Rabu, 15 Mei 2019

MENJADI KEPALA SEMUT


—Saiful Islam—

“Apakah orang miskin tidak perlu uang? Tidak. Karena jalan menuju surga ditaburi emas dan berlian…”

Pernyataan terkenal dari Karl Mark, “Agama adalah candu masyarakat.” Atau opium masyarakat. Bisa juga disebut, agama hanyalah fantasi. Sebuah ilusi. Lebih spesifik, kritikan Mark ini tertuju pada agama Kristen. Berpijak pada kejadian abad pertengahan (18—19), di London Inggris, dan Perancis. Yaitu usaha kaum kelas tertindas menggulingkan pemerintah dan dominasi gereja.

            Pandangan Mark ini berdasar bahwa terjadi ketidakadilan ekonomi di masyarakat. Yang menguasai lahan produktif saat itu adalah para elit agama Kristen. Maka muncullah protestan sebagai protes terhadap dominasi tersebut. Agama hanya digunakan alat untuk meredam kekecewaan dan protes kalangan tertindas. Masyarakat miskin tak perlu bersedih, karena jalan di surga bertabur batu jamrud.

            Disebutkan juga bahwa agama dan hukum diciptakan hanya untuk melindungi kepentingan-kepentingan ekonomi kaum borjuis. Seorang ibu miskin akan dihukum karena mencuri sebutir roti milik saudagar. Meski saudagar ini adalah seorang bos besar yang kaya raya. Jadi, kaum elits baik agamawan maupun negarawan, seperti bersekongkol untuk mempertahankan posisi mereka.

            Agama adalah sebuah pelarian masyarakat miskin dari kenyataan. Sebuah pelarian dari rasa kekecewaan yang sangat dalam. Dengan agama, penderitaan dan kepedihan yang dialami oleh masyarakat yang tereksploitasi dapat diringangkan melalui fantasi tentang dunia supernatural—tempat dimana tidak ada lagi penderitaan dan penindasan.

            Apakah orang miskin tidak perlu uang? Tidak. Karena jalan menuju surga ditaburi emas dan berlian. Apakah orang miskin iri kepada yang kaya? Tidak. Karena mereka telah membaca kisah Yesus dengan si miskin Lazarus. Jiwa si miskin itu akan pergi ke Bapa Abraham saat meninggal. Di sana, mereka melihat jiwa orang kaya yang menindas mereka sewaktu di dunia dimasukkan neraka. ‘Terbang’ dan kembali kepada Tuhan dalam kehidupan sesudah mati, seperti diyakini orang Negro, adalah pelipur lara yang menggiurkan orang-orang yang menderita dalam kehidupan saat ini.

            Jadi setelah melihat gambaran di atas, pandangan Mark itu menyorot agama dan negara dari sudut negatif. Agama dan negara, atau lebih tepatnya hukum, hanya menguntungkan orang-orang kaya saja. Wajar, sebab penulisnya memang dari awal adalah seorang ateis. Dengan konteks abad 19. Zaman industri. Kritikan Mark itu seakan-akan membela kaum yang tertindas. Para buruh.

            Maka dasar narasi Mark ini adalah pertentangan kelas. Yaitu kelas borjuis dengan kelas proletar. Si kaya dengan si miskin. Selalu terjadi dialektika seperti itu di tengah-tengah masyarakat. Dulu manusia satu memang bisa memperbudak manusia lainnya. Atau mempekerjakan orang lain dengan upah seminimum mungkin agar mendapat laba semaksimal mungkin. Bahkan romusa, alias kerja paksa.

            Sekarang mari kita melihat realitas sosial abad informasi ini. Sebuah abad yang sudah berubah dan berangsur berbeda dengan abad industri itu. Di abad industri tersebut, orang-orang tertentu memang bisa memonopoli ekonomi. Tapi di abad terbuka informasi ini, sangat memungkinkan bagi kalangan miskin untuk bangkit. Bahkan bersaing dengan para pemilik modal.

            Satu-satunya cara yang harus dilakukan kaum miskin itu adalah menguasai teknologi informasi serta berdagang atau berbisnis dengan memanfaatkan IT tersebut. Sekali lagi, masyarakat miskin harus mau berbisnis. Menjadi kepala, meski itu kepala semut. Harus dimulai sesegera mungkin. Bagi kita umat Islam, sudah dari dulu Nabi Muhammad berpesan, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Termasuk kuat ekonomi, politik dan sosialnya.

            Era bebasnya informasi ini, bisa menjadi angin segar bagi rakyat jelata. Bagi masyarakat miskin. Lebih tepatnya kaum buruh yang ingin mengubah nasibnya. Dari bodoh menjadi cerdas. Dari miskin menjadi sejahtera. Dari terbelakang menjadi terdepan. Mereka bisa bernafas panjang, sebab sudah muncul saat ini brand-brand besar bertumbangan. Kalah dengan bisnis kecil pemula. Rumahan pula.

            Sudah waktunya umat, kembali ke Qur’an. Buku sakti yang akan mengubah hidup. Sebuah pesan langit yang perintah awalnya adalah bacalah! Kita tahu, peradaban berkembang pesat seperti ini, itu semua berawal dari menerapkan perintah ajaib tersebut. Kembali ke Sains. Kembali memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya. Dan sebaliknya, meninggalkan mitos-mitos yang melenakan.

            Salam…
           
           

Selasa, 14 Mei 2019

NGGENDENGI TAS


            —Saiful Islam—

“Iku wong gendeng. Jerea oreng gile..,” hehehe.

Untuk menjadi luar biasa di bidang tertentu, sudah pasti harus cinta pada bidang tersebut. Cinta adalah energi terbesar. Jangankan ahli. Terbayang saja tidak bagi orang yang tidak cinta. Orang yang cinta pada bidang tertentu, seakan-akan bidang itu terasa adalah dirinya sendiri. Bagian dari hidupnya.

Cintanya itu membuatnya terhantui setiap saat oleh bidang tersebut. Hanya dengan cinta, berkorban menjadi sebuah kenikmatan. Baik itu berkorban waktu, harta, tenaga, bahkan nyawa. Cinta akan membuahkan pemberian dengan kerelaan. Ketulusan. Kenikmatan. Kepuasan. Lantas, kebahagiaan yang sejati.

Harus bangga. Rasa bangga juga bisa menjadi trigger yang membuat orang ahli di bidangnya. Rasa bangga itu bisa muncul karena seseorang melihat nilai prestise terhadap sesuatu yang ditekuninya. Ada sebuah nilai yang sangat tinggi pada bidang tersebut. Kalau bidang ini adalah dirinya, tentu saja ia akan bangga.

Selanjutnya, kebanggaan itu bisa juga apresiasi dari orang lain. Baik sekadar ucapan selamat, terimakasih, pujian, sehingga membuat baik namanya. Diterima di masyarakat. Dibutuhkan dan lantas dihormati. Atau bahkan sampai berupa penghargaan materi. Semua apresiasi dari sesamanya itu lantas membuat dirinya merasa hidup. Calling. Terpanggil.

Atau rasa bangga ini, berasal dari keyakinannya. Dia yakin. Seyakin-yakinnya bahwa Allah tersenyum dan bangga pada dirinya dengan aktivitasnya itu. Dengan bidang yang digelutinya itu. Manusia memang, bukan hanya makhluk material dan emosional. Ia juga adalah insan spiritual. Semakin dia melakukan bidangnya tersebut, semakin dia merasa puas. Karena yakin, Allah selalu puas kepadanya.

Harus nyaman. Rasa nyaman melakukan sesuatu juga merupakan syarat bagi seseorang menjadi ahli di suatu bidang. Terutama rasa nyaman ini harus hadir ketika berlatih. Karena nyaman, ia akan berlatih. Lagi dan lagi. Apa yang dilakukannya itu benar-benar membuatnya nyaman.

Dia benar-benar menikmati setiap detiknya ketika berlatih. Semua aspek dirinya tersentuh rasa nyaman ini. Mulai dari fisiknya, intelektualnya, emosionalnya, sampai spiritualnya. Bahkan sampai sel-sel dalam dirinya. Semua menikmatinya. Karena nyaman pula, membuat seseorang bertahan lama dalam melakukan performance. Dia mampu berlama-lama. Merasakan kenyamanan itu.

Rasa asyik, juga akan membuat seseorang menjadi ahli di bidangnya. Terutama ketika berlatih. Ketika ia sedang melakukan apa yang menjadi bidangnya itu. Tatkala ia mencobanya. Tatkala ia berimprovisasi dengan kreativitas-kreativitas, serta inovasi-inovasi baru. Sebuah rasa asyik ketika ia mencoba: antara berhasil dan gagal. Dia akan terus melakukan eksperimennya langsung. Berulang-ulang dengan rasa asyik.

Maka latihan dalam proses menuju ahli, seperti bermain. Lihatlah anak kecil yang sedang bermain. Bebas lepas. Tanpa beban sama sekali. Lupa tempat, lupa waktu, lupa semuanya, bahkan lupa dirinya sendiri adalah sesuatu yang biasa terjadi pada anak-anak. Dirinya sedang melebur menyatu dengan apa yang dilakukannya.

Anak yang gandrung dengan game gadget misalnya. Bahkan seharian pun dia mampu. Lupa makan. Lupa mandi. Berhentinya itu, baru kalau tertidur. Hanya ngantuk dan kelelahan tubuhnya saja membuat kesadarannya hilang dengan sendirinya. Yang tentunya ia tidak berniat menahan atau sengaja melawan kantuknya itu.

Nggendengi, istilah yang kujumpai di Surabaya. Nggendengi tas misalnya. Waktunya, uangnya, tenaganya, selalu untuk tas. Tas lagi. Tas lagi. Bahkan suami dan anak-anaknya kalah menarik dengan tas. Siang malam serchingnya ya tentang tas. Tahu semua sudah ia tentang tas. Mulai dari bahannya, modelnya, harganya, produksi kota dan negara mana. Siapa saja orang-orang yang memili tas itu.

Setiap ada orang lewat menggunakan tas, langsung ngiler. Arisan PKK, perkumpulan Fatayat-Muslimat, Aisyiyah, bukan memperhatikan orang-orang yang ditemuinya. Malah melirik tas-tas yang bergelantungan. Seakan-akan memanggil-manggilnya: mama… mama… mama. Sampai malamnya, mimpinya pun tentang tas. Suara selembut apa pun, langsung terdengar kalau berbicara soal tas.

Sebaliknya, orang yang hanya motivasinya materi, tidak akan pernah bisa menjadi ahli. Energi kita tidak akan pernah cukup kalau motivasinya hanya materi atau pujian orang lain semata. Ia tidak akan berlatih kalau tidak ada yang memuji. Atau kalau tidak ada yang membayar. Maka ciri orang yang akan menjadi ahli adalah, ia tetap mau berlatih di kala sendiri. Di saat tidak ada pujian dari siapa pun.

“Setiap diri PUNYA KIBLATNYA (tujuan hidupnya) sendiri. BERLOMBA-LOMBALAH dalam kebaikan..,” begitu kata Allah dalam QS. Al-Baqarah[2]: 148.

Salam…

Senin, 13 Mei 2019

APEM MEGENGAN


—Saiful Islam—
“Mas, megengan itu apa? Dan bagaimana hukumnya? Gimana kita menyikapinya?”
Megengan itu tradisi. Budaya. Atau kebiasaan masyarakat setempat. Dari Banyuwangi, Madura, sampai Surabaya, kita bisa temui tradisi ini. Gampangnya, megengan itu rasa bangga menyambut datangnya bulan Ramadan. Masyarakat biasanya ramai-ramai membuat kue apem. Konon apem itu asalnya dari kata Bahasa Arab, afwan. Artinya minta maaf.
Makanya sehari, dua hari, beberapa hari menjelang Bulan Ramadan benar-benar tiba, teman-teman kita mengucapkan permintaan maaf. Mereka berharap mendapat maaf dari orang lain. Terutama saudara, teman, tetangga, dan orang-orang lain yang mereka kenal. Sehingga dalam hubungan antar manusia, mereka tidak punya salah. Tidak memiliki dosa lagi. Mereka ingin masuk Bulan Ramadan dalam keadaan benar-benar bersih.
Masyarakat juga berlomba-lomba memberi nasi bungkus, nasi kotakan, dan sepertinya ke masjid. Itu juga ungkapan kebahagiaan menyambut datangnya Bulan Ramadan. Disamping itu, motivasinya adalah bersedekah dengan harapan pahala bacaan Yasin Tahlil yang dibacakan ustadz dan para jamaah sampai ke orang-orang yang mereka cintai yang telah meninggal.
Bahkan di tempatku, orang-orang yang bersedekah ke masjid seperti itu sampai berhari-hari. Ya mau tidak mau, ustadz membaca Yasin setiap hari. Biasanya selepas maghrib. Anak-anak usia SD biasanya, tentu gembira sekali dengan tradisi ini. Mereka mendapat bagian yang sama dengan jamaah yang lain.
Selain itu, masyarakat biasanya ke kuburan. Nyekar, istilah populernya. Mereka datang untuk membersihkan kuburan keluarga tercintanya yang telah meninggal. Juga menyiram dan menabur bunga di atasnya. Kemudian mereka duduk dengan khusyuk sambil membaca Al Qur’an. Agaknya motivasinya sama: mengirim pahala bacaan mereka itu untuk si mayit. Lantas mereka berdoa kepada Allah supaya almarhum almarhumah diampuni semua dosanya dan mendapat surga-Nya.
Ada yang memrotes ziarah kubur khususnya. Yang paling ekstrim alasannya adalah berdoa kepada mayit. Tapi jujur, aku belum pernah menemui orang yang terang-terangan berdoa kepada keluarganya yang sudah wafat itu. Entahlah kalau dulu, saat masyarakat Jawa-Madura khususnya benar-benar tradisional yang sulit orang pandai. Kalau sekarang, tampaknya, semua orang sudah tahu bahwa tidak berdoa kepada mayit.
Lalu soal hukumnya. Sudah kusebut di atas bahwa ini adalah tradisi. Atau budaya. Islam itu tidak anti tradisi. Tapi juga tidak sembarangan menerima tradisi. Seperti kendaraan, Islam itu canggih remnya. Islam itu hanya menerima tradisi yang baik-baik. Yang tidak bertentangan dengan nilai dan norma Islam. Begini rumusnya: kalau soal tradisi asalnya boleh. Sampai ada dalil yang melarang. Urusan ibadah (mahdhah), asalnya dilarang. Sampai ada dalil yang menyuruhnya.
Baca yasin dan tahlilan berjamaah, ini baik-baik saja. Orang-orang bersedekah dengan memberi apem, nasi kotak, dan lain-lain, ini juga bagus sekali. Tapi kalau keyakinan bahwa pahala bacaan yasin dan tahlil, atau pahala bancaan itu sampai ke mayit, baru harus ada dalilnya. Sayang, sepanjang penelusuranku pada ayat-ayat Qur’an, pahala itu tidak bisa ditransferkan. Siapa yang berbuat, dia yang dapat. Jadi yang dapat pahala, ya orang-orang yang membaca yasin dan tahlil. Serta orang-orang yang bersedekah itu sendiri.
Soal ziarah kubur. Ziarah kubur itu baik. Mendoakan mayit juga bagus. Boleh. Halal. Bisa membuat kita ingat mati. Suatu saat, pasti, kita akan mati. Gentian dengan orang-orang yang kita ziarahi itu: ayah kita, kakek kita, paman kita, dan seterusnya. Nanti, giliran kita yang akan ‘tidur’ berkalang tanah itu. “Dulu aku pernah melarang kalian ziarah kubur. Sekarang, berziarahlah,” tutur Nabi. Nyekar itu halal. Malah menjadi berkah bagi para penjual bunga dan tukang parkir, serta mungkin petugas kebersihan dan para pedagang kecil di sekitarnya.
Yang haram itu kalau berdoa kepada mayit. Atau menganggap mayit itu keramat, ampuh, sakti. Sehingga kehebatan si mayit menandingi Allah. Atau menjadikan mayit sebagai perantara sampainya doa kita kepaad Allah. Ini yang nggak boleh, menurutku. Atau yakin, kalau doa kita tak akan diterima Allah kecuali melalui perantara si mayit. “Mintalah kalian kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya,” begitu tegas sekali pernyataan Allah dalam QS. Al Baqarah. Jadi langsung ‘kepada-Ku’. Tidak boleh perantara-perantara lagi. Wong Allah sudah amat sangat dekat dengan kita. Allah sudah ‘di sini’.
Jadi begitu. Sama sekali aku tidak memaksakan sikapku ini. Karena aku tahu, banyak yang punya sikap lain. Kalau kau merasa tentram, silakan diterima. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Kita, selama mukmin, tetap bersaudara. Hattal akhirah. Wassalam…


Minggu, 12 Mei 2019

KETIKA PROFESOR DIPECAT


—Saiful Islam—

“Tentu saja, bagi saya, Qur’an bukan kitab sastra. Bukan novel. Kisah-kisah masa lalunya, serta kejadian-kejadian masa depan yang disebutnya, adalah kenyataan!”

Adalah Ali Abdurraziq dalam bukunya Al Islam wa Ushul al Hukm (Islam dan Dasar-Dasar Kekuasaan) yang mengritik konsep khilafah. Menurutnya, kekhalifahan itu soal politik. Bukan agama. Lebih tegasnya, ia memisahkan antara politik dan agama. Kita, Indonesia, juga punya tokoh yang pemikirannya seperti itu: Nur Khalis Majid, dan Gus Dur. Islam yes, partai Islam No.

            Kita juga pernah mendengar bahwa kisah-kisah dalam Al Quran itu, bukan pasti bersifat historis. Artinya, kisah-kisah tersebut tidak benar-benar terjadi. Bukan kejadiannya yang penting. Tapi ibrahnya atau pelajarannya. Adalah Thaha Husain yang menggunakan konsep Muhammad Abduh, bahwa kisah-kisah Al Quran itu adalah tamtsilat (perumpamaan). Bukan fakta-fakta historis semata. Kesimpulan itu dikuatkan setelah Thaha mengkaji puisi Jahiliah.

            Kata Thaha Husain, kisah tentang Hijrah Ibrahim, Ismail, dan ibunya ke Mekah, bukan merupakan fakta historis. Yang bisa disimpulkan dari kisah ini adalah bahwa sejak saat itu sudah ada bahasa di Jazirah Arab. Kelompok tradisionalis bereaksi keras kepadanya. Tepatnya, dua tahun setelah peristiwa pengadilan atas Ali Abdurraziq. Sebuah reaksi yang juga mirip didapatkan oleh Cak Nur dan Gus Dur.

            Ini di Universitas Kairo. Kira-kira dua puluh tahun kemudian. Peristiwa ketiga ini adalah, ketika Muhamad Ahmad Khalafullah meneliti untuk meraih gelar doktor tentang Seni Naratif dalam Al Quran (Fann al Qashsh fi al Quran al Karim). Pembimbingnya adalah Amin al Khuli.

            Berangkat dari tesis-tesis gurunya serta keberhasilan Muhammad Abduh, Khalafullah berusaha mengkaji kisah-kisah Al Quran dengan metode analisis sastra. Ia pun menyatakan, bahwa kisah-kisah itu adalah sistem narasi yang difungsikan secara religius. Bukan sebagai fakta sejarah. Alis tidak benar-benar terjadi.

            Akibatnya, Khalafullah dipecat dari Universitas dan hasil penelitiannya itu tidak diterima. Dan beberapa tahun kemudian, gurunya bersama sejumlah profesor juga dipecat dalam ‘proses pembersihan’ yang dilakukan oleh penguasa militer liberal.

            Sampai saat ini, saya tidak setuju kalau kisah-kisah itu dikatakan tidak benar-benar terjadi. Bagi saya, kisah-kisah dalam Qur’an, semuanya, memang pernah terjadi. Sebuah fakta historis. Meski begitu, saya tidak setuju kalau para pemikir itu harus dipecat, dituduh kafir, murtad, dan semisalnya. Pemikiran kreatif mereka itu, tetap berharga bagi kita sebagai khazanah intelektual.

            Dalam dunia cerita, memang ada cerita yang benar-benar terjadi. Ada juga cerita yang hanya rekaan. Cerita itu memang ada yang non fiksi, ada juga yang fiksi. Non fiksi berarti cerita itu benar-benar terjadi. Misalnya cerita-cerita yang ada di surat kabar. Jawa Pos, atau Kompas misalnya. Ceritanya bisa berbentuk berita, bisa juga berupa feature. Alias berita yang lebih lembut.

            Adapun cerita fiksi, ini adalah cerita rekaan. Buah imajinasi. Hayalan. Karena hayalan, semua orang hampir bisa melakukannya. Sebebas-bebasnya. Terserah dia. Misalnya saya bercerita singkat begini. Tadi malam saya ketemu pocong di belakang masjid. Waktu orang tarawih. Karena saya memang penasaran, pocong itu saya bukan tali-talinya. Subhanallah. Ternyata itu pocong cantik banget. Sekarang pocong itu ada di rumah saya. Menjadi adik istri saya. Hehehe…

            Dalam pikiran, tepatnya otak kanan, tak ada bedanya antara kisah fiksi dan non fiksi. Prosesnya pun, saya rasa, mirip. Yaitu menghadirkan gambar-gambar, atau ide-ide dalam kepala. Maka wajar kalau sempat rame beberapa hari lalu, saat disebut bahwa kitab suci itu adalah fiksi. Ditinjau dari kacamata filsafat, memang bisa begitu. Tapi tentu beda dengan kaca mata orang beriman. Yang sejak awal dengan rasionalitasnya amat sangat yakin bahwa semesta yang begitu teratur ini pasti ada penciptanya.

            Cerita rekaan misalnya cerita-cerita sinetron, novel, cerpen, dan lain sebagainya. Meski begitu, cerita-cerita fiksi, itu idenya bisa dari kejadian real. Nyata. Saya beberapa kali membuat cerita seperti ini. Awalnya saya ceritakan apa adanya nama-nama orangnya, tempatnya, alurnya dan seterusnya. Nah, untuk kepentingan sastra, saya ubahlah semua itu. Saya tambah-tambahi, kurangi, dan seterusnya. Memang begitu kalau kita belajar menulis dari sastrawan dunia.

            Malah kita juga kenal dengan sains fiksi. Yaitu teori-teori sains yang dibumbu-bumbui dengan hayalan. Imajinasi. Rekaan. Tapi tunggu dulu. Jangan meremehkan fiksi. Sebab semua teknologi canggih yang pernah ada di muka bumi ini, awalnya adalah imajinasi! Sebut saja misalnya pesawat, helikopter, kapal, gawai (gadget), dan lain seterusnya. Pantas saja kata Einstein, “Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan.”

            Tentu saja, bagi saya, Qur’an bukan kitab sastra. Bukan novel. Kisah-kisah masa lalunya, serta kejadian-kejadian masa depan yang disebutnya, adalah kenyataan!

            Salam…
           

Sabtu, 11 Mei 2019

CENDAWAN DI MUSIM HUJAN


—Saiful Islam—

Dari dulu pemikiran Islam itu, kalau tidak jabbariyah ya qodariyah. Itu ekstrimnya. Yang pertama, cenderung menganggap manusia tidak punya kehendak dan perbuatan. Dengan kata lain, kehendak dan perbuatan manusia, semuanya adalah kehendak Allah. Manusia hanya seperti wayang. Allah dalangnya. Aktivitas wayang, ditentukan sepenuhnya oleh sang dalang.

Sedangkan yang kedua, sebaliknya. Manusia dianggap mempunyai kehendak penuh. Sehingga bisa menentukan perbuatannya. Kehendak dan perbuatan manusia adalah murni kehendak dan perbuatannya sendiri. Keputusan-keputusannya adalah pilihannya sendiri. Kehendak bebas. Atau free will. Allah tidak ikut-ikut. Seperti mainan anak: mobil-mobilan yang ada batreinya. Setelah diberi batrei, lalu dibiarkan. Terserah mobil-mobilan itu digunakan untuk apa. Jadi Allah hanya memberi daya awalnya saja.

Dengan kata lain, ada yang ekstrem fatalistis. Sebaliknya, ada yang ekstrem rasionalis. Yang pertama adalah golongan jabbariyah. Sedangkan yang kedua adalah qodariyah. Jabbariyah lebih dekat dengan asy’ariyah. Kaum ortodoks, yang lebih mengutamakan riwayat. Sedangkan qodariyah relevan dengan muktazilah. Ahl ra’y pengagum ijtihad. Nalar.

Nah, eksisnya setiap golongan itu, biasanya sangat terkait dengan pemerintah. Pada pemerintahan Umayyah, kalangan jabbariyah lebih eksis. Sebaliknya, ketika masa Abbasyiyah, yang lebih lestari adalah qodariyah. Sejak awal pemerintahannya, sudah ada keyakinan bahwa pergantian kepemimpinan dari Ali kepada Muawiyyah itu adalah murni kehendak dan keputusan Allah.

Sedangkan pada pemerintahan Abbasiyah, khususnya Khalifah Al Makmun yang cenderung rasionalis, yang berkembang adalah teologi qodariyah. Muktazilah seperti tanah gersang yang disirami hujan lebat. Bahkan ia pernah memanggil para gubernurnya untuk mencari para ahli fikih dan pemikir untuk memaksakan ideologi rasionalitasnya itu. Yang paling terkenal adalah soal Qur’an, ia bersifat azali (qodim) atau baru (hadits).

Ahmad bin Hambal termasuk tokoh yang harus menerima hukuman dari pemerintah. Sebab ia menolak bahwa Al Qur’an itu makhluk. Menurutnya, Al Qur’an itu qodim. Bukan sesuatu yang baru diciptakan.

Karena disebarkan dengan cara pemaksaan, paham muktazilah atau rasionalis itu tidak berkembang. Agaknya, setiap yang dipaksakan itu, tidak akan diterima masyarakat. Jangankan ide manusia. Ide Allah pun, bisa jadi tidak akan ditolak. Makanya Qur’an sendiri menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama Islam. Nabi Muhammad pun diperintah hanya sekadar menyampaikan. Supaya diterima, ide itu harus membudaya sehingga familiar kepada ummat.

Berbeda dengan Imam Malik yang meskipun disuruh pemerintah Abbasiyah, beliau tidak mau menyebarkan pemikirannya dalam Al Muwatta’ dengan cara paksa seperti itu. Dia mengatakan kepada sang Khalifah, “Jangan lakukan wahai Amirul Mukminin. Masyarakat telah mendapatkan berbagai riwaayat dan ijtihad. Sehingga setiap kota mengambil apa yang telah mereka peroleh.”

Indonesia juga seperti itu. Perhatikan saja ormas-ormasnya. Kenapa ormas? Sebab setiap ormas punya ideologi sendiri-sendiri. Entahlah apa motivasinya. Apakah ekonomi? Atau kekuasaan? Atau memang murni keilmuan dan kebenaran? Benar-benar untuk membuat umat cerdas dan berdaya? Mengubah masyarakat dari ‘tanah’ menjadi ‘burung’? Coba kalian renung-renungkan sendiri dulu hal ini.

Biasanya, ormas yang dekat dengan pemerintah ya itulah ormas yang akan lestari. Seperti cendawan di musim hujan. Begitu perumpamaannya kalau tidak salah. Yang paling tampak, misalnya antara NU, Muhammadiyah dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Karena NU dan Muhammadiyah ideologi-ideologinya banyak yang sesuai dengan keindonesiaan, keduanya akan selamat. Sedangkan HTI, karena berseberangan dengan pemerintah, ibarat tanaman yang disiram bensin.

Namun apa pun ideologinya, sejatinya yang terpenting adalah keilmiahannya serta dampak nyatanya kepada masyarakat. Mana yang paling sesuai dengan kenyataan hidup sehari-hari: antara jabbariyah dan qodariyah. Asy’ariy mencoba mengawinkan dua paham ekstrem itu dengan konsep kasab-nya. Meskipun lebih mengarah ke fatalistiknya. Paham mana yang membuat masyarakat lebih kreatif, inovatif dan aktif-progresif.


Selasa, 26 Maret 2019

OTORITAS HADIS


—Saiful Islam—


Paling tidak ada tiga golongan menyikapi Hadis sebagai sumber ajaran Islam. Pertama, sangat membela Hadis. Golongan ini meyakini Hadis sebagai wahyu yang harus diteladani. Jadi, semua Hadis (qoulan, fi’lan, dan takriran) harus diikuti. Asumsi dasarnya adalah Nabi Muhammad sebagai uswaun hasanah (QS.33:21). Pendapat ini banyak diikuti oleh para ahli Hadis.

Golongan kedua, menolak otoritas Hadis sebagai sumber ajaran Islam. Sebab, Hadis banyak yang palsu. Karenanya, Hadis diragukan validitasnya sebagai sumber ajaran Islam. Menurut golongan ini, hanya Al Qur’an satu-satunya sumber yang otentik dan otoritatif. Ini yang kemudian disebut sebagai ingkar sunnah.

Kalau dirinci lagi, golongan munkir al-sunnah ini sebenarnya dibagi dua. Pertama, kelompok yang hanya mengakui Hadis-Hadis Mutawatir dan menginkari Hadis Ahad. Yaitu, kelompk Mu’tazilah. Kelompok kedua, yang menolak seluruh Hadis. Ini adalah madzhab Rafidhah yang ekstrim.

Sedangkan golongan ketiga, cenderung selektif dan kritis menerima Hadis. Menurutnya, hanya Hadis Mutawatir dan Sahih saja—atau minimal Hasan—yang layak dipakai sebagai sumber ajaran Islam. Itu pun kalau Hadis-Hadis tersebut memang terkait dengan persoalan syariat. Ini adalah pendapat yang banyak diikuti oleh ahli Ushul Fiqh. Menurut saya, sebenarnya Mu’tazilah bisa masuk dalam golongan ini. Sebab, masih ada Hadis yang diterima. Tidak totalitas menolak Hadis.

Maka, Hadis-Hadis yang tidak terkait dengan fungsi Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa syariat dianggap sebagai Hadis-Hadis yang bersifat sekadar informatif saja. Tidak harus diikuti. Seperti Hadis-Hadis penampilan fisik Nabi: jenggot, celana cingkrang, berjubah, dan semisalnya—meski kalau mau meniru pun, misalnya dengan rambut gondrong sebahu, juga tidak salah.

Termasuk juga Hadis-Hadis tentang medis atau pengobatan yang pernah dilakukan Nabi SAW. Diantara pemikir yang berpendapat demikian adalah Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya. Bahwa, Hadis pengobatan itu urusan duniawi. Hanya kebiasaan orang Arab saja saat itu. Bukan merupakan wahyu sedikitpun.

Jadi Hadis-Hadis pengobatan tersebut adalah Hadis ghair syar’iyyah. Alias Hadis yang bukan urusan syariat. Melainkan persoalan duniawi yang syarat dengan konteks tradisi Arab ketika itu. Sehingga tidak harus diikuti secara mutlak. Kalau pun Hadis-Hadis semacam ini mau diamalkan pada konteks sekarang, diperlukan penelitian dengan melibatkan disiplin keilmuan medis modern. Sehingga relevansi Hadis ini mempunyai sandaran ilmiah.

Analisis singkat. Kelompok pertama, menurut saya, lemah. Sebab faktanya, Hadis itu ada yang lemah (Dhaif). Sampai ada yang palsu (Maudhu’). Memang pernah terjadi pemalsuan Hadis besar-besaran.

Kelompok kedua juga lemah. Sebab kita tidak akan bisa melakukan teknis ibadah ritual jika hanya menggunakan Al Quran. Harus menggunakan Hadis. Seperti teknis shalat, puasa, zakat, dan haji.

Maka mau tidak mau, kita harus kritis terhadap Hadis. Menurut saya, kelompok ketiga inilah yang paling kuat. Paling tepat menyikapi Hadis, baik secara ontologis maupun epistimologis. Kritik sanad Hadis dan kritik matan-nya…

Jumat, 22 Maret 2019

ANDALAN TUHAN*


“Banyak orang takut kelak akan ditanya Allah, karena tidak haji dan umrah padahal uangnya berlebih. Tapi tidak takut kelak akan ditanya Allah, karena tidak menolong saudara dan tetangganya yang miskin, padahal uangnya berlebih.”
Sebelum Islam, beberapa orang Arab memang sudah mengenal konsep agama monoteis. Namun tidak ada bukti bahwa konsep monoteis mereka sama dengan konsep yang diserukan oleh Nabi Muhammad. Konsep monoteis beliau berjalan beriringan dengan konsep keadilan sosial dan ekonomi masyarakat. Ini sangat terasa sekali pada wahyu-wahyu awal yang turun.
            QS. Al Ma’un[107]: 1-7
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’. Dan tidak mau menolong sama sekali.
            Salah kalau orang mengira Islam adalah agama ritual saja. Islam bukan hanya soal shalat. Juga bukan hanya soal haji dan umrah. Orang yang rajin shalat, berkali-kali haji dan umrah, belum jaminan mendapat ridha ilahi. Saya tegaskan, belum jaminan akan masuk surga!
Bahkan bisa disebut pendusta agama kalau shalat, umrah dan hajinya itu hanya untuk pamer. Hanya untuk status sosial. Tidak peduli ada saudara atau tetangganya yang kurang makan, kurang perhatian, dan tidak mampu sekolah. Malah cuek bebek, dan kasar terhadap anak yatim.
            Seperti bernafas, Islam adalah agama ritual dan sosial. Kita harus melakukan dua-duanya: menghirup dan menghembuskan. Belum sempurna shalat dan hajimu, kalau kau biarkan saudaramu lapar dan bodoh. Tidak sempurna shalat dan hajimu, kalau kau biarkan tetanggamu lapar dan bodoh. Kau pendusta agama, kalau tidak mengasihi dan menyayangi anak-anak yatim dan janda-janda miskin.
            Mungkin kau banyak ilmu dan cerdas. Itu tanda Allah menyuruhmu bermanfaat bagi sekitarmu dengan ilmu dan kecerdasanmu itu.
            Mungkin kau banyak harta. Itu tanda Allah memintamu bermanfaat bagi sekitarmu dengan hartamu itu.
            Mungkin kau punya otot bak Ade Rai. Itu tanda Allah mempercayakan kepadamu agar bermanfaat bagi sekitarmu dengan ototmu itu.
            Kita dihadirkan Allah di dunia ini untuk memberi. Semangat Qur’an adalah supaya kehadiran kita ini berkontribusi. Menjadi tangan-tangan Allah bagi kemanusiaan khususnya, bagi kehidupan umumnya. Tidak mungkin Allah memberdayakan manusia, kecuali Ia melibatkan pihak lain. Salah satunya: kita!
            Ya, tidak mungkin Allah turun dari langit misalnya. Lalu memberi makanan dan pekerjaan kepada orang miskin. Tidak mungkin Allah menjelma sebagai manusia, lalu mengajar orang bodoh. Tidak mungkin Allah sendirian yang menyembuhkan orang sakit. Tak mungkin pula Allah sendirian menghibur anak-anak yatim dan janda-janda miskin tatkala bersedih. Justru Allah hadirkan kita untuk menjadi andalan-Nya.

*Saiful Islam


AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...