Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2019

PROSES PEWAHYUAN


—Saiful Islam—

“Wahyu kepada manusia (Muhammad, Isa, Harun, Musa, ibunya Musa, dan lain-lain), wahyu kepada lebah, sampai wahyu kepada langit dan bumi…”

Sudah saya katakan. Bahwa semua rujukan selain Qur’an, dalam doktrin Islam, itu zhanniy semua. Tidak ada yang pasti kebenarannya. Semuanya relatif. Hanya Qur’an yang kebenarannya mutlak dan pasti. Pasti firman Allah. Pasti dari Rasulullah. Qur’an ini, memang harus menjadi rujukan sentral, primer, dan pokok bagi Kaum Mukminin. Selain Qur’an, hanya rujukan sekunder saja. Dan semua rujukan selain Qur’an itu, harus diuji kebenarannya dengan Qur’an (QS.5:48). Termasuk Hadis-Hadis.

Meski begitu. Karena Qur’an ini diturunkan dengan Bahasa Arab (misalnya QS.12:2), maka mau tidak mau kita harus merujuk kepada kamus-kamus Arab supaya mengerti maknanya. Tetapi tetap harus waspada. Pernyataan-pernyataan yang melebihi informasi Qur’an—terutama hal-hal metafisika—harus ekstra hati-hati. Kita mesti kritis menerima pernyataan. Alias diuji dulu. Tidak langsung percaya oleh penulis. Termasuk tulisan saya ini, jangan langsung diamini.

Kali ini saya akan bercerita tentang wahyu menurut al-Raghib al-Ashfahaniy, dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Ingat, saya baru menceritakan. Baru menggambarkan. Belum saya kritisi. Beserta analisisnya insya Allah, nanti di depan.

OK, let’s go…

WAHYU ITU ASALNYA BERARTI PETUNJUK YANG CEPAT. Untuk memberi makna cepat itu, biasanya dikatakan, amrun wahyun (urusan yang cepat).

Petunjuk yang cepat itu bisa berupa kata-kata melalui simbol dan lambang. Bisa juga dengan suara. Dan bisa pula petunjuk dengan isyarat anggota badan, dan dengan tulisan. Makna tersebut terkandung dalam QS.19:11.

Ada pula yang mengatakan bahwa wahyu itu adalah simbol, i’tibar (ibrah), dan menulis atau tulisan. Seperti disebut oleh QS.6:112.

Adapun kata mewahyukan dalam QS.6:121, artinya adalah membuat was-was. Seperti ditunjukkan oleh QS.114:4.

Adapun kata-kata ilahiyah (firman Allah), yang disampaikan kepada para nabi dan para wali-Nya, itu disebut wahyu. Sebagaimana ditunjukkan oleh QS.42:51.

QS. Al-Syura[42]: 51
 وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan TIDAK MUNGKIN ALLAH BERKATAK-KATA LANGSUNG KEPADA MANUSIA kecuali dengan PERANTARAAN WAHYU, atau DIBELAKANG TABIR, atau dengan MENGUTUS SEORANG UTUSAN (MALAIKAT). Lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Maka, adakalanya wahyu itu disampaikan oleh utusan yang disaksikan, yang tampak fisiknya, serta didengar ucapannya. Seperti penyampaikan Jibril kepada Nabi dengan penampakan yang nyata.

Atau seperti mendengar ucapan yang suaranya saja, tanpa tampak siapa yang berbicara. Seperti Nabi Musa yang mendengar firman-Nya. Atau langsung ke dalam jiwa. Seperti sabda Nabi, “Sesungguhnya Ruhul Qudus meniup di dalam jiwaku.”

Atau dengan ilham. Yakni petunjuk ke dalam hati. Seperti QS.28:7. Atau dengan penundukan (insting). Seperti wahyu kepada lebah, QS.16:68.

Atau dengan mimpi. Seperti sabda Nabi, “Wahyu telah selesai. Tinggal mimpinya orang beriman.”

Ilham, insting, dan mimpi ditunjukkan oleh kalimat “Illaa wahyan, kecuali wahyu,” dalam QS.42:51.

Adapun mendengar kalimat yang jelas, ditunjukkan dengan kalimat, “Aw min waraa’i hijaab, atau dari balik tabir,” dalam QS.42:51.

Sedangkan penyampain Jibril dengan rupa yang jelas, ditunjukkan dengan kalimat, “Aw yursila rasuulan fayuuhiya, atau Dia mengutus utusan dan kemudian utusan tersebut mewahyukan,” dalam QS.42:51.

Adapun QS.6:93, itu adalah gambaran orang yang mengaku-ngaku mendapat wahyu. Dengan cara-cara pewahyuan seperti disebutkan di atas. Padahal sejatinya dia hanya mengada-ada saja.

Wahyu yang disebut dalam QS.21:25, bersifat umum. Mencakup semua model-model pewahyuan. Bahwa pengetahuan tentang keesaan Allah, dan pengetahuan kewajiban beribadah kepada-Nya, bukan terbatas pada wahyu kepada para rasul yang bergelar ulul ‘azmi saja. Tapi juga diketahui dengan akal, dan ilham. Seperti juga diketahui dengan pendengaran (mendengar suara).

Yang dimaksud QS.21:25 ini adalah mustahil kalau rasul itu tidak tahu keesaan Allah, dan mustahil tidak tahu bahwa harus beribadah kepada-Nya.

Wahyu dalam QS.5:111, adalah wahyu dengan perantara Isa AS. Begitu juga wahyu dalam QS.21:73, merupakan wahyu kepada umat manusia dengan perantara para Nabi.

Adapun wahyu yang khusus kepada Nabi Muhammad SAW adalah QS.10:109, QS.10:15, dan QS.18:110.

Wahyu kepada Nabi Musa dalam QS.10:87, itu melalui perantara Malaikat Jibril. Sedangkan wahyu kepada Harun, itu melalui perantara Jibril dan Musa.

Wahyu pada QS.8:12, adalah wahyu kepada orang-orang beriman melalui lembaran dan pena.

Wahyu kepada langit, disebut dalam QS.41:12. Jika wahyu tersebut ditujukan kepada penduduk langit saja, maka objeknya itu dihapus (tidak disebutkan). Seakan-akan Allah berfirman, “Dia mewahyukan kepada malaikat.” Karena penduduk langit adalah malaikat. Itu seperti disebut oleh QS.8:12.

Dan jika objek wahyu itu adalah langit (tujuh langit), maka itu wahyu penundukan bagi orang yang menganggap langit adalah makhluk (benda) mati. Dan sebagai wahyu ucapan bagi orang yang menganggap langit itu makhluk hidup.

Mewahyukan kepada bumi, QS.99:5. Makna yang lebih dekat adalah yang pertama. Yakni objeknya tidak disebutkan. Yang dimaksud adalah penduduk bumi. Berarti, “Dia mewahyukan kepada penduduk bumi.”

Wahyu dalam QS.20:114, adalah motivasi supaya tenang, dan fokus dalam mendengar dan memperhatikan proses pewahyuan Qur’an. Jangan cepat-cepat, jangan terburu-buru, dalam menerima atau menyampaikan ayat-ayat Qur’an. 

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Sabtu, 30 November 2019

QUR’AN MENEGUR NABI


—Saiful Islam—

“Bahkan Sunnah pun, itu bukan wahyu. Tapi murni ijtihad Nabi…”

Nabi itu memang manusia biasa. Yang mempunyai nafsu dan akal. Layaknya manusia-manusia yang lain. Beliau makan dan minum. Beliau tidur. Beliau menikah. Beliau beraktivitas. Cuma satu yang membedakan beliau dengan kita. Yaitu beliau mendapatkan wahyu secara langsung dari Allah. Yakni Qur’an (QS.18:110).

Mendapat Qur’an, itu sama sekali bukan keinginan Nabi. Muhammad SAW tidak pernah berharap mendapat Qur’an itu. Itu murni hak prerogatif Tuhan menurunkan kalimat-kalimat-Nya kepada seseorang yang Dia kehendaki.

QS. Al-Qashash[28]: 86
وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَىٰ إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ
DAN KAMU TIDAK PERNAH MENGHARAP AGAR QUR’AN DITURUNKAN KEPADAMU. Tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu. Sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.

Bahkan Qur’an pernah menegur Nabi. Ya, Anda tidak salah baca. Saya juga tidak salah tulis. Qur’an menegur Nabi! Berarti ada yang keliru dengan Nabi. Dalam dua Surat berikut ini.

QS. ‘Abasa[80]: 1 – 12
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ
1.      Dia (Muhammad) BERMUKA MASAM DAN BERPALING.

أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ
2.      Karena telah datang seorang buta kepadanya (‘Abdullah bin Ummi Maktum).

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ
3.      Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ
4.      Atau ia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ
5.      Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy).

فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰ
6.      Maka kamu melayaninya.

وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ
7.      Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau ia tidak membersihkan diri (beriman).

وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَىٰ
8.      Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

وَهُوَ يَخْشَىٰ
9.      sedang ia takut kepada (Allah),

فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ
10.  maka KAMU MENGABAIKANNYA.

كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ
11.  SEKALI-KALI JANGAN (DEMIKIAN)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.

فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ
12.  Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.

QS. Al-Tahrim[66]: 1
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Hai Nabi. Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

QS.66:1 adalah Surat makkiyah. Diturunkan sebelum hijrah. Sedangkan QS.80:1-12 adalah Surat madaniyah. Turun setelah hijrah. Tidak diragukan lagi, Muhammad SAW sudah menjadi Nabi saat itu. Maka, sebagai manusia biasa, meskipun telah menerima Qur’an, Nabi bisa keliru. Itu artinya, tidak benar, bahwa Sunnah adalah wahyu. Apalagi Hadis.

Jadi, ketika Nabi mengharamkan (QS.66:1), pengharaman Nabi itu bukan berdasar Qur’an. Bukan wahyu. Tetapi murni ijtihad Nabi sendiri. Karenanya bisa salah. Kemudian dikoreksi oleh Qur’an. Kalau betul pengharaman Nabi itu adalah wahyu yang tak tertulis, tentunya pasti benar. Dan tak perlu ditegur oleh Qur’an (QS.66:2).

Begitu juga dalam QS.80:1-12 itu. Ketika Nabi gak patek ngereken (berpaling) Ibnu Maktum yang buta itu. Sampai disebut Qur’an, Nabi berwajah kecut. Karena lebih mempedulikan para pembesar Quraisy. Langsung ditegur Qur’an, “Sekali-kali jangan begitu!” Artinya, sikap dan perbuatan Nabi itu keliru. Jadi tidak benar kalau Sunnah adalah wahyu. Masak wahyu salah?!

Sekali lagi, wahyu itu ya cuma Qur’an saja. Sunnah bukan wahyu. OK. Tetapi fungsi beliau sebagai penyampai Qur’an—karenanya disebut Rasul—Nabi tidak pernah salah. Tidak pernah keliru. Nabi tidak pernah lupa Qur’an, meski satu hurufnya (QS.87:6). Semua wahyu dari Allah, itu sudah komplit. Tidak kurang, tidak lebih. Tidak ada wahyu lain, selain Qur’an (QS.6:115).

Kemanusiaan Nabi itu, bukan hanya ketika beliau belum menjadi Rasul. Di usia sekitar 40 tahun itu. Meskipun beliau mendapatkan Qur’an, lantas menjadi Rasul, Nabi tetap manusia biasa. Beliau bisa senang, bisa susah. Bisa bersuka, bisa berduka. Kadang bahagia, kadang sedih. Bisa sakit. Bahkan bisa kalah dalam peperangan.

Yang diingkari oleh para rival Nabi, itu ya Qur’an. Kerasulan Muhammad. Mereka menuntut bukti kepada Nabi dengan hal-hal yang non manusiawi. Dikiranya, kalau benar menjadi utusan Allah (Rasul Allah), itu harus tidak manusiawi. Harus bisa melakukan hal-hal yang magic. Harus tidak makan dan minum. Harus tidak berjalan di pasar. Harus tidak menikah. Intinya, harus tidak manusiawi. Digambarkan dalam ayat berikut.

QS. Al-Furqan[25]: 7 – 8
وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ ۙ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا
7. Dan mereka (para rival Nabi) berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?

أَوْ يُلْقَىٰ إِلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْهَا ۚ وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا
8. “Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya?" Dan orang-orang yang zalim itu berkata: "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.”

Qur’an telak sekali memberi jawaban pertanyaan para pengingkar seperti itu. Sebagaimana digambarkan dalam ayat berikut.

QS. Al-An’am[6]: 50
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
KATAKANLAH: “Aku TIDAK mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku. Dan TIDAK (pula) AKU MENGETAHUI YANG GAIB. Dan TIDAK (pula) AKU MENGATAKAN KEPADAMU BAHWA AKU SEORANG MALAIKAT. AKU TIDAK MENGIKUTI KECUALI APA YANG DIWAHYUKAN KEPADAKU. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"

Makanya beberapa kali Qur’an menginformasikan bahwa Nabi hanyalah penyampai risalah. Penyampai Qur’an kepada umat manusia. Tidak lebih, tidak kurang. Nabi tidak bertanggung jawab, apakah mereka menjadi mendapat petunjuk, ataukah mereka tetap sesat (27:92). Beriman atau tidak, itu murni pilihan mereka sendiri (QS.18:29).

Karena mendapat Qur’an itulah, Nabi lantas shalat. Karena Qur’an memerintahkan shalat (QS.2:43). Nabi lantas puasa Ramadan. Karena Qur’an memerintahkan puasa Ramadan (QS.2:183). Nabi kemudian berhaji. Karena Qur’an memerintahkan haji (QS.3:97). Nabi berzakat. Karena Qur’an memerintahkan zakat (QS.9:103).

Nabi lantas juga tahu hal-hal gaib. Hal-hal metafisika. Nabi tahu gambaran surga, gambaran neraka, ada timbangan amal perbuatan (mizan), bahwa ada malaikat, Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya, ada pahala, dan gambaran-gambaran metafisika yang lain. Karena Qur’an yang menginformasikannya. Semua itu diketahui Nabi, itu SEBATAS info dari Qur’an saja (QS.6:50).

Tanpa Qur’an, Nabi tidak akan tahu hal-hal eskatologi seperti itu. Karenanya, sulit dipercaya jika ada Hadis-Hadis yang berbicara hal-hal tersebut yang tidak ada cantolannya dari Qur’an. Pasti bertentangan dengan QS.6:50 itu. Bahwa soal metafisika tersebut, Nabi hanya mengikuti Qur’an saja.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Kamis, 19 September 2019

BUKAN HANYA HALAL-HARAM


—Saiful Islam—

“Kapal itu dibuat bukan untuk bersandar di dermaga. Tapi untuk berlayar mengarungi samudera. Bercengkrama dengan badai, gelombang ombak, petir, dan teriknya matahari…”

Selingan dulu. Seorang kawan minta konfirmasi kepada saya soal teaser film yang sedang viral. The Santri. Terjadi pro kontra dalam mengomentarai tayangan tersebut. “Karena ada adegan membawa tumpeng ke dalam gereja, berduaan antara pemain lawan jenis, lomba yang mengirimkan santri bekerja ke Amerika...,” begitu kurang lebih tulisnya.

Sebenarnya sudah langsung saya tanggapi singkat. “Yang jelas, jangan mereduksi Islam hanya soal halal-haram. Hitam putih. Sudut pandang Islam atau angle-nya itu bisa luas.” Meski begitu, saya paham. Bahwa masyarakat itu maunya yang praktis. Ini halal. Itu haram. Titik. Saya pun mengalaminya. Namun, alangkah garingnya Islam, kalau kaca matanya hanya fikih.  Padahal Qur’an berbicara fikih itu hanya kira-kira satu per enamnya saja.

Kehidupan manusia ini kompleks dan dinamis. Zaman dan peradaban terus berubah. Memang Qur’an menyuruh kita melakukan sesuatu. Serta melarang melakukan yang lain. Itu untuk kepentingan manusia. Bukan kepentingan Tuhan. Supaya manusia, Kaum Mukminin khususnya, itu maju. Dalam semua bidang. Ekonomi, sosial, politik, militer, Sains dan teknologi, dan sebagainya. Menjadi umat teladan (khoyro ummah).

Maka penting bagi kita untuk sadar. Mana yang mesti dilakukan. Mana yang tak perlu dilakukan. Demi masa. Waktu, jatah hidup ini terbatas. Dalam bersosial misalnya. Allah memerintahkan agar bersosial. Saling mengenal (QS.49:13). Kita malah mengurung diri. Terlalu takut dan khawatir dampat negatif dari pergaulan itu. Padahal, banyak sekali manfaat positif dari pergaulan antar manusia. Apa pun agamanya.

Tak sedikit memang. Kalangan tertentu, itu sedikit-sedikit haram. Sedikit-sedikit haram. Ini, haram. Itu, haram. Memurtadkan orang yang menghalalkan yang diharamkan. Jangan lupa. Mengharamkan yang halal, itu juga bisa murtad menurut tradisi Islam ortodoks itu sendiri. Meski memang, kalau sudah bisa mengharamkan, itu tampak keren. Tampak alim. Tampak berwibawa. Tampak hati-hati.

Padahal, sangat bisa jadi, pengharaman itu, amat dekat sekali dengan kemunduran. Keterbelakangan. Takut dan khawatir dengan tantangan zaman. Allah ciptakan kita di dunia ini untuk apa sih? Sembunyi dari tantangan zaman dan peradaban yang terus berderap ke depan? Hai Gaes. Bahtera itu dibuat bukan untuk bersandar di pantai. Atau dermaga. Tapi untuk mengarungi lautan. Samudra. Bercengkrama dengan badai, gelombang ombak, petir, dan teriknya matahari.

Soal masuk gereja itu. Kalau kalian ubek-ubek Qur’an, even from cover to cover, tidak ada satu ayat pun yang menyuruh atau melarang orang masuk, shalat, atau apa pun ke dalam gereja. Atau tempat suci agama lain. Seperti pura, wihara, kelenteng, sinagog, dan seterusnya. Tidak ada. Begitu juga Hadis. Tidak ada larangan.

Qur’an tidak ada. Hadis, tidak ada. Maka kita kembali pada filsafat fikihnya saja. Tulis dengan tinta emas rumus ini: Budaya, tradisi, dan semisalnya, itu hukum asalnya boleh. Sampai ada dalil yang melarangnya. Sebaliknya. Ritual, akidah, itu hukum asalnya dilarang. Tidak boleh. Haram. Sampai ada dalil yang menyuruhnya. Jadi kalau yang selain ritual dan ibadah, itu asalnya boleh-boleh saja.

Langkah kedua, kita analisis. Apakah masuk ke dalam gereja itu ritual atau akidah? Tentu saja bukan. Masuk ke dalam gereja itu termasuk asyya’. Cuma tradisi atau budaya saja. Maka hukum asalnya adalah boleh. Mubah. Halal.

Jangankan cuma masuk mengantar tumpeng di gereja itu. Mau belajar, mau debat dan diskusi, mau kumpul-kumpul rapat, mau browsing, mau bancakan, mau makan bersama, mau apa pun pokoknya bukan urusan ritual dan akidah, ya boleh-boleh saja. Bahkan seadainya kalian mau shalat dhuhur misalnya di dalam gereja, ya is fine. Is OK. Dalam konteks bersosial, semuanya boleh. Sampai ada dalil yang mengharamkan!

Yang tak boleh dilakukan di dalam gereja misalnya kalian ikut-ikutan ritual mereka. Membenarkan keyakinan mereka. Soal patung, salib, semua itu cuma bikinan manusia saja. Hanya kayu. Cuma semen. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan setan, jin, roh, dan semisalnya. Yang mengait-ngaitkan salib, patung, lukisan, dan semisalnya itu cuma imajinasi kita sendiri. Padahal sekali lagi, semua itu cuma kayu, semen, pasir, besi, kertas.

Kemudian soal berduaan dua aktor yang berlawanan jenis. Ini opini saya. Berduaan dengan beda jenis, laki-laki dan perempuan, itu tergantung apa dulu yang dilakukannya. Lihat konteksnya dulu. Kalau pacaran misalnya. Sebaiknya, jangan. Apalagi di tempat yang gelap-gelap. Cenderung ke nafsu. Kalau nafsu sudah sampai ubun-ubun, akal sehat menjadi off. Mengarah ke perzinaan.

Tapi kalau diskusi, atau urusan-urusan kemanusiaan yang semisalnya, tidak ada yang salah. Bagi saya, hidup bersosial itu tidak ada kaitannya dengan laki-laki dan perempuan lagi. Dalam bersosial, keduanya adalah khalifah. Manusia yang fungsinya sebagai laki-laki dan perempuan, itu hanya saat ‘tempur di kasur’ saja. Hehe. Ketika bermasyarakat, bekerja dan semisalnya, fungsi manusia adalah sebagai khalifah.

Adapun soal lomba yang mengirim santri ke Amerika untuk bekerja. Catat ini dulu. Sains, teknologi, peradaban, tradisi, budaya, itu asalnya netral. Sebab di masyarakat kita masih ada yang beranggapan begini: haram belajar filsafat. Karena filsafat itu dari orang kafir. Haram belajar Matematika, Kimia, Fisika, Bahasa Inggris, Astronomi, Biologi, karena itu ilmu-ilmu kafir. Ini ilmu agama. Itu ilmu umum. Ya wajar kalau Kaum Mukminin selalu ketinggalan dengan Barat. Sama-sama Asia, masih jauh kita dibanding Jepang dan apalagi Tiongkok. Meski kedua negara tetangga kita itu terkenal ateis. Tak bertuhan. Kenapa? Sebab mereka menguasai Sains dan teknologi! Semua ilmu itu milik Allah Gaes.

Tidak ada yang salah kalau ada santri yang bekerja di Amerika. Bahkan bagus sekali. Karena ada usaha untuk belajar kepada perabadan yang lebih maju. Terutama soal Sains dan teknologinya. Meskipun memang. Secara tradisi dan budayanya, cara bersosial orang-orang Barat, itu tidak selalu lebih baik dari kita. Namun umumnya, mereka maju justru ketika meninggalkan agamanya yang dogmatis mistis wal klenik, dan menggantinya dengan Sains dan teknologi.

Ya ambil yang baik. Tinggalkan yang buruk. Meski keluar dari dubur ayam, kalau itu telur, ya ambil. Intinya selalu gunakan akal sehat. Gunakan hati nurani. Gunakan insting. Di sini sudah ada paket wahyunya. Allah bisa kapan saja, dimana saja, sewaktu-waktu memberikan petunjuk-Nya. Ke ‘dalam dada’. Yang sangat cepat. Itulah ilham!

Maaf ya. Kali ini banyak ceramahnya. Hehe.

Begitu. Semoga bermanfaat.

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Senin, 10 Juni 2019

BUKAN MAKHLUK IMAJINER


—Saiful Islam—

“Iblis, manusia berenergi negatif…”

Allah sudah infokan bahwa iblis itu dari jin (18:50). Sedangkan jin itu dari api (55:15) dan (15:27). Maka, iblis pun dari api. Dan karena material penciptaannya dari api itulah membuat iblis sombong. Iblis merasa lebih keren dari Adam yang Allah ciptakan dari tanah. Iblis telah melakukan kesalahan fatal. Bukan karena merasa lebih keren itu. Tapi karena pelanggarannya kepada perintah Allah, supaya hormat kepada Adam. Iblis telah durhaka kepada-Nya ‘Azza wa Jalla.

QS. Al-A’raf[7]: 12
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Iblis menjawab, "Aku lebih baik darinya: Engkau ciptakan aku dari api. Sedangkan dia (Adam), Engkau ciptakan dari tanah".

Saya ingin menganalisis sekilas mengenai Iblis ditinjau dari segi bahasanya kemarin. Gampangnya, bahwa iblis itu kesedihan yang sangat yang membuahkan kesengsaraan. Putus asa. Saya memahami Iblis itu bukan sosok. Bukan makhluk imajiner. Tapi energi negatif. Adapun QS.7:27 yang menyatakan bahwa Iblis dan kelompoknya melihat manusia, sedangkan manusia tidak bisa melihatnya, itu dari sisi materi Iblis yang dari gelombang. Energial. Secara kasat mata, kita memang tidak bisa melihat material-material subatomik.

Kalau sekarang, Iblis itu tidak lain dan tidak bukan adalah manusia itu sendiri. Ciri khas Iblis itu membisik-bisikkan kata-kata yang menipu. Kata-kata yang membuat orang sedih, susah, bahkan celaka. Coba, siapa yang memfitnah? Mengadu domba? Memprovokasi? Menyebar hoax? Ghibah? Tidak lain dan tidak bukan ya manusia! Jadi sekali lagi, Iblis itu ya manusia!! Atau energi negatif itu yang masuk ke dalam diri kita, sehingga kita menjadi terinspirasi dan termotivasi untuk berbuat jahat.

Jadi, takut-takut dan sedih-sedih yang tidak beralasan, itu adalah energi negatif. Kalau kita takut atau sedih, sehingga sampai membuat kita putus asa dari rahmat dan pertolongan Allah, sejatinya itu kita sedang kemasukan energi negatif. Maka, Allah menyuruh kita agar tidak larut dalam ketakutan dan kesedihan seperti itu. Diceritakan misalnya dalam QS.7:35 dan 49; 2:38; 62, 112, dan 277; 3:170; 5:69; 6:48; 10:62; 46:13; dan lain-lain.

QS. Al-A’raf[7]: 35
يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ۙ فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Hai anak-anak Adam. Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Iblis yang terbuat dari api, itu lebih baik dari Adam yang terbuat dari tanah, itu digambarkan oleh omongan iblis. Bukan pernyataan Allah. Saya tidak menemukan satu ayat pun yang mengatakan bahwa Iblis itu lebih baik dari Adam. Atau api lebih baik dari tanah. Tidak ada. Kalau kalian menemukan, tolong beritahu saya, Kawan.

Begitu juga Malaikat lebih baik dari Adam, tidak ada pernyataan ini. Urusan Allah memerintahkan Iblis dan Malaikat hormat kepada Adam, itu sudah kehendak Allah. Bahkan menurut konteks ayat-ayatnya, justru Adam-lah yang lebih keren dari Iblis dan Malaikat, karena Allah langsung meniupkan ruh-Nya kepada Adam. Ingat, ruh-Nya langsung! Bukan ruh ciptaan-Nya!! Allah tak pernah menciptakan ruh!!!

Nah, karena langsung ruh-Nya yang ditiupkan kepada kita, maka kita menjadi ‘ketularan sifat-sifat Allah’. Allah Maha Melihat. Kita akhirnya menjadi bisa melihat. Allah Maha Mendengar. Kita pun lantas bisa mendengar. Allah Maha Berkehendak. Kita pun kemudian bisa berkehendak. Allah Maha Berilmu. Kita lantas bisa berilmu. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Kita akhirnya bisa mengasihi dan menyayangi. Dan seterusnya. Perhatikan ayat-ayatnya berikut ini.

QS. Shad[38]: 71—83
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
71. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah".

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
72. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya".

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ
73. Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya.

إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
74. Kecuali Iblis. Dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ
75. Allah berfirman: "Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?".

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
76. Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripadanya. Karena Engkau ciptakan aku dari api. Sedangkan dia, Engkau ciptakan dari tanah".

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
77. Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga. Sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.

وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ
78. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan".

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
79. Iblis berkata: "Ya Tuhanku. Berilah aku kesempatan sampai hari mereka dibangkitkan".

الَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ
80. Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi kesempatan.

إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ
81. “Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)".

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
82. Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
83. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.

Sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung. Insya Allah…

Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...