Sabtu, 18 Mei 2019

KOPI CANGKRUKAN


—Saiful Islam—

Misbah selalu belajar untuk menikmati momen-momen bersama jamaah. Tidak mentang-mentang penulis yang hobi membaca—hari-harinya lebih banyak digunakan untuk membaca dan menulis—kemudian melupakan fakta bahwa dirinya makhluk sosial. Terutama ketika berdiskusi dengan mereka. Di serambi masjid.

Setiap tahun di bulan Ramadan, Misbah mendapat jadwal menjadi imam shalat tarawih. Di dua masjid. Seringkali, setelah selesai shalat, ia cangkrukan. Ia lebih memilih ngobrol dengan para jamaahnya. Daripada ‘nggetu’ daras Qur’an pakai pelantang suara. Mic. Apalagi ia memang lebih suka bersunyi-sunyi kalau membaca Qur’an. Meskipun suaranya indah. Seperti Ra’ad Al Kurdi. Bak seruling Daud. Ia inginkan pelajaran dan hidayah dari Qur’an. Bukan pamer supaya dipuji orang karena merdunya suaranya itu.

Dalam berdebat itu, Misbah tak peduli. Pendapat mereka benar atau salah. Wong namanya orang umum. Yang waktu mereka habis untuk mencari nafkah. Menghidupi anak dan istri. Salah sekali pun, ya wajar. Ia hanya berusaha menikmatinya saja. Mendengarkan argumen, mendengarkan pertanyaan, sampai mengutarakan gagasan.

Seorang jamaah. Pak Rokim, namanya. Usianya 56 tahun. Cukup vocal. Kalau berbicara, mudah sekali mengutip ayat dan Hadis. Meskipun Bahasa Arabnya, salah-salah. Kadang kurang. Kadang salah kata kerjanya (fi’il). Kadang salah subjeknya (fa’il). Sekali lagi, Misbah tak peduli. Ia tak membenarkan. Dibiarkan terus ia berbicara. Misbah diam. Menikmati. Setiap kalimat jamaahnya. Dan ekspresi ‘sufi’ yang murah senyum itu.

Begitu juga dengan jamaah yang lain. Kalau tiba-tiba nyeletuk, Misbah langsung perhatikan. Benar-benar diberi perhatian. Misbah berusaha hadir di situ. Menikmati. Kalau ayat-ayatnya salah, Bahasa Arabnya salah, bahkan pendapatnya secara totalitas, Misbah diam. Manggut-manggut. Tentu saja, dengan sikapnya itu, para jamaah senang. Kata-kata mereka semakin meletup-letup. Ia senang kalau mereka berpikir.

Misalnya, dari seorang jamaah. Pedagang. Ada kalimat yang bernada pertanyaan begini: “ini kira-kira bagaimana ya untuk tanggal 22 Mei 2019. Kalau Jokowi yang jadi presiden, ini bakal kisruh. Kalau Prabowo, baru bisa tenang sepertinya.”

Ditanggapi oleh jamaah yang lain. Seorang PNS, “Selama ini, Cina-Cina, masuk semua ke negara ini. Insya Allah kisruh. Insya Allah kisruh,” kata bapak berkopiah putih berapi-api. Dari raut wajahnya, tampak dia sedang tegang.

“Memang. Ada rencana people power. Untuk menolak pengumuman KPU. Terkait paslon 02 yang menganggap proses pemilu tahun ini syarat dengan kecurangan. Didukung oleh, katanya para ulama. Khususnya alumni 212. Jadi semacam demontrasi massal,” kata Misbah memulai.

“Yang jelas,” lanjut Misbah, “mudah-mudahan selamat semuanya. Baik pemerintah, maupun rakyat. Terutama yang ikut demo. Kita adalah satu bangsa. Soal kecurangan, beberapa kali kuikuti berita Jawa Pos. Juga pendapat Mahfud MD, mantan ketua MK. Begini kurang lebih narasinya. Bahwa pemilu itu sudah ada mekanismenya. Sudah ada jalur hukumnya.

“Kalau misalnya, Pak Prabowo dan para pendukungnya tidak puas dengan hasil pemilu, bisa menyampaikan bukti-bukti di pengadilan Mahkamah Konstitusi. Perang data. Kalau tidak puas dengan keputusan KPU, bisa melaporkannya ke Bawaslu. Alias Badan Pengawas Pemilu. Belum puas lagi, baru ke MK. Yang jelas, harus bisa menunjukkan bukti-bukti kecurangan tersebut.

“Menurut Mahfud, sudah biasa keputusan bisa berubah jika sudah sampai di MK. Yang menang bisa kalah. Yang kalah bisa jadi dimenangkan. Tapi sekali lagi, harus bisa menunjukkan bukti-bukti. “Sudah banyak saya membatalkan kemenangan kepala daerah, gubernur-gubernur,” kata Pak Mahfud kurang lebih. “Tapi kalau mekanisme itu langsung tidak dipercaya, ya bisa celaka bangsa ini,” pungkasnya.”

Soal peserta demo yang katanya berjuta-juta, seorang jamaah nyeletuk: “Berapa sih jumlah yang akan demo? 7 juta? 10 juta? Ingat, penduduk Indonesia ini kurang lebih 300 juta,” katanya lantas menyeruput kopi hitam panas di depannya.

“Ya intinya, kita semua berharap selamat semua bangsa ini,” kata Misbah mengulangi.

Sesekali ada jamaah datang membawakan kopi, kue, dan lain-lain. Memang seperti itu tradisi saat Ramadan di sini. Di dalam, beberapa orang tadarrus bergilir. Seorang jamaah sudah melempar pertanyaan yang lain, “Nah. Mumpung banyak ustadz di sini. Saya mau tanya. Nikah sirri itu bagaimana?”

Ada yang nyeletuk, “Sah. Sah…” Ada pula yang menimpali, “Kan, harus minta izin dulu dengan istri pertama?”

“Ya pokoknya ada walinya, maharnya, dan saksinya, ya sah nikah sirri itu,” balas yang lain.

“Ah, minta izin dulu ke istri pertama, itu kan aturan negara. Bukan aturan Islam,” kata bapak PNS tadi.

Komentar jamaah berikut ini yang unik, “Apanya. Wong kawan saya pokoknya ada 750 sudah dapat kwitansi. Sudah sah. Kalau 1,5 juta dapat surat-suratnya komplit. Walinya, dia membawa temannya sendiri. Jadi misalnya saya punya teman. Saya kepengin nikah sirri. Langsung saja, saya minta bantuan teman saya itu untuk menjadi wali calon istri kedua saya. Dengan 750, sudah sah. Dapat kwitansi.”

“Jadi, walinya bukan dari keluarga pihak perempuan?” sahut yang lain.

“Ya, tidak,” pungkasnya.

Menarik pula komentar Pak Rokim. “Itu cinta. Energinya luar biasa. Jangankan orang lain. Wong orang tuanya saja, ditentang kok. Sudah tidak bisa dipisahkan. Kalau sudah ada dua sejoli yang sudah saling cinta. Itu sudah sah. Daripada mereka berzina, ya disatukan saja. Enak kok Islam ini. Kita orang awam, memilih yang mudah-mudah saja.”

Mereka semua ger-geran. Begitu pun Misbah. Mengikuti arusnya. Sudah kubilang, Misbah berusaha menikmati setiap momennya. Baru kemudian, yang tanya tadi memandangnya. Seperti menunggu, komentar Misbah.

“Memberi jawaban, memang harus hati-hati. Mesti pintar-pintar, supaya tidak merusak kemesraan cangkrukan malam ini,” batin Misbah.

Sudah banyak. Khawatir kalian bosan bacanya. Bersambung dulu. Insya Allah. Salam…



Kamis, 16 Mei 2019

SANTRI TANGGUH


—Saiful Islam—

“Artinya, siapa pun, asal bernasib seperti saya, ya akan dibeginikan…”

Di Ramadan ini, Idris bertemu santri. Dari Kalimantan. Saefuddin, namanya. Dia mondok di Jakarta. Mau pulang. Lewat Surabaya. Naik kapal, dari Pelabuhan Perak. Ngakunya kehabisan bekal. Ia merasa dirinya ibnu sabil. Alias musafir. Pencari ilmu. Ia juga merasa berhak menerima zakat. Lantas ia datang ke sebuah masjid—konon terbesar kedua di Surabaya. Menemui bidang yang khusus di bidang zakat. Lembaga amil zakat. Maksud dan tujuannya adalah untuk meminta bantuan.

“Oiya. Memang salah satu yang berhak menerima zakat itu, adalah ibnu sabil. Musafir. Petualang ilmu seperti sampean ini,” ujar Idris padanya.

Pemuda 26 tahun itu bertemu seorang perempuan muda di masjid tersebut. Ia pun menyampaikan maksudnya. Malah oleh si mbak dipanggilkan satpam. Dan pemuda sederhana itu diarahkan ke Dinas Sosial. Ternyata, setelah sampi di Dinas Sosial, santri yang murah senyum ini protes. Meskipun hanya di dalam hati. Dan baru berani menyampaikan unek-uneknya itu saat Idris menanyainya.

“Loh. Saya kok malah disuruh ke sini. Kalau begini kan, umum. Artinya, siapa pun, asal bernasib seperti saya, ya akan dibeginikan. Mau saya yang Islami begitu. Saya kan ibnu sabil. Saya kan santri. Kan sudah tugas amil zakat menolong orang seperti saya. Kalau begini prosedurnya, saya juga sudah tahu. Tak perlu saya datang ke lembaga zakat itu. Langsung saja saya lapor ke polsek, atau satpol PP, saya pasti diantar juga ke Dinsos ini,” begitu curhatnya kurang lebih.

Saefuddin lantas cerita soal keluarganya. Bahwa di Kalimantan sana, orang tuanya tinggal seorang saja. Ibunya. Ada juga saudara-saudaranya. Ayahnya sudah meninggal. Dulu awalnya, kakaknya bisa membantunya biaya nyantri itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Soal makan, memang digratiskan oleh pondok. Meskipun seringkali makan hanya nasi saja. “Kalau mau berasa, ya ke dapun cari garam,” katanya.

“Kalau begitu, kan sudah enak. Biaya hidup terpenuhi. Sampean bisa tenang belajar?” Sahut Idris.

“Iya sih, Pak. Tapi buku-bukunya harus beli sendiri. Ya untuk beli buku dan kebutuhan yang lain, saya sambil jualan,” katanya sambil melepas jaket. Pemuda berkopiyah coklat, bersandal japit swallow hijau, ini terkesan ramah.

“Ooo… bagus itu. Teruskan. Teruskan...,” timpal Idris. Sebelum berpisah, Idris sempat mengeluarkan beberapa kata kepadanya. Ia memang mirip hidup Idris dulu. Tepatnya ketika Idris memutuskan kuliah. Padahal orang tua Idris juga terbatas untuk bekal. Bedanya, dia nyantri ke pesantren kiai. Sedangkan Idris, nyantri juga. Tapi ke pesantren pemerintah—kampus. UINSA Surabaya. Dulu IAIN. 2008.

Seperti ini kalimat Idris kepadanya kurang lebih: begini Mas. Ibnu sabil seperti sampeyan ini, memang layak mendapat pertolongan. Berhak menerima zakat. Aku pun pernah menjadi seperti sampeyan. Tapi, sejak dulu, aku berusaha memosisikan pihak yang membantu. Pihak yang memberi. Pihak yang menolong. Jadi, meski aku tahu bahwa aku berhak menerima zakat, aku tidak pernah meminta zakat. Namun, bila orang memberiku, ya aku terima. Kan memang rezeki tidak Allah langsung turunkan dari langit.

Karena nekat, ya mesti siap menerima konsekuensi. Makan hanya bisa sekali dalam sehari semalam, ah tidak menjadi masalah. Beberapa kali aku mengalaminya. Kalau memang tidak ada. Tidak perlu meminta-minta. Asal bertakwa kepada Allah, dan selalu baik sama orang, insya Allah, Allah akan beri solusi. Dan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Aku yakin betul soal ini. Maka sebaliknya, orang yang mbangkang kepada Allah, serta jahat dan semena-mena kepada orang lain, jangan harap dapat jalan keluar dari Allah.

Kira-kira 3,5 tahun Mas, nasib membuat aku mesti tinggal di masjid. Subhanallah berkah. Bukan hanya bisa membiayai hidup, membayar biaya kuliah, aku sampai bisa membeli yang lain. Dari apa? Mengajar! Terutama yang paling berkesan adalah aku bisa laptop dan buku-buku. Aku pun bisa lulus. Seperti teman-teman yang lain, yang mungkin setiap bulan dapat kiriman dari orang tuanya. Aku, dari awal orang tuaku menantang aku untuk benar-benar mandiri. Terutama soal ekonomi.

Mas. Janganlah kalian merasa hina. Janganlah bersedih. Sejatinya, kalian itu tinggi, jika benar-benar beriman. Begitu kata Allah. Rasul kita pun berpesan, tangan yang di atas, itu lebih baik dari tangan yang di bawah. Mukmin yang kuat, itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah. Orang mau menolong, entah itu badan amil zakat, entah itu pemerintah, atau siapa saja, itu urusan mereka. Mau menolong, ya silakan. Mau tidak ya silakan. Urusan kita, datang justru untuk menolong mereka. Memberi sesuatu pada mereka.

Ini juga jadi pengalaman bagi kita. Mereka itu, mau amanah atau tidak, itu urusan mereka. Siapa tahu, suatu saat, sampeyan menjadi kepala di sebuah dinas penting. Sampeyan jadi paham bahwa penerapan di lapangan tidak selalu persis dengan yang tertulis di SOP. Dan akhirnya, sampeyan turun ke lapangan langsung. Minimal memberi nasehat kepada semua bawahan.

Mas teruskan perjuanganmu. Mencari ilmu itu selamanya. Jadilah pembelajar sepanjang hayat. Dan teruskan juga jualanmu. Dagangmu. Bisnismu. Bantulah urusan-urusan kiaimu. Sampean mesti terus belajar. Pun sampean mesti terus bekerja. Ya ngaji, ya kerja. Mencari nafkah. Menjemput rezeki-rezeki Allah untuk membiayai kehidupan. Syukur-syukur, sampean bisa membantu ibu di kampung. Hidup ini sendiri dari Allah. Ini adalah amanah yang dititipkan kita. Sampean berjualan, itu juga ibadah menjaga amanah kehidupan itu.

Wajah Saefuddin tampak segar. Matanya berbinar-binar. Sepertinya baru saja, ada sesuatu yang menyentuh hatinya. Akhirnya, ia pun berterima kasih dan pamit kepada Idris. Langkahnya mantap. Nafasnya panjang-panjang. Sambil mengenakan lagi jaket hitamnya, ia lantas pergi…



Rabu, 15 Mei 2019

MENJADI KEPALA SEMUT


—Saiful Islam—

“Apakah orang miskin tidak perlu uang? Tidak. Karena jalan menuju surga ditaburi emas dan berlian…”

Pernyataan terkenal dari Karl Mark, “Agama adalah candu masyarakat.” Atau opium masyarakat. Bisa juga disebut, agama hanyalah fantasi. Sebuah ilusi. Lebih spesifik, kritikan Mark ini tertuju pada agama Kristen. Berpijak pada kejadian abad pertengahan (18—19), di London Inggris, dan Perancis. Yaitu usaha kaum kelas tertindas menggulingkan pemerintah dan dominasi gereja.

            Pandangan Mark ini berdasar bahwa terjadi ketidakadilan ekonomi di masyarakat. Yang menguasai lahan produktif saat itu adalah para elit agama Kristen. Maka muncullah protestan sebagai protes terhadap dominasi tersebut. Agama hanya digunakan alat untuk meredam kekecewaan dan protes kalangan tertindas. Masyarakat miskin tak perlu bersedih, karena jalan di surga bertabur batu jamrud.

            Disebutkan juga bahwa agama dan hukum diciptakan hanya untuk melindungi kepentingan-kepentingan ekonomi kaum borjuis. Seorang ibu miskin akan dihukum karena mencuri sebutir roti milik saudagar. Meski saudagar ini adalah seorang bos besar yang kaya raya. Jadi, kaum elits baik agamawan maupun negarawan, seperti bersekongkol untuk mempertahankan posisi mereka.

            Agama adalah sebuah pelarian masyarakat miskin dari kenyataan. Sebuah pelarian dari rasa kekecewaan yang sangat dalam. Dengan agama, penderitaan dan kepedihan yang dialami oleh masyarakat yang tereksploitasi dapat diringangkan melalui fantasi tentang dunia supernatural—tempat dimana tidak ada lagi penderitaan dan penindasan.

            Apakah orang miskin tidak perlu uang? Tidak. Karena jalan menuju surga ditaburi emas dan berlian. Apakah orang miskin iri kepada yang kaya? Tidak. Karena mereka telah membaca kisah Yesus dengan si miskin Lazarus. Jiwa si miskin itu akan pergi ke Bapa Abraham saat meninggal. Di sana, mereka melihat jiwa orang kaya yang menindas mereka sewaktu di dunia dimasukkan neraka. ‘Terbang’ dan kembali kepada Tuhan dalam kehidupan sesudah mati, seperti diyakini orang Negro, adalah pelipur lara yang menggiurkan orang-orang yang menderita dalam kehidupan saat ini.

            Jadi setelah melihat gambaran di atas, pandangan Mark itu menyorot agama dan negara dari sudut negatif. Agama dan negara, atau lebih tepatnya hukum, hanya menguntungkan orang-orang kaya saja. Wajar, sebab penulisnya memang dari awal adalah seorang ateis. Dengan konteks abad 19. Zaman industri. Kritikan Mark itu seakan-akan membela kaum yang tertindas. Para buruh.

            Maka dasar narasi Mark ini adalah pertentangan kelas. Yaitu kelas borjuis dengan kelas proletar. Si kaya dengan si miskin. Selalu terjadi dialektika seperti itu di tengah-tengah masyarakat. Dulu manusia satu memang bisa memperbudak manusia lainnya. Atau mempekerjakan orang lain dengan upah seminimum mungkin agar mendapat laba semaksimal mungkin. Bahkan romusa, alias kerja paksa.

            Sekarang mari kita melihat realitas sosial abad informasi ini. Sebuah abad yang sudah berubah dan berangsur berbeda dengan abad industri itu. Di abad industri tersebut, orang-orang tertentu memang bisa memonopoli ekonomi. Tapi di abad terbuka informasi ini, sangat memungkinkan bagi kalangan miskin untuk bangkit. Bahkan bersaing dengan para pemilik modal.

            Satu-satunya cara yang harus dilakukan kaum miskin itu adalah menguasai teknologi informasi serta berdagang atau berbisnis dengan memanfaatkan IT tersebut. Sekali lagi, masyarakat miskin harus mau berbisnis. Menjadi kepala, meski itu kepala semut. Harus dimulai sesegera mungkin. Bagi kita umat Islam, sudah dari dulu Nabi Muhammad berpesan, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Termasuk kuat ekonomi, politik dan sosialnya.

            Era bebasnya informasi ini, bisa menjadi angin segar bagi rakyat jelata. Bagi masyarakat miskin. Lebih tepatnya kaum buruh yang ingin mengubah nasibnya. Dari bodoh menjadi cerdas. Dari miskin menjadi sejahtera. Dari terbelakang menjadi terdepan. Mereka bisa bernafas panjang, sebab sudah muncul saat ini brand-brand besar bertumbangan. Kalah dengan bisnis kecil pemula. Rumahan pula.

            Sudah waktunya umat, kembali ke Qur’an. Buku sakti yang akan mengubah hidup. Sebuah pesan langit yang perintah awalnya adalah bacalah! Kita tahu, peradaban berkembang pesat seperti ini, itu semua berawal dari menerapkan perintah ajaib tersebut. Kembali ke Sains. Kembali memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya. Dan sebaliknya, meninggalkan mitos-mitos yang melenakan.

            Salam…
           
           

Selasa, 14 Mei 2019

NGGENDENGI TAS


            —Saiful Islam—

“Iku wong gendeng. Jerea oreng gile..,” hehehe.

Untuk menjadi luar biasa di bidang tertentu, sudah pasti harus cinta pada bidang tersebut. Cinta adalah energi terbesar. Jangankan ahli. Terbayang saja tidak bagi orang yang tidak cinta. Orang yang cinta pada bidang tertentu, seakan-akan bidang itu terasa adalah dirinya sendiri. Bagian dari hidupnya.

Cintanya itu membuatnya terhantui setiap saat oleh bidang tersebut. Hanya dengan cinta, berkorban menjadi sebuah kenikmatan. Baik itu berkorban waktu, harta, tenaga, bahkan nyawa. Cinta akan membuahkan pemberian dengan kerelaan. Ketulusan. Kenikmatan. Kepuasan. Lantas, kebahagiaan yang sejati.

Harus bangga. Rasa bangga juga bisa menjadi trigger yang membuat orang ahli di bidangnya. Rasa bangga itu bisa muncul karena seseorang melihat nilai prestise terhadap sesuatu yang ditekuninya. Ada sebuah nilai yang sangat tinggi pada bidang tersebut. Kalau bidang ini adalah dirinya, tentu saja ia akan bangga.

Selanjutnya, kebanggaan itu bisa juga apresiasi dari orang lain. Baik sekadar ucapan selamat, terimakasih, pujian, sehingga membuat baik namanya. Diterima di masyarakat. Dibutuhkan dan lantas dihormati. Atau bahkan sampai berupa penghargaan materi. Semua apresiasi dari sesamanya itu lantas membuat dirinya merasa hidup. Calling. Terpanggil.

Atau rasa bangga ini, berasal dari keyakinannya. Dia yakin. Seyakin-yakinnya bahwa Allah tersenyum dan bangga pada dirinya dengan aktivitasnya itu. Dengan bidang yang digelutinya itu. Manusia memang, bukan hanya makhluk material dan emosional. Ia juga adalah insan spiritual. Semakin dia melakukan bidangnya tersebut, semakin dia merasa puas. Karena yakin, Allah selalu puas kepadanya.

Harus nyaman. Rasa nyaman melakukan sesuatu juga merupakan syarat bagi seseorang menjadi ahli di suatu bidang. Terutama rasa nyaman ini harus hadir ketika berlatih. Karena nyaman, ia akan berlatih. Lagi dan lagi. Apa yang dilakukannya itu benar-benar membuatnya nyaman.

Dia benar-benar menikmati setiap detiknya ketika berlatih. Semua aspek dirinya tersentuh rasa nyaman ini. Mulai dari fisiknya, intelektualnya, emosionalnya, sampai spiritualnya. Bahkan sampai sel-sel dalam dirinya. Semua menikmatinya. Karena nyaman pula, membuat seseorang bertahan lama dalam melakukan performance. Dia mampu berlama-lama. Merasakan kenyamanan itu.

Rasa asyik, juga akan membuat seseorang menjadi ahli di bidangnya. Terutama ketika berlatih. Ketika ia sedang melakukan apa yang menjadi bidangnya itu. Tatkala ia mencobanya. Tatkala ia berimprovisasi dengan kreativitas-kreativitas, serta inovasi-inovasi baru. Sebuah rasa asyik ketika ia mencoba: antara berhasil dan gagal. Dia akan terus melakukan eksperimennya langsung. Berulang-ulang dengan rasa asyik.

Maka latihan dalam proses menuju ahli, seperti bermain. Lihatlah anak kecil yang sedang bermain. Bebas lepas. Tanpa beban sama sekali. Lupa tempat, lupa waktu, lupa semuanya, bahkan lupa dirinya sendiri adalah sesuatu yang biasa terjadi pada anak-anak. Dirinya sedang melebur menyatu dengan apa yang dilakukannya.

Anak yang gandrung dengan game gadget misalnya. Bahkan seharian pun dia mampu. Lupa makan. Lupa mandi. Berhentinya itu, baru kalau tertidur. Hanya ngantuk dan kelelahan tubuhnya saja membuat kesadarannya hilang dengan sendirinya. Yang tentunya ia tidak berniat menahan atau sengaja melawan kantuknya itu.

Nggendengi, istilah yang kujumpai di Surabaya. Nggendengi tas misalnya. Waktunya, uangnya, tenaganya, selalu untuk tas. Tas lagi. Tas lagi. Bahkan suami dan anak-anaknya kalah menarik dengan tas. Siang malam serchingnya ya tentang tas. Tahu semua sudah ia tentang tas. Mulai dari bahannya, modelnya, harganya, produksi kota dan negara mana. Siapa saja orang-orang yang memili tas itu.

Setiap ada orang lewat menggunakan tas, langsung ngiler. Arisan PKK, perkumpulan Fatayat-Muslimat, Aisyiyah, bukan memperhatikan orang-orang yang ditemuinya. Malah melirik tas-tas yang bergelantungan. Seakan-akan memanggil-manggilnya: mama… mama… mama. Sampai malamnya, mimpinya pun tentang tas. Suara selembut apa pun, langsung terdengar kalau berbicara soal tas.

Sebaliknya, orang yang hanya motivasinya materi, tidak akan pernah bisa menjadi ahli. Energi kita tidak akan pernah cukup kalau motivasinya hanya materi atau pujian orang lain semata. Ia tidak akan berlatih kalau tidak ada yang memuji. Atau kalau tidak ada yang membayar. Maka ciri orang yang akan menjadi ahli adalah, ia tetap mau berlatih di kala sendiri. Di saat tidak ada pujian dari siapa pun.

“Setiap diri PUNYA KIBLATNYA (tujuan hidupnya) sendiri. BERLOMBA-LOMBALAH dalam kebaikan..,” begitu kata Allah dalam QS. Al-Baqarah[2]: 148.

Salam…

Senin, 13 Mei 2019

APEM MEGENGAN


—Saiful Islam—
“Mas, megengan itu apa? Dan bagaimana hukumnya? Gimana kita menyikapinya?”
Megengan itu tradisi. Budaya. Atau kebiasaan masyarakat setempat. Dari Banyuwangi, Madura, sampai Surabaya, kita bisa temui tradisi ini. Gampangnya, megengan itu rasa bangga menyambut datangnya bulan Ramadan. Masyarakat biasanya ramai-ramai membuat kue apem. Konon apem itu asalnya dari kata Bahasa Arab, afwan. Artinya minta maaf.
Makanya sehari, dua hari, beberapa hari menjelang Bulan Ramadan benar-benar tiba, teman-teman kita mengucapkan permintaan maaf. Mereka berharap mendapat maaf dari orang lain. Terutama saudara, teman, tetangga, dan orang-orang lain yang mereka kenal. Sehingga dalam hubungan antar manusia, mereka tidak punya salah. Tidak memiliki dosa lagi. Mereka ingin masuk Bulan Ramadan dalam keadaan benar-benar bersih.
Masyarakat juga berlomba-lomba memberi nasi bungkus, nasi kotakan, dan sepertinya ke masjid. Itu juga ungkapan kebahagiaan menyambut datangnya Bulan Ramadan. Disamping itu, motivasinya adalah bersedekah dengan harapan pahala bacaan Yasin Tahlil yang dibacakan ustadz dan para jamaah sampai ke orang-orang yang mereka cintai yang telah meninggal.
Bahkan di tempatku, orang-orang yang bersedekah ke masjid seperti itu sampai berhari-hari. Ya mau tidak mau, ustadz membaca Yasin setiap hari. Biasanya selepas maghrib. Anak-anak usia SD biasanya, tentu gembira sekali dengan tradisi ini. Mereka mendapat bagian yang sama dengan jamaah yang lain.
Selain itu, masyarakat biasanya ke kuburan. Nyekar, istilah populernya. Mereka datang untuk membersihkan kuburan keluarga tercintanya yang telah meninggal. Juga menyiram dan menabur bunga di atasnya. Kemudian mereka duduk dengan khusyuk sambil membaca Al Qur’an. Agaknya motivasinya sama: mengirim pahala bacaan mereka itu untuk si mayit. Lantas mereka berdoa kepada Allah supaya almarhum almarhumah diampuni semua dosanya dan mendapat surga-Nya.
Ada yang memrotes ziarah kubur khususnya. Yang paling ekstrim alasannya adalah berdoa kepada mayit. Tapi jujur, aku belum pernah menemui orang yang terang-terangan berdoa kepada keluarganya yang sudah wafat itu. Entahlah kalau dulu, saat masyarakat Jawa-Madura khususnya benar-benar tradisional yang sulit orang pandai. Kalau sekarang, tampaknya, semua orang sudah tahu bahwa tidak berdoa kepada mayit.
Lalu soal hukumnya. Sudah kusebut di atas bahwa ini adalah tradisi. Atau budaya. Islam itu tidak anti tradisi. Tapi juga tidak sembarangan menerima tradisi. Seperti kendaraan, Islam itu canggih remnya. Islam itu hanya menerima tradisi yang baik-baik. Yang tidak bertentangan dengan nilai dan norma Islam. Begini rumusnya: kalau soal tradisi asalnya boleh. Sampai ada dalil yang melarang. Urusan ibadah (mahdhah), asalnya dilarang. Sampai ada dalil yang menyuruhnya.
Baca yasin dan tahlilan berjamaah, ini baik-baik saja. Orang-orang bersedekah dengan memberi apem, nasi kotak, dan lain-lain, ini juga bagus sekali. Tapi kalau keyakinan bahwa pahala bacaan yasin dan tahlil, atau pahala bancaan itu sampai ke mayit, baru harus ada dalilnya. Sayang, sepanjang penelusuranku pada ayat-ayat Qur’an, pahala itu tidak bisa ditransferkan. Siapa yang berbuat, dia yang dapat. Jadi yang dapat pahala, ya orang-orang yang membaca yasin dan tahlil. Serta orang-orang yang bersedekah itu sendiri.
Soal ziarah kubur. Ziarah kubur itu baik. Mendoakan mayit juga bagus. Boleh. Halal. Bisa membuat kita ingat mati. Suatu saat, pasti, kita akan mati. Gentian dengan orang-orang yang kita ziarahi itu: ayah kita, kakek kita, paman kita, dan seterusnya. Nanti, giliran kita yang akan ‘tidur’ berkalang tanah itu. “Dulu aku pernah melarang kalian ziarah kubur. Sekarang, berziarahlah,” tutur Nabi. Nyekar itu halal. Malah menjadi berkah bagi para penjual bunga dan tukang parkir, serta mungkin petugas kebersihan dan para pedagang kecil di sekitarnya.
Yang haram itu kalau berdoa kepada mayit. Atau menganggap mayit itu keramat, ampuh, sakti. Sehingga kehebatan si mayit menandingi Allah. Atau menjadikan mayit sebagai perantara sampainya doa kita kepaad Allah. Ini yang nggak boleh, menurutku. Atau yakin, kalau doa kita tak akan diterima Allah kecuali melalui perantara si mayit. “Mintalah kalian kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya,” begitu tegas sekali pernyataan Allah dalam QS. Al Baqarah. Jadi langsung ‘kepada-Ku’. Tidak boleh perantara-perantara lagi. Wong Allah sudah amat sangat dekat dengan kita. Allah sudah ‘di sini’.
Jadi begitu. Sama sekali aku tidak memaksakan sikapku ini. Karena aku tahu, banyak yang punya sikap lain. Kalau kau merasa tentram, silakan diterima. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Kita, selama mukmin, tetap bersaudara. Hattal akhirah. Wassalam…


Minggu, 12 Mei 2019

KETIKA PROFESOR DIPECAT


—Saiful Islam—

“Tentu saja, bagi saya, Qur’an bukan kitab sastra. Bukan novel. Kisah-kisah masa lalunya, serta kejadian-kejadian masa depan yang disebutnya, adalah kenyataan!”

Adalah Ali Abdurraziq dalam bukunya Al Islam wa Ushul al Hukm (Islam dan Dasar-Dasar Kekuasaan) yang mengritik konsep khilafah. Menurutnya, kekhalifahan itu soal politik. Bukan agama. Lebih tegasnya, ia memisahkan antara politik dan agama. Kita, Indonesia, juga punya tokoh yang pemikirannya seperti itu: Nur Khalis Majid, dan Gus Dur. Islam yes, partai Islam No.

            Kita juga pernah mendengar bahwa kisah-kisah dalam Al Quran itu, bukan pasti bersifat historis. Artinya, kisah-kisah tersebut tidak benar-benar terjadi. Bukan kejadiannya yang penting. Tapi ibrahnya atau pelajarannya. Adalah Thaha Husain yang menggunakan konsep Muhammad Abduh, bahwa kisah-kisah Al Quran itu adalah tamtsilat (perumpamaan). Bukan fakta-fakta historis semata. Kesimpulan itu dikuatkan setelah Thaha mengkaji puisi Jahiliah.

            Kata Thaha Husain, kisah tentang Hijrah Ibrahim, Ismail, dan ibunya ke Mekah, bukan merupakan fakta historis. Yang bisa disimpulkan dari kisah ini adalah bahwa sejak saat itu sudah ada bahasa di Jazirah Arab. Kelompok tradisionalis bereaksi keras kepadanya. Tepatnya, dua tahun setelah peristiwa pengadilan atas Ali Abdurraziq. Sebuah reaksi yang juga mirip didapatkan oleh Cak Nur dan Gus Dur.

            Ini di Universitas Kairo. Kira-kira dua puluh tahun kemudian. Peristiwa ketiga ini adalah, ketika Muhamad Ahmad Khalafullah meneliti untuk meraih gelar doktor tentang Seni Naratif dalam Al Quran (Fann al Qashsh fi al Quran al Karim). Pembimbingnya adalah Amin al Khuli.

            Berangkat dari tesis-tesis gurunya serta keberhasilan Muhammad Abduh, Khalafullah berusaha mengkaji kisah-kisah Al Quran dengan metode analisis sastra. Ia pun menyatakan, bahwa kisah-kisah itu adalah sistem narasi yang difungsikan secara religius. Bukan sebagai fakta sejarah. Alis tidak benar-benar terjadi.

            Akibatnya, Khalafullah dipecat dari Universitas dan hasil penelitiannya itu tidak diterima. Dan beberapa tahun kemudian, gurunya bersama sejumlah profesor juga dipecat dalam ‘proses pembersihan’ yang dilakukan oleh penguasa militer liberal.

            Sampai saat ini, saya tidak setuju kalau kisah-kisah itu dikatakan tidak benar-benar terjadi. Bagi saya, kisah-kisah dalam Qur’an, semuanya, memang pernah terjadi. Sebuah fakta historis. Meski begitu, saya tidak setuju kalau para pemikir itu harus dipecat, dituduh kafir, murtad, dan semisalnya. Pemikiran kreatif mereka itu, tetap berharga bagi kita sebagai khazanah intelektual.

            Dalam dunia cerita, memang ada cerita yang benar-benar terjadi. Ada juga cerita yang hanya rekaan. Cerita itu memang ada yang non fiksi, ada juga yang fiksi. Non fiksi berarti cerita itu benar-benar terjadi. Misalnya cerita-cerita yang ada di surat kabar. Jawa Pos, atau Kompas misalnya. Ceritanya bisa berbentuk berita, bisa juga berupa feature. Alias berita yang lebih lembut.

            Adapun cerita fiksi, ini adalah cerita rekaan. Buah imajinasi. Hayalan. Karena hayalan, semua orang hampir bisa melakukannya. Sebebas-bebasnya. Terserah dia. Misalnya saya bercerita singkat begini. Tadi malam saya ketemu pocong di belakang masjid. Waktu orang tarawih. Karena saya memang penasaran, pocong itu saya bukan tali-talinya. Subhanallah. Ternyata itu pocong cantik banget. Sekarang pocong itu ada di rumah saya. Menjadi adik istri saya. Hehehe…

            Dalam pikiran, tepatnya otak kanan, tak ada bedanya antara kisah fiksi dan non fiksi. Prosesnya pun, saya rasa, mirip. Yaitu menghadirkan gambar-gambar, atau ide-ide dalam kepala. Maka wajar kalau sempat rame beberapa hari lalu, saat disebut bahwa kitab suci itu adalah fiksi. Ditinjau dari kacamata filsafat, memang bisa begitu. Tapi tentu beda dengan kaca mata orang beriman. Yang sejak awal dengan rasionalitasnya amat sangat yakin bahwa semesta yang begitu teratur ini pasti ada penciptanya.

            Cerita rekaan misalnya cerita-cerita sinetron, novel, cerpen, dan lain sebagainya. Meski begitu, cerita-cerita fiksi, itu idenya bisa dari kejadian real. Nyata. Saya beberapa kali membuat cerita seperti ini. Awalnya saya ceritakan apa adanya nama-nama orangnya, tempatnya, alurnya dan seterusnya. Nah, untuk kepentingan sastra, saya ubahlah semua itu. Saya tambah-tambahi, kurangi, dan seterusnya. Memang begitu kalau kita belajar menulis dari sastrawan dunia.

            Malah kita juga kenal dengan sains fiksi. Yaitu teori-teori sains yang dibumbu-bumbui dengan hayalan. Imajinasi. Rekaan. Tapi tunggu dulu. Jangan meremehkan fiksi. Sebab semua teknologi canggih yang pernah ada di muka bumi ini, awalnya adalah imajinasi! Sebut saja misalnya pesawat, helikopter, kapal, gawai (gadget), dan lain seterusnya. Pantas saja kata Einstein, “Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan.”

            Tentu saja, bagi saya, Qur’an bukan kitab sastra. Bukan novel. Kisah-kisah masa lalunya, serta kejadian-kejadian masa depan yang disebutnya, adalah kenyataan!

            Salam…
           

Sabtu, 11 Mei 2019

CENDAWAN DI MUSIM HUJAN


—Saiful Islam—

Dari dulu pemikiran Islam itu, kalau tidak jabbariyah ya qodariyah. Itu ekstrimnya. Yang pertama, cenderung menganggap manusia tidak punya kehendak dan perbuatan. Dengan kata lain, kehendak dan perbuatan manusia, semuanya adalah kehendak Allah. Manusia hanya seperti wayang. Allah dalangnya. Aktivitas wayang, ditentukan sepenuhnya oleh sang dalang.

Sedangkan yang kedua, sebaliknya. Manusia dianggap mempunyai kehendak penuh. Sehingga bisa menentukan perbuatannya. Kehendak dan perbuatan manusia adalah murni kehendak dan perbuatannya sendiri. Keputusan-keputusannya adalah pilihannya sendiri. Kehendak bebas. Atau free will. Allah tidak ikut-ikut. Seperti mainan anak: mobil-mobilan yang ada batreinya. Setelah diberi batrei, lalu dibiarkan. Terserah mobil-mobilan itu digunakan untuk apa. Jadi Allah hanya memberi daya awalnya saja.

Dengan kata lain, ada yang ekstrem fatalistis. Sebaliknya, ada yang ekstrem rasionalis. Yang pertama adalah golongan jabbariyah. Sedangkan yang kedua adalah qodariyah. Jabbariyah lebih dekat dengan asy’ariyah. Kaum ortodoks, yang lebih mengutamakan riwayat. Sedangkan qodariyah relevan dengan muktazilah. Ahl ra’y pengagum ijtihad. Nalar.

Nah, eksisnya setiap golongan itu, biasanya sangat terkait dengan pemerintah. Pada pemerintahan Umayyah, kalangan jabbariyah lebih eksis. Sebaliknya, ketika masa Abbasyiyah, yang lebih lestari adalah qodariyah. Sejak awal pemerintahannya, sudah ada keyakinan bahwa pergantian kepemimpinan dari Ali kepada Muawiyyah itu adalah murni kehendak dan keputusan Allah.

Sedangkan pada pemerintahan Abbasiyah, khususnya Khalifah Al Makmun yang cenderung rasionalis, yang berkembang adalah teologi qodariyah. Muktazilah seperti tanah gersang yang disirami hujan lebat. Bahkan ia pernah memanggil para gubernurnya untuk mencari para ahli fikih dan pemikir untuk memaksakan ideologi rasionalitasnya itu. Yang paling terkenal adalah soal Qur’an, ia bersifat azali (qodim) atau baru (hadits).

Ahmad bin Hambal termasuk tokoh yang harus menerima hukuman dari pemerintah. Sebab ia menolak bahwa Al Qur’an itu makhluk. Menurutnya, Al Qur’an itu qodim. Bukan sesuatu yang baru diciptakan.

Karena disebarkan dengan cara pemaksaan, paham muktazilah atau rasionalis itu tidak berkembang. Agaknya, setiap yang dipaksakan itu, tidak akan diterima masyarakat. Jangankan ide manusia. Ide Allah pun, bisa jadi tidak akan ditolak. Makanya Qur’an sendiri menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama Islam. Nabi Muhammad pun diperintah hanya sekadar menyampaikan. Supaya diterima, ide itu harus membudaya sehingga familiar kepada ummat.

Berbeda dengan Imam Malik yang meskipun disuruh pemerintah Abbasiyah, beliau tidak mau menyebarkan pemikirannya dalam Al Muwatta’ dengan cara paksa seperti itu. Dia mengatakan kepada sang Khalifah, “Jangan lakukan wahai Amirul Mukminin. Masyarakat telah mendapatkan berbagai riwaayat dan ijtihad. Sehingga setiap kota mengambil apa yang telah mereka peroleh.”

Indonesia juga seperti itu. Perhatikan saja ormas-ormasnya. Kenapa ormas? Sebab setiap ormas punya ideologi sendiri-sendiri. Entahlah apa motivasinya. Apakah ekonomi? Atau kekuasaan? Atau memang murni keilmuan dan kebenaran? Benar-benar untuk membuat umat cerdas dan berdaya? Mengubah masyarakat dari ‘tanah’ menjadi ‘burung’? Coba kalian renung-renungkan sendiri dulu hal ini.

Biasanya, ormas yang dekat dengan pemerintah ya itulah ormas yang akan lestari. Seperti cendawan di musim hujan. Begitu perumpamaannya kalau tidak salah. Yang paling tampak, misalnya antara NU, Muhammadiyah dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Karena NU dan Muhammadiyah ideologi-ideologinya banyak yang sesuai dengan keindonesiaan, keduanya akan selamat. Sedangkan HTI, karena berseberangan dengan pemerintah, ibarat tanaman yang disiram bensin.

Namun apa pun ideologinya, sejatinya yang terpenting adalah keilmiahannya serta dampak nyatanya kepada masyarakat. Mana yang paling sesuai dengan kenyataan hidup sehari-hari: antara jabbariyah dan qodariyah. Asy’ariy mencoba mengawinkan dua paham ekstrem itu dengan konsep kasab-nya. Meskipun lebih mengarah ke fatalistiknya. Paham mana yang membuat masyarakat lebih kreatif, inovatif dan aktif-progresif.


AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...