Rabu, 19 Juni 2019

JIN NABI SULAIMAN


—Saiful Islam—

“Jin itu, ya menteri kalau sekarang…”

Dalam QS. Al-Naml[27] ayat 20 sampai 28 dikisahkan tentang Nabi Sulaiman yang sedang apel dengan para tentaranya. Ketika ia mengabsen, ternyata tentara khususnya yang bernama Hudhud, belum hadir. Nabi Sulaiman akan memberinya sebuah konsekuensi berupa hukuman. Tak pantas bawahan tidak hadir tanpa keterangan dalam sebuah pertemuan penting. Kecuali, jika Hudhud itu punya alasan yang dibenarkan.

Ternyata tentara khusus Nabi Sulaiman yang satu itu, memang bisa diandalkan. Hudhud baru datang dari Saba’—nama kerajaan di zaman dulu, beribu kota Ma’rib yang terletak di kota San’a (Ibu kota Yaman sekarang). Ia membawa berita penting dari sana. Bahwa raja Saba’ itu adalah perempuan. Besar singgasananya. Kaya raya. Namun sayang, Ratu cantik ini menyembah matahari.

20. Dan dia memeriksa burung-burung (pasukan khusus) lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?

21. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika ia benar-benar datang kepadaku dengan alasan yang terang.”

22. Maka tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini.

23. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.”

24. Aku mendapatinya dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.”

25. Agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.”

26. Allah, tiada Tuhan yang disembah kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai 'Arsy yang besar.”

27. Sulaiman merespon: "Akan kita lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.

28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan."

Setelah mendapat surat itu, Balqis bermusyawarah dengan para ajudannya. Terutama para menteri dan jenderalnya. Rupanya ia akan menempuh jalan persuasi. Mencoba membujuk Sulaiman. Yaitu dengan memberi hadiah kepada Sulaiman lewat para utusan yang dikirim kepadanya. Supaya tidak terjadi pertumpahan darah dalam perang.

Tapi, dengan tegas Nabi Sulaiman menolak. Dia tetap akan menaklukkan kerajaan Balqis itu kalau tetap mengajak penduduk Saba’ menyembah matahari. Nabi Sulaiman murka. Pertama, karena mereka menyembah selain Allah, yakni menyembah matahari. Kedua karena mereka sombong, merasa lebih kaya dari Nabi Sulaiman, sampai berani menyogok Nabi Sulaiman. Gratifikasi. Penghinaan yang besar.

29. Ia (Balqis) berkata kepada para menterinya, "Hai para pembesar. Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

30. Sesungguhnya surat itu dari SuIaiman dan (isi) nya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

31. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".

32. Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini). Aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).”

33. Para pembesar itu menjawab: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan). Dan keputusan (tetap) berada di tanganmu. Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.”

34. Balqis menjawab: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya. Dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina. Demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

35. Sungguh aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”

36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: "Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

37. Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba’) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina".

Maka, surat telah disampaikan. Tawaran persuasif agar mereka menyerah, sudah dilakukan. Rupanya Balqis tidak mau. Dia tetap ingin menyembah matahari. Dia tetap ingin menjadi ratu dengan segala kemewahannya. Bahkan dia sombong dengan merasa lebih kaya dan terhormat dari Nabi Sulaiman.

Maka, setelah rapat dengan para pembesarnya, para menteri dan jendralnya kira-kira kalau sekarang, Nabi Sulaiman akhirnya memerangi Balqis dan bala tentaranya. Ringkas kisah, kerajaan ratu Balqis yang megah itu ditaklukkan oleh Nabi Sulaiman. Jadi, diperangi dulu oleh Nabi Sulaiman. Setelah kalah, barulah ratu Balqis menyerah. Dikisahkan dalam ayat-ayat berikut ini.

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
38. Sulaiman berkata, "Hai pembesar-pembesar. Siapakah di antara kalian yang sanggup membawa singgasananya (menaklukkan kerajaannya) kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”

قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ ۖ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ
39. (Seseorang yang bernama) 'Ifrit dari golongan Jin menjawab, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya (telah ditaklukkan), ia pun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

41. Sulaiman berkata lagi, "Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).”

42. Ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah singgasanamu?" Ia menjawab, "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

43. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya). Karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang ingkar.

44. Dikatakan kepadanya, "Masuklah ke dalam istana.” Tatkala ia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Balqis menjawab, "Ya Tuhanku. Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam".

Nah. Kesimpulannya begini. Pertama Jin Nabi Sulaiman itu pembesar. Atau orang besar. Atau orang bangsawan. Seperti menteri lah kalau sekarang. Tampak sekali di situ, ketika Nabi Sulaiman berkata, “Wahai para pembesar…” Kemudian barulah dijawab oleh Ifrit. Jadi, Ifrit itu ya salah seorang bangsawan itu. Ingat ya, kalimatnya adalah “qoola ‘Ifriitun min al-jinni”. Ifrit dari Jin berkata. Tidak “jinnu ‘Ifriitin”. Bukan Jin Ifrit, yang selama ini umum di masyarakat.

Bangsawan itu disebut Jin, karena biasanya tertutup dari rakyat biasa. Tidak gampang rakyat biasa bisa berinteraksi dengan seorang bangsawan. Sehingga sifat-sifatnya, ide-idenya atau rencana-rencana kerjanya, perkataan, sampai perbuatannya tertutup dari masyarakat pada umumnya. Sudah pas dengan arti asal kata jinn, yaitu apa pun yang tertutup oleh pandangan mata. Apalagi pada zaman itu, teknologi informasi tidak secanggih sekarang. Tidak ada seperti gawai (gadget) dan internet.

Ingat lagi, al-jinn itu sering Allah lawankan dengan al-ins. Jadi sudah pas, al-jinn itu bisa digunakan untuk menyebut para bangsawan. Maka, al-ins bisa digunakan untuk menyebut rakyat biasa. Masyarakat umum. Atau orang kebanyakan. Kalimat Ifrit, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu,” bercerita tentang keyakinannya bisa menaklukkan kerajaan ratu Balqis dengan mudah. Tidak perlu waktu lama. Mengingat militer Nabi Sulaiman jauh lebih hebat dari militernya Balqis.

Kedua, kata al-kitab (buku) yang disebut pada ayat 40 itu, berarti buku atau ilmu dan skill canggih tentang teknik sipil. Bukan kitab suci. Adapun kalimat "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip,” maksudnya orang ini bisa lebih cepat menaklukkan kerajaan Saba’ dibanding Ifrit. Bukan hanya menaklukkan, bahkan orang ini bisa membangun istana persis seperti milik Balqis di kerajaan Nabi Sulaiman.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Senin, 17 Juni 2019

IMAN BABI BUTA


—Saiful Islam—

“Jangan sembarangan beriman. Supaya tidak dilaknat oleh Allah..”

Something metafisik yang wajib kita imani itu memang cuma dua. Pertama, Allah. Dan yang kedua, adalah Malaikat. Jin atau Iblis atau setan, tidak termasuk yang wajib diimani. Bahkan, haram beriman kepada Jin itu. Karena bisa membuat orang sesat dan syirik kepada Allah. “Kebanyakan mereka beriman kepada Jin itu…” (34:41). Selain itu, Jin memang bukan makhluk metafisik. Bukan ‘barang halus’.
QS. Al-Baqarah[2]: 177
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian (kiamat), malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi. Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji. Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya). Dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dari alif, min, dan nun, al-amn asal maknanya adalah tentramnya jiwa dan hilangnya ketakutan. Dari sini memunculkan kata iman, aman, dan amanah. Iman ini bisa berarti syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW (QS.6:69). Disifati dengan ayat ini, yaitu setiap orang yang masuk ke dalam syariatnya, yang meyakini Allah dan kenabiannya. Allah berfirman, “Dan sebahagian besar mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan mempersekutukan-Nya,” (QS.12:106).

Kata iman juga bisa digunakan untuk maksud menundukkan jiwa (patuh) kepada kebenaran dengan membenarkan. Maka di dalam kata iman itu menghimpun tiga hal. Pertama, membenarkan dengan hati (qalb). Kedua, mengakui dengan lisan. Dan ketiga, membuktikan hati dan lisan itu dengan perbuatan. Allah berfirman dalam QS. Al-Hadid[57] ayat 19, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, mereka itulah para shiddiqin.”

Adapun QS Yusuf[12] ayat17, “Engkau tidak akan beriman kepada mami, meski kami adalah orang-orang yang benar," maknanya adalah membenarkan. Karena iman itu membenarkan yang harus disertai dengan rasa aman atau tentram.

Berdasar (2:177) di atas, rukun iman itu cuma lima. Dua yang metafisik, yakni Allah dan Malaikat. Dua sisanya adalah fisik, yakni para utusan Allah (Nabi atau Rasul-Nya) dan kitab-kitab-Nya. Dan satu yang terakhir adalah sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang (future atau mustaqbal), yakni hari yang terakhir (kiamat) di dalam kehidupan dunia ini.

Jadi, keimanan itu tidak selalu kepada sesuatu yang metafisik. Tetapi juga iman kepada sesuatu yang fisik. Iman kepada kitab-kitab-Nya dan para nabi atau rasul-Nya. Iman kepada kitab-kitab-Nya misalnya. Itu bukan sekadar percaya bahwa ada buku yang bernama Suhuf Ibrahim, Zabur, Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Tapi beriman bahwa buku-buku tersebut adalah firman Allah. Sebab tidak sedikit orang yang tidak percaya bahwa buku-buku itu adalah firman Allah. Menurut mereka, itu hanya buku-buku karangan manusia biasa.

Begitu juga beriman kepada para rasul-Nya. Misalnya kepada Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Bukan sekadar percaya bahwa mereka itu ada. Tapi percaya bahwa mereka adalah para tokoh yang dipilih Allah untuk menyampaikan firman-Nya kepada manusia yang lain. Karena banyak para ateis dan agnostik yang tidak percaya bahwa mereka telah dipilih Tuhan. Mereka yakin, para tokoh tersebut adalah orang biasa. Atau bahkan tokoh-tokoh rekaan belaka. Fiksi atau cuma dongeng yang tak pernah ada di dunia nyata.

Banyak yang salah paham dengan keimanan ini. Atau sengaja menyalahkan pahamnya sendiri. Dikiranya, iman itu sekadar percaya. “Harus beriman kepada Jin, karena Jin itu ada dalam Al Qur’an,” katanya. “Harus beriman kepada sihir, karena sihir itu tercantum di dalam Al Qur’an,” kata yang lain lagi. Malah mengaitkan keimanan kepada Jin itu dengan Jin Nabi Sulaiman.

Insya Allah, nanti akan saya ceritakan tentang Jin Nabi Sulaiman itu. Sekilas info, Jin Nabi Sulaiman ini memang sering dijadikan kambing hitam untuk menipu dan membodohi umat. Jangankan orang rata-rata. Yang sudah profesor sekalipun bisa membenarkan aksi tipu-tipu murahan itu. Kasus Dimas Kanjeng misalnya. Orang-orang ‘lugu’ seperti ini yakin bahwa magic yang tak ada sebab musababnya itu ada. Padahal di YouTube sudah banyak, bagaimana trik magic itu dikupas, dibahas, dan dibongkar. Revealed!

Sekali lagi, iman itu tidak hanya sekadar percaya kepada keberadaan. Kata-kata seperti Jin, Iblis, setan, dan sihir, itu memang ada dalam Al Qur’an. Tidak bisa kita ingkari keberadaan kata-kata tersebut. Justru, yang harus kita ingkari adalah konsep Jin, Iblis, setan, dan sihir tahayyul dan mitos yang dikarang-karang sendiri oleh masyarakat. Baik oleh masyarakat primitif jahiliyah, maupun masyarakat modern jahiliyah. Ingat, Qur’an ini datang memang untuk mengoreksi konsep animisme—dinamisme (seperti penyembah berhala), Nasrani, dan Yahudi.

Kita ini memang tidak boleh sembarang beriman. Jangan sembarangan beriman. Supaya tidak dilaknat oleh Allah. Seperti dikisahkan dalam ayat berikut ini.

QS. Al-Nisa’[4]: 51—52
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا
51. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari al-kitab? Mereka beriman kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang mukmin.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا
52. Mereka itulah orang yang dilaknat Allah. Barangsiapa yang dilaknat Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.

Sampai di situ dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Minggu, 16 Juni 2019

IMANI ALLAH DAN MALAIKAT SAJA?


—Saiful Islam—

“Tidak usah beriman kepada Iblis, setan, yang ternyata adalah Jin itu sendiri...”

Kemarin sudah ketahui bersama. Bahwa haram kita beriman kepada Jin. Tepatnya Jin hayali yang dikarang-karang dengan imajinasi masyarakat sendiri. Jin fiksi. Fiktif. Semua itu adalah kisah-kisah mitos belaka. Cuma rekaan. Tahayyul. Karangan fiksi, sungguh tidak layak kalau kita ingin mencari kebenaran. Kebenaran Al Qur’an maupun Sains. Karya fiksi itu baru sangat bermanfaat, kalau konteksnya hiburan. Misalnya mengarang cerpen, novel, naskah film, dan semisalnya. Sementara Qur’an dan Sains, ini konteksnya non fiksi.

Justru yang mesti kita imani selain Allah, firman-Nya dalam beberapa kitab, para Nabi atau Rasul, hari terakhir (kiamat), adalah iman kepada Malaikat (QS. Al-Baqarah[2]: 177). Agaknya, something metafisik yang mesti diimani itu hanya Allah dan Malaikat. Iblis, setan, yang sejatinya adalah Jin, memang tak perlu diimani. Tapi cukup dipahami. Sebab secara material, bahan dasarnya adalah hal fisik yang sudah kita ketahui, yakni api. Bagaimana mengimani Malaikat itu? Karena keterbatasan halaman, dan supaya kalian nyaman membacanya, sekilas saja akan saya lukiskan di sini.

Saya cari dari hamzah, lam, dan kaf. Alaka. Al-malaaikah dan malak aslinya adalah ma’lak (pakai hamzah bukan ‘ain). Menurut satu pendapat, kata ini terbalik. Asalnya adalah mal’ak. Al-ma’lak, al-ma’lakah, dan al-‘uluuk artinya adalah al-risaalah, yakni surat kiriman atau berita yang dikirim. Jika dikatakan alikniy, artinya sampaikan kepadanya suratku.

Kata al-malaaikah (Malaikat) itu bisa bermakna tunggal (mufrad atau singular), bisa juga bermakna jama’ (plural atau minimal tiga dalam Bahasa Arab). “Allah memilih sebagian dari Malaikat itu menjadi utusan-Nya..,” (QS. Al-Hajj[22]:75). Yakni utusan yang menyampaikan wahyu-Nya. Menyampaikan informasi-Nya. Alias firman-firman-Nya.

Sedangkan dari kata malaka, ada keterangan begini. Bahwa malakun itu adalah yang menghandle urusan terkait siasat (strategi dan taktik) dari bangsa Malaikat. Sedangkan dari bangsa manusia, disebut malikun. Setiap malakun pasti malaikat. Dan tidak setiap malaikat itu malak. Yakni kira-kira begini: tidak setiap malaikat mengurusi soal taktik dan strategi.

Dengan kata lain, malakun itu adalah malaikat yang punya tugas tertentu. Al-malak itu seperti ditunjukkan oleh ayat berikut ini: “Demi (Malaikat-Malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras,” QS.79: 1 dan 5. “Dan (Malaikat-Malaikat) yang membagi-bagi urusan,” QS.51: 4, dan semisalnya. Dan malak al-maut (Malaikat pencabut nyawa) seperti QS.69: 17; 2:102; dan QS.32: 11.

Al Qur’an tidak pernah menyebut bahwa material Malaikat itu dari cahaya, sebagaimana yang umum kita dengar. Yang menyebut Malaikat itu dari cahaya adalah Hadis. Ada di Shahih Muslim. Dari Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari nyala atau bara api, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian.”

Allah menyebut bentuk Malaikat seperti berikut.

QS. Fathir[35]: 1
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ جَاعِلِ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُو۟لِىٓ أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ ۚ يَزِيدُ فِى ٱلْخَلْقِ مَا يَشَآءُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Malaikat disebut ruh yang bisa menjelma (malih rupo) menjadi manusia yang nyata. Seperti yang pernah terjadi pada Maryam. Berikut ini.

QS. Maryam[19]: 17
فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami (Malaikat) kepadanya. Maka Malaikat itu menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Disamping datang kepada Maryam, Malaikat juga datang kepada Nabi Zakariya, Nabi Ibrahim, dan Nabi Luth. Termasuk datang kepada Nabi Adam. Dengan begitu, Malaikat bisa berkomunikasi dengan manusia. Tapi bukan sembarang manusia. Tapi manusia yang telah dipilih Allah untuk menyampaikan risalah-Nya. Yakni para rasul-Nya. Ayat-ayatnya bisa dilihat misalnya QS.3:39; 15: 52-52 dan 61—66; 51: 24—28 dan 31—34; dan lain-lain.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam




Sabtu, 15 Juni 2019

HARAM IMAN KEPADA JIN


—Saiful Islam—

“Kebanyakan mereka beriman kepada Jin itu…”

Jangan lupa ya. Jin itu apa pun yang tak kasat mata. Mata telanjang tak akan bisa melihat Jin. Karena setelah kita tinjau secara materialnya, Jin memang adalah energi. Dilawankan dengan manusia yang ramah, Jin adalah manusia yang mempunyai kualitas-kualitas tertentu. Alias, Jin itu manusia yang punya sifat tertentu. Karena Iblis itu dari Jin, maka Iblis pun adalah manusia. Lebih tepatnya, Iblis itu adalah manusia yang kesetanan.

Banyak sekali masyarakat kita, Jawa-Madura misalnya, itu percaya kepada roh-roh nenek moyang yang dianggap bisa bergentayangan. Diyakini para arwah tersebut bisa berinteraksi dengan dunia mereka. Bisa memberi manfaat dan mudarat. Bahkan di Tangkong, desa saya di Banyuwangi itu masih menyediakan secangkir kopi, ketan putih yang ditaburi gula putih dan butiran kacang, serta damar telempek, pada malam Jum’at. “Mbae moleh,” (nenek/kakek yang sudah meninggal sedang pulang) katanya.

Masyarakat kita itu juga tak sedikit yang mempercayai benda-benda tertentu yang punya kekuatan gaib. Misalnya keris; tulisan-tulisan Arab yang dijadikan gelang, ikat pinggang; cincin akik; batu-batuan seperti batu onik yang juga dibuat cincin, gelang, dan kalung; tangkai bambu; tanduk kerbau, kijang, dan semisalnya; pohon-pohon besar; dan seterusnya. “Jimat,” begitu yang kerap mereka katakan. Khas sekali kepercayaan dinamisme—animisme.

Tak cuma itu, keyakinan tersebut berlanjut. Dikatakan bahwa ada orang yang bisa berinteraksi dengan Jin yang sosok itu. Bisa menyuruh-nyuruh Jin sosok itu seenak kehendaknya. Bisa dipanggil untuk bisa masuk ke dalam diri seseorang, kesurupan. Maka muncullah istilah dukun, paranormal, yang dicitrakan hebat. Sosok yang bisa memberi celaka kepada orang lain secara magic—incognito dengan bantuan Jin. Hasilnya adalah penipuan demi penipuan serta pembodohan demi pembodohan yang kerap kita temui dalam kehidupan sehari-hari maupun di Koran Jawa Pos.

Karena kita bagian dari masyarakat, keyakinan-keyakinan masyarakat itu tanpa sadar juga memengaruhi kita. Hayalan-hayalan (tahayyul) yang telah membudaya itu, akhirnya kita ikut mengimaninya. Lantas menyembahnya. Sama persis orang-orang animisme—dinamisme yang memang sangat jauh dari Sains dan baca tulis. Apalagi Al Qur’an. Padahal keimanan kepada Jin yang seperti ini, dikecam oleh Allah.

QS. Saba’[34]: 41
قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ
Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha suci Engkau. Engkaulah pelindung kami. Bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah Jin. Kebanyakan mereka beriman kepada Jin itu".

Maka, haram beriman kepada Jin hayali seperti itu. Termasuk turunannya: sihir, santet, guna-guna, pengasihan, dan seterusnya. Islam tidak memperkenankan kita iman atau keyakinan yang membabi buta. Disebut buta, karena yakin asal yakin. Tidak ada rujukannya yang jelas. Terjebak kepada keyakinan umum yang sesat. Lantas hasilnya adalah kesyirikan. Alias menyekutukan Allah dengan Jin hayali tersebut. Orang menjadi jauh dari iman yang benar: kepada Allah dan Al Qur’an. Berpikirnya menjadi terhempas dari literasi Sains. Sebaliknya, malah dekat dengan dukun dan paranormal yang istilah anak muda, bullshit.

Dan memang kebiasaan orang, dimana-mana saya kira, itu kalau tidak tahu Sainsnya, pasti larinya ke mistis. Orang itu kalau tidak memahami Al Qur’an dan Sains, pasti berpikirnya akan mistik dan fatalistik. Khas masyarakat jahiliyah. Masyarakat primitif yang jauh dari budaya baca tulis. Maka supaya hidup kita ini selamat, dunia akhirat, kita mesti mengakrabi Al Qur’an dan Sains. Wajib itu!

Kita memang tidak boleh iman ngawur. Iman itu harus sesuai hanya dengan informasi yang Allah berikan lewat wahyu kepada Nabi Muhammad. Al Qur’an. Menurut QS.2: 177, 285; dan 4: 136 misalnya, yang wajib diimani itu cukup lima saja: iman kepada Allah, para Malaikat, para Nabi atau Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari yang terakhir (kiamat). Di ayat-ayat tersebut tidak disebutkan iman kepada Jin, setan, ataupun kepada Iblis.

QS. Al-Nisa’[4]: 136
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Sampai di situ dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam



Jumat, 14 Juni 2019

MENTAKWIL DIALOG IBLIS


—Saiful Islam—

“Jangan membayangkan dialog Allah itu, terjadi di surga antah barantah…”

Kali ini, kita akan memperhatikan paling tidak tiga dialog. Pertama, dialog Allah dengan Iblis. Kedua, dialog Allah dengan Malaikat. Dan yang ketiga, adalah dialog Allah dengan Adam atau dengan manusia.

Untuk dialog Allah dengan Iblis, ayat-ayatnya sudah kita kutip sebelumnnya. Misalnya, ayat berikut ini.

QS. Shad[38]: 75—76
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ
75. Allah berfirman: "Hai Iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?".

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
76. Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripadanya. Karena Engkau ciptakan aku dari api. Sedangkan dia, Engkau ciptakan dari tanah".

Sedangkan dialog Allah dengan Malaikat, misalnya diceritakan oleh ayat berikut.

QS. Al-Baqarah[2]: 30—32
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Malaikat menjawab: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam mama-nama (benda-benda) seluruhnya. Kemudian mengemukakannya kepada Malaikat, lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu yang benar!"

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
32. Malaikat menjawab: "Maha suci Engkau. Tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Adapun dialog Allah dengan Adam atau dengan manusia, sebagaimana digambarkan dalam ayat di bawah ini. Secara tersirat, di ayat berikut juga ada dialog antara Adam dan Malaikat.

QS. Al-Baqarah[2]: 33
قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ
Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan apa yang kamu nyatakan, serta yang kamu sembunyikan?"

QS. Al-A’raf[7]: 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami bersaksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".

Bagaimana memahami ayat-ayat tersebut? Yang jelas, jangan menggambarkan sebuah adegan seperti di film-film. Yakni ada sosok Allah, sosok Adam, sosok Iblis, dan sosok Malaikat, di sebuah tempat di langit. Atau seperti di sebuah ruangan di dalam kerajaan. Atau seperti di surga. Kemudian antara Allah, Adam, Malaikat, dan Iblis berhadap-hadapan langsung. Berdiskusi seperti sekumpulan orang sedang rapat atau musyawarah. Ngobrol face to face. Tentu tidak demikian. Tidak begitu pemahamannya.

Allah itu tidak seperti apa-apa. Juga tidak seperti siapa-siapa. Allah juga tidak menempati sesuatu. Allah tidak berada di dalam ruang dan waktu. Tapi Allah meliputi segala sesuatu. Termasuk meliputi ruang dan waktu. Ruang angkasa yang maha luas dan maha besar ini, tak ada apa-apanya dibanding Kemahabesaran Allah. Jin pun, tidak mengetahui yang ghaib (QS.34:14). Tidak mungkin Allah satu dimensi dengan Malaikat, Iblis, Jin, Adam, dan seterusnya.

Kita harus melakukan takwil. Apa itu takwil? Gampangnya begini: mengalihkan makna hakikat ke makna kiasan karena secara rasional tidak memungkinkan dimaknai secara hakikat. Memahami secara konotatif karena tidak bisa diartikan secara denotatif. Menggunakan makna majazi, karena tak bisa diartikan hakikinya. Ini seperti kalimat dalam Qur’an, “Allah bersemayam di atas Arasy,” atau “Tangan Allah,” atau “Wajah Allah”, tentu kita tidak boleh memahaminya secara tekstual. Tapi harus alias wajib kontekstual.

Dialog Allah dengan Iblis, dengan Malaikat, dan dengan Adam, ini sekadar menggambarkan bahwa ada something yang baik. Yang mengajak dan mengarah kepada kebaikan. Sebaliknya, ada something yang buruk dan jahat. Mengajak kepada keburukan dan kejahatan. Ada Allah yang mengganjar kebaikan dengan surga. Serta membalas keburukan dan kejahatan dengan neraka. Dan ini semua sudah kehendak-Nya.

Begitu juga dialog terakhir antara Allah dengan jiwa manusia. “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Kemudian dijawab oleh jiwa itu, “Benar. Kamis bersaksi,” ini juga makna kiasan. Bukan makna sebenarnya. Artinya, sudah ada perjanjian primordial antara Allah dengan jiwa anak keturunan Adam. Kita. Sebelum dilahirkan. Bahwa sejatinya, kita ini sudah bertuhan. Fitrah kita adalah bertuhan.

Juga sudah menjadi perjanjian primordial bahwa Allah akan menguji manusia. Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan. Untuk menguji siapa yang terbaik amal perbuatannya. Kebaikan dan keburukan itu sendiri adalah ujian. Akan ada Iblis yang akan mendorong manusia berbuat keburukan. Akan ada Malaikat yang akan mensupport kita untuk berbuat kebaikan, prestasi, dan kemanfaatan. Perjanjian primordial!

Sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...