Tampilkan postingan dengan label sakit jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sakit jiwa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juli 2019

INDIGO BUKAN PARANORMAL


—Saiful Islam—

“Sejatinya, indigo, itu adalah label dari orang tua yang anaknya mengalami gangguan kejiwaan. Ya, gangguan jiwa…”

Suatu hari, saya bertemu dengan seseorang di sebuah sekolah. Di samping kiri saya, ada seorang gadis kelas 3 SD. Cantik. Tinggi besar. Lebat dan ikal rambutnya. Lebar matanya. Tirus wajahnya. Kuning langsat kulitnya. Tiba-tiba orang tadi, menginfokan kepada saya bahwa gadis ini inklusi. Informasi itu semakin saya gali. Ternyata dia dianggap inklusi karena dianggap bisa berkomunikasi dengan makhluk halus di alam gaib. Ya, sudah menjadi anggapan umum di sekolah itu bahwa gadis ini tidak normal seperti anak-anak biasanya.

Langsung saja saya ajak gadis yang beragama non muslim ini berkomunikasi. Awalnya pakai Bahasa Indonesia. Namun dari keterangan-keterangannya, agaknya anak ini ingin sekali berbicara dengan Bahasa Inggris. Logat-loganya agaknya sering berbahasa Inggris. Bahkan sesekali mengucapkan kosa kata dari Bahasa Inggris. Maka saya pun mengutarakan pertanyaan-pertanyaan ringan dengan Bahasa Inggris.

Cukup baik dia menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan ini: “What is your complete name?”, “So, how can I call your nick name?”, “Where do you live?”, “Do you have brothers?”. “Do you have sisters?” “Younger brother or elder brother?”, “Younger sister or elder sister?” Dari keterangannya pula, saya mendapat info bahwa satu kakaknya yang bernama Karin (bukan nama sebenarnya) juga sekolah di situ. Kelas 6. Semua warga sekolah rata-rata menganggapnya juga sebagai gadis aneh. Sering ngomong sendiri. Ngobrol dengan makhluk halus.

Suatu hari, saya juga menemui kakaknya itu. Saya melakukan cara yang sama. Mengecek normal dan tidak otaknya dengan pertanyaan-pertanyaan. Ya, kalau dia bisa menjawab dengan logis pertanyaan-pertanyaan ringan yang saya ajukan, saya pastikan bahwa dia gadis yang normal. Apalagi dengan Bahasa Inggris. Yang mesti harus dengan grammar. Bahasa, itu hasil kerja otak kiri. Otak logis. Otak rasional. Otak sebab akibat. Otak konsekuensi. Otak tanggung jawab. Otak reward and punishment. Otak kontrol. Kalau bahasanya bagus, biasanya matematikanya juga bagus. Anak yang otak kirinya masih bagus, maka anak itu normal. Kesimpulannya, dua anak itu normal.

Jangankan di masyarakat umumnya. Di lingkungan sekolah saja, tidak menjamin para gurunya itu bebas dari tradisi klenik warisan animisme-dinamisme. Meskipun kedua anak tadi, itu beragama non muslim, tapi rata-rata yang mengjudge bahwa anak itu bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus gaib adalah muslim. Maka saya pun mengajak diskusi langsung orang tadi.

Sudah umum, masyarakat menyebut indigo. Yaitu anggapan ada anak yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus gaib. Termasuk kasus kesurupan masal yang viral kemarin. Yang mengatakan bahwa semua itu adalah santet oleh sesama artis yang iri, adalah anak yang dianggap indigo itu. Agama kedua anak yang saya ceritakan tadi itu adalah Hindu. Agaknya yakin ada orang yang bisa melihat makhluk halus gaib dan bahkan sampai berinteraksi. Saya tidak percaya! Argumentasinya, seri tulisan ini dari awal sampai akhir.

Indigo itu adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Sekadar diyakini tanpa rujukan yang jelas. Ini adalah gagasan semu (abu-abu alias tidak jelas) berawal tahun 1970-an. Anak indigo dianggap sebagai tahab evolusi manusia selanjutnya. Bahkan dianggap sekali lagi dianggap, punya kemampuan paranormal (alias nggak normal). Dan masyarakat Indonesia, Jawa-Madura-Sunda, terutama, itu menggembor-gemborkan yang paranormal ini.

Catat ini: tidak ada satu bukti penelitian pun yang membuktikan keberadaan anak indigo atau sifat mereka. Tapi kita mudahnya latah ikut-ikut bilang bahwa seorang anak adalah indigo: anak yang bisa berinteraksi dengan makhluk halus gaib. Secara Qur’an maupun Sains memang tidak bisa orang berinteraksi dengan makhluk halus gaib itu. Ditengarai fenomena indigo, itu dibesar-besarkan oleh orang tua yang anaknya didiagnosis mengalami kesulitan belajar. Atau mereka ingin anaknya dianggap spesial.

Ternyata, banyak anak yang dilabeli indigo itu didiagnosis mengidap penyakit attention-deficit hyperactivity disorder. Atau ADHD. Ya, penyakit. Alias gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak sampai menyebabkan aktivitas anak yang tak lumrah dan cenderung berlebihan. Tanda-tandanya antara lain perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa tenang, meletup-letup, aktivitas berlebihan, sampai suka membuat keributan.

Sejatinya, kata indigo, itu adalah label dari orang tua yang anaknya mengalami gangguan kejiwaan. Orang tua lebih memilih meyakini bahwa anak mereka itu spesial dan terpilih untuk misi yang penting daripada menerima kenyataan bahwa anak mereka mengidap penyakit kejiwaan. Banyak anak yang dilabeli indigo, itu telah dimasukkan ke sekolah rumah.

Kita latah melabeli seorang anak adalah indigo, itu akan membuat mereka latah juga. Tuman. “Aleman,” kata orang Oseng Banyuwangi. Alias ingin dipuji. Ini akan semakin membuat anak ‘kreatif’ berhalusinasi dan berdelusi. Tentu ini sangat bahaya. Berhalusinasi dan berdelusi itu adalah penyakit jiwa. Semakin akut, orang bisa ‘gila’ beneran. Bahkan semakin parah bisa mengalami kematian psikogenik, sebagaimana yang saya ceritakan kemarin.

Kita latah mengatakan bahwa seorang anak bisa berinteraksi dengan makhluk halus gaib, itu sama saja kita ikut menjerumuskan anak tersebut ke penyakit jiwa yang semakin dalam. Sungguh, ini harus dirubah. Tidak ada anak paranormal itu. Tidak ada anak yang bisa berinteraksi dengan gaib itu. Sebaliknya. Mari kita perlakukan anak-anak itu sebagaimana mestinya. Yang normal-normal saja. Apa adanya. Jangan malah ikut-ikutan melabel (apalagi di depannya langsung), bahwa anak itu indigo. Atau anak ajaib. Atau anak sakti. Atau anak bisa melihat Jin. Sekali lagi, latah melabel seperti itu, kita malah menjerumuskan anak ke dalam penyakitnya yang semakin dalam.

Perlakukanlah anak itu normal. Ajak dia berkomunikasi. Ajak dia berbahasa. Latih dia berhitung. Libatkan dalam permainan sebagaimana normalnya. Berilah tebak-tebakan. Ajak mereka berpikir. Aktifkan otak kirinya. Tugaskan mereka membuat kerajinan tangan atau keterampilan. Libatkan dalam aktivitas seni. Dan lain seterusnya sebagaimana anak normal lainnya.

Kalau dia muslim-muslimah, akrabkan dengan Qur’an. Dengan Sains. Dengan ilmu pengetahuan. Dengan literacy. Dan sebaliknya. Kalau ingin sembuh. Kalau ingin selamat. Jauhkan mereka dengan klenik, warisan keyakinan masyarakat primitif nenek moyang animisme-dinamisme!

QS. Al-Isra’[17]: 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan JANGANLAH KAMU MENGIKUTI apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu AKAN DIMINTA PERTANGGUNGAN JAWABNYA.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam





Minggu, 28 Juli 2019

MATI SEBAB GANGGUAN JIWA


—Saiful Islam—

“Semakin akut, orang yang sering kesurupan, itu bisa cepat mati…”

Ternyata, kematian itu tidak hanya disebabkan oleh kerusakan organ fisik. Orang bisa mendadak mati, itu bisa juga karena kerusakan mental. Atau sakit jiwanya. Ya, orang bisa mati karena gangguan jiwa akut. Istilahnya kematian psikogenik. Sudah saya ceritakan sebelumnya, percaya pada sesuatu yang sebenarnya tidak ada (delusi), itu penyakit jiwa. Kesurupan, baik sendiri maupun masal, itu juga termasuk penyakit jiwa. Ini harus disembuhkan. Perlahan-lahan. Berangsur-angsur. Mulai dari sekarang!

Gambaran mudahnya, kematian psikogenik ini adalah ketika seseorang benar-benar menyerah. Menyerah total menghadapi tantangan hidup. Putus asa. Setelah dihajar stres akibat tekanan sosial, ekonomi, politik, dan seterusnya yang menjadi beban jiwa, orang tersebut akhirnya menyerah total. Atau setelah mengalami trauma yang sangat dalam. Bingung. Tersesat. Gelap. Berkali-kali kesurupan. Tidak menemukan solusi. Baik hasilnya sendiri. Maupun bantuan sesamanya. Menyerah total. Dan mati.

Umumnya di masyarakat kalau ada orang mati mendadak, dikomentari, “Ooo… paling serangan jantung.” Tambah parah masyarakat primitif klenik warisan keyakinan animisme-dinamisme berkomentar, “Disantet orang.” Padahal mati mendadak itu bisa juga disebabkan oleh kematian psikogenik ini.  Yaitu kematian tanpa adanya patologi atau kondisi medis fisiknya. Karena penyebab utamanya memang adalah pengaruh jiwa dan energi pada fungsi tubuh yang dibutuhkan untuk hidup.

Pengidap kematian psikogenik ini, akan mati beberapa hari setelah menunjukkan tanda-tanda keterjangkitannya. Sebelum akhirnya mati, orang itu biasanya menarik diri secara sosial. Ya, tidak mau bersosial, bisa jadi itu adalah penyakit. Termasuk takut dengan keramaian, juga penyakit. Kalau bertemu dengan orang, ia melengos. Tidak mau menyapa. Dan apalagi tersenyum. Tidak mau melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan sosial yang konstruktif.

Tahap kedua, dia kemudian apatis. Prinsipnya, “I don’t care.” Cuek. Sudah tidak peduli pada apa-apa lagi. Sudah tidak ada perjuangan hidup. Sudah tidak mau lagi mengusahakan yang baik-baik untuk dirinya. Apalagi untuk orang lain. Orang kalau sudah apatis begini, akan tampak kusut, kotor, instingnya hilang. Kecerdasan emosionalnya nol.

Berikutnya, orang ini kehilangan tekad. Ia tidak lagi bisa bersikap tegas. Menarik diri semakin dalam. Jarang makan. Tidak peduli lagi kebersihan dirinya. Cuci tangan, kaki, atua muka saja, orang ini sudah jarang. Apalagi mandi. Sudah hampir tidak pernah. Ia sudah kehilangan kemampuan menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan urusan yang kecil-kecil. Termasuk, jarang berbicara. Pendiam. Abulia, begitu istilahnya.

Setelah itu, motivasinya semakin menghilang. Sudah tidak sensitif lagi pada rasa sakit. Saat dipukul pun, ia tidak bergeming. Mati rasa. Sering mengompol. Bahkan bisa merasa biasa tidur bergumul dengan kotorannya sendiri. Meskipun, sebenarnya mereka sadar. Itulah alasan mengapa kita melihat orang yang ‘ayem’ di bawah terik matahari. Itu bukan karena kulitnya yang tebal dan kebal panas. Tapi memang sedang sakit mentalnya. Rusak jiwanya. Baik tua maupun muda, pengidapnya.

Barulah terakhir, mereka akan mengalami kematian psikogenik ini. Sudah tidak ada lagi motivasi. Tidak ada lagi respon. Tidak ada lagi detak jantung. Putus asa total. Menyerah seratus persen. Benar-benar mati. Maka dari itu, dukungan moral itu sangat penting bagi mereka. Jika ia masih punya sepercik semangat untuk hidup, dia akan bisa sembuh. Ya, sembuh. Tiga buku saya sudah diterbitkan tentang dukungan moral ini: Berpikir Bersikap dan Beraksi ala Pemenang; Pemenang di Atas Pemenang, dan Ayat-Ayat Kemenangan. Ya, motivasi itu sangat penting sebagai modal menghadapi kehidupan ini.

Orang yang sering kesurupan karena beban jiwa, memang bisa sedikit merasa lega dengan kesurupannya itu. Atau puas setelah kesurupan itu. Meski begitu, tidak boleh dibiarkan. Harus segera diperhatikan. Diberi dukungan moral. Diberi motivasi. Diajak dialog, berkomunikasi, dan nasehat-nasehat yang baik. Sampai dibantu mengatasi masalah-masalanya. Bisa karena asmara, ekonomi, sosial, dan lain seterusnya. Orang yang caper dengan kesurupan itu, memang harus diberi perhatian. Dibantu solusi dari masalah-masalahnya.

Termasuk kematian psikogenik ini, adalah keyakinan bahwa orang bisa mati karena disihir magis. Nah, kan. Baca sekali lagi. Anda tidak salah baca. Saya juga tidak salah nulis. Bahwa orang benar-benar bisa mati hanya karena dugaannya sendiri bahwa orang bisa mati karena disihir magis atau disantet. Ya, mati hanya karena dugaan. Atau karena keyakinan yang salah. Apalagi dia telah mengalami trauma akut. Dicampur keyakinan yang salah itu. Kemudian hilang gairah hidup. Putus asa total. Dan lantas mati.

Ingat tulisan sebelumnya. Merujuk Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an dan Lisan Al-‘Arab, iblis itu diambil dari kata balasa. Al-iblaas yang berarti kesedihan yang membuahkan kesengsaraan yang amat sangat. Atau berarti putus asa. Seperti dalam QS.30:12 dan 49; 6:44. Kamus Al-Munawwir mengartikan kata ablasa salah satunya dengan bersedih hati, bingung, dan putus harapan. Atau putus asa. Jadi iblis atau setan ini energi destruktif yang menyerang jiwa kita. Ya jiwa! Maka penyebab orang mati psikogenik, ini tak lain dan tak bukan adalah energi destruktif iblis itu.

Untuk selalu bersama dengan energi positif yang konstruktif, yang membuat kita selamat, sukses, dan bahagia dunia akhirat, tidak bisa tidak, kita harus mengakrabi Qur’an dan Sains. Membersamai ilmu pengetahuan. Menjadikan literasi sebagai basis keluarga kita. Membuahkan pemahaman dan keyakinan yang benar. Kita mendapat cahaya. Kita mendapat hidayah. Kita punya obor kehidupan.

Kawan. Allah telah menghidupkan kita. Mau tidak mau, kita harus melanjutkan hidup. Kita dihadirkan di sini, memang untuk hidup. Bukan untuk mati. Kapal sudah dibakar. Tak mungkin kita menyerah mundur berlayar ke belakang. Satu-satunya pilihan adalah hidup. Menantang dan menghadapi masalah di depan. Tidak hanya kita. Setiap orang punya problematika hidupnya masing-masing. Dengan keikhlasan. Dengan kesabaran. Dengan kegigihan. Kerja keras. Yakin yakin yakin. Setelah kesulitan itu, Allah menyediakan banyak kemudahan. Bahkan kemudahan itu sudah beserta kesulitan.

QS. Al-Thalaq[65]: 7
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. ALLAH KELAK AKAN MEMBERIKAN KELAPANGAN SESUDAH KESEMPITAN.

QS. Al-Insyirah[94]: 6
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya BERSAMA KESULITAN ITU ADA KEMUDAHAN.

Baik buruk itu memang ujian hidup (QS.21:35). Masalah hidup, itu sudah biasa. Bahkan itulah tandanya kita hidup. Hanya orang mati yang tidak punya masalah hidup. Masalah dengan diri sendiri. Masalah dengan orang lain. Dengan pasangan hidup. Dengan suami. Dengan istri. Dengan anak-anak. Dengan teman dan tetangga. Dengan atasan. Dengan bawahan. Dengan pemerintah. Dengan rakyat. Dengan guru. Dengan murid. Dengan customer. Dan lain seterusnya. Justru Allah mendidik dan melatih kita dengan masalah-masalah itu. Untuk kita hadapi. Supaya semakin kuat. Ya, semakin kuat.

Jadi, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Selalu ada jalan. Selalu ada solusi. Yakin yakin yakin!

QS. Ali Imran[3]: 139
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
JANGANLAH kamu bersikap LEMAH. Dan JANGANLAH (pula) kamu BERSEDIH hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

QS. Ali Imran[3]: 200
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman. BERSABARLAH. Dan KUATKANLAH KESABARANMU. Dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

QS. Yusus[12]: 87
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya TIADA BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH, MELAINKAN KAUM YANG KAFIR.”

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam


Selasa, 09 Juli 2019

SALAH KAPRAH KESURUPAN


—Saiful Islam—

“Kesurupan, itu caper. Cari perhatian…”

Tangkong, Banyuwangi. Terkenal ‘kota santet’. Kira-kira 7 kilo meter selatan pelabuhan Ketapang. Di sini lah saya menghabiskan masa kecil hingga remaja, kira-kira sampai 17 tahun. Beberapa kali kalau saya sakit, dengan cemas Mak saya bergumam, “Kesaaambet lare kaiii…” Anak ini kesurupan atau kerasukan makhluk halus jahat. Dibawalah saya ke para normal (gak normal, hehe) terdekat. Dukun. Mak saya itu, dan masyarakat sekitar menyebutnya, “wong pinter” alias orang pintar. “Weroh barang alus,” tahu makhluk halus.

Kesurupan ini didefinisikan oleh KBBI sebagai kemasukan (setan, roh) sehingga bertindak yang aneh-aneh. Atau kerasukan yang diartikan kemasukan roh jahat dan sebagainya. Agaknya referensi KBBI ini adalah dugaan atau opini umum yang diyakini masyarakat. Menggambarkan fenomena seseorang yang berkata dan bertingkah tidak lumrah secara tidak sadar. Kehilangan kontrol pada dirinya sendiri. Contoh mudahnya seperti kuda lumping. “Jaranan”.

Kesurupan itu memang nggak ada kaitannya dengan ‘makhluk halus’. Medis menyebut fenomena kesurupan ini dengan istilah Dissosiative Trance Disorder (DTD). Alias gangguan disosiatif. Yaitu termasuk dari gangguan psikologis (kejiwaan), dimana penderitanya tidak mampu mengendalikan pikiran dan perilakunya. Jadi, kesurupan ini adalah gangguan kejiwaan. Alias penyakit!

Ada yang mengistilahkan kesurupan ini dengan trans disosiatif. Yaitu perubahan dalam kesadaran yang bersifat temporer atau hilangnya perasaan identitas diri tanpa kemunculan identitas baru. Ada juga yang mengistilahkan trance possession dissosiative. Yakni, perubahan kesadaran yang dicirikan dengan penggantian identitas personal yang selama ini dengan identitas baru.

Pada dasarnya, kesurupan merupakan sebuah kondisi neuropsikologis yang melibatkan beberapa sirkuit di otak. Ilmu kedokteran menganggap kesurupan ini sebagai sebuah keadaan patologis. Yakni sebuah kondisi yang menimbulkan efek nefatif atau mengganggu. Sekali lagi, penyakit.

Kesurupan ini seperti kondisi terhipnotis. Yaitu amygdala (bagian otak yang menyimpan memori emosional) membajak sistem limbik otak. Sehingga hippocampus tidak bekerja dengan baik. Ingat, hippocampus adalah wilayah penyimpanan memori rasional. Nah, orang kesurupan ini ditandai dengan mulai malasnya bagian rasional otak teresebut untuk bekerja. Akibatnya, filter logikanya lumpuh.

Neurosains terkini memang mendapati kesurupan itu sebagai akibat konflik temporer (sementara) beberapa sirkuit otak emosi yang dimenangkan nucleus accumbent di amygdala itu.

Gejala orang yang terjangkit penyakit ini adalah bertindak nyeleneh dan lepas kontrol. Hilang kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya dan tidak sadar pada dirinya sendiri. Juga sulit membedakan antara kenyataan dan fantasi pada waktu bersamaan. Selain itu, nada suaranya berubah. Susah berkonsentrasi, sampai hilang ingatan.

Baik religius maupun tidak, setiap orang berpotensi mengalami kesurupan atau DTD ini. Penyakit itu telah menyebar luas di seluruh dunia. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa kasus kesurupan ini banyak ditemukan sejak taun 1988 di negara-negara Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa.

Pada dasarnya, kesurupan itu dipengaruhi beberapa faktor. Seperti faktor sosial, spiritual, psikologis, dan lain-lain. Penyebab utama kesurupan ini adalah stres sosial dan mental yang ditekan ke alam bawah sadar sehingga mempengaruhi kondisi emosional. Apalagi jika stres sosial dan mental itu terjadi bertahun-tahun.

Tekanan sosial dan mental itu, misalnya seperti pengangguran, upah kecil, ketidakadilan, banjir, tsunami, gizi buruk, kesenjangan yang sangat kontras, frustasi dan kegagalan yang disikapi secara salah dan lain semisalnya.

Sebuah pendapat menyatakan bahwa kesurupan ini adalah sebuah kondisi psikologis yang merupakan cara mendapatkan keuntungan untuk lepas dari tekanan mental yang tak disadari. Dalam kondisi kesurupan itu, penderita memang bisa melakukan gerakan-gerakan yang terjadi secara otomatis, tidak ada beban mental, dan muncul dengan bebas.

Sesaat setelah kesurupan, biasanya fisik orang yang bersangkutan merasa lelah. Namun mental mereka mendapat kepuasan. Akibat dari melepas hormon oksitosin.

Selain kepuasan mental karena banjirnya hormon oksitosin dalam sirkuit-sirkuit tertentu di otaknya itu, pelaku kesurupan mendapatkan keuntungan yang lain. Yaitu diperhatikan orang. Inilah alasan, mengapa kesurupan tidak pernah terjadi pada saat orang sedang sendirian di kamar. Selalu terjadi di depan orang lain. Mencari perhatian.

Pendapat yang lain menyebut bahwa kesurupan adalah sebuah bentuk mekanisme pembelaan ego. Tindakan ini merupakan cara lari dari masalah dan mengurangi stres sementara waktu.

Begitu dulu. Bersambung, insya Allah…

Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...