Minggu, 04 Agustus 2019

KETIKA ALLAH MEWAHYUKAN


—Saiful Islam—

“Loh. Bukankah di situ sudah jelas ada kata ‘diwahyukan kepadaku’?”

“Terus kenapa?”

“Ya berarti, sudah jelas dan pasti bahwa Jin yang dimaksud di situ adalah Jin gaib. Bukan orang asing.”

Ooo. Tidak mesti begitu. Kata ‘diwahyukan’ itu TIDAK selalu HANYA menunjuk berita yang terkait hal-hal gaib saja. BUKAN SELALU menunjuk pada hal metafisik. Mari kita kutip ayat-ayatnya dulu. Surat Al-Jinn. Terdiri dari 28 ayat. Makkiyah. Bercerita tentang Jin hanya sampai ayat 19. Kita kutip sebagian dulu. Terutama terkait masalah ‘diwahyukan’ ini. Juga untuk menghemat tempat. Serta membuat kalian tidak bosan dan nyaman membacanya. Hehe. OK. Let’s go…

QS. Al-Jinn[72]: 1 – 7
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا
1. Katakanlah (hai Muhammad): Telah DIWAHYUKAN kepadaku bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan Jin. Lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan bacaan (Al Qur’an) yang menakjubkan.

2. “(Yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar. Lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami.

3. “Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.

4. “Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.

5. “Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa al-ins dan al-jinn sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.”

6. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara al-ins meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara al-jinn. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

7. Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang pun.

Mengutip dari Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, bahwa wahyu itu arti asalnya adalah isyarat yang cepat. Yakni alamat, tanda, atau simbol yang mengandung informasi yang dipahami oleh si penerimanya. Meaning di dalam tanda-tanda. Atau simbol-simbol. Dan simbol-simbol itu bisa berupa ucapan, tulisan, suara dan anggota badan (body language seperti bahasanya orang bisu).

Pertama, yang diwahyukan kepada Nabi itu adalah Al Qur’an ini sendiri. Jadi semua yang diberitakan dalam Al Qur’an, mulai Al-Fatihah sampai Al-Nas, itu adalah wahyu. Semuanya. Secara umum.

QS. Al-An’am[6]: 19
قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُلْ لَا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini DIWAHYUKAN kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui." Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa. Dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.

QS. Al-An’am[6]: 50
Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku. Dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib. Dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang DIWAHYUKAN kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"

QS. Al-A’raf[7]: 203
Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur’an kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang DIWAHYUKAN dari Tuhanku kepadaku. Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."

Kedua, yang diwahyukan kepada Nabi itu kisah-kisah terdahulu. Istilah saya, hal fisik yang gaib. Seperti QS. Ali Imran[3] mulai ayat 33 misalnya. Setelah menceritakan tentang Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, Zakariya, dan seterusnya, barulah ayat 44 Allah katakan sebagai berikut.

QS. Ali Imran[3]: 44
ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۚ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ
Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami WAHYUKAN kepada kamu (ya Muhammad). Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.

Ketiga, yang diwahyukan bisa berupa perintah. Serta informasi bahwa Nabi hanyalah pemberi peringatan. Hari kiamat, serta surga dan neraka.

QS. Al-Isra’[7]:117
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ
Dan Kami WAHYUKAN kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu ‘menelan’ apa yang mereka sulapkan.

QS. Yunus[10]: 2
أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَٰذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami MEWAHYUKAN kepada seorang laki-laki di antara mereka: "Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka.” Orang-orang kafir berkata: "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.”

QS. Al-Anbiya[21]: 73
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami. Dan telah Kami WAHYUKAN kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah.

QS. Shad[38]:70
إِنْ يُوحَىٰ إِلَيَّ إِلَّا أَنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ
Tidak DIWAHYUKAN kepadaku, KECUALI bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.

QS. Al-Syura[42]: 7
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ
Demikianlah Kami WAHYUKAN kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya. Serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.

Keempat, Allah juga menggunakan kata ‘mewahyukan’ kepada lebah dan langit. Inilah alasan kenapa saya katakan sebelumnya bahwa ada variabel informasi di dalam ruang dan waktu. Juga ada informasi di dalam materi dan energi. Artinya langit bisa seperti ini karena variabel informasi dari Allah. Bukan kebetulan. Sedangkan kepada lebah dan binatang-binatang pada umumnya, agaknya wahyu itu adalah insting. Yang membuat singa tidak menerkam anaknya. Yang membuat induk merpati mendulang anaknya. Yang membuat kucing menyusui anaknya. Yang membuat kuda jantan tertarik dengan kuda betina. Dan seterusnya.

QS. Al-Nahl[16]: 68
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Dan Tuhanmu MEWAHYUKAN kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia".

QS. Fushshilat[41]: 12
فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia MEWAHYUKAN pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang. Dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Kelima, Allah juga mewahyukan kepada para Malaikat.

QS. Al-Anfal[8]:12
إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا ۚ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ
(Ingatlah), ketika Tuhanmu MEWAHYUKAN kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu. Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir. Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Keenam, yang diwahyukan adalah informasi masa depan. Bahwa para rasul Allah akan mengalahkan orang-orang yang zalim. Seperti QS. Ibrahim berikut ini, dan lihat juga QS. Al-Hijr[15]: 66.

QS. Ibrahim[14]:13
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا ۖ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ
Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Tuhan MEWAHYUKAN kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu.

Meski begitu, tidak semua kejadian masa depan itu otomatis sekelas rasul itu langsung tahu. Tetap, informasi masa depan itu diketahui para utusan tersebut sebatas informasi dari Allah. Baca misalnya (QS. Al-Ahqaf[46]: 9).

Bahkan yang ketujuh, isi wahyu itu berita tentang seseorang yang masih zamannya. Alias kaumnya sendiri. Seperti info kepada Nabi Nuh tentang kondisi kaumnya sendiri.

QS. Hud[11]: 36
وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Dan DIWAHYUKAN kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.

Jadi, ketika Allah berfirman, “Kami wahyukan…,” maka tidak otomatis isi wahyu itu adalah sesuatu yang gaib metafisika. Seperti tentang Allah, Malaikat, surga, neraka dan semisalnya. Tapi juga hal fisika yang gaib. Seperti kisah yang meliputi tokoh, tempat, waktu, dan alurnya. Atau orang dan materi lain yang di waktu tertentu tidak terlihat, seba tidak hadir. Dalam konteks QS. Al-Jinn ini, tak lain dan tak bukan adalah orang asing itu.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Jumat, 02 Agustus 2019

JIN ITU ORANG ASING

—Saiful Islam—

“Menyamakan dukun dan anak indigo dengan rasul-Nya, alangkah kurang ajarnya kita!”

Jika dijadikan buku, saya ingin seri tulisan ini minimal 60 tulisan. Setelah itu, insya Allah saya akan cari topik lain. Ini sudah tulisan ke-58. Sebenarnya, beberapa poin lagi terkait Jin dan sihir ini yang akan saya tulis sudah saya inventarisir. Yaitu: tentang Ruqyah; Alam dimensi lain; Qur’an surat Al Falaq; Mahallul Qiyam (kepercayaan arwah Nabi hadir); Praktik sufi atau tasawwuf yang menyimpang; dan Konsep tuhan atau jin Animisme-Dinamisme, Hindu, Buddha, Kristen, dan Yahudi.

Namun, rasanya saya mesti menjawab dulu respon dan pertanyaan dari kawan-kawan. Seperti satu ini lagi:

“Kalau contoh jika hal2 ghaib gak ada. Lalu isi dari surat jin itu bagaimana?”

================
Begini tanggapan saya:

Sebenarnya, saya tidak pernah menulis bahwa hal-hal gaib itu tidak ada secara umum. Hal-hal gaib itu, menurut saya, memang tidak ada KECUALI diinfokan oleh Al-Qur’an, Hadis Sahih, dan Sains. Dengan kata lain, saya HANYA yakin hal-hal gaib itu ada, SEBATAS info dari Qur’an, Hadis Sahih, dan Sains. Di luar tiga ini, saya memang tidak percaya. Dan saya yakin, di luar info ketiganya itu, gaib-gaib metafisik itu tidak ada. Saya baru bisa mengatakan bahwa gaib-gaib metafisika itu ada, ya memang hanya setelah sampai info dari ketiga sumber kredibel itu saja. Semoga tidak salah paham lagi!

Dari tulisan sebelumnya, saya coba ringkaskan saja soal gaib ini. Gaib itu ada yang fisika. Dan ada yang metafisika. Contoh. Kisah-kisah umat-umat terdahulu, itu fisika atau metafisika? Jawabannya adalah fisika. Gaib atau hadir? Iya, gaib. Jadi, fisika yang gaib. Karena peristiwanya, waktunya, tempatnya, tokoh-tokohnya, tidak kasat mata. Alias tertutup dari pandangan mata. Kita hanya bisa melihat kisah-kisah itu dengan ilmu. Baik dari mendengar maupun dari membaca, menonton, dan seterusnya.

Nah, Jin. Fisika atau metafisika? Jangan terburu-buru menjawab bahwa Jin ini adalah metafisika. Kenapa? Sebab Allah sudah infokan material penyusun Jin itu. Yakni, Jin itu terbuat dari api. Baca QS.55:15 dan QS.15:27. Atau baca lagi tulisan ke-3, Jin Energi Panas. Nah, api itu fisika atau metafisika? Jelas sekali, api ini sesuatu yang fisik. Fisika. Tampak. Bisa dieksperimen dan dijelaskan dengan Sains.

Sama saja ketika Allah infokan bahwa manusia ini dari tanah atau air. Maka unsur-unsur penyusun tubuh manusia ini pun terbukti secara Sains, terdapat di tanah. Seperti zat besi, kalsium, natrium, kalium, oksigen, klorin, hidrogen, magnesium, timah, yodium, mangan, sulfur, karbon, nitrogen, dan seng. Sedangkan api, ringkasnya, variabel api itu adalah oksigen, materi (bahan bakar), dan energi panas. Meskipun gaib memang karena tak kasat mata, unsur seperti oksigen dan energi, itu bisa dilihat oleh Sains. Maka saya pun (sementara ini tentu), melihat kegaiban Jin itu dari sisi variabel api ini. Yakni unsur-unsur, gelombang, atau energi.

Iblis itu dari Jin (QS.18:50). Makanya. Ketika ada kawan yang bertanya, apakah Jin atau iblis atau setan itu sosok? Saya jawab, iblis atau setan itu energi yang memuat informasi negatif. Saya memang percaya variabel alam semesta ini tidak hanya empat: materi, energi, ruang, dan waktu. Tapi lima. Yaitu ditambah informasi. Tepatnya ketika keempat variabel pertama itu diucapi “kun, jadilah,” oleh Allah. “Fayakun, maka jadilah!”. Jadi lantas, ada informasi di dalam materi, ada informasi di dalam energi, ada informasi di dalam ruang dan waktu.

Guru tatap muka langsung saya ini banyak. Terutama di tiga kota. Banyuwangi, Madura, dan Surabaya. Guru ‘pelajaran Agama’ maupun ‘pelajaran umum’. (Saya beri tanda kutip, karena sejatinya ilmu itu tidak bisa dipisah seperti itu. Semua ilmu itu milik Allah). Belum lagi buku-buku yang pernah saya baca. Tentu, semua penulisnya saya anggap guru saya. Nah, saya pernah punya guru yang hebat. Sehebat apa pun, kita mesti tetap kritis. Pakar Ulumul Qur’an. Beliau menyimpulkan bahwa Jin selain yang bermakna pembesar dan orang asing (fisika), juga bermakna Jin spesies dari api yang gaib (metafisika). Tapi tetap Jin gaib yang infonya sebatas dari Qur’an.

Nah, sejauh ini, berarti saya sedikit beda dengan guru saya itu. Titik bedanya, adalah saya melihat Jin ini dari sisi fisik. Atau fisika. Baik itu makna Jin sebagai pembesar, orang asing, maupun spesies yang terbuat dari api. Karena itu tadi. Allah menyebut Jin itu dari api (QS.55:15 dan QS.15:27). Dan api, itu fisika. Unsur-unsurnya bisa dilihat dengan kacamata Sains. Api bukan metafisika! Baca lagi tulisan sebelumnya seri 1 sampai 18 ya…

Tapi ya tetap. Jin gaib ala guru saya itu, adalah Jin gaib yang bentuknya seperti apa, tinggalnya dimana, berjenis kelamin apa, tidak diinfokan oleh Allah kepada kita. Jika ada orang yang bisa mendeskripsikan Jin secara detail, atau menarasikan Jin melebihi info dari Allah itu, maka itu pasti hayalan manusia belaka yang tidak punya dasar rujukan yang ilmiah. Alias cuma rekaan. Cuma ngarang-ngarang.

Kurang lebih beliau menjelaskan bahwa sepanjang penjelasan Al Qur’an, jenis spesies makhluk ini memiliki misi pendendam. Yaitu mengajak manusia untuk kufur dan durhaka kepada Allah. Makhluk Jin gaib ini hanya bisa berkomunikasi dengan manusia dalam satu arah. Caranya adalah membisik-bisikkan obsesi, serta harapan-harapan kosong ke dalam dada manusia. Ujung-ujungnya, jika manusia menuruti bisikan-bisikan itu, akan mengantarkan si pelakunya terkena sangsi dari Allah. Alias dimasukkan neraka. Makhluk gaib ala guru saya ini, ya saya sebut energi yang membawa muatan informasi negatif tadi.

Tapi ya sama saja. Tetap. Bahwa tidak akan pernah ada orang yang bisa melihat Jin. Dan apalagi berinteraksi dengan Jin. Kalau ada orang yang mengaku bisa melihat Jin, termasuk mengaku-ngaku indigo, pasti itu kadzdzab. Dusta. Nggedabrus. Di samping QS.7:27, juga diceritakan dalam QS. Al-Jinn[72] ayat 26 sampai 27, bahwa hanya Allah saja yang tahu hal gaib itu. Tidak diberitahukan kepada siapa pun. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Jadi kalau kita mengatakan bahwa anak indigo yang terbukti secara Sains sakit mentalnya, atau dukun, itu bisa tahu hal gaib, maka itu menyamakan keduanya dengan rasul yang diridhai-Nya. Alangkah kurang ajarnya kita!

Sekarang masuk ke pertanyaan, “Bagaimana isi Surat Al-Jinn?” Pertanyaan ini, terlalu umum. Surat Al-Jinn[72] ini terdiri dari 28 ayat. Kalau ditanya isinya, tentu jawabannya bisa jadi minimal 3 sampai 5 tulisan. Tapi kalau yang dimaksud begini: Jin dalam QS. Al-Jinn itu siapa? Maka jawaban saya bisa ringkas. Yaitu, Jin yang dimaksud adalah orang asing. Ada yang menyebut orang asing ini adalah orang Kristen non Arab. Mereka disebut Jin, karena identitasnya tertutup atau tidak diketahui oleh orang-orang Arab. Intinya, Jin di situ adalah orang. Iya, orang. Bukan Jin gaib antah-berantah.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Wallohu a’lam bishshowaab. Salam

Kamis, 01 Agustus 2019

KEYAKINAN GAIB NDEROBOS


—Saiful Islam—

“Dan tidak akan pernah bisa!! Semua itu hanya kibul tipu-tipu belaka!!! Kenapa? Karena bertentangan dengan ayat kauniyah Allah yang bernama Sunnatullah!!!!”

Seorang kawan berkomentar dan bertanya seperti di bawah ini. Terimakasih komentar dan pertanyaannya.

AllahuAkbar...

Semakin lama semakin nyata bahwa njenengan tdk percaya pada hal-hal gaib Bagaimana anda menjelaskan mengenai Nabi Sulaiman yg berbicara dengan Jin. Mengerti bahasa Jin dan binatang. Apakah Anda akan melabeli Nabi Sulaiman dengan "panya gangguan kejiwaan?".

Ilmu Allah itu Maha Luas. Didalam Al-Qur'an pun dipaparkan mengenai yg ghoib juga. Hanya ilmu itu belum sampai pada anda. Tentu saja banyak ilmu tentang hal hal gaib yg tidak anda ketahui. Bagaimana anda menjabarkan mengenai peristiwa Isra' dan mi'raj Nabi Muhammad? Peristiwa itu menembus dimensi waktu dan jarak.

Jangan jangan anda pun sudah tidak percaya bahwa Nabi Muhammad telah melakukan perjalanan tersebut. Padahal hal itu sudah termaktub dalam al Qur'an. Sayang sekali.

=============
Berikut tanggapan saya (sebenarnya jawaban panjang lebarnya sudah bisa ditemukan kalau kawan satu ini membaca semua seri tulisan ini yang itu pun sudah saya share):

Pertama, soal tidak percaya pada hal-hal gaib. Kali ini, saya jawab tegas saja: iya. Sama memang tidak percaya pada hal-hal gaib. Yaitu hal-hal gaib hayalan. Hal-hal gaib rekaan. Hal-hal gaib buah imajinasi belaka. Hal-hal gaib yang tidak ada referensi pendukungnya. Saya memang tidak percaya pada hal-hal gaib ala animisme—dinamisme, Hindu, dan Buddha. Saya CUMA PERCAYA pada hal-hal gaib SEBATAS informasi dari Qur’an, Hadis Sahih, dan Sains. Titik!

Jadi, jelas BATAS keyakinannya. Jelas batas kepercayaannya. Bukan percaya kepada gaib secara ngawur. Nderobos. Atau jangan-jangan, keyakinan kita pada gaib ini memang bercampur aduk dengan keyakinan Hindu atau Buddha? Insya Allah akan kita lihat di depan. Konsep Jin versi agama-agama non Islam, terutama yang paling dekat bersinggungan dengan masyarakat Indonesia itu: Hindu dan Buddha.

Kedua, soal Nabi Sulaiman yang berbicara dengan Jin. Mengerti bahasa Jin dan binatang. Ini pun sudah saya ceritakan di tulisan ke-19, Jin Nabi Sulaiman. Yang dimaksud Jin di situ, bukan Jin makhluk gaib halus antah-berantah. Jin Nabi Sulaiman itu adalah salah seorang pembesar. Orang. OK. Di bawah ini saya kutipkan lagi sebagiannya saja. Ingin lengkap, silakan baca lagi tulisan di atas.

Jin Nabi Sulaiman itu pembesar. Atau orang besar. Atau orang bangsawan. Seperti menteri lah kalau sekarang. Tampak sekali di situ, ketika Nabi Sulaiman berkata, “Wahai para pembesar…” Kemudian barulah dijawab oleh Ifrit. Jadi, Ifrit itu ya salah seorang bangsawan itu. Ingat ya, kalimatnya adalah “qoola ‘Ifriitun min al-jinni”. Ifrit dari Jin berkata. Tidak “jinnu ‘Ifriitin”. Bukan Jin Ifrit, yang selama ini umum di masyarakat.

Bangsawan itu disebut Jin, karena biasanya tertutup dari rakyat biasa. Tidak gampang rakyat biasa bisa berinteraksi dengan seorang bangsawan. Sehingga sifat-sifatnya, ide-idenya atau rencana-rencana kerjanya, perkataan, sampai perbuatannya tertutup dari masyarakat pada umumnya. Sudah pas dengan arti asal kata jinn, yaitu apa pun yang tertutup oleh pandangan mata. Apalagi pada zaman itu, teknologi informasi tidak secanggih sekarang. Tidak ada seperti gawai (gadget) dan internet.

Ingat lagi, al-jinn itu sering Allah lawankan dengan al-ins. Jadi sudah pas, al-jinn itu bisa digunakan untuk menyebut para bangsawan. Maka, al-ins bisa digunakan untuk menyebut rakyat biasa. Masyarakat umum. Atau orang kebanyakan. Kalimat Ifrit, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu,” bercerita tentang keyakinannya bisa menaklukkan kerajaan ratu Balqis dengan mudah. Tidak perlu waktu lama. Mengingat militer Nabi Sulaiman jauh lebih hebat dari militernya Balqis.

Adapun, kata al-kitab (buku) yang disebut pada QS. Al-Naml[27] ayat 40 itu, berarti buku atau ilmu dan skill canggih tentang teknik sipil. Bukan kitab suci. Adapun kalimat "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip,” maksudnya orang ini bisa lebih cepat menaklukkan kerajaan Saba’ dibanding Ifrit. Bukan hanya menaklukkan, bahkan orang ini bisa membangun istana persis seperti milik Balqis di kerajaan Nabi Sulaiman.

Adapun mengerti bahasa binatang, seperti burung Hudhud misalnya, itu adalah kalimat majaz. Tamtsilyah. Makna kiasan. Hudhud di situ, bukan makna burung yang sebenarnya. Tapi makna konotatif. Hudhud itu adalah julukan Nabi Sulaiman kepada tentaranya yang punya keahlian khusus. Orang memang bisa mengerti bahasa burung. Seperti burung Beo. Tapi burung Beo itu dilatih dulu untuk mengatakan kata atau kalimat tertentu. Tentu saja, orang yang punya burung Beo ini bisa mengerti bahasanya. Wong dia sendiri yang melatih.

Ketiga, soal melabeli Nabi Sulaiman punya gangguan kejiwaan. Membacanya, saya langsung ingat dengan kasus penipuan dan pembunuhan berkedok magis ini setahun dua tahun yang lalu. Di Probolinggo. Saya ikuti setiap hari beritanya di Jawa Pos. Polisi pun sudah mengetes langsung. Disuruh membuktikan langsung. Kalau dia memang bisa menggandakan uang secara gaib. Dan memang tidak pernah bisa! Dan tidak akan pernah bisa!! Semua itu hanya kibul tipu-tipu belaka!!! Kenapa? Karena bertentangan dengan ayat kauniyah Allah yang bernama Sunnatullah!!!!

Kini, pelakunya masih dipenjara. Katanya orang ini bisa menggandakan uang secara gaib. Magis. Ironinya banyak sekali (bahkan ribuan) orang percaya dan menjadi korbannya. Baru mereka merasa jadi korban setelah pelakunya ditangkap itu. Dan ini yang membuat saya miris: ada seorang profesor di ILC yang mencoba membenarkan tindakan gaib magis menggandakan uang itu. Katanya, “Buktinya Nabi Sulaiman bisa.”

Masya Allah. Penipu dan pembunuh disamakan dengan Nabi Sulaiman. Sama juga komentar di atas, menyamakan label anak indigo dengan Nabi Sulaiman. Saya menulis yang mengalami gangguan mental atau gangguan jiwa itu anak yang dilabel indigo. Jadi, bukan Nabi Sulaiman. Jinnya Nabi Sulaiman, itu bukan Jin klenik seperti anak yang dilabeli indigo itu. Sekali lagi, Jin Nabi Sulaiman itu adalah orang.

Saya kira, akan ada banyak orang yang mengaku-ngaku bisa melihat dan bahkan bernteraksi dengan Jin, dengan berdalil “Seperti Nabi Sulaiman”. Sedikit-sedikit, seperti Nabi Sulaiman. Wajar, wong yang dibaca cuma terjemahan. Itu pun dibaca sepotong. Untuk bisa memahami konsep Jin, saya kira kita mesti menyelam. Ya, menyelam Qur’an itu sendiri. Melibatkan ilmu-ilmu Bahasa Arab. Juga membaca ayat-ayat lain yang terkait. Secara komprehensif. Serta melibatkan ilmu bantu lainnya. Seperti Sains.

Untuk Isra’ Mikraj, Insya Allah saya akan ceritakan di lain kesempatan saja. Ini saja dulu. Direnung-renungkan. Pelan-pelan. Dipahami. Tartil.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam



SEJARAH KEYAKINAN NUSANTARA


—Saiful Islam—

“Kerajaan Mataram inilah yang membangun Candi Prambanan yang megah. Selain ke Candi Borobudur, saya dengan kawan-kawan pernah mengunjungi Candi yang megah ini…”

Agama orang-orang Indonesia (dulu Nusantara) ini, memang tidak ujug-ujug Islam. Juga bukan langsung Budha dan Hindu. Agama atau keyakinan nenek moyang kita, orang Indonesia, ini adalah memang animisme-dinamisme. Dari masyarakat sederhana berangsur-angsur modern sampai sekarang.

Keyakinan umum bagi orang-orang Austronesia, adalah animisme dan dinamisme. Orang Austronesia maksudnya adalah berbagai suku bangsa di Asia, Oceania, dan Afrika yang memakai bahasa-bahasa dari keluarga Austronesia. Yakni bahasa kepulauan yang sangat luas penyebarannya di dunia. Termasuk penduduk asli kepulauan Nusantara, ini mempraktekkan agama animisme-dinamisme itu.

Nenek moyang Nusantara itu, tepatnya sebelum Hindu, Buddha, dan Islam adalah orang-orang yang sangat memuliakan roh. Mereka meyakini bahwa sukma bisa menghuni tempat-tempat tertentu. Seperti pohon-pohon besar, batu, hutan, pegunungan, atau tempat suci. Tentu saja roh menurut mereka, berbeda dengan konsep roh versi Qur’an dan apalagi Sains. Mereka sebenarnya sudah bisa merasakan, bahwa di balik badan kasar itu ada badan halus yang membuat seseorang hidup. Sayangnya, tidak punya dasar (rujukan) sehingga lantas mengembangkan imajinasinya sendiri.

Tidak menjadi masalah. Sebab tulisan itu pertama kali baru ditemukan pada dua tempat yang berbeda. Pertama, di Mesopotamia. Yaitu sekitar 3200 tahun sebelum Masehi. Dan kedua, di Mesoamerika. Yaitu sekitar 600 tahun SM. Adapun tempat berkembangnya tulisan, itu masih menjadi kontroversi. Yaitu antara di Mesir sekitar 3200 SM atau di China pada 1300 tahun sebelum Masehi.

Sedangkan di Nusantara, menurut rekaman paling awal, Bahasa Melayu adalah bahasa asli. Digunakan di wilayah Sumatera dan semenanjung Melayu. Bahasa Melayu Purba, ini menjadi bahasa asal yang dipakai sebelum pedagang dari India datang ke Nusantara. Kira-kira sebelum abad ke-7 Masehi. Yang jelas, nenek moyang Nusantara itu, awalnya tidak mengenal tulisan. Dan apalagi kitab suci.

Nenek moyang orang Indonesia, ini punya kepercayaan. Bahwa arwah leluhur yang telah meninggal dunia itu masih memiliki kekuatan spiritual dan memengaruhi kehidupan keturunannya yang masih hidup. Cara memuliakan itu menyebar luas. Mulai dari masyarakat Nias, Batak, Dayak, Toraja, dan Papua. Mereka mewujudkan pemuliaan itu dengan misalnya upacara syukuran panen yang memanggil roh dewata pertanian. Sampai upacara kematian dan pemakaman yang rumit sebagai persiapan mengantar arwah orang yang baru meninggal menuju alam gaib.

Roh atau kuasa spiritual gaib itu dikenal sebagai hyang. Khususnya oleh orang-orang di Jawa. Sedangkan di Bali, masyarakatnya menyebut sebagai hyang. Dan sampai sekarang masih dimuliakan atau dipuja dalam agama Hindu Dharma Bali. Adapun suku Dayak menyebut entitas tak kasat mata itu dengan sangiang yang bisa berarti ilahi atau leluhur.

Agama Hindu berasal dari bangsa Arya yang masuk ke India. Yaitu ketika mereka mulai mendiami Lembah Indus pada kira-kira tahun 1500 SM. Agama Hindu masuk Nusantara, diperkirakan sejak awal tahun Masehi. Agama ini dibawa oleh para musafir dari India. Salah satunya adalah Maha Resi Agastya yang di Jawa dikenal dengan Batara Guru atau Dwipayana. Juga dibawa oleh para musafir dari Tiongkok. Yaitu musafir Budha Pahyien.

Sudah ada kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Juga Tarumanegara di Jawa Barat. Dan Kalingga di Jawa Tengah. Semua ini adalah kerajaan-kerajaan Hindu awal-awal di Nusantara. Tepatnya pada abad ke-4 Masehi. Kerajaan Hindu lain yang menonjol adalah Kerajaan Mataram. Kerajaan Mataram inilah yang membangun Candi Prambanan yang megah. Selain ke Candi Borobudur, saya dengan kawan-kawan pernah mengunjungi Candi yang megah ini. Sejak itu, agama Hindu menyebar di seluruh Nusantara.

Sedangkan agama Budha, itu lahir dimulai sejak dari abad ke-6 sebelum Masehi sampai sekarang. Agama ini disandarkan kepada lahirnya sang Buddha Siddharta Gautama. Kira-kira pada tahun 623 – 543 SM. Di Lumbini (Nepal kalau sekarang). Yakni negara terkurung daratan di Asia Selatan. Terletak di kawasan pegunungan Himalaya. Berbatasan dengan Tiongkok di sebelah Utara. Dan India di sisi Barat, Timur, dan Selatan. Dia lah pendiri agama Budha.

Nah, agama Buddha masuk ke Nusantara ini, pertama kali sekitar pada abad ke-5 Masehi. Ini berdasar peninggalan prasasti-prasasti yang ditemukan. Pembawanya pertama kali disinyalir adalah Fa Hsien. Dia dari China. Adapun kerajaan Buddha pertama kali yang berkembang di Nusantara ini adalah Kerajaan Sriwijaya. Berdiri pada abad ke-7 sampai tahun 1377. Kerajaan Sriwijaya ini dulu menjadi salah satu pusat pengembangan agama Buddha di Asia Tenggara. Tak heran pada masa ini, mayoritas penduduk Nusantara adalah beragama Buddha. Terutama Sumatera dan Jawa.

Adapun kapan masuknya Islam ke Nusantara, ini ada tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Menyatakan bahwa Islam datang dari wilayah Gujarat (India) melalui peran para pedagang muslim India. Sekitar abad ke-13 Masehi. Kedua, teori Mekah. Disebutkan, Islam itu langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang muslim Arab. Yaitu sekitar abad ke-7 Masehi. Dan ketiga, adalah teori Persia. Yaitu Islam sampai ke Nusantara lewat para pedagang asal Persia. Para pedagang ini, mampir dulu di Gujarat sebelum akhirnya sampai di Nusantara. Sekitar abad ke-13 Masehi.

Kerajaan atau Kesultanan Islam sendiri, yang ada di Nusantara tercatat sebagai berikut: Di Kalimantan ada Kerajaan Selimbau (mulai tahun 600 Masehi); Kerajaan Sintang (tahun 1500); Kerajaan Mempawah (1740); Kesultanan Kutai (1300); dan lain-lain. Di Sumatera ada Kerajaan Jeumpa (777M); Kesultanan Peureulak (840M); Kesultanan Samudera Pasai (1267M); dan lain-lain. Di Jawa ada Kesultanan Cirebon (1430); Kesultanan Demak (1500); Kesultanan Banten (1524); Kesultanan Mataram (1586); dan lain-lain. Di Maluku ada Kesultanan Ternate (1257); Kesultanan Tidore (1081); dan lain-lain. Di Sulawesi ada Kesultanan Gowa (1300); Kesultanan Buton (1332); dan lain-lain.

QS. Yusuf[12]: 111
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya pada KISAH-KISAH mereka itu terdapat PENLAJARAN bagi orang-orang yang MEMPUNYAI AKAL. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam





Selasa, 30 Juli 2019

INDIGO BUKAN PARANORMAL


—Saiful Islam—

“Sejatinya, indigo, itu adalah label dari orang tua yang anaknya mengalami gangguan kejiwaan. Ya, gangguan jiwa…”

Suatu hari, saya bertemu dengan seseorang di sebuah sekolah. Di samping kiri saya, ada seorang gadis kelas 3 SD. Cantik. Tinggi besar. Lebat dan ikal rambutnya. Lebar matanya. Tirus wajahnya. Kuning langsat kulitnya. Tiba-tiba orang tadi, menginfokan kepada saya bahwa gadis ini inklusi. Informasi itu semakin saya gali. Ternyata dia dianggap inklusi karena dianggap bisa berkomunikasi dengan makhluk halus di alam gaib. Ya, sudah menjadi anggapan umum di sekolah itu bahwa gadis ini tidak normal seperti anak-anak biasanya.

Langsung saja saya ajak gadis yang beragama non muslim ini berkomunikasi. Awalnya pakai Bahasa Indonesia. Namun dari keterangan-keterangannya, agaknya anak ini ingin sekali berbicara dengan Bahasa Inggris. Logat-loganya agaknya sering berbahasa Inggris. Bahkan sesekali mengucapkan kosa kata dari Bahasa Inggris. Maka saya pun mengutarakan pertanyaan-pertanyaan ringan dengan Bahasa Inggris.

Cukup baik dia menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan ini: “What is your complete name?”, “So, how can I call your nick name?”, “Where do you live?”, “Do you have brothers?”. “Do you have sisters?” “Younger brother or elder brother?”, “Younger sister or elder sister?” Dari keterangannya pula, saya mendapat info bahwa satu kakaknya yang bernama Karin (bukan nama sebenarnya) juga sekolah di situ. Kelas 6. Semua warga sekolah rata-rata menganggapnya juga sebagai gadis aneh. Sering ngomong sendiri. Ngobrol dengan makhluk halus.

Suatu hari, saya juga menemui kakaknya itu. Saya melakukan cara yang sama. Mengecek normal dan tidak otaknya dengan pertanyaan-pertanyaan. Ya, kalau dia bisa menjawab dengan logis pertanyaan-pertanyaan ringan yang saya ajukan, saya pastikan bahwa dia gadis yang normal. Apalagi dengan Bahasa Inggris. Yang mesti harus dengan grammar. Bahasa, itu hasil kerja otak kiri. Otak logis. Otak rasional. Otak sebab akibat. Otak konsekuensi. Otak tanggung jawab. Otak reward and punishment. Otak kontrol. Kalau bahasanya bagus, biasanya matematikanya juga bagus. Anak yang otak kirinya masih bagus, maka anak itu normal. Kesimpulannya, dua anak itu normal.

Jangankan di masyarakat umumnya. Di lingkungan sekolah saja, tidak menjamin para gurunya itu bebas dari tradisi klenik warisan animisme-dinamisme. Meskipun kedua anak tadi, itu beragama non muslim, tapi rata-rata yang mengjudge bahwa anak itu bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus gaib adalah muslim. Maka saya pun mengajak diskusi langsung orang tadi.

Sudah umum, masyarakat menyebut indigo. Yaitu anggapan ada anak yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus gaib. Termasuk kasus kesurupan masal yang viral kemarin. Yang mengatakan bahwa semua itu adalah santet oleh sesama artis yang iri, adalah anak yang dianggap indigo itu. Agama kedua anak yang saya ceritakan tadi itu adalah Hindu. Agaknya yakin ada orang yang bisa melihat makhluk halus gaib dan bahkan sampai berinteraksi. Saya tidak percaya! Argumentasinya, seri tulisan ini dari awal sampai akhir.

Indigo itu adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Sekadar diyakini tanpa rujukan yang jelas. Ini adalah gagasan semu (abu-abu alias tidak jelas) berawal tahun 1970-an. Anak indigo dianggap sebagai tahab evolusi manusia selanjutnya. Bahkan dianggap sekali lagi dianggap, punya kemampuan paranormal (alias nggak normal). Dan masyarakat Indonesia, Jawa-Madura-Sunda, terutama, itu menggembor-gemborkan yang paranormal ini.

Catat ini: tidak ada satu bukti penelitian pun yang membuktikan keberadaan anak indigo atau sifat mereka. Tapi kita mudahnya latah ikut-ikut bilang bahwa seorang anak adalah indigo: anak yang bisa berinteraksi dengan makhluk halus gaib. Secara Qur’an maupun Sains memang tidak bisa orang berinteraksi dengan makhluk halus gaib itu. Ditengarai fenomena indigo, itu dibesar-besarkan oleh orang tua yang anaknya didiagnosis mengalami kesulitan belajar. Atau mereka ingin anaknya dianggap spesial.

Ternyata, banyak anak yang dilabeli indigo itu didiagnosis mengidap penyakit attention-deficit hyperactivity disorder. Atau ADHD. Ya, penyakit. Alias gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak sampai menyebabkan aktivitas anak yang tak lumrah dan cenderung berlebihan. Tanda-tandanya antara lain perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa tenang, meletup-letup, aktivitas berlebihan, sampai suka membuat keributan.

Sejatinya, kata indigo, itu adalah label dari orang tua yang anaknya mengalami gangguan kejiwaan. Orang tua lebih memilih meyakini bahwa anak mereka itu spesial dan terpilih untuk misi yang penting daripada menerima kenyataan bahwa anak mereka mengidap penyakit kejiwaan. Banyak anak yang dilabeli indigo, itu telah dimasukkan ke sekolah rumah.

Kita latah melabeli seorang anak adalah indigo, itu akan membuat mereka latah juga. Tuman. “Aleman,” kata orang Oseng Banyuwangi. Alias ingin dipuji. Ini akan semakin membuat anak ‘kreatif’ berhalusinasi dan berdelusi. Tentu ini sangat bahaya. Berhalusinasi dan berdelusi itu adalah penyakit jiwa. Semakin akut, orang bisa ‘gila’ beneran. Bahkan semakin parah bisa mengalami kematian psikogenik, sebagaimana yang saya ceritakan kemarin.

Kita latah mengatakan bahwa seorang anak bisa berinteraksi dengan makhluk halus gaib, itu sama saja kita ikut menjerumuskan anak tersebut ke penyakit jiwa yang semakin dalam. Sungguh, ini harus dirubah. Tidak ada anak paranormal itu. Tidak ada anak yang bisa berinteraksi dengan gaib itu. Sebaliknya. Mari kita perlakukan anak-anak itu sebagaimana mestinya. Yang normal-normal saja. Apa adanya. Jangan malah ikut-ikutan melabel (apalagi di depannya langsung), bahwa anak itu indigo. Atau anak ajaib. Atau anak sakti. Atau anak bisa melihat Jin. Sekali lagi, latah melabel seperti itu, kita malah menjerumuskan anak ke dalam penyakitnya yang semakin dalam.

Perlakukanlah anak itu normal. Ajak dia berkomunikasi. Ajak dia berbahasa. Latih dia berhitung. Libatkan dalam permainan sebagaimana normalnya. Berilah tebak-tebakan. Ajak mereka berpikir. Aktifkan otak kirinya. Tugaskan mereka membuat kerajinan tangan atau keterampilan. Libatkan dalam aktivitas seni. Dan lain seterusnya sebagaimana anak normal lainnya.

Kalau dia muslim-muslimah, akrabkan dengan Qur’an. Dengan Sains. Dengan ilmu pengetahuan. Dengan literacy. Dan sebaliknya. Kalau ingin sembuh. Kalau ingin selamat. Jauhkan mereka dengan klenik, warisan keyakinan masyarakat primitif nenek moyang animisme-dinamisme!

QS. Al-Isra’[17]: 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan JANGANLAH KAMU MENGIKUTI apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu AKAN DIMINTA PERTANGGUNGAN JAWABNYA.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam





AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...