Tampilkan postingan dengan label paham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paham. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Agustus 2020

SUPAYA KALIAN MEMAHAMI


—Saiful Islam*—

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar…” QS.41.53

Kali ini saya hanya ingin menunjukkan kaitan ayat dengan kepahaman. Ayat menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an adalah tanda yang tampak jelas. Menurut QS.29:49 Al Qur’an disebut sebagai ayat-ayat.

Begitu juga cerita Lisan al-Arab. Bahwa ayat itu adalah tanda. Dijumpai juga arti ayat adalah ‘ibroh. Ayat untuk Qur’an, menurut satu pendapat, itu karena menjadi pemisah antar kalimat.

Jadi secara bahasa, ayat itu semacam tanda, teks, simbol, lambang, gambar, dan seterusnya yang menarik perhatian akal manusia untuk memahaminya. Karenanya berkali-kali Allah perintahkan supaya memahami ayat-ayat-Nya.

Ayat itu tanda yang memberi petunjuk. Al Qur’an adalah kumpulan Surat. Surat adalah kumpulan kalimat (kalaam). Kalimat adalah kumpulan kata (kalimah). Kata adalah kumpulan beberapa huruf. Dan huruf adalah kumpulan beberapa titik.

Al Qur’an itu mirip buku. Karenanya disebut juga Al Kitab. Alias The Book. Buku terdiri dari beberapa bab. Bab terdiri dari beberapa sub bab. Sub bab terdiri dari beberapa paragraf. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat. Kalimat terdiri dari beberapa kata. Kata terdiri dari beberapa huruf. Dan huruf sendiri terdiri dari beberapa titik.

Di dalam Al Qur’an, kata aayah (ayat, bentuk tunggal) terulang sebanyak 84 kali. Sedangkan kata aayaat (ayat-ayat, bentuk jamak) diulang sebanyak 148 kali.

Supaya kalian memahami ayat-ayat itu. Ayat-ayat qowliyah berupa Al Qur’an terutama, dan ayat-ayat realitas alam dan sosial. Begitulah kalau kita misalnya membaca QS.45:1-6. Setelah bercerita tentang realitas alam dan sosial, Allah lantas menyatakan: “Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan sebenarnya.”

Agar Mereka Memahami

Setelah diceritakan haramnya menikahi wanita musyrik, lantas ditutup dengan kalimat: “Allah menerangkan AYAT-AYAT-NYA kepada manusia SUPAYA MEREKA MEMAHAMINYA.” QS.2:221.

Pada QS.6:65, setelah menunjukkan kekuasaan-Nya, kemudian ditutup dengan: “Kami mendatangkan AYAT-AYAT KAMI silih berganti AGAR MEREKA MEMAHAMINYA.”

“Maka ceritakanlah (kepada mereka) KISAH-KISAH itu AGAR MEREKA MEMAHAMINYA,” QS.7:176.

Sesungguhnya Kami mudahkan AL QUR’AN itu dengan bahasamu SUPAYA MEREKA MEMAHAMINYA (QS.44:58).

Setelah membinasakan negeri-negeri, lalu disebutkan QS.46:27: “Kami telah mendatangkan AYAT-AYAT KAMI berulang-ulang supaya mereka bertaubat setelah MEMAHAMINYA.

Supaya Kamu Memahami

Setelah membahas sesuatu yang memabukkan pada QS.2:219, dinyatakan: “Demikianlah Allah menerangkan AYAT-AYAT-NYA kepadamu SUPAYA KAMU MEMAHAMINYA.” Begitu juga pada ayat 242.

Setelah perintah supaya semua Mukminin berpegang teguh pada Qur’an, lantas disebutkan: “Demikianlah Allah menerangkan AYAT-AYAT-NYA kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk,” DENGAN MEMAHAMINYA (QS.3:103).

 (Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya). Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, AGAR KAMU SELALU MEMAHAMI DAN MENGINGATNYA (QS.24:1).

Setelah menceritakan adab makan bersama dan bertamu, kemudian disebutkan QS.24:61: “Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagimu, AGAR KAMU MEMAHAMINYA.”

Allah-lah Yang Menghidupkan bumi sesudah matinya. Pada QS.57:17: “Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu AYAT-AYAT (KAMI) SUPAYA KAMU MEMAHAMINYA.”

Itulah Ayat-Ayat Untuk Dipahami

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu BENAR-BENAR AYAT BAGI KAUM YANG MEMAHAMINYA.” Pada QS.16:11.

“Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat AYAT-AYAT BAGI KAUM YANG MAU MEMAHAMI.” QS.13:3.

“Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat AYAT BAGI KAUM YANG MAU MEMAHAMI.”  Disebut oleh QS.16 ayat 13 dan ayat 67.

Setelah dikisahkan pembangkangan kaum Tsamud kepada Nabi Sholeh pada QS.27 mulai ayat 45, lantas pada ayat 52 disebutkan begini: “Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah AYAT BAGI KAUM YANG MEMAHAMI.”

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

Jumat, 31 Juli 2020

INTELEGENSI NABI SULAIMAN


—Saiful Islam*—

“Paham, itu variabelnya dua: data fakta dan proses mengolah data fakta tersebut dengan akal…”

Kali ini kata paham itu sendiri. Tampaknya itu adalah kata serapan dari Bahasa Arab, kata fahm. Bibir orang Indonesia, Jawa-Madura terutama, tampaknya memang susah mengucapkan huruf ‘fa’ atau ‘f’. Maka kata fahm, itu lantas menjadi paham. Namun sebaliknya, orang Arab, itu susah mengucapkan huruf ‘p’. Jadi kalau diminta mengatakan ‘tampan’ misalnya, orang Arab akan bilang, ‘tanmfan’. Hehe.

Perhatikan saja semua huruf hijaiyah itu. Orang Arab tidak mempunyai huruf ‘p’. Jadi semua kata Indonesia yang ada huruf ‘p’, seperti tempe, peyek, pedas, panas, pukis, pisang, pepaya, perahu, sedap, sepeda, perempuan, dan seterusnya, akan diganti dengan huruf ‘f’ semua kalau orang Arab yang mengucapkan. Menjadi ferempuan, feyek, temfe, hehehe. Sayangnya orang Indonesia sendiri masih ada yang mengucapkan kata paham, itu dengan faham.

Yang baku mestinya adalah paham. Yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) paham berarti 1. Pengertian. 2. Pendapat, pikiran. 3. Aliran, haluan, pandangan. 4. Mengerti benar (akan), tahu benar (akan). 5. Pandai dan mengerti benar (tentang suatu hal). Terpahami maksudnya adalah dapat dimengerti. Kalau guru bertanya kepada para muridnya, “Paham?” tentu maksudnya adalah “Sudah mengerti?”.

Diceritakan dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an dari fahima. Bahwa al-fahm itu adalah suatu keadaan bagi seseorang dimana makna-makna menjadi terang benderang. Bayangkanlah seorang murid yang manggut-manggut dan bilang, “Ooo…” setelah mendapatkan penjelasan dari gurunya.

Dalam QS.21:79 disebutkan, “Fafahhamnaa haa Sulaymaan: Kami memahamkannya untuk Sulaiman.” Ini bisa jadi Allah menganugerahkan keutamaan kekuatan kepahaman yang bisa dicapai oleh Sulaiman AS. Atau kekuatan kepahaman itu ditancapkan oleh Allah ke dalam jiwanya. Atau Allah memberi wahyu kepadanya yang menjadi spesialisasinya.

Jika dikatakan, “Afhamtuhu: Aku memahamkannya,” maka itu ketika Anda mengatakan kepadanya sampai tergambar jelas di benaknya. Sementara itu, al-istifhaam, artinya adalah seseorang yang meminta orang lain untuk memberi kepahaman. Umum dikenal istilah ism istifhaam. Alias kata tanya. WH Question, kalau dalam Bahasa Inggris: What (apa), Who (siapa), Where (dimana), When (kapan), Why (mengapa), dan How (bagaimana).

Adapun menurut Lisan al-Arab, kata al-fahm adalah pengetahuan terhadap suatu objek dengan akal (qalb). Bentuk mashdar-nya: fahman, fahaman, dan fahaamatan (yang terakhir ini dari Sibawayh). Jika dikatakan, “Fahimtu al-syay’: Aku telah memahaminya,” maka maksudnya adalah aku telah memikirkan dan mengetahuinya. Orang yang cepat paham, disebut rojulun fahimun (bisa juga dibaca fahmun atau fahamun).

Jadi secara bahasa, al-fahm, itu artinya adalah mengerti sesuatu sekaligus makna dan maksud yang dikandungnya. Secara garis besar, sesuatu, itu bisa berupa ayat qowliyah dan ayat kauniyah. Yakni simbol-simbol yang berupa teks (Al Qur’an terutama), maupun realitas. Termasuk realitas yang sudah dilaporkan menjadi teks. Seperti seseorang membaca sebuah berita.

Yang jelas, seseorang dikatakan paham, itu tidak cukup hanya tahu data fakta saja. Tetapi juga harus memproses data fakta itu untuk kemudian melahirkan sebuah kesimpulan. Kalau dibuat rumus, paham itu sama dengan data fakta ditambah proses mengolah data fakta tersebut dengan akal.

Atau umpamakan huruf A, B, C, D, E, dan seterusnya sesuai alfabet. Itu adalah data fakta. Nah, huruf-huruf, itu dirangkai menjadi kata. Kata dirangkai menjadi kalimat. Kalimat dirangkai menjadi paragraf. Paragraf dirangkai menjadi sub bab. Sub bab dirangkai menjadi bab. Dirangkai lagi akhirnya menjadi sebuah buku. Tiba-tiba melahirkan sebuah ide atau gagasan. Kalau seseorang bisa menangkap ide dari huruf-huruf yang sudah menjadi buku itu, maka orang itulah yang disebut paham!

Semakin banyak data fakta yang dikumpulkan, kemudian diproses dengan akal pikirannya, peluang seseorang untuk paham, itu akan semakin besar pula. Pemahamannya akan semakin baik. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan dan dipikirkan, pemahaman seseorang akan semakin berkualitas. Sebaliknya, kalau informasi yang diperoleh sedikit. Atau malah informasi salah (hoaks). Tentu pahamnya bisa buruk kualitasnya, bahkan salah.

Begitu juga tampaknya kalau seseorang ingin memahami Qur’an. Tidak bisa hanya dikumpulkan ayat-ayatnya saja dengan menghilangkan variabel proses pengolahan ayat-ayat itu dengan akal. Tidak bisa untuk paham jika ayat-ayat Qur’an, itu hanya dihafal saja misalnya. Atau hanya dikutip sepotong, atau hanya satu ayat saja. Apalagi keluar dari konteksnya. Baik konteks masa lalu, maupun konteks masa kininya. Sangat rawan salah paham kalau begini!

Tentu saja, semakin banyak sudut pandang atau pendekatan ilmu yang digunakan untuk proses memahami Qur’an, itu akan menghasilkan pemahaman yang tidak hanya berkualitas. Tetapi juga indah dan sangat menarik.

Dalam Al Qur’an, yang menggunakan kata al-fahm, ini hanya terulang sekali saja. Yaitu pada QS.21:79. Itu pun sudah derivasinya. Yakni kata kerja fahhamnaa. Mengikuti bentuk fa’’ala (ganda ‘ain fi’il-nya). Berarti memahamkan. Atau memberi kepahaman kepada pihak lain. Saya kutipkan juga ayat sebelumnya, supaya mendapatkan gambarannya lebih utuh.

QS. Al-Anbiya’[21]: 78-79
وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ
78. Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman. Karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu.
فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَاعِلِينَ
79. Maka KAMI MEMBERIKAN KEPAHAMAN KEPADA SULAIMAN tentang masalah itu. Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Kami-lah yang melakukannya.

Lagi-lagi Allah menggunakan kata ‘Kami’ untuk memahamkan Nabi Sulaiman itu. Yaitu Allah melibatkan pihak lain dalam proses pemahaman itu. Seperti realitas masalah tanaman tersebut, orang-orang dan kondisi yang menyertainya. Termasuk Nabi Sulaiman itu sendiri yang aktif menggunakan akal kecerdasannya dan semua perangkat indranya yang membuat beliau paham. Sehingga beliau menjadi pribadi yang solutif.

Kemudian kisah itu diwahyukan kepada Nabi menjadi teks-teks Al Qur’an. Tentunya supaya menjadi teladan yang baik, terutama bagi kita sekarang. Nah, untuk bisa tahu dan apalagi mampu memahami, tentu lantas kita mesti berupaya memahami teks-teks Qur’an itu sendiri.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.





FUQOHA’ SEJATI


—Saiful Islam*—

“Al Qur’an, itu isinya bukan hanya urusan halal haram…”

Kali ini kita berpijak dari kata faqiha. Secara sekilas, kata ini berarti mengerti atau paham.

Di dalam Al Qur’an, kata tafqohuun itu hanya terdapat sekali (QS.17:44). Begitu juga kata nafqoh (QS.11:91). Yafqohuu (QS.20:28). Yafqohuun terulang sebanyak 13 kali. Yaitu QS.4:78; 6:65; 6:98; 7:179; 8:65; 9:81; 9:87; 9:127; 18:93; 48:15; 59:13; 63:3; dan QS.63:7. Kata yafqohuuh terdapat pada tiga ayat (QS.6:25; 17:46; dan QS.18:57). Sedangkan yatafaqqohuu, itu hanya disebut sekali saja (QS.9:122).

Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-fiqh itu artinya adalah mencapai pengetahuan (ilmu) yang abstrak dengan ilmu yang kongkret. Ini merupakan sebuah ilmu yang lebih khusus lagi. Kemudian penulis, Al-Raghib, mengutip QS.4:78; QS.63:7 dan lain-lain.

Al-fiqh adalah pengetahuan terhadap hukum-hukum syariat. Ketika dikatakan, “Faquha al-rojul faqoohatan,” maka artinya adalah laki-laki tersebut menjadi faqiih. Yakni orang yang tahu hukum-hukum syariat. Orang kalau disebut faqiha, maka orang tersebut mengerti.

Sedangkan syariat sendiri, itu diambil dari kata syaro’a yang artinya adalah jalan yang terang benderang. Yang dimaksud syariat di sini adalah jalan ketuhanan (al-thoriiqoh al-ilaahiyyah). Jalan ketuhanan di sini tentu saja adalah Al Qur’an. Maka faqiih, itu adalah orang yang mengerti hukum-hukum Al Qur’an.

Adapun ketika seseorang disebut tafaqqoha, maka itu berarti ia menuntut ilmu dan menjadi spesialis di bidang tersebut. Pemahaman ini, sebagaimana disebutkan oleh QS.9:122.

QS. Al-Tawbah[9]: 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk MEMPERDALAM PENGETAHUAN MEREKA TENTANG AGAMA. Dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Lisan al-Arab lebih gamblang lagi menceritakan kata faqiha ini. Saya ringkaskan yang paling relevan saja. Disebutkan al-fiqh itu adalah pengetahuan sekaligus paham tentang sesuatu. Titik tekannya memang pada ilmu agama. Yang menurut Ibnu al-Atsir adalah ilmu syariat dan cabang-cabangnya. Yang lain berpendapat asal dari al-fiqh itu adalah paham.

Redaksi “liyatafaqqohuu fii al-diin,” pada QS.9:122, itu artinya adalah supaya mereka menjadi orang-orang yang tahu (ulama) tentang agama Islam (Qur’an). Yang kemudian Allah memberi kepahaman.

Diceritakan sebuah Hadis, yaitu ketika Nabi berdoa kepada Allah untuk Ibnu Abbas. “Alloohumma ‘allimhu al-diin wa faqqihhu fii al-ta’wiil: Ya Allah. Ajarkanlah agama (Al Qur’an) kepada Ibnu Abbas. Dan pahamkanlah ia takwilnya.” Yakni pahamkan ia takwil dan maknanya. Allah pun mengabulkan doa Nabi. Ibnu Abbas, pada zamannya, lantas menjadi orang yang paling pakar Al Qur’an.

Faqqoha dan afqoha itu berarti mengajarkan. Seperti guru yang mengajarkan materi tertentu kepada muridnya yang berusaha membuat mereka tahu, mengerti dan paham. Sedangkan tafaqqoha artinya adalah saling mengambil kepahaman.

Jadi secara bahasa, al-fiqh, itu berarti mengetahui dan memahami. Ini berlaku umum untuk semua ilmu pengetahuan (Sains). Misalnya ilmu Fisika, Kimia, Biologi, Neurosains, Astronomi, Kedokteran, Geologi, Psikologi, Antropologi, Sosiologi, Sejarah, Manajemen, Entreprenership, Politik, Kewarganegaraan, Hubungan Internasional, dan lain seterusnya.

Sedangkan secara khusus, al-fiqh itu lebih kepada mengetahui dan paham terhadap Al Qur’an. Sayangnya di masyarakat Islam sendiri, makna faqiih dan fuqohaa’ ini sering direduksi menjadi paham Ilmu Fikih saja. Yakni soal halal haram. Bahkan terlalu sibuk sampai-sampai hampir melupakan Al Qur’an itu sendiri. Padahal isinya Qur’an itu bukan hanya soal halal haram saja. Tetapi multi disiplin ilmu.

QS. Al-An’am[6]: 65 & 98
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ
65. Katakanlah: "Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu. Atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti AGAR MEREKA MEMAHAMINYA.”

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ
98. Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari seorang diri. Maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya KAMI TELAH JELASKAN TANDA-TANDA KEBESARAN KAMI KEPADA ORANG-ORANG YANG MEMAHAMINYA.

QS. Al-A’raf[7]: 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai HATI, tetapi tidak dipergunakannya untuk MEMAHAMI (AYAT-AYAT ALLAH). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka bagaikan binatang ternak. Bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

QS. Al-Anfal[8]: 65
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
Hai Nabi. Kobarkanlah semangat Kaum Mukminin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Jika ada seratus orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu orang kafir. Disebabkan ORANG-ORANG KAFIR ITU KAUM YANG TIDAK MAU MENGERTI.

QS. Al-Tawbah[9]: 87 & 127
رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
87. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang dan HATI mereka telah DIKUNCI MATI. Maka mereka TIDAK MENGETAHUI.

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا ۚ صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
127. Apabila diturunkan satu Surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): "Adakah seorang dari (Muslimin) yang melihat kamu?" Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah KAUM YANG TIDAK MAU MEMAHAMI.

QS. Al-Munafiqun[63]: 3
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi). Lalu hati mereka dikunci mati; karena itu MEREKA TIDAK DAPAT MENGERTI.

QS. Al-An’am[6]: 25
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ ۖ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا ۚ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu. Padahal Kami telah meletakkan TUTUPAN DI ATAS HATI MEREKA (SEHINGGA TIDAK BISA) MEMAHAMINYA. Dan sumbatan di telinganya. Jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu."

QS. Al-Isra’[17]: 46
وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا
Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, AGAR MEREKA TIDAK DAPAT MEMAHAMINYA. Apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.

QS. Al-Kahf[18]: 57
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا
Siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu ia berpaling dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (SEHINGGA MEREKA TIDAK) MEMAHAMINYA. Dan sumbatan di telinga mereka. Kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.



Kamis, 30 Juli 2020

LOMBA PAHAM QUR’AN


—Saiful Islam*—

“Tidak tepat disebut MTQ. Lebih pasnya sebut saja LMQ. Lomba Melagukan Qur’an…”

Istilah rancu berikutnya yang sering kita dengar adalah Musabaqoh Tilawatil Qur’an. Disingkat MTQ. Biasanya didefinisikan sebagai acara sebuah festival pemuliaan kitab suci umat Islam (Al Qur’an).

Musabaqah Tilawatil Qur’an, itu istilah Arab yang di-Indonesiakan. Jadi per katanya, itu diambil dari Bahasa Arab. Kemudian dirangkai-rangkai sendiri. Susunannya berupa frase. Mudhoof ilayh, istilah Arab-nya. Phrase, kalau Inggris-nya. Tampaknya yang membuat istilah itu bermaksud lomba membaca Qur’an. Ternyata praktiknya, yang dilombakan itu lebih kepada kemerduan suaranya. Lagunya.

Lagu-lagu yang dipakai antara lain Bayati, Syika, Nahwand, Rost, Jiharka, dan lain seterusnya. Untuk lebih detailnya silakan baca ulasan terdahulu.

Musaabaqoh, itu kata dasarnya adalah sabaqo. Yang menurut Lisan al-Arab artinya adalah yang paling depan dalam aliran, barisan, atau apa pun. Menjadi musaabaqoh, itu mengikuti bentuk faa’ala, mufaa’alah (panjang fa’-nya). Musaabaqoh adalah bentuk mashdar (semacam kata benda atau sifat) dari saabaqo. Artinya adalah saling mendahului, berlomba, balapan, dan yang semisalnya. Bentuk mashdar-nya yang lain adalah sibaaq.

Kemudian kata musaabaqoh itu dirangkai dengan kata tilaawah al-Qur’aan. Yang secara sekilas diartikan dengan Membaca Al Qur’an. Tampaknya ada yang meleset kalau ternyata yang dilombakan itu adalah lagunya, nadanya, suaranya, cengkoknya, merdunya, dan seterusnya.

Padahal kalau menelisik kamus-kamus Arab yang kredibel. Membaca dengan kata talaa, itu maksudnya adalah membaca dengan kata qoro’a. Sebagaimana disebut oleh Lisan al-Arab. Sedangkan kata qoro’a, itu sendiri bermakna MEMIKIR-MIKIRKAN ATAU MEMPERTIMBANGKAN MAKNANYA, sebagaimana disebut oleh Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Apalagi, talaa itu umum yang juga meliputi qoro’a.

Ayat-ayat Qu’an sendiri yang relevan yang semuanya menggunakan kata tilawah, misalnya sebagai berikut.

QS. Al-Baqarah[2]: 121
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Orang-orang yang telah Kami berikan AL-KITAB kepadanya, mereka MEMBACANYA dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu BERIMAN kepadanya. Dan barangsiapa yang INGKAR kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Iman (mempercayai atau meyakini) atau mengingkari, itu tentu merupakan sebuah respon terhadap makna dari sebuah informasi. Tanggapan terhadap makna yang dikandung oleh teks. Bukan teks yang dilagukan. Tetapi makna yang ada di balik teks itu.

QS.Al-Hajj[22]: 72
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكُمُ ۗ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Dan apabila DIBACAKAN di hadapan mereka AYAT-AYAT KAMI yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda KEINGKARAN pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka MENYERANG orang-orang yang MEMBACAKAN ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: "Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?" Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Tentu keingkaran orang kafir, itu bukan karena lagunya. Tetapi karena informasi di balik ayat-ayat Qur’an yang dibacakan kepada mereka. Mereka hampir menyerang, tentu juga bukan karena merdunya suara dan indahnya lagu ayat. Kalau dibaca bak syair yang mendayu-dayu dan penuh ekspresif tanpa mereka paham, sangat bisa jadi orang kafir itu malah senang, nyaman, dan damai.

QS. Al-Ankabut[29]: 51
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu AL-KITAB (AL QUR’AN) sedang ia DIBACAKAN kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur’an) itu terdapat RAHMAT yang besar dan PELAJARAN bagi orang-orang yang beriman.

QS. Al-Shaffat[37]: 3
فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا
Dan demi (rombongan) yang MEMBACAKAN PELAJARAN.

Dua ayat di atas (QS.29:51 dan QS.37:3) jelas sekali kaitan antara membaca (tilawah) itu dengan pelajaran. Nah, pelajaran itulah fokusnya. Al Qur’an itu dibaca untuk dipelajari. Dimengerti informasinya. Bukan pada indahnya lagu teksnya. Bukan. Tetapi justru muatan isi dari rangkaian teks ayat-ayat Qur’an itu.

Begitu juga ayat di bawah ini. Ketika Qur’an itu dibacakan kepada orang beriman, maka informasinya itu akan membuat Kaum Mukminin bertambah imannya. Semakin kokoh imannya setelah mengerti dan paham pesan yang ada di dalam rangkaian ayat-ayat Qur’an itu. Tentu saja, tambahnya iman, itu tidak ada kaitannya dengan lagu, nada, suara, cengkok, dan seterusnya. Kecuali beriringan dengan kepahaman.

QS. Al-Anfal[8]: 2
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka. Dan apabila DIBACAKAN AYAT-AYAT-NYA BERTAMBAHLAH IMAN MEREKA (KARENANYA), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Yang jelas, musaabaqoh tilaawah al-Qur’aan, itu tidak ada tuntunannya dalam Qur’an. Festival seperti itu, juga tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para Sahabatnya. Meski begitu, MTQ itu tidak langsung haram. MTQ hanyalah sebuah budaya khas Indonesia. Ingat kaidah Ushul Fikih-nya: “Asal dari budaya (al-asyaa’) itu boleh-boleh saja. Sampai ada dalil yang melarang.” Asalkan jangan sampai MTQ, malah menjauhkan umat dari tujuan dan fungsi Qur’an yang paling intinya. Paling pentingnya. Ruhnya. Yaitu sebagai petunjuk!

Jadi kalau hanya lomba kemerduan suara, nada, lagu, dan semisalnya, maka itu tidak tepat disebut MTQ. Lebih pasnya mungkin Lomba Melagukan Qur’an (LMQ). Atau kalau yang dimaksud fokusnya adalah melagukannya, menurut saya LMQ itu lebih tepat daripada MTQ. Pakai Bahasa Indonesia saja. Umat supaya mudah memahami. Daripada ke-Arab-Arab-an, tetapi tidak mengerti istilah yang dibuat sendiri. Umat apalagi. Semakin tidak mengerti.

MTQ, lebih pasnya menurut saya, itu adalah lomba memahami Qur’an. Misalnya juri melontarkan satu ayat. Boleh dibacakan dengan lagu yang indah dulu sebagai pendahuluan. Kemudian juri meminta setiap peserta untuk memahaminya sesuai ilmu-ilmu yang mereka kuasai. Bebas secanggih akal kecerdasan masing-masing peserta lomba. Mempersembahkan kemampuan dan kepahaman terbaik mereka kepada audiens. Tentu, itu tidak hanya akan indah. Tetapi juga akan seru dan bermanfaat!

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...