Tampilkan postingan dengan label hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hoax. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2020

KRITIK KABAR BURUNG

 

—Saiful Islam*—

 “Jika ada orang fasik membawa berita, periksalah dengan teliti agar kamu tidak mencelakakan umat...” (QS.49:6)

 Menurut Wikipedia, hoaks adalah berita bohong yang sengaja dibuat menjadi seolah-olah kebenaran. Kamus Oxford mengartikan hoaks, itu tindakan yang bertujuan untuk meyakinkan orang pada sesuatu yang salah. Kamus Cambridge, hoaks merupakan tipuan yang dimainkan untuk memperdaya orang. Merriam-Webster, hoaks diartikan tipuan yang sengaja dibuat supaya orang menerima dan meyakini sebagai kebenaran.

 Silverman (2015) menyatakan hoaks adalah rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun ‘dijual’ sebagai kebenaran. Sedangkan Werme (2016) memahami fake news atau hoax news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang serta memiliki agenda politik tertentu. Selain itu, motif hoaks, itu misalnya sengaja untuk menimbulkan keresahan publik, menarik simpati, likes dan viewers, sampai keisengan belaka.

 Dalam Ilmu Hadis, Rasulullah pun pernah menjadi objek pemalsuan. Berbohong atas nama Rasul. Yaitu Hadis mawdhu’ (palsu). Alias Hadis hoaks. Disebutkan bahwa pemalsuan Hadis itu sejak terjadinya fitnah al-kubro (fitnah besar)—pertentangan antar Sahabat Ali (w. 40 H) dan Muawiyah (w. 60 H) dan terpecahnya Kaum Muslimin menjadi bermacam aliran dan golongan.

 Pelaku pemalsuan itu adalah di antara pengikut masing-masing untuk menjatuhkan lawan. Dan tak menutup kemungkinan, yakni sejak terjadinya fitnah pada masa Utsman (w. 35 H). Menurut Ulama Hadis, negeri Irak menjadi ‘pabrik’ Hadis hoaks untuk pertama kalinya.

 Motif pemalsuan Hadis, itu antara lain yaitu pembelaan terhadap aliran politik, pembelaan terhadap pendapat agama—akidah, ushul, furu’, termasuk masalah fikih, pembelaan aliran geografis, ingin mendekati penguasa, mencari pendukung (massa), kultus individu, cerita dan nasehat fiktif yang memotivasi atau mengancam, sampai orang di luar Islam—Zindik—yang berniat menghancurkan Islam dari dalam.

 Adapun di zaman kita sekarang, kerap dijumpai beberapa macam hoaks. Antara lain hoaks pesan berantai. Modusnya seperti kalau share ke beberapa kontak atau WA Group akan mendapat rezeki nomplok, kabar gembira yang tidak terduga-duga sebelumnya, haji dan umroh ajaib, atau sebaliknya—mendapat bahaya kalau tidak share.

 Ada lagi hoaks virus (info ada virus pada HP atau komputer yang sebenarnya tidak terinfeksi), hoaks pencemaran nama baik, hoaks kisah pilu atau sedih, hoaks urban legend—seperti cerita seram tentang benda, tempat atau kegiatan tertentu dan hoaks hadiah gratis.

Tergolong hoaks adalah berita disinformasi. Paling tidak, terdiri dari pertama, konten menyesatkan (misleading content). Cara membuatnya, yaitu memanfaatkan informasi asli seperti gambar, pernyataan resmi atau statistik. Tetapi diedit dan tidak dihubungkan dengan konteks aslinya.

 Kedua, adalah informasi salah konteks (false context). Yakni menggunakan informasi asli, tetapi disebar dalam konteks yang salah. Biasanya, informasi yang dipakai adalah pernyataan, foto atau video peristiwa yang pernah terjadi pada suatu lokasi. Tetapi konteksnya diubah sehingga tidak sesuai lagi dengan kenyataan.

 Ketiga, salah koneksi (false connection). Yaitu memakai judul, caption, atau sumber visual yang tidak sesuai dengan konten tulisan.

 Keempat, adalah konten tiruan (imposter content). Cara menyesatkannya, yaitu mendompleng ketenaran suatu pihak. Penjahat ini membuat tiruan yang terlihat seolah-olah asli untuk menipu publik.

 Kelima, berupa konten manipulasi (manipulated content). Yaitu dengan memanipulasi informasi asli untuk mengelabui bahkan memprovokasi pembaca agar percaya. Biasanya berita yang diedit, diseting dan dipalsukan itu diambil dari media-media besar.

 Yang terakhir adalah konten palsu (fabricated content). ‘Fakta-fakta’ yang dicantumkan dalam konten ini, sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena memang tidak pernah ada. Murni hayalan.

 Jadi sangat jelas bahwa tidak semua berita yang kita baca di internet, termasuk di media sosial (WA, Facebook, Instagram, Twitter, SMS, dan lain-lain), itu benar adanya. Hoaxes itu nyata. Maka kita harus berpikir kritis (logis dan rasional) bahkan skeptis (tidak langsung percaya dan terbiasa melakukan crosscheck dan verivikasi).

 Untuk merespon fenomena Hadis, misalnya, itu ulama mempunyai ilmu sebagai alat untuk proses verivikasi tersebut. Apakah sebuah Hadis bisa diterima ataukah harus diletakkan. Yaitu terutama, Ilmu Kritik Hadis. Hadis dikatakan sahih atau lolos uji, paling tidak ditinjau dari dua sisi. Pertama, sisi sanadnya (rangkaian periwayatnya). Kedua, dari sisi matannya (redaksi Hadis itu sendiri).

 Proses verivikasi itu menghasilkan Hadis sahih, Hadis lemah (dhoif) dan Hadis palsu. Buku-buku kumpulan Hadis hoaks antara lain Al-Mawdhu’at karya Ibnu al-Jawziy, Al-La’ali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Mawdhu’ah karya Al-Suyuthi, Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Ahadits al-Syani’ah al-Mawdhu’ah karya Ibnu ‘Iraq al-Kittani dan Silsilah al-Ahadits al-Dho’ifah karya Al-Albani.

 Adapun berita-berita yang bersumber dari internet di masa kita sekarang ini, bisa dilakukan verifikasi dengan misalnya sebagai berikut. Lebih waspada dan hati-hati dengan judul yang sensasional dan provokatif.

 Jika berupa gambar atau foto, bisa dibuka Google Image. Klik icon kamera dan upload gambar yang mau dicek. Atau copas link/URL gambar yang akan diperiksa benar tidaknya.

 Jika berupa link, cek URL-nya dan cek kredibilitas situsnya dengan mengidentifikasi pemilik situs atau admin websitenya di menu/halaman ‘About Us’ atau ‘Tentang Kami’.

 Jika situsnya belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi, seperti berdomain blog, maka informasinya masih meragukan. Ada sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita.

 Bandingkan dengan situs-situs mainstream. Seperti Jawa Pos, Detik, Kompas dan lain-lain.

 Jika info yang diduga hoaks itu dari WhatsApp, tanyakan kepada pengirimnya sumber ia memperoleh info tersebut. Jika jawabannya ‘kiriman teman’ atau ‘copas dari group sebelah’ terindikasi kuat itu hoaks.

 Sebaiknya jangan mudah cepat percaya apabila sebuah informasi itu berasal dari pegiat ormas, tokoh politik atau pengamat.

 Bisa pula ikut bergabung ke dalam group diskusi anti hoaks. Di Facebook, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax (FAFHH), Indonesia Hoax Buster, Indonesian Hoaxes dan Sekoci.

 Jawa Pos versi cetak pun, biasanya di halaman 4, menyediakan rubrik Hoax Atau Bukan yang setiap hari memverivikasi kebohongan berita yang masih hangat.                                                        

 Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab….

 *Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, dll.

Sabtu, 14 Desember 2019

MEMBONGKAR AL-HIKMAH


—Saiful Islam—

“Jangankan dengan para penulis atau ulama yang hebat-hebat itu. Bahkan kesimpulan kita, itu bisa dan boleh berbeda dengan Nabi SAW sekali pun…”

Sekarang akan saya kutipkan lagi kesimpulan dari tulisan kawan itu. 1). Allah menurunkan Al-Kitab dan Al-Hikmah. 2). Al-Hikmah dipahami sebagai Sunnah Nabi. 3). Sunnah Nabi adalah wahyu. 4). Kedudukan Sunnah Nabi sederajat dengan Qur’an.

Setelah memperhatikan makna al-Hikmah dan yang terkait dengannya dari kamus-kamus Arab, mulai dari yang besar sampai yang kecil, ternyata TIDAK ADA al-Hikmah itu yang berarti Sunnah Nabi. Saya tegaskan dan jelaskan lagi: TIDAK ADA bahwa Al-Hikmah adalah Sunnah Nabi. Ya, secara bahasa, tidak pernah ada dalam kamus-kamus itu yang mengartikan al-Hikmah sebagai Sunnah Nabi.

QS. Al-Nisa’[4]: 113
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ أَنْ يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ ۖ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِنْ شَيْءٍ ۚ وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا
Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun. DAN (JUGA KARENA) ALLAH TELAH MENURUNKAN AL-KITAB DAN AL-HIKMAH KEPADAMU. Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.

Lalu apa makna al-Hikmah itu? Menurut saya, al-Hikmah adalah kandungan makna teks Qur’an itu sendiri. Jadi, Qur’an itu adalah teks. Nah, al-Hikmah adalah kandungan makna dari teks ayat-ayat Qur’an tersebut.

Sunnah, yang berupa ucapan Nabi ketika beliau masih hidup, memang sangat-sangat memungkinkan itu adalah al-Hikmah. Tetapi, itu adalah ucapan Nabi atau penjelasan Nabi yang menangkap makna di balik teks ayat-ayat Qur’an. Bukan dari wahyu lain selain Qur’an. Juga bukan wahyu itu sendiri. Sunnah TIDAK sama dengan wahyu yang berdiri sendiri selain Qur’an.

Penjelasan Nabi itu, semacam ‘tafsirnya’ Nabi. Ketika beliau SAW masih hidup, tentu saja, tafsir Nabi itu adalah yang terbaik. Sekali lagi, terbaik. Tapi ingat, itu kalau Nabi masih hidup! Andai kata kita hidup sezaman dengan Nabi, ya untuk apa menafsir-nafsiri Qur’an sendiri? Tidak perlu. Langsung saja bertanya kepada Nabi. Langsung saja ikut Nabi. Titik.

Masalahnya, kita ini hidup sekitar 15 abad setelah Nabi. Dan ingat, semua rujukan selain Qur’an, itu ditulis sangat belakangan setelah wafatnya Nabi. Ratusan tahun! Baik itu siirah (biografi), taariikh (sejarah), termasuk Hadis-Hadis. Ingat, Hadis-Hadis itu TIDAK otomatis sama dengan Sunnah. Hadis itu hanya berita, ya berita untuk menelusuri Sunnah. Hadis, memang bisa valid (sahih). Tapi Hadis, juga bisa hoax (palsu). Hadis dhaif (lemah), menurut saya juga termasuk Hadis hoax.

Ayat-ayat Qu’an sebagai teks, memang telah selesai. Telah tamat. Telah sempurna (QS.6:115). Sudah tetap. Tidak akan berubah dan tidak akan bisa dirubah oleh siapa pun sampai kiamat. Turun langsung kepada Nabi SAW di Mekah dan Madinah sekitar 15 abad yang lalu. Turun kepada Nabi, secara periodik, kronologis, dan historis, dalam rentang waktu sekitar 23 tahun.

Tetapi ingat, Allah bukan hanya menurunkan teks ayat-ayat Qur’an itu. Tetapi juga kandungan maknanya. Yaitu al-Hikmah. Nah, al-Hikmah ini hidup! Terus berkembang sesuai dengan penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan (Sains) mutakhir. Pakar Biologi, bisa mendapat al-Hikmah dari Qur’an. Begitu juga pakar Sastra, pakar Kimia, Kedokteran, Antropologi, Sejarah, Sosiologi, Matematika, IT, Fisika, Geografi, dan lain seterusnya.

QS. Al-Baqarah[2]: 231
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. YAITU AL-KITAB (TEKS QUR’AN) DAN AL-HIKMAH (KANDUNGAN MAKNANYA). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Ayat-ayat Allah, itu bukan hanya berupa teks Qur’an. Tapi juga realita. Maka al-Hikmah, itu tidak hanya berada di balik ayat-ayat qowliyah (teks Qur’an). Tetapi al-Hikmah juga berada di balik ayat-ayat kawniyah (realita dan fakta-fakta Sains). Maka membaca, itu memang tidak cukup al-Qur’an saja. Penting juga membaca al-Koran. Hehe, dan membaca Sains. Bahkan, kalau perlu melakukan penelitian lapangan sendiri.

Jadi, teks ayat-ayat Qur’an sudah tetap. Tsaabit. Tetapi kandungan makna teks ayat-ayat Qur’an tersebut, itu mutaghayyar (hidup, dinamis, dan pasti selalu sesuai dengan tempat di mana pun dan waktu kapan pun sampai kiamat nanti). Hanya Qur’an memang pedoman hidup kita yang paling kokoh. Pasti. Mantap. Berulang kali saya tegaskan, semua rujukan doktrin Islam selain Qur’an, itu zhanniy semua. Kebenarannya itu, memang hanya dugaan saja.

Qur’an sebagai teks, hanya turun secara langsung kepada Nabi SAW. Tetapi kandungan maknanya (al-Hikmah), itu bisa diperoleh oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Termasuk kita, juga sangat memungkinkan memperoleh al-Hikmah itu. Sebagai bekal untuk mengatasi segala problematika hidup kita.

Ingat, Qur’an ini bukan hanya untuk Nabi Muhammad SAW saja. Tuhan ingin berbicara bukan hanya kepada dan untuk Nabi saja. Tetapi Dia ‘Azza wa Jalla juga ingin berbicara kepada kita. Bahkan Nabi SAW itu hanya penyampai Qur’an ini saja. Disampaikan kepada siapa? Untuk siapa Qur’an itu? Tentu saja, untuk seluruh umat manusia! Termasuk kita ini!!

Maka pasti dan pasti tidak benarnya, jika dikatakan bahwa upaya untuk memahami Qur’an (ijtihad) itu sudah ditutup. Qur’an ini bukan hanya untuk Nabi SAW. Qur’an ini bukan hanya untuk kaum elitis, semacam profesor, doktor, dan para akademisi. Bahkan dengan Qur’an itu, Tuhan ingin berbicara kepada para hamba-Nya yang paling awam sekali pun.

QS. Al-Qomar[54]: 17
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan sungguh telah Kami MUDAHKAN Qur’an itu untuk pelajaran. ADAKAH ORANG YANG MAU MENGAMBIL PELAJARAN ITU?

Ijtihad, berupaya memahami sungguh-sungguh Qur’an, itu bukan hanya baik dan anjuran bagi kita. Tetapi menurut saya, ijtihad itu harus dan wajib. Kenapa? Karena zaman ini terus berubah. Zaman yang berbeda, memunculkan problematika hidup yang berbeda. Persoalan hidup masing-masing orang juga berbeda. Maka membutuhkan solusi yang berbeda juga.

Jangankan dengan para penulis atau ulama yang hebat-hebat itu, kesimpulan kita bisa berbeda terkait persoalan tertentu. Bahkan soal urusan-urusan duniawi (selain ibadah mahdhah ritual), keputusan kita bisa jadi berbeda dengan Nabi SAW. “Antum a’lam bi umuur dunyakum, kalian lebih tahu urusan dunia kalian,” begitu kata Nabi.

Maka, menafsirkan Qur’an itu mesti kreatif dan inovatif. Harus hidup sesuai dengan tantangan zamannya. Tentu saja, dengan niat yang baik. Tulus mencari kebenaran. Untuk kebenaran itu sendiri. Butuh berani dan bebas kepentingan. Terutama kepentingan politik, sampai kepentingan mazhab-mazhab dan kelompok-kelompok. Tidak perlu ada Islam A, Islam B, Islam C, dan seterusnya. Islam, ya Islam saja! Qur’an menjadi kiblat pertama dan utama bagi semua. Semua Muslim itu bersaudara. Titik.

Menafsiri Qur’an kalau salah, kan bisa masuk neraka Mas? Tidak benar! Menafsiri Qur’an, kalau salah, itu diganjar satu kebaikan. Kalau benar, reward-nya dua kebaikan. Begitu kata Nabi SAW. Jadi, salah? Ya tidak apa-apa. Masih dapat satu kebaikan. Nanti insya Allah akan ada orang-orang yang akan membantah dan mengoreksi kesimpulan kita. Dengarkan. Perhatikan. Pilih yang paling kuat argumentasinya. Perbaiki. Coba lagi. Dikoreksi lagi. Dibenarkan lagi. Begitu terus secara dinamis.

Menafsiri Qur’an kalau salah, memang bisa masuk neraka. Tapi itu menafsiri Qur’an yang penuh dengan tendensius, niat buruk, fanatik buta pada kepentingan mazhab dan kelompok, atau kepentingan jahat lainnya. Menafsiri Qur’an kalau salah, memang bisa masuk neraka. Iya. Tapi itu menafsiri yang ngawur. Nanti insya Allah di depan, akan saya tunjukan contoh kongkrit menafsiri Qur’an yang ngawur.

Menafsiri Qur’an kan tidak boleh pakai akal, Mas? Tidak benar! Justru, menafsiri Qur’an itu harus dan wajib dengan akal! Bagi saya, substansi manusia adalah akalnya. Manusia adalah binatang yang berakal. Kalau tidak pakai akal, terus mau pakai dengkul?! Ayat berikut ini sangat representatif sekali. Bahwa al-Hikmah, itu memang HANYA akan diperoleh oleh orang-orang yang menggunakan akal sehatnya!

QS. Al-Baqarah[2]: 269
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Qur’an) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah itu, ia benar-benar telah meraih karunia (kebaikan) yang banyak. Dan HANYA ORANG-ORANG YANG BERAKAL SAJA YANG DAPAT MENGAMBIL PELAJARAN (DARI FIRMAN ALLAH ITU).

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Sabtu, 10 Agustus 2019

HADIS-HADIS HOAX


—Saiful Islam—

“Noise itu apa pun yang dengan sengaja mencoba membuyarkan fokus kita. Bagi Qur’an, Hadis-Hadis hoax inilah noise-nya…”

Saya akui. Memang iya. Kemarin saya menulis ini: “Begitulah. Ayat-ayat Qur’an itu memang bisa menyembuhkan. Yakni energi maknanya. Bukan yang lain. Maka sudah pasti sebuah penyelewengan. Penyalahgunaan, ketika ayat-ayat Qur’an, itu dipakai untuk jompa-jampi. Atau jimat. Atau mantra. Pelaris. Pelet. Mengusir Jin. Sowok. Dan lain semisalnya.”

Bukan hanya itu. Iya, saya juga menulis: “Khasiat Al Qur’an, itu ada di maknanya. Energi makna. Bukan yang lain…”

Termasuk penyelewengan. Ibarat orang memanah, itu tidak pas sasaran. Tampaknya saja, sama-sama membidik. Tapi yang satu membidik titik target yang memang seharusnya. Yang dikehendaki oleh panitia. Sedangkan yang satunya lagi membidik target yang melenceng dari yang ditetapkan panitia. Terjadi kesalahanpahaman perintah ‘membidik’ dari panitia itu. Apalagi ada suara-suara sumbang yang memang sengaja mengaburkan arahan yang sangat jelas dari panitia itu.

Memang tidak ada satu pun ayat Qur’an yang memerintahkan agar kaum Muslimin hanya sekadar membaca Al-Qur’an saja. Hanya sekadar membaca Al-Qur’an, tanpa dipahami isinya, kemudian ya sudah. Kemudian lantas berharap khasiat magis dari bacaan-bacaan Qur’an yang tidak dipahaminya itu. Ini menurut saya, sama saja menjadikan ayat-ayat Qur’an seperti mantra.

Padahal di awal-awal saja. Kalau kita bukan Al-Qur’an, Surat ke-2 (Al-Baqarah) ayat 2, gamblang sekali Allah menunjukkan fungsi firman-Nya itu.
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya. PETUNJUK bagi mereka yang bertaqwa.

Atau malah suibuk menjadikan ayat-ayat Qur’an sebagai wirid saja. Yakni dibaca berulang-ulang tanpa perlu memahami isinya. Atau cukup dihafal saja. Tiga puluh juz. Setalah hafal, tidak ada usaha untuk memahami isinya. Dan kemudian diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tentu ini, menurut saya, salah kaprah. Terjadi penyelewengan. Salah bidikan. Salah sasaran. Ayat-ayat Qur’an itu, bukan hanya untuk dihafal. Tidak hanya untuk diwirid.

Ternyata memang. Salah bidikan itu juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Faktor luar. Istilahnya noise. Yaitu apapun yang berusaha membuat kabur fokus kita. Dalam konteks membidik isi ayat-ayat Qur’an itu sendiri, ternyata noise-nya adalah Hadis-Hadis dhoif (lemah) bahkan palsu (maudhu’). Alias Hadis-Hadis hoax! Contohnya adalah Hadis-Hadis khasiat Surat Yasin, Surat Waqi’ah, Surat Al-Mulk, dan lain-lain. Misalnya berikut ini:

“Siapa yang membaca Surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari, diampuni dosanya. Dan siapa yang membaca Surat al-Dukhan pada malam Jum’at, maka ketika ia bangun pagi hari, diampuni dosanya.” Ini Hadis palsu. Ya, hadis hoax!

Lagi. Hadis, “Siapa yang terus menerus membaca Surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati, maka ia mati syahid.” Hadis ini juga palsu.

Hadis ini lagi, “Siapa yang membaca Surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan dikabulkan semua hajatnya.” Ini Hadis lemah. Alias dhoif.

Ini juga, “Siapa yang membaca Surat Yasin dua kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an (khatam) dua kali.” Juga Hadis palsu. Hoax. Dan beberapa lagi Hadis-Hadis yang seperti ini, kalau tidak dhoif, ya palsu.

Selain terkait Surat Yasin di atas, juga Hadis yang terkait Surat Al-Waqi’ah ini: “Barangsiapa yang membaca Surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan jatuh miskin selamanya.” Ini Hadis dhoif. Dan ini, “Barangsiapa membaca Surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka ia tidak akan jatuh miskin selamanya. Dan barangsiapa setiap malam membaca Surat Al-Qiyamah, maka dia akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat sedangkan wajahnya bersinar layaknya rembulan di malam purnama.” Palsu alias hoax.

Begitu juga Hadis dhoif yang terkait dengan Surat Al-Mulk ini: “Sesungguhnya ada suatu Surat dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafaat bagi yang membacanya, sampai dia diampuni. Yaitu tabaarokalladziy biyadihil mulku… (Surat Al-Mulk).” Iya, ini pun dhoif. Lemah.

Terkait Hadis palsu, semua sepakat bahwa haram menjadikannya sebagai dalil. Tapi yang terkait Hadis lemah (dhoif), memang masih ada yang beralasan bahwa Hadis lemah itu bisa dipakai untuk keutamaan-keutamaan amal. Fadhoilul a’mal. Maklum. Memang ada yang gampangan meloloskan Hadis (tasahul). Sebaliknya, ada juga yang ketat (tasyaddud) dalam meloloskan Hadis. Imam Bukhari, terkenal yang paling ketat meloloskan Hadis. Dari 600.000 (ya enam ratus ribu) Hadis, yang beliau loloskan hanya 7000-an Hadis saja. Nah, saya pro pada yang ketat meloloskan Hadis. Supaya tidak gampang terperosok golongan orang yang berdusta atas nama Nabi.

Terkait berusaha memahami isi Qur’an, tak sedikit kawan yang alasannya begini, “Takut salah, Mas.”

Loh, padahal Allah sudah sungguh telah mudahkan Qur’an ini untuk pelajaran. Wa laqod yassarnal Qur’aana lidzdzikri fahal min muddakir?! (QS.Al-Qomar:17). Terus, kalau salah kenapa?”

“Ya neraka, Mas!”

“Neraka itu, kalau orang tak pernah belajar ilmu-ilmu apa pun. Terutama ilmu-ilmu keislaman. Kemudian lantas menafsiri Qur’an. Lah, Ente. Alfiyah Ibnu Malik, khatam. Qur’an sudah hafal 30 juz. Tidak pas kalau menjadikan Hadis, “Siapa yang manafsiri Qur’an berdasar akalnya sendiri, bersiaplah tempatnya di neraka,” sebagai argument. Pasnya itu, ini: Siapa yang memahami Qur’an dengan jujur dan sungguh-sungguh, jika benar dapat dua pahala. Dan jika salah, dapat satu pahala. Jadi salah pun, masih dianggap benar. Allah itu Maha Bijak. Yang jelas-jelas salah itu, mencuekin Qur’an (QS.25:30).”

Jadi memang. Membaca Qur’an, itu tidak cukup hanya sekadar membaca. Janganlah kita membaca Qur’an ini seperti anak kecil terus. Umur sudah kepala tiga, kepala empat, bahkan kepala lima. Tapi membaca Qur’annya masih saja seperti anak-anak. Harus ada peningkatan. Tujuan dari membaca itu, tidak lain dan tidak bukan adalah pengetahuan itu sendiri. Ya pengetahuan. Ilmu. Dari pengetahuan itu menghasilkan pemahaman. Dari pemahaman itu membuahkan sikap etis dan kinerja tinggi nyata. Diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut ini Allah menjelaskan tujuan dari membaca itu! Yaitu supaya kita mendapat pengetahuan. Allah mengajar kita melalui baca tulis (literasi), itu ya supaya kita menjadi mengetahui sesuatu. Awalnya tidak tahu sesuatu, kemudian dengan literasi menjadi tahu. Kemudian paham. Lantas dipraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini.

QS. Al-‘Alaq[96]: 1 – 5
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
1.      BACALAH dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
2.      Dia telah menciptakan manusia dari al-‘alaq.

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
3.      Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
4.      Yang MENGAJAR (manusia) dengan PERANTARA BACA TULIS (LITERASI).

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
5. Dia MENGAJAR kepada manusia apa yang TIDAK DIKETAHUINYA.

Jadi sudah gamblang sekali. Bahwa perintah membaca itu supaya mendapat ilmu pengetahuan. Dimengerti. Dipahami. Membaca bukan untuk wirid. Bukan untuk mantra seperti yang digambarkan Hadis-Hadis hoax di atas itu.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Rabu, 07 Agustus 2019

QUR’AN MENCAHAYAI AKALMU


—Saiful Islam—

“Khasiat Al Qur’an, itu ada di maknanya. Energi makna. Bukan yang lain…”

Sudah saya ceritakan sebelumnya. Berdasar 8:24, kata-kata positif saya sebut dengan al-muhyi. Penghidup. Sedangkan kata-kata yang negatif, saya sebut sihir. Rasulullah jauh-jauh hari sudah mewanti-wanti kita, “Berkatalah yang baik. Kalau tidak bisa, diamlah.” Berkata yang baik-baik saja, kalau tidak bisa sebaiknya diam, ini bahkan menjadi salah satu tanda orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat. Rasul menasehati agar kita selalu punya kontrol dengan kata-kata kita. Agar selamat, sukses, dan bahagia dunia akhirat, hendaklah selalu mengeluarkan al-muhyi.

Ayat-ayat Qur’an bisa menjadi obat, itu bisa dipahami secara tekstual. Yakni kalimat-kalimat teksnya, jika dipahami dan diamalkan, memang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang ada di dalam dada. Yakni semua penyakit kejiwaan. Dan bisa juga dipahami secara kontekstual. Yakni semua kalimat-kalimat yang baik, benar, dan sekaligus indah.

Bahkan Rasul pun, itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah penyampai peringatan. Misalnya QS.15:89. Penyampai informasi. Karena dengan sampainya informasi itu, semua nilai dan norma Islam akan menjadi prinsip seseorang. Beliau adalah penyampai berita gembira (basyiiron), sekaligus pemberi peringatan (nadziiron). Yang diberikan Rasul kepada kita, memang ‘hanyalah’ kata-kata. Kalimat-kalimat. Pelajaran. Dan menariknya, kalimat-kalimat itu disebut cahaya. Ya, cahaya bagi akal dan hati yang gelap gulita. Yang bingung. Dan tersesat.

Peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. “Dan tetaplah memberi peringatan. Karena sungguh, peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman,” (QS. Al-Dzariyat[51]: 55). Bahkan orang yang saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran disebut orang yang beruntung (QS.103:1-3). Peringatan dan nasehat, itu tak lain dan tak bukan, adalah kata-kata. Kalimat-kalimat.

Al Qur’an juga menyebut. Bahwa kisah-kisah itu mengandung manfaat. Begitu juga sejarah. Termasuk cerita-cerita. Yakni mengandung pelajaran. Misalnya QS.12:111. Termasuk juga dongeng yang baik. Yakni dongeng edukatif. Antara lain mengasah daya pikir dan imajinasi, sebagai media yang efektif untuk menanamkan nilai, etika, empati dan simpati, menumbuhkan minat baca, perkembangan kognitif, perkembangan sosial dan emosional, meningkatkan keterampilan berbahasa, dan lain seterusnya.

Kita menjadi termotivasi dan terinspirasi ya dengan kata-kata. Bahkan menjadi obat galau dan tidak punya pandangan hidup ke depan. Misalnya perhatian seorang ayah yang sangat mencintai dan menyayangi anaknya. “Sudah, Nak. Kamu tidak usah mikiri kerja dulu. Belum waktunya. Jangan mikir yang macem-macem. Urusan uang dan kerja, biar ayah. Tugas kamu, cuma satu. Yaitu, belajarlah yang giat. Belajarlah yang sungguh-sungguh. Taati ibu dan guru-gurumu. Sayangi teman-temanmu. OK ya…”

Bahkan sebagian besar kita, bisa paham, itu ya melalui kata-kata. Sains itu ya memang paparan teoritis ‘belaka’. Yang disampaikan ya lewat kalimat-kalimat. Aplikasi dari teori-teori itu, disebut teknologi. Kalau kita belajar Sosiologi, Antropologi, Politik, Fisika, Kimia, Matematika, Biologi, dan seterusnya di kelas, itu ya melalui kata-kata. Kalimat-kalimat. Teoritis. Sains.

Sejak ditemukan tulisan, peradaban manusia mengalami kemajuan yang sangat cepat dan mengagungkan. Semua penemuan-penemuan di bidang Sains dan Teknologi, itu cikal bakalnya adalah ditemukannya sistem tulisan. Tulisan, memang menjadi tanda pemisah zaman prasejarah dan sejarah.

Rasanya semua orang sudah tahu, bahwa kita pun banyak terpengaruh ya dengan kata-kata. Sebagaimana dampak-dampat positif itu akibat dari kata-kata, dampak-dampak negatif pun itu akibat dari kata-kata. Berkata-katalah yang baik (misalnya QS.33:70-71 dan QS.49:12). Orang bisa rukun, karena kata-kata. Orang bisa bertengkar dan bercerai ya karena kata-kata. Fitnah, hoax, adu domba, dan semisalnya itu ya kata-kata. Sampai-sampai ada istilah brain washing. Alias cuci otak. Tak lain dan tak bukan, ya dengan kata-kata.

Contoh sehari-hari. Misalnya seorang istri yang mendapat info suaminya selingkuh. Bisa-bisa si istri ini sedih dan langsung pingsan. Atau seorang ayah yang mendengar anaknya kecelakaan. Kalau tidak kuat, bisa-bisa dia serangan jantung. Atau struk. Dan lain seterusnya. Ingat, mereka hanya mendapat info. Dan info tak lain dan tak bukan adalah kata-kata. Maka begitu juga. Orang yang menonton stand up comedy, misalnya. Bisa terpingkal-pingkal. Mendapat kabar naik jabatan. Anak lulus terbaik di kampusnya. Mendapat penghargaan dari atasan. Atau laporan penjualan perusahaannya yang naik 200 persen dari sebelumnya. Tentu akan senang. Bahagia. Antusias.

Otak manusia sangat terpengaruh dengan kata-kata. Bahkan mekanisme orang bisa berbicara itu pun luar biasa. Semua perangkat organ-organ penting manusia, itu agaknya untuk tujuan menyampaikan kata-kata dan menerima kata-kata ini. Informasi. Untuk memengaruhi sekaligus dipengaruhi. Seperti mata, telinga, peraba, otak, hati, hidung, dan seterusnya. Sungguh, itu semua adalah keajaiban yang nyata. Cuma terlihat biasa memang, karena kita terbiasa melihatnya.

Jangan coba-coba misalnya Anda mengisolasi anak Anda. Jangan disekolahkan. Jangan dingajikan. Jangan didengarkan sesuatu. Jangan diajari apa pun. Jangan boleh berinteraksi dengan apa pun dan dengan siapa pun. Kurung saja dia di kamar. Terus bertahun-tahun. Sampai dia misalnya umur 18 tahun. Saya jamin, anak itu tidak akan hidup sebagaimana layaknya manusia. Anak-anak Inggris, misalnya. Ya ngomongnya Bahasa Inggris. Anak-anak Jepang, ya ngomongnya bahasa Jepang. Anak-anak Arab, ya ngomongnya Bahasa Arab. Tidak ada anak Jawa, yang ujug-ujug bisa berbahasa Mandarin misalnya. Tidak ada. Kecuali belajar!

Bukan hanya bahasanya. Nilai-nilai yang dipedomani oleh anak-anak, itu tergantung lingkungannya. Terutama orang tuanya. Anak-anak itu dipengaruhi. Tentu terutama dengan kata-kata. Terbiasa hidup di lingkungan yang berkata-berkata kasar, kotor, negatif, begitu juga akan menirukan. Sampai budaya dan keyakinan, itu ya dari kata-kata. Anak yang lahir lingkungannya Hindu, insya Allah akan Hindu juga. Begitu juga lingkungan Buddha, Kristen, Islam, Kebatinan, dan seterusnya. Dan sejatinya, kita ini adalah anak-anak yang bertubuh lebih besar saja.

Bahkan Allah pun sangat mengapresiasi orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Baik itu pengetahuan teoritis maupun praktis. Teori dan praktik memang saling terkait. Teori membutukan praktik. Dan praktik pun membutuhkan teori. Simbiosis mutualistik. Ilmu pengetahuan atau Sains, itu memang lahir dari pengamatan-pengamatan lapangan. Hasil dari pengamatan atau riset lapangan, itu ditulis dan menjadi teori ilmu pengetahuan (Sains) yang baru. Begitu terus. Berputar. Berkelindan. Saling membutuhkan. Saling melengkapi.

QS. Al-Mujadilah[58]: 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman. Apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah. Pasti Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah. Niscaya Allah akan MENINGGIKAN orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan BEBERAPA DERAJAT. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...