Jumat, 05 Juli 2019

MUSA MEMBAWA AYAT-AYAT-NYA


—Saiful Islam—

“Ternyata, tongkat Nabi Musa, itu adalah Taurat…”

Jadi, sudah pasti tongkat Nabi Musa tidak menjadi ular. Ia hanya seakan-akan hidup. Lalu apa sebenarnya tongkat Nabi Musa itu? Tongkat di situ artinya adalah kekuatan Nabi Musa. Apa kekuatan Nabi Musa untuk menghadapi Fir’aun dan para penyihirnya? Tidak lain dan tidak bukan, itu adalah ayat-ayat Allah. Tongkat Nabi Musa adalah firman-firman Allah. Kalimat-kalimat Allah. Yakni Taurat!

Tongkat di situ, adalah ungkapan majas. Majaaz atau isti’aaroh, atau tasybiih dalam teori Sastra Arab (Ilmu Balaghah). Yakni makna kiasan. Makna simbolik. Makna konotatif. Bukan makna hakiki. Tidak makna denotatif. Bukan berarti tongkat sebenarnya. Secara bahasa, ‘ashoo (tongkat) memang bisa berarti kekuatan (al-quwwah) dan kekuasaan (al-qudrah). Orang Arab memang sering menggunakan kata hayyah (ular) itu sebagai perumpamaan. Seperti sudah kita ceritakan sebelumnya.

Para penyihir Fir’aun digambarkan melempar tongkat-tongkat dan tali-tali. Disebutlah oleh Nabi Musa bahwa semua itu adalah sihir. Yakni mereka mengelabui dan menipu semua orang yang hadir dengan mulut mereka. Dengan kata-kata mereka. Mereka mencoba mempengaruhi dengan omongan mereka yang tanpa dalil. Mereka berdusta. Mereka berbohong. Untuk kepentingan-kepentingan egoistis. Maka lantas dibongkar oleh Allah dengan firman-firman-Nya lewat Nabi Musa.

Jadi ini adalah duel mulut. Debat sengit. Adu argumentasi. Antara para penyihir Fir’aun dengan Nabi Musa. Antara sihir-sihir (kata-kata yang melemahkan, melenakan, memperbudak, bullying, dan semisalnya) dengan firman-firman Allah yang mencahayai, yang mencerahkan, yang menghidupkan, yang memotivasi dan menginspirasi, yang mencerdaskan, yang membahagiakan, dan seterusnya (baca buku ke-3 saya ‘Ayat-Ayat Kemenangan).

Para penyihir itu digambarkan kalah. Lalu beriman kepada ayat-ayat yang disampaikan Nabi Musa. Lantas beriman kepada Allah dan Nabi Musa. Tentulah para penyihir tersebut paham betul bahwa kalimat-kalimat Musa itu bukan kalimat-kalimat sembarangan. Ia adalah firman. Mereka bisa merasakan energinya. Serta keindahan kalimat-kalimatnya. Mereka takjub. Gemetar. Seperti benang basah. Takut. Apalagi setelah terbongkar semua ‘kibulnya’.

Kalimat-kalimat Nabi Musa dengan mudahnya menunjukkan kesalahan-kesalahan argumentasi mereka. Menunjukkan kesalahan dan kebohongan serta kelemahan argumentasi mereka. Perdebatan itu telah sampai pada argumentasi puncaknya. Yang paling detail. Yang paling rinci. Yang paling ujung. Para penyihir itu tidak bisa mengelak lagi. Para penyihir itu benar-benar takjub. Membuat mata mareka terbelalak. Mereka sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Diam seribu bahasa. Semua argumentasi mereka sudah terbantahkan. Sejelas-jelasnya. ‘Tongkat’ Nabi Musa telah ‘menelan tongkat-tongkat dan tali-tali’ mereka.

Jelas sekali pada ayat berikut ini yang dibekalkan oleh Allah kepada Musa dan Harun adalah ayat-ayat-Nya. Atau keterangan-keterangan (bayyinaat). Alias firman-Nya. Yakni Taurat! Bukan mukjizat magis bin ajaib yang sering diterjemahkan itu. Sekali lagi, aayaatinaa. Ayat-ayat Kami! Taurat!!

QS. Al-Zukhruf[43]: 46
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَقَالَ إِنِّي رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dan sesunguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata: "Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seru sekalian alam.”

QS. Thaha[20]: 42 & 47
اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي
42. Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku.

فَأْتِيَاهُ فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ ۖ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ
47. Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah: "Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, Maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa ayat dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.

QS. Al-A’raf[7]: 103 & 105
ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَظَلَمُوا بِهَا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
103. Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan.

حَقِيقٌ عَلَىٰ أَنْ لَا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ
105. “Wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti (keterangan) dari Tuhanmu, Maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.”

QS. Al-Syu’ara[26]: 15
قَالَ كَلَّا ۖ فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا ۖ إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ
Allah berfirman, “Jangan takut. Maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami. Sungguh Kami bersamamu mendengarkan.”

QS. Al-Dzariyat[51]: 38
وَفِي مُوسَىٰ إِذْ أَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ
Dan juga pada Musa, ketika Kami mengutusnya kepada Fir'aun dengan membawa kekuatan (ayat) yang nyata.

QS. Al-A’raf[7]: 132
وَقَالُوا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ
Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan ayat kepada Kami untuk menyihir Kami dengan keterangan itu. Maka Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu".

QS. Al-‘Ankabut[29]: 39
وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ
Dan (juga) Karun, Fir'aun dan Haman. Dan ssungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan. Akan tetapi mereka sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).

QS. Al-Qashash[28]: 36
فَلَمَّا جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُفْتَرًى وَمَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ
Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa) ayat-ayat Kami yang nyata, mereka berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu".

QS. Thaha[20]: 56
وَلَقَدْ أَرَيْنَاهُ آيَاتِنَا كُلَّهَا فَكَذَّبَ وَأَبَىٰ
Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) ayat-ayat Kami semuanya. Maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).

QS. Al-A’raf[7]: 144-147
قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
144. Allah berfirman: "Hai Musa. Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara dengan-Ku. Sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur."

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا ۚ سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ
145. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu. Maka (kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya. Nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ
146. Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya. Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.


147. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Kamis, 04 Juli 2019

NABI MUSA PUN KHAWATIR


—Saiful Islam—

“Kalau benar tongkatnya bisa berubah menjadi ular, Nabi Musa tak perlu takut dan khawatir mengahadapi Fir’aun dan para penyihirnya…”

Secara sederhana, saya membagi kisah Nabi Musa itu menjadi tiga. Meskipun tentu saja bisa dibagi-bagi lagi. Namun kali ini, untuk memudahkan menganalisis. Yaitu pertama, saat Nabi Musa menerima firman. Kedua, ketika beliau diperintah Allah menghadapi Fir’aun dan para tukang sihirnya. Dan ketiga, respon Fir’aun dan para penyihir tersebut.

Nah, tongkat Nabi Musa yang seolah-olah menjadi ular, itu sudah terjadi dikala Nabi Musa menerima firman (misalnya QS.20:9–23). Sebelum diperintah oleh Allah untuk mendatangi Fir’aun sekaligus berduel dengan para penyihirnya. Namun, Nabi Musa sempat khawatir atau takut kepada Fir’aun ketika Allah perintahkan untuk mendatanginya.

Padahal, kalau sudah tahu tongkatnya bisa menjadi ular besar, kenapa mesti takut? Kalau sudah tahu dirinya punya mukjizat (tongkat ajaib yang bisa berubah menjadi ular), tidak mungkin beliau takut kepada Fir’aun. Tidak perlu takut. Suruh saja ularnya itu menelan Fir’aun dan semua penyihirnya. Tidak perlu lari dikejar-kejar penguasa super sombong dan bengis itu.

Ini petunjuk ketiga yang sangat kuat bagi kita bahwa tongkat Nabi Musa itu memang tidak menjadi ular. Hanya seakan-akan ular. Seolah-olah menjadi ular. Dalil pertama dan kedua sudah kita bahas kemarin. Yaitu tali-tali dan tongkat-tongkat para penyihir Fir’aun yang hanya seolah-olah menjadi ular. Serta analisis bahasanya terkait kata hayyatun, tsu’baanun, dan jaannun.

Marilah kita lihat bersama Nabi Musa yang sempat takut dan khawatir saat Allah perintahkan menghadapi Fir’aun itu. Berikut ini.

QS. Thaha[20]: 42 – 56

42. “Pergilah kamu beserta saudaramu (Harun) dengan membawa ayat-ayat-Ku. Dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku.

43. “Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun. Sesungguhnya ia telah melampaui batas.

44. “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَىٰ
45. Keduanya berkata, "Ya Tuhan Kami. Sesungguhnya kami khawatir, ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas.”

46. Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir. Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.

47. “Datanglah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah: Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu. Maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan Kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.

48. “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling’.”

49. Fir'aun berkata, "Maka siapakah Tuhanmu berdua, Hai Musa?”

50. Musa menjawab, "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.”

51. Fir'aun berkata, "Bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?"

52. Musa menjawab, "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab. Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.

53. “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.

54. “Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.

55. “Dari bumi (tanah) itulah kami menjadikan kamu. Kepada tanah itu juga Kami akan mengembalikan kamu. Dan dari tanah itu, Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.”

56. Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya. Maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).

QS. Al-Syu’ara[26]: 10 – 13

10. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): "Datangilah kaum yang zalim itu.

11. “(Yaitu) kaum Fir'aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?"

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ
12. Musa menjawab, "Ya Tuhanku. Sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku.

13. “Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku. Maka utuslah Harun (bersamaku).

14. “Dan aku berdosa terhadap mereka. Maka aku takut mereka akan membunuhku.”

15. (Allah) berfirman, “Jangan takut. Pergilah kamu berdua dengan membawa dengan membawa ayat-ayat Kami. Sungguh Kami bersamamu mendengarkan.

16. “Maka datanglah kamu berdua kepada Fir'aun dan katakanlah: "Sesungguhnya kami adalah Rasul Tuhan semesta alam,

17. “Lepaskanlah Bani Israil (pergi) beserta kami.”

QS. Al-Qashash[28]: 33 – 35
قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ
33. Musa berkata, "Ya Tuhanku. Sesungguhnya aku telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka. Maka aku takut mereka akan membunuhku.

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ
34. “Dan saudaraku Harun, ia lebih fasih lidahnya daripadaku. Maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku. Sungguh aku khawatir mereka akan mendustakanku.”

35. Allah berfirman, "Kami akan membantumu dengan saudaramu. Dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar. Maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa ayat-ayat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang.”

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Rabu, 03 Juli 2019

TIDAK MENELAN FIR’AUN


—Saiful Islam—

“Lebih masuk akal kalau ularnya Nabi Musa itu ‘ngemplok’ para penyihir Fir’aun. Tambah masuk akal lagi kalau ‘nguntal’ Firaunnya sekalian…”

Sebelumnya kita sudah mengambil kesimpulan sementara. Yaitu bahwa tongkat Nabi Musa tidak menjadi ular. Atau tidak berubah dari tongkat menjadi ular. Kenapa? Karena tongkat-tongkat dan tali-tali para pesihir Fir’aun itu tidak menjadi ular. Hanya seolah-olah menjadi ular. Tidak make sense ular menelan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka.

Lebih masuk akal kalau ularnya Nabi Musa itu ngemplok para penyihir Fir’aun. Tambah masuk akal lagi kalau nguntal Firaunnya sekalian. Hehe… OK let’s go.

Nah, semakin menarik berkutnya. Di ayat-ayat yang saya kutip kemarin, itu memang tidak ada kata menjadi. Di situ tidak disebutkan bahwa tongkat Nabi Musa itu menjadi ular. Di situ hanya disebutkan maka tongkat itu adalah hayyah. Hiya hayyatun tas’aa.

Di lain tempat disebut bahwa tongkat itu adalah tsu’baan. Hiya tsu’baan mubiin. Di sini juga tidak ada kata menjadi. Susunannya adalah jumlah ismiyah. Alias mubtada’ khabar. Makanya rofa’ (dibaca ‘un’, tsu’baanun mubiinun).

Satu kata terakhir yang diterjemahkan ular adalah jaann. Lagi-lagi, di sini tidak ada kata menjadi. Menjadi ular. Tidak ada juga kata berubah. Misalnya tongkat itu berubah menjadi ular. Tidak ada. Bahkan yang ada di situ adalah kaanna. Artinya adalah ‘seakan-akan’ atau ‘seolah-olah’. Jelas sekali, seakan-akan. Yaitu tongkat Nabi Musa itu seakan-akan ular.

Lafaz ‘menjadi’ dalam Bahasa Arab itu adalah shooro. Kata ini, biasanya dibahas dalam sub bab ‘kaana wa akhowatuha’. Yakni kata kaana, shooro, laysa, dkk. Yaitu huruf-huruf yang menashobkan (membaca fathah) khobar-nya. Seandainya hayyah, atau tsu’baan, atau jaann itu adalah khobar-nya shooro yang tidak ditampakkan, pastinya bentuknya akan nashob (hayyatan atau tsu’baanan atau jaannan). Dan kenyataannya rofa’.

Istilah ‘mentaqdir’ (mengira-ngira), di kalangan pecinta Bahasa Arab, terutama untuk memahami Al Qur’an, memang sering kita jumpai. Menurut mereka ada dalam ayat-ayat Qur’an itu kata yang tidak ditampakkan. Namun bisa dipahami. Sayangnya untuk kata-kata hayyah, tsu’baan, dan jaann, ini tidak tepat kalau dikatakan bahwa kata ‘menjadi’-nya disembunyikan. Seandainya benar, pastinya ayat itu berbunyi hiya hayyatan. Yakni hiya shoorot hayyatan. Nyatanya hayyatun, tsu’baanun, jaannun. Mari kita perhatikan sekali lagi.

QS. Thaha[20]: 20
فَأَلْقَاهَا فَإِذَا *هِيَ حَيَّةٌ* تَسْعَىٰ
Lalu Musa melemparkan tongkat itu. Maka ia adalah hayyatun yang merayap.

QS. Al-A’raf[7]: 107
فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ *ثُعْبَانٌ مُبِينٌ*
Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya. Lalu seketika itu juga tongkat itu adalah tsu’baanun yang jelas.

QS. Al-Naml[27]: 10
وَأَلْقِ عَصَاكَ ۚ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ
“Dan lemparkanlah tongkatmu". Maka tatkala Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah ia adalah jaannun, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. "Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.”

QS. Al-Qashash[28]: 31
 وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ ۖ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ
“Dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah ia adalah jaannun. Larilah Musa berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): "Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.”

Malah jika ditaqdir (dikira-kira ada kata yang disembunyikan atau tidak ditampakkan), justru kedua ayat terakhir semakin menguatkan kesimpulan bahwa tongkat Nabi Musa tidak berubah menjadi ular. Kenapa? Karena di dua ayat terakhir di atas kata yang ditakdir itu dimunculkan oleh Allah. Yaitu kaanna. Jadi, sudah pas. Kaanna memang merofa’kkan (membaca dhommah atau dibaca ‘un’) khobar-nya. Kebalikan dari kaana wa akhowatuha tadi.

Jadi kalau diperkirakan akan menjadi begini redaksi ayat-ayat di atas. Hiya kaannaha hayyatun tas’aa (tongkat itu seakan-akan ular yang merayap). Hiya kaannaha tsu’baanun mubiinun (tongkat itu seakan-akan ular yang jelas). Sedangkan yang jaann sudah jelas di ayat di atas ditampakkan kaannaha jannun (tongkat itu seakan-akan ular). Maka dua ayat terakhir di atas menjadi tafsir bahwa yang dimaksud ‘tongkat itu adalah ular’ adalah tongkat itu seolah-olah adalah ular.

Maka, taqdir jumlah fi’liyah dengan mengira kata shooro atau shoorot tersembunyi, itu jelas tidak pas. Yang paling pas justru kata kanna yang apalagi jelas-jelas tertera pada QS.27:10 dan QS.28:31 di atas.

Yang perlu kita waspadai bersama adalah kata-kata seperti ‘tiba-tiba’, ‘berubah’, ‘menjadi’, ‘berubah menjadi’, ‘sekonyong-konyong’, ‘menelan’, ‘mukjizat’, ‘bim salabim’, dkk itu semuanya adalah terjemahan.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Selasa, 02 Juli 2019

MUSA MENERIMA FIRMAN


—Saiful Islam—

“Ingat. Tidak ada kata ‘menjadi’, menjadi ular. Juga tidak ada kata mukjizat…”

Berikut ini adalah gambaran awal-awal Musa AS menerima wahyu dari Allah. Dikisahkan dalam QS. Thaha[20] ayat 9 sampai 36. Supaya tidak terlalu makan tempat, saya hanya akan mencantumkan redaksi Arabnya saat sudah mulai terkait dengan kata hayyah (ular). Dan sedikit menguraikan kata-kata terkait yang belum kita bahas sebelumnya.

9. Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?

10. Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya, "Tinggallah kamu (di sini). Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit api itu kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.”

11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil, "Hai Musa.

12. “Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu. Maka lepaskanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada dilembah yang Suci, Thuwa.

13. “Dan Aku telah memilih kamu. Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).

14. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.

15. “Segungguhnya hari kiamat itu akan datang aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.

16. “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa.

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ
17. “Apakah itu yang di tangan kananmu, Hai Musa?”

Kata yamiin, tidak hanya berarti tangan kanan. Menurut Lisan al-‘Arab, kata yamiin juga bisa berarti kekuatan (al-quwwah) dan kekuasaan (al-qudrah).

قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ
18. Musa menjawab, "Ini adalah tongkatku. Aku bertelekan padanya. Dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku. Dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya".

Kata ‘ashoo ternyata maknanya tidak hanya tongkat. Kata ‘ashoo juga bisa berarti kelompok atau kumpulan (al-jamaa’ah), persatuan atau kerukunan (al-i’tilaaf), lidah (al-lisaan), dan lain-lain.

Adapun kata tawakka’a berarti bersandar atau bertelekan.

Kata ahusysyu dalam ahusysyu biha ‘alaa ghonamiy, ada yang mengartikan memukul dengan keras pohon yang masih segar (hijau) agar dedaunannya rontok. Kemudian dedaunan tersebut untuk makan kambing atau domba. Ada pula yang mengartikannya bukan memukul pohonnya. Tapi menarik dahan atau rantingnya.

Sedangkan kata ma’aarib artinya adalah hajat atau kebutuhan.

قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ
19. Allah berfirman, "Lemparkanlah ia, hai Musa!"
Lafaz alqiha dari alqoo. Asal kata ini adalah laqiya artinya bertemu. Mengikuti bentuk af’ala sehingga menjadi alqoo. Jika dikatakan alqoo al-syay’ memang berarti melemparkan sesuatu. Namun, kata ini bisa berubah arti jika maf’ul (objeknya) lain. Seperti alqoo ilayh al-qowl (berbicara kepadanya), alqoo al-dars (menyampaikan pelajaran), dan lain-lain.

فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ
20. Lalu dilemparkannyalah tongkat itu. Maka ia (menjadi) ular yang merayap dengan cepat.

Adapun kata sa’aa bisa berarti bergerak, berjalan, berusaha, dan lain-lain. Perlu digarisbawahi di sini, bahwa redaksi ayat tersebut tidak ada kata menjadi. Maka tongkat itu adalah hayyah. Sekali lagi, tidak ada kata “menjadi”.

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ
21. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.

Kata siiroh dalam siirotaha al-uula, maknanya antara lain berarti bentuk atau rupa, tingkah laku, jalan, kelakuan, perikehidupan, kisah, sejarah, dan lain-lain.

وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَىٰ
22. “Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu. Niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula).

Perlu kita perhatikan dalam ayat ini kata yang diterjemahkan sebagai mukjizat. Ingat, di situ tidak ada kata mukjizat. Tapi disebut ayat. Sekali lagi, ayat! Agaknya cukup panjang untuk menguraikan kata ayat ini. Insya Allah di lain tempat akan saya ceritakan.

لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى
23. “Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.

Di ayat ini sekali lagi disebut kata aayaatina. Yakni ayat-ayat Kami. Bentuk plural dari aayatan, ayat.

24. “Pergilah kepada Fir'aun. Sesungguhnya ia telah melampaui batas.”

25. Musa berkata, "Ya Tuhanku. Lapangkanlah untukku dadaku.

26. “Dan mudahkanlah untukku urusanku.

27. “Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku.

28. “Supaya mereka mengerti perkataanku.

29. “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku.

30. “(Yaitu) Harun, saudaraku.

31. “Teguhkanlah dengan dia kekuatanku.

32. “Dan jadikankanlah Dia sekutu dalam urusanku.

33. “Supaya Kami banyak bertasbih kepada Engkau.

34. “Dan banyak mengingat Engkau.

35. “Sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami.”

36. Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, Hai Musa."

Wah semakin menarik. Sampai di situ dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Senin, 01 Juli 2019

SEPERTI MENGGOYANG KURMA


—Saiful Islam—

“Menelan, dalam Bahasa Arab, itu ada sendiri. Yaitu ibtala’a…”

Lisan al-‘Arab cukup menarik mengartikan kata al-jaann ini. Begini. Al-jaann adalah perumpamaan untuk menyebut jenis ular. Hitam kedua kelopak matanya. Kuning. Dan tidak berbisa atau tidak mematuk orang. Ular ini banyak ditemui di rumah orang-orang. Menurut Sibawayh, bentuk kata jamaknya adalah jinnaan.

Hadis menyebut, “Rasulullah melarang membunuh al-jinnaan”. Menurut Siwawayh, al-jinnaan di sini berarti al-hayyaat (ular) rumah. Bentuk kata tunggalnya adalah jaann yang berarti ular kecil dan ringan. Ringkasan firman Allah, “(Tongkat itu) bergerak seolah-olah jaann,” menurutnya, al-jaann adalah ular putih. Sedangkan Abu Amr mengartikan al-jaann adalah hayyah (ular). Bentuk pluralnya yaitu jawaan.

Adapun Al-Zajjaj memahami ayat tersebut bahwa tongkat Nabi Musa itu menjadi bergerak. Seperti al-jaann (ular) yang bergerak. Dengan pergerakan yang ringan atau lincah. Kemudian dia berkata, “(Tongkat Nabi Musa itu) berbentuk tsu’baan, yakni ular yang besar.”

Sepadan dengan pendapat di atas, yaitu pendapat Ibnu Abbas. Ia berkata, “Allah menyerupakan besarnya tongkat itu dengan al-tsu’baan (ular besar). Dan menyerupakan kelincahannya dengan al-jaann (ular kecil). Karenanya di satu tempat Allah berfirman, “Maka tongkat itu adalah tsu’baan (ular besar),” dan di tempat yang lain Allah juga berfirman, “(Tongkat itu) seakan-akan jaann (ular kecil).” Dan al-jaann itu juga berarti setan.

Dalam Hadis Zam-Zam, disebutkan, “Di dalamnya (agaknya sumur Zam-Zam), banyak jinnaanan (ular-ular kecil).

Adapun Al-Raghib al-Ashfahaniy dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, sangat ringkas mengomentari QS.27:10 dan QS.28:31 itu. (Tongkat Nabi Musa) itu seakan-akan jaann (ular), menurut satu pendapat jaann di situ sebutan untuk al-hayyaat (jenis ular).

Kemudian kata talqof yang sering diterjemahkan atau diterjemahkan dengan menelan. Padahal kata menelan itu ada sendiri dalam Bahasa Arab. Yaitu, ibtala’a dari kata bala’a yabla’u. Sedangkan talqof itu asal maknanya adalah mencapai atau mengambil dengan cepat apa yang ditawarkan baik dengan tangan maupun lisan. Apa yang ditawarkan itu, bisa berupa barang atau pemikiran. Orang yang cerdas, itu disebut orang yang laqif. Karena dia cepat menanggapi argumentasi lawan.

Selain itu ada kata tahtazzu. Artinya bisa bergerak, bergoyang, berayun, dan bergoncang. Hazaza oleh Al-Ashfahaniy diartikan dengan gerakan keras. Digambarkan seperti menggoyang pohon kurma sampai buah-buahnya berjatuhan (QS.19:25) dan (QS.27:10). Menggoyang. Menggoncang.

Analisisnya insya Allah berikutnya. Terutama menjawab penasaran kita, “Benarkah tongkat Nabi Musa benar-benar menjadi ular?”

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...