Senin, 24 Juni 2019

SIHIR ERA MILLENIAL


—Saiful Islam—

“Punya mulut ini, seperti kita sedang memelihara singa…”

Taurat, Injil, dan Al Qur’an ini disebut sihir. Bukan Allah yang menyebut. Biasanya, penyebutan itu dilakukan oleh musuh-musuh para Nabi. Kaum Nabi Musa menyebut beliau sebagai ahli sihir. Kaum Nabi Isa, juga begitu. Menyebut beliau sebagai penyihir. Para kafir Quraisy, pun demikian. Melabeli Nabi sebagai orang yang punya sihir. Memang kata sihir dalam kamus-kamus Arab, maupun ayat-ayat Al Qur’an selalu berkonteks negatif.

Bahkan semua Rasul yang 25 itu, disebut penyihir oleh kaumnya masing-masing yang kafir. Firman Allah yang berupa kitab-kitab tersebut mereka yakini sebagai menipu belaka. Dusta. Memperdaya. Sesuai makna asal kata sihir itu. Mereka tahu dan merasakan bahwa kalimat-kalimat Allah yang diucapkan para Nabi itu berdampak. Pengaruh yang mengagumkan.

QS. Al-Dzariyat[51]: 52
كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
Demikianlah tidak seorang Rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka (kaumnya) mengatakan: "Dia adalah seorang penyihir atau seorang gila."

QS. Al-Ahqaf[46]: 7
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran itu saat datang kepada mereka: "Ini adalah sihir yang nyata.”

QS. Al-An’am[6]: 7
وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ
Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata."

Fir’aun, lawan Nabi Musa, itu melabeli Nabi Musa sebagai penyihir. Ya, karena ayat-ayat Allah yang beliau sampaikan.

QS. Al-Zukhruf[43]: 49
وَقَالُوا يَا أَيُّهَ السَّاحِرُ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَ
Dan mereka berkata: "Hai ahli sihir. Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Kami (jika doamu dikabulkan) benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk.

QS. Al-Dzariya[51]: 39
فَتَوَلَّىٰ بِرُكْنِهِ وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
Maka Dia (Fir'aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila."

Yang dimaksud dengan ayat atau ayat-ayat di bawah ini, ya firman Allah. Bukan mukjizat yang dianggap magic (tanpa sebab akibat) sebagaimana yang sering diterjemahkan. Jelas sekali, ayat. Jika konteksnya adalah Nabi Musa, maka ayat yang dimaksud adalah Taurat atau bagian dari Taurat. Apalagi ada kalimat kaumnya itu jelas berkata, “Kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu…”

QS. Al-Qomar[54]: 2
وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ
Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu ayat, mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus.”

QS. Al-Qashash[28]: 36
فَلَمَّا جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُفْتَرًى وَمَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ
Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa) ayat-ayat Kami yang nyata, mereka berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat. Dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu".

Mereka menyebut Suhuf Ibrahim sebagai sihir. Nabi Ibrahim dicap sebagai tukang sihir atau penyihir.

QS. Al-Zukhruf[43]: 30
وَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ وَإِنَّا بِهِ كَافِرُونَ
Dan tatkala kebenaran (Suhuf Ibrahim) itu datang kepada mereka, mereka berkata: "Ini adalah sihir dan Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang mengingkarinya.”

Nabi Isa disebut penyihir. Karena beliau mengajarkan firman Allah Injil, yang juga mereka sebut sihir.

QS. Al-Maidah[5]: 110
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَىٰ وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۖ وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ ۖ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ۖ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; Dan (ingatlah) di waktu aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil,. Dan (ingatlah pula) di saat kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di kala kamu mengeluarkan orang mati dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata".

Al Qur’an mereka sebut sebagai sihir. Karenanya Nabi Muhammad lantas mereka sebut sebagai penyihir.

QS. Shad[38]: 4
وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.”

QS. Saba’[34]: 43
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُكُمْ وَقَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ مُفْتَرًى ۚ وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: "Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh bapak-bapakmu." Mereka juga berkata: "(Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja.”Serta orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”

QS. Al-Qashash[28]: 48
فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا لَوْلَا أُوتِيَ مِثْلَ مَا أُوتِيَ مُوسَىٰ ۚ أَوَلَمْ يَكْفُرُوا بِمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ قَالُوا سِحْرَانِ تَظَاهَرَا وَقَالُوا إِنَّا بِكُلٍّ كَافِرُونَ
Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran (Al Qur’an) dari sisi Kami, me- reka berkata: "Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu?" Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang telah diberikan kepada Musa dahulu? Mereka dahulu telah berkata: "Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang saling membantu.” Dan mereka (juga) berkata: "Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu.”

Jadi sihir itu adalah tuduhan orang-orang yang ingkar kepada firman-firman Allah yang disampaikan oleh para Rasul yang tulus itu. Dijawab oleh Allah bahwa merekalah sejatinya penyihir itu. Tipu-tipu mereka, hoax-hoax, dusta, bohong, adu domba, ghibah, fitnah, hinaan, cacian, makian, bullying, ujaran kebencian, pengingkaran tanpa ilmu, kata-kata kotor, dan kalimat-kalimat negatif merekalah yang sejatinya sihir itu.

Sebaliknya. Firman-firman Allah adalah al-haq. Al Qur’an adalah kebenaran. Ia bisa menyembuhkan. Kalimat-kalimatnya penuh dengan motivasi dan inspirasi pada kebaikan. Samudra ibrah. Yang memberi pengharapan. Yang mencerahkan. Yang membangkitkan semangat dan gairah kebaikan, perbaikan dan prestasi. Yang mencahayai. Yang menghidupkan akal-akal, jiwa-jiwa, dan hati yang sakit. Bahkan yang sudah mati.

SAMBUTLAH seruan Allah dan Rasul-Nya, ketika mengajakmu pada sesuatu yang MENGHIDUPKANMU… (8:24)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Minggu, 23 Juni 2019

SEBAB AKIBAT SIHIR


—Saiful Islam—

“Deddy Corbuzier misalnya. Memang tujuannya adalah “mengelabui” penonton. Makanya, Jum’at kemarin dia masuk Islam. Hehehe…”

Kira-kira lima atau enam tahun yang lalu, kawan karib saya datang dari Madura. Santri taat. Ia menginap di rumah kami, di Surabaya. Pukul enam pagi, saya ajak ke pasar. Kebetulan di pasar ini ada pesulap yang berjualan alat atau trik sulapnya. Pesulap ini meremas-remas kain juga putung rokok, dan tiba-tiba hilang. Anehnya, dia bisa menghadirkan lagi kain dan potong rokok itu dari mulutnya. Wow! Surprised!! Selain itu, pesulap itu hanya menggoyangkan uang yang ada di tangannya. Tiba-tiba dua ribu rupiah, menjadi lima ribu. Menjadi sepuluh ribu. Menjadi dua puluh ribu. Lima puluh ribu. Dan seterusnya sampai bertumpuk-tumpuk. Amazing!!!

Kawan saya itu penasaran sekali. Dia amat yakin bahwa itu ulah Jin. Atau bantuan setan. “Itu ada triknya, Kawan,” kata saya padanya. Dia tidak percaya. Malah semakin penasaran. Dan memutuskan untuk membeli. Sebagaimana janjinya, dengan membeli, pesulap ini akan memberi tahu triknya. Atau memberi alatnya. Secara privat. Langsung di tempat itu. Dan benar, setelah tahu alatnya, triknya, sebab-akibatnya, kawan saya ini kecewa ketika kembali ke rumah kami. Alat itu seperti tutup pulpen yang dibentuk seperti jari jempol tangan orang dewasa. Kain dan putung rokok tadi dia masukkan ke dalamnya.

……………………....

Makna sihir versi KBBI tidak bisa digunakan untuk memahami sihir yang terkait dengan teologi Islam. Tidak bisa juga hanya berdasar “katanya dan katanya” di masyarakat Jawa—Madura misalnya. Beda konteksnya. Kita harus memahami sihir itu dari ayat-ayat Al Qur’an. Baik teks maupun konteksnya. Serta dari sumber-sumber Arab yang valid. Salah satunya kamus Arab. Seperti Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an dan Lisan al-‘Arab.

Mari kita perhatikan lagi makna sihir versi Arabnya.

كلّ أمر يخفى سببُه ، ويُتخيّل على غير حقيقته ، ويجري مجرى التمويه والخداع ، إخراج الباطل في صورة الحقّ ، استخدام القوى الخارقة بواسطة الأرواح
Sihir adalah apapun yang tersembunyi sebabnya, terbayang sesuatu yang bukan sebenarnya, posisinya adalah tipuan; menampakkan kedustaan yang seolah-olah kebenaran; menggunakan kekuatan luar biasa dengan perantara roh-roh.

Perhatikan sekali lagi kalimat, “terbayang sesuatu yang bukan sebenarnya”. Jadi hanya terbayang. Terbayang apa? Terbayang sesuatu yang luar biasa. Magic. Yang membuat kita berdecak kagum, “Kok bisa ya?”. Padahal kalau kita ketahui trik-triknya, tiba-tiba saja berubah dalam benak kita, “Ealah. Ngono ta tibak e,” kata orang Surabaya. “Perak ngak rea,” kata kawan Madura. “Tibiane mong gedigu,” ucap orang Oseng Banyuwangi.

Perhatikan juga kalimat, “posisinya adalah tipuan”. Jelas sekali, tipuan. Ya, tipuan. Jadi sihir itu memang tipuan. Sekali lagi, sudah jelas tipuan. La kok di masyarakat justru sihir itu dianggap sampai diyakini sesuatu yang luar biasa. Yang hebat. Yang benar-benar terjadi. Malah dibumbu-bumbui, “perantara Jin, punya asisten Jin, kerja sama dengan Jin, perbuatan Jin,” dan semisalnya.

Cermati juga kalimat, “menampakkan kedustaan yang seolah-olah kebenaran”. Jadi kebenaran yang dihebat-hebatkan masyarakat itu hanya seolah-olah. Cuma terbayang. Diyakini tanpa verifikasi. Aslinya apa? Kedustaan. Ya, kedustaan. “Apos,” orang Oseng Banyuwangi bilang. “Mbojok,” kata Arek Suroboyo. “Lecek,” jika diucapkan oleh kacong-cebing Madura.

Barulah kalimat ini yang menjadi masalah, “menggunakan kekuatan luar biasa dengan perantara roh-roh”. Roh-roh di sini tentu bukan sosok-sosok makhluk halus. Kata arwah itu bentuk plural dari ruuh. Al Qur’an tidak pernah menyebut arwah itu untuk makhluk halus. Tapi untuk ruh yang masuk pada makhluk hidup seperti manusia, Al Qur’an disebut ruh (42:52), dan ruh al-quds (16:102) untuk Malaikat Jibril.

Tidak ada dalam Al Qur’an frase ruh Jin, ruh setan, atau ruh Iblis! Tidak ada!! “Menggunakan kekuatan luar biasa dengan perantara roh-roh,” adalah keyakinan khas masyarakat primitif animisme—dinamisme yang sangat ditentang oleh Al Qu’ran. Tidak ada kekuatan dari roh-roh. Kekuatan itu hanya dari Allah. Bisa lewat Malaikat.

Sekarang definisi berikutnya.

لَمْ يَكُنْ ما جاءَ بِهِ إلا سِحْراً : كُلُّ أَمْرٍ أوْ عَمَلٍ يُزْعَمُ أنَّهُ خَارِقٌ للعَادَةِ وَالطَّبِيعَةِ وَلاَ يُعْرَفُ سَبَبُهُ وَيُقْصَدُ بِهِ التَّمْوِيهُ وَالخِدَاعُ
Yang dilakukannya tidak lain adalah sihir. Maksudnya adalah setiap sesuatu atau pekerjaan yang dianggap keluar dari kebiasaan atau hukum alam, tidak diketahui sebabnya, dengan tujuan menipu atau memperdayakan.

Tidak ada yang keluar dari hukum alam. Sunnatullah. Allah sudah mengatur mekanisme alam semesta ini dengan sunnatullah. Dengan sistem. Sehingga berjalan teratur sekaligus indah. Tidak liar. Setiap sesuatu selalu ada sebab akibatnya. Karenanya, Allah memerintahkan kita untuk mengambil ibrah (pelajaran) darinya. “Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnatullah. Dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnatullah itu,” (35:43).

“Tidak diketahui sebabnya, dengan tujuan menipu atau memperdayakan,” ini adalah supalan. Tukang sulap memang berusaha keras aksinya itu tidak diketahui sebabnya. Disembunyikan triknya. Menyembunyikan sebab, adalah tujuan utamanya. Supaya aksinya terkesan amazing. Ajaib. Luar biasa. Semua pesulap atau magician, seperti Deddy Corbuzier misalnya, memang tujuannya adalah “mengelabui” penonton. Makanya, Jum’at kemarin dia masuk Islam. Hehehe.

Deddy ini orang cerdas. Sebelum masuk Islam itu, sering saya menonton videonya di YouTube. Dia adalah magician yang hebat. Keluarganya multi religi. Seandainya dia memang bisa bersekutu dengan Jin, pastilah dia tidak akan mau kerja capek-capek jadi presenter, fitness trainer, actor, atau YouTuber. Tidak akan nge-gym untuk membentuk otot-ototnya. Tidak akan mau masuk Islam. Kenapa? Dia bisa kaya raya, bisa terkenal, bisa sakti, cukup dengan perantara Jin-Jinnya. Right?!

Di situ dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Sabtu, 22 Juni 2019

MENYUSUN PUZZLE SIHIR


—Saiful Islam—

“Penyihir itu, ya pesulap. Sulapan itu trik. Bukan magic…”

Kita mendapat gambaran yang lebih utuh dari buku berbahasa Arab, Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an karya Al-Raghib al-Ashfahaniy. Kata Al-saharu diartikan sebagai ujungnya tenggorokan dan paru-paru. Jika dikatakan, intafakha saharuhu dan ba’iirun sahrun, itu berarti tenggorokan yang bengkak atau menggelembung. Al-suhaarah, itu sesuatu (kotoran) yang diambil dari tenggorokan (hewan) saat peyembelihan. Menurut satu pendapat, dari kata al-suhaarah inilah kata al-sahr terbentuk. Yaitu yang terkait dengan tenggorokan.

Adapun kata sihir atau al-sihr, itu mengandung beberapa makna. Pertama, berarti tipuan, kecurangan, pembohongan, tipu daya, dan khayalan, gambaran, atau imajinasi. Tidak ada kebenarannya sama sekali. Seperti dilakukan pesulap yang mengelabui mata dengan cepatnya tangannya. Dan seperti dilakukan pengadu domba, tukang gosip, tukang fitnah atau hoaxers dengan omongan bohong yang indah-indah yang menglangi pendengaran mencapai informasi yang benar. Karena itulah, Allah berfirman dalam ayat-ayat berikut ini.

QS. Al-A’raf[7]: 116
قَالَ أَلْقُوا ۖ فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ
Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).

QS. Thaha[20]: 66
قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ
Musa berkata: "Silahkan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.

Dengan pandangan seperti ini, para pesulap itu melabeli Musa AS sebagai penyihir. Perkataan mereka ini dikisahkan oleh Allah dalam Al Qur’an surat 43, Al-Zukhruf ayat 49 di bawah ini. Jadi, yang mereka maksud dengan ahli sihir di sini ialah Nabi Musa AS.

وَقَالُوا يَا أَيُّهَ السَّاحِرُ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَ
Dan mereka berkata: "Hai ahli sihir. Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Kami (jika doamu dikabulkan) benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk.

Kedua, sihir berarti mendatangkan pertolongan setan. Mendekatkan diri kepada setan. Seperti firman Allah SWT dalam QS. Al-Syu’ara[26]: ayat 221 - 222 berikut.

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ
221. Apakah akan aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?
تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ
222. Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa.

Karena itu, Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah[2]: ayat 102: “Setan-setan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia..”

Untuk makna kedua ini, ditunjukkan oleh beberapa firman Allah QS. Saba’[34]: 43, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”; QS. Al-A’raf[7]: 116, “Mereka mendatangkan sihir yang menakjubkan.”; QS. Yunus[10]: 77, “Sihirkah ini? Padahal para sihir itu tidaklah mendapat kemenangan.”; serta QS. Al-Syu’ara[26]: ayat 38, “Maka dikumpulkan para penyihir pada waktu yang ditetapkan.” dan “Tersungkurlah para penyihir itu sambil bersujud,” (26:46).

Ketiga, sihir berarti sesuatu yang terkait dengan al-aghtaam. Yaitu nama perbuatan yang dianggap bisa mengubah bentuk fisik dan sifat sesuatu dengan kekuatannya sendiri. Misalnya mengubah manusia menjadi domba. Tentu ini tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Terkadang sihir itu tampak baiknya. Seperti dikatakan, “Sebagian dari kata-kata, itu sihir.” Dan kadang tampak halusnya perbuatan. Sampai para dokter berkata, “Tabiat (sifat atau karakter) itu menyihir.” Mereka menyebut asupan bergizi itu sihir. Dilihat dari halusnya efeknya.

QS. Al-Hijr[15] ayat 15, “Kami adalah orang-orang yang terkena sihir,” yakni kami dipalingkan dengan sihir itu dari pengetahuan kami. Karena itu Allah berfirman dalam QS. Al-Syu’ara[26] ayat 153, “Sesungguhnya engkau adalah salah seorang dari orang-orang yang musahharin,” dikatakan yaitu bagian dari orang yang diberi makan sahur, karena ia butuh asupan gizi. Seperti firman Allah QS. Al-Furqan[25]: 7, “Mengapa Rasul itu memakan makanan…”

Serta diingatkan bahwa rasul itu manusia biasa, seperti pada QS. Al-Syu’ara[26]: 154, “Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami…,” dikatakan bahwa yaitu orang yang punya sihir. Maksudnya berkenaan dengan kehalusannya terkait dengan apa yang ia dakwahkan.

Bisa bermakna dua-duanya, yakni baiknya sihir dan halusnya perbuatan, yaitu firman Allah QS. Al-Isra’[17]: ayat 47, “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir,” dan ayat 101, “Sesungguhnya aku sangka engkau, wahai Musa, seorang yang kena sihir.”

Sedangkan al-saharu dan al-saharoh yaitu berarti bercampurnya gelapnya akhir malam dengan cahaya siang. Disebutlah dengan waktu sahur. Maka ada ungkapan Arab, “Laqoytuhu bi al’laa al-saharoyn,” (Aku telah menemuinya di dua ujung waktu sahur). Al-mushir itu adalah sebutan untuk orang yang keluar rumah di waktu sahur. Adapun al-sahuur, yang kerap diucapkan di Indonesia, ini berarti makanan yang disantap pada waktu sahur. Kegiatan makannya disebut al-tasahhur, mengikuti bentuk tafa’ala.

Analisisnya insya Allah bersambung, nggih. Semoga bermanfaat…

Salam

Jumat, 21 Juni 2019

ARWAH ORANG JAWA—MADURA


—Saiful Islam—

“Sihir, nggak ada urusannya dengan Jin…”

Mengenai sihir. Agaknya kebanyakan kita ini terpengaruh oleh kamus Bahasa Indonesia. Sedangkan kamus ini sendiri terpengaruh oleh keyakinan umum masyarakat. Common sense. Sebuah keyakinan teologi yang sebenarnya tidak berdasar. Karena agama di Indonesia, Jawa—Madura khususnya, itu beragam maka bisa saja makna yang masuk ke dalam kamus itu hasil dari gado-gado. Alias campur aduk. Agama satu dengan agama yang lain. Perlu diwaspadai, sebab agama pendahulu kita di sini ini adalah animisme—dinamisme dan Hindu—Budha. Islam datang belakangan.

Di Mekah, sebelum Al Qur’an turun, itu masyarakatnya adalah penyembah berhala. Patung Latta dan Uzza yang terkenal. Bahkan di zaman Ibrahim, pemipin dan masyarakatnya juga sudah menyembah berhala. Perhatikan saja sejarah peradaban manusia tertua di dunia. Khususnya sejarah tuhannya. Mereka menyembah arwah (roh-roh), Menyembah dewa-dewi. Sampai orang-orang Yahudi, yakin Uzair itu anaknya tuhan. Orang Nasrani meyakini Isa anaknya tuhan. Orang-orang Majusi pun di timur adalah penyembah api.

Al Qur’an diturunkan Allah untuk mengoreksi semua keyakinan sesat tersebut. Maka waspadalah. Jangan-jangan keyakinan kita ini warisan dari agama nenek moyang di atas. Kisah “Mbae moleh,” kemarin itu misalnya. Sekilas info, animisme adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh yang merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Sedangkan dinamisme adalah pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal yang diyakini menetap di tempat-tempat tertentu, seperti pohon besar, batu, dan semisalnya.

Sebagaimana kisah-kisah Yahudi dan Nasrani yang banyak masuk dalam tradisi Islam (seperti Israiliyyat), diduga banyak juga tradisi animisme—dinamisme yang masuk dalam Islam. Dilantunkan di masjid-masjid tanpa sadar. Misalnya syair Jawa di bawah ini:

Malam Jum’at, roh nunggu onok lawang…
(arwah keluarga menunggu di pintu rumah saat malam Jum’at)
Njalok kiriman sak ayat soko Qor’an…
(minta kiriman pahala bacaan ayat Al Qur’an)
Barang ora oleh sak ayat soko Qor’an…
(ketika tidak ada yang ngirim pahala bacaan Al Qur’an itu)
Bali menyang kobor brebes mili ketangisan…
(kembali ke kuburan dalam keadaan menangis)

OK lah. Kita masuk makna sihir. Diceritakan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sekaligus kata yang terkait, supaya kalian mudah memahaminya. Sehingga ketemu alur logika versi KBBI-nya.

Sihir/si·hir/ n 1 perbuatan yang ajaib yang dilakukan dengan pesona dan kekuatan gaib (guna-guna, mantra, dan sebagainya): ia terdiam seperti kena --; 2 ilmu tentang penggunaan kekuatan gaib; ilmu gaib (teluh, tuju, dan sebagainya): ahli -- (orang -- ), orang yang berilmu sihir; juru teluh.

Mantra adalah perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib (misalnya dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya): upacara itu dimulai dengan pembacaan --; 2 susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.

Sedangkan jampi adalah kata-kata atau kalimat yang dibaca atau diucapkan, dapat mendatangkan daya gaib (untuk mengobati penyakit dan sebagainya).
Guna-guna disebutkan sebagai jampi-jampi (mantra dan sebagainya) untuk menarik hati orang.

Adapun ajaib berarti ganjil; aneh; jarang ada; tidak seperti biasa; mengherankan; sesuatu yang aneh; keheranan; yang tidak dapat diterangkan dengan akal.

Gaib/ga·ib/ v 1 tidak kelihatan; tersembunyi; tidak nyata: para ilmuwan mencoba meneliti hal-hal yang -- di alam semesta ini; 2 hilang; lenyap: sekalian dewa-dewa itu pun -- lah; 3 tidak diketahui sebab-sebabnya (halnya dan sebagainya): banyak peristiwa -- yang belum diselidiki.

Di tulisan sebelumnya, sudah saya tunjukkan. Bahwa sihir itu tidak lain adalah kata-kata. Atau kalimat. Teks. Atau yang diucapkan. Lebih tepatnya sihir itu adalah kata-kata yang memperdayakan. Lawannya adalah al-muhyi (8:24). Yaitu kata-kata juga. Ya kalimat. Bedannya, al-muhyi adalah kata-kata atau kalimat-kalimat yang memberdayakan. Memotivasi dan menginspirasi pada ilmu, kebaikan dan perbaikan.

Sekarang kita masuk merujuk dari sumber-sumber Arab. Jika kita mengetik kata sin, ha’, dan ra’, sahara di kamus Al Ma’aniy misalnya, secara umum sihir berarti karisma, glamor, daya tarik, menggiurkan, sangat menarik, memesona, memikat, menggetarkan hati, memalingkan, merusak, dan menjauhkan.

Kita pun mendapati keterangan seperti ini:

كلّ أمر يخفى سببُه ، ويُتخيّل على غير حقيقته ، ويجري مجرى التمويه والخداع ، إخراج الباطل في صورة الحقّ ، استخدام القوى الخارقة بواسطة الأرواح
Terjemah bebasnya begini kira-kira: Sihir adalah apapun yang tersembunyi sebabnya, terbayang sesuatu yang bukan sebenarnya, posisinya adalah tipuan; menampakkan kedustaan yang seolah-olah kebenaran; menggunakan kekuatan luar biasa dengan perantara roh-roh.

Juga dijumpai keterangan seperti berikut ini:

لَمْ يَكُنْ ما جاءَ بِهِ إلا سِحْراً : كُلُّ أَمْرٍ أوْ عَمَلٍ يُزْعَمُ أنَّهُ خَارِقٌ للعَادَةِ وَالطَّبِيعَةِ وَلاَ يُعْرَفُ سَبَبُهُ وَيُقْصَدُ بِهِ التَّمْوِيهُ وَالخِدَاعُ
Terjemah bebasnya: yang dilakukannya tidak lain adalah sihir. Maksudnya adalah setiap sesuatu atau pekerjaan yang dianggap keluar dari kebiasaan atau hukum alam, tidak diketahui sebabnya, dengan tujuan menipu atau memperdayakan.

Di sana juga disebutkan bahwa yang menyihir itu adalah Al Qur’an dan Taurat, atau Al Qur’an dan Injil, atau Taurat dan Injil. Jadi Al Qur’an pun disebut sihir. Begini redaksi Arabnya:
الساحر : القرآن والتوراة أو القرآن والإنجيل أو التوراة والإنجيل

Kalau menurut Hadis, sebagian kata-kata adalah sihir. Dalam kata-kata itu ada sihirnya. Alias kata-kata bisa menjadi sihir. إنَّ مِنَ البَيَانِ لَسِحْراً misalnya Hadis riwayat Bukhari 4749 dan 5325; Abu Daud 4356 dan 4354; dan lain-lain.

Dengan demikian, sihir itu tidak ada yang mistis. Tidak ada yang klenik. Tidak ada urusannya dengan roh-roh. Arwah. Nggak ada urusan dengan Jin. Kalau pun sihir itu dianggap magic, alias sulapan dengan tujuan menghibur atau menipu, sekarang sudah banyak yang membongkar triknya. Sulapan yang terkesan magic, itu sudah diketahui sebab-sebabnya. Trik-triknya. Silakan tonton di YouTube banyak. Jelas bagi kita sekarang, bahwa tidak ada yang keluar dari sebab akibat. Sunnatullah. Apa pun di dunia nyata ini selalu ada sebabnya. Aksi-reaksi itu sudah hukum alam. Hukum Al Qur’an. Karenanya menjadi ibrah. Pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat.

QS. Fathir[35]: 43
اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnatullah. Dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnatullah itu.

Sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Kamis, 20 Juni 2019

SIHIR-SIHIR SETAN


—Saiful Islam—

“Harut dan Marut, dua orang pemimpin…”

Yang sering kabur maknanya di masyarakat adalah Al Qur’an surat Al-Baqarah[2] ayat 102 berikut ini.

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal Sulaiman tidak kafir, hanya setan-setan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malak di negeri Babil. Yaitu Harut dan Marut. Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan. Sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malak itu apa yang dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat dan manfaat. Dan sungguh mereka sudah tahu, bahwa siapa yang menukar apa yang dimilikinya dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat. Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Ada tiga kata yang mesti kita garisbawahi di sini. Pertama, setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Kedua kata sihir. Dan ketiga, kata dua malak di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut.

Pada umumnya di masyarakat, setan-setan di situ langsung diartikan sebagai sosok makhluk halus yang jahat. Apalagi ditambah kerajaan Sulaiman. Langsunglah terbayang yang ajaib-ajaib. Terus dua malak, yaitu Harut dan Marut, langsung pula diartikan sebagai dua Malaikat. Tambah lagi, ketemu kata sihir. Semakin dalamlah di benak mereka yang mistis-mistis. Nah, sekarang marilah coba kita lihat kembali ayat ini. Dengan perlahan-lahan. Tartil.

Menurut saya, setan-setan di situ adalah orang. Bukan makhluk halus. Berikut ini, saya cantumkan lagi ayat-ayatnya. Bahwa sekali lagi, setan-setan di sini adalah orang. Ini kesimpulan pertama.

QS. Al-An’am[6]: 121
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.

QS. Al-Baqarah[2]: 14
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok."

Mereka disebut setan-setan karena musyrik atau kafir. Baik ingkar kepada Allah, maupun kerasulan. Baik kerasulan Nabi Muhammad. Maupun kerasulan Nabi Sulaiman. Orang-orang musyrik Mekah zaman Nabi Muhammad itu mengikuti yang dibaca oleh orang-orang musyrik di masa Sulaiman. Dalam bentuk naskah. Yaitu sihir. Jadi, sihir di sini adalah sesuatu yang dibaca. Alias dokumen. Baca lagi surat Al-Baqarah ayat 102 di atas perlahan-lahan.

Karena terbatasnya halaman, insya Allah di depan akan saya ceritakan makna sihir dari segi arti bahasanya. Maka kesimpulan keduanya, sihir di sini berarti sesuatu yang dibaca. Apa sesuatu yang dibaca? Ya text. Atau kata-kata yang diucapkan. Intinya informasi yang disampaikan.

Tapi kok sihir disebut bisa menceraikan antara suami dan istrinya? Kata-kata memang bisa menceraikan antara suami dan istrinya. Misalnya si suami difitnah bahwa istrinya selingkuh. Atau sebaliknya, si istri kena fitnah bahwa suaminya bermain api dengan perempuan lain. Hoax. Ini jika tidak dibuktikan, kalau fitnah itu langsung ditelan (dipercaya), tentu saja akan menceraikan antara suami dan istrinya. Makanya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, kata Allah. Kita juga diperintah untuk selalu mengecek kebenaran setiap informasi. Fatabayyanuu…

Sekarang kata dua malak yang sering diartikan dua Malaikat itu. Kata malak diambil dari kata Malaikat, ini adalah pendapat ahli tata Bahasa Arab (grammar atau nahwu). Sebagaimana disebutkan dalam Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Namun jangan lupa, di situ disebutkan pula, bahwa kata malak itu diambil dari kata al-milk yang berarti memiliki. Pendapat kedua inilah yang lebih kuat (muhaqqiq).

Bahwa malakun itu adalah yang menghandle urusan terkait siasat (strategi dan taktik) dari bangsa Malaikat. Sedangkan dari bangsa manusia, disebut malikun. Nah, di Lisan al-Arab ternyata ada keterangan bahwa Harut itu nama dari malakun atau malikun. Jadi Harut dan Marut di situ adalah nama orang yang memiliki. Yang memiliki apa? Memiliki kekuasaan. Atau pemerintahan. Harut dan Marut ini dua pembesar di negeri Babil. Keduanya bisa gubernur atau paling tidak bupati lah kalau sekarang.

Dan memang, biasanya kata-kata pemimpin itu mudah sekali berpengaruh. Biasanya orang memang terpengaruh dengan kalimat yang dikutip dari ‘orang besar’. Quote. Terutama kepada orang-orang awam. Yang jauh dari ilmu pengetahuan. Yang jauh dari Sains dan Qur’an. Yang mistik pikirannya.

Jadi, kalau kita lihat QS. Al-Baqarah[2]: 102 ini dari ayat 106-nya, Allah menghadap-hadapkan antara keimanan dengan kekafiran. Allah memversuskan antara ayat-ayat-Nya dengan sihir. Yakni kata-kata atau kalimat-kalimat yang bermanfaat dengan kalimat-kalimat yang tidak ada manfaatnya, bahkan mencelakakan.

QS. Ibrahim[14]: 24 - 25
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
25. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Sampai di situ dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...