Tampilkan postingan dengan label magic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label magic. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2019

TONGKAT NABI MUSA


—Saiful Islam—

“Tali dan tongkat mereka, itu tak jadi ular. Hanya seakan-akan jadi ular…”

Ini adegan seru. Antara Nabi Musa dengan para ahli sihir. Sekilas, antara mukjizat Nabi Musa dengan sihir para penyihir itu. Duel keduanya digambarkan seperti aksi lempar-lemparan tongkat. Tali-tali dan tongkat-tongkat ahli sihir itu berubah menjadi ular. Tongkat Nabi Musa pun berubah menjadi ular yang menelan ular-ular mereka. Benarkah demikian?

Jika menyorot para ahli sihir lawan Musa AS, maka sudah jelas bagi kita bahwa sihir yang mereka lakukan itu hanya tipuan. Atau trik. Cuma sulapan. Tali-tali dan tongkat-tongkat mereka tidak benar-benar menjadi ular. Tali-tali dan tongkat-tongkat mereka itu, hanya terbayang menjadi ular. Sekali lagi, Cuma terbayang! Seolah-olah saja menjadi ular. Seakan-akan merayap cepat. Mereka menyulap mata banyak orang yang hadir. Termasuk mata Nabi Musa.

Sama seperti tukang sulap yang saya temui di pasar ketika saya mengajak kawan saya itu. Kain dan putung rokok yang hilang itu, tidak benar-benar hilang. Hanya seakan-akan hilang. Terbukti kain dan potung rokok tersebut dimasukkan ke dalam seperti tutup pulpen yang dibentuk dan dicat seperti jempol. Untuk mengelabui kami. Dan benar, meski hanya berjarak satu meter peris di hadapannya, kain dan putung rokok itu seperti lenyap begitu saja dari tangannya.

Saya tegaskan lagi, bahwa aksi para penipu itu di hadapan Nabi Musa, tersebut hanyalah sulapan belaka! Tali-tali dan tongkat-tongkat mereka TIDAK menjadi ular. Kenyataannya, TIDAK merayap cepat. Hanya SEAKAN-AKAN menjadi ular yang merayap cepat.

QS. Al-A’raf[7]: 116
قَالَ أَلْقُوا ۖ فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ
Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka MENYULAP mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).

QS. Thaha[20]: 66
قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ
Musa berkata: "Silahkan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, TERBAYANG kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.

Lagian, tipuan atau trik mereka itu pun dibongkar oleh Allah. Sebagaimana diceritakan dalam ayat berikut.

QS. Yunus[10]: 81 - 82
فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ ۖ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ
81. Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: "Apa yang kamu lakukan itu, adalah sihir. Sungguh Allah akan MEMBONGKAR ketidak benarannya." Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan.
وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ
82. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan kalimat-kalimat-Nya. Walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).

Setelah aksi tipu-tipu mereka terbongkar itulah, akhirnya para ahli sihir itu menyerah kepada Nabi Musa. Lantas memutuskan untuk beriman kepada Allah.

QS. Thaha[20]: 70
فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَىٰ
70. Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: "Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa.”

Sekarang, marilah kita lihat sebaliknya. Kita sorot Nabi Musa. Digambarkan bahwa tongkat Nabi Musa menelan apa yang mereka perbuat itu. Dan ayat-ayat inilah yang sering digunakan oleh kawan-kawan diskusi saya. Hehehe. Let’s go…

QS. Thaha[20]: 67 – 69
أَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰ
67. Maka Musa merasa takut dalam hatinya.

قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَىٰ
68. Kami berkata: "Janganlah kamu takut. Sungguh kamulah yang paling unggul (menang).

وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ
69. “Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu. Niscaya ia akan MENELAN APA YANG MEREKA PERBUAT. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu. Dari mana saja ia datang.”

Ingat ya. Pada ayat di atas, Allah tidak menyebut “menelan ular-ular mereka”. Di situ hanya disebut, “menelan apa yang mereka perbuat”. Apa yang mereka perbuat? Jelas disebutkan di kalimat selanjutnya, “itu hanyalah tipu daya tukang sihir belaka”. Alias tipu-tipu belaka. Hanya trik. Cuma sulapan! Seolah-olah tampak seperti ular yang merayap gesit. Padahal aslinya, BUKAN!

Begitu juga di ayat di bawah ini. Allah tidak menyebut, “menelan ular-ular mereka”. Tapi di sini disebut, “menelan kebohongan mereka” atau “menelan habis segala kepalsuan mereka” atau “menelan apa yang mereka sulapkan”. Marilah kita cermati!

QS. Al-A’raf[7]: 117 – 122
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ
117. Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.

فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
118. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.

فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ
119. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.

وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ
120. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud.

قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
121. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam.

رَبِّ مُوسَىٰ وَهَارُونَ
122. "(Yaitu) Tuhan Musa dan Harun.”

Maka menurut saya, yang jelas tongkat Nabi Musa tidak benar-benar menjadi ular. Baik ular piton, maupun ular anaconda. Kenapa? Karena tali dan tongkat para pesihir itu tidak menjadi ular. Baik ular cobra, ular hijau, ular derik, sampai ular kacangan. Tentu ini semakin menarik. Selanjutnya akan kita lihat.

Sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Minggu, 23 Juni 2019

SEBAB AKIBAT SIHIR


—Saiful Islam—

“Deddy Corbuzier misalnya. Memang tujuannya adalah “mengelabui” penonton. Makanya, Jum’at kemarin dia masuk Islam. Hehehe…”

Kira-kira lima atau enam tahun yang lalu, kawan karib saya datang dari Madura. Santri taat. Ia menginap di rumah kami, di Surabaya. Pukul enam pagi, saya ajak ke pasar. Kebetulan di pasar ini ada pesulap yang berjualan alat atau trik sulapnya. Pesulap ini meremas-remas kain juga putung rokok, dan tiba-tiba hilang. Anehnya, dia bisa menghadirkan lagi kain dan potong rokok itu dari mulutnya. Wow! Surprised!! Selain itu, pesulap itu hanya menggoyangkan uang yang ada di tangannya. Tiba-tiba dua ribu rupiah, menjadi lima ribu. Menjadi sepuluh ribu. Menjadi dua puluh ribu. Lima puluh ribu. Dan seterusnya sampai bertumpuk-tumpuk. Amazing!!!

Kawan saya itu penasaran sekali. Dia amat yakin bahwa itu ulah Jin. Atau bantuan setan. “Itu ada triknya, Kawan,” kata saya padanya. Dia tidak percaya. Malah semakin penasaran. Dan memutuskan untuk membeli. Sebagaimana janjinya, dengan membeli, pesulap ini akan memberi tahu triknya. Atau memberi alatnya. Secara privat. Langsung di tempat itu. Dan benar, setelah tahu alatnya, triknya, sebab-akibatnya, kawan saya ini kecewa ketika kembali ke rumah kami. Alat itu seperti tutup pulpen yang dibentuk seperti jari jempol tangan orang dewasa. Kain dan putung rokok tadi dia masukkan ke dalamnya.

……………………....

Makna sihir versi KBBI tidak bisa digunakan untuk memahami sihir yang terkait dengan teologi Islam. Tidak bisa juga hanya berdasar “katanya dan katanya” di masyarakat Jawa—Madura misalnya. Beda konteksnya. Kita harus memahami sihir itu dari ayat-ayat Al Qur’an. Baik teks maupun konteksnya. Serta dari sumber-sumber Arab yang valid. Salah satunya kamus Arab. Seperti Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an dan Lisan al-‘Arab.

Mari kita perhatikan lagi makna sihir versi Arabnya.

كلّ أمر يخفى سببُه ، ويُتخيّل على غير حقيقته ، ويجري مجرى التمويه والخداع ، إخراج الباطل في صورة الحقّ ، استخدام القوى الخارقة بواسطة الأرواح
Sihir adalah apapun yang tersembunyi sebabnya, terbayang sesuatu yang bukan sebenarnya, posisinya adalah tipuan; menampakkan kedustaan yang seolah-olah kebenaran; menggunakan kekuatan luar biasa dengan perantara roh-roh.

Perhatikan sekali lagi kalimat, “terbayang sesuatu yang bukan sebenarnya”. Jadi hanya terbayang. Terbayang apa? Terbayang sesuatu yang luar biasa. Magic. Yang membuat kita berdecak kagum, “Kok bisa ya?”. Padahal kalau kita ketahui trik-triknya, tiba-tiba saja berubah dalam benak kita, “Ealah. Ngono ta tibak e,” kata orang Surabaya. “Perak ngak rea,” kata kawan Madura. “Tibiane mong gedigu,” ucap orang Oseng Banyuwangi.

Perhatikan juga kalimat, “posisinya adalah tipuan”. Jelas sekali, tipuan. Ya, tipuan. Jadi sihir itu memang tipuan. Sekali lagi, sudah jelas tipuan. La kok di masyarakat justru sihir itu dianggap sampai diyakini sesuatu yang luar biasa. Yang hebat. Yang benar-benar terjadi. Malah dibumbu-bumbui, “perantara Jin, punya asisten Jin, kerja sama dengan Jin, perbuatan Jin,” dan semisalnya.

Cermati juga kalimat, “menampakkan kedustaan yang seolah-olah kebenaran”. Jadi kebenaran yang dihebat-hebatkan masyarakat itu hanya seolah-olah. Cuma terbayang. Diyakini tanpa verifikasi. Aslinya apa? Kedustaan. Ya, kedustaan. “Apos,” orang Oseng Banyuwangi bilang. “Mbojok,” kata Arek Suroboyo. “Lecek,” jika diucapkan oleh kacong-cebing Madura.

Barulah kalimat ini yang menjadi masalah, “menggunakan kekuatan luar biasa dengan perantara roh-roh”. Roh-roh di sini tentu bukan sosok-sosok makhluk halus. Kata arwah itu bentuk plural dari ruuh. Al Qur’an tidak pernah menyebut arwah itu untuk makhluk halus. Tapi untuk ruh yang masuk pada makhluk hidup seperti manusia, Al Qur’an disebut ruh (42:52), dan ruh al-quds (16:102) untuk Malaikat Jibril.

Tidak ada dalam Al Qur’an frase ruh Jin, ruh setan, atau ruh Iblis! Tidak ada!! “Menggunakan kekuatan luar biasa dengan perantara roh-roh,” adalah keyakinan khas masyarakat primitif animisme—dinamisme yang sangat ditentang oleh Al Qu’ran. Tidak ada kekuatan dari roh-roh. Kekuatan itu hanya dari Allah. Bisa lewat Malaikat.

Sekarang definisi berikutnya.

لَمْ يَكُنْ ما جاءَ بِهِ إلا سِحْراً : كُلُّ أَمْرٍ أوْ عَمَلٍ يُزْعَمُ أنَّهُ خَارِقٌ للعَادَةِ وَالطَّبِيعَةِ وَلاَ يُعْرَفُ سَبَبُهُ وَيُقْصَدُ بِهِ التَّمْوِيهُ وَالخِدَاعُ
Yang dilakukannya tidak lain adalah sihir. Maksudnya adalah setiap sesuatu atau pekerjaan yang dianggap keluar dari kebiasaan atau hukum alam, tidak diketahui sebabnya, dengan tujuan menipu atau memperdayakan.

Tidak ada yang keluar dari hukum alam. Sunnatullah. Allah sudah mengatur mekanisme alam semesta ini dengan sunnatullah. Dengan sistem. Sehingga berjalan teratur sekaligus indah. Tidak liar. Setiap sesuatu selalu ada sebab akibatnya. Karenanya, Allah memerintahkan kita untuk mengambil ibrah (pelajaran) darinya. “Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnatullah. Dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnatullah itu,” (35:43).

“Tidak diketahui sebabnya, dengan tujuan menipu atau memperdayakan,” ini adalah supalan. Tukang sulap memang berusaha keras aksinya itu tidak diketahui sebabnya. Disembunyikan triknya. Menyembunyikan sebab, adalah tujuan utamanya. Supaya aksinya terkesan amazing. Ajaib. Luar biasa. Semua pesulap atau magician, seperti Deddy Corbuzier misalnya, memang tujuannya adalah “mengelabui” penonton. Makanya, Jum’at kemarin dia masuk Islam. Hehehe.

Deddy ini orang cerdas. Sebelum masuk Islam itu, sering saya menonton videonya di YouTube. Dia adalah magician yang hebat. Keluarganya multi religi. Seandainya dia memang bisa bersekutu dengan Jin, pastilah dia tidak akan mau kerja capek-capek jadi presenter, fitness trainer, actor, atau YouTuber. Tidak akan nge-gym untuk membentuk otot-ototnya. Tidak akan mau masuk Islam. Kenapa? Dia bisa kaya raya, bisa terkenal, bisa sakti, cukup dengan perantara Jin-Jinnya. Right?!

Di situ dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Sabtu, 22 Juni 2019

MENYUSUN PUZZLE SIHIR


—Saiful Islam—

“Penyihir itu, ya pesulap. Sulapan itu trik. Bukan magic…”

Kita mendapat gambaran yang lebih utuh dari buku berbahasa Arab, Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an karya Al-Raghib al-Ashfahaniy. Kata Al-saharu diartikan sebagai ujungnya tenggorokan dan paru-paru. Jika dikatakan, intafakha saharuhu dan ba’iirun sahrun, itu berarti tenggorokan yang bengkak atau menggelembung. Al-suhaarah, itu sesuatu (kotoran) yang diambil dari tenggorokan (hewan) saat peyembelihan. Menurut satu pendapat, dari kata al-suhaarah inilah kata al-sahr terbentuk. Yaitu yang terkait dengan tenggorokan.

Adapun kata sihir atau al-sihr, itu mengandung beberapa makna. Pertama, berarti tipuan, kecurangan, pembohongan, tipu daya, dan khayalan, gambaran, atau imajinasi. Tidak ada kebenarannya sama sekali. Seperti dilakukan pesulap yang mengelabui mata dengan cepatnya tangannya. Dan seperti dilakukan pengadu domba, tukang gosip, tukang fitnah atau hoaxers dengan omongan bohong yang indah-indah yang menglangi pendengaran mencapai informasi yang benar. Karena itulah, Allah berfirman dalam ayat-ayat berikut ini.

QS. Al-A’raf[7]: 116
قَالَ أَلْقُوا ۖ فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ
Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).

QS. Thaha[20]: 66
قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ
Musa berkata: "Silahkan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.

Dengan pandangan seperti ini, para pesulap itu melabeli Musa AS sebagai penyihir. Perkataan mereka ini dikisahkan oleh Allah dalam Al Qur’an surat 43, Al-Zukhruf ayat 49 di bawah ini. Jadi, yang mereka maksud dengan ahli sihir di sini ialah Nabi Musa AS.

وَقَالُوا يَا أَيُّهَ السَّاحِرُ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَ
Dan mereka berkata: "Hai ahli sihir. Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Kami (jika doamu dikabulkan) benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk.

Kedua, sihir berarti mendatangkan pertolongan setan. Mendekatkan diri kepada setan. Seperti firman Allah SWT dalam QS. Al-Syu’ara[26]: ayat 221 - 222 berikut.

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ
221. Apakah akan aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?
تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ
222. Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa.

Karena itu, Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah[2]: ayat 102: “Setan-setan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia..”

Untuk makna kedua ini, ditunjukkan oleh beberapa firman Allah QS. Saba’[34]: 43, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”; QS. Al-A’raf[7]: 116, “Mereka mendatangkan sihir yang menakjubkan.”; QS. Yunus[10]: 77, “Sihirkah ini? Padahal para sihir itu tidaklah mendapat kemenangan.”; serta QS. Al-Syu’ara[26]: ayat 38, “Maka dikumpulkan para penyihir pada waktu yang ditetapkan.” dan “Tersungkurlah para penyihir itu sambil bersujud,” (26:46).

Ketiga, sihir berarti sesuatu yang terkait dengan al-aghtaam. Yaitu nama perbuatan yang dianggap bisa mengubah bentuk fisik dan sifat sesuatu dengan kekuatannya sendiri. Misalnya mengubah manusia menjadi domba. Tentu ini tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Terkadang sihir itu tampak baiknya. Seperti dikatakan, “Sebagian dari kata-kata, itu sihir.” Dan kadang tampak halusnya perbuatan. Sampai para dokter berkata, “Tabiat (sifat atau karakter) itu menyihir.” Mereka menyebut asupan bergizi itu sihir. Dilihat dari halusnya efeknya.

QS. Al-Hijr[15] ayat 15, “Kami adalah orang-orang yang terkena sihir,” yakni kami dipalingkan dengan sihir itu dari pengetahuan kami. Karena itu Allah berfirman dalam QS. Al-Syu’ara[26] ayat 153, “Sesungguhnya engkau adalah salah seorang dari orang-orang yang musahharin,” dikatakan yaitu bagian dari orang yang diberi makan sahur, karena ia butuh asupan gizi. Seperti firman Allah QS. Al-Furqan[25]: 7, “Mengapa Rasul itu memakan makanan…”

Serta diingatkan bahwa rasul itu manusia biasa, seperti pada QS. Al-Syu’ara[26]: 154, “Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami…,” dikatakan bahwa yaitu orang yang punya sihir. Maksudnya berkenaan dengan kehalusannya terkait dengan apa yang ia dakwahkan.

Bisa bermakna dua-duanya, yakni baiknya sihir dan halusnya perbuatan, yaitu firman Allah QS. Al-Isra’[17]: ayat 47, “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir,” dan ayat 101, “Sesungguhnya aku sangka engkau, wahai Musa, seorang yang kena sihir.”

Sedangkan al-saharu dan al-saharoh yaitu berarti bercampurnya gelapnya akhir malam dengan cahaya siang. Disebutlah dengan waktu sahur. Maka ada ungkapan Arab, “Laqoytuhu bi al’laa al-saharoyn,” (Aku telah menemuinya di dua ujung waktu sahur). Al-mushir itu adalah sebutan untuk orang yang keluar rumah di waktu sahur. Adapun al-sahuur, yang kerap diucapkan di Indonesia, ini berarti makanan yang disantap pada waktu sahur. Kegiatan makannya disebut al-tasahhur, mengikuti bentuk tafa’ala.

Analisisnya insya Allah bersambung, nggih. Semoga bermanfaat…

Salam

Senin, 17 Juni 2019

IMAN BABI BUTA


—Saiful Islam—

“Jangan sembarangan beriman. Supaya tidak dilaknat oleh Allah..”

Something metafisik yang wajib kita imani itu memang cuma dua. Pertama, Allah. Dan yang kedua, adalah Malaikat. Jin atau Iblis atau setan, tidak termasuk yang wajib diimani. Bahkan, haram beriman kepada Jin itu. Karena bisa membuat orang sesat dan syirik kepada Allah. “Kebanyakan mereka beriman kepada Jin itu…” (34:41). Selain itu, Jin memang bukan makhluk metafisik. Bukan ‘barang halus’.
QS. Al-Baqarah[2]: 177
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian (kiamat), malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi. Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji. Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya). Dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dari alif, min, dan nun, al-amn asal maknanya adalah tentramnya jiwa dan hilangnya ketakutan. Dari sini memunculkan kata iman, aman, dan amanah. Iman ini bisa berarti syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW (QS.6:69). Disifati dengan ayat ini, yaitu setiap orang yang masuk ke dalam syariatnya, yang meyakini Allah dan kenabiannya. Allah berfirman, “Dan sebahagian besar mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan mempersekutukan-Nya,” (QS.12:106).

Kata iman juga bisa digunakan untuk maksud menundukkan jiwa (patuh) kepada kebenaran dengan membenarkan. Maka di dalam kata iman itu menghimpun tiga hal. Pertama, membenarkan dengan hati (qalb). Kedua, mengakui dengan lisan. Dan ketiga, membuktikan hati dan lisan itu dengan perbuatan. Allah berfirman dalam QS. Al-Hadid[57] ayat 19, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, mereka itulah para shiddiqin.”

Adapun QS Yusuf[12] ayat17, “Engkau tidak akan beriman kepada mami, meski kami adalah orang-orang yang benar," maknanya adalah membenarkan. Karena iman itu membenarkan yang harus disertai dengan rasa aman atau tentram.

Berdasar (2:177) di atas, rukun iman itu cuma lima. Dua yang metafisik, yakni Allah dan Malaikat. Dua sisanya adalah fisik, yakni para utusan Allah (Nabi atau Rasul-Nya) dan kitab-kitab-Nya. Dan satu yang terakhir adalah sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang (future atau mustaqbal), yakni hari yang terakhir (kiamat) di dalam kehidupan dunia ini.

Jadi, keimanan itu tidak selalu kepada sesuatu yang metafisik. Tetapi juga iman kepada sesuatu yang fisik. Iman kepada kitab-kitab-Nya dan para nabi atau rasul-Nya. Iman kepada kitab-kitab-Nya misalnya. Itu bukan sekadar percaya bahwa ada buku yang bernama Suhuf Ibrahim, Zabur, Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Tapi beriman bahwa buku-buku tersebut adalah firman Allah. Sebab tidak sedikit orang yang tidak percaya bahwa buku-buku itu adalah firman Allah. Menurut mereka, itu hanya buku-buku karangan manusia biasa.

Begitu juga beriman kepada para rasul-Nya. Misalnya kepada Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Bukan sekadar percaya bahwa mereka itu ada. Tapi percaya bahwa mereka adalah para tokoh yang dipilih Allah untuk menyampaikan firman-Nya kepada manusia yang lain. Karena banyak para ateis dan agnostik yang tidak percaya bahwa mereka telah dipilih Tuhan. Mereka yakin, para tokoh tersebut adalah orang biasa. Atau bahkan tokoh-tokoh rekaan belaka. Fiksi atau cuma dongeng yang tak pernah ada di dunia nyata.

Banyak yang salah paham dengan keimanan ini. Atau sengaja menyalahkan pahamnya sendiri. Dikiranya, iman itu sekadar percaya. “Harus beriman kepada Jin, karena Jin itu ada dalam Al Qur’an,” katanya. “Harus beriman kepada sihir, karena sihir itu tercantum di dalam Al Qur’an,” kata yang lain lagi. Malah mengaitkan keimanan kepada Jin itu dengan Jin Nabi Sulaiman.

Insya Allah, nanti akan saya ceritakan tentang Jin Nabi Sulaiman itu. Sekilas info, Jin Nabi Sulaiman ini memang sering dijadikan kambing hitam untuk menipu dan membodohi umat. Jangankan orang rata-rata. Yang sudah profesor sekalipun bisa membenarkan aksi tipu-tipu murahan itu. Kasus Dimas Kanjeng misalnya. Orang-orang ‘lugu’ seperti ini yakin bahwa magic yang tak ada sebab musababnya itu ada. Padahal di YouTube sudah banyak, bagaimana trik magic itu dikupas, dibahas, dan dibongkar. Revealed!

Sekali lagi, iman itu tidak hanya sekadar percaya kepada keberadaan. Kata-kata seperti Jin, Iblis, setan, dan sihir, itu memang ada dalam Al Qur’an. Tidak bisa kita ingkari keberadaan kata-kata tersebut. Justru, yang harus kita ingkari adalah konsep Jin, Iblis, setan, dan sihir tahayyul dan mitos yang dikarang-karang sendiri oleh masyarakat. Baik oleh masyarakat primitif jahiliyah, maupun masyarakat modern jahiliyah. Ingat, Qur’an ini datang memang untuk mengoreksi konsep animisme—dinamisme (seperti penyembah berhala), Nasrani, dan Yahudi.

Kita ini memang tidak boleh sembarang beriman. Jangan sembarangan beriman. Supaya tidak dilaknat oleh Allah. Seperti dikisahkan dalam ayat berikut ini.

QS. Al-Nisa’[4]: 51—52
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا
51. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari al-kitab? Mereka beriman kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang mukmin.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا
52. Mereka itulah orang yang dilaknat Allah. Barangsiapa yang dilaknat Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.

Sampai di situ dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...