Tampilkan postingan dengan label melihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label melihat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2020

SANG ULIL ABSHOR


—Saiful Islam*—

“Semuanya menunjuk kecerdasan akal, sehingga mudah mengerti…”

Frase yang tak kalah apik lagi, terkait temat Qur’an Inspirasi Literasi, ini adalah Ulil Abshor. Saking menariknya, anak saya yang satunya lagi, saya beri nama Rayhan Ulil Abshor. Susunan kata Ulil Abshor, itu secara sekilas artinya adalah yang memiliki wawasan. Sang pemilik wawasan yang luas. Idhoofah tersebut memang digunakan oleh Allah di dalam Al Qur’an.

Berdasar Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, begini. Kata al-bashor itu untuk menamai salah satu organ tubuh manusia yang digunakan untuk melihat. Yakni mata. Seperti disebut oleh QS.16:77 dan QS.33:10.

Kata al-bashor, itu juga untuk menunjuk kekuatan yang ada di dalam mata. Dan dikatakan bahwa nama untuk kekuatan akal yang cerdas, sehingga mudah mengerti, itu adalah bashiiroh dan bashor. Seperti QS.50:22 dan QS.53:17.

Bentuk plural al-bashor adalah abshoor. Dari kata inilah Ulil Abshor itu diambil. Sedangkan bentuk plural al-bashiiroh adalah bashooir.

Menurut Lisan al-Arab, kata bashooir pada ayat ‘Qod jaaakum bashooir min robbikum (QS.6:104),” itu artinya adalah Al Qur’an. Sehingga terjemahnya, “Sungguh telah datang Al Qur’an dari Tuhan kalian.” Karena Al Qur’an itu mengandung penjelasan-penjelasan dan pengetahuan yang memperkaya wawasan. Yang memperhatikan Qur’an akan bermanfaat bagi dirinya. Sebaliknya yang mencuekin Qur’an, akan berbahaya bagi dirinya.

Kata mubshiroh pada QS.27:13, menurut Al-Zajjaj maknanya adalah yang terang atau jelas. Yakni yang bisa dilihat, dipikirkan dan direnungkan. Menurut Al-Farra’, kata mubshiroh itu artinya adalah yang menerangi (akal dan jiwa), sebagaimana QS.10:67. Menurut Abu Ishaq, kata mubshiroh itu berarti menjelaskan sehingga mereka mempunyai wawasan.

QS. Al-Naml[27]: 13
فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
Maka tatkala ayat-ayat Kami yang JELAS itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: "Ini adalah sihir yang nyata.”

Al-bashiiroh, juga menurut Ibnu Manzhur berarti argumentasi. Juga bisa berarti meminta penjelasan detail.

Al-bashiiroh adalah keyakinan hati. Menurut Al-Layts al-bashiiroh berarti nama keyakinan di hati soal Agama Islam dan penelusuran hakikat sesuatu. Menurut satu pendapat al-bashiiroh artinya kecerdasan. Orang Arab biasa berkata, “Allah membutakan bashooir-nya.” Yakni kecerdasannya.

Dijumpai redaksi seperti “Wa innahuu ladzuu bashor wa bashiiroh fi al-‘ibaadah.” Serta redaksi “Wa innahuu labashiir bi al-asyyaa’.” Yang dimaksud adalah ia memiliki pengetahuan dalam urusan tersebut. Jadi bashor, bashiiroh dan bashiir di situ artinya memiliki ilmu pengetahuan.

Untuk firasat yang benar (semacam feeling kalau Inggris-nya), itu disebut firoosah dzaat bashiiroh. Kata al-bashiiroh juga berarti al-‘ibroh (proses mengambil pelajaran dari sesuatu dengan menggunakan akal kecerdasan).

Jadi menurut bahasa, kata abshoor yang bentuk plural dari bashor, atau pun bashooir yang merupakan bentuk plural dari bashiiroh, itu lebih menunjuk ke aktivitas psikis seseorang. Sesuatu yang terjadi di otak. Yakni memandang dengan akal. Melihat dengan hati. Memandang dengan ilmu pengetahuan. Atau pengetahuan itu sendiri yang ditangkap oleh akal kemudian menghasilkan pandangan. Alias wawasan.

Mata, itu berbeda dengan penglihatan. Kalau mata menunjuk pada fisik organnya. Kalau penglihatan menunjuk pada fungsinya. Mata, juga berbeda dengan pandangan atau wawasan. Pandangan dan wawasan, itu juga menunjuk pada fungsi atau kemampuannya. Lebih ke non fisiknya. Makanya ada istilah ‘mata batin’. Begitu juga, telinga bisa dibedakan dengan pendengaran, dan akal dengan otak.

QS. Al-Nahl[16]: 78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Lalu Dia memberi kamu PENDENGARAN, PENGLIHATAN dan AKAL, agar kamu MENSYUKURINYA.

Mensyukurinya pada ayat di atas, maksudnya adalah menggunakan pendengaran, penglihatan dan akal tersebut dengan sebaik-baiknya. Mendayagunakannya.

Sehingga Ulil Abshor itu bisa diartikan secara sederhana sebagai orang yang memiliki banyak wawasan. Atau istilah yang lebih populer barang kali, sang pemilik wawasan yang luas. Frase tersebut hanya 4 kali saja terulang dalam Al Qur’an (QS.3:13; QS.38:45; QS.59:2 dan QS.24:44). Sebagai berikut.

QS. Ali Imran[3]: 13
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat PELAJARAN bagi orang-orang yang MEMPUNYAI MATA HATI.

QS. Shad[38]: 45
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ILMU-ILMU YANG TINGGI.

Jadi menurut QS.38:45 di atas, para Rasul itu digambarkan sebagai pribadi-pribadi yang Ulil Abshor. Bukan hanya kuat ingatannya, luas ilmu dan wawasannya, tetapi juga cerdas, bijaksana dan berakhlak mulia. Salah satunya selalu mengingatkan manusia kepada negeri akhirat (QS.38:46). Pandangan mereka seakan-akan tembus ke masa depan. Bisa ‘melihat’ sebuah kehidupan ‘di sana’, setelah kehidupan dunia yang di sini ini.

QS. Al-Hasyr[59]: 2
هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah. Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka. Sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang Mukmin. Maka AMBILLAH (kejadian itu) untuk MENJADI PELAJARAN, wahai orang-orang yang MEMPUNYAI WAWASAN.

QS. Al-Nur[24]: 44
يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat PELAJARAN yang besar bagi orang-orang yang MEMPUNYAI PENGLIHATAN.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

Sabtu, 01 Agustus 2020

PANDANGAN SANG KHALILULLAH


—Saiful Islam*—

“Membaca laporan hasil penelitian para ilmuwan…”

Kata nazhor dipakai oleh Allah di dalam Al Qur’an. Tampaknya, kata tersebut belum diserap oleh Bahasa Indonesia. Pelafalannya memang terasa tidak familier bagi lidah Indonesia.

Digambarkan dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Kata al-nazhor adalah berarti kajian. Atau bahasan (al-bahts). Kata ini lebih umum daripada analogi (al-qiyaas). Setiap qiyas adalah nazhor, dan tidak setiap nazhor adalah qiyas.

Al-nazhor adalah membolak-balikkan pandangan dan akal untuk mencapai sesuatu dan melihatnya. Terkadang yang dimaksud adalah pengamatan dan pemeriksaan atau percobaan (eksperimen). Atau pengetahuan yang dihasilkan setelah penelitian dan observasi.

Perintah ‘amatilah’ dengan redaksi ‘unzhuruu’ pada QS.10:101, itu maksudnya adalah periksalah. Lakukan eksperimen. Penelitian.

QS. Yunus[10]: 101
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "PERHATIKANLAH apa yang ada di LANGIT dan di BUMI. Tidaklah bermanfaat tanda-tanda tersebut dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.”

Al-nazhor yang berarti lihatlah dengan pandangan (mata), itu banyak terjadi pada orang-orang awam. Sedangkan al-nazhor yang berarti lihatlah dengan pandangan akal, itu banyak terjadi pada orang-orang tertentu.

“Kepada Tuhannya, mereka memandang (naazhiroh),” (QS.75:22-23). Redaksi nazhortu ilaa, itu artinya kau arahkan matamu kepadanya. Kau sudah pernah melihatnya atau belum. Maksudnya menurut Lisan al-Arab, bisa melihat dengan mata dan bisa juga melihat dengan akal (qalb). Kalau nazhortu fiihi, itu artinya kau telah melihatnya dan telah mengkaji dan memikirkannya.

QS. Al-Qiyamah[75]: 22-23
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
22. Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri.

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
23. Kepada Tuhannyalah mereka MEMANDANG.

“Apakah kalian tidak mengamati unta, bagaimana ia diciptakan,” (QS.88:17). Mengamati (yanzhuruuna) yang dimaksud ayat ini adalah melakukan penelitian. Begitu juga QS.37:88-89 dan QS.7:185, itu maksudnya adalah motivasi (anjuran) untuk melakukan penyelidikan atau penelitian (eksperimen) sampai mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang penciptaannya.

QS. Al-Ghasyiyah[88]: 17-20
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
17. Maka apakah mereka tidak MEMPERHATIKAN, bagaimana UNTA diciptakan?

وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ
18. Dan LANGIT, bagaimana ia ditinggikan?

وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ
19. Dan GUNUNG-GUNUNG bagaimana ia ditegakkan?

وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
20. Dan BUMI bagaimana ia dihamparkan?

QS. Al-Shaffat[37]: 88-89
فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ
88. Lalu Ibrahim MEMANDANG bintang-bintang.

فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ
89. Kemudian ia berkata:"Sesungguhnya aku sakit.”

QS. Al-A’raf[7]: 184-185
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا ۗ مَا بِصَاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
184. Apakah (mereka lalai) dan tidak MEMIKIRKAN bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
185. Apakah mereka tidak MEMPERHATIKAN kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Qur’an itu?

Nazhor-nya Allah kepada para hamba-Nya adalah Allah memperbagus dan memperindah hidup mereka serta melimpahkan nikmat-nikmat-Nya untuk mereka. Makna itu sebagaimana disebut dalam QS.3:77 dan QS.83:15.

Al-nazhor juga bisa berarti menunggu atau memberi kesempatan waktu (al-intizhoor). Redaksinya bisa menggunakan nazhortuhu, intazhortuhu, dan anzhortuhu. Makna itu seperti tertuang dalam QS.11:122, QS.10:102, QS.57:13, QS.15:8, QS.7:15-16, QS.11:55, QS.32:29, dan QS.44:29. Mereka tidak diberi kesempatan, itu petunjuk sebagaimana yang disebut oleh QS.7:34, QS.33:53, QS.27:35, QS.2:210, QS.43:66, dan QS.38:15.

Kata al-nazhor, itu juga bisa berarti heran atau takjub pada sesuatu. Misalnya sebagaimana disebut oleh QS.2:55, QS.7:198, QS.42:45, dan QS.10:43.

Adapun al-nazhor pada QS.2:50, menurut satu pendapat artinya adalah kalian menyaksikan. Yakni Bani Israil menyaksikan sendiri. Menurut pendapat yang lain artinya adalah memikirkan dan mengambil pelajaran (ibrah) dari kejadian itu.

QS. Al-Baqarah[2]: 50
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
Dan (ingatlah), ketika Kami ‘pisahkan’ laut untuk kalian (Bani Israil). Lalu Kami selamatkan kalian dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya. Sedang kalian sendiri MENYAKSIKAN.

Lantas dihasilkan juga kata al-munaazhoroh. Yaitu artinya adalah mendiskusikan pandangan masing-masing. Dan menghadirkan atau menyajikan apa yang dilihat seseorang dengan pandangan akalnya.

Jadi kalau kita memperhatikan secara bahasa dan konteks ayat-ayat Qur’an, kata nazhor itu titik tekannya lebih kepada melihat dengan ilmu dan akal. Bukan hanya melihat dengan mata begitu saja. Jelas melihatnya itu, tidak seperti ikan. Melihat di sini, lebih ke memperhatikan, menyimak, meneliti, melakukan eksperimen, melacak, menyelidiki, mengamati, dan seterusnya.

Melihat langit dan bumi (QS.10:101), melihat unta dan gunung (QS.88:17-20), atau melihat apa pun sesuatu yang ada di dalam semesta ini (QS.7:185), tentu saja yang dimaksud di situ adalah melihat dengan ilmu dan akal. Pada awalnya, para ilmuwan (ulama) memang melakukan penelitian langsung ke lapangan. Kemudian mereka membuat laporan hasil penelitian tersebut.

Jadi melihat dengan ilmu dan akal itu begini. Bagi kita yang belum mampu melakukan penelitian lapangan langsung, itu bisa membaca laporan hasil penelitian para ilmuwan tadi. Tentang bumi, misalnya. Bisa dibaca ilmu bumi, seperti Geologi dan Geografi. Tentang langit, kita bisa membaca ilmu langit seperti Astronomi. Tentang unta, misalnya bisa membaca ilmu Biologi. Dan banyak lagi Sains dan Teknologi yang sudah cukup maju di abad 21 Masehi ini.

Tentang manusia, itu misalnya bisa dibaca laporan ulama dalam ilmu Psikologi, Kedokteran, Antropologi, dan seterusnya. Tentang masyarakat, juga bisa membaca seperti ilmu Sosiologi, Sejarah, dan lain seterusnya. Jadi memang, sebenarnya tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu non agama itu. Semua itu ilmu Allah. Para ilmuwan (ulama) tersebut, bukan menemukan. Dan apalagi menciptakan. Mereka hanya melaporkan hasil penelitiannya terhadap semua realitas dan fenomena ciptaan Allah.

Tentunya setelah melihat dengan ilmu tersebut, akal sehat seseorang akan ‘otomatis’ takjub dan lantas menyimpulkan: Subhaanak! Maha Suci Engkau Ya Allah!! Bahkan bisa sampai bergetar hatinya sambil bercucuran air mata!!!

QS. Ali Imran[3]: 190-191
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang ADALAH AYAT-AYAT bagi ORANG-ORANG YANG BERAKAL.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
191. (Yaitu) orang-orang yang MENGINGAT Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring. Dan mereka MEMIKIRKAN tentang PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI (takjub lantas berkata): "Ya Tuhan Kami. Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau. Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...