Selasa, 11 Juni 2019

MELETEK TEKO BUMI


—Saiful Islam—

“Adam itu tidak jatuh dari langit. Adam, itu ya ‘tokol’ dari bumi ini…”

Membahas jin, tak bisa lepas dari bahasan tentang iblis. Karena jin dari api. Begitu juga iblis, dari api. Bahasan jin ini, pasti terkait dengan tentang kualitas diri seseorang. Yang digambarkan dengan al-ins. Allah pun sering menyandingkan al-jinn dengan al-ins itu. Lalu, juga ada kaitannya dengan setan. Karena Allah menyebut frase setan-setan al-ins dan al-jinn.

Dan kalau kita melihat ‘dialog’ antara Allah dengan iblis kemarin, disitu juga kita temukan hubungan. Yakni antara iblis yang terbuat dari api, dan Adam yang terbuat dari tanah. Iblis merasa gengsi untuk bersujud (hormat) kepada Adam. Meskipun perintah sujud itu langsung dari Allah. Karena menurut Iblis, dia terbuat dari api. Sedangkan Adam, materialnya adalah tanah. Iblis merasa api lebih keren daripada tanah. Luar biasa, gengsinya iblis sampai membuatnya berani melanggar Allah.

Kemarin sekilas sudah saya ceritakan. Api lebih keren dari tanah, itu opini Iblis. Sangat subjektif. Allah tidak pernah menyatakan api lebih baik dari tanah. Bahkan kalau melihat konteksnya, Adam lebih keren dari Iblis, itu bukan karena materialnya itu. Tapi karena tiupan ruh, yang ruh tersebut langsung dari Allah. “Dan aku tiupkan kepadanya (Adam) dari ruh-Ku,” kata Allah (QS.15:29). Karenanya, Adam menjadi ‘ketularan sifat-sifat Allah’.

Rasanya menarik, kalau kita mengelaborasi lebih detil material Adam yang terbuat dari tanah itu. Yang menjadi alasan Iblis untuk tidak mau hormat kepada Adam. Al Qur’an menyebut memang kita ini dari tanah. Min Thiiin (misalnya QS.6:2; 7:12; 32:7; 38:71). Dari saripati tanah, min sulaalatin min thiin (32:12). Dari tanah liat, min thiin laazib (37:11). Dari tanah debu, min turob (3:59; 30:20; 35:11; 40:67). Dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam, min sholshoolin min hamain masnuun (15:26,28,33). Dari tanah/bumi (QS.20:55; 71:17). Dan dari tanah kering seperti tembikar (55:14).

Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme. Lantas membentuk tubuh unik (solum) yang menutupi batuan. Pedogenesis, adalah istilah untuk proses pembentukan tanah ini. Proses tersebut membentuk lapisan-lapisan tanah yang dikenal dengan horizon tanah. Setiap lapisan menggambarkan asal dan proses fisika, kimia, dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah itu.

Tubuh tanah itu terbentuk dari campuran bahan organik dan mineral. Tanah non-organik (tanah mineral) terbentuk dari batuan. Sehingga mengandung mineral. Sebaliknya, tanah organik terbentuk dari pemadatan terhadap bahan organik yang terdegradasi.

Warna tanah organik itu hitam. Tanah ini pembentuk utama lahan gambut yang bakal menjadi batu bara. Keasaman tanah ini tinggi, sebab mengandung beberapa asam organik hasil pembusukan (dekomposisi) berbagai bahan organik. Tanah ini juga miskin mineral.

Adapun tanah non-organik, itu didominasi oleh mineral. Dan mineral ini membentuk partikel pembentuk tanah. Tekstur tanah seperti ini ditentukan oleh komposisi tiga partikel pembentuk tanah. Yaitu pasir, lanau (debu), dan lempung.

Warna tanah yang disebut misalnya QS.15.26 adalah hitam. Warna tanah memang bervariasi. Ada yang hitam kelam, coklat, merah bata, jingga, kuning, sampai putih. Tanah yang berwarna hitam atau gelap, memang sering menandakan kehadiran bahan organik yang tinggi. Karena pelapukan vegetasi atau proses pengendapan di rawa-rawa. Warna gelap ini, bisa juga karena kandungan mangan, belerang, dan nitrogen.

Berdasar proses terbentuknya, ada tanah humus. Ada tanah pasir, tanah aluvial (dari pengendapan lumpur sungai), tanah podzolit (di daerah pegunungan), tanah vulkanik (terbentuk akibat letusan gunung berapi), tanah laterit (tanah yang kehilangan kesuburan), tanah mediteran (dari proses pelapukan batuan kapur), tanah organosol (dari pelapukan tumbuhan rawa), tanah andosol (berwarna hitam yang mengandung mineral dan bahan organik yang tinggi), dan tanah entisol (seperti tanah vulkanik).

Unsur hara dalam tanah antara lain nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur. Selain itu ada besi, mangan, seng, tembaga, boron, molybdenum, dan klor. Menurut penelitian, zat-zat dalam tanah dan tubuh manusia memang sama: zat besi, kalsium, oksigen, natrium, kalium, magnesium, hidrogen, klorin, yodium, mangan, timah, fosfor, karbon, seng, sulfur, dan nitrogen.

Jadi, manusia itu tumbuh atau bahasa Jawanya, ‘tokol’ ya dari bumi ini. Sama seperti binatang-binatang yang lain dan tumbuhan, itu ya ‘meletek teko bumi iki’. Tumbuh dari bumi ini. Bumi ini memang seperti bibit benih yang menumbuhkan hewan dan tumbuhan. Termasuk menumbuhkan manusia. Maka, Adam itu tidak jatuh dari langit. Adam ‘tokol’ dari bumi ini. Sejak awal, surganya (jannah—kebun) Adam itu, ya di bumi ini. Ayat-ayat berikut menunjukkan kepada kita.

QS. Nuh[71]: 17—20
وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا
17. Dan Allah menumbuhkan kamu dari bumi dengan sebaik-baiknya.

ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا
18. Kemudian Dia mengambalikan kamu ke dalam bumi dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا
19. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.

لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا
20. Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.

QS. Thaha[20]: 55
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ
Dari bumi itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.

Begitu dulu. Semoga ada manfaatnya. Bersambung, insya Allah…

Salam

Senin, 10 Juni 2019

BUKAN MAKHLUK IMAJINER


—Saiful Islam—

“Iblis, manusia berenergi negatif…”

Allah sudah infokan bahwa iblis itu dari jin (18:50). Sedangkan jin itu dari api (55:15) dan (15:27). Maka, iblis pun dari api. Dan karena material penciptaannya dari api itulah membuat iblis sombong. Iblis merasa lebih keren dari Adam yang Allah ciptakan dari tanah. Iblis telah melakukan kesalahan fatal. Bukan karena merasa lebih keren itu. Tapi karena pelanggarannya kepada perintah Allah, supaya hormat kepada Adam. Iblis telah durhaka kepada-Nya ‘Azza wa Jalla.

QS. Al-A’raf[7]: 12
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Iblis menjawab, "Aku lebih baik darinya: Engkau ciptakan aku dari api. Sedangkan dia (Adam), Engkau ciptakan dari tanah".

Saya ingin menganalisis sekilas mengenai Iblis ditinjau dari segi bahasanya kemarin. Gampangnya, bahwa iblis itu kesedihan yang sangat yang membuahkan kesengsaraan. Putus asa. Saya memahami Iblis itu bukan sosok. Bukan makhluk imajiner. Tapi energi negatif. Adapun QS.7:27 yang menyatakan bahwa Iblis dan kelompoknya melihat manusia, sedangkan manusia tidak bisa melihatnya, itu dari sisi materi Iblis yang dari gelombang. Energial. Secara kasat mata, kita memang tidak bisa melihat material-material subatomik.

Kalau sekarang, Iblis itu tidak lain dan tidak bukan adalah manusia itu sendiri. Ciri khas Iblis itu membisik-bisikkan kata-kata yang menipu. Kata-kata yang membuat orang sedih, susah, bahkan celaka. Coba, siapa yang memfitnah? Mengadu domba? Memprovokasi? Menyebar hoax? Ghibah? Tidak lain dan tidak bukan ya manusia! Jadi sekali lagi, Iblis itu ya manusia!! Atau energi negatif itu yang masuk ke dalam diri kita, sehingga kita menjadi terinspirasi dan termotivasi untuk berbuat jahat.

Jadi, takut-takut dan sedih-sedih yang tidak beralasan, itu adalah energi negatif. Kalau kita takut atau sedih, sehingga sampai membuat kita putus asa dari rahmat dan pertolongan Allah, sejatinya itu kita sedang kemasukan energi negatif. Maka, Allah menyuruh kita agar tidak larut dalam ketakutan dan kesedihan seperti itu. Diceritakan misalnya dalam QS.7:35 dan 49; 2:38; 62, 112, dan 277; 3:170; 5:69; 6:48; 10:62; 46:13; dan lain-lain.

QS. Al-A’raf[7]: 35
يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ۙ فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Hai anak-anak Adam. Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Iblis yang terbuat dari api, itu lebih baik dari Adam yang terbuat dari tanah, itu digambarkan oleh omongan iblis. Bukan pernyataan Allah. Saya tidak menemukan satu ayat pun yang mengatakan bahwa Iblis itu lebih baik dari Adam. Atau api lebih baik dari tanah. Tidak ada. Kalau kalian menemukan, tolong beritahu saya, Kawan.

Begitu juga Malaikat lebih baik dari Adam, tidak ada pernyataan ini. Urusan Allah memerintahkan Iblis dan Malaikat hormat kepada Adam, itu sudah kehendak Allah. Bahkan menurut konteks ayat-ayatnya, justru Adam-lah yang lebih keren dari Iblis dan Malaikat, karena Allah langsung meniupkan ruh-Nya kepada Adam. Ingat, ruh-Nya langsung! Bukan ruh ciptaan-Nya!! Allah tak pernah menciptakan ruh!!!

Nah, karena langsung ruh-Nya yang ditiupkan kepada kita, maka kita menjadi ‘ketularan sifat-sifat Allah’. Allah Maha Melihat. Kita akhirnya menjadi bisa melihat. Allah Maha Mendengar. Kita pun lantas bisa mendengar. Allah Maha Berkehendak. Kita pun kemudian bisa berkehendak. Allah Maha Berilmu. Kita lantas bisa berilmu. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Kita akhirnya bisa mengasihi dan menyayangi. Dan seterusnya. Perhatikan ayat-ayatnya berikut ini.

QS. Shad[38]: 71—83
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
71. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah".

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
72. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya".

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ
73. Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya.

إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
74. Kecuali Iblis. Dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ
75. Allah berfirman: "Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?".

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
76. Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripadanya. Karena Engkau ciptakan aku dari api. Sedangkan dia, Engkau ciptakan dari tanah".

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
77. Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga. Sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.

وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ
78. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan".

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
79. Iblis berkata: "Ya Tuhanku. Berilah aku kesempatan sampai hari mereka dibangkitkan".

الَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ
80. Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi kesempatan.

إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ
81. “Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)".

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
82. Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
83. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.

Sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung. Insya Allah…

Salam

Minggu, 09 Juni 2019

TERNYATA IBLIS DARI JIN


—Saiful Islam—

Bahasan tentang jin ini semakin menarik. Karena ternyata Allah infokan bahwa iblis itu dari jin. Sedangkan jin, sudah kita bahas, juga dari api. Bahkan sampai paling dasarnya, jin itu adalah gelombang. Dan gelombang adalah energi. Jadi, kalau ditinjau dari segi materialnya, iblis juga energi.

Namun jangan lupa. Variabel alam semesta ini bukan hanya materi, energi, ruang, dan waktu. Bukan hanya empat itu. Tapi lima, yaitu ditambah informasi. Yaitu, kalimat Allah, “Kun… jadilah. Fayakuun… maka jadilah!” Yang informasi ini menjalar dalam variabel yang lain itu. Ada informasi di dalam materi. Ada informasi di dalam energi. Begitu juga, ada informasi di dalam ruang dan waktu.

Informasi itulah yang membuat seorang laki-laki mencintai perempuan. Dan sebaliknya. Informasi itu pula yang membuat benih mangga menghasilkan pohon mangga, dahan-dahannya, ranting-rantingnya, daun-daunnya, hingga buah-buah mangganya. Dan seterusnya. Yang membuat oksigen bersenyawa dengan hidrogen dengan komposisinya yang pas, sehingga membentuk air (H2O) misalnya, itu ya karena informasi itu.

Diibaratkan sebuah kalimat, terdiri dari rangkaian kata-kata. Kata-kata itu adalah materi. Kalimat itu pun masih materi. Tapi ketika kalimat itu tiba-tiba melahirkan makna, maka itulah energi. Itulah informasi. Di dalam rangkaian kata-kata yang materi itu, ada energinya. Di balik rangkaian kalimat itu ada informasinya. Dan subhanallah, energi Al Qur’an itu bisa menyembuhkan. Bahkan menjadi rahmat dan menghidupkan!

QS. Al-Isra’[17]: 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

QS. Al-Anfal[8]: 24
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang menghidupkanmu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya saja kamu akan dikumpulkan.

Baiklah kita kembali kaitan antara jin dan iblis. Memungkinkan materialnya yang dari jin. Yakni dari api. Sehingga meninjaunya mesti secara Sains: materinya (atom, inti atom, elektron, dan seterusnya), gelombang, energi, dan informasi. Atau iblis itu dari golongan jin. Yakni manusia jin. Allah jelas sekali menyebut bahwa iblis itu dari jin. Berikut ayatnya.

QS. Al-Kahf[18]: 50
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam. Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia (iblis) adalah dari jin. Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.

Secara bahasa, lagi-lagi kita merujuk Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an dan Lisan Al-‘Arab, iblis itu diambil dari kata balasa. Al-iblaas yang berarti kesedihan yang membuahkan kesengsaraan yang amat sangat. Atau berarti putus asa. Seperti dalam QS.30:12 dan 49; 6:44. Ketika seseorang itu diam, kehabisan argumentasi atau putus idenya, disebut dengan ablasa fulaan. Unta betina yang tak bisa lepas dari cengkraman binatang buas disebut ablasat al-naaqotu.

Kamus Al-Munawwir mengartikan kata ablasa dengan berbagai derivasinya antara lain: jahat, sedikit baiknya, bersedih hati, bingung, putus harapan, dan lain-lain. Bentuk jama’ (plural) iblis adalah abaaliis dan abaalisah.

Ablasa al-rojul, itu untuk menyebut laki-laki yang terputus. Ablasa juga berarti diam. Ablasa min rohmatillah yakni putus asa dari rahmat Allah. Dari arti inilah iblis diberi nama. Nama asli iblis adalah ‘Azaaziil. Iblis ini dinamai ibliis karena dia putus asa dari rahmat Allah.

Menurut Abu Ishaq, kata ibliis itu bukan hasil dari derivasi ablasa. Ghoir munsharif. Tapi bahasa asing (bukan Bahasa Arab). Sedangkan menurut Abu Ubaydah, salah satu kata Persia yang masuk atau disadur ke dalam Bahasa Arab adalah kata al-balaas. Yang artinya permadani dari bulu. Orang-orang Madinah menyebut permadani tersebut dengan balaasan.

Sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Sabtu, 08 Juni 2019

SETAN PUN BUKAN SOSOK


—Saiful Islam—

“Setan adalah sifat, baik untuk al-jinn maupun al-ins…”

Material Jin yang terbuat dari api, sudah kita bahas cukup detil. Al-jinn bersanding dengan al-ins, juga sudah dibahas cukup detil. Kita juga sudah paham perbedaan antara al-basyar, al-ins, dan al-insaan, sekaligus kaitannya dengan Jin.

Yang belum mengerti, atau belum mengikuti serinya, silakan dibaca lagi tulisan-tulisan sebelumnya. Di Facebook, di WAG, maupun di tipkemenangan.blogspotdotkom. Sebab kebiasaan kita ini, gampangan berkata yang bukan-bukan: “makhluk halus”, “goib”, “kesurupan”, “kena santet”, dan semisalnya. Padahal aslinya tidak paham. Dan cuma ikut-ikutan tradisi animisme—dinamisme.

Baiklah. Yuk kita lanjutkan lagi. Nah, yang tak kalah menarik lagi adalah, Allah menggunakan frase “Setan-setan al-ins dan al-jinn”. Disebutkan dalam QS. Al-An’am[6] ayat 112 berikut ini.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh. Yaitu syaitan-syaitan al-ins dan al-jinn. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

Maka, kita mesti paham dulu apa itu setan dari rujukan yang benar. Yang ilmiah. Jangan ujug-ujug latah bilang, “setan”, “makhluk halus”, “guna-guna”, “pocong”, “hantu”, “pokoknya seram”, “sihir”, dan seterusnya. (Insya Allah kita akan bahas semua itu). Padahal sejatinya tidak mengerti. Referensinya salah. Cuma ikut-ikutan. QS. 6 ayat 116—117, mengingatkan, “Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu.” So, hati-hatilah.

Kata al-syaythoon, itu asli nun-nya. Alias bukan tambahan seperti nun tatsniyah. Kata tersebut dari syathona yang arti awalnya adalah berjauhan (tabaa’ada). Sumur yang dalam itu disebut bi’run syathuun. Karena antara air dan orang yang menimba itu berjauhan. Desa yang jauh juga disebut syathonat al-daar. Begitu juga negeri yang jauh disebut ghurbatun syathuun.

Isim fa’il-nya (subjeknya), yakni syaathin, itu berarti yang jauh dari kebenaran.

Pendapat yang lain mengatakan bahwa nun-nya adalah nun tambahan dari kata syaatho yasyiithu. Artinya terbakar marah. Maka masih menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, bahwa setan itu adalah makhluk yang terbuat dari api. Seperti ditunjukkan oleh QS. Al-Rahman[55] ayat 15, “Dan Allah menciptakan jin dari nyala api”. Tetapi khusus dengan kekuatan marah, sombong yang berlebihan, serta menolak sujud (hormat) kepada Adam.

Menurut Abu Ubaydah, syaythoon itu adalah nama untuk segala sesuatu yang merusak atau menyakiti. Bisa dari al-jinn, al-ins, atau hewan. (saya sengaja tidak menerjemahkan al-ins dan al-jinn, supaya konsisten bahwa keduanya bermakna manusia yang beda sifatnya saja).

Setan berarti manusia. Yakni manusia yang sifatnya setan seperti ayat-ayat berikut ini dan lain-lain.

QS. Al-An’am[6]: 121
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.

QS. Al-Baqarah[2]: 14
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok."

Adapun firman Allah “kepala-kepala setan”, dalam QS. 37: 65, itu menurut satu pendapat berarti ular yang samar jasadnya. Yang dimaksud adalah perumpamaan untuk al-jinn yang merusak. Diserupakan karena kesamaan bentuknya yang mengerikan.

Sedangkan firman Allah, “Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman,” dalam QS. 2:102, yang dimaksud setan-setan di situ adalah al-jinn dan juga al-ins yang durhaka.

Setan juga, adalah nama untuk setiap akhlak yang tercela. Rasulullah SAW bersabda, “Iri dengki (hasad) itu setan. Marah, itu juga setan.”

……………..........

Jadi arti asalnya, setan itu adalah yang berjauhan. Atau yang jauh. Jauh dari apa? Jauh dari kebenaran. Jauh dari rahmat Allah. Jauh dari surga. Jauh dari kekuatan. Jauh dari kecerdasan dan kepintaran. Jauh dari kekayaan (seperti penyair Arab berkata, “Tidak ada malam-malamnya orang fakir itu kecuali setan”). Jauh dari semangat belajar dan bekerja. Intinya jauh dari kebaikan-kebaikan, seperti malas; iri; sombong; dengki; zalim; curang; khawatir, takut, menunda-nunda, bakhil, lemah, dan ragu-ragu untuk kebaikan, dan lain seterusnya.

Setan itu kata sifat. Tidak ada satu ayat pun yang menyebut bahwa setan itu sosok. Qur’an tidak pernah menyebut material setan. Setan memang adalah sifat yang masuk dalam sosok. Yang mengatakan setan itu makhluk terbuat dari api dengan dasar QS.55:15, itu lemah. Yang terbuat dari api itu jin. Bukan setan. Setan adalah sifat merusak yang sudah diaktualisasikan baik oleh manusia al-ins, manusia al-jinn, hewan, dan seterusnya.

Maka yang dimaksud setan-setan al-ins dan al-jinn, itu seperti ini. Al-ins dan al-jinn itu sebenarnya adalah manusia. Orang. Hanya orang yang bersifat (memiliki kualitas-kualitas tertentu) sebagai manusia al-ins dan manusia al-jinn. Sudah inheren dalam keduanya energi. Yakni energi potensial. Dan ketika manusia al-ins dan al-jinn ini berbuat kerusakan, durhaka kepada Allah maupun kedua orang tuanya, itulah manusia al-ins dan al-jinn yang sudah kesetanan. Disebutlah setan-setan al-ins dan al-jinn.

Dengan kata lain, setan-setan al-ins dan al-jinn itu tak lain dan tak bukan adalah energi potensial yang sudah diaktualisasikan dalam bentuk merusak. Zalim. Dan sebagainya. Ketika energi potensial itu digunakan untuk perbuatan buruk, merusak, yang jauh dari kebenaran, baik ucapan maupun perbuatan, maka itulah orang yang sedang kesetanan.

Sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung insya Allah…

Salam


Jumat, 07 Juni 2019

JIN BUKAN SOSOK


—Saiful Islam—

“Ternyata Jin itu bukan makhluk halus…”

Tanggal 2 Juni 2019 kemarin, saya dan keluarga mudik ke Banyuwangi. Kamis, tanggal 6, baru kembali ke Surabaya. Baru sempat nulis tanggal 8 sekarang. OK, yuk lanjut ngajinya.

Ingin sekali saya mengetahui makna kata dasar al-ins itu. Makna asalnya. Namun sayang, Al-Raghib al-Ashfahaniy, baik dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an maupun Mufradat Alfazh al-Qur’an tidak menyinggungnya. Tak ada kata al-ashlu…, misalnya. Bahkan di sana langsung tertera kata al-ins. Tanpa melalui kata kerjanya, misalnya dari susunan huruf hamzah, nun, dan sin. Berikut ini saya kutipkan.

Al-ins itu, berarti yang selain jin. Khilaf al-jinn. Al-ins adalah selain liar. Yakni jinak. Al-insiyyu juga disandarkan pada makna al-ins. Penyebutan al-insiyyu itu adalah untuk orang yang banyak ramahnya. Atau bagi apa pun yang banyak jinaknya. Karena itu, jika disebut insiyyu al-daabbah (jinaknya binatang), maka binatang tersebut mengasihi penunggangnya. Alias nurut kepada penunggannya.

Begitu juga. Ketika disebut insiyyu al-qous (jinaknya busur atau ibu panah/bukan anak panahnya yang tajam), maka itu untuk pihak yang mengahdap kepada pemanah. Atau dikendalikan oleh pemanah. Al-insiyyu ini adalah bagi apa pun yang dekat dengan al-insaan (manusia). Sedangkan al-wahsyiyyu (bangsa yang liar, yang tidak maju, yang buas, yang ganas, kebengisan, kekasaran), itu untuk pihak yang selain al-insaan.

Bentuk jamak (plural) al-ins adalah anasiyyu. Seperti dalam QS. Al-Furqan[25]: 4). Jika dikatakan, ibn insik (anaknya keramahanmu), ini untuk jiwa. Fain aanastum minhum rusydan (4:6), yakni kalian melihat keramahan, kejinakan, atau kematangan jiwa (cerdas) pada mereka (anak yatim itu). Begitu juga aanastu naaron (menjinakkan api atau mengendalikan api).

Sedangkan kalimat hattaaa tasta’nisuu (24:28), yakni berarti kalian mendapatkan keramahan atau izin dari penghuni rumah.

Adapun manusia disebut al-insaan (dari akar kata yang sama dengan al-ins), menurut satu pendapat, itu karena manusia diciptakan dalam sebuah bentuk atau kejadian yang tidak akan mampu bertahan hidup kecuali dengan keramahan dari sesamanya. Manusia tidak akan hidup tanpa bantuan orang lain.

Oleh karenanya, manusia itu disebut warga kota atau warga negara secara tabiatnya, sebab saling membutuhkan satu sama lain. Tidak mungkin bagi hanya seorang manusia untuk menyusun semua sebab-sebab sehingga menjadi sebuah kota atau negara, kecuali dengan saling membutuhkan dan saling membantu satu sama lain tersebut.

Menurut pendapat yang lain, manusia itu disebut al-insaan, karena manusia merasa senang dengan apa pun yang ia kasihi. Dan pendapat yang lain mengatakan bahwa manusia itu disebut al-insaan, mengikuti wazan (bentuk) if’ilaan. Asalnya insiyaan (lupa). Dinamakan manusia seperti itu, karena manusia telah terikat janji (dengan Allah), kemudian ia lupa dengan janji tersebut.

Sedangkan al-insan menurut Lisan al-Arab, itu sudah diketahui. Yakni berarti manusia. Disebutkan juga bahwa yang dimaksud al-insaan adalah Adam. Bentuk jama’ mudzakkar (plural) dari al-insaan adalah al-naas. Jika berbentuk jama’ muannats, maka itu berarti kabilah atau sebuah kelompok manusia.

Sekilas, penting dikutip juga di sini adalah kata basyarun. Basyar itu bentuk jamak (plural) dari kata al-basyarah. Artinya adalah kulit luar. Kata basyarun ini hanya sebuah ibarat untuk arti manusia. Karena penampilan fisiknya, terutama rambut, yang berbeda dari binatang-binatang lainnya yang berbulu. Lebih lanjut jika diperhatikan QS. 25:54; 38:71; 5:25; 36:15; 18:110; dan lain-lain, basyar itu menunjuk pada makna spesies tertentu. Yakni spesies manusia.

Jadi al-ins itu menunjuk pada sifat. Bukan pada sosok tertentu. Lihat lagi artinya, al-ins itu lawan kata liar. Alias jinak. Nah, liar atau jinak ini adalah sifat. Bukan sosok. Maka tidak cukup al-ins itu diterjemahkan sesimpel manusia. Sebab, tidak semua manusia itu jinak atau liar. Manusia ada yang jinak atau ramah atau baik. Ada pula manusia yang liar, jahat, bringas, bengis, kasar, dan ganas.

Karena al-ins itu lawan dari al-jinn (ingat definisi jin yang khilaf al-ins kemarin), maka jin berarti sifat yang selain jinak. Dengan kata lain, jin juga bisa menunjuk sifat tertentu, seperti liar, bengis, kasar, jahat, dan lain seterusnya itu. Sekali lagi, jin bukan sosok. Tapi sifat yang inheren di dalam sosok.

Kesimpulan sementara menjadi seperti ini. Ada spesies manusia yang disebut basyar. Nah, basyar ini ada yang jinak dan ramah, disebut al-ins. Yakni manusia yang baik. Yang termanifestasi sebagai al-insaan atau al-naas. Dan basyar itu juga ada yang liar, jahat, ganas, disebut al-jinn. Jadi, al-jinn dan al-naas, itu dua-duanya ya manusia! Hanya manusia yang beda sifatnya!!

Kita tak bisa pungkiri pula bahwa, siklus hidup manusia ini pun mengalami proses. Sebelum menjadi manusia modern, dulunya kita adalah manusia purba. Manusia adalah hewan yang berakal, begitu definisnya. Sebelum menjadi al-insaan, manusia awalnya adalah al-basyar. Sedangkan al-jinn, itu sebutan untuk al-basyar pula dengan sifat-sifat tertentu. Maka di Lisan al-Arab itu pula saya menemukan kalimat naasun minal jinn. Yakni sekelompok manusia yang mempunyai kualitas atau sifat jin.

Sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung. Insya Allah…

Salam

Untuk lebih memuaskan, silakan baca di tipkemenangan.blogspotdotkom



Sabtu, 01 Juni 2019

AL-JINN BERSANDING AL-INS


—Saiful Islam—

Berulang kali Allah menyandingkan kata jin atau ‘al-jinn’ itu dengan kata ‘al-ins’. Kata ‘al-ins’ ini sering diterjemahkan secara sederhana dengan manusia. Benarkah ‘al-ins’, berarti manusia sesimpel itu? Lalu apa bedanya dengan ‘basyar’ atau ‘al-basyar’ dan ‘al-insaan’ yang juga sering diterjemahkan dengan manusia?

Nanti kita akan lihat. Seperti biasanya, saya akan coba carikan di kamus-kamus Bahasa Arab. Paling tidak kita merujuk ‘Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an’, serta ‘Al-Mufradat fi Alfazh al-Qur’an’, atau ‘Lisan al-Arab’. Yang versi daring bisa almaany.com, dan lain-lain. Berikut beberapa ayatnya.

QS. Al-Dzariyat[51]: 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

QS. Al-An’am[6]: 128
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia." Lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya sebagian kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan Kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.

QS. Al-An’am[6]: 130
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنْفُسِنَا ۖ وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ
Hai golongan jin dan manusia. Apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri." Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

QS. Al-Isra’[17]: 88
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".

QS. Al-Jinn[72]: 5
وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
Dan sesungguhnya Kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.

QS. Al-Jinn[72]: 6
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

 QS. Al-A’raf[7]: 38
قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِنْ لَا تَعْلَمُونَ
Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), ia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami. Sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui".

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung. Insya Allah…

Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...