Jumat, 09 Agustus 2019

PEREMPUAN-PEREMPUAN PENEBAR FITNAH


—Saiful Islam—

“Ternyata. Al-naffaatsaat fi al-‘uqod itu bukan para perempuan penyihir…”

QS. Al-Falaq[113]: 4

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
“Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).

QS. Al-Nas[114]: 4 – 6
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
“Dari kejahatan (bisikan) Setan yang bersembunyi.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
“Dari (golongan) jin dan manusia.”
           
Pertama kata al-nafts dalam wa min syarri al-naffaatsaat fi al-‘uqod. Al-Raghib al-Ashfahaniy dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an mengartikan al-nafts adalah orang yang meludah. Tapi ludahnya atau riyaknya sedikit. Gampangnya al-natfs itu berarti meludah yang ludahnya sedikit sekali.

Kata al-nafts jika konteksnya adalah ular, misalnya al-hayyat tanfuts al-summ, maka artinya ular yang sedang mematuk. Atau ular yang sedang mengeluarkan bisanya (racunnya). Uloe ngepros, kata orang Banyuwangi. Atau dicetol ulo. Dipatuk ular. Ular itu kalau menggigit memang sekaligus mengeluarkan racun.

Sedangkan dalam Lisan al-‘Arab, arti kata al-nafts ini mirip dengan kata nafakha. Kata nafakha berarti meniup atau menghembus sesuatu. Jadi kata nafatsa itu serupa atau mirip dengan nafakha yang berarti meniup. Menurut satu pendapat, kata al-nafts itu meludah sekaligus riyaknya.

Selain bisa dikapai untuk ular, kata al-nafts juga dipakai untuk darah yang keluar karena luka.

Di dalam Hadis diceritakan bahwa Nabi bersabda, “Ruh qudus (Malaikat Jibril) menghembus (nafatsa) ke dalam jiwaku atau hatiku atau pikiranku.” Menurut Abu Ubayd Jibril itu seperti meniup dengan mulut. Serupa dengan nafakha (meniup). Yakni Jibril. Yaitu ia mewahyukan atau menyampaikan wahyu.

Dalam doa iftitah (pembukaan) sholat, ada Hadis yang berbunyi: Allohumma inniy a’udzu bik min al-syaythoon al-rojiim min hamazih wa naftsih wa nafkhih. Yakni, “Ya Allah. Aku berlindung kepada-Mu dari Setan yang terkutuk dari segala bisikan dan inspirasi jahatnya.”

Masih menurut Lisan al-‘Arab. Dan ini yang sangat penting dicatat. Bahwa al-nafts dalam Hadis, tafsirnya adalah syair. Atau puisi. Atau sajak. Menurut Abu ‘Ubayd, al-nafts itu memang untuk menyebut syair. Itulah arti asalnya. Ingat, arti asalnya.

Memang di kedua buku ini disebut juga istilah nafts al-rooqiy wa al-saahir. Tiupan pembaca mantra atau jompa-jampi atau tiupan penyihir. Serta al-naffaatsaat fi al-‘uqod yang disebut sebagai penyihir perempuan.

Jadi, terjemah perempuan-perempuan penyihir yang terinspirasi arti meniup, itu bukan arti satu-satunya. Masih ada arti yang lain seperti mematuk dan syair. Bahkan arti asalnya adalah meludah. Tergantung konteks kalimatnya. Diartikan meniup, itu pun hanya diserupakan dengan nafakha. Arti asal al-nafts adalah meludah. Bukan meniup.

Sedangkan al-‘uqod (Bahasa Indonesianya akad), itu berasal dari kata al-‘aqd yang berarti mengumpulan antara ujung-ujung sesuatu. Digunakan untuk benda-benda yang keras (padat). Seperti mengikat tali dan mengikat bangunan. Maksudnya, bangunan-bangunan sederhana dulu, itu menyatukannya dengan memakai tali. Agaknya belum ada paku dan peralatan modern seperti sekarang.

Kemudian makna al-‘uqod itu dipinjamkan (isti’aaroh dalam teori Sastra Arab), untuk banyak makna. Seperti akad jual beli, akad perjanjian, dan lain-lain. Termasuk juga akad pernikahan. Akad jual beli, maksudnya perjanjian jual beli. Yaitu sebuah MOU (memorandum of understanding), semacam dokumen legal yang menjelaskan persetujuan antara dua belah pihak terkait jual beli atau bisnis. Begitu juga untuk perjanjian-perjanjian yang lain.

Allah memerintahkan supaya kita komitmen dan konsisten dengan akad-akad yang kita lakukan antar manusia. Jangan merusaknya. Jangan mengkhianatinya. Jangan saling merusak dan mengkhianati akad-akad yang telah kalian buat. Yang telah kalian sepakati. Jangan sembarangan dengan janji-janji dan akad-akad yang telah kalian buat. Supaya selamat, sukses, dan bahagia. Dunia akhirat. Sebagaimana misalnya direkam dalam ayat berikut ini.

QS. Al-Maidah[5]: 1
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ
Hai orang-orang yang beriman, PENUHILAH AKAD-AKAD ITU. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

Dengan begitu, makna al-‘uqod itu tidak hanya makna sebenarnya. Makna hakikinya. Makna denotatifnya. Yaitu ikatan, atau ikatan tali atau ikatan benda-benda padat. Tapi bisa juga untuk makna kiasannya. Makna majasnya. Makna konotatifnya. Yaitu perjanjian. Akad. Yang dalam oleh KBBI diartikan janji, perjanjian, dan kontrak atau ikatan kerja.

Maka frase al-naffaatsaat fi al-‘uqod yang berarti meludah atau meniup dalam ikatan-ikatan, itu tidak hanya bisa diartikan makna tekstualnya. Yakni makna hakikinya. Tapi juga bisa dimaknai makna majaznya. Makna kiasannya. Makna konotatifnya. Alias makna kontekstualnya. Bahkan harus dilakukan takwil. Yaitu mengalihkan makna hakikinya kepada makna majaz karena konteks yang tidak memungkinkan untuk dimaknai secarai hakikinya. Karena sihir magis itu tidak masuk akal. Baik secara definisi kata sihir itu sendiri, secara Qur’aniy, maupun secara saintifik.

Menurut makna hakikinya saja, Allah sama sekali tidak menyebut sihir magis di situ. Ayat itu cuma menyebut, al-naffaatsaat fi al-‘uqod. Kejahatan perempuan yang ‘meniup’ (negatif) ikatan-ikatan. Ayat ini dipaksa ditarik ke makna sihir magis, agaknya para penerjemahnya terpengaruh Hadis lemah yang kemarin sudah saya kritisi itu. Sehingga konteks ayat itu dicocok-cocokkan dengannya.

Maka menurut saya, pemahamannya begini. Wa min syarri al-naffaatsaat fi al-‘uqod. Aku berlindung kepada-Mu dari perempuan-perempuan tukang fitnah. Tukang ghibah. Tukang adu-domba. Tukang desas-desus. Tukang sebar hoax. Para perempuan yang karena fitnahnya. Karena ghibahnya. Karena adu-dombanya. Karena hoax-nya. Dan karena desas-desunya, membuat orang terpengaruh sehingga merusak akad-akadnya. Mengkhianati janji-janjinya. MOU-nya.

Perempuan-perempuan yang berkata, “Mbak. Tahukah kamu. Suamimu selingkuh dengan temanku.” Padahal suaminya baik-baik. Fitnah itu kalau tidak diklarifikasi, bisa merusak akad pernikahan keduanya. Alias cerai. Perempuan-perempuan yang memprovokasi, “Pak. Jangan libatkan lagi si Fulan dalam proyek kita. Kerjanya tidak becus. Suka menggarong uang haram.” Padahal si Fulan orang baik-baik dan profesional. Tentu saja, itu bisa membuat si Bos memutus kontrak kerja (akad) dengan si Fulan. “Sudah Pak. Batalkan saja kontraknya. Harganya terlalu mahal. Kualitasnya terbukti buruk di lapangan. Kami bisa memberi Bapak hasil yang jauh lebih bagus. Dengan harga yang lebih murah.” Dan lain seterusnya.

Dan kalau melihat ayat ke-5 Surat Al-Falaq ini, “Dan dari kejahatan orang yang dengki,” sekan-akan konteks keseluruhannya memang mengarah kepada ghibah, fitnah, adu-domba, hoax, dan desas-desus ini. Sebabnya adalah iri, dengki, dan sombong. Orang yang sudah dengki, memang bisa gelap mata, gelap hati. Bakal menghalalkan segala cara untuk menghabisi orang sasarannya. Dan cara paling mudahnya adalah dengan menebar fitnah dan hoax itu.

Surat berikutnya, yakni Al-Nas ayat 4 sampai 6, seakan-akan menegaskan. Bahwa fitnah, hoax, adu domba, dan desas-desus mereka itu memang bisa berdampak pada orang sasarannya jika tidak diklarifikasi. Fitnah itu benar-benar bisa membuat was-was hati sasarannya. Apalagi bagi orang awam yang tak terbiasa klarifikasi, pasti fitnah para perempuan jahat itu akan membuat takut hatinya. Curiga. Khawatir. Sedih. Dan sampai putus asa. Para perempuan jahat inilah al-khunnas (Setan) itu. Yaitu sifat Setan yang sudah meliputi manusia.

Kita berlindung kepada Allah.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam


           

Kamis, 08 Agustus 2019

BISIKAN-BISIKAN SETAN


—Saiful Islam—

“Malam, itu cuma keadaan ketika bagian bumi membelakangi matahari…”

Jadi, al-mu’awwidzatayn (QS. Al-Falaq dan QS. Al-Nas), itu bukan jawaban kasus kabar berbau tendensius bahwa Nabi disihir Labid bin al-A’sham. Setelah menganalisis sanad dan matan itu, ternyata Hadis-Hadis (berita) Nabi disihir, itu lemah. Dalam Surat Al-Falaq pun, terjadi kontradisi kesimpulan mereka sendiri. Hadisnya menyebut Labid bin Al-A’sham. Ini laki-laki. Sedangkan di QS. Al-Falaq, yang diterjemahkan sebagai para penyihir, itu perempuan. Jadi tidak nyambung. Tidak make sense. Alias tidak masuk akal.

Lalu, ada seorang kawan yang bertanya kepada saya, bagaimana sebenarnya QS. Al-Falaq dan QS. Al-Nas itu. Sekali lagi, kedua Surat ini adalah argumen puncak kawan-kawan yang pro sihir dan Jin gaib metafisika.

OK. Mari kita kutip ayat-ayatnya. Saya pakai terjemah versi Kemenag dulu. Sebagai perwakilan pandangan umum masyarakat kita. Baru kemudian dikomentari. Dikritisi. Misalnya pemahaman dari kosa kata Arab-nya. Kalau terlalu panjang, bahasan ini kita bagi paling tidak dua sesi.

QS. Al-Falaq[113]: 1 – 5
1.      Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar).

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
2.      “Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan.

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
3.      “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
4.      “Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
5.      “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

QS. Al-Nas[114]: 1 – 6
1.      Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia.

2.      “Raja manusia.

3.      “Sembahan manusia.
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
4.      “Dari kejahatan (bisikan) Setan yang bersembunyi.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
5.      “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
6.      “Dari (golongan) jin dan manusia.”

Dua Surat ini adalah Makkiyah. Yakni turun sebelum Nabi Hijrah. Secara tertip turunnya, kedua Surat ini turun setelah Surat Al-Kafirun dan Al-Fil. QS. Al-Falaq adalah Surat ke-20. Terdiri dari 5 ayat. Sedangkan QS. Al-Nas adalah Surat ke-21. Mengandung 6 ayat. Secara umum isinya adalah perintah kepada Nabi Muhammad (tentu kepada kita juga), supaya selalu minta tolong kepada Allah. Alias berdoa. Tepatnya, berdoa yang tidak formal. Terutama supaya tidak terpengaruh dan dijauhkan dari sifat Setan yang membuat kita jauh dari rahmat Allah.
QS. Al-Mukminun[23]: 97 – 98
وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ
97. Dan katakanlah (Muhammad): "Ya Tuhanku. Aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan Setan.”

وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
98. “Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku."

Minta tolong apa? Pertama, dari semua keburukan atau kejahatan yang Dia Ciptakan. Min syarri maa kholaq. Ada pendapat bahwa Allah tidak menciptakan keburukan. Ayat ini dibacanya min syarrin maa kholaq (tidak difrasekan atau diidhofahkan): dari keburukan yang Allah tidak ciptakan. Menurut saya, secara operasional memang Allah tidak melakukan kejahatan. Namun secara global, semua yang ada (termasuk kebaikan dan kejahatan) itu yang memang Allah Penciptanya.

Dan manusia memang Allah uji dengan kebaikan dan keburukan atau kejahatan. Sebagaimana disebut misalnya QS. Al-Anbiya’[21]: 35.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.

Allah menggunakan kata ‘Kami’. Yakni dalam menguji kita itu, Allah melibatkan pihak lain. Bisa Setan yang berupa energi negatif. Atau Setan sifat yang telah menguasai manusia. Jadi, memang Allah lah Pencipta segala yang ada. Termasuk drama kehidupan ini. Tapi ingat, secara operasional, manusia bebas memilih. Dia mau jadi agen kebaikan yang konsekuensinya adalah kebahagiaan. Ataukah agen keburukan yang konsekuensinya adalah penderitaan.

Jadi ketika seseorang berbuat kejahatan, itu murni pilihannya sendiri. Secara operasional. Tidak bisa begini. Ada orang yang berbuat kriminal. Kemudian ditangkap dan diadili. Lantas dia menjawab, “Saya berbuat jahat ini sudah takdir Allah.” Tidak bisa seperti itu. Kalau begini, sesat. Jabbariyah namanya. Fatalistik. Baik buruk memang takdir Allah. Tapi memilih yang baik atau yang buruk, itu murni pilihan manusia. Dia akan diganjar kenikmatan karena pilihan baiknya. Ia pun akan dibalas adzab karena pilihan buruknya. Min syarri maa kholaq, itu konteksnya takdir. Min syarrin maa kholaq, itu konteksnya operasional.

Kedua, minta tolong kepada Allah dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Tentu bukan kondisi malam yang berbuat kejahatan. Malam itu hanya sebuah waktu. Atau saat. Atau kondisi gelap. Hanya karena bagian bumi yang tidak terkena cahaya matahari. Yang dimaksud kejahatan malam, adalah kejahatan-kejahatan binatang, virus, atau kafir Quraisy yang beraksi di malam hari. Kewaspadaan Nabi dan kaum Mukmin di malam hari yang gelap, tentu terganggu. Nah, kesempatan malam itulah yang bisa jadi dimanfaatkan oleh musuh-musuh beliau.

Jadi, tidak ada kaitannya malam dengan Jin. Sihir tak ada kaitannya dengan malam. Malam tak ada kaitannya dengan magis. Seperti keyakinan sebagian orang. Malam itu cuma moment ketika bagian bumi membelakangi matahari. Sebaliknya, siang. Itu saat ketika bagian bumi menghadap matahari. Namun orang-orang Jawa, Madura, Sunda, atau Indonesia lah pada umumnya, itu seringkali mengait-ngaitkan malam dengan Jin. Dengan sihir. Dengan roh-roh. Terpengaruh film-film horor. Wajar kalau kita dengan syair di masjid sebelum iqomah ini:

“Malam Jum’at roh nunggu onok lawang. Njalok kiriman sak ayat soko Qor’an. Barang ora oleh sak ayat soko Qor’an. Bali menyang kobor brebes mili ketangisan.” Tentu saja, banyak orang awam yang meyakini bahwa arwah keluarga yang telah mati itu benar-benar datang di malam Jum’at itu. Bahkan dicepaki kopi secangkir, ketan bertabur gula pasir dan butiran kacang, serta damar oblek.

Padahal sejatinya itu hayalan belaka! Tidak pernah ada di dunia nyata!! Sungguh bahaya ketika sebuah hayalan menjadi agama!!!

Ketiga, kejahatan orang yang dengki. Orang yang dengki itu akal dan hatinya sudah diliputi Setan. Begitu juga musuh-musuh Nabi di Mekah itu. Dengki yang amat sangat, sebab keyakinan pagan mereka dikoreksi oleh Qur’an. Merasa posisi sosial, kedudukan, dan ekonomi mereka, itu terancam dengan kedatangan Nabi yang membawa Qur’an ini. Yang menyuruh adil. Yang mengecam riba. Yang membongkar sistem kasta. Yang mengangkat derajat kaum perempuan. Dan seterusnya. Dengki para kafir Quraisy itu membuat mereka menghalalkan segala cara untuk membunuh Nabi. Membabi buta untuk melenyapkan Nabi.

Untuk yang keempat dan seterusnya, tepatnya QS. Al-Falaq ayat 4 dan QS. Al-Nas ayat 4 – 6 insya Allah akan saya ceritakan di depan.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Rabu, 07 Agustus 2019

QUR’AN MENCAHAYAI AKALMU


—Saiful Islam—

“Khasiat Al Qur’an, itu ada di maknanya. Energi makna. Bukan yang lain…”

Sudah saya ceritakan sebelumnya. Berdasar 8:24, kata-kata positif saya sebut dengan al-muhyi. Penghidup. Sedangkan kata-kata yang negatif, saya sebut sihir. Rasulullah jauh-jauh hari sudah mewanti-wanti kita, “Berkatalah yang baik. Kalau tidak bisa, diamlah.” Berkata yang baik-baik saja, kalau tidak bisa sebaiknya diam, ini bahkan menjadi salah satu tanda orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat. Rasul menasehati agar kita selalu punya kontrol dengan kata-kata kita. Agar selamat, sukses, dan bahagia dunia akhirat, hendaklah selalu mengeluarkan al-muhyi.

Ayat-ayat Qur’an bisa menjadi obat, itu bisa dipahami secara tekstual. Yakni kalimat-kalimat teksnya, jika dipahami dan diamalkan, memang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang ada di dalam dada. Yakni semua penyakit kejiwaan. Dan bisa juga dipahami secara kontekstual. Yakni semua kalimat-kalimat yang baik, benar, dan sekaligus indah.

Bahkan Rasul pun, itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah penyampai peringatan. Misalnya QS.15:89. Penyampai informasi. Karena dengan sampainya informasi itu, semua nilai dan norma Islam akan menjadi prinsip seseorang. Beliau adalah penyampai berita gembira (basyiiron), sekaligus pemberi peringatan (nadziiron). Yang diberikan Rasul kepada kita, memang ‘hanyalah’ kata-kata. Kalimat-kalimat. Pelajaran. Dan menariknya, kalimat-kalimat itu disebut cahaya. Ya, cahaya bagi akal dan hati yang gelap gulita. Yang bingung. Dan tersesat.

Peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. “Dan tetaplah memberi peringatan. Karena sungguh, peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman,” (QS. Al-Dzariyat[51]: 55). Bahkan orang yang saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran disebut orang yang beruntung (QS.103:1-3). Peringatan dan nasehat, itu tak lain dan tak bukan, adalah kata-kata. Kalimat-kalimat.

Al Qur’an juga menyebut. Bahwa kisah-kisah itu mengandung manfaat. Begitu juga sejarah. Termasuk cerita-cerita. Yakni mengandung pelajaran. Misalnya QS.12:111. Termasuk juga dongeng yang baik. Yakni dongeng edukatif. Antara lain mengasah daya pikir dan imajinasi, sebagai media yang efektif untuk menanamkan nilai, etika, empati dan simpati, menumbuhkan minat baca, perkembangan kognitif, perkembangan sosial dan emosional, meningkatkan keterampilan berbahasa, dan lain seterusnya.

Kita menjadi termotivasi dan terinspirasi ya dengan kata-kata. Bahkan menjadi obat galau dan tidak punya pandangan hidup ke depan. Misalnya perhatian seorang ayah yang sangat mencintai dan menyayangi anaknya. “Sudah, Nak. Kamu tidak usah mikiri kerja dulu. Belum waktunya. Jangan mikir yang macem-macem. Urusan uang dan kerja, biar ayah. Tugas kamu, cuma satu. Yaitu, belajarlah yang giat. Belajarlah yang sungguh-sungguh. Taati ibu dan guru-gurumu. Sayangi teman-temanmu. OK ya…”

Bahkan sebagian besar kita, bisa paham, itu ya melalui kata-kata. Sains itu ya memang paparan teoritis ‘belaka’. Yang disampaikan ya lewat kalimat-kalimat. Aplikasi dari teori-teori itu, disebut teknologi. Kalau kita belajar Sosiologi, Antropologi, Politik, Fisika, Kimia, Matematika, Biologi, dan seterusnya di kelas, itu ya melalui kata-kata. Kalimat-kalimat. Teoritis. Sains.

Sejak ditemukan tulisan, peradaban manusia mengalami kemajuan yang sangat cepat dan mengagungkan. Semua penemuan-penemuan di bidang Sains dan Teknologi, itu cikal bakalnya adalah ditemukannya sistem tulisan. Tulisan, memang menjadi tanda pemisah zaman prasejarah dan sejarah.

Rasanya semua orang sudah tahu, bahwa kita pun banyak terpengaruh ya dengan kata-kata. Sebagaimana dampak-dampat positif itu akibat dari kata-kata, dampak-dampak negatif pun itu akibat dari kata-kata. Berkata-katalah yang baik (misalnya QS.33:70-71 dan QS.49:12). Orang bisa rukun, karena kata-kata. Orang bisa bertengkar dan bercerai ya karena kata-kata. Fitnah, hoax, adu domba, dan semisalnya itu ya kata-kata. Sampai-sampai ada istilah brain washing. Alias cuci otak. Tak lain dan tak bukan, ya dengan kata-kata.

Contoh sehari-hari. Misalnya seorang istri yang mendapat info suaminya selingkuh. Bisa-bisa si istri ini sedih dan langsung pingsan. Atau seorang ayah yang mendengar anaknya kecelakaan. Kalau tidak kuat, bisa-bisa dia serangan jantung. Atau struk. Dan lain seterusnya. Ingat, mereka hanya mendapat info. Dan info tak lain dan tak bukan adalah kata-kata. Maka begitu juga. Orang yang menonton stand up comedy, misalnya. Bisa terpingkal-pingkal. Mendapat kabar naik jabatan. Anak lulus terbaik di kampusnya. Mendapat penghargaan dari atasan. Atau laporan penjualan perusahaannya yang naik 200 persen dari sebelumnya. Tentu akan senang. Bahagia. Antusias.

Otak manusia sangat terpengaruh dengan kata-kata. Bahkan mekanisme orang bisa berbicara itu pun luar biasa. Semua perangkat organ-organ penting manusia, itu agaknya untuk tujuan menyampaikan kata-kata dan menerima kata-kata ini. Informasi. Untuk memengaruhi sekaligus dipengaruhi. Seperti mata, telinga, peraba, otak, hati, hidung, dan seterusnya. Sungguh, itu semua adalah keajaiban yang nyata. Cuma terlihat biasa memang, karena kita terbiasa melihatnya.

Jangan coba-coba misalnya Anda mengisolasi anak Anda. Jangan disekolahkan. Jangan dingajikan. Jangan didengarkan sesuatu. Jangan diajari apa pun. Jangan boleh berinteraksi dengan apa pun dan dengan siapa pun. Kurung saja dia di kamar. Terus bertahun-tahun. Sampai dia misalnya umur 18 tahun. Saya jamin, anak itu tidak akan hidup sebagaimana layaknya manusia. Anak-anak Inggris, misalnya. Ya ngomongnya Bahasa Inggris. Anak-anak Jepang, ya ngomongnya bahasa Jepang. Anak-anak Arab, ya ngomongnya Bahasa Arab. Tidak ada anak Jawa, yang ujug-ujug bisa berbahasa Mandarin misalnya. Tidak ada. Kecuali belajar!

Bukan hanya bahasanya. Nilai-nilai yang dipedomani oleh anak-anak, itu tergantung lingkungannya. Terutama orang tuanya. Anak-anak itu dipengaruhi. Tentu terutama dengan kata-kata. Terbiasa hidup di lingkungan yang berkata-berkata kasar, kotor, negatif, begitu juga akan menirukan. Sampai budaya dan keyakinan, itu ya dari kata-kata. Anak yang lahir lingkungannya Hindu, insya Allah akan Hindu juga. Begitu juga lingkungan Buddha, Kristen, Islam, Kebatinan, dan seterusnya. Dan sejatinya, kita ini adalah anak-anak yang bertubuh lebih besar saja.

Bahkan Allah pun sangat mengapresiasi orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Baik itu pengetahuan teoritis maupun praktis. Teori dan praktik memang saling terkait. Teori membutukan praktik. Dan praktik pun membutuhkan teori. Simbiosis mutualistik. Ilmu pengetahuan atau Sains, itu memang lahir dari pengamatan-pengamatan lapangan. Hasil dari pengamatan atau riset lapangan, itu ditulis dan menjadi teori ilmu pengetahuan (Sains) yang baru. Begitu terus. Berputar. Berkelindan. Saling membutuhkan. Saling melengkapi.

QS. Al-Mujadilah[58]: 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman. Apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah. Pasti Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah. Niscaya Allah akan MENINGGIKAN orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan BEBERAPA DERAJAT. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Selasa, 06 Agustus 2019

BERUQYAH DENGAN QUR’AN


—Saiful Islam—

“Tidak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa ayat-ayat Qur’an bisa untuk mengusir Jin…”

Berdasar wacana yang berkembang di kalangan umat Islam, ruqyah dipahami sebagai membaca ayat-ayat Qur’an atau doa-doa untuk mengusir Jin. Atau untuk pengobatan. Baik pengobatan jiwa maupun fisik.

Pengertian yang pertama, bahwa bacaan ayat-ayat Qur’an bisa mengusir Jin, sudah terbantahkan dengan dua kisah kemarin. Yaitu pertama kisah gadis kesurupan yang mengoreksi bacaan orang yang akan menyadarkannya: “Pakai idgham bighunnah g*bl*k!” Kalau memang benar gadis itu kemasukan Jin, tentunya si Jin akan langsung lari. Dan si gadis akan langsung sadar ketika diruqyah.

Maka, pemahaman ada Jin sosok metafisika yang bisa masuk ke dalam diri seseorang, itu salah. Begitu juga. Pemahaman bacaan ayat-ayat Qur’an untuk mengusir Jin, juga salah. Jadi fenomena ada orang kesurupan kemudian ada orang yang berusaha menyadarkannya dengan ayat-ayat Qur’an, dengan maksud mengeluarkan Jin tersebut, adalah kesalahan pangkat dua.

Kedua, adalah kisah gadis yang malah kesurupan ketika diruqyah. Padahal awalnya gadis itu biasa-biasa saja. Normal-normal saja. Sehat-sehat saja. Tapi ketika dalam proses ruqyah masal itu, gadis tersebut malah kesurupan. Ingat, tim peruqyah itu sudah profesional! Mereka diundang ke sekolah itu, memang karena menamakan diri sebagai peruqyah profesional!!

Jadi, pemahaman ayat-ayat Qur’an digunakan untuk mengusir Jin gaib metafisika itu, tidak tepat. Alias keliru. Alias salah. Baik secara teoritis. Maupun praktik di lapangan langsung. Memang kalau kita cari dalam Qur’an, tidak ada informasi kepada kita yang menyatakan bahwa ayat-ayat Qur’an bisa digunakan untuk mengusir Jin gaib metafisika itu. Sekali lagi, tidak ada!

Ruqyah itu berasal dari kata roqoo yang berarti naik. Roqiytu fi al-daraj wa al-sullam, aku menaiki (anak) tangga. Menek ondo, bahasa Jawanya. Begitu juga arqoo, ruqiyan, irtaqoo, berarti mendaki. Ayat-ayat Qur’an yang menggunakan kata ini, antara lain sebagai berikut:

QS. Shad[38]: 10
أَمْ لَهُمْ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ فَلْيَرْتَقُوا فِي الْأَسْبَابِ
Atau apakah bagi mereka kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? (Jika ada), maka hendaklah mereka MENAIKI tangga-tangga (ke langit).

Dikatakan, irqo ‘ala thol’ik. Yang dimaksud adalah ish’ad wa in kunta zholi’an. Yakni mendakilah, meskipun engkau pincang.

QS. Al-Isra’[17]: 93
أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَىٰ فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّىٰ تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ ۗ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا
“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai KENAIKANMU itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca". Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku. Bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?"

Selain berarti naik atau mendaki itu, ruqyah bisa juga berarti penangkal. Seperti terekam pada ayat berikut: QS. Al-Qiyamah[75]: 27, Dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat MENYEMBUHKAN?"
وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ

Yakni, ketika nafas sudah sampai di kerongkongan, siapakah yang bisa menangkalnya? Atau menghalanginya? Atau mencegahnya? Sehingga ia menjadi sembuh. Sehingga ia lepas dari sakaratul maut. Ayat ini sebagai pengingat bahwa ketika nafas sudah sampai di kerongkongan itu, tidak ada seorang pun yang bisa mencegahnya. Atau menolaknya. Atau menghalang-halanginya.

Jadi, tidak ada dalam Al Qur’an itu informasi bahwa ayat-ayat Qur’an ini bisa digunakan untuk mengusir Jin gaib metafisik. Tidak ada juga ayat-ayat Qur’an bisa digunakan untuk ‘menyadarkan’ orang ‘kesurupan’.

Ayat-ayat Qur’an ini memang bisa menyembuhkan. Bahkan ia adalah penawar. Ya, obat. Ayat-ayat Qur’an ini memang ada yang berfungsi sebagai obat. Namun bukan untuk mengobati atau menyembuhkan atau menyadarkan orang ‘kesurupan’. Tapi lebih pada mengobati penyakit-penyakit kejiwaan. Seperti sedih, takut, halusinasi, delusi, ragu-ragu, bingung, dan seterusnya. Dan catat ini, ayat-ayat Qur’an itu memang bisa menjadi obat ketika dipahami makna-maknanya. Diyakini. Lantas dipraktekkan dalam kehidupan sehari-sehari!

QS. Yunus[10]: 57
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Hai manusia. Sesungguhnya telah datang kepadamu PELAJARAN dari Tuhanmu dan PENYEMBUH bagi penyakit-penyakit (yang berada) DALAM DADA dan PETUNJUK serta RAHMAT bagi orang-orang yang beriman.

Jelas sekali ayat di atas memberi informasi kepada kita bahwa Al Qur’an ini adalah mengandung pelajaran. Ya pelajaran disebut pertama. Namanya pelajaran, ya mesti dipahami maknanya. Ketika guru memberikan pelajaran Fisika, Kimia, Matematika, Biologi, Antropologi, Sosiologi, misalnya, ya itu memang untuk dipahami. Dimengerti. Supaya bermanfaat bagi si murid. Lah, kalau ada pelajaran tidak untuk dipahami, tentu tidak pantas disebut pelajaran.

Barulah kemudian Al Qur’an itu disebut obat untuk penyakit-penyakit di dalam dada. Alias penyakit-penyakit jiwa. Seperti takut, sedih, khawatir, putus asa, bingung, merasa tidak berguna, merasa tidak diampuni Allah, berhalusinasi, berdelusi, dan lain semisalnya. Di Facebook, saya pernah menemukan gambar menarik ini: “Aduh capeknya…” Allah jawab, “Dan Kami jadikan tidurmu sebagai istirahat,” (Al-Naba’:9). “Sedihnya…” Allah jawab, “Laa tahzan. Innalloha ma’ana. Janganlah kamu sedih. Sesungguhnya Allah bersama kita,” (Al-Taubah: 40). “Stres, panik, gelisah…” Allah jawab, “Hanya dengan mengingat-Ku, hati menjadi tenang,” (Al-Ra’ad: 28). “Yang kulakukan sia-sia…” Allah jawab, “Siapa yang mengerjakan kebaikan sekecil atom pun, niscaya ia akan mendapat balasannya,” (Al-Zalzalah:7). “Berat banget, nggak sanggup…” Allah jawab, “Aku tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya,” (Al-Baqarah: 286). Dan banyak lagi.

Jadi, ketika dipahami maknanya, serta dihayati sepenuh keimanan, kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, maka pastilah Al Qur’an itu bisa menjadi obat. Menjadi penawar bagi orang yang mengamalkannya. Benar-benar menyembuhkan segala penyakit-penyakit jiwanya itu.

Lalu, Al Qur’an itu menjadi petunjuk. Ya, petunjuk. Namanya petunjuk, mestilah harus dimengerti dan dipahami. Tentu, bukan petunjuk namanya kalau tidak bisa dimengerti dan dipahami. Seperti seorang dokter asing yang berbahasa Inggris memberi resep kepada pasien, orang Jawa dari kampung yang tidak lulus SD. Tentu saja, petunjuk yang diberikan dokter itu tidak bermanfaat baginya. Meski resep itu dibaca seribu kali, sampek meniren sekalipun, ya tetap saja. Resep itu tidak akan berguna.

Di situlah Al Qur’an lantas menjadi rahmat. Yakni membuat orang yang memahami serta mengamalkan Al Qur’an dikasihi Allah. Disayang Allah. Didekatkan dan diberikan aneka kebaikan. Keselamatan. Kesuksesan. Kebahagiaan. Surganya. Bahkan sejak di dunia. Sampai akhirat.

Tapi, ingat. Semua energi makna Al Qur’an itu, hanya bermanfaat bagi orang yang beriman. Alias orang yang meyakininya. Bahwa Al Qur’an ini memang benar-benar firman Allah. Tidak ada keraguan sedikitpun padanya. Petunjuk apa yang tercantum di dalamnya, pastilah benarnya. Dan kita memang harus senantiasa membuktikannya langsung dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari ‘ainul yaqin. Sampai haqqul yaqin.

Tapi sebaliknya. Bagi orang yang memang tidak beriman, Al Qur’an hanya menjadi sesuatu yang merugikan mereka. Mereka sedih, takut, dan khawatir Qur’an itu akan lestari. Bahkan informasinya membuat mereka benci. Marah. Gelap. Karena Qur’an memang senantiasa mengritik mereka. Mengancam mereka dengan neraka. Teror mental.

QS. Al-Isra’[17]: 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi PENAWAR dan RAHMAT bagi orang-orang yang beriman. Dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

QS. Fushshilat[41]: 44
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
Dan jikalau Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Qur’an itu adalah PETUNJUK dan PENAWAR bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh".

Begitulah. Ayat-ayat Qur’an itu memang bisa menyembuhkan. Yakni energi maknanya. Bukan yang lain. Maka sudah pasti sebuah penyelewengan. Penyalahgunaan, ketika ayat-ayat Qur’an, itu dipakai untuk jompa-jampi. Atau jimat. Atau mantra. Pelaris. Pelet. Mengusir Jin. Sowok. Dan lain semisalnya.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam


AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...