Tampilkan postingan dengan label pembesar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembesar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2019

JIN ITU ORANG ASING

—Saiful Islam—

“Menyamakan dukun dan anak indigo dengan rasul-Nya, alangkah kurang ajarnya kita!”

Jika dijadikan buku, saya ingin seri tulisan ini minimal 60 tulisan. Setelah itu, insya Allah saya akan cari topik lain. Ini sudah tulisan ke-58. Sebenarnya, beberapa poin lagi terkait Jin dan sihir ini yang akan saya tulis sudah saya inventarisir. Yaitu: tentang Ruqyah; Alam dimensi lain; Qur’an surat Al Falaq; Mahallul Qiyam (kepercayaan arwah Nabi hadir); Praktik sufi atau tasawwuf yang menyimpang; dan Konsep tuhan atau jin Animisme-Dinamisme, Hindu, Buddha, Kristen, dan Yahudi.

Namun, rasanya saya mesti menjawab dulu respon dan pertanyaan dari kawan-kawan. Seperti satu ini lagi:

“Kalau contoh jika hal2 ghaib gak ada. Lalu isi dari surat jin itu bagaimana?”

================
Begini tanggapan saya:

Sebenarnya, saya tidak pernah menulis bahwa hal-hal gaib itu tidak ada secara umum. Hal-hal gaib itu, menurut saya, memang tidak ada KECUALI diinfokan oleh Al-Qur’an, Hadis Sahih, dan Sains. Dengan kata lain, saya HANYA yakin hal-hal gaib itu ada, SEBATAS info dari Qur’an, Hadis Sahih, dan Sains. Di luar tiga ini, saya memang tidak percaya. Dan saya yakin, di luar info ketiganya itu, gaib-gaib metafisik itu tidak ada. Saya baru bisa mengatakan bahwa gaib-gaib metafisika itu ada, ya memang hanya setelah sampai info dari ketiga sumber kredibel itu saja. Semoga tidak salah paham lagi!

Dari tulisan sebelumnya, saya coba ringkaskan saja soal gaib ini. Gaib itu ada yang fisika. Dan ada yang metafisika. Contoh. Kisah-kisah umat-umat terdahulu, itu fisika atau metafisika? Jawabannya adalah fisika. Gaib atau hadir? Iya, gaib. Jadi, fisika yang gaib. Karena peristiwanya, waktunya, tempatnya, tokoh-tokohnya, tidak kasat mata. Alias tertutup dari pandangan mata. Kita hanya bisa melihat kisah-kisah itu dengan ilmu. Baik dari mendengar maupun dari membaca, menonton, dan seterusnya.

Nah, Jin. Fisika atau metafisika? Jangan terburu-buru menjawab bahwa Jin ini adalah metafisika. Kenapa? Sebab Allah sudah infokan material penyusun Jin itu. Yakni, Jin itu terbuat dari api. Baca QS.55:15 dan QS.15:27. Atau baca lagi tulisan ke-3, Jin Energi Panas. Nah, api itu fisika atau metafisika? Jelas sekali, api ini sesuatu yang fisik. Fisika. Tampak. Bisa dieksperimen dan dijelaskan dengan Sains.

Sama saja ketika Allah infokan bahwa manusia ini dari tanah atau air. Maka unsur-unsur penyusun tubuh manusia ini pun terbukti secara Sains, terdapat di tanah. Seperti zat besi, kalsium, natrium, kalium, oksigen, klorin, hidrogen, magnesium, timah, yodium, mangan, sulfur, karbon, nitrogen, dan seng. Sedangkan api, ringkasnya, variabel api itu adalah oksigen, materi (bahan bakar), dan energi panas. Meskipun gaib memang karena tak kasat mata, unsur seperti oksigen dan energi, itu bisa dilihat oleh Sains. Maka saya pun (sementara ini tentu), melihat kegaiban Jin itu dari sisi variabel api ini. Yakni unsur-unsur, gelombang, atau energi.

Iblis itu dari Jin (QS.18:50). Makanya. Ketika ada kawan yang bertanya, apakah Jin atau iblis atau setan itu sosok? Saya jawab, iblis atau setan itu energi yang memuat informasi negatif. Saya memang percaya variabel alam semesta ini tidak hanya empat: materi, energi, ruang, dan waktu. Tapi lima. Yaitu ditambah informasi. Tepatnya ketika keempat variabel pertama itu diucapi “kun, jadilah,” oleh Allah. “Fayakun, maka jadilah!”. Jadi lantas, ada informasi di dalam materi, ada informasi di dalam energi, ada informasi di dalam ruang dan waktu.

Guru tatap muka langsung saya ini banyak. Terutama di tiga kota. Banyuwangi, Madura, dan Surabaya. Guru ‘pelajaran Agama’ maupun ‘pelajaran umum’. (Saya beri tanda kutip, karena sejatinya ilmu itu tidak bisa dipisah seperti itu. Semua ilmu itu milik Allah). Belum lagi buku-buku yang pernah saya baca. Tentu, semua penulisnya saya anggap guru saya. Nah, saya pernah punya guru yang hebat. Sehebat apa pun, kita mesti tetap kritis. Pakar Ulumul Qur’an. Beliau menyimpulkan bahwa Jin selain yang bermakna pembesar dan orang asing (fisika), juga bermakna Jin spesies dari api yang gaib (metafisika). Tapi tetap Jin gaib yang infonya sebatas dari Qur’an.

Nah, sejauh ini, berarti saya sedikit beda dengan guru saya itu. Titik bedanya, adalah saya melihat Jin ini dari sisi fisik. Atau fisika. Baik itu makna Jin sebagai pembesar, orang asing, maupun spesies yang terbuat dari api. Karena itu tadi. Allah menyebut Jin itu dari api (QS.55:15 dan QS.15:27). Dan api, itu fisika. Unsur-unsurnya bisa dilihat dengan kacamata Sains. Api bukan metafisika! Baca lagi tulisan sebelumnya seri 1 sampai 18 ya…

Tapi ya tetap. Jin gaib ala guru saya itu, adalah Jin gaib yang bentuknya seperti apa, tinggalnya dimana, berjenis kelamin apa, tidak diinfokan oleh Allah kepada kita. Jika ada orang yang bisa mendeskripsikan Jin secara detail, atau menarasikan Jin melebihi info dari Allah itu, maka itu pasti hayalan manusia belaka yang tidak punya dasar rujukan yang ilmiah. Alias cuma rekaan. Cuma ngarang-ngarang.

Kurang lebih beliau menjelaskan bahwa sepanjang penjelasan Al Qur’an, jenis spesies makhluk ini memiliki misi pendendam. Yaitu mengajak manusia untuk kufur dan durhaka kepada Allah. Makhluk Jin gaib ini hanya bisa berkomunikasi dengan manusia dalam satu arah. Caranya adalah membisik-bisikkan obsesi, serta harapan-harapan kosong ke dalam dada manusia. Ujung-ujungnya, jika manusia menuruti bisikan-bisikan itu, akan mengantarkan si pelakunya terkena sangsi dari Allah. Alias dimasukkan neraka. Makhluk gaib ala guru saya ini, ya saya sebut energi yang membawa muatan informasi negatif tadi.

Tapi ya sama saja. Tetap. Bahwa tidak akan pernah ada orang yang bisa melihat Jin. Dan apalagi berinteraksi dengan Jin. Kalau ada orang yang mengaku bisa melihat Jin, termasuk mengaku-ngaku indigo, pasti itu kadzdzab. Dusta. Nggedabrus. Di samping QS.7:27, juga diceritakan dalam QS. Al-Jinn[72] ayat 26 sampai 27, bahwa hanya Allah saja yang tahu hal gaib itu. Tidak diberitahukan kepada siapa pun. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Jadi kalau kita mengatakan bahwa anak indigo yang terbukti secara Sains sakit mentalnya, atau dukun, itu bisa tahu hal gaib, maka itu menyamakan keduanya dengan rasul yang diridhai-Nya. Alangkah kurang ajarnya kita!

Sekarang masuk ke pertanyaan, “Bagaimana isi Surat Al-Jinn?” Pertanyaan ini, terlalu umum. Surat Al-Jinn[72] ini terdiri dari 28 ayat. Kalau ditanya isinya, tentu jawabannya bisa jadi minimal 3 sampai 5 tulisan. Tapi kalau yang dimaksud begini: Jin dalam QS. Al-Jinn itu siapa? Maka jawaban saya bisa ringkas. Yaitu, Jin yang dimaksud adalah orang asing. Ada yang menyebut orang asing ini adalah orang Kristen non Arab. Mereka disebut Jin, karena identitasnya tertutup atau tidak diketahui oleh orang-orang Arab. Intinya, Jin di situ adalah orang. Iya, orang. Bukan Jin gaib antah-berantah.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Wallohu a’lam bishshowaab. Salam

Kamis, 20 Juni 2019

SIHIR-SIHIR SETAN


—Saiful Islam—

“Harut dan Marut, dua orang pemimpin…”

Yang sering kabur maknanya di masyarakat adalah Al Qur’an surat Al-Baqarah[2] ayat 102 berikut ini.

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal Sulaiman tidak kafir, hanya setan-setan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malak di negeri Babil. Yaitu Harut dan Marut. Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan. Sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malak itu apa yang dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat dan manfaat. Dan sungguh mereka sudah tahu, bahwa siapa yang menukar apa yang dimilikinya dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat. Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Ada tiga kata yang mesti kita garisbawahi di sini. Pertama, setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Kedua kata sihir. Dan ketiga, kata dua malak di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut.

Pada umumnya di masyarakat, setan-setan di situ langsung diartikan sebagai sosok makhluk halus yang jahat. Apalagi ditambah kerajaan Sulaiman. Langsunglah terbayang yang ajaib-ajaib. Terus dua malak, yaitu Harut dan Marut, langsung pula diartikan sebagai dua Malaikat. Tambah lagi, ketemu kata sihir. Semakin dalamlah di benak mereka yang mistis-mistis. Nah, sekarang marilah coba kita lihat kembali ayat ini. Dengan perlahan-lahan. Tartil.

Menurut saya, setan-setan di situ adalah orang. Bukan makhluk halus. Berikut ini, saya cantumkan lagi ayat-ayatnya. Bahwa sekali lagi, setan-setan di sini adalah orang. Ini kesimpulan pertama.

QS. Al-An’am[6]: 121
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.

QS. Al-Baqarah[2]: 14
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok."

Mereka disebut setan-setan karena musyrik atau kafir. Baik ingkar kepada Allah, maupun kerasulan. Baik kerasulan Nabi Muhammad. Maupun kerasulan Nabi Sulaiman. Orang-orang musyrik Mekah zaman Nabi Muhammad itu mengikuti yang dibaca oleh orang-orang musyrik di masa Sulaiman. Dalam bentuk naskah. Yaitu sihir. Jadi, sihir di sini adalah sesuatu yang dibaca. Alias dokumen. Baca lagi surat Al-Baqarah ayat 102 di atas perlahan-lahan.

Karena terbatasnya halaman, insya Allah di depan akan saya ceritakan makna sihir dari segi arti bahasanya. Maka kesimpulan keduanya, sihir di sini berarti sesuatu yang dibaca. Apa sesuatu yang dibaca? Ya text. Atau kata-kata yang diucapkan. Intinya informasi yang disampaikan.

Tapi kok sihir disebut bisa menceraikan antara suami dan istrinya? Kata-kata memang bisa menceraikan antara suami dan istrinya. Misalnya si suami difitnah bahwa istrinya selingkuh. Atau sebaliknya, si istri kena fitnah bahwa suaminya bermain api dengan perempuan lain. Hoax. Ini jika tidak dibuktikan, kalau fitnah itu langsung ditelan (dipercaya), tentu saja akan menceraikan antara suami dan istrinya. Makanya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, kata Allah. Kita juga diperintah untuk selalu mengecek kebenaran setiap informasi. Fatabayyanuu

Sekarang kata dua malak yang sering diartikan dua Malaikat itu. Kata malak diambil dari kata Malaikat, ini adalah pendapat ahli tata Bahasa Arab (grammar atau nahwu). Sebagaimana disebutkan dalam Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Namun jangan lupa, di situ disebutkan pula, bahwa kata malak itu diambil dari kata al-milk yang berarti memiliki. Pendapat kedua inilah yang lebih kuat (muhaqqiq).

Bahwa malakun itu adalah yang menghandle urusan terkait siasat (strategi dan taktik) dari bangsa Malaikat. Sedangkan dari bangsa manusia, disebut malikun. Nah, di Lisan al-Arab ternyata ada keterangan bahwa Harut itu nama dari malakun atau malikun. Jadi Harut dan Marut di situ adalah nama orang yang memiliki. Yang memiliki apa? Memiliki kekuasaan. Atau pemerintahan. Harut dan Marut ini dua pembesar di negeri Babil. Keduanya bisa gubernur atau paling tidak bupati lah kalau sekarang.

Dan memang, biasanya kata-kata pemimpin itu mudah sekali berpengaruh. Biasanya orang memang terpengaruh dengan kalimat yang dikutip dari ‘orang besar’. Quote. Terutama kepada orang-orang awam. Yang jauh dari ilmu pengetahuan. Yang jauh dari Sains dan Qur’an. Yang mistik pikirannya.

Jadi, kalau kita lihat QS. Al-Baqarah[2]: 102 ini dari ayat 106-nya, Allah menghadap-hadapkan antara keimanan dengan kekafiran. Allah memversuskan antara ayat-ayat-Nya dengan sihir. Yakni kata-kata atau kalimat-kalimat yang bermanfaat dengan kalimat-kalimat yang tidak ada manfaatnya, bahkan mencelakakan.

QS. Ibrahim[14]: 24 - 25
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
25. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Sampai di situ dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Rabu, 19 Juni 2019

JIN NABI SULAIMAN


—Saiful Islam—

“Jin itu, ya menteri kalau sekarang…”

Dalam QS. Al-Naml[27] ayat 20 sampai 28 dikisahkan tentang Nabi Sulaiman yang sedang apel dengan para tentaranya. Ketika ia mengabsen, ternyata tentara khususnya yang bernama Hudhud, belum hadir. Nabi Sulaiman akan memberinya sebuah konsekuensi berupa hukuman. Tak pantas bawahan tidak hadir tanpa keterangan dalam sebuah pertemuan penting. Kecuali, jika Hudhud itu punya alasan yang dibenarkan.

Ternyata tentara khusus Nabi Sulaiman yang satu itu, memang bisa diandalkan. Hudhud baru datang dari Saba’—nama kerajaan di zaman dulu, beribu kota Ma’rib yang terletak di kota San’a (Ibu kota Yaman sekarang). Ia membawa berita penting dari sana. Bahwa raja Saba’ itu adalah perempuan. Besar singgasananya. Kaya raya. Namun sayang, Ratu cantik ini menyembah matahari.

20. Dan dia memeriksa burung-burung (pasukan khusus) lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?

21. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika ia benar-benar datang kepadaku dengan alasan yang terang.”

22. Maka tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini.

23. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.”

24. Aku mendapatinya dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.”

25. Agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.”

26. Allah, tiada Tuhan yang disembah kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai 'Arsy yang besar.”

27. Sulaiman merespon: "Akan kita lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.

28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan."

Setelah mendapat surat itu, Balqis bermusyawarah dengan para ajudannya. Terutama para menteri dan jenderalnya. Rupanya ia akan menempuh jalan persuasi. Mencoba membujuk Sulaiman. Yaitu dengan memberi hadiah kepada Sulaiman lewat para utusan yang dikirim kepadanya. Supaya tidak terjadi pertumpahan darah dalam perang.

Tapi, dengan tegas Nabi Sulaiman menolak. Dia tetap akan menaklukkan kerajaan Balqis itu kalau tetap mengajak penduduk Saba’ menyembah matahari. Nabi Sulaiman murka. Pertama, karena mereka menyembah selain Allah, yakni menyembah matahari. Kedua karena mereka sombong, merasa lebih kaya dari Nabi Sulaiman, sampai berani menyogok Nabi Sulaiman. Gratifikasi. Penghinaan yang besar.

29. Ia (Balqis) berkata kepada para menterinya, "Hai para pembesar. Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

30. Sesungguhnya surat itu dari SuIaiman dan (isi) nya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

31. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".

32. Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini). Aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).”

33. Para pembesar itu menjawab: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan). Dan keputusan (tetap) berada di tanganmu. Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.”

34. Balqis menjawab: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya. Dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina. Demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

35. Sungguh aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”

36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: "Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

37. Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba’) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina".

Maka, surat telah disampaikan. Tawaran persuasif agar mereka menyerah, sudah dilakukan. Rupanya Balqis tidak mau. Dia tetap ingin menyembah matahari. Dia tetap ingin menjadi ratu dengan segala kemewahannya. Bahkan dia sombong dengan merasa lebih kaya dan terhormat dari Nabi Sulaiman.

Maka, setelah rapat dengan para pembesarnya, para menteri dan jendralnya kira-kira kalau sekarang, Nabi Sulaiman akhirnya memerangi Balqis dan bala tentaranya. Ringkas kisah, kerajaan ratu Balqis yang megah itu ditaklukkan oleh Nabi Sulaiman. Jadi, diperangi dulu oleh Nabi Sulaiman. Setelah kalah, barulah ratu Balqis menyerah. Dikisahkan dalam ayat-ayat berikut ini.

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
38. Sulaiman berkata, "Hai pembesar-pembesar. Siapakah di antara kalian yang sanggup membawa singgasananya (menaklukkan kerajaannya) kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”

قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ ۖ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ
39. (Seseorang yang bernama) 'Ifrit dari golongan Jin menjawab, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya (telah ditaklukkan), ia pun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

41. Sulaiman berkata lagi, "Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).”

42. Ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah singgasanamu?" Ia menjawab, "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

43. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya). Karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang ingkar.

44. Dikatakan kepadanya, "Masuklah ke dalam istana.” Tatkala ia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Balqis menjawab, "Ya Tuhanku. Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam".

Nah. Kesimpulannya begini. Pertama Jin Nabi Sulaiman itu pembesar. Atau orang besar. Atau orang bangsawan. Seperti menteri lah kalau sekarang. Tampak sekali di situ, ketika Nabi Sulaiman berkata, “Wahai para pembesar…” Kemudian barulah dijawab oleh Ifrit. Jadi, Ifrit itu ya salah seorang bangsawan itu. Ingat ya, kalimatnya adalah “qoola ‘Ifriitun min al-jinni”. Ifrit dari Jin berkata. Tidak “jinnu ‘Ifriitin”. Bukan Jin Ifrit, yang selama ini umum di masyarakat.

Bangsawan itu disebut Jin, karena biasanya tertutup dari rakyat biasa. Tidak gampang rakyat biasa bisa berinteraksi dengan seorang bangsawan. Sehingga sifat-sifatnya, ide-idenya atau rencana-rencana kerjanya, perkataan, sampai perbuatannya tertutup dari masyarakat pada umumnya. Sudah pas dengan arti asal kata jinn, yaitu apa pun yang tertutup oleh pandangan mata. Apalagi pada zaman itu, teknologi informasi tidak secanggih sekarang. Tidak ada seperti gawai (gadget) dan internet.

Ingat lagi, al-jinn itu sering Allah lawankan dengan al-ins. Jadi sudah pas, al-jinn itu bisa digunakan untuk menyebut para bangsawan. Maka, al-ins bisa digunakan untuk menyebut rakyat biasa. Masyarakat umum. Atau orang kebanyakan. Kalimat Ifrit, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu,” bercerita tentang keyakinannya bisa menaklukkan kerajaan ratu Balqis dengan mudah. Tidak perlu waktu lama. Mengingat militer Nabi Sulaiman jauh lebih hebat dari militernya Balqis.

Kedua, kata al-kitab (buku) yang disebut pada ayat 40 itu, berarti buku atau ilmu dan skill canggih tentang teknik sipil. Bukan kitab suci. Adapun kalimat "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip,” maksudnya orang ini bisa lebih cepat menaklukkan kerajaan Saba’ dibanding Ifrit. Bukan hanya menaklukkan, bahkan orang ini bisa membangun istana persis seperti milik Balqis di kerajaan Nabi Sulaiman.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...