Rabu, 12 Februari 2014

MINDSET ANTI GALAU



 
Siapa yang berani berharap, maka dia harus sudah siap kecewa. Semakin besar harapan, semakin besar potensi untuk kecewa. Apalagi bila harapannya kepada manusia; kepada atasa, kepada pacar, kepada sahabat, kepada tetangga, dan seterusnya.
Islam sendiri tidak membiarkan soal berharap ini. Dalam Alquran jelas sekali bahwa harapan itu memang harus pada Allah saja. Wa ila rabbika farghab. Dan hanya kepada Tuhanmu, berharaplah. Kenapa harus pada Allah saja? Ya jelas, agar kita tidak kecewa. Karena hanya Allah yang tidak pernah mengecewakan siapa pun yang berharap kepada-Nya. Kalau masih manusia, sangat berpotensi untuk membuat kecewa.
Makanya, jangan terlalu perfect berharap dari seorang manusia. Kalau Anda punya anak buah atau karyawan, jangan pernah berharap akan memberikan 100% persis dengan apa yang Anda harapkan. Kalau Anda punya anak, isteri, murid, bos, rekan bisnis, dan semisalnya, jangan pernah menyangka mereka akan memuaskan sempurna harapan Anda.
Soal janji misalnya. Meski Allah befirrman dengan perintah (fi’il amar), “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji kalian”, tapi kalaupun dilanggar, tetap saja dimaafkan oleh Allah kalau dia minta maaf (istighfar). Makanya, Allah juga mengampuni semua dosa kecuali syirik. Kenapa satu sisi Allah memerintah, tapi di sisi lain Allah Maha Mengampuni salah? Karena memang dari sononya, manusia adalah tempatnya salah dan lupa.
Lalu apakah hukum percuma? Tidak! Tidak bisa orang mengatakan, “Ah kan diampuni juga sama Allah, melanggar dikit-dikit kan nggak apa-apa?!”. Sebab, hukum itu semestinya berfungsi mengurangi potensi salah dan lupa manusia itu sendiri. Maka, Allah pun memberi reward orang yang lebih teguh dalam mematuhi hukum-hukum-Nya. Ya tentu beda hadianya antara orang yang taat hukum, dengan taat-taatan hukum.
Tentu saja, orang yang lebih taat kepada-Nya, pasti lebih disayang oleh Allah. Dalam hubungan dengan diri sendiri, kita mesti tetap komitmen dan konsisten berusaha untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Terutama yang implikasinya hubungan antar sesama manusia. Namun dalam kaitannya interaksi dengan manusia lain, kita harus tetap senyum bila menyaksikan kemaksiatan itu. Jangan sampai, gara-gara tingkah laku ceroboh orang lain, kita tidak bahagia. Tetap, maafkanlah. Selama kita tetap memaafkan, maka di situ kita dekat dengan kebahagiaan.
Dengan mindset seperti itu, diharapkan kita punya persiapan lahir batin. Agar kita tidak terlalu kecewa. Agar kita tidak putus asa dari rahmat Allah. Dan tetap yakin bahwa Allah selalu memberi yang terbaik bagi kita.
Di sinilah sikap tawakkal diperlukan untuk mengambil peran. Kita rencanakan, kita usahakan, kalau perlu ada hitam di atas putih, namun urusan hasil tetap kita berharapnya sama Allah saja. Selama hubungan dengan orang lain, maka selama itu pula masih berpotensi untuk mengecewakan. Tapi, kalau kita menguatkan tawakkal itu, insya Allah kita akan tetap tegar. Mampu memandang persoalan dengan mata hati yang masih jernih.
Kita boleh berharap agar ringking 1. Kemudian diperjuangkan dengan belajar dan berlatih yang sungguh-sungguh. Belajar lebih banyak dengan cara lebih cerdas. Dan seterusnya. Tapi, tetap masih berpotensi untuk mengecewakan kalau kita harapannya masih kepada ringking 1 itu sendiri. Beda kalau kita tetap berharap kepada-Nya. Yakin bahwa apapun hasilnya adalah yang terbaik bagi kita. Dan sudah pasti, bahwa Allah tidak menutup mata dengan usaha kita.
Kita boleh berharap agar omset dagangan kita sekian juta perbulan. Kemudian diperjuangkan dengan usaha yang keras, cerdas dan ikhlas. Tapi bila masih terkait interaksi dengan orang lain, tetap saja berpotensi untuk mengecewakan. Maka, harapannya juga harus tetap kepada Allah, agar kita lebih siap memenej kekecewaan itu menjadi kebahagiaan dan penuh syukur.
Kita boleh berharap pacar kita jadi isteri kita, setia dan langgeng dalam pernikahan. Kemudian diusahakan dengan hati dan qalbu yang cerdas. Tapi, masih tetap kalau masih interaksi dengan manusia, berpotensi mengecewakan. Dan seterusnya dan sebagainya.
Maka dari itu, milikilah mindset yang tergambar dalam doa ini; “Ya Allah, bila ia baik bagiku, baik bagi agamaku, hidupku dunia dan akherat, mudahkan dan berikan ia kepadaku. Tapi kalau ternyata dia memang buruk bagiku, buruk bagi agamaku, dan buruk bagi kehidupan dunia-akhiratku, jauhkan dia dariku. Dan jadikan aku orang yang ridla terhadap semua ketentuan-Mu”. 
Insya Allah dengan mindset seperti ini, kita menjadi pribadi anti galau. Selamat mempraktekkan...;)

Gabung juga di @ipoenkchampion.
Mohon izin penulis dulu di ahmadsaifulislam@gmail.com, bila berniat menerbitkan tulisan-tulisan di blog ini. Terima kasih salam menang...:)

Selasa, 11 Februari 2014

MENGARAHKAN VISI MISI





Jangan benci kepada kesalahan kecil. Benci, dengki, iri, dongkol nggak boleh bersemayam di hati. Kalau pun mampir, jadikan melintas saja. Segera lepaskan atau delete sekalian. Karena, akal dan hati kita tidak untuk itu dititipkan Allah. Tapi untuk hal-hal besar terkait dengan tugas kekhalifahan.
Ketegasan, tentu berbekas di hati. Tapi, sebenarnya gunakan akal saja. Ketegasan sertai dengan otak, tanpa harus terlalu diambil hati. Yang lalu biarlah berlalu. Carilah masalah lagi sekarang dan di depan. Bukan terpaku pada masalah-masalah kecil yang menyedot perhatian hati kita.
Kalau berbuat biar dipuji, kecaci, atau diketahui orang lain, namanya kafir’. Berbuat agar tidak dipuji, dicaci atau diketahui orang lain, namanya riya’. Yang lurus adalah karena Allah saja. Nah, karena Allah itu don’t care kepada manusia. Mau memuji, mau mengejek, mau diketahui, mau tidak, tidak usah diperdulikan. Manusia harus disilang. Pandanglah Allah saja.
Satu sisi, kita memang harus menyesuikan diri dengan orang lain. Fungsinya, agar kemudian hari mereka tertarik dalam dunia kita. Namun bersamaan dengan itu, orang lain harus menyesuikan kita. Maka, buatlah diri kita menjadi cahaya. Nah, tidak ada ceritanya cahaya menghampiri kegelapan.
Urusan hal-hal kecil, okelah kita ngalah. Kalau buah apel Anda dimakan teman tanpa izin, okelah membiarkan. Tapi untuk urusan-urusan besar dan penting, haram kita ngalah. Kenapa? Karena memang itulah fungsi agama. Yaitu melindungi diri, harta, agama, akal, keluarga, ilmu, dan seterusnya.
Saya tidak tahu, bagaimana lingkungan Anda masing-masing. Tentu saja berbeda. Namun, sepengetahuan saya bahwa lingkungan itu banyak yang menghambat meraih visi kita. Atau paling tidak, membuat lambat hingga parahnya membuyarkan impian atau visi kita. Maka, kita harus tegas mengatakan tidak bergaul dengan mereka. Kita mesti tegas mengatakan tidak bahwa memang itu tidak berguna bagi visi kita. Meski secara umum ada manfaatnya yang kecil, terutama bagi mereka.
Perlu untuk ditegaskan lagi, bahwa kita diciptakan bukan untuk menjadi sampah. Tapi sebuah makhluk hasil desain Allah untuk mengembang tugas kekhalifahan. Untuk mengharumkan nama-Nya dan mewujudkan kehendak-kehendak-Nya. Ya, kita adalah delegasi Tuhan. Setiap kita memiliki visi misi ketuhanan ini.
Maka, sempatkanlah merenung dan berpikir. Untuk mengetahui mana yang benar-benar besar dan harus diperjuangkan. Dan mana yang memang kecil, memang remeh, memang tidak penting, yang tidak sepatutnya menjadi perhatian hati dan pikiran kita. Sekali lagi, akal pikiran ini adalah untuk hal-hal besar menyongsing perubahan besar yang selalu berorientasi pada kebaikan, kebenaran dan keindahan.
Tentu sangat sayang, bila Anda punya rumah sebesar istana namun hanya dihuni Anda saja. Atau sangat sayang bila Anda punya rumah, namun tidak dihuni sehingga dijadikan tempat sampah oleh orang lain. Seperti itulah hati dan akal pikiran kita. Sayang bila ditempati sesuatu yang remeh bahkan sampah atau bangkai akibat ulah tidak bertanggungjawab lingkungan. Padahal, inti dari manusia sejatinya adalah hati, akal, dan pikirannya. Ini benar-benar amat mahal.
Ingat, tidak semua yang menyenangkan itu positif bagi hati, akal pikiran kita. Bahkan sudah umum “senang-senang” sering melenakan. Moment seperti itu adalah kesempatan emas bagi iblis untuk menggelincirkan kita. Mencari kesenangan boleh saja. Asal tetap waspada. Padahal, dengan hati, akal pikiran yang bersih bisa menghibur pemiliknya tanpa harus mencari dari luar. Kebahagiaan itu, bukan soal materi. Tapi soal bagaimana memenej hati dengan akal yang terpelihara.
Masih banyak hal-hal besar yang butuh perhatian kita. Hati dan akal pikiran kita memang telah diberi kapabilitas oleh Allah untuk hal-hal besar dan jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan. Sudah banyak buktinya, para ilmuwan, seniman, sastrawan, budayawan, agamawan dan seterusnya. Mereka adalah orang-orang yang menang dan sukses membawa dirinya pada cahaya. Sehingga cahaya itu mantul dari dirinya yang diikuti oleh orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.
Kalau sudah demikian, insya Allah kegelapan akan menghampirinya secara berangsur-angsur. Cahaya menerangi kegelapan.

JATUH CINTA LAGI




Urusan kekasih, memang orang banyak kalut. Cepat emosi. Logika tidak berfungsi lagi. Apalagi, sampai kekasih dibawa orang lari. Orang bisa melakukan apa saja untuk melegakan emosinya. Kalau uang yang hilang, orang masih bisa mikir cari lagi. Tapi kalau sudah urusan kekasih yang hilang, urusan cinta, orang sering putus asa. Lebih parah lagi, orang bisa berani bunuh-bunuhan. Apalagi seorang laki-laki yang memang kekasihnya adalah pujaan hatinya. Namun, soal ini bisa diselesaikan secara bijak dan dewasa.
Suatu hari, kebetulan saya flu. Sementara isteri saya biasa belanja di warung sebelah pagi hari sebelum saya berangkat kerja. Saya pun minta tolong kepadanya, “Yhang, tolong ntar belikan Bodrex flu dan batuk yaa?”. Tak disangka, isteri saya menjawab seperti ini, “Jangan banyak-banyak obat Mas. Kayak tetangga sebelah dulu, minum Bodrex dicampur Sprit, langsung mati. “Lo, kok bisa mati Yhang?”, tanya saya penasaran. “Dia memang niat bunuh diri!”, jawabnya. “Kenapa kok bunuh diri?”, tanya saya lagi. “Iya, soalnya isterinya selingkuh”. Mendengar jawaban itu, saya pun terkekeh-kekeh, “kwkwkwk...”, sambil coba membayangkan perasaan orang itu.
“Isteri selingkuh, kok bunuh diri Mas Mas... Isteri selingkuh tuh ya, cari isteri lagi. Kawin lagi aja. Bunuh diri? Ah, kayak di dunia ini perempuan Cuma satu saja. Isteri selingkuh, sudah menikah lagi saja. Gitu aja kok repot”. Mendengar komen saya, isteri saya mencoba meredam, “Hus... Jangan ngomongin orang Mas”. Saya jawab, “Aku nggak ngomongin orang, tapi ngomongin mayyit. Tyus, agar kita mengambil pelajarannya”. Ya, menikah lagi jauh lebih baik daripada bunuh diri seperti itu.
Itu sama dengan seorang pemuda atau pemudi yang dikhianati kekasihnya. Mestinya, nggak usah sedih. Nggak usah susah. Hidup ini cuma sekali. Hidup ini berarti. Hidup ini sangat mahal. Kalaupun sedih, manusiawi saja. Karenanya, jangan lama-lama sedih dan susah. Bisa-bisa iblis terkekeh-kekeh melihat Anda sedih. Sementara malaikat ingin menghibur kita. Allah dan Nabi SAW pun mengharap agar kita bahagia. Bukan sedih. Lepaskan saja, plongkan saja.
Sakit hati itu perlu segera diobati. Apa obatnya? Tidak lain dan tidak bukan adalah jatuh cinta lagi. Begitu yang sering diungkap oleh Mario Teguh dalam Golden Ways. Jangan lama-lama meratapi dan menyesali perbuatan lacur orang yang pernah kita cinta. Segera cari yang lain. Mendapatkan cinta lain. Yakinlah, masih banyak yang baik bisa menjadi pasangan hidup sejati kita. Masih banyak yang cantik atau tampan. Baik hati maupun fisiknya. Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.
“Emangnya, laki-laki cuma Ello. Emangnya cewek, hanya Ente. Hidup gue lebih mahal tau’. Gue bisa nyari yang lebih keren dari Ello. Apapun akan kulakuin untuk dapatkan itu. Walau di ujung dunia sekalipun. Mendapatkan pasangan hidup itu, mudah. Apalagi sama-sama butuh. Sangat banyak orang selain Ello yang juga butuh pasangan hidup kayak gue. Gue akan cari belahan jiwa sejati gue.” PD kayak gini jauh lebih baik daripada harus bunuh diri.
Bagaimana resep Nabi Muhammad? Sederhana saja namun sangat bermakna dan bernilai. “Kalau engkau cinta kepada seseorang, sekedarnya saja. Karena bisa jadi yang kau cinta jadi musuhmu. Kalau engkau membenci kepada seseorang, sekedarnya saja. Karena bisa jadi yang kau benci, menjadi kekasihmu”. Begitu kurang lebih. Cinta pol-polan itu mestinya hanya pada Allah, rasulullah dan orangtua saja. Kalau masih pada teman, sahabat, HP, rumah, kendaraan, hewan piaraan, apalagi baru pacar, kasih maksimal 50% saja. Berat memang, tapi perlu dicoba dan diusahakan.
Bahkan Allah menegaskan, “Bisa jadi apa yang kalian cinta itu buruk bagi kalian. Dan bisa jadi apa yang kalian benci itu baik bagi kalian. Allah lebih tahu dan kalian tidak tahu” (QS. Al-Baqarah[2]: 216). Kita boleh menganggap sesuatu itu baik. Kita juga boleh menilai sesuatu itu buruk dengan akal kita. Namun, kenyataannya bisa beda. Makanya, kalau memang cinta sekedarnya saja. Kalau memang benci, sekedarnya saja. Di sini dibutuhkan doa, “Jika itu baik bagiku, berikan kepadaku. Jika itu buruk bagiku, jauhkan dariku. Dan jadikan aku puas dengan segala pemberian-Mu”.
Lagian, apa yang kita cinta sudah pasti bakal meninggalkan kita. Atau sebaliknya, kita duluan yang meninggalkan mereka; suami/isteri, harta, jabatan, sahabat, dan semuanya. Maka mencintai dan membenci sesuati porsinya memang penting dan bermanfaat. Ya, semua itu adalah titipan. Maka, yang terpenting sesungguhnya adalah bukan penitipan atau pemilikan itu sendiri. Tapi, bagimana kita memanfaatkan sebaik-baiknya saat kesempatan penitipan itu masih pada kita. Sehingga ruhnya tetap masih bisa kita bawah hingga ke surga.

KEAJAIBAN TEAMWORKING




Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Shaff[61]: 4)

Ayat ini berbicara anjuran agar bekerja dalam team atau networking. Digambarkan seperti bangunan yang tersusun kokoh. Yang namanya bangunan, ya tentu ada pasir, misalnya, terus ada batu, bata, kapur, semen, besi dan lain seterusnya. Selain untuk kekuatan itu, juga perlu diperindah. Misalnya dengan desain, motif, cat, taman, kolam, hingga perabot-perabot interior lainnya. Jadi, tidak mungkin yang namanya bangunan sendiri saja, misalnya semen saja atau besi saja.

Perlukah teamwork? Sangat penting, perlu dan bermanfaat. Terutama untuk kebaikan, kebenaran dan keindahan. Lebih-lebih untuk perjuangan agama dan kemaslahatan orang banyak. Lebih tegas imam Ali menegaskan, “Kebaikan yang tidak tertata rapi akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir dengan profesional”.

Maka memang dibutuhkan sebuah kelompok, sebuah team, sebuah organisasi untuk mewadahi semua aspirasi positif. Ibarat kuno masih sangat relevan di sini, bahwa sapu lidi akan lebih cepat dan lebih banyak membersihkan bila diikat menjadi satu. Lain cerita bila lidinya sendiri-sendiri digunakan untuk membersihkan. Dijamin butuh waktu saangat lama dan hasil yang sangat tidak maksimal.

Kerja sama adalah percepatan. Bukan sekedar kecepatan. Percepatan adalah perubahan kecepatan per satuan waktu. Kalau misalnya ada orang lima belas menit bisa dapat satu putaran, nah dengan percepatan lima belas menit bisa menghasilkan lima putaran bahkan lebih. Bisa juga disebut keajaiban, lompatan atau terobosaan. Nah, teamwork adalah salah satu percepatan itu yang bisa dimanfaatkan.

Makanya tidak heran bila teamwork mendatangkan rezeki atau hasil yang berlimpah. Hal ini ditegaskan oleh Nabi SAW dengan sabdanya, “Siapa yang ingin diperluas rezekinya dan diperpanjang usianya, maka hendaklah dia bersilaturahim” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Anas bin Malik r.a.). Nah, bentuk dari silaturahim bisa berupa kerja sama dalam bisnis, agama, sosial dan seterusnya.

Dalam berbisnis misalnya. Teamworking sangat bermanfaat bagi kedua belah pihak. Kalau punyanya hanya tenaga, bisa kerjasama dengan orang yang punya ide bisnis dan pemodal. Kalau bisanya modal, ya bisa cari tenaga orang dan ide orang. Kalau bisanya ide bisnis, ya bisa cari modal dan tenaga orang. Hasilnya, profit sharing alias bagi-bagi, sesuai prosentase yang disepakati. Islam tidak hanya mengajarkan tapi memang menganjurkan.

Mari kita cermati, sabda Nabi riwayat Bukhari Muslim yang membicarakan hubungan sesma mukmin berikut: “Bagiakan satu jasad yang bila salah satu organnya merasakan keluhan, maka seluruh anggota tubuh tak dapat tidur dan merasa deman”. Bisa digambarkan bahwa mukmin yang lain adalah bagian dari diri kita. Islam sangat memotivasi agar umatnya rukun. Sebab dengan kerukunan itulah lahir kekuatan yang tak mudah goyah apalagi dirobohkan.

Teamwork tidak diharuskan anggotanya mempunyai keahlian yang sama. Malah kalau sama, bisa kacau dan tidak maksimal. Ambil contoh membangun sebuah masjid. Dijamin tidak jadi-jadi masjid itu kalau yang kerja kiai semua. Justru lebih cepat selesai bila ada arsiteknya, tukangnya, kulinya, pemodalnya, kiainya, tukang listeriknya, tukang airnya, dan seterusnya. Semakin bervariasi semakin maksimal hasilnya.

Atau misalnya lagi, pertandingan sepak bola. Bisa dibayangkan kalau yang main backer semua atau penyerang semua. Sudah bisa dipastikan tidak akan bagus mainnya. Juga muda sekali untuk dikalahkan. Atau malah jika yang main pelatih semua. Bisa-bisa bukan main sepak bola tapi adu mulut, hehehe. Di buku saya, pernah dibahas soal ini. Bahwa Lionel Messi sama hebatnya dengan Guardiola. Tidak bisa dihebatkan salah satunya.

Jauh-jauh hari Allah menegaskan bahwa memang kebersamaan itu tidak harus menjadikan semua pihak melakukan satu pekerjaan yang sama. Justru dengan perbedaan fungsi itulah tujuan kebersamaan itu lebih mudah diraih. Berikut ayatnya:
 
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (QS. Al-Taubah[9]: 122)

Ikutan Yuk di sini: @ipoenkchampion

Senin, 10 Februari 2014

RAHASIA BASMALLAH

Bismillahirrahmanirrahim... Dari dulu (belum terlalu jauh kenal agama), saya amat suka kalimat ini. Paling mudah ditulis menjadi kaligrafi, juga artinya mudah diingat dan juga nyaman di hati. Bagaimana tidak, "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyang". Disamping juga mudah dihafalakan. 

Kenapa nyaman di hati? Sederhana saja. Dia memperkenalkan diri-Nya sebagai yang Maha Pengasih. Dalam bahasa Jawa artinya eloman, suka memberi atau dermawan. Kita jadi tahu dan bahkan nyadar bahwa kita hidup tidak otomatis atau dengan sendirinya ada. Tapi kita ada yang menciptakan, yakni Allah SAW. Ditambah lagi, dia Maha Pengasih kepada kita. Coba dibayangkan, berapa harga oksigen? Berapa harga jantung, hati, liver, paru-paru, dan otak kita? Saking mahalnya, kita tidak bisa menentukan harganya. Dan itu Allah kasih gratis kepada kita. 

Kedua, Allah memperkenalkan dirinya sebagai Yang Maha Penyayang. Yang namanya menyayangi, kurang lebih lihat saja orang tua saat menyayangi kita. Kita salah, dimaafkan. Kita nakal, dimaafkan. Kita keliru, dibernarkan dan diarahkan. Kita mau apa diberi yang sesuai dengan keinginan kita, sambil juga mempertimbangkan baik buruknya bagi kita. Kira-kira begitu Allah kepada kita. 

Kalau sudah Pengasih dan Penyayang, tentu Dia sangat menginginkan kita selamat dan bahagia. Di dunia maupun di akherat. Bukannya membiarkan. Sebagai solusi, Dia menurunkan Alquran dan rasul-Nya. Tujuannya jelas, agar akal dan hati kita selalu mendapatkan arahan-Nya yang nggak mungkin salah sedikitpun itu. Jadi amat sangat merugi, siapa saja yang menjauh dari Alquran. Karena sama sekali tidak merugikan Allah. Dan karena Alquran itu memang untuk manusia. Bila seseorang celaka karena menjauhinya, jangan salahkan Allah. Karena kita sudah diberi akal. 

Kalau sudah Maha Pengasih dan Penyayang, tentunya Dia suka mengampuni kesalahan kita. Meski syirik pun tapi kalau bertaubat dan tidak diulangi lagi, Allah tetap ampuni. Coba perhatikan firman-Nya, "Allah tidak mengampuni syirik dan mengampuni dosa selain itu kepada siap yang Dia kehendaki". Syirik yang tidak diampuni ialah syirik yang dibawa hingga mati. Rata-rata sahabat senior Nabi SAW dulunya musyrik. Tapi kemudian diampuni oleh Allah karena mereka kembali kepada-Nya. Itulah bukti bahwa Allah memang "welas" kepada kita. Hanya kadang, sukanya kita nyari jalan-jalan sendiri yang hitam. 

Allah itu memang Pengasih dan Penyayang. Pengasih dan penyayang-Nya, melebihi murkanya. Maka fokuslah pada pengasih dan penyayang-Nya. Bukan pada murka-Nya. Mari berusaha, melakukan aktivitas-aktivitas baik mahdhal seperti shalat, puasa, dan seterusnya maupun aktivitas sehari-hari seperti pekerjaan kita. Insya Allah, Dia menambah rahmat-Nya sehingga kita benar-benar selamat, bahagia dan sukses tidak hanya di dunia tapi juga akherat.

Allah sangat sayang kepada kita. Namun yang banyak, kita yang tidak sayang dengan diri kita sendiri. Ya, kita sering suka menganiaya atau zhalim pada diri sendiri. Sudah tahu dengan jelas bahwa suatu tindakan akibatnya buruk, tapi masih juga terus melakukannya. Dikasih jalan yang benar, eh malah nyari jalan yang salah. Padahal, kalau kita mendekat kepada yang membuat hidup ini, Dia akan ikut menata hidup kita yang serba misteri seperti ini: jodoh, rezeki, kematian dan seterusnya. 

Maka, dengan serba keterbatasn kita, yuk kita selalu mendekat dan melibatkan Allah dalam setiap aktivitas kita sehari-hari. Yakin, Dia akan selalu memberi kita yang terbaik. Walau kadang persepsi kita sering salah menilai sesuatu, di situlah Allah berperan menuntun akal, hati dan langkah kita. "Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, katakanlah bahwasanya Aku sangat dekat dengannya", begitu firman-Nya. Di lain ayat, "Aku lebih dekat dengannya melebihi urat lehernya sendiri". 

Masa depan kita masih suci. Lupakan masa lalu kita yang kelam. Minta maaf kepada Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang itu, maka Dia pasti mengampuni kesalahan dan dosa kita. Kita tidak hidup di masa lalu. Kita cukup jadikan masa lalu untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah. "Hai, orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tiap-tiap diri hendaknya melihat apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok". Ayuk, kita kembali kepada-Nya. Kita bekerja bersama-Nya. Dia selalu mengasihi dan sangat sayang kepada kita. 

Sobat Pemenang, Yuk gabung juga di twitter @ipoenkchampion Untuk dapatkan pencerahan dan tips-tips menari lainnya...;))

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...