Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2020

HADIS MENJADI TUHAN


—Saiful Islam*—

“Kan, kebalik lagi. Bukan Hadis yang bisa menghapus syariat Qur’an. Tapi Qur’an-lah yang bisa menghapus Hadis…”

Jelas sekali. Hadis dianggap sebagai wahyu teologis mandiri selain Qur’an, itu salah. Keyakinan demikian, itu saja sudah sangat berlebihan (ghuluw). Ternyata, masih ada yang lebih parah. Yaitu ketika dikatakan bahwa Hadis bisa menghapus hukum (me-nasakh) Qur’an. Semakin ke sini, saya mengendus, semacam ada upaya ‘menekuk lutut’ Qur’an. Awalnya, Hadis dipastikan Sunnah Nabi. Hadis adalah wahyu teologis. Qur’an harus diperkuat oleh Hadis. Qur’an harus dikoreksi oleh Hadis. Puncaknya, Qur’an harus takluk kepada Hadis. Hadis telah menjadi tuhan!

Qur’an harus takluk kepada Hadis, itu umum dikenal dengan bayaan nasakh. Bahwa Hadis diyakini bisa menghapus ketentuan hukum Qur’an. Hadis yang datang setelah Qur’an menghapus ketentuan-ketentuan Qur’an. Jadi Hadis yang paling awal ditulis sekitar 166 tahun setelah wafatnya Nabi, itu katanya bisa menghapus Qur’an yang pasti keluar dari mulut Nabi. Berikut Hadis yang dijadikan contoh bahwa ketentuan Qur’an bisa dihapus oleh Hadis.

“Ahli waris tidak dapat menerima wasiat.”

Hadis tersebut diyakini bisa menasakh (menghapus) ketentuan dalam ayat berikut ini.

QS. Al-Baqarah[2]: 180
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
DIWAJIBKAN atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut (kewafatan), dan meninggalkan harta, BERWASIAT untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf. (Ini adalah) KEWAJIBAN atas orang-orang yang bertakwa.

Sehingga, katanya, seorang yang akan meninggal dunia TIDAK wajib berwasiat untuk memberikan harta kepada ahli, karena ahli waris itu akan mendapatkan bagian harta warisan dari yang meninggal tersebut.

Menurut saya, kesimpulan di atas itu salah kaprah. Gegabah. Dan sangat berlebihan. Baik sengaja sengaja atau tidak. Marilah kita tinjau lebih jauh.

Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, wasiat itu dari kata washoo, yang artinya adalah menyuruh orang lain terkait dengan apa yang akan dilakukan, yang bersamaan dengan pesan atau nasehat. Ibrahnya diambil dari perkataan orang Arab, “Bumi mewarisi.” Yakni terkait dengan tumbuhan atau tanaman-tanamannya. Contoh kalimatnya seperti pada QS.2:132; 4:131; 29:8; 4:12; 5:106; 103:3; dan QS.51:53

Sedangkan menurut Lisan Al-‘Arab, kata awshoo atau washshoo, seperti dalam kalimat, “Awshoo al-rojul wa washshoohu,” itu artinya adalah mengamanatkan kepadanya. Yakni seorang laki-laki yang mengamanatkan kepada orang lain. Jadi semacam mengikat janji antara dua orang atau lebih terkait pesan yang harus ditunaikan di waktu mendatang.

Seseorang yang mendapati tanda-tanda kematiannya, seperti sudah tua, sakit parah, dan kebetulan meninggalkan harta benda, maka ia wajib berwasiat kepada anggota keluarganya. Wasiat itu, wajib. Alias harus. Jadi sekali lagi, wasiat itu adalah wajib! Dasarnya bukan hanya QS.2:180 di atas. Tapi juga QS.4:11–12 berikut ini.

QS. Al-Nisa’[4]: 11 – 12
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Allah MENSYARIATKAN bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; Dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; Jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; Jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (PEMBAGIAN-PEMBAGIAN TERSEBUT DI ATAS) SESUDAH DIPENUHI WASIAT YANG IA BUAT ATAU (DAN) SESUDAH DIBAYAR HUTANGNYA. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. INI ADALAH KETETAPAN DARI ALLAH. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۚ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ ۚ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَىٰ بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ ۚ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ
Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya SESUDAH DIPENUHI WASIAT YANG MEREKA BUAT ATAU (DAN) SESUDAH DIBAYAR HUTANGNYA. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan SESUDAH DIPENUHI WASIAT YANG KAMU BUAT ATAU (DAN) SESUDAH DIBAYAR HUTANG-HUTANGMU. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, SESUDAH DIPENUHI WASIAT YANG DIBUAT OLEHNYA ATAU SESUDAH DIBAYAR HUTANGNYA DENGAN TIDAK MEMBERI MUDHARAT (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) SYARIAT YANG BENAR-BENAR DARI ALLAH. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.

Jadi kesimpulannya adalah wasiat terkait harta sebelum wafat, itu wajib. Bagi siapa pun yang memiliki harta. Bahkan wasiat tersebut harus diutamakan daripada pembagian waris. Termasuk yang harus diutamakan adalah pembayaran hutang. Wasiat dulu, membayar hutang dulu, barulah kemudian diwariskan kalau masih terdapat sisa harta benda lagi.

Manfaat wasiat itu adalah membuat keluarga yang ditinggalkan menjadi rukun dan damai. Orang tua pastilah mengerti dan bijak membagi hartanya dengan wasiat itu kepada keluarganya, istri, anak-anak, dan seterusnya. Orang tua paham betul sehingga akan menyesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga yang akan ditinggalkannya. Keluarga yang akan ditinggalkan itu pun seyogyanya ikhlas dan menerima.

Bahkan kalau sudah berlebih, ia tidak mau diberi. Dan memilih diberikan kepada saudaranya yang lain yang mungkin lebih membutuhkan. Ia memilih mengutamakan saudaranya (altruis – iitsaar) daripada dirinya sendiri. Ia lebih mengutamakan kerukunan, kasih-sayang, dan kedamaian keluarga dan saudara-saudaranya. Mental dan hatinya sudah kaya!

Maka Hadis, “Tidak ada wasiat bagi ahli waris,” itu harus dan wajib ‘diletakkan’. Hadis ini dikutip dari kitab Sunan Ibnu Majah, Abu Dawud, dan Tirmidzi. Ibnu Majah itu wafat tahun berapa, memangnya? Tahun 275 H. Dua ratus enam puluh dua (262) tahun setelah wafatnya Nabi! Kok berani-beraninya Hadisnya mau digunakan untuk menghapus syariat Qur’an yang pasti keluar dari mulut Nabi?!! Begitu juga Abu Dawud dan Tirmidzi, itu tambah belakangan lagi.

Tidak ada yang bisa menghapus syariat Qur’an. Apa pun dan siapa pun, itu tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa menghapus syariat Qur’an. Syariat Qur’an, itu akan berlaku selama-lamanya. Kapan pun dan dimana pun. Selalu sesuai dengan tantangan zaman. Shoolih li kull zamaan wa makaan. Ayat-ayatnya yang mencerahkan, menjadi obat segala penyakit jiwa, menjadi rahmat dan berkah bagi orang-orang yang mengimaninya.

Justru sebaliknya. Qur’an-lah yang bisa menghapus ketentuan-ketentuan Hadis. Qur’an-lah yang akan mengoreksi Hadis-Hadis. Jika Hadis-Hadis itu tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan Qur’an, maka Hadis-Hadis tersebut harus dan wajib ‘diletakkan’.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

*Penulis Ayat-Ayat Kemenangan

Jumat, 24 Januari 2020

SATU: QUR’AN & RASUL


—Saiful Islam*—

“Allah, Qur’an, dan Rasul, itu sejatinya satu. Dan saling terkait. Tidak bisa lepas antara satu dan yang lainnya…”

Dari QS.4:105, kita menjadi paham. Bahwa Rasulullah itu menghukumi perkara-perkara umatnya dengan al-Qur’an. Teks Qur’an inilah satu-satunya wahyu teologis yang diterima Rasulullah. Tidak ada wahyu teologis lain selain Qur’an. Bahkan Rasulullah sendiri, itu diperintah untuk mengikuti Qur’an (QS.45:18). Dan umatnya pun juga diperintah mengikuti Qur’an itu juga (QS.6:155).

Karenanya, beliau SAW dijuluki sebagai Rasul—penyampai pesan Tuhan. Sebelum menerima pesan Tuhan, itu beliau adalah Muhammad. Bukan Rasulullah. Ketika masih Muhammad, tampaknya mayoritas masyarakat Mekah menyukai Muhammad. Barulah ketika beliau menyampaikan Qur’an, karena memang diperintah Tuhan untuk menyampaikannya, terjadi ketegangan dan pertentangan yang serius. Beliau SAW dituduh sebagai dukun, penyihir, gila, sampai mau dibunuh, itu ya karena Muhammad telah menjadi Rasulullah—menyampaikan Qur’an.

Sehingga ketika Muhammad telah menjadi Rasulullah, Qur’an-lah yang menjadi segala sumber inspirasi beliau. Di dalam bersikap, bertindak, sampai memutuskan persoalan masyarakat. Qur’an dengan Rasulullah, itu satu. Sampai-sampai disebut sendiri oleh QS.69:40 bahwa Qur’an itu adalah perkataan Rasulullah. Innahuu laqawl Rosuul kariim. Qur’an bukan perkataan Muhammad. Tetapi Qur’an adalah sabda utusan Allah SAW. Sabda Rasulullah. Karena Qur’an sejatinya adalah firman Allah.

Kenapa QS.4:80 menyebut bahwa orang yang taat kepada Rasul, itu otomatis taat kepada Allah? Karena ya Qur’an dan Rasul itu sejatinya satu. Qur’an adalah firman Allah. Sedangkan Rasul adalah hanya penyampai firman Allah. Sehingga taat kepada Rasul, itu sejatinya taat kepada firman Allah. Dan taat kepada firman Allah, itu sejatinya adalah taat kepada Allah.

Begitu juga. Kenapa QS.3:31 menyebutkan bahwa orang yang mengaku benar-benar mencintai Allah, maka caranya adalah harus mengikuti Rasul? Lagi-lagi karena Rasul, itu hanya penyampai firman Allah. Orang yang mencintai Allah, otomatis ia akan mengikuti dan mentaati ‘perkataan-Nya’. Sedangkan ‘perkataan-Nya’ sendiri, itu ia tidak berbicara langsung. Tetapi melalui Rasul. Maka menjadi logis, untuk bisa mentaati ‘perkataan-Nya’ itu, seseorang wajib dan harus hanya mengikuti Rasulullah.

Sekali lagi, Allah, Qur’an, dan Rasul, itu sejatinya satu. Dan saling terkait. Tidak bisa lepas antara satu dan yang lainnya. Kalau sudah disebut Rasul, pasti ada kaitannya dengan Allah dan firman-Nya (Qur’an). Jika disebut Allah, pasti terkait Qur’an dan Rasul (utusan-Nya). Dan kalau disebut Qur’an, pasti itu adalah firman Allah yang disampaikan oleh Rasul. Maka jangan sampai ketika menyebut Rasul, seperti qoola Rosuulullah, qoolan Nabiy dan seterusnya, kemudian lepas dari Qur’an. Dan tiba-tiba melenceng kepada Hadis-Hadis. Atau kepada sumber-sumber yang tidak jelas dan tidak bertanggung jawab.

Dari ayat-ayat Qur’an, kita bisa menemukan contoh kesatuan antara Allah, Qur’an, dan Rasul itu. Misalnya sebagai berikut.

QS. Al-Nur[24]: 48 & 51
وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ
48. Dan apabila mereka dipanggil kepada ALLAH DAN RASUL-NYA, AGAR RASUL MENGHUKUMI (MENGADILI) DI ANTARA MEREKA, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
51. Sesungguhnya jawaban oran-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada ALLAH DAN RASUL-NYA AGAR RASUL MENGHUKUMI (MENGADILI) DI ANTARA MEREKA ialah ucapan: “Sami’naa wa atho’naa, kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Di awal-awal kedua ayat di atas, itu sama. Yakni dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya (redaksinya: dipanggil kepada Rasul-Nya, bukan kepada Muhammad). Jadi dipanggil kepada dua fariabel. Allah (misalnya X) dan rasul-Nya (misalnya Y). Tetapi kemudian lanjutan ayatnya: AGAR RASUL MENGHUKUMI… Tiba-tiba berubah menjadi satu fariabel saja. Yakni Y. Ditunjukkan dengan kata kerja tunggal (Ia atau He), liyahkuma (dhomir huwa). Itu bukti bahwa Allah, Qur’an, dan Rasul-Nya sejatinya adalah satu. Kalau bisa beda dan bisa lepas masing-masing, pastinya redaksinya akan begini: AGAR ALLAH DAN RASUL MENGHUKUMI.

Sehingga kalimat “Sami’naa wa atho’naa, kami mendengar dan kami patuh,” itu sejatinya adalah kepatuhan kepada Qur’an. Ya, sejatinya kita mengucapkan “Sami’naa wa atho’naa,” itu ketika disodorkan Qur’an kepada kita. Tetapi kalau disodorkan Hadis-Hadis? Atau sumber-sumber lain yang mengatasnamakan Islam? Itu kita harus menjawab, “Sami’naa wa sawfa nanqud, kami dengar dan kami akan kritik dulu! Terutama akan kami kritik dengan Qur’an!! Kalau sesuai dengan Qur’an, akan kami taati. Kalau bertentangan dengan Qur’an, akan kami ‘letakkan’ atau ingkari!!!”

Begitu juga ayat yang sering saya kutip di beberapa tempat, QS.8:24 berikut ini.

QS. Al-Anfal[8]: 24
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman. SAMBUTLAH SERUAN ALLAH DAN SERUAN RASUL APABILA RASUL MENYERU KALIAN KEPADA SESUATU (QUR’AN) YANG MENGHIDUPKAN KALIAN. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. Dan sesungguhnya hanya kepada-Nya lah kalian akan dikumpulkan.

Jadi kalimat di awal-awal pada ayat di atas, itu dua fariabel: seruan Allah (X) dan seruan Rasul (Y). Tetapi kemudian melebur cukup disebut satu fariabel Y saja, yakni Rasul. Tergambar dalam kalimat: “APABILA RASUL MENYERU KALIAN KEPADA SESUATU (QUR’AN) YANG MENGHIDUPKAN KALIAN.” Lebih-lebih kemudian bermuara kepada Qur’an itu sendiri, yang ditunjukkan oleh kalimat: “SESUATU YANG MENGHIDUPKAN KALIAN (QUR’AN).” Yang dimaksud ‘sesuatu yang menghidupkan kalian,’ itu memang adalah Qur’an.

Kata da’aa pada da’aakum, itu mufrad. Subjek tunggal. Bukan tatsniyah (dua subjek).

Maka tidak benar kalau diartikan begini: seruan Allah adalah Qur’an, dan seruan Rasul adalah Hadis. Tidak begitu. Sekali lagi, seruan Allah dan seruan Rasul, itu sejatinya adalah satu hal saja. Yakni Qur’an.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

*Penulis Ayat-Ayat Kemenangan

Minggu, 19 Januari 2020

SANG UTUSAN TUHAN


—Saiful Islam—

“Kalau ada manusia biasa yang mendapat wangsit dawuhe Gusti Alloh, ini benar-benar sesuatu yang amazing…”

Dari definisi rosuul Allooh, kita menjadi paham. Bahwa mengapa Muhammad SAW, itu disebut Rasulullah? Karena beliau memperoleh amanat wahyu Qur’an dari Tuhan untuk disampaikan kepada umat manusia. Wahyu Qur’an atau risalah. Jadi karena Qur’an. Andai bukan karena wahyu Qur’an itu, pasti Muhammad SAW tidak akan disebut sebagai Rasulullah.

QS. Ali Imran[3]: 144
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
MUHAMMAD ITU TIDAK LAIN HANYALAH SEORANG RASUL. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

QS. Al-Ahzab[33]: 40
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian. TETAPI DIA ADALAH RASULULLAH DAN PENUTUP NABI-NABI. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

QS. Muhammad[47]: 2
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ
Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh SERTA BERIMAN KEPADA APA YANG DITURUNKAN KEPADA MUHAMMAD (AL-QUR’AN) DAN ITULAH YANG HAQ DARI TUHAN MEREKA, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.

Maka sudah jelas. Bahwa Muhamad SAW disebut Rasulullah, itu bukan karena Hadis. Tidak karena apa pun selain Qur’an. Barulah setelah ayat-ayat Qur’an itu sampai ke dalam hati Nabi, lantas beliau disebut oleh Allah sendiri sebagai utusan-Nya. Rasulullah SAW. Termasuk Jibril sendiri. Itu juga Rasulullah. Utusan Allah. Sebab Jibril memang menjadi perantara yang membawa ayat-ayat Qur’an itu langsung ke dalam hati Nabi.

Tampakya Nabi sendiri juga tidak mau diri pribadi beliau itu menjadi pusat perhatian. Sampai menjadi pusat kultus. Nabi tidak mau disikapi secara berlebihan oleh umatnya. Sehingga beliau seakan-akan manusia setengah tuhan. Tidak. Sebaliknya, misi Nabi itu cuma satu. Yakni Qur’an. Dan Nabi ingin semua umatnya fokus kepada Qur’an itu sendiri. Nabi hanyalah penyampai risalah Qur’an itu saja. Nabi ingin, bersama umat manusia yang lain yang mau, menjadikan Qur’an itu sebagai petunjuk, penawar, dan rahmat paripurna dalam kehidupan.

Maka wajar kalau Nabi tidak pernah menyuruh para Sahabatnya menulis yang selain Qur’an. Bahkan penulisan selain Qur’an, itu harus dihapus. Karena misi Nabi memang bukan dirinya. Bukan pribadi Nabi sebagai manusia biasa. Bahkan bukan Sunnahnya (kebiasaan hidupnya sehari-hari) yang tidak ada kaitannya dengan syariat Qur’an. Ingat, teknis salat, zakat, puasa, dan haji yang tidak substansial, itu ijtihad Nabi sendiri terkait dengan perintah-Nya sebagaimana sudah termaktub dalam Qur’an.

Jadi, yang disebut agama Islam ketika Nabi masih hidup bersama para Sahabatnya itu, adalah Al-Qur’an itu sendiri. Atau Al-Qur’an dan Sunnah. Yakni Sunnah praktik aktual Nabi yang terkait dengan Qur’an. Sebab Sunnah Nabi yang menjadi syariat, itu selalu kalau tidak Qur’an itu sendiri, ya terinspirasi oleh Qur’an. Nabi pasti tidak membuat syariat sendiri. Agama Islam saat itu, pasti bukan Hadis. Jelas, pada saat Nabi masih hidup dan para Sahabatnya, itu rujukan satu-satunya sebagai ajaran agama Islam hanyalah Qur’an.

QS. Al-Hajj[22]: 78
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Dan berjuanglah (jihad) kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu. Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (IKUTILAH) AGAMA ORANG TUAMU IBRAHIM. DIA (ALLAH) TELAH MENAMAI KAMU SEKALIAN ORANG-ORANG MUSLIM DARI DAHULU. DAN (BEGITU PULA) DALAM (AL-QUR’AN) INI, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah (Al-Qur’an). Dia adalah Pelindungmu. Maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

QS. Al-Fath[48]: 28
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
Dia-lah yang MENGUTUS RASUL-NYA DENGAN MEMBAWA PETUNJUK DAN AGAMA YANG HAK agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

Nabi tidak berusaha untuk popularitas dirinya. Nabi menyampaikan Qur’an apa adanya. Bahkan ketika dirinya sendiri ditegur oleh Allah, ya beliau juga sampaikan. Tidak ditutup-tutupi. Apa adanya. Bukan untuk jabatan. Bukan untuk sanjungan. Bukan untuk harta. Malah Nabi itu habis-habisan berjuang untuk misi Qur’an-nya itu. Memberi dan berkorban. Bukan cuma harta yang beliau pertaruhkan untuk misi Qur’an-nya itu. Tetapi bahkan nyawanya.

Seakan-akan tidak ada yang lebih penting dari apa pun di dalam kehidupan dunia ini, dibanding Al-Qur’an itu sendiri. Karena dari Qur’an inilah, manusia lantas mengenal Tuhannya, sadar dirinya, manusia yang homo homoni lupus ini lantas mengerti keadilan, cinta dan kasih sayang, saling membantu dan menolong dalam kebaikan, memberi kepada sesama, berbuat baik kepada sesama, kepada dirinya sendiri, dan juga alam, sebuah misi supaya selamat, sukses, dan bahagia dunia akhirat bersama-sama.

QS. Al-Tawbah [9]: 88
لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Tetapi RASUL DAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN BERSAMA DIA, MEREKA BERJIHAD (BERJUANG) DENGAN HARTA DAN DIRI (NYAWA) MEREKA (TOTALITAS). Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

Senada dengan ayat di atas, bisa juga ditinjau QS.9:41; QS.4:95; QS.5:35; QS.49:15; QS.61:11; dan lain semisalnya.

Jadi sebutan utusan Allah (Rasulullah), itu memang selalu terkait dengan firman-Nya. Bukan karena Hadis. Dawud AS dengan Zabur-nya. Musa AS dengan Taurat-nya. Isa AS dengan Injil-nya. Dan Muhammad SAW dengan Qur’an-nya. Bertaburan ayat-ayat yang bisa menjadi bukti. Di antaranya adalah QS.69:40; 2:129; 2:151; 2:285; 3:86; 3:101; 3:164; 3:183; 4:136; 4:170; 5:15; 5:67; 5:83; 7:157; 8:24; 9:33; 20:124; 25:30; 28:47; 28:59; 33:12; 40:78; 43:46; 47:32; 62:2; dan QS.64:8.

QS. Al-Haqqah[69]: 40 & 43
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ
40. Sesungguhnya AL-QUR’AN ITU ADALAH BENAR-BENAR PERKATAAN RASUL yang mulia.
تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
43. AL-QUR’AN ITU DITURUNKAN DARI TUHAN semesta alam.

QS. Al-Baqarah[2]: 285
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
RASUL TELAH BERIMAN KEPADA AL-QUR’AN YANG DITURUNKAN KEPADANYA DARI TUHANNYA, DEMIKIAN PULA ORANG-ORANG YANG BERIMAN. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya. Dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."

QS. Ali Imran[3]: 101
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, PADAHAL AYAT-AYAT ALLAH DIBACAKAN KEPADA KAMU, DAN RASUL-NYA PUN BERADA DI TENGAH-TENGAH KAMU? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka Sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

QS. Al-Nisa’[4]: 170
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Wahai manusia. Sesungguhnya TELAH DATANG RASUL (MUHAMMAD) ITU KEPADAMU DENGAN (MEMBAWA) KEBENARAN DARI TUHANMU (AL-QUR’AN). Maka berimanlah kamu. Itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Jumat, 22 Maret 2019

ANDALAN TUHAN*


“Banyak orang takut kelak akan ditanya Allah, karena tidak haji dan umrah padahal uangnya berlebih. Tapi tidak takut kelak akan ditanya Allah, karena tidak menolong saudara dan tetangganya yang miskin, padahal uangnya berlebih.”
Sebelum Islam, beberapa orang Arab memang sudah mengenal konsep agama monoteis. Namun tidak ada bukti bahwa konsep monoteis mereka sama dengan konsep yang diserukan oleh Nabi Muhammad. Konsep monoteis beliau berjalan beriringan dengan konsep keadilan sosial dan ekonomi masyarakat. Ini sangat terasa sekali pada wahyu-wahyu awal yang turun.
            QS. Al Ma’un[107]: 1-7
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’. Dan tidak mau menolong sama sekali.
            Salah kalau orang mengira Islam adalah agama ritual saja. Islam bukan hanya soal shalat. Juga bukan hanya soal haji dan umrah. Orang yang rajin shalat, berkali-kali haji dan umrah, belum jaminan mendapat ridha ilahi. Saya tegaskan, belum jaminan akan masuk surga!
Bahkan bisa disebut pendusta agama kalau shalat, umrah dan hajinya itu hanya untuk pamer. Hanya untuk status sosial. Tidak peduli ada saudara atau tetangganya yang kurang makan, kurang perhatian, dan tidak mampu sekolah. Malah cuek bebek, dan kasar terhadap anak yatim.
            Seperti bernafas, Islam adalah agama ritual dan sosial. Kita harus melakukan dua-duanya: menghirup dan menghembuskan. Belum sempurna shalat dan hajimu, kalau kau biarkan saudaramu lapar dan bodoh. Tidak sempurna shalat dan hajimu, kalau kau biarkan tetanggamu lapar dan bodoh. Kau pendusta agama, kalau tidak mengasihi dan menyayangi anak-anak yatim dan janda-janda miskin.
            Mungkin kau banyak ilmu dan cerdas. Itu tanda Allah menyuruhmu bermanfaat bagi sekitarmu dengan ilmu dan kecerdasanmu itu.
            Mungkin kau banyak harta. Itu tanda Allah memintamu bermanfaat bagi sekitarmu dengan hartamu itu.
            Mungkin kau punya otot bak Ade Rai. Itu tanda Allah mempercayakan kepadamu agar bermanfaat bagi sekitarmu dengan ototmu itu.
            Kita dihadirkan Allah di dunia ini untuk memberi. Semangat Qur’an adalah supaya kehadiran kita ini berkontribusi. Menjadi tangan-tangan Allah bagi kemanusiaan khususnya, bagi kehidupan umumnya. Tidak mungkin Allah memberdayakan manusia, kecuali Ia melibatkan pihak lain. Salah satunya: kita!
            Ya, tidak mungkin Allah turun dari langit misalnya. Lalu memberi makanan dan pekerjaan kepada orang miskin. Tidak mungkin Allah menjelma sebagai manusia, lalu mengajar orang bodoh. Tidak mungkin Allah sendirian yang menyembuhkan orang sakit. Tak mungkin pula Allah sendirian menghibur anak-anak yatim dan janda-janda miskin tatkala bersedih. Justru Allah hadirkan kita untuk menjadi andalan-Nya.

*Saiful Islam


Rabu, 28 November 2018

PEMIMPIN NON MUSLIM YANG BAIK


PERINGATAN MAULID 13 – 1440 H

Mengetahui penyiksaan yang dialami pengikutnya, Nabi bersabda, “Jika kalian pergi ke negeri Abyssinia, di sana kalian akan dapati seorang raja yang adil dan bijaksana. Suatu negeri yang kalian bebas dan leluasa dalam beragama. Sampai suatu saat Allah memberikan jalan yang dapat menghindarkan penderitaan yang kalian tanggung sekarang ini.” Beberapa sahabat beliau pun berangkat ke Abyssina.
Para pengungsi itu sekitar delapan puluh orang, selain anak kecil. Mereka disambut baik di Abyssinia. Diberi kebebasan penuh untuk beribadah. Mereka tidak berangkat bersamaan. Tetapi secara rahasia dan per kelompok kecil.
Para pemimpin Quraisy tidak membiarkan pengungsi itu tenang di Abyssinia. Mereka lalu menyiapkan sejumlah hadiah berharga bagi orang-orang Abyssinia. Kerajinan kulit yang mereka hadiahkan cukup untuk menyuap semua jenderal Negus. Ada pula hadiah lain yang berlimpah. Kemudian dengan hati-hati mereka memilih dua orang utusan. Salah satunya adalah Amr ibn al Ash, dari Bani Abd al Syam.
Kaum Qurasiy mendekati setiap jenderal secara terpisah, memberinya hadiah, sambil berkata, “Beberapa pria dan wanita bodoh dari kaum kami telah melarikan diri ke kerajaan ini. Mereka telah meninggalkan agama mereka. Bukan untuk memeluk agama Anda, tapi agama yang mereka ciptakan, yang tak Anda maupun kami kenal. Para pemuka kaum mereka telah mengutus kami kepada raja Anda agar beliau berkenan memulangkan mereka. Maka, ketika kami menuturkan tentang mereka kepada beliau, nasihatilah beliau untuk menyerahkan mereka kepada kami tanpa menanyakan apa pun terhadap mereka. Karena kaum mereka melihat yang terbaik bagi mereka.”
Semua jenderal setuju. Dua utusan Quraisy itu pun memberikan hadiah kepada Negus, dan menambahkan, “Para pemuka kaum mereka, yang juga ayah, paman, dan kerabat mereka, memohon kepadamu agar mereka dikembalikan.”
Para jenderal itu hadir di pertemuan tersebut. Mereka serentak mendesak Negus agar permintaan kedua utusan itu dipenuhi. Namun Negus tidak berkenan dan berkata, “Tidak! Demi Tuhan. Mereka tidak boleh dikhianati. Mereka tidak akan aku serahkan, sebelum aku memanggil mereka dan menanyakan perihal mereka seperti yang dikemukakan utusan ini.”
“Jika memang benar seperti yang dikatakan,” lanjut Negus, “maka mereka akan kuserahkan untuk dibawa kembali kepada kaum mereka masing-masing. Tapi jika tidak, aku akan menjadi pelindung yang baik selama mereka meminta perlindunganku.”
Negus kemudian memanggil para sahabat Nabi itu. Pada saat yang sama, ia mengumpulkan para pendetanya. Para pendeta ini membawa kitab-kitab suci mereka yang diletakkan di sekitar kursi raja. Amr dan rekannya berusaha mencegah pertemuan Negus dan para pengungsi tersebut.
Orang Abyssinia adalah penganut Kristen. Banyak yang saleh. Mereka telah dibaptis, menyembah Tuhan yang satu, dan melaksanakan dengan khusyuk sakramen di Eucharist. Para pendeta itu kagum ketika mereka tahu bahwa para pengungsi itu lebih mirip mereka dibanding utusan Quraisy yang telah lebih dulu menghadap.
Tidak semua Nabi haruskan berhijrah. Keluarga Utsman sempat akan membatalkan kepergiannya, namun Nabi mengizinkannya pergi dan membawa serta Ruqayyah. Kehadiran mereka menjadi sumber kekuatan bagi masyarakat di pengasingan itu. Pasangan lainnya adalah Ja’far dan istrinya, Asma. Keduanya sangat dilindungi oleh Abu Thalib. Dan Ja’far menjadi juru bicara yang fasih. Kepribadiannya juga paling unggul.
Suatu hari Nabi pernah berkata kepada Ja’far, “Engkau mirip denganku dalam penambilan dan karakter.” Nabi memilih Ja’far untuk memimpin para pengungsi itu. Daya tarik serta kecerdasannya diperkuat oleh Mush’ab dari Abd al Dar—pemuda yang dipercaya Nabi untuk sebuah misi penting karena bakat alamiah yang dimilikinya.
Orang terkenal berikutnya adalah pemuda Bani Makhzum, Syammas—ibunya adalah saudara Utbah. Namanya yang berarti, ‘petugas gereja Kristen’, disandangkan kepadanya karena Mekah pernah dikunjungi tokoh Kristen yang terhormat dengan jabatan itu—lelaki sangat tampan yang menimbulkan kekaguman. Lantas Utabah berkata, “Akan kutunjukkan kepadamu seorang Syammas yang lebih tampan darinya. Lalu ia pergi membawakan keponakannya itu ke hadapan mereka.
Saat itu, Zubayr, putra Shafiyyah, juga hadir. Begitu juga para sepupu Nabi yang lain: Thulayb putra Arwa, dua putra Umaymah, Abd Allah ibn Jahsy dan Ubaydillah serta isterinya, Umm Habibah; serta dua putra Barrah, Abu Salamah dan Abu Sabrah—keduanya beserta isteri masing-masing. Umm Habibah adalah wanita tercantik di antara para pengungsi pertama ini.
Setelah mereka berkumpul semua, Negus berkata kepada mereka, “Agama apa yang membuat kalian berpisah dari kaum kalian, sedangkan kalian tidak memeluk agamaku, juga tidak memeluk agama suku-suku di sekitar kami?”
Ja’far menjawab, “Wahai Raja! Dulu, kami adalah orang-orang jahiliah, menyembah berhala-berhala, memakan daging yang najis, melakukan maksiat, dan pihak yang kuat menerkam yang lemah. Begitulah kami sampai Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami, seorang yang garis keturunannya kami ketahui, juga kejujuran, integritas, dan penghargaannya terhadap kebenaran.
“Ia mengajak kami kepada Allah, bersaksi akan keesaan-Nya, menyembah-Nya, dan meninggalkan batu-batu serta berhala-berhala yang kami dan orang tua kami sembah. Ia memerintahkan kami untuk berkata benar, memenuhi janji, menghormati ikatan kekerabatan, dan hak-hak tetangga kami. Ia melarang kami melakukan kejahatan dan pertumpahan darah. Karenanya, kami hanya menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, menjauhi apa yang diharamkannya dan melakukan apa yang dibolehkan-Nya.
“Karena alasan ini kamu kami menentang dan menyiksa kami agar murtad dari agama kami dan tidak lagi menyembah Allah serta kembali menyembah berhala. Karena itu juga kami datang ke negeri Tuan, memilih Anda dari yang lain. Dan kami puas dengan perlindungan Anda. Harapan kami, wahai raja, di sini, bersamamu, kami tidak diperlakukan sewenang-wenang.”
Penerjemah kerajaan menerjemahkan semua perkataan Ja’far. Negus kemudian bertanya apakah ada wahyu ilahi yang dibawa nabi mereka. Saat Ja’far mengiyakan, Negus berkata, “Bacakanlah kepadaku!” Segera Ja’far membaca sebagian Surah Maryam, yang baru diturunkan—tidak lama sebelum keberangkatan mereka seperti berikut.
QS. Maryam[19]: 16-21
Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Alquran, Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya. Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” Ia (Jibril) berkata, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” Maryam menjawab, "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Jibril berkata, "Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, "Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”
Negus menangis. Begitu juga para pendetanya, saat mendengarnya. Mereka menangis kembali saat ayat itu diterjemahkan. “Ini benar-benar berasal dari sumber yang sama seperti yang dibawa oleh Yesus,” kata Negus. Kemudian ia berkata kepada para utusan Quraisy, “Engkau boleh pergi! Karena demi Tuhan, aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu. Mereka tidak boleh dikhianati.”
Tapi ketika kedua utusan itu keluar dari istana, Amr berkata kepada temannya, “Besok akan aku ceritakan kepada Negus suatu hal yang dapat menghancurkan kemakmuran mereka ini sampai ke akar-akarnya. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa mereka menyebut Yesus putra Maryam adalah seorang hamba.” Maka, keesokan paginya ia menghadap Negus dan berkata, “Wahai Raja! Mereka telah mengucapkan kebohongan besar tentang Yesus putra Maryam. Panggillah mereka dan tanyakan apa yang mereka katakana tentang Yesus.
Karena itu, para pengungsi itu dipanggil kembali untuk menghadap Negus dan menceritakan kepadanya pendapat mereka tentang Yesus. Mereka serta-merta cemas karena persoalan seperti ini tidak pernah mereka alami. Mereka saling berkonsultasi satu sama lain tentang jawabannya, meskipun mereka semua tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain mengatakan apa yang telah Allah firmankan.
Ketika para pengungsi tersebut masuk istana, dan pertanyaan itu ditujukan kepada mereka, “Apa yang kalian katakan tentang Yesus putra Maryam?” Ja’far menjawabnya dengan baik bahwa Yesus adalah hamba sekaligus rasul-Nya. Setelah mendengar jawaban tersebut, Negus mengizinkan mereka pergi sesuka hati sekaligus menjamin keamanan mereka di negeri itu. Ia pun tidak menerima hadiah dari Amr dan temannya. Lantas keduanya kembali ke Mekah dengan rasa malu.

~ Salam ~

IG        : saifulislam_45
FB       : Berpikir Bersikap Beraksi
 : Ahmad Saiful Islam
Twitter : @tipkemenangan
 : @MotivasiAyat
Blog    : tipkemenangan.blogspot.com

Untuk pertanyaan, diskusi, dan lain-lain, silakan di kolom comment. Terimakasih…





AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...