsa dan negaranya apa, bahasanya apa, kulitnya bagaimana, dan seterusnya. Kuncinya ada pada kualitas takwanya. Ada pada kualitas iman dan amal salehnya.

QS. Al-Nahl[16]: 97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, BAIK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya KEHIDUPAN YANG BAIK. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang LEBIH BAIK dari apa yang telah mereka kerjakan.

QS. Al-Mukmin[40]: 40
مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا ۖ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ
Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan AMAL YANG SALEH BAIK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN SEDANG IA DALAM KEADAAN BERIMAN, maka mereka akan masuk surga. Mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.

QS. Al-Ahzab[33]: 35
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN YANG MUSLIM, laki-laki dan perempuan yang MUKMIN, laki-laki dan perempuan yang TETAP DALAM KETAATANNYA, laki-laki dan perempuan yang BENAR, laki-laki dan perempuan yang SABAR, laki-laki dan perempuan yang KHUSYUK, laki-laki dan perempuan yang BERSEDEKAH, laki-laki dan perempuan yang BERPUASA, laki-laki dan perempuan yang MEMELIHARA KEHORMATANNYA, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

“Loh, Mas. Bukankah laki-laki itu memang lebih unggul dari perempuan?!” kata seorang kawan. Lantas mengutip sepenggal kalimat dari ayat di bawah ini (dibaca hanya yang saya tulis kapital):

QS. Al-Nisa[4]: 34
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
KAUM LAKI-LAKI ITU ADALAH PEMIMPIN BAGI KAUM WANITA. Karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). Dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Ayat di atas berbicara dalam konteks rumah tangga. Antara suami dan perempuan. Bukan laki-laki dibanding perempuan konteks umum. Dalam rumah tangga, apalagi konteks sosial ekonomi saat abad ke-7, itu biasanya memang yang bekerja adalah para lelaki. Yang memberi nafkah adalah para lelaki. Secara sistem sosial, perempuan saat itu memang terkondisikan begitu. Mereka tidak bisa bekerja seperti para perempuan modern sekarang. Jelas sekali alasannya, “Dan karena mereka (laki-laki) TELAH MENAFKAHKAN SEBAGIAN DARI HARTA MEREKA.”

Makanya, membaca Qur’an itu jangan diambil satu ayat saja. Atau bahkan baru se per delapan. “Tak settong ayat belekak,” kata kawan yang dari Madura. Membaca Qur’an itu mesti ditinjau ayat-ayat yang lain. Supaya dapat gambaran yang utuh. Yang komprehensif. Juga mesti diperhatikan konteksnya. Jangan tekstual. Mesti kontekstual. Hehe.

Jadi bukan ‘dari sononya’ laki-laki itu lebih unggul daripada perempuan. Tapi lebih karena peradaban yang masih jahiliyah. Beda dengan para perempuan modern sekarang. Ketika hak perpengetahuan dan berpendidikan bisa diakses siapa saja yang mau. Periode informasi bebas. Zaman kesetaraan hukum. Era milenial. Banyak lahir malah, para perempuan yang lebih tangguh dan lebih hebat dari laki-laki. Sebut saja Bu Risma, Bu Khafifah, Bu Susi, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jadi dibanding laki-laki, perempuan itu adalah makhluk yang different. Laki-laki memang beda dengan perempuan. Saya pernah menulis singkat, “Laki-laki itu hanya makhluk maskulin dari ibunya yang feminim. Perempuan itu hanya makhluk feminim dari ayahnya yang maskulin.”

Dari fisiknya sampai otak dan perasaannya, itu perempuan memang berbeda dengan laki-laki. Tapi bukan berarti lebih rendah dari laki-laki. Karena perempuan dan laki-laki itu memang saling membutuhkan. Fitrahnya saling berpasang-pasangan. Berjodoh. Kalau memang saling membutuhkan, mengapa harus merasa lebih unggul dari yang lain?! Laki-laki tanpa perempuan, itu seperti bumi tanpa matahari. Mesti saling menghargai, menghormati, mencintai, mengasihi, menyayangi, bekerja sama, untuk membangun rumah tangga demi generasi yang saleh-salehah.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Rabu, 28 November 2018

PEMIMPIN NON MUSLIM YANG BAIK


PERINGATAN MAULID 13 – 1440 H

Mengetahui penyiksaan yang dialami pengikutnya, Nabi bersabda, “Jika kalian pergi ke negeri Abyssinia, di sana kalian akan dapati seorang raja yang adil dan bijaksana. Suatu negeri yang kalian bebas dan leluasa dalam beragama. Sampai suatu saat Allah memberikan jalan yang dapat menghindarkan penderitaan yang kalian tanggung sekarang ini.” Beberapa sahabat beliau pun berangkat ke Abyssina.
Para pengungsi itu sekitar delapan puluh orang, selain anak kecil. Mereka disambut baik di Abyssinia. Diberi kebebasan penuh untuk beribadah. Mereka tidak berangkat bersamaan. Tetapi secara rahasia dan per kelompok kecil.
Para pemimpin Quraisy tidak membiarkan pengungsi itu tenang di Abyssinia. Mereka lalu menyiapkan sejumlah hadiah berharga bagi orang-orang Abyssinia. Kerajinan kulit yang mereka hadiahkan cukup untuk menyuap semua jenderal Negus. Ada pula hadiah lain yang berlimpah. Kemudian dengan hati-hati mereka memilih dua orang utusan. Salah satunya adalah Amr ibn al Ash, dari Bani Abd al Syam.
Kaum Qurasiy mendekati setiap jenderal secara terpisah, memberinya hadiah, sambil berkata, “Beberapa pria dan wanita bodoh dari kaum kami telah melarikan diri ke kerajaan ini. Mereka telah meninggalkan agama mereka. Bukan untuk memeluk agama Anda, tapi agama yang mereka ciptakan, yang tak Anda maupun kami kenal. Para pemuka kaum mereka telah mengutus kami kepada raja Anda agar beliau berkenan memulangkan mereka. Maka, ketika kami menuturkan tentang mereka kepada beliau, nasihatilah beliau untuk menyerahkan mereka kepada kami tanpa menanyakan apa pun terhadap mereka. Karena kaum mereka melihat yang terbaik bagi mereka.”
Semua jenderal setuju. Dua utusan Quraisy itu pun memberikan hadiah kepada Negus, dan menambahkan, “Para pemuka kaum mereka, yang juga ayah, paman, dan kerabat mereka, memohon kepadamu agar mereka dikembalikan.”
Para jenderal itu hadir di pertemuan tersebut. Mereka serentak mendesak Negus agar permintaan kedua utusan itu dipenuhi. Namun Negus tidak berkenan dan berkata, “Tidak! Demi Tuhan. Mereka tidak boleh dikhianati. Mereka tidak akan aku serahkan, sebelum aku memanggil mereka dan menanyakan perihal mereka seperti yang dikemukakan utusan ini.”
“Jika memang benar seperti yang dikatakan,” lanjut Negus, “maka mereka akan kuserahkan untuk dibawa kembali kepada kaum mereka masing-masing. Tapi jika tidak, aku akan menjadi pelindung yang baik selama mereka meminta perlindunganku.”
Negus kemudian memanggil para sahabat Nabi itu. Pada saat yang sama, ia mengumpulkan para pendetanya. Para pendeta ini membawa kitab-kitab suci mereka yang diletakkan di sekitar kursi raja. Amr dan rekannya berusaha mencegah pertemuan Negus dan para pengungsi tersebut.
Orang Abyssinia adalah penganut Kristen. Banyak yang saleh. Mereka telah dibaptis, menyembah Tuhan yang satu, dan melaksanakan dengan khusyuk sakramen di Eucharist. Para pendeta itu kagum ketika mereka tahu bahwa para pengungsi itu lebih mirip mereka dibanding utusan Quraisy yang telah lebih dulu menghadap.
Tidak semua Nabi haruskan berhijrah. Keluarga Utsman sempat akan membatalkan kepergiannya, namun Nabi mengizinkannya pergi dan membawa serta Ruqayyah. Kehadiran mereka menjadi sumber kekuatan bagi masyarakat di pengasingan itu. Pasangan lainnya adalah Ja’far dan istrinya, Asma. Keduanya sangat dilindungi oleh Abu Thalib. Dan Ja’far menjadi juru bicara yang fasih. Kepribadiannya juga paling unggul.
Suatu hari Nabi pernah berkata kepada Ja’far, “Engkau mirip denganku dalam penambilan dan karakter.” Nabi memilih Ja’far untuk memimpin para pengungsi itu. Daya tarik serta kecerdasannya diperkuat oleh Mush’ab dari Abd al Dar—pemuda yang dipercaya Nabi untuk sebuah misi penting karena bakat alamiah yang dimilikinya.
Orang terkenal berikutnya adalah pemuda Bani Makhzum, Syammas—ibunya adalah saudara Utbah. Namanya yang berarti, ‘petugas gereja Kristen’, disandangkan kepadanya karena Mekah pernah dikunjungi tokoh Kristen yang terhormat dengan jabatan itu—lelaki sangat tampan yang menimbulkan kekaguman. Lantas Utabah berkata, “Akan kutunjukkan kepadamu seorang Syammas yang lebih tampan darinya. Lalu ia pergi membawakan keponakannya itu ke hadapan mereka.
Saat itu, Zubayr, putra Shafiyyah, juga hadir. Begitu juga para sepupu Nabi yang lain: Thulayb putra Arwa, dua putra Umaymah, Abd Allah ibn Jahsy dan Ubaydillah serta isterinya, Umm Habibah; serta dua putra Barrah, Abu Salamah dan Abu Sabrah—keduanya beserta isteri masing-masing. Umm Habibah adalah wanita tercantik di antara para pengungsi pertama ini.
Setelah mereka berkumpul semua, Negus berkata kepada mereka, “Agama apa yang membuat kalian berpisah dari kaum kalian, sedangkan kalian tidak memeluk agamaku, juga tidak memeluk agama suku-suku di sekitar kami?”
Ja’far menjawab, “Wahai Raja! Dulu, kami adalah orang-orang jahiliah, menyembah berhala-berhala, memakan daging yang najis, melakukan maksiat, dan pihak yang kuat menerkam yang lemah. Begitulah kami sampai Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami, seorang yang garis keturunannya kami ketahui, juga kejujuran, integritas, dan penghargaannya terhadap kebenaran.
“Ia mengajak kami kepada Allah, bersaksi akan keesaan-Nya, menyembah-Nya, dan meninggalkan batu-batu serta berhala-berhala yang kami dan orang tua kami sembah. Ia memerintahkan kami untuk berkata benar, memenuhi janji, menghormati ikatan kekerabatan, dan hak-hak tetangga kami. Ia melarang kami melakukan kejahatan dan pertumpahan darah. Karenanya, kami hanya menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, menjauhi apa yang diharamkannya dan melakukan apa yang dibolehkan-Nya.
“Karena alasan ini kamu kami menentang dan menyiksa kami agar murtad dari agama kami dan tidak lagi menyembah Allah serta kembali menyembah berhala. Karena itu juga kami datang ke negeri Tuan, memilih Anda dari yang lain. Dan kami puas dengan perlindungan Anda. Harapan kami, wahai raja, di sini, bersamamu, kami tidak diperlakukan sewenang-wenang.”
Penerjemah kerajaan menerjemahkan semua perkataan Ja’far. Negus kemudian bertanya apakah ada wahyu ilahi yang dibawa nabi mereka. Saat Ja’far mengiyakan, Negus berkata, “Bacakanlah kepadaku!” Segera Ja’far membaca sebagian Surah Maryam, yang baru diturunkan—tidak lama sebelum keberangkatan mereka seperti berikut.
QS. Maryam[19]: 16-21
Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Alquran, Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya. Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” Ia (Jibril) berkata, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” Maryam menjawab, "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Jibril berkata, "Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, "Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”
Negus menangis. Begitu juga para pendetanya, saat mendengarnya. Mereka menangis kembali saat ayat itu diterjemahkan. “Ini benar-benar berasal dari sumber yang sama seperti yang dibawa oleh Yesus,” kata Negus. Kemudian ia berkata kepada para utusan Quraisy, “Engkau boleh pergi! Karena demi Tuhan, aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu. Mereka tidak boleh dikhianati.”
Tapi ketika kedua utusan itu keluar dari istana, Amr berkata kepada temannya, “Besok akan aku ceritakan kepada Negus suatu hal yang dapat menghancurkan kemakmuran mereka ini sampai ke akar-akarnya. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa mereka menyebut Yesus putra Maryam adalah seorang hamba.” Maka, keesokan paginya ia menghadap Negus dan berkata, “Wahai Raja! Mereka telah mengucapkan kebohongan besar tentang Yesus putra Maryam. Panggillah mereka dan tanyakan apa yang mereka katakana tentang Yesus.
Karena itu, para pengungsi itu dipanggil kembali untuk menghadap Negus dan menceritakan kepadanya pendapat mereka tentang Yesus. Mereka serta-merta cemas karena persoalan seperti ini tidak pernah mereka alami. Mereka saling berkonsultasi satu sama lain tentang jawabannya, meskipun mereka semua tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain mengatakan apa yang telah Allah firmankan.
Ketika para pengungsi tersebut masuk istana, dan pertanyaan itu ditujukan kepada mereka, “Apa yang kalian katakan tentang Yesus putra Maryam?” Ja’far menjawabnya dengan baik bahwa Yesus adalah hamba sekaligus rasul-Nya. Setelah mendengar jawaban tersebut, Negus mengizinkan mereka pergi sesuka hati sekaligus menjamin keamanan mereka di negeri itu. Ia pun tidak menerima hadiah dari Amr dan temannya. Lantas keduanya kembali ke Mekah dengan rasa malu.

~ Salam ~

IG        : saifulislam_45
FB       : Berpikir Bersikap Beraksi
 : Ahmad Saiful Islam
Twitter : @tipkemenangan
 : @MotivasiAyat
Blog    : tipkemenangan.blogspot.com

Untuk pertanyaan, diskusi, dan lain-lain, silakan di kolom comment. Terimakasih…





AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...