Selasa, 01 April 2014

MENYINGKAP TABIR RAHASIA RASULULLAH



Ada yang menarik dari Rasulullah. Pertama dari sisi nama “Rasulullah”. Kedua ada empat hal yang menjadi ciri utama seorang Rasulullah. Ok langsung saja.
Rasulullah itu adalah gabungan dari dua kata. Pertama, rasul yang berarti orang yang diutus. Dan kedua, Allah yang berarti Tuhan Pencipta alam semesta dan segala isinya. Kalau digabung jadilah rasulullah. Jadi, rasulullah berarti utusan Tuhan Yang menciptakan alam semesta meliputi semua isinya. Hah, Tuhan mengutus manusia biasa? Ya, benar sekali. Untuk menyampaikan pesan-Nya, Tuhan menyuruh manusia biasa. Kenapa? Supaya juga bisa dipahami oleh manusia dan tindak tanduknya bisa diteladani. Karena memang dia adalah manusia biasa yang diberi wahyu. Ini benar-benar dahsyat. Beda kalau guru atau orang tua yang menyuruh, bisa jadi biasa. Ini yang menyuruh adalah Allah! Sungguh fenomena Rasulullah itu sendiri menurut saya luar biasa. Sekali lagi, orang biasa yang disuruh oleh Tuhan, Pencipta semesta alam.
Adapun empat hal yang menjadi ciri khusus seorang Rasulullah dalam hal ini Nabi Muhammad SAW adalah siddiq (selalu benar), amanah (jujur, profesional, bisa dipercaya), tabligh (komunikatif), dan fathonah (cerdas). Bukan hanya Allah yang menyatakan pribadi Nabi Muhammad, kalangan orientalis pun dalam bukunya menempatkan Muhammad sebagai orang pertama yang paling berpengaruh. Bukan hanya kata kiai kelas bawah, para sejarawan kelas dunia pun membuktikan pribadi Nabi Muhammad yang multi talenta dan bisa diduplikasi untuk meraih hidup yang sukses, bertabat dan bahagia. Ini terbukti secara ilmiah, makanya semua orang bisa menerima kebenaran itu. Mulai dari perkataannya, sikapnya dan aksinya semuanya luar biasa. Jadi, urusan sukses tentu kita meniru orang terbaik dan tentu orang terbaik itu adalah seorang utusan Tuhan (Rasulullah).
Mau mencari sosok idola yang komplit, itulah Muhammad SAW. Beliau terkenal sosok kepala rumah tangga yang ramah, kepala negara yang handal, tokoh masyarakat yang dihormati, dicintai kawan disegani lawan dan seorang nabi yang profesional. Tidak salah kalau beliau dinobatkan sebagai orang yang paling berpengaruh.
Siddiq berarti selalu benar. Ucapan dengan tingkah lakunya selalu sinkron. Selalu menepati janji. Mulai dari diksi atau pemilihan katanya, dan maknanya selalu benar dan terbaik. Yang dibicarakan selalu bermanfaat dan bukan omong kosong yang tidak berarti. Selalu tepat dalam memberi solusi yang terkait dengan risalah. Apa yang dikatakannya adalah pantulan cahanya Alquran yang bersemayam apik dalam qalbunya. Tidak pernah keliru apa yang diucapkannya. Begitulah sepatutnya cara kita berbicara, selalu benar. Walaupun kesulitan, tapi berusahalah sekuat tenaga untuk selalu benar. Hanya dengan berkata jujur dan benar hidup sukses dan bahagia mendekati Anda. Sebaliknya, kebohongan akan mencederai Anda sendiri di kemudian hari. Baik dalam bidang bisnis, pertemanan, kepercayaan masyarakat dan lain seterusnya. Karena hati itu memang tidak pernah dusta terhadap kebenaran. Makanya, saat kita bohong hati langsung bergejolak dan terasa sakit. Benar kan? Nah, itu sebuah sinyal yang telah dipasang agar kita selalu berkata jujur dan benar.
Amanah, membuat Anda bekerja dengan profesional, jujur sehingga orang lain menaruh kepercayaan kepada Anda. Amanah itu bukan soal jujur saja, tetapi harus juga diimbangi dengan knowledge dan skill (profesional). Profesional saja tanpa jujur, bisa mengecewakan orang. Begitu juga sebaliknya pun bisa mengecewakan orang. Contoh saja, seorang ahli dalam teknik elektronika. Dia mahir mengutak-atik komputer. Karena dia tidak jujur, tentu Anda khawatir komputer Anda yang masih bagus salah satu elemennya ditukar. Begitu juga kalau dia hanya jujur dan terkenal saleh, namun knowledge dan skill tidak punya. Alih-alih komputer Anda bisa sembuh, eh malah tambah parah jadi rongsokan! Mau jadi apa pun, jadikanlah amanah sebagai landasan yang paling menjadi prinsip.
Tabligh, itulah yang penting kita terapkan di era teknologi ini. Punya ilmu, komunikasikan dengan menulis buku, public speaker misalnya. Punya keahlian back up dengan media. Punya bisnis, marketingkan bisa dengan koran, majalah, internet dan lain-lain. Punya keluarga, anak, tetangga, teman, ya ajak bicara. “Kalau Anda tidak mengomunikasikan, siapa yang mengenal Anda?” begitu kira-kira konsepnya. 
Saya rasa konsep seperti inilah yang paling cocok diterapkan ketika kita sedang silaturahim. Memang ada jaminan dari Rasulullah bahwa kalau kita ingin dipanjangkan umur, diluaskan rezeki, dimudahkan urusan, maka sambunglah silaturahim. Silaturahim yang bagaimana? Jawabannya menurut saya, silaturahim dengan konsep tabligh ini. Siapa Anda, apa keahlian Anda, bisa diajak kerjasama dalam bidang apa Anda, apa usaha Anda dan seterusnya saya rasa harus diketahui dengan jelas. 
Pakar marketing menyarankan agar membuat kartu nama. Tentu di dalamnya tercantum keahlian Anda. Fungsinya? Tabligh! Silaturahim dengan konsep tabligh saling menguntungkan satu sama lain. Bukan sekedar silaturahim dan tidak tahu apa yang mau dibicarakan. Jangan dikira silatutahim hanya sekedar mengingatkan iman dan takwa. Apalagi tidak berkomunikasi sama sekali. Yang paling parah, silaturahim mengharapkan bantuan, mengajukan proposal, mengemis dan lain seterusnya. Lita’arafu (agar kalian saling kenal mengenal), kata Alquran.
Terakhir adalah fathonah (cerdas). Seorang guru mengatakan kepada saya, “Orang bodoh itu tidak ada. Yang ada hanya orang malas”. Mafhum mukhalafah (pemahaman sebaliknya), berarti semua orang itu pada dasarnya cerdas. Telah diberi tools oleh Sang Pencipta untuk diberdaya-fungsikan untuk meraih cerdas. Caranya? Rajin belajar, membaca dan berlatih. 
Belajar disamping bangku formal, dari alam langsung pun kita bisa belajar dan merenung. Saat mengembala kambing, Rasulullah itu suka merenung dan malah tidak pernah membaca, menulis apalagi dapat tugas dari dosen untuk bikin makalah. Dan kecerdasan itu bukan hanya kecerdasan IQ, tetapi juga EQ, SQ, AQ dan kecerdasan-kecerdasan yang lain yang kompleks. 
Perlu saya beri catatan, bahwa kecerdasan itu tidak bisa dibatasi hanya sekedar oleh teori yang terbatas itu. Teori itu diam alias statis. Sementara kecerdasan itu sendiri hidup, bergerak, tumbuh dan berkembang alias dinamis. Jangan menilai kecerdasan seseorang dari satu sisi saja. Mengapa ada orang yang tampak hebat di satu bidang? Jawabannya, karena dia selalu mengasah ilmu dan keterampilannya di bidang itu. Di bidang lain, bisa jadi Anda lebih hebat darinya.
Sekarang milikilah empat habit hebat Rasulullah. Yakinlah dengan berbekal keempatnya, Anda akan sukses dan bahagia. Daya-fungsikan saat ini juga!


NB: Silahkan IZIN terlebih dulu ke ahmadsaifulislam@gmail.com atau sms (085733847622) bila berminat menerbitkan artikel-artikel di blog resmi ini. Follow juga twitterku yaa di @tips_kemenangan untuk dapetin tweet-tweet segar, kultweet, video, foto, news, dan lain seterusnya. Visi-Misi saya, menebar manfaat dan mengajak semua sahabat yang gabung di sini untuk selalu menang (hayya ‘alal falah). Sebagai pelengkap, follow juga di @MotivasiAyat
Terima kasih, salam menang salam sukses...

KETIKA ORANG CERDAS BISA DIPECUNDANGI



Indonesia Emas, itulah tema yang digarap oleh pakar ESQ Indonesia, Ary Ginanjar yang suatu malam tayang di TVRI. Menyaksikan acara bagus ini, mengingatkan lagi kita akan kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh 80% oleh kecerdasan emosional. “Kecerdasan intelektual (IQ), berkontribusi hanya 20% pada kesuksesan seseorang”, kata Pak Ary.
Sebelumnya ada tiga mahasiswa berprestasi dari ITB (Institut Teknologi Bandung). Hebatnya, salah seorang bukan hanya juara nasional lagi. Tapi juara dunia! Edan. Setelah ditanya oleh Mbak Pegy, sang pembawa acara ternyata mahasiswa itu mengaku, “Saya belajar dengan tidak tidur dua puluh empat jam”, gila! Beberapa lama kemudian, ditanggapi oleh Ary Ginanjar, bahwa nampak disana sebuah tekad yang kuat, sebuah keyakinan yang dahsyat bahwa dirinya adalah juara. Nah, keyakinan itulah sebenarnya yang membuat semua potensi terbuka. Kalau kita tarik kesimpulan dari kisah di atas, kecerdasan emosional yang banyak berperan dalam kesuksesan itu antara lain: keberanian, keyakinan, tekad yang kuat, pantang menyerah, sabar, percaya diri, semangat, tekun, disiplin dan lain seterusnya. Kalau semua unsur kecerdasan emosional itu dikerahkan, besar kemungkinan seseorang akan sukses.
Beberapa menit kemudian, ditampilkan seorang profesor dari ITB juga, namanya Prof. Naya. Nama lengkap dan gelarnya, panjang sekali hingga saya tidak sempat menghafalnya. Usianya sekitar 60-an, nampak kepalanya botak kelimis tanpa rambut sehelai pun. Dia bilang, “Memang benar kecerdasan intelektual saja (seperti kebanyakan mahasiswa dan sarjana ITB), belum lengkap. Kita butuh kecerdasan emosional, agar bisa kreatif dan gaul. Pun harus dilengkapi juga dengan kecerdasan spiritual. Agar tidak kering. Saya punya banyak teman yang cerdas, tapi terasa kering tanpa kecerdasan spiritual”. Bahkan Prof. Naya merintis kampus, bekerjasama dengan Ary Ginanjar dengan nama “ESQ Bussines School”. Intinya memadukan kecerdasan Intelektual, Emosional dan Spiritual sekaligus. “Otaknya ITB, hatinya EQ dan jiwanya SQ”, kata Pak Ary.
Kita cermati orang-orang hebat itu, mereka nampaknya sedang berusaha meraih tidak hanya dunia, tetapi juga akherat. Bahkan pekerjaan dunia mereka harus seiring, selaras, serasi dan seimbang dengan tujuan akherat. Sehingga otak mereka tidak lagi kering dengan sentuhan cinta. Darah mereka tak lagi panas dengan adonan semangat, antusias yang terus menyejukkan.
Dan banyak fakta di lapangan, orang cerdas saja sering dikibulin oleh orang pintar. Mereka yang kuat intelektualnya dan tidak mempunyai wawasan bisnis dan entrepreneurship, maka akan dijadikan karyawan oleh orang yang SMP saja tidak lulus. Sebuah sakit hati yang sangat apabila ada seorang insinyur menjadi karyawan bocah SD tidak tamat yang sukanya mbetik ngutil jambu milik petugas kebun sekolah. Dulunya orang mengira hanya yang bertitel saja bisa jadi bos. Kenyataannya, tidak! Urusan bos malah sering dikendalikan oleh orang yang lemah analisa dan sukanya action saja. Urusan materi, sudah banyak orang biasa lebih kaya dari lulusan doktoral bahkan profesor sekalipun. Pendeknya, soal uang itu nyarinya bukan di kampus, tapi di pasar, di jalanan, di mall-mall tempat mangkring orang yang kebanyakan tidak suka berpikir dalam-dalam. Terbesit dari raut wajah sang profesor, orang cerdas dipecundangi oleh orang pinter. Lihat saja argumen nabinya entrepreneur, Purdi Chandra, bahwa dia bersyukur jadi orang malas. Karena kalau terlalu rajin, nanti jadi karyawan!
Benar juga kata Ippho, “Orang kiri itu kalau dilihat dari sisi uang, mereka itu tidak apa-apanya”. Bahkan kiri disamakan dengan kere. Saya rasa yang paling tersinggung dengan kenyataan dan kalimat seperti itu adalah mereka yang berpendidikan tinggi, bergelar puaaanjang, bahkan sudah profesor tapi masih miskin. Bahkan mereka entrepreneur itu bangga kalau keluar dari sekolah formal lalu membuka usaha. Makanya, saya acungi jempol keinginan Prof. Naya yang mendirikan ESQ Bussines School. Biar tidak hanya cerdas bikin teknologi, tapi pintar juga memasarkannya. Tidak hanya ahli, tetapi harus bisa mem-backup keahliannya itu dengan entrepreneurship. Bisa menciptakan produk yang berkualitas dan lengkap dengan lihai menjualnya. Rasanya kalau ESQ Bussines School itu sukses, meciptakan “Indonesia Emas”, sudah tidak ada lagi ceritanya ahli pikir dipecundagi oleh “orang bodoh”. 

NB: Silahkan IZIN terlebih dulu ke ahmadsaifulislam@gmail.com atau sms (085733847622) bila berminat menerbitkan artikel-artikel di blog resmi ini. Follow juga twitterku yaa di @tips_kemenangan untuk dapetin tweet-tweet segar, kultweet, video, foto, news, dan lain seterusnya. Visi-Misi saya, menebar manfaat dan mengajak semua sahabat yang gabung di sini untuk selalu menang (hayya ‘alal falah). Sebagai pelengkap, follow juga di @MotivasiAyat
Terima kasih, salam menang salam sukses...


Senin, 31 Maret 2014

HOBINYA PEMIMPIN, PENGUSAHA & PEMENANG

“Jika seseorang berlatih melakukan banyak hal untuk orang lain sampai tindakannya itu menjadi kebiasaan sehingga dia tidak menyadarinya, segala kekuatan baik alam semesta berbaris di belakangnya dan apapun yang dikerjakannya.”  –Bruce Barton, 1927

“Melayani” itulah kata yang paling mewakili pada kesempatan ini. Banyak kita termasuk juga saya dulu beranggapan bahwa orang hebat itu, dia yang selalu ingin dilayani dan diladeni. Lihat saja kiai, tokoh masyarakat, orang kaya atau siapa pun orang yang dianggap hebat oleh masyarakat. Pasti mereka itu mendapatkan perlaukan yang lebih dari orang lain. Lebih dihormati, lebih dilayani, lebih diprioritaskan dan lebih-lebih lainnya. Sekilas memang fakta lapangan menunjukkan hal demikian.
Tapi kalau ditelisik lebih jauh, ada kenyataan yang mengejutkan dan membongkar 360 derajat pikiran kita selama ini. Mereka yang sukses, mereka yang lebih bahagia, mereka yang nampkanya diperlakukan lebih itu, ternyata lebih dulu memberikan pelayanan. Bahkan prinsip hidup mereka justru memberikan pelayanan. Dan memang yang keluar jadi juara dan sukses hidupnya itu ternyata mereka yang melayani. Bukan ujug-ujug minta dilayani. Kelihatan sepintas mereka nampak dilayani. Tapi sebenarnya, mereka melayani terlebih dahulu, lebih banyak jauh-jauh hari sebelumnya dan rentang waktu yang lama.
Sungguh benar apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW bahwa pemimpin seorang kaum itu adalah sejatinya pelayan mereka. “rais al-qaum  khadimuh”, sabda Rasulullah. Seperti fenomena orang-orang diatas yang mendapatkan perlakuan lebih, sebagian besar mereka adalah pemimpin. Omongan mereka lebih digugu. Ternyata mereka memiliki prinsip hidup, servis. A.A. Gym, kiai kondang dan juga pakar entrepreneurship, paham betul akan hal ini. Memang nampak sebuah hal yang paradok. Seorang pemimpin itu kan seharusnya memang dilayani?! Tapi sebenarnya tidak begitu. Pemimpin itu kalau memang sukses ya memang harus melayani. Kan para pejabat seperti Presiden dan wakilnya, Gubernur dan wakilnya, DPR dan MPR lengkap dengan jajarannya, memang wakil rakyat?! Wakil rakyat, ya sebenarnya mereka memang “pembantu” atau “asisten” rakyat sebenarnya. Meski kenyataan dilapangan, kehadiran mereka selalu dielu-elukan warga, seperti Jokowi yang sukanya blusukan.
Kaitannya dengan entrepreneurship, “melayani” itulah sebenarnya yang membuat orang lebih untung dari yang lain. Semakin excellent servisnya, semakin deras pula keuntungannya. Pakar bisnis mengatakan dengan sangat tegas, “Kalau Anda membuat bisnis yang MELAYANI orang banyak, maka Anda pasti kaya”. Sebaliknya semakin sedikit kita melayani orang, juga sedikit pula pencapaian yang akan kita raih. Kalau kita melihat kalah-menang, dan siapa yang lebih hebat, tentu jawabannya adalah pedagang daripada pembeli. Dan pedagang itu identik dengan melayani, sementara pembeli identik dengan dilayani. Ini berlaku juga di semua lini bisnis dan kehidupan, termasuk dunia tulis menulis. Semakin sepenuh hati melayani orang lain, maka semakin cepat juga dia bertumbuh dan berkembang. Baik finansial, spiritual, intelektual, emosional maupun keterampilan.
Sudah menjadi watak dari dunia ini bahwa yang panen itu hanyalah dia yang MENABUR. Nah, melayani itu sangat dekat dengan dedikasi, pun dengan giving. Termasuk juga servis dan dedikasi sebenarnya hidup ini adalah untuk Tuhan. Dan misi kita adalah membawa dunia menjadi wajah yang lebih indah. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, merupakan tanggungjawab kita untuk dituntaskan bersama. Untuk membuat Tuhan “tersenyum” kepada kita. Baru-baru ini, gencar banyak buku yang mengungkap rahasia kaya dengan sedekah. Sebuah pendekatan religius yang saya rasa amat sangat cerdas! Sedekah, promosi, melayani (excellent customer service) itu sebenarnya kebiasaan pemenang dan orang-orang sukses di segala bidang.
DR. Joe Vitale, guru The Scret menuturkan kisah Bruce Barton dalam bukunya, The Seven Lost Screts of Success, berawal pada tahun 1918, akhir perang dunia I, Bruce Barton menyumbangkan bakatnya bagi Kampanye Persatuan Pekerja Perang. Dia juga membantu mempromosikan berbagai kegiatan amal, termasuk Salvation Army (Barton menciptakan slogannya yang terkenal, “Seseorang mungkin jatuh, tapi tak pernah mati”).
Dalam pekerjaan itu, Barton bertemu dengan Alex Osborn dan Roy Durstine. Mereka menjadi teman baik. Osborn membujuk Barton untuk mendirikan biro bersama Durstine. Pada 2 Januari 1919, biro milik Barton dan Durstine dibuka dengan 14 karyawan.
Pada Agustus di tahun yang sama, Osborn bergabung dalam firma itu. Hingga tahun 1925, BDO (nama perusahaan mereka) telah menjadi firma periklanan terbesar kelima di Amerika Serikat. Pada tahun 1928, firma itu bergabung dengan George Battern Company dan menjadi BBDO, dengan Bruce Barton sebagai direkturnya.
Biro iklan yang melegenda itu, dengan banyak kantor dan ribuan pekerja di seluruh dunia, dimulai dari kegiatan amal, alias servis!

Jadi, apapun pekerjaan Anda berikanlah pelayanan yang tulus nan sepenuh hati. Percayalah Tuhan sedang bersama Anda sekaligus Memperhatikan pekerjaan hati dan tindakan Anda. Tulisan ini, saya tutup dengan ungkapan religius, “faman ya’mal mitsqal dzarrah khair yarah waman ya’mal mitsqal dzarrah syarr yarah”.

NB: Silahkan IZIN kepada penulis di: ahmadsaifulislam@gmail.com (SMS: 085733847622), bila berminat menerbitkan artikel-artikel di blog resmi ini. Terimakasih, Salam Menang…J

Yuk diskusi juga di @tips_kemenangan, dapatkan kultweet yang menyegarkan intelektual, emosional dan spiritual. Recomended follow @MotivasiAyat

Minggu, 16 Maret 2014

JADI DIRI SENDIRI? SIAPA TAKUT!



Kenapa harus menyembunyikan identitas diri?! Tampakkan saja jati dirimu. Siapa dirimu sebenarnya. Kalau Anda takut tidak bahagia, justru dengan menyembunyikan diri itu Anda jadi tidak bahagia. Ya, menyembunyikan identitas itulah ketidakbahagiaan yang nyata. Nanti dianggap beda? Justru inilah awal Anda menarik perhatian orang lain. Selanjutnya?
Kita memang berbeda. Dan jangan takut untuk berbeda yang Anda tampakkan pada masyarakat sekitar Anda. Dan bahkan dengan perbedaan itu sendiri, Anda bisa menjadi unik. Anda bisa disebut pencipta budaya, terutama dalam cara bertutur, bersikap dan beraksi Anda. Dan justru kalau Anda berusaha untuk sama, Anda tidak akan nyaman menjalani hidup dan komunikasi dengan mereka. Sebabnya, Anda hidup berpura-pura dan penuh kepalsuan. Akibatnya juga, Anda tidak akan dihargai orang. Karena tidak ada orang yang menghargai kepura-puraan, kepalsuan. Jadi, jadilah diri Anda sendiri saja.
Jangan terlalu melankolis. Wah makhluk apa ini? Melankolis itu Anda perhatian terhadap apa yang dipikirkan orang lain kepada Anda. Ya rugi lah. Wong Anda hanya menduga-duga mereka, sementara mereka tidak pernah memikirkan Anda pada kenyataannya. Kontrol hati dan pikiran Anda. Memang kita harus simpati dan empati pada orang lain. Tapi, bukan berarti kita terlalu melankolis hingga melupakan target-target kita sendiri. Fokus untuk pertumbuhan dan perkembangan diri dan prestasi kita itu juga penting. Makanya, beri porsi yang pas. Kapan Anda harus perhatikan orang lain, lingkungan dan kapan juga Anda menjadi diri sendiri. Ingat, faktor perubahan itu tentu melalukan yang berbeda dengan yang sudah ada. Nah, kalau ingin jadi aktor perubahan, tapi Anda berusaha sama dengan orang lain, itu seperti Anda ingin basah, tapi tidak mau nyemplung air. Mana bisa?!
Beranilah jadi diri sendiri. Hanya yang berani jadi diri sendiri yang jadi pemimpin, diikuti masyarakat, dan tentunya jadi aktor perubahan. Buat nyaman Anda jadi diri sendiri. Berkomunikasilah dengan orang lain dengan jadi diri sendiri. Nanti aura percaya diri Anda akan nampak. Jangan heran kalau nanti Anda menjadi orang yang dipandang oleh masyarakat. Orang akan melihat Anda sebagai sosok yang unik dan tidak biasa. Dan keunikan itu yang membuat daya tarik tersendiri di hati masyarakat. Kalau sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat, ini adalah moment yang tepat bagi Anda untuk membentuk masyarakat seperti apa.
Kalau kita mengaca pada bidang bisnis, lihatlah produk-produk dan jasa-jasa yang laris dipasaran. Justru produk dan jasa yang unik, penuh warna, ada-ada saja itulah yang menyedot pembeli. Lihat salles yang menjual dengan cara-cara yang ada-ada saja. Laku melangit! Bahkan kalau kita perhatikan karyawan yang ada-ada saja, itu lebih disukai oleh bosnya. Lihat pula nasib produk dan jasa yang itu-itu saja. Begitu-begitu saja. Pembeli pasti komen, “Ah sudah biasa”. Akhirnya mereka malas membeli. Sekali lagi, yang unik, ada-ada saja, luar biasa, aneh itulah yang laris. Dan itu tidak akan pernah terwujud kalau kita hanya ingin jadi yang biasa dan hanya bisa ikut-ikutan. Sekali gak bakalan terwujud! So, be different.
Katanya Anda mau jadi luar biasa. Ya harus siap melakukan hal yang tidak biasa. Termasuk menjadi diri Anda sendiri. Itu adalah awal dari luar biasa-luar biasa yang lain. Tidak perlu takut untuk jadi diri sendiri karena hanya khawatir dikritik, dianggap gila, sesat dan sebagainya. Kelak mereka akan tahu sendiri kok, apa dan siapa sebenarnya diri Anda. Kalau mereka mau berdebat dengan Anda, adakan forum khusus. Jangan menjawab kritik dan pertanyaan-pertanyaan mereka di sembarang waktu dan sembarang tempat. Bukan saja tidak efektif, tetapi berbahaya.
Kalau memang Anda beda, dan mempunyai alasan kuat untuk beda, tak usah risau tak usah galau. Jadilah diri sendiri. Sekali lagi, luar biasa itu memang beda. Dan tidak jarang yang beda itu membuat pencerahan baru. Berusaha untuk jadi orang lain, itu bukan hanya rugi melainkan juga capek. Akhirnya, orang yang berusaha sama dengan orang lain, jadinya sulit untuk dibayar mahal. Oleh karenanya, temukan pembeda abadi Anda. Temukan potensi terbesar Anda. Lalu buatlah seperti roket dengan menemukan faktor-faktor pengungkitnya. Insya Allah, hidup Anda lebih sukses penuh makna.

NB: Silahkan IZIN terlebih dulu ke ahmadsaifulislam@gmail.com atau sms (085733847622) bila berminat menerbitkan artikel-artikel di blog resmi ini. Follow juga twitterku di @tips_kemenangan untuk dapetin tweet-tweet segar, kultweet, video, foto, news, dan lain seterusnya. Visi-Misi saya, menebar manfaat dan mengajak semua sahabat yang gabung di sini untuk selalu menang (hayya ‘alal falah). Sebagai pelengkap, follow juga di @MotivasiAyat
Terima kasih, salam menang salam sukses...
 

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...