Minggu, 16 Februari 2014

MEMBREDELI KESALAHAN BESAR



 Ini, “curhat” Agus Mustofa, yang saya amini. Saya bagikan untuk Sobat Pemenang sekalian... (Tidah perlu dikomen, bagikan saja)

Jangan sampai seorang ibu yang sedang hamil sembarangan menggugurkan janinnya. Meskipun baru berumur beberapa hari atau beberapa minggu. Karena, sungguh, sejak hari pertama itu si embrio sudah hidup. Sehingga pengguguran tanpa alasan yang benar adalah bermakna pembunuhan sewenang-wenang yang dilarang Alquran.

Masih banyak diantara umat Islam sendiri yang berpendapat bahwa ruh ditiupkan ke dalam rahim, saat janin sudah berusia 3-4 bulan. Sehingga sebelum usia 4 bulan itu kandungan boleh digugurkan. Saya sangat menentang pendapat ini. meskipun, Bukhari-Muslim. Tetapi, menurut saya isinya bertentangan dengan data ilmu pengetahuan. Dan lebih-lebih bertentangan dengan ayat Quran. Isi hadis sebagai berikut.

“Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (gumapalan yang menempel di dinding rahim), kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga.

Lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atua keberuntungannya.

Maka demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kuran gsatu hasta, namun karena takdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya.

Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena takdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” (Bukhari-Muslim dari Abdullah bin Mas’ud)

Menurut hadis ini, fase nuthfah di dalam rahim itu selama 40 hari. Demikian pula fase ‘alaqah juga 40 hari. Dan fase mudhghah 40 hari. Tentu saja ini sangat bertentangan dengan data ilmu kedokteran.

Nuthfah alias sperma di dalam rahim maksimal hanya akan bertahan 3 hari alias sekitar 72 jam. Jika dalam waktu tersebut sel-sel sperma tidak bertemu dengan sel telur, maka jutaan sel sperma itu akan mati.

Sedangkan fase ‘alaqah dan mudhghah, masing-masing disebut berumur 40 hari. Itu juga tidak menemukan pijakannya secara jelas. Karena gumpalan ‘alaqah yang menempel dinding rahim itu pada hari ke 21 sudah berubah menjadii gumpalan mudhghah yang berkembang terus secara cepat, sehingga pada usia 60 hari saaja sudah berbentuk manusia. Dalam skala yang sangat mini, hanya sekitar 2 cm. Namun sudah lengkap organnya dan hidup....

Agaknya ada kesalahpahaman terhadap proses penciptaan manusia di dalam rahim ini, sehingga bertentangan dengan data ilmiah dan Alquran sendiri. diantaranya yang fatal adalah tentang waktu ditiupkannya ruh kepada janin.

Jika mengikuti hadis di atas, ruh baru ditiupkan pada usia janin 120 hari, yakni setelah 40 hari fase nuthfah, 40 hari fase ‘alaqah, dan 40 hari fase mudhghah. Padadahal menurut Alquran, ruh itu sudah ditiupkan oleh Allah kepada cikal bakal manusia sejak hari pertama, dimana sel telur dan sperma dipertemukan di dalam rahim. Seperti tertulis dalam QS. Al-A’raf(7): 172. Yakni saat Allah mengeluarkan cikal bakal keturunan Adam yang masih berupa air mani dari sulbi alias organ reproduksinya. Sejak saat itu pula, manusia sudah hidup. Bahkan sudah bisa bersyahadat.

Kejanggalan lainnya dari hadis ini adalah tentang malaikat yang meniupkan ruh kepada janin. Di dalam Alquran saya tidak menemukan adanya malaikat yang meniupkan ruh. Selalu Allah sendiri yang meniupkan ruh-Nya. Karena, sebagaimana telah saya bahas dalam buku: “Menyelam ke Samudra Jiwa dan Ruh”, ruh itu membawa sifat-sifat ketuhanan. Dimana manusia menjadi bisa mendengar, melihat, berkehendak, dan lain sebagainya, setelah ditiupi sebagian ruh-Nya itu. Jadi, bukan oleh malaikat.

QS. Al-Hijr(15): 29; “Maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya, dan telah kutiupkan kedalamnya (sebagian) ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

QS. Al-Sajdah(32): 9; “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya (sebagian) ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”

Dan kejanggalan ketiga dalam hadis itu adalah tentang takdir, yang mengatakan bahwa seseorang yang masuk neraka atau surga sudah ditetapkan sejak awal penciptaannya. Sehingga tidak ada gunanya berbuat kebaikan. Karena meskipun berbuat baik, jika takdirnya memang masuk neraka, dia akan masuk neraka juga. Hal ini telah saya kupas tuntas dalam buku “Mengubah Takdir” dengan berbasis pada pemahaman ayat-ayat Alquran secara holistik, bahwa Allah akan mengubah nasib seseorang jika dia mau mengubah nasibnya dengan berusaha. Sehingga untuk bisa masuk surga pun, seseorang diharuskan berusaha dan berbuat untuk membuktikan dirinya memang pantas masuk surga.

QS. Al-Ra’d(13): 11; “... Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan (takdir) suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...”

Ringkas kata, memahami proses penciptaan manusia di dalam rahim dengan berdasar hadis ini menimbulkan banyak pertanyaan dan pertentangan. Bukan hanya dengan data-data ilmiah kedokteran, melainkan juga dengan Alquran.

Maka, saya menganjurkan agar umat Islam lebih mendasarkan pemahaman proses penciptaan dalam rahim itu kepada ayat-ayat Alquran dengan didukung data-data ilmiah. Dan hal ini dibenarkan oleh sejumlah guru besar dan dokter ahli kandungan, saat saya memberikan ceramah tentang hal ini di RS Dr Muhammad Hosein, Palembang. Bahwa, embrio memang sudah hidup sejak saat awal konsepsi.

“Saya dulu juga berpendapat bahwa ruh itu ditiupkan setelah janin berusia 4 bulan, sesuai dengan hadis itu. Tetapi setelah membaca buku Anda, ‘Bersyahadat di Dalam Rahim’, saya meyakini bahwa embrio memang telah hidup dan punya ruh sejak bertemunya sel telur dan sperma, “ ujar Prof. Dr. Kurdi Syamsuri, SpOG kepada saya saat sesi diskusi di rmah sakit terbesar di kota itu.

Sehingga, adalah kesalahan fatal jika ada pengguguran kandungan yang mendasarkan pemahamannya pada hadis tersebut, yakni boleh asalkan sebelum 4 bulan. Ini harus dikoreksi dan diketati supa tidak sewenang-wenang. Karena menurut pengalaman USG modern, embrio di dalam rahim ibu sudah berdenyut pada usia beberapa hari setelah menstruasi.


NB: Silahkan IZIN kepada penulis di: ahmadsaifulislam@gmail.com (085733847622), bila berminat menerbitkan artikel-artikel di blog resmi ini. Terimakasih, Salam Menang…J)

HUKUM DAN POLISI, MUSUH ATAUKAH SAHABAT???



Kecelakaan dan ketidakbahagiaan itu banyak terjadi karena tidak tahu antara hak dan kewajiban. Kok bisa tidak tahu hak dan kewajiban? Karena tidak belajar, tidak mengerti, atau karena bodoh yang tidak tahu kebodohannya dan tidak mau belajar, sok tahu lagi yang menyebabkan hati dan akalnya terkunci. Dia tidak tahu, mana kewajibannya dan mana yang  haknya.

Kerakusan akibat kebodohannya, membuat semua milik orang diaku. Tidak mengerti birokrasi. Dengan entengnya dia mengatakan, “Ini buminya gusti Allah”, ketika petugas Satpol PP melakukan penertiban. Dikiranya, semua tidak ada aturannya. Dia belum tahu bahwa ini negara hukum. Tentu saja hukum Allah yang diwujudkan dalam bentuk Undang-Undang.

Ada juga yang meski sudah tahu bahwa itu bukan haknya, sebaliknya hak orang lain, masih nekat juga menggasaknya. Dikira, hukum negara bukan hukum Allah. Mengatakan, “Ini bumi gusti Allah” pun sebenarnya hanya apologi untuk membenarkan tindakannya yang jelas-jelas salah. Sebenarnya, model orang seperti ini pun adalah orang yang tidak takut kepada Allah. Radar hatinya akan kebaikan sudah sakit, karena tidak shalat atau bahkan maksiat mungkin.

Itulah faktanya, bahwa tidak semua orang takut sama Allah. Satu-satunya hal yang membuat mereka takut, jera dan menjadi rem ketika mau berbuat semena-mena adalah hukum negara atau penjara. Bila terjadi kriminal, atau tindakan yang berpotensi menjadi kriminal, solusinya bukan bertengkar, adu mulut, atau adu jotos. Orang bijak, langsung menyerahkannya ke pihak yang berwajib, kepolisian.

Bisa lapor ke Polsek terdekat. Ada yang tanya kepada saya, “Bagaimana jika oknum Polseknya jahat? Lapor ke Allah yaa?” Bisa lapor ke Polres. Kalau masih ada oknum lagi, ke Polda. Insya Allah dari sekian banyak orang itu, seseorang akan takut atau malu menjadi oknum. Insya Allah, hukum bisa ditegakkan. Yang jelas, lapor memang gratis. Bahkan Polsek senang ada orang yang lapor. Sebab, mengurangi tugasnya, kedua bisa menaikkan prestise. 

Kalau lapor ke Allah? Itu nomor pertama. Tapi, setelah lapor ke Allah jangan diam. Kaki tetap melangkah ke Polsek terdekat. Inilah makna tawakkal, yaitu ketika ketemu antara usaha langit dengan usaha bumi. Usaha langit dalam hal ini, mengadu kepada Allah. Nah, usaha buminya, mengadu ke pihak yang berwajib.

Tadi malam di TVOne, saya nonton Lawan Bicara, soal Lokalisasi. Salah satu pembicaranya adalah Hidayat Nurwahid. Dia dan teamnya tidak setuju bahwa untuk menangani HIV HAID itu dengan melegalkan prostitusi. “Semua agama di negara kita melarang free sex. Hukum harus ditegakkan”, katanya. Tapi lawan bicaranya menyimpulkan bahwa pemerintah tidak mau tahu, dan hukumpun sudah banyak oknumnya. Nah, menurut saya hukum jangan digeneralisir seperti itu. Banyak juga kok Pak Polisi kita yang amanah. Pak Polisi yang amanah itu, adalah sahabat kita, pelayan kita. Sekali lagi, polisi yang baik pasti lebih banyak. Solusinya, cari dong sampai nemu?!

Polisi, jangan selalu distigmakan negatif. Kalau kita ditilang, kalau kita memang salah, ya gentle dong?! Kita harus mengakui kesalahan. Bahkan menurut saya, hukum negara kita ini adalah hukum Allah juga. “Taatilah Allah, rasul dan pemimpinmu”, begitu bunyi firman Allah yang terkenal. Nah, urusan kita bayar saat ditilang, ternyata itu salah kita. Kenapa mau bayar di tempat?! Kalau pengen benar, ya STNK kita ambil di pengadilan. Atau bahkan kejaksaan. Kira-kira seperti itu juga mekanisme Polsek, Polres, Polda dan seterusnya.

Orang-orang yang bodoh, apalagi sudah tidak tahu Allah, pasti tidak mempan diarahkan pakai dalil. Kita pun tidak dibenarkan baik oleh Allah maupun negara, main hakim sendiri, main pukul sendiri. Tidak boleh! Nah, makanya kita harus menempuh jalur yang paling bijak, paling benar, baik menurut Allah maupun menurut hukum negara, yaitu lapor kepada prosedur hukum yang benar.

             Jadi, memang tidak perlu kita bingung-bingung nyari bodyguard agar aman. Tidak mesti perlu nyari teman polisi atau tentara untuk keren-kerenan. Dengan hukum, tidak ada yang lebih kuat. Rakyat jelata, tidak lebih lemah dari polisi atau tentara yang badannya kekar-kekar itu. Bahkan presiden pun bisa kalah dengan kuli bangunan, kalau si presiden memang salah di mata hukum. Tidak ada di negara kita ini, siapa pun, yang kebal hukum. Hukum diciptakan untuk keharmonisan bersama. Justru yang membuat aman sejatinya adalah hukum itu sendiri. Jadi, kalau kita benar, mau tidak mau, hukum atau polisi akan sayang kepada kita. Ya, polisi dan hukum adalah sahabat bagi siapa pun yang benar! Sebaliknya, menjadi musuh bagi siapa pun yang salah. Dan hukum negara kita, itu sama saja dengan hukum Allah!

Kamis, 13 Februari 2014

BUKTI ANDA MEMANG UNIK



         

         Entah darimana kisah ini saya temukan. Tapi memang cukup terkenal. Begini, Lukman al-Hakim sedang berjalan dengan putranya. Mereka membawa seekor keledai. Pertama keledai itu dinaiki oleh Lukman, dan melintas di beberapa orang yang sedang cangkuran. Orang-orang embongan ini komen, “Dasar bapak nggak punya perasaan. Masak tega, anaknya suruh berjalan?!”
            Lukman pun turun. Kini, giliran anaknya yang naik keledai. Lagi-lagi lewat di depan orang-orang yang sedang leyeh-leyeh. Mereka pun komen juga, “Ooo anak kurang ajar. Masak orang tua disuruh berjalan?”
            Akhirnya, Lukman dan anaknya tidak menungganginya. Keduanya jalan sambil menuntun keledainya. Di perjalanan, bertemu lagi dengan beberapa orang yang sedang nyantai. Orang-orang ini pun komentar, “Goblok bener orang ini. Punya keledai nggak ditunggangi”.
            Begitulah. Kalau kita nuruti kicauan orang lain, kita akan selalu salah, bingung, nggak punya pendirian, dan akhirnya tidak bahagia. Padahal, seorang pemimpin itu sudah pasti mempunyai prinsip yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun, kecuali Tuhan. Apalagi pemimpin keren (hebat, maksud saya).
            Tidak rahasia lagi, orang-orang di sekitar kita kadang atau bahkan sering menyalahkan ide atau keputusan yang kita ambil. Mereka ingin, kita seperti apa yang mereka pikirkan. Mereka ingin kita hidup dalam dunia mereka. Meski, mereka juga tidak yakin kebenaran ide, saran, pendapat maupun ajakannya sendiri.
            Agar tulisan ini lebih emosional, dan juga sampai di hati, maka saya akan sampaikan pengalaman sendiri yang juga dari hati. Tidak sedikit, yang mengatakan bahwa saya ini kaku dalam berpikir. Kalau sudah A ya A. Maunya sendiri.
            Jujur, kadang saya gusar dengan pendapat orang-orang ini. “Apakah cara berpikir saya salah?! Apakah saya kaku?! Apakah berpikir kaku dan semau saya itu salah?! Apakah saya berdosa?!” begitu saya tanya-tanyakan pada diri sendiri.
            Tapi di lain sisi, ya dengan gaya berpikir begini inilah saya sering juara saat SMA. Berturut-turut dua tahun saya diikutkan olimpiade kimia dan fisika. Bahkan, pernah sekolah saya mengadakan lomba fisika, kimia, matematika, dan sebagainya. Hasilnya, saya pemenang ke-2 sesekolah ini untuk Matematika. Tentu dapat hadiah.
            Ketika tidak adanya kepastian jaminan biaya dari orang tua, saya pun nekat merantau untuk kuliah. Toh, nyatanya saya bisa hidup, dan malah lulus prematur sebagai wisudawan terbaik ke-2. Saat kuliah, pun tidak jauh berbeda. Saya bisa mengkhatamkan Alfiyah Ibnu Aqil sendiri. Menghafalkan Alquran beberapa jus. Saat semester 6, saya sudah menulis buku. Saat KKN, ada info dari sebuah penerbit bonafit di Jakarta yang mau menerbitkannya. Itu lah buku, “Berpikir, Bersikap dan Beraksi ala Pemenang”.
            Sepengetahuan Ketua Jurusan, saat saya tanya, bahwa memang belum ada lulusan yang menulis dan sudah menerbitkan buku yang go nasional. Apalagi masih mahasiswa. Makanya, dia kepengen banget membeli buku-buku saya. Sayangnya, saat saya carikan di Royal waktu itu, sudah habis. Maaf ya Bu.
            Pikiran “semau gue”, tidak berhenti di situ. Ketika tidak ada kepastian mau kerja apa, saya nekat saja menikah. Jujur, waktu itu motivasi saya hanya Allah. Nggak perduli apa kata mereka. Hasilnya? Saya punya les-lesan sendiri (doakan, kedepannya bisa jadi pesaantren modern Alquran-Hadis berbasis entreprenuership, aamiin). Punya bisnis sendiri. Bisa terus menulis. Terus mengajar. Lahir buku ke-2, “Pemenang Di Atas Pemenang”. Punya pekerjaan. Dan sampai sekarang, sudah diberikan calon momongan oleh Allah.
            Akhirnya, saya pun ragu dengan komentar mereka yang mengatakan saya kaku. Saya takut, proses pikiran mereka error saat memberi komen kaku. Ya, ini memang gayaku. This is my style, this is my life. Bisa dibayangkan, kalau saya tidak memiliki cara berpikir seperti ini (yang katanya kaku). Saya tidak akan juara di dunia akademik mulai SMA hingga kuliah. Saya tidak akan melahirkan karya. Saya tidak akan menikah dan saya tidak akan meraih prestasi-prestasi dan kontribusi di atas.
            Memang kata Allah dalam Alquran bahwa yang banyak itu adalah yang tidak tahu. Meski saya tidak mengklain diri ini tahu. Saya terus merasa belum tahu. Makanya saya mesti terus belajar. Jadi, kita memang harus punya pendirian. Sudah fitrahnya, kita beda. Kita ini adalah hasil “kreativitas Allah”. Yang tidak mungkin sama satu sama lain.
            Oleh karenanya, saya ingin terus berprestasi dan berbagi. Saya ingin sharing, terutama perjalanan intelektual, emosional dan spiritual saya. Karena saya tahu, ini semua akan sia-sia kalau tidak dibagikan saat masih hidup. Dan hidup yang sekali ini, memang ladang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Sabda Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi lainnya”.

Yuk diskusi di twittter @ipoenkchampion
NB: Bila berminant menerbitkan artikel ini, hubungi: ahmadsaifulislam@gmail.com

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...