Tampilkan postingan dengan label rasul Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rasul Allah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Januari 2020

DESAKRALISASI HADIS


—Saiful Islam—

“Hadis-Hadis, itu memang karya penulis Hadis biasa, yang tidak pernah dijaga, dipelihara, dan dikawal langsung oleh Nabi. Apalagi dipelihara oleh Allah…”

Mari kita tinjau lagi pernyataan ini: “Begitu pun dengan Hadis Rasulullah, sebagai konfirmator tunggal yang ma’shum.”

Sudah umum di masyarakat Muslim, bahwa Rasulullah itu ma’shum. Kata ini juga umum diartikan sebagai terpelihara dari salah dan dosa.

Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, secara bahasa, al-‘ashm itu berarti menahan dirinya dari sesuatu (al-imsaak). Dari kata itu kemudian muncul kata tamassak yang berarti memegang. Kata memegang ini, bisa berarti mengendalikan, menguasai, mengontrol, menjaga, memelihara, melindungi, dan semisalnya.

Di dalam Qur’an, ada beberapa derivasi kata dari kata ‘ashoma itu. Di antaranya adalah QS.5:67, QS.11:43, dan QS.33:17 berikut ini.

QS. Al-Maidah[5]: 67
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Hai Rasul. Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. ALLAH MEMELIHARA KAMU DARI (GANGGUAN) MANUSIA. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

QS. Hud[11]: 43
قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat MEMELIHARAKU dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya. Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

QS. Al-Ahzab[33]: 17
قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
Katakanlah: "Siapakah yang dapat MELINDUNGI kamu dari Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.

Nabi Muhammad itu memang ma’shum. Dalam arti dipelihara oleh Allah sehingga beliau tidak mungkin salah menyampaikan Qur’an. Tidak pernah ada satu ayat pun yang dilupakan Nabi. Tidak pernah satu ayat pun yang belum disampaikan Nabi kepada umat manusia.

Artinya, dalam kapasitas beliau sebagai utusan Allah (Rasul Allah), beliau tidak pernah dan tidak akan pernah salah, lupa, dan lain semisalnya. Tidak akan pernah. Intinya, semua yang terkait dengan risalah, Nabi tidak akan pernah salah. Soal-soal syariat, akidah, ibadah-ibadah ritual, mustahil Nabi salah dan lupa.

Tetapi sebagai manusia biasa, bisa jadi beliau SAW keliru. Karenanya langsung ditegur oleh Allah (QS.80: 1-12; QS.66:1-2). Maka yang sudah jelas-jelas Sunnah Nabi sekali pun, kita mesti harus pilah-pilih. Mana yang memang terkait risalah. Dan mana yang urusan-urusan dunia biasa.

Nabi memang ma’shum. Dalam arti dipelihara oleh Allah sehingga tidak ada yang bisa membunuh Nabi. Terutama selama dalam proses pewahyuan Qur’an. Atau selama dalam misi penyampaian pesan Tuhan itu kepada umat manusia. Nabi tidak bekerja sendiri untuk misi yang luar biasa itu. Ada peran Allah di situ. Juga ada pihak lain. Sejarah menunjukkan, memang Nabi tidak terbunuh dalam peperangan. Sebaliknya, Nabi menang. Sudah sejak abad pertama Hijrah itu. Sehingga Qur’an ini sampai kepada kita, yang hidup di abad 15 H ini.

Nabi memang ma’shum. Dalam arti tidak akan pernah membantah Allah. Semua larangan Qur’an, pasti beliau tidak akan pernah lakukan. Semua perintah Qur’an, pasti beliau lakukan. Semua sifat-sifat baik yang digambarkan oleh Qur’an, pasti sudah beliau praktikkan dan contohkan untuk para Sahabatnya, dan kita umatnya.

Jadi untuk hal-hal di atas, tidak diragukan lagi. Bahwa Nabi itu memang ma’shum. Dijaga dan dipelihara oleh Allah.

Tetapi ingat, yang ma’shum itu Nabi. Yang ma’shum itu Rasulullah. Bukan Hadis-Hadis. Hadis-Hadis yang disandarkan kepada Nabi, itu memang tidak ma’shum. Dalam arti dipelihara dan dijaga oleh Allah. Hadis-Hadis, itu tidak dijaga dan tidak dipelihara oleh Allah. Jangankan oleh Allah. Nabi sendiri saja, itu tidak menjaga dan tidak memelihara Hadis-Hadis. Malah beliau melarang menulis Hadis. “Jangan menulis dariku selain Qur’an. Siapa yang terlanjur menulisnya, hapuslah.”

Mustahil Hadis-Hadis itu ma’shum. Hadis-Hadis itu karya penulis Hadis, layaknya penulis-penulis biasa. Bukan karya Nabi. Tidak dikawal oleh Nabi. Tidak dijaga oleh Nabi. Tidak pula dipelihara oleh Nabi. Hadis-Hadis hanyalah berita atau cerita yang disandarkan kepada Nabi. Yang harus diuji, diperiksa, dikiritisi, dan dianalisa terlebih dahulu terkait otentitasnya. Tidak boleh ujug-ujug, potong kompas, shortcut, digunakan sebagai hujjah dalam beragama Islam.

Apalagi, Hadis-Hadis itu baru ditulis setelah ratusan tahun lamanya dari sumber utama: Nabi Muhammad.

Hadis dikatakan sebagai konfirmator tunggal yang ma’shum, jelas sekali salahnya. Parah malah. Fatal sekali! Konfirmator tunggal yang ma’shum, itu Qur’an! Bukan Hadis!! Kalau dikatakan Hadis sebagai konfirmator Qur’an, itu sama saja menempatkan Hadis di atas Qur’an. Wah!!! Hadis-Hadis harus dikoreksi, dicek, diperiksa, dan diuji dengan Qur’an. Lihat. Betapa Umat Islam sering terbalik. Qur’an malah mau dikoreksi dengan Hadis. Alamak!!!

Hadis-Hadis, itu memang tidak sakral. Tidak pernah ada Hadis-Hadis itu suci. Hadis tidak keramat. Hadis-Hadis, itu hanya karya tulis biasa. Sebagaimana karya-karya tulis yang lain. Tidak dipelihara Allah. Tidak dijaga dan dikawal Nabi. Hadis-Hadis ada yang mungkin benar. Ada juga Hadis-Hadis yang mungkin salah. Jadi, kalau ditemukan Hadis-Hadis yang salah, kemudian lantas diingkari, ya memang harus begitu. Hadis-Hadis yang salah, meskipun disandarkan kepada Nabi, itu memang harus ‘diletakkan’.

Hadis-Hadis diyakini ma’shum, itu sama dengan keyakinan kawan saya yang pastur, Klaus yang mengatakan begini: “Bible itu memang bukan firman Tuhan. Sebab firman Tuhan sudah menjadi daging: Yesus. Bible itu memang karya penulis Bible. Yang ditulis belakangan. Akan tetapi para penulis Bible itu, diinspirasi oleh Roh Kudus (melalui wahyu teologis).”

Hadis-Hadis diyakini sebagai sesuatu yang sakral atau suci, jelas salahnya. Sangat berbahaya bagi Umat Islam secara akidah. Sekali lagi, tidak ada rujukan-rujukan doktrin Islam yang ma’shum, sakral, dan suci, itu selain Qur’an.

Jadi tampaknya, salah kaprah Hadis ma’shum, ini berawal dari kerancuan salah kaprah mengidentikkan Hadis dengan Sunnah. Yang dilakukan oleh mayoritas Ulama Hadis. Agaknya sejak Imam Syafi’i (w. 204 H). Karena beliau lah yang pertama kali menulis Ulumul Hadis dalam kitab al-Risalah. Puncak salah kaprah itu, adalah ini: Hadis-Hadis dikira wahyu teologis mandiri selain Qur’an yang turun kepada Nabi.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Minggu, 15 Desember 2019

SALAH KAPRAH AL-HIKMAH


—Saiful Islam—

“Bahkan ada juga Sunnah Nabi, yang itu HARUS TIDAK diikuti malah…”

Jadi tidak benar kalau al-Hikmah ujug-ujug dipahami sebagai Sunnah Nabi. Dianggap sebuah wahyu yang berdiri sendiri selain Qur’an. Sebuah wahyu tak tertulis yang antah berantah.

Allah itu menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah. Yakni teks ayat-ayat Qur’an dan kandungan maknanya. Allah tidak menurunkan al-Kitab sendiri. Kemudian menurunkan al-Hikmah sendiri. Tidak begitu. Allah menurunkan al-Kitab, yakni teks Qur’an, sekaligus kandungan maknanya. Jadi sebenarnya, Allah menurunkan satu paket.

Yang Allah turunkan adalah al-Kitab dan al-Hikmah. Allah tidak menurunkan al-Kitab dan Sunnah Nabi. Sunnah Nabi itu murni adalah ijtihad Nabi. Jika beliau terinpirasi oleh Qur’an, atau beliau ‘menafsiri’ Qur’an, maka sudah pasti benarnya. Fungsi beliau sebagai utusan Allah. Maka Sunnah yang demikian, itu wajib kita ikuti.

Adapun Sunnah Nabi yang itu terkait sebatas kemanusiaan beliau, maka Sunnah yang demikian tidak harus diikuti. Boleh diikuti, boleh tidak. Bahkan ada Sunnah Nabi, yang itu harus tidak diikuti malah. Seperti perempuan Mukminah yang menghadiahkan dirinya untuk Nabi. Maka itu halal bagi beliau SAW jika beliau berkehendak untuk menikahinya. “Khaalishatan lak min duun al-mu’miniin,” begitu kata QS.33:50. Itu hanya halal bagi Nabi. Tapi haram bagi kita.

Jadi, Sunnah Nabi yang harus dan wajib diikuti itu disebut Sunnah Tasyri’iyah. Yakni Sunnah Nabi yang terkait risalah Tuhan. Atau Sunnah Nabi yang terkait dengan fungsi beliau sebagai Rasul Allah. Sedangkan Sunnah Nabi yang tidak harus bahkan haram diikuti, itu disebut Sunnah Ghayr Tasyri’iyyah. Tidak betul kalau semua ucapan Nabi itu terkait dengan syariat. Maka pasti tidak benar jika disebutkan bahwa Sunnah Nabi adalah wahyu yang berdiri sendiri selain Qur’an.

Kalau benar Allah juga menurunkan wahyu yang berupa Sunnah Nabi, maka sudah pasti semua ucapan, ketetapan, dan perbuatan Nabi itu ‘selalu benar’. Tetapi faktanya, Allah masih menegur Nabi. Berarti ada yang ‘keliru’ dengan Sunnah Nabi. Dan kalau saja benar bahwa Sunnah Nabi adalah wahyu yang berdiri sendiri selain Qur’an, maka pasti semua Sunnah harus dan wajib diikuti oleh Kaum Mukminin. Nyatanya, ada Sunnah Nabi yang malah haram kalau kita ikuti.

Kalau Hadis? Kalau Hadis, ya malah sudah pasti dan pasti bukan wahyu. Wong Hadis itu artinya berita. Hadis Nabi, berarti berita tentang Nabi. Hadis-Hadis itu, ditulis oleh para penulis Hadis. Jelas para penulis Hadis tersebut tidak diberi wahyu (secara teologis sebagaimana wahyu Qur’an) oleh Allah untuk menulis Hadis. Malah ketika Nabi masih hidup, dalam proses pewahyuan Qur’an, beliau SAW melarang para Sahabatnya menulis yang selain Qur’an. Termasuk melarang menulis Hadis.

Hadis-Hadis itu murni karya para penulis Hadis atau para ulama Hadis yang tidak dikawal oleh Rasulullah. Karenanya, Hadis-Hadis itu ada yang hoax. Yang mengatakan Hadis itu wahyu atau penulisnya terinspirasi oleh wahyu, itu sama dengan keyakinan Klaus, teman saya yang pastur itu. “Bible itu, memang bukan firman Tuhan. Ditulis belakangan. Tetapi para penulis Bible, itu diinspirasi oleh Roh Kudus,” begitu katanya kurang lebih.

Sebenarnya, tulisan kawan tentang al-Hikmah, itu di awal sudah benar. Bahwa Allah menurunkan Al-Kitab dan al-Hikmah. Dengan mendasarkannya pada QS.2:231 dan QS.4:113. Tetapi mulai meleset, ketika dia mengutip QS.33:34.

Begini pernyataannya yang meleset dan cenderung dipaksakan: “Bukti nyata bahwa maksud dari al-Hikmah yang diturunkan Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah as-Sunnah yaitu yang dibacakan di rumah-rumah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah Al-Qur`ân dan as-Sunnah.”

Semakin parah melesetnya itu ketika ia membuat kesimpulan begini: “Dengan demikian, Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari Allah Ta’ala sebagaimana Al-Qur`ân. As-Sunnah merupakan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Al-Qur`ân. Oleh karena itu, Keduanya Memiliki KEDUDUKAN YANG SAMA Sebagai Hujjah (Argumen) dalam agama, dan wajib diikuti.”

Kesimpulan seperti itu, seakan-akan ada teks Qur’an dan juga ada teks Hadis. Tentu, ini tidak benar. Ketika beliau SAW masih hidup, itu tidak ada teks wahyu selain Qur’an. Jadi yang dibaca di rumah-rumah istri Nabi, itu ya teks Qur’an itu sendiri. Al-Hikmah di situ, adalah kandungan maknanya yang bisa jadi memang lebih luas. Yakni tafsiran Nabi.

Tidak benar kalau al-Hikmah yang dibacakan di rumah istri-istri Nabi, itu dipahami sebagai teks Hadis. Kenapa? Semua teks Hadis yang kita kenal sekarang, itu TIDAK ADA ketika Nabi masih hidup. Jangankan zaman Nabi (w. 632 M), wong zaman Imam Abu Hanifah (w. 767 M), Imam Malik (w. 795 M), Imam Syafi’i (w. 820 M), dan Imam Ahmad (w. 855 M) saja, itu TIDAK ADA Kutub al-Sittah: Bukhari (w. 870 M), Muslim (w. 875 M), Ibnu Majah (w. 887 M), Abu Dawud (w. 889 M), Tirmidzi (w. 892 M), dan Nasa’i (w. 915 M). Karenanya memang, para imam mazhab itu tidak pernah memakai Hadis-Hadis Kutub al-Sittah.

Indikasi pikiran penulisnya yang meleset itu adalah kalimatnya: “Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari Allah Ta’ala SEBAGAIMANA Al-Qur`ân.” Nah jelas, kata ‘sebagaimana’ menunjukkan bahwa menurutnya ada wahyu lain selain Qur’an. “As-Sunnah merupakan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Al-Qur`ân,” tentu ini tidak benar.

Semakin jelas kesalahan itu ketika disebutkan: “Keduanya (Qur’an dan Sunnah Nabi) memiliki kedudukan yang sama sebagai hujah (argumen) dalam agama, dan wajib diikuti.” Qur’an dan Sunnah Nabi, itu kedudukannya TIDAK SAMA. Berbeda. Ya, Qur’an dan Sunnah Nabi, itu kedudukanya TIDAK SEDERAJAT. Kedudukan Qur’an dan Sunnah Nabi, itu bertingkat. Qur’an nomor 1. Sedangkan Sunnah Nabi nomor 2, setingkat di bawah Qur’an.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Sabtu, 07 Desember 2019

MANUSIA SETENGAH TUHAN


—Saiful Islam—

“Ingat. Hadis-Hadis, BUKAN Nabi itu sendiri!”

“Wahai Ahli Kitab. Janganlah kalian berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agama kalian,” begitu kata QS.5:77. Mereka berlebih-lebihan, sampai menganggap Isa, yang manusia biasa itu, sebagai Tuhan. Ayat-ayat sebelumnya, QS.5:72-76, mengritik sikap mereka tersebut.

QS. Al-Maidah[5]: 75
مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Al-masih (Isa), putera Maryam itu HANYALAH seorang Rasul (utusan Tuhan). Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang sangat benar. Keduanya BIASA MEMAKAN MAKANAN. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami). Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling.

Saya mengajak Rekan-Rekan sekalian untuk memposisikan Nabi secara proporsional.

Menghormati nabi-nabi, itu harus. Wajib. Bagaimana tidak, wong Allah saja memilih beliau-beliau?! Tentu saja, soal prestasi amal saleh, kita masih sangat-sangat jauh dibanding mereka. Meskipun kita akan terus berusaha meneladani mereka. Termasuk menghormati dan menyanjung Nabi Muhammad SAW. Menyanjung yang dicintai, itu wajar. Biasa. Memuja yang dikasih dan disayangi, itu manusiawi. Tetapi menghormati dan menyanjung yang berlebihan, ini bisa bahaya.

Sudah pernah terjadi pada orang-orang Nasrani kepada Nabi Isa. Menyanjung, memuja, dan menghormati secara berlebihan. Sampai membuat kesimpulan bahwa Isa firman Tuhan yang menjadi daging. Lalu Isa adalah anak Tuhan. Sampai akhirnya menjadi Tuhan itu sendiri: Tuhan Yesus. Terserah, itu hak mereka. Itu iman mereka: Nasrani. Tetapi bagi saya, Isa adalah hanya manusia biasa yang mendapat wahyu Allah. Persis Nabi SAW.

Penghormatan dan sanjungan yang berlebihan itu, ternyata pernah terjadi kepada Nabi SAW. Seperti cerita Nabi yang dioperasi Malaikat ketika kecil. Hati (liver) Nabi diambil, kemudian dibedah untuk dikeluarkan gumpalan hitamnya. Setelah itu hati itu disambung lagi. Perut yang dibedah, disambung lagi. Jadi semacam operasi transnplantasi hati. Juga konsep cahaya Muhammad. Nur Muhammad. Katanya, sebelum ada semesta ini, Allah menciptakan Nur Muhammad terlebih dahulu. Adanya alam semesta ini, hanya karena adanya Nur Muhammad itu.

Saya berani memastikan. Bahwa mitos-mitos tentang Nabi SAW seperti transplantasi liver dan Nur Muhammad itu, bersumber dari selain Qur’an. Kalau Anda mencari rujukannya dalam Qur’an, pasti tidak akan pernah ada penggambaran Nabi yang non manusiawi seperti itu. Sebaliknya, selalu dan selalu Qur’an mendeskripsikan Nabi SAW itu sebagai manusia biasa. Karena manusia biasa itulah, Nabi dijadikan uswatun hasanah oleh Allah bagi kita. Kalau Nabi itu Malaikat, atau apa pun yang bukan manusia, ya tidak akan bisa menjadi contoh, teladan, uswatun hasanah bagi kita!

QS. Al-Ahzab[33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi kalian. (Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan ia banyak mengingat Allah.

Ada kawan yang mengaku sedih karena saya mengatakan bahwa Nabi SAW itu adalah manusia biasa. Justru saya lebih sedih lagi, kalau ada yang mengatakan Nabi SAW, Nabi yang saya hormati dan cintai itu, adalah bukan manusia biasa. Justru bahaya sekali kalau dikatakan bahwa Nabi itu bukan manusia biasa. Pasti akan bertabrakan dengan ayat-ayat berikut ini. Semua Nabi, mulai Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, itu memang manusia biasa. Bedanya cuma satu dengan kita: beliau-beliau itu mendapat pesan Tuhan secara langsung.

QS. Al-Kahfi[18]: 110
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
Katakanlah: “SESUNGGUHNYA AKU INI HANYALAH MANUSIA BIASA SEPERTI KAMU, YANG DIWAHYUKAN KEPADAKU: Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh. Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.

QS. Ibrahim[14]: 11
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "KAMI TIDAK LAIN HANYALAH MANUSIA SEPERTI KAMU, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.”

QS. Al-Fushshilat[41]: 6
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: "BAHWASANYA AKU HANYALAH SEORANG MANUSIA SEPERTI KAMU, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya. Dan beristighfarlah kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.”

Sekali lagi, justru bahaya kalau dikatakan para utusan Allah (Rasul Allah) itu, bukan manusia biasa. Nabi dipaksa harus bukan manusia, itu justru kemauan orang-orang yang ingkar kepada kenabian para Rasul Allah tersebut. Mereka meremehkan kemanusiaan para Rasul itu.

QS. Al-Mukminun[23]: 24
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "ORANG INI TIDAK LAIN HANYALAH MANUSIA SEPERTI KAMU, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.

QS. Al-Anbiya’[21]: 3
لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ ۗ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ ۖ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ
(Lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "ORANG INI TIDAK LAIN HANYALAH SEORANG MANUSIA (JUA) SEPERTI KAMU, maka apakah kamu menerima sihir itu. Padahal kamu menyaksikannya?"

QS. Al-Mukminun[23]: 33
وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ
Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: "(ORANG) INI TIDAK LAIN HANYALAH MANUSIA SEPERTI KAMU, DIA MAKAN DARI APA YANG KAMU MAKAN, DAN MEMINUM DARI APA YANG KAMU MINUM.”

Begitu juga soal wahyu ini. Menurut saya, berlebihan jika dikatakan SEMUA ucapan, sikap, dan perilaku Nabi SAW itu adalah wahyu. Tambah parah berlebihannya itu, saat dikatakan bahwa semua Hadis-Hadis yang sahih, dan Hadis Qudsi yang sahih, adalah wahyu yang berdiri sendiri selain Qur’an. Semua jenis Hadis yang saya sebut barusan, itu bukan Nabi itu sendiri. Ingat, Hadis-Hadis, BUKAN Nabi itu sendiri!

Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah Hadis riwayat Bukhari, Muslim, dan lainnya, yang saya kira sahih. Waktu itu ada tiga orang Sahabat Nabi yang kemelete (sok alim), mengadu kepada istri Nabi. Orang pertama mengatakan tidak akan menikah. Orang kedua mengatakan, tidak akan makan daging. Dan orang ketiga mengatakan, tidak akan tidur di kasur.

Mendengar ucapan ketiga Sahabat tadi, Rasululllah pun menjawab yang seakan-akan teguran untuk mereka yang kemelete itu. “Demi Allah,” kata Rasul, “sesunguhnya akulah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya dibanding kalian. Tetapi, aku ya berpuasa, ya berbuka. Aku ya salat, ya tidur. Dan aku juga menikahi perempuan…”

Oh, Nabi. We do love you.... Habiibiy sallaamun ‘alaik

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam



AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...