Rabu, 14 Agustus 2019

JIN ALA IMAN KRISTEN


—Saiful Islam—

“Agaknya, keyakinan Muslim tentang kesurupan itu terpengaruh oleh keyakinan Kristen…”

Lukas pasal 24 ayat 39 menyebutkan: “Look at my hands and my feet; it’s me! Touch me and see; a ghost does not have flesh and bones like you see I have.” Artinya, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."

Nah, dari ayat di atas, kemudian ada yang meyakini bahwa hantu itu ada. Tapi hantu itu tidak bisa dilihat. Tidak kasat mata. Tidak bertubuh. Makhluk yang tidak berdaging dan tidak bertulang ini dikategorikan sebagai roh jahat. Meskipun hantu di sini dipahami sebagai Iblis. Bukan roh orang yang sudah mati. Dan Iblis dipahami sebagai Malaikat yang terjatuh ke dalam dosa.

Jadi, menurut keyakinan Kristen, hantu itu adalah Iblis. Dan Iblis adalah Malaikat yang terjatuh ke dalam dosa. Maksudnya, hantu atau Iblis itu awalnya adalah Malaikat. Namun karena berdosa, lantas Malaikat ini menjadi Iblis. Hanya Malaikat yang berdosa saja yang menjadi Iblis. Yang tidak berdosa, tetap menjadi Malaikat.

Matius pasal 12 ayat 43 sampai 45, disebutkan sebagai berikut. When an unclean spirit goes out of a person, it passes through waterless places looking for rest but  does not find it. Artinya, apabila roh jahat  keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatkannya.

Then it says, ‘I will return to the home I left.’ When it returns, it finds the house empty, swept clean, and put in order. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur.

Then it goes and brings with it seven other spirits more evil than itself, and they go in and live there, so the last state of that person is worse than the first. It will be that way for this evil generation as well! Kemudian ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini.

Matius pasal 12 ayat 43 sampai 45 di atas, pararel dengan Lukas pasal 11 ayat 24 sampai 26. Dari ayat-ayat ini, lantas ada yang menyimpulkan bahwa roh-roh jahat itu punya kemampuan untuk memasuki dan merasuki manusia dan juga binatang. Serta memanfaatkan benda-benda mati seperti rumah, benda keramat, dan jimat. Jadi, manusia bisa kesurupan roh-roh jahat. Binatang juga bisa kesurupan roh-roh jahat.

Ayat di bawah inilah yang dijadikan dalil untuk menguatkan kesimpulan. Bahwa seseorang memang bisa kesurupan roh-roh jahat. Bukan cuma kepada orang. Tapi juga merasuki binatang (seperti babi). Roh-roh jahat itu bisa keluar masuk ke dalam orang maupun binatang. Ingat ya, ini masih bicara soal iman Kristen!

Lukas pasal 8 ayat 27 sampai 33.

As  Jesus  stepped ashore,  a certain man from the town  met him who was possessed by demons. For a long time this man had worn no clothes and had not lived in a house, but among the tombs (8:27). Setelah Yesus naik ke darat, datanglah seorang laki-laki dari kota itu menemui Dia; orang itu dirasuki oleh setan-setan dan sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam rumah, tetapi dalam pekuburan.

When he saw Jesus, he cried out, fell  down before him, and shouted with a loud voice, “Leave me alone,  Jesus, Son of the Most High  God! I beg you, do not torment   me!” (8:28). Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: "Apa urusan-Mu dengan aku, Hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku."

For Jesus had started commanding the evil  spirit to come out of the man. For it had seized him many times, so  he would be bound with chains and shackles  and kept under guard. But   he would break the restraints and be driven by the demon into deserted  places (8:29). Ia berkata demikian sebab Yesus memerintahkan roh jahat itu keluar dari orang itu. Karena sering roh itu menyeret-nyeret dia, maka untuk menjaganya, ia dirantai dan dibelenggu, tetapi ia memutuskan segala pengikat itu. Dan ia dihalau oleh setan itu ke tempat-tempat yang sunyi.

Jesus then   asked him, “What is your name?” He   said, “Legion,”  because many demons had entered him (8:30). Dan Yesus bertanya kepadanya: "Siapakah namamu?" Jawabnya: "Legion," karena ia kerasukan banyak setan. 

And they began to beg   him not to order  them to depart into the abyss (8:31). Lalu setan-setan itu memohon kepada Yesus, supaya Ia jangan memerintahkan mereka masuk ke dalam jurang maut.

Now a large herd of pigs was feeding there on the hillside,   and the demonic spirits  begged Jesus   to let them go into them. He gave them permission (8:32). Adalah di sana sejumlah besar babi sedang mencari makan di lereng gunung, lalu setan-setan itu meminta kepada Yesus, supaya Ia memperkenankan mereka memasuki babi-babi itu. Yesus mengabulkan permintaan mereka.

So  the demons came out of the man and went into the pigs, and the herd of pigs  rushed down the steep slope into the lake and drowned (8:33). Lalu keluarlah setan-setan itu dari orang itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau lalu mati lemas.

Darinya lantas ada yang memahmi bahwa Legion itu merupakan nama untuk sekelompok roh jahat yang merasuki seorang pria. Ia tinggal di Gadara, daerah Gerasa. Lantas Yesus mengusir roh jahat itu supaya keluar dari laki-laki tersebut. Kemudian roh-roh jahat itu merasuki sekelompok babi. Karena roh-roh jahat tersebut, kawanan babi itu akhirnya mati lemas.

Ada juga yang menyebut bahwa Jin itu adalah setan. Sekali lagi, ini menurut Kekristenan atau Alkitab. Rujukannya adalah Imamat 17:7, 2 Tawarikh 11:15, dan Yeyasa 13:21. Jika diringkas, roh itu dikategorikan menjadi dua. Pertama, roh yang baik. Dan kedua adalah roh jahat.

Meskipun di antara kawan-kawan saya ada yang Kristen dan bahkan pendeta, saya lebih banyak berinteraksi dengan Kaum Muslimin. Orang-orang Islam. Jawa dan Madura, bahkan Indonesia, itu Muslim memang mayoritas. Yang banyak saya temui itu Kaum Muslim. Yang meyakini bahwa orang bisa kesurupan Jin atau makhluk gaib metafisika, atau roh jahat, itu ya kebanyakan Muslim. Ah, agaknya keyakinan Muslim tentang kesurupan ini terpengaruh oleh keyakinan Kristen!

Kalau menurut Qur’an sendiri maupun Sains, sudah saya ceritakan sebelumnya, kesurupan itu hanyalah gangguan jiwa. Tidak lebih dari itu. Tidak ada kaitannya dengan Jin gaib metafisik. Atau pun roh-roh jahat seperti dilukiskan oleh Lukas pasal 8 ayat 27 sampai 33 di atas.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Selasa, 13 Agustus 2019

MIMPI DIGODA KUNTILANAK


—Saiful Islam—

Seorang kawan bercerita, “Assalamualaikum mas Islam tadi malam saya itu pas tidur ngelindur antara sadar setengah sadar, saya mimpi lihat kuntilanak, kayak mau diajak tapi saya berontak, saya baca alfatihah, pas tadi pagi saya tanya suami, pah kayaknya aku td malam ngelindur ya, jawabnya iya, mau tak bangunin ternyata baca alfatihah sampai habis , ya Uda tak diemin. Kenapa ya mas?”

‘Alaikum salam. Terimakasih pertanyaannya.

Mimpi itu, pengalaman alam bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur. Terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (Rapid Eye Movement/REM). Kriteria tidur REM antara lain gerakan mata yang cepat, otot melemas, dan gelombang EEG (rekaman elektrik di kulit otak) yang cepat dan bertegangan rendah.

Selama fase REM pada tidur, itu aktivitas neuron pada otak mirip dengan aktivitasnya saat terjaga. Ya, orangnya memangnya tidur. Tapi otaknya tetap bekerja. Tidur berarti otak kirinya (otak rasionalitasnya atau alam sadarnya) itu off. Tapi otak kanannya (otak emosi atau alam bawah sadarnya) itu on. Itulah sleep mode. Ini gambaran gampangnya.

Siklus tidur sehat itu, harus melewati empat tahap. Dimulai dari tidur ringan (M1), tidur sedang (M2), tidur dalam (M3), dan tidur nyenyak atau REM.

Kebanyakan mimpi, itu terjadi pada tahap R ini. Frekuensi gelombang otaknya berada di kisaran Theta – Delta (sekitar 8 Hz sampai 3 Hz). Meski begitu, mimpi juga bisa terjadi ketika tidur belum benar-benar nyenyak. Rasanya beda. Biasanya mimpinya cenderung lebih sederhana.

Otak tetap beraktivitas meskipun seseorang tidur. Otak sedang dalam mode tidur. Saat memasuki tidur yang semakin nyenyak, otak akan mematikan gerakan otot. Semuanya akan lumpuh untuk sementara waktu. Kecuali mata.

Sel-sel saraf pangkal otak akan menembak tak menentu. Menurut para ahli, mimpi itu terjadi saat bagian pemikiran dari otak mencoba memahami sinyal-sinyal itu.

Ketika mimpi ini, bagian korteks depan otak (otak sadar atau otak kecerdasan), sedang dalam keadaan off. Tidak ada logika, penalaran, atau penilaian. Aturan normal ruang dan waktu tidak berlaku.

Dengan kata lain, saat orang tidur, itu bagian otak yang bertanggung jawab pada pikiran linear dan logika menjadi tidak aktif. Sementara itu, area yang mengontrol emosi malah lebih aktif. On. Apa yang seseorang pikirkan dan rasakan sepanjang hari, itu ternyata terus diproses oleh area lain otak. Sehingga dia melihat gambar, simbol, emosi, dan metafora lewat mimpi itu.

Bagian otak yang terlibat ketika bermimpi, itu hippocampus (tempat memori dan kenangan) dan amygdala (pemain kunci dalam emosi). Inilah alasannya orang yang bermimpi itu bisa melibatkan peristiwa aktual. Meski acak. Dan bisa membuat si pemimpi benar-benar merasa takut atau bahagia. Isi mimpi sangat terkait dengan memori jangka pendek dan jangka panjang.

Pada saat mimpi itu, korteks visual otak akan bekerja. Yaitu menafsirkan gambar. Sehingga menjadi hidup. Inilah kenapa orang yang bermimpi itu bisa melihat semua tindakannya.

Kalau mimpinya biasa-biasa saja, orang cenderung akan melupakannya. Lupa. Tapi sebaliknya. Jika mimpi itu memberi kesan yang sangat mendalam, orang akan tetap mengingatnya setelah terjaga. Ini dipicu oleh intensitas emosional yang bergantung pada kesan yang bersangkutan pada mimpinya.

Ingat dan tidaknya seseorang pada mimpinya, itu juga tergantung waktu terjaganya. Jika bangun tepat di tahap REM, biasanya orang akan mudah mengingat mimpinya. Tapi sebaliknya. Jika bangunnya itu baru tidur tahap M1, orang akan kesulitan mengingat mimpinya.

Kaitan aktivitas nyata dengan mimpi, itu begini. Memikirkan sesuatu yang memiliki dampat emosional yang lebih tinggi, akan memperbesar kemungkinan untuk masuk ke dalam mimpi dibanding hal-hal yang membosankan. Kata kuncinya adalah emosional.

Pernah ada penelitian. Diterapkan pada 331 orang. Ditemukan bahwa banyak mimpi buruk, itu ternyata diakibatkan oleh rasa kegagalan, ketakutan, kebingungan, kesedihan, dan rasa bersalah. Pria cenderung memiliki mimpi buruk seputar serangan fisik atau kekerasan. Sedangkan mimpi buruk perempuan biasanya tentang konflik dalam hubungan.

Sebaliknya, orang yang kesehariannya memiliki pengalaman selamat, sukses, dan bahagia, itu biasanya mimpinya indah. Seperti terbang melayang, mendapat keberuntungan, dan lain-lain.

Pengalaman visual, itu tidak harus kejadian-kejadian nyata. Bisa juga dunia maya. Otak kanan manusia memang tidak bisa membedakan mana yang nyata, dan mana yang maya. Dengan kata lain, imajinasi-imajinasi hasil dari kreasi otak, itu bisa masuk dalam mimpi. Baik itu imajinasi dari luar, maupun imajinasi dari dalam otak orang itu sendiri. Dalam kasus ini adalah imajinasi kuntilanak.

Ya. Sejatinya kuntilanak yang muncul dalam mimpi itu, adalah imajinasi belaka. Gambaran kuntilanak yang seram, dan konsep bahwa kuntilanak akan lari jika dibacakan Al-Fatihah, itu sudah ada duluan dalam otak kawan satu ini. Bisa jadi, dia mendapatkannya dari film, membaca buku fiksi, dan lain semisalnya. Sehingga gambaran-gambaran itu, bisa muncul dalam mimpinya. Baik saat R1, R2, R3, maupun ketika REM.

Bukti sederhana bahwa kuntilanak itu hanya imajinasi belaka, nama kuntilanak itu hanya dikenal di Indonesia. Di Jawa, Madura, dan seterusnya. Orang-orang Asia yang lain, Amerika, Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan Australia, insya Allah tidak pernah dan tidak akan pernah bermimpi digoda kuntilanak. Atau tuyul, pocong, genderuwo, dan kawan-kawannya. Mereka hanya akan bermimpi hantu versi mereka sendiri. Misalnya dikejar vampire dan drakula. Hehehe.

Di Qur’an memang tidak ada hantu-hantu seperti itu. Setan dan Iblis menurut gambaran Qur’an itu memang menggoda. Lebih tepatnya mempengaruhi. Tapi menggodanya berupa bisikan. Berupa informasi, inspirasi, dan motivasi jahat. Supaya manusia tersesat. Ia memang menyerang pikiran manusia. Supaya orang berbuat jahat. Agar zalim pada dirinya sendiri, lingkungan, dan orang lain. Agar membangkang kepada Allah. Ujung-ujungnya, manusia sendiri itulah yang rugi. Yang celaka. Yang menderita dunia akhirat.

QS. Al-A’raf[7]: 16 – 17
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
16. Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar AKAN (MENGHALANG-HALANGI) MEREKA DARI JALAN ENGKAU YANG LURUS.

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan ENGKAU TIDAK AKAN MENDAPATI KEBANYAKAN MEREKA BERSYUKUR (TAAT).

“Saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.” Maksudnya adalah Iblis itu akan menyesatkan manusia dengan segala cara. Bukan Iblis menjelma jadi hantu dan lantas menampakkan diri untuk menakut-nakuti manusia, seperti film-film horor itu.

QS. Shad[38]: 82 - 83
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
82. Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan MENYESATKAN mereka semuanya.
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
83. KECUALI hamba-hamba-Mu yang mukhlash di antara mereka.

QS. Al-Hijr[15]: 39
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka MEMANDANG BAIK (PERBUATAN MAKSIAT) di muka bumi. Dan pasti aku akan MENYESATKAN mereka semuanya.

QS. Al-Isra’[17]: 64
وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ ۚ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا
“Dan PERDAYAKANLAH siapa yang kamu sanggupi di antara mereka DENGAN SUARAMU (AJAKANMU). Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki. Dan BERSEKUTULAH dengan mereka pada HARTA dan ANAK-ANAK. Dan beri JANJILAH mereka.” Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.

QS. Yusuf[12]: 100
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku. Inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaKu, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, SETELAH SETAN MERUSAKKAN (HUBUNGAN) ANTARAKU DAN SAUDARA-SAUDARAKU. Sesungguhnya Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

QS. Al-Isra’[17]: 53
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu MENIMBULKAN PERSELISIHAN di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

QS. Ali Imran[3]: 155
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka DIGELINCIRKAN oleh setan, DISEBABKAN SEBAGIAN KESALAHAN YANG TELAH MEREKA PERBUAT (DI MASA LAMPAU). Dan sesungguhnya Allah telah memberi maaaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

QS. Al-Baqarah[2]: 267 -268
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
267. Hai orang-orang yang beriman. NAFKAHKANLAH (DI JALAN ALLAH) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya. Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
268. Setan MENJANJIKAN (MENAKUT-NAKUTI) KAMU DENGAN KEMISKINAN dan MENYURUH KAMU BERBUAT KEJAHATAN (KIKIR); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, Insya Allah.

Walloohu a’lam bishshowab. Salam

Senin, 12 Agustus 2019

JIN ISLAM VS HINDU-BUDDHA


—Saiful Islam—

“Rumahku, itu dekat Bali. Pelabuhan Ketapang, itu dulu tempat mainanku waktu remaja. Menjelang maghrib, Makku sering bilang: Ayu masuk. Nanti ada Samar Wulu…”

Dalam tradisi Veda (kitab sucinya Hindu), ada istilah Sura dan Asura. Sura dipercaya sebagai golongan makhluk suci gaib metafisik yang sifat baiknya lebih dominan. Sura ini adalah para dewa. Yaitu prajapati, astavasu, aditya, gandarwa (artis kahyangan), para rsi surga, para pitra (roh leluhur), dan vidyadara-vidyadari.

Adapun Asura (disebut juga Paisaca-Paisaci) juga dipercaya sebagai golongan makhluk gaib metafisika yang sifat jahatnya lebih dominan. Sura dan Asura, dua-duanya diyakini memuja Mahadewa (dewanya dewa). Yakni Tuhan. Tapi saat Asura memperoleh karunia dari Mahadewa itu, mereka menyalahgunakannya. Yaitu malah ingin menguasai alam surga. Atau alam para dewa. Bahkan sampai membangkang pada Tuhan. Golongan kedua ini, kerap namanya berakhiran sura: Durgasura, Mahaesasura, Triparasura, Tarakasura, dan lain-lain.

Jadi gampangnya, Sura itu golongan ‘makhluk halus’ metafisika yang baik. Sedangkan Asura adalah sebaliknya. Golongan makhluk gaib metafisik yang tidak baik. Atau jahat. Tambahan ‘a’ seringkali kita temukan berarti tidak. Misalnya dalam Bahasa Indonesia kata moral menjadi amoral. Susila menjadi asusila.

Baik Sura maupun Asura diyakini awalnya memuja Mahadewa. Mahadewa ini merupakan salah satu dari tiga nama Tuhan dalam agama Hindu (Trimurti: Shiwa, Brahma, dan Wisnu). Mahadewa berarti Tuhan Yang Maha Besar. Nama lain Mahadewa adalah Shiwa. Di bumi, Shiwa ini dipercaya bersemayam di Kailasha. Yaitu sebuah tempat suci di puncak gunung Himalaya. Puncak Himalaya itu diyakini sebagai perbatasan antara alam nyata (fisik) dengan surga.

Himalaya (tempat kediaman salju) merupakan sebuah barisan pegunungan di Asia. Memisahkan anak benua India dari dataran tinggi Tibet. Himalaya adalah lokasi gunung-gunung tertinggi di dunia. Seperti Gunung Everest, Kangchenjunga, dan seterusnya. Memanjang sampai lima negara. Yaitu Pakistan, India, Tiongkok, Bhutan, dan Nepal. Himalaya merupakan sumber dua sistem sungai besar dunia. Yaitu Sungai Indus dan Sungai Ganga.

Ingat ya. Ini konteksnya keyakinan Hindu. Sura dan Asura adalah ciptaan Tuhan. Keduanya memuja Tuhan. Interaksi keduanya adalah saling bermusuhan. Satu protagonis dan satunya lagi, antagonis. Sura dan Asura menjadikan manusia sebagai tempat reinkarnasi. Atau media penjelmaan. Sehingga permusuhan Sura dan Asura itu lantas juga terjadi antar manusia.

Tradisi Bali yang mayoritas Hindu, menyebut golongan Asura itu dengan beberapa nama. Seperti Samar Agung, Wong Samar, Sang Wengi, Pekak Wengi (kakek malam) atau Sang Wengi (makhluk gaib metafisk penguasa malam), dan lain-lain. Diyakini bahwa makhluk gaib metafisik ini aktivitasnya saat malam. Maghrib adalah saat keluar rumahnya. Dan pagi merupakan waktu pulangnya. Sedangkan manusia di siang hari. Karenanya, manusia dianggap tidak baik bekerja di malam hari.

Ada juga istilah Kala atau Bhuta Kala. Ini diyakini sebagai makhluk gaib metafisik yang benar-benar sakti dengan kekuatan negatif. Nama-namanya misalnya Kala Dengen, Kala Mertyu, dan seterusnya. Meski negatif begitu, juga dipercaya sebagai bagian dari pasukan Sura.

‘Kaum’ Kala atau Bhuta Kala ini dipercaya sering mengganggu kegiatan keagamaan. Makanya setiap orang Hindu melaksanakan sebuah ritual, selalu membuat banten caru untuk Bhuta Kala (ritual panulak atau penjinak Kala). Atau istilahnya nyomia Butha (menetralisir kekuatan negatif dari Kala atau Butha). Bahkan setiap hari diwajibkan membuat persembangan untuk golongan Bhuta Kala itu. Katanya, bukan untuk menyembah. Tapi supaya mereka tidak mengganggu.

Bhuta Kala ini masih punya pimpinan lagi. Namanya Sanghyang Indra Belaka. Atau istilah yang lain Mahakala. Inilah yang diyakini sebagai rajanya Kala. Semua Bhuta Kala tunduk padanya.

Untuk mempermudah memberi persembahan kepada para Asura itu, dibuatlah Palinggih. Yaitu semacam tempat suci. Konsep agama Hindu dengan makhluk gaib metafisik itu adalah persahabatan. Catat ini: jadi, konsep bahwa orang bisa bersahabat dengan makhluk gaib metafisik ini adalah konsep Hindu. Jelas sekali. Meskipun persahabatan yang dimaksud adalah bukan bersekutu. Tapi menghormati keberadaannya.

Begitu juga konsep Jin ala Kejawen. Yaitu persahabatan. Berdamai. Bukan saling bermusuhan. Mirip keyakinan lokal Bali pada umumnya. Menurut saya, agaknya Budaya Jawa ini juga terpengaruh oleh keyakinan Hindu yang sudah dulu ada itu.

Rumah Sang Wengi, dipercaya ada di pohon yang sudah tua. Atau rerumputan yang sudah berusia puluhan tahun. Juga tinggal di batu, bukit kecil, dan paling banyak diyakini tinggal di goa yang ada di jurang.

Tempat keramat, juga merupakan keyakinan Hindu. Konsep Hindu. Semakin curam, seperti jurang, diyakini makhluk gaib metafisik yang tinggal berderajat rendah. Sebaliknya semakin tinggi tempat, tinggi pula derajat makhluk itu. Misalnya Dewa Hyang (leluhur), Bhatara Kawitan, dan Dewa. Itulah alasan, kenapa banyak ditemukan pura pemujaan untuk leluhur berada di bukit-bukit.

OK. Jadi begini. Kalau kalian meyakini itu semua, silakan. Anda beragama Hindu, juga silakan. Tapi tolong. Ini yang membuat saya keberatan. Sangat malah. Jangan campuradukkan keyakinan Hindu itu dengan keyakinan Islam. Sebab ada yang mencampuradukkan seperti yang akan saya ceritakan di bawah ini. Akan saya klarifikasi. Tentu keyakinan campur aduk ini sangat berbahaya bagi kaum Muslim awam. Apalagi sampai dibawa mati. Menurut kaca mata Akidah. Tauhid.

Ada yang menulis begini, “Bila kita cermati tentang Iblis dan Jin dari ajaran Islam, sepertinya yang dimaksud Iblis dalam ajaran Hindu adalah golongan Asura seperti raksasa, dlsb.” Selanjutnya disebutkan, “Dalam kepercayaan Islam, ada juga istilah Jin Islam (Jin yang beriman) dan Jin Kafir (Jin jahat). Ada juga Jin Qarin, Jin pendamping manusia. Bahkan Nabi Muhammad memiliki Jin pendamping. Akan tetapi Jin pendamping tersebut tunduk pada Nabi. Bahkan konon Nabi Sulaiman dibantu Jin dalam perang.” Ini menurut saya, salah total. Fatal malah!

Pertama, menyamakan konsep Sura—Asura dengan Jin konsep Islam. Tentu ini menyesatkan! Sura—Asura versi Hindu itu adalah konsep makhluk gaib metafisik. Sedangkan Jin dalam Islam (menurut hasil rekonstruksi saya), itu fisik semua. Yaitu energi atau gelombang. Atau para pembesar. Atau orang asing. Tidak ada yang gaib metafisik. Jelas sekali sekarang, ketahuan. Bahwa konsep Jin metafisik yang diyakini oleh masyarakat Jawa-Madura-Sunda, atau Indonesia lah, itu ternyata terpengaruh oleh konsep Hindu. Jangan-jangan Islam kalian masih begitu? Kita harus bersihkan. Sebersih-bersihnya!

Pernyataan ini juga salah. “Dalam kepercayaan Islam, ada juga istilah Jin Islam (Jin yang beriman) dan Jin Kafir (Jin jahat).” Dengan maksud Jin Islam adalah Sura, dan Jin Kafir adalah Asura. Tentu ini sesat. Yang dimaksud QS. Jin[72] ayat 11, 14, dan ayat 15 itu orang asing. Yaitu orang Kristen non Arab. Jadi, orang. Bukan makhluk gaib metafisik yang harus diberi persembahan itu.

Ada juga Jin Qarin, Jin pendamping manusia.” Ini juga menyesatkan. Silakan cari dalam Al-Qur’an from cover to cover. Silakan ubek-ubek Qur’an itu. Pasti kalian tidak akan menemukan istilah Jin Qorin itu. Tidak ada. Dan tolong jangan mengada-ada. Kata Qoriin dalam QS. Al-Nisa[4] ayat 38, atau QS. Al-Zukhruf[43] ayat 36 dan 38 itu adalah Setan. Yaitu sifat yang membuat orang jauh dari rahmat Allah. Bukan Jin gaib metafisik. Sedangkan QS. Qof[50]: 16 sampai 29 itu adalah Malaikat. Bukan Jin!

“Bahkan Nabi Muhammad memiliki Jin pendamping. Akan tetapi Jin pendamping tersebut tunduk pada Nabi.” Tentu ini pernyataan ngawur. Tidak pernah ada pernyataan Allah dalam Qur’an yang menyebut bahwa Nabi Muhammad punya Jin gaib metafisik. Apalagi disamakan dengan konsep Sura-Asura. Saya tegaskan bahwa pernyataan ini menyesatkan! Nabi tidak pernah punya Jin gaib metafisik!!

Pernyataan yang tak kalah ngawurnya adalah ini, “Bahkan konon Nabi Sulaiman dibantu Jin dalam perang.” Mengaitkan konteks Sura-Asura dengan Jin Nabi Sulaiman, tentu saja salah total. Jin Nabi Sulaiman itu para pembesarnya. Kalau sekarang para menterinya. Atau para panglima perangnya. Bukan makhluk gaib metafisika Sura-Asura ala Hindu itu. Jadi sekali lagi, tolong jangan menyama-nyamakan atau mengait-ngaitkan konsep Hindu itu dengan konsep Islam.

Puncak kengawuran itu adalah pernyataan ini, “Kita sebagai masyarakat Indonesia sering mendengar istilah Jin, istilah yang berasal dari ajaran Islam. Katanya, Jin merupakan turunan dari Iblis. Dan kemudian mereka beranak pinak sebagaimana layaknya manusia. Mereka memiliki jenis kelamin dan tinggal di berbagai tempat. Seperti batu, kuburan, tempat kotor, pohon, dan lain sebagainya.” Kalau saya jawab, katanya siapa?! Jangan mengada-ada!! Tidak ada dalam Qur’an satu ayat pun yang menggambarkan Jin seperti itu. Tidak ada!!!

Adapun versi keyakinan Buddha, Asura merupakan golongan makhluk gaib metafisik non dewa. Tapi bukan hantu. Mereka menghuni salah satu alam kehidupan (antah berantah). Karena masih menjalani reinkarnasi akibat karma yang dilakukan pada kehidupan sebelumnya. Asura disebut sebagai makhluk gaib metafisik yang menghuni bagian bawah gunung Sumeru. Masih suka melekat pada kenikmatan duniawi. Iri hati dan berseteru dengan dewa.

PR Kawan-Kawan sekalian adalah ini. Coba bandingkan keyakinan Hindu dan Buddha ini dengan keyakinan Animisme-Dinamisme!

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Sabtu, 10 Agustus 2019

HADIS-HADIS HOAX


—Saiful Islam—

“Noise itu apa pun yang dengan sengaja mencoba membuyarkan fokus kita. Bagi Qur’an, Hadis-Hadis hoax inilah noise-nya…”

Saya akui. Memang iya. Kemarin saya menulis ini: “Begitulah. Ayat-ayat Qur’an itu memang bisa menyembuhkan. Yakni energi maknanya. Bukan yang lain. Maka sudah pasti sebuah penyelewengan. Penyalahgunaan, ketika ayat-ayat Qur’an, itu dipakai untuk jompa-jampi. Atau jimat. Atau mantra. Pelaris. Pelet. Mengusir Jin. Sowok. Dan lain semisalnya.”

Bukan hanya itu. Iya, saya juga menulis: “Khasiat Al Qur’an, itu ada di maknanya. Energi makna. Bukan yang lain…”

Termasuk penyelewengan. Ibarat orang memanah, itu tidak pas sasaran. Tampaknya saja, sama-sama membidik. Tapi yang satu membidik titik target yang memang seharusnya. Yang dikehendaki oleh panitia. Sedangkan yang satunya lagi membidik target yang melenceng dari yang ditetapkan panitia. Terjadi kesalahanpahaman perintah ‘membidik’ dari panitia itu. Apalagi ada suara-suara sumbang yang memang sengaja mengaburkan arahan yang sangat jelas dari panitia itu.

Memang tidak ada satu pun ayat Qur’an yang memerintahkan agar kaum Muslimin hanya sekadar membaca Al-Qur’an saja. Hanya sekadar membaca Al-Qur’an, tanpa dipahami isinya, kemudian ya sudah. Kemudian lantas berharap khasiat magis dari bacaan-bacaan Qur’an yang tidak dipahaminya itu. Ini menurut saya, sama saja menjadikan ayat-ayat Qur’an seperti mantra.

Padahal di awal-awal saja. Kalau kita bukan Al-Qur’an, Surat ke-2 (Al-Baqarah) ayat 2, gamblang sekali Allah menunjukkan fungsi firman-Nya itu.
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya. PETUNJUK bagi mereka yang bertaqwa.

Atau malah suibuk menjadikan ayat-ayat Qur’an sebagai wirid saja. Yakni dibaca berulang-ulang tanpa perlu memahami isinya. Atau cukup dihafal saja. Tiga puluh juz. Setalah hafal, tidak ada usaha untuk memahami isinya. Dan kemudian diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tentu ini, menurut saya, salah kaprah. Terjadi penyelewengan. Salah bidikan. Salah sasaran. Ayat-ayat Qur’an itu, bukan hanya untuk dihafal. Tidak hanya untuk diwirid.

Ternyata memang. Salah bidikan itu juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Faktor luar. Istilahnya noise. Yaitu apapun yang berusaha membuat kabur fokus kita. Dalam konteks membidik isi ayat-ayat Qur’an itu sendiri, ternyata noise-nya adalah Hadis-Hadis dhoif (lemah) bahkan palsu (maudhu’). Alias Hadis-Hadis hoax! Contohnya adalah Hadis-Hadis khasiat Surat Yasin, Surat Waqi’ah, Surat Al-Mulk, dan lain-lain. Misalnya berikut ini:

“Siapa yang membaca Surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari, diampuni dosanya. Dan siapa yang membaca Surat al-Dukhan pada malam Jum’at, maka ketika ia bangun pagi hari, diampuni dosanya.” Ini Hadis palsu. Ya, hadis hoax!

Lagi. Hadis, “Siapa yang terus menerus membaca Surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati, maka ia mati syahid.” Hadis ini juga palsu.

Hadis ini lagi, “Siapa yang membaca Surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan dikabulkan semua hajatnya.” Ini Hadis lemah. Alias dhoif.

Ini juga, “Siapa yang membaca Surat Yasin dua kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an (khatam) dua kali.” Juga Hadis palsu. Hoax. Dan beberapa lagi Hadis-Hadis yang seperti ini, kalau tidak dhoif, ya palsu.

Selain terkait Surat Yasin di atas, juga Hadis yang terkait Surat Al-Waqi’ah ini: “Barangsiapa yang membaca Surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan jatuh miskin selamanya.” Ini Hadis dhoif. Dan ini, “Barangsiapa membaca Surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka ia tidak akan jatuh miskin selamanya. Dan barangsiapa setiap malam membaca Surat Al-Qiyamah, maka dia akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat sedangkan wajahnya bersinar layaknya rembulan di malam purnama.” Palsu alias hoax.

Begitu juga Hadis dhoif yang terkait dengan Surat Al-Mulk ini: “Sesungguhnya ada suatu Surat dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafaat bagi yang membacanya, sampai dia diampuni. Yaitu tabaarokalladziy biyadihil mulku… (Surat Al-Mulk).” Iya, ini pun dhoif. Lemah.

Terkait Hadis palsu, semua sepakat bahwa haram menjadikannya sebagai dalil. Tapi yang terkait Hadis lemah (dhoif), memang masih ada yang beralasan bahwa Hadis lemah itu bisa dipakai untuk keutamaan-keutamaan amal. Fadhoilul a’mal. Maklum. Memang ada yang gampangan meloloskan Hadis (tasahul). Sebaliknya, ada juga yang ketat (tasyaddud) dalam meloloskan Hadis. Imam Bukhari, terkenal yang paling ketat meloloskan Hadis. Dari 600.000 (ya enam ratus ribu) Hadis, yang beliau loloskan hanya 7000-an Hadis saja. Nah, saya pro pada yang ketat meloloskan Hadis. Supaya tidak gampang terperosok golongan orang yang berdusta atas nama Nabi.

Terkait berusaha memahami isi Qur’an, tak sedikit kawan yang alasannya begini, “Takut salah, Mas.”

Loh, padahal Allah sudah sungguh telah mudahkan Qur’an ini untuk pelajaran. Wa laqod yassarnal Qur’aana lidzdzikri fahal min muddakir?! (QS.Al-Qomar:17). Terus, kalau salah kenapa?”

“Ya neraka, Mas!”

“Neraka itu, kalau orang tak pernah belajar ilmu-ilmu apa pun. Terutama ilmu-ilmu keislaman. Kemudian lantas menafsiri Qur’an. Lah, Ente. Alfiyah Ibnu Malik, khatam. Qur’an sudah hafal 30 juz. Tidak pas kalau menjadikan Hadis, “Siapa yang manafsiri Qur’an berdasar akalnya sendiri, bersiaplah tempatnya di neraka,” sebagai argument. Pasnya itu, ini: Siapa yang memahami Qur’an dengan jujur dan sungguh-sungguh, jika benar dapat dua pahala. Dan jika salah, dapat satu pahala. Jadi salah pun, masih dianggap benar. Allah itu Maha Bijak. Yang jelas-jelas salah itu, mencuekin Qur’an (QS.25:30).”

Jadi memang. Membaca Qur’an, itu tidak cukup hanya sekadar membaca. Janganlah kita membaca Qur’an ini seperti anak kecil terus. Umur sudah kepala tiga, kepala empat, bahkan kepala lima. Tapi membaca Qur’annya masih saja seperti anak-anak. Harus ada peningkatan. Tujuan dari membaca itu, tidak lain dan tidak bukan adalah pengetahuan itu sendiri. Ya pengetahuan. Ilmu. Dari pengetahuan itu menghasilkan pemahaman. Dari pemahaman itu membuahkan sikap etis dan kinerja tinggi nyata. Diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut ini Allah menjelaskan tujuan dari membaca itu! Yaitu supaya kita mendapat pengetahuan. Allah mengajar kita melalui baca tulis (literasi), itu ya supaya kita menjadi mengetahui sesuatu. Awalnya tidak tahu sesuatu, kemudian dengan literasi menjadi tahu. Kemudian paham. Lantas dipraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini.

QS. Al-‘Alaq[96]: 1 – 5
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
1.      BACALAH dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
2.      Dia telah menciptakan manusia dari al-‘alaq.

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
3.      Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
4.      Yang MENGAJAR (manusia) dengan PERANTARA BACA TULIS (LITERASI).

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
5. Dia MENGAJAR kepada manusia apa yang TIDAK DIKETAHUINYA.

Jadi sudah gamblang sekali. Bahwa perintah membaca itu supaya mendapat ilmu pengetahuan. Dimengerti. Dipahami. Membaca bukan untuk wirid. Bukan untuk mantra seperti yang digambarkan Hadis-Hadis hoax di atas itu.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...