Jumat, 23 Agustus 2019

DIMENSI 4 ALAMNYA JIN


—Saiful Islam—

“Menurut saya, alam dimensi 4 adalah alamnya Jin, itu adalah tafsir yang kebablasan…”

Mungkin kita sering mendengar istilah alam Jin. Atau alam lain. Atau alam dimensi lain. Alam dimensi lebih tinggi. Yang maksudnya adalah sebuah alam yang khusus dihuni oleh bangsa Jin gaib matafisika. Apakah benar ada alam dimensi lebih tinggi dari alam yang kita huni saat ini? Sehingga di situlah bangsa Jin itu berada?

Kalau Jin yang dimaksud adalah makhluk gaib metafisika, jawabannya adalah tidak ada. Inilah kesimpulan yang bisa kita putuskan berdasar penulusuran dari beberapa tulisan terdahulu. Adapun sebuah alam berdimensi lebih tinggi, memang ilmuwan memungkinkan keberadaannya. Yaitu alam dimensi 4, dimensi 5, dimensi 6, dan seterusnya.

Dalilnya, yang paling mutakhir, adalah ditemukannya cold spot pada tahun 2015 oleh para ahli astrofisika dari Universitas Durham. Atau bintik-bintik dingin di sisi luar alam semesta kita ini. Cold spot adalah tanda bahwa alam semesta ini telah bertabrakan dengan alam semesta yang lain.

Luas cold spot itu 1,8 miliar tahun cahaya. Menurut para ilmuwan, itu adalah goresan sisa tabrakan beruntun antara alam semesta kita dengan alam semesta lainnya. Tabrakan itu kuat sekali. Sehingga energinya pun sangat besar dan menciptakan bintik-bintik dingin dengan sunu minus 400 derajat celcius.

Cold spot bisa jadi sinyal yang tersisa dari tabrakan antara alam semesta kita dengan salah satu dari triliunan alam semesta lainnya. Jika analisis selanjutnya berhasil menemukan jawaban yang tepat, maka cold spot bisa menjadi bukti pertama dari eksistensi (keberadaan) multi (banyak) alam semesta yang mirip dengan apa yang kita miliki saat ini.” Begitu kata Tom Shanks—seorang profesor dari pusat Astronomi Unversitas Durham.

Meskipun, alam berdimensi lebih tinggi itu, sampai saat ini belum terbukti. Ya, belum terbukti. Alias baru hipotesis. Dugaan sementara. Dan tidak ada satu pun ilmuwan itu yang mengatakan bahwa alam berdimensi 4, 5, dan seterusnya itu adalah alamnya Jin gaib metafisik. Jadi, ‘tempat Jin-nya’ saja, itu sampai saat ini belum terbukti! Masih debatable!! Apalagi Jin metafisikanya!!!

Atau paling tidak, alam semesta lain itu dimungkinkan ada baru berdasar analisis dari teori. Belum sebuah fakta yang terbukti memang ada. Dunia pararel itu muncul berdasarkan pandangan umum para ilmuwan yang menyimpulkan begini. Bahwa ruang waktu itu datar dan meluas. Tidak bundar atau lonjong. Ketika ruang waktu datar, maka apa yang kita lihat selama ini di alam semesta merupakan bagian terluar dari dimensi alam yang lebih besar. Atau yang dikenal sebagai sembilan dimensi.

Memang salah satu guru saya yang saya kagumi, itu mengatakan bahwa Jin itu ada. Dan bangsa Jin ini menghuni di alam dimensi 4. Dia mengibaratkan begini. Kalau alam (bumi) yang kita huni ini kita anggap sebagai alam berdimensi 2, maka alam yang berdimensi 4, kita misalkan dulu berdimensi 3.

Dimensi 2 tidak bisa masuk ke dimensi 3. Namun sebaliknya. Dimensi tiga, itu masuk ke dimensi 2. Meskipun tidak semua alam yang berdimensi tiga itu bisa tampak di dimensi 2. Ambil contoh bayangan orang di tembok. Orangnya adalah berdimensi tiga. Yang mempunyai luas dan volume. Sedangkan bayangannya, hanya memiliki besaran luas.

Orang yang berdimensi tiga itu bisa masuk ke bayangannya yang berdimensi dua. Caranya mudah. Orang tersebut tinggal menempelkan telapak tangannya saja ke tembok. Maka permukaan tangannya akan masuk ke dimensi dua. Seandainya bayangan itu bisa ngomong, dia akan bilang begini: “Ooo… jadi begitu tangan.”

Tapi sebaliknya. Bayangan yang berdimensi dua itu, tidak mungkin masuk ke dimensi tiga. Tidak mungkin. Lantas mengutip 7:27 bahwa Jin itu bisa melihat manusia. Tapi sebaliknya. Manusia tidak akan bisa melihat Jin. Kecuali kalau Jin menampakkan sebagian dirinya, ketika ia masuk ke alam kita yang berdimensi tiga. Maka, manusia menjadi bisa melihat Jin.

Menurut saya, bahkan melihat Jin versi dimensi 4 seperti itu, tidak mungkin. Mustahil. Kalau benar Jin masuk ke dimensi tiga, itu berarti sudah menabrak firman Allah 7:27 itu sendiri yang jelas-jelas menegaskan: “Mereka bisa melihat kalian. Sedangkan kalian tidak bisa melihat mereka.”

Jadi begitulah permisalannya. Selalu untuk menggambarkan alam berdimensi empat itu, harus menggunakan permisalan. Supaya secara teori, tampaknya masuk akal. Tapi sekali lagi. Belum terbukti secara nyata. Makanya, bahasan dimensi 4, dimensi 5, dan seterusnya itu, dikategorikan dalam science fiction. Fiksi tetapi saintifik. Imajinasi yang didasarkan pada prediksi-prediksi ilmiah.

Para ahli fisika memang pernah mengemukakan beberapa model alam semesta ini. Misalnya pertama adalah Bubble Theory atau Black Hole Theory. Menurut teori ini, alam semesta ini sebenarnya MUNGKIN saja adalah bagian dari semesta yang lebih besar. Kita tidak bisa melihat atau mengobservasinya, hanya karena bagian-bagian lain dari semesta itu jauh sekali dari semesta kita. Atau mungkin juga semesta-semesta lain itu berada di black hole yang membuat tak seorang pun bisa menembusnya.

Teori kedua adalah string. Atau String Theory. Bunyinya begini: Jika alam semesta kita memiliki tiga dimensi, maka MUNGKIN saja semesta ini adalah bagian dari semesta lain yang lebih besar yang mempunyai 9 dimensi. Diibaratkan koran yang memiliki banyak halaman, semesta kita ini adalah salah satu dari halaman-halaman koran tersebut.

Dan yang ketiga adalah Parallel Universe Theory. Alias teori dunia pararel. Mudahnya, teori ini menyatakan bahwa ada banyak dunia yang bekerja secara pararel. Yakni ada alam lain yang bekerja bersamaan dengan alam kita ini.

Yang perlu diingat, adalah ini. Tidak satu pun dari teori-teori di atas yang sudah terbukti. Meskipun, itu semua memang bukan imajinasi atau hayalan belaka. Ya, bukan hayalan belaka. Tetapi hayalan berdasar teori sebelumnya. “Maka, masuk akalnya semesta ini harus lebih dari tiga dimensi…,” begitu kira-kira kesimpulan logisnya. Kemudian lantas dikembangkanlah imajinasi di atas.

Ingat. Saya memang pro Sains untuk menafsirkan ayat-ayat Qur’an. Sangat malah. SMA saya ambil jurusan IPA. Kuliah saya jurusan Tafsir Qur’an. Ada seorang guru yang menulis tafsir Qur’an dengan pendekatan saintifik berseri. Lebih dari 40-an buku. Saya beli semua. Saya hatamkan semua. Tapi kalau dikatakan bahwa Jin yang gaib metafisika itu menghuni alam dimensi 4, menurut saya itu tafsir yang teterlaluan. Melampaui batas. Kebablasan. Hehe..

Mengkritisi penafsiran guru seperti ini, sungguh bukan saya benci pada guru saya ini. Justru sebaliknya. Saya sangat cinta. Saya memang ngefans kepada orang-orang seperti beliau. Saya sangat berterimakasih beliau telah menulis buku. Yang mencerdaskan murid-muridnya. Yang memancing murid-muridnya untuk berpikir. Semoga beliau terus menulis buku. Dan semoga semua isinya bisa melintas di otak dan hati kita. Di akal anak-cucu keturunan kita. Aamiin.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Senin, 19 Agustus 2019

JINNYA SALIB


—Saiful Islam—

“Bagi saya, yang Muslim, salib itu hanya sekadar kayu. Tidak kurang, tidak lebih!”

Benarkah salib itu ada Setannya? Atau ada Jin kafirnya? Terus apakah benar juga bahwa palang merah yang biasa ditempel di ambulan itu juga ada Setannya? Ada Jin kafirnya?

Jawabannya tidak benar. Salah. Saya sebagai orang Islam, tidak yakin bahwa salib itu ada Setannya. Atau ada Jin kafirnya sebagai sesuatu yang gaib metafisik. Alasan saya simpel: Al Qur’an, sebagai kitab suci yang saya imani, tidak pernah memberi informasi kepada kita bahwa salib itu ada Setannya. Atau ada Jin kafirnya. Ya, tidak ada dalam Qur’an! Kalau Qur’an tidak memberi info tentang sesuatu yang gaib metafisik, kita tidak boleh mengarang-ngarang sendiri tentang hal gaib itu.

Begitu juga tentang simbol palang merah yang biasa ditempel di ambulan. Tidak benar kalau lambang itu mengandung sesuatu yang gaib metafisik. Misalnya mengatakan bahwa di dalam palang merah itu ada Setannya atau Jin kafirnya yang mengajak orang Islam untuk murtad atau kafir menjelang wafatnya. Sama sekali tidak benar itu. Salah.

Bagi saya, baik salib maupun palang merah, itu hanya sekadar simbol. Kalau terbuat dari kayu, ya sekadar kayu. Kayu yang dipalang. Kalau diberi patung, ya cuma begitu saja. Tidak kurang tidak lebih. Kayu terus diberi patung. Begitu saja selesai. Tidak ada itu Setannya. Atau Jin kafirnya. Menurut saya, siapa pun yang meyakini bahwa salib atau palang merah itu ada Jin kafirnya atau ada Setannya, itu terpengaruh keyakinan dinamisme.

Ciri-ciri warisan animisme-dinamisme itu menurut saya, misalnya. Ada cincin akik, dikira ada jinnya. Ada setannya. Ada keris, dikira ada jinnya. Ada setannya. Ada pohon besar atau batu besar, dikira ada jinnya. Ada setannya. Ada ‘penunggunya’. Ada rumah kosong yang kumuh, langsung dikira ada jinnya. Ada setannya. Ada perempuan cantik, dikira ada peletnya. Ada jinnya. Ada laki-laki ganteng (kayak yang nulis, hehe) langsung dikira ada jinnya. Ada peletnya. Ada guna-gunanya. Dan seterusnya.

Bahkan, saya rasa, orang Kristen sendiri tidak meyakini bahwa dalam salib itu ada Setannya atau ada Jin kafirnya. Orang Kristen sendiri pun tidak pernah meyakini itu. Jadi kalau kita umat Islam, tapi latah meyakini bahwa salib itu ada Setannya atau pun ada Jin kafirnya, agaknya memang itu keyakinan nenek moyang yang terus kita warisi tanpa sadar. Budaya animisme-dinamisme yang kita yakini tanpa kritik apa pun sampai sekarang.

Bagi orang Kristen, yang saya tahu, salib itu adalah simbol yang melambangkan kasih Tuhan. Atau salib adalah pertemuan antara kasih Allah dan keadailan Allah. Karena bagi orang Kristen, Yesus itu mati di palang salib. Dan kematian Yesus di palang salib itu diyakini bahwa kematian itu untuk menebus dosa dunia. Lebih tepatnya menebus dosa semua orang yang beriman dan percaya kepada-Nya saja sehingga dijamin kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).

Jadi bagi orang Kristen sendiri, salib itu bukan Tuhan. Atau dituhankan. Atau disaktikan misalnya salib itu tempatnya Setan atau Jin kafir. Tidak ada. Orang Kristen sendiri tidak pernah meyakini bahwa salib itu Setan. Atau Jin kafir. Atau Tuhan. Atau rumahnya Setan. Atau rumahnya Jin kafir. Atau rumahnya Tuhan. Tidak ada. Bagi orang Kristen salib adalah simbol kasih Tuhan.

Bahkan. Berdasar penelitian, salib Mesir kuno itu menunjuk kepada simbol seksual. Pada saat itu salib identik dengan penyembahan kepada Dewa Matahari. Jadi, pada masa sebelum kekristenan, pernah ada salib Mesir kuno yang dihubungkan dengan penyembahan kepada Dewa Matahari.

Di Mesir purba, salib yang umumnya berbentuk T itu dijadikan lambang keagamaan. Para pakar menyebut salib ini dengan Tau. Dijumpai juga salib Tau yang di atasnya dipasang semacam gagang berupa lingkaran. Lingkaran ini melambangkan kekekalan. Ya. Salib yang di atasnya bergantung lingkarang tersebut adalah lambang hidup yang kekal. Salib ini biasa dipakai di leher pada pendeta Mesir kuno. Dijadikan kalung. Salib ini juga melambangkan hikmah atau kebijaksanaan rahasia. Terutama di sekitar wilayah Mediterania.

Jadi tidak ada yang mengartikan bahwa salib itu adalah Setan atau Jin kafir. Yang mengartikan ‘lambang setan’ atau ‘Jin kafir’ saja, itu tidak ada. Apalagi yang meyakini bahwa salib sendiri itu ada Setannya atau ada Jin kafirnya. Jelas sekali, keyakinan ini adalah warisan keyakinan aminisme-dinamisme. Atau terpengaruh tanpa disadari.

Sebagaimana diartikan oleh Dictionary of Musticism and the Occult (Kamus Drury), salib adalah suatu simbol pra-Kristen kuno yang ditafsirkan oleh beberapa pakar ilmu gaib sebagai menyatukan zakar lelaki (palang tegaknya) dengan vagina perempuan (palang melintang). Salib juga merupakan simbol empat arah mata angin. Serta senjata kuat untuk menentang kejahatan. Nah, inilah yang saya kritisi. Bagi saya, beragama Islam, salib itu hanya sekadar kayu. Tidak kurang, tidak lebih!

Apalagi simbol palang merah di ambulan itu. Tepatnya tahun 1863. Ada Konferensi Internasional I di Jenewa, Swiss. Dihadiri 16 negara. Disadari perlunya ada simbol yang sama untuk anggota kesatuan medis militer. Simbol itu harus berstatus netaral. Serta bisa menjadi perlindungan pada mereka di medan perang.

Konferensi Internasional bersepakat menggunakan simbol Palang Merah di atas dasar putih. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada Swiss. Simbol tersebut sebagai tanda pengenal untuk kesatuan medis militer dari setiap negara.

 Di tahun itu juga, Komite Internasional untuk Pertolongan Bagi Tentara yang Terluka diganti menjadi ICRC (International Committee of the Red Cross). Alias Komite Internasional Palang Merah. Jadi, palang merah ini tidak ada mitosnya. Tidak ada kleniknya. Tidak ada kaitannya dengan Setan atau Jin kafir gaib metafisik.

Lalu, ada yang mengait-ngaitkan antara salib dengan ka’bah atau hajar aswad. Sebagai sikap penghormatan, bisa jadi. Artinya orang Islam menghormati ka’bah atau hajar aswad. Bahkan di musim haji ini, saya kira banyak yang ingin mencium hajar aswad, batu hitam yang ada di sudut ka’bah itu. Orang Kristen juga menghormati salib. Tapi ingat! Itu penghormatan. Bukan penyembahan. Kami orang Islam, tidak menyembah batu berbentuk kubus itu.

Meskipun ka’bah itu namanya baitullah (rumah Allah), itu tidak berarti Allah berada di dalam ka’bah. Atau Allah ada di ka’bah. Bukan seperti itu. Ka’bah ya sekadar ka’bah. Hajar aswad ya sekadar hajar aswad. Jangankan ka’bah yang hanya sekian meter pangkat tiga. Apa saja, termasuk alam semesta pun, itu diliputi oleh Allah (baca misalnya QS.4:126). Laisa kamitslihi syay’. Imajinasi apa pun yang bisa dibayangkan oleh manusia, pastilah itu bukan Allah.

Bagi umat Islam, ka’bah hanyalah sebuah  kiblat (arah) shalat. Kenapa shalat harus menghadap ke kiblat? Ya karena Nabi Muhammad SAW yang mencontohkan itu. Titik. Kenapa orang Islam berebut mencium hajar aswad? Ya karena Nabi mencontohkan itu. Nabi itu the role model of moslems. Memang untuk ditiru. Jadi tidak ada mitosnya. Tidak ada kleniknya.

“Loh, kenapa ikut?” Pertanyaan ini seperti pertanyaan, “Kenapa shalat lima kali sehari. Kok tidak sekali saja?” Atau kenapa shalat subuh dua kali, sementara isya’ empat kali?” Ya jawabannya cuma ini: karena Nabi, sebagai uswatun hasanah, mencontohkan begitu. Sudah titik.

Begitu juga saya rasa, orang Kristen tidak ada yang menyembah salib. Namun, apakah orang Islam menghormati salib, ataukah orang Kristen menghormati ka’bah, saya rasa itu tergantung pilihan orangnya masing-masing. Kalau ada orang Kristen tidak menghormati ka’bah, ya wajar. Wong dia memang tidak beriman kepada Nabi Muhammad. Orang Islam tidak menghormati salib, ya biasa saja. Wong Muslim memang tidak mempercayai Nabi Isa mati disalib.

Meski tidak harus juga orang Kristen mencela apa yang dihormati oleh Muslim. Dan sebaliknya, tidak harus juga Muslim mencela apa yang dihormati oleh umat Kristiani. Bahkan sebaiknya keduanya harus saling menghormati keyakinan masing-masing. Apalagi kalau konteksnya adalah sebangsa setanah air. Indonesia. Kalau pun harus diskusi atau berdebat, sebaiknya tetap dengan cara yang baik dan santun. Mengkritisi argumentasinya. Tetap santun pada orangnya. Kritis yang santun. Mendebat argumentasinya, sambil tetap menghormati orangnya.

Dan. Tidak perlu juga terlalu terburu-buru menyesatkan orang. Atau mengatakan bahwa seseorang telah menista agama kita. Ah, jangan-jangan cepat menghakimi seseorang telah menista agama kita, atau kitab suci kita, itu hanya buah dari kebencian kita saja. Yang dibumbui oleh fanatisme kelompok dan kepentingan politik. Na’uudzu billaah.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah.

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam







Sabtu, 17 Agustus 2019

ROH NABI MAHALLUL QIYAM


—Saiful Islam—

“Saya tidak mengritisi budayanya. Yang sedang saya kritisi adalah keyakinannya. Akidahnya…”

Memang ada yang mengatakan bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW itu hadir ketika dibacakan shalawat saat mahallul qiyam. Ya, mahallul qiyam artinya saatnya berdiri ketika membaca yaa Nabiy salam ‘alaika yaa Rasul salam ‘alaika... Bahkan ada yang lebih jelas menyatakan bahwa, Nabi Muhammad benar-benar hadir dengan ruh dan jasadnya ketika dibacakan mahallul qiyam.

Di sini, saya memang sengaja tidak menggunakan istilah-istilah seperti ustadz (ah), habib (habaib), guru, gos, kiai, mbah, suhu, dan lain semisalnya. Supaya jika ada dialog, rembugan, atau musyawarah, kita lebih fokus kepada kekuatan argumentasinya. Sehingga kalau mau menyanggah, yang disanggah itu adalah argumentasinya. Bukan sang ustadz, bukan sang habib, bukan sang gos, sang kiai, guru, suhu, dan semisalnya itu. OK lanjut.

Di masyarakat kita lihat, memang sebagian umat Islam itu ada yang membaca shalawat bersama. Saya pun sering ikut. Di tengah-tengah kegiatan shalawatan itu, ada saat dimana sang pemimpinnya mengatakan, “mahallul qiyaam”. Saatnya berdiri. Kemudian semua hadirin berdiri. Dan lantas membaca, yaa Nabiy salaam ‘alaika yaa Rasul salaam ‘alaika. Ya Habiib salaam ‘alaika. Shoolaawaatullooh ‘alaika.

Nah, ternyata berdirinya para audiens tersebut ada yang meyakini bahwa itu adalah penghormatan. Penghormatan apa? Berdiri itu dianggap sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW yang sedang hadir. Karena yakin Nabi Muhammad SAW hadir, baik dengan jasad maupun ruhnya, maka para audiens tersebut termasuk sang pemimpinnya itu berdiri. Ya, berdiri karena yakin jasad dan ruh Nabi sedang hadir ketika dibacakan shalawat tersebut.

Perlu saya tegaskan di sini. Bahwa di sini saya tidak sedang mengritisi shalawatan sebagai tradisi atau budayanya. Bagi saya, budaya itu, secara umum, boleh-boleh saja. Halal. Termasuk hal mubah yang asalnya memang halal. Kecuali ada dalil yang mengharamkan. Yang saya kritisi adalah keyakinannya. Bahwa Nabi Muhammad SAW hadir dengan jasad dan ruhnya ketika dibacakan shalawat tersebut, nah inilah yang akan saya kritisi. Sebab kalau soal keyakinan (akidah), menurut saya asalnya adalah haram. Sampai ada dalil yang menunjukkan bahwa kita harus beriman.

Nah. Bagi saya, landasan utama keyakinan soal gaib metafisik itu ya Al Qur’an. Jika ada Hadis yang berbicara soal gaib metafisik itu, pastilah ada cantolannya kepada Qur’an. Perlu kita waspadai jika ada Hadis tapi ternyata tidak menemukan pijakan Qur’annya. Atau isinya yang melebihi informasi Qur’an. Nabi memang hanyalah manusia biasa (QS.18:110). Tidak mungkin Nabi mengetahui hal gaib metafisik kecuali diberi informasinya oleh Allah lewat Qur’an. Bisa dicek misalnya QS.7:188, QS.6:50, dan QS.11:31.

QS. Hud[11]: 31
وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ ۖ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ
Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah. Dan AKU TIDAK MENGETAHUI YANG GAIB". Dan tidak (pula) aku mengatakan: "Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat". Dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka". Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.”

OK. Yang perlu kita catat adalah ini: keyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW itu hadir saat mahallul qiyam ketika dibacakan shalawat, itu tidak ada dasarnya dari Qur’an. Ini dulu. Soal ruh, Qur’an bercerita dalam kira-kira 60 ayat. Semuanya, tidak ada yang menginfokan kepada kita bahwa Nabi yang telah wafat itu bisa hadir ketika mahallul qiyam. Di antaranya berikut.

QS. Al-Sajdah[32]: 9
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya RUH-NYA. Dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

QS. Al-Hijr[15]: 29
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya RUH-KU, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

QS. Al-Isra’[17]: 85
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "RUH itu termasuk urusan Tuhan-ku. Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan (tentang ruh itu) melainkan sedikit".

Ruh Nabi bisa hadir itu pun janggal bahkan dengan logika sederhana sekalipun. Misalnya di dunia ini sekarang 2019 ada jutaan orang yang bershalawat. Mahallul qiyam semua. Di ratusan negara yang berbeda. Tidak mungkin ruh Nabi juga menjadi ratusan. Lantas kemudian menghadiri semua majelis shalawatan itu.

Apalagi berdasar 17.85 yang terakhir saya kutip itu. Jelas sekali disebut. Bahwa ruh itu urusan Allah. Infonya tidak banyak yang diberikan kepada manusia. Hanya sedikit saja. Makanya, tidak sepatutnya kita mengarang-ngarang sendiri tentang ruh. Misalnya ruh itu begini dan begitu.

Apalagi jasad beliau. Secara jasad, Nabi Muhammad memang sudah wafat pada 8 Juni 632 Masehi lalu. Di Madinah. Dulu ketika luas masjid Nabawi masih 50 meter persegi, rumah Nabi tepat di sebelah masjid tersebut. Nah, Nabi pun dimakamkan di rumah beliau itu.

Orang-orang Jawa memang masih ada yang yakin bahwa roh orang yang sudah mati, itu bisa pulang ke rumahnya. Gentayangan. Malam jum’at, mbae moleh (nenek—sudah wafat—pulang). Sampai disajikan kopi, dan ketan putih bertabur kacang plus gulanya. Ada yang bilang, “Itu yang dimakan oleh roh adalah aromanya”. Ada-ada saja.

Secara umum, orang yang sudah wafat, itu memang tidak bisa lagi kembali ke dunia ini. Apalagi sampai berinteraksi dengan orang-orang yang masih hidup. Tidak bisa. Di hadapan mereka sudah ada barzakh. Dinding. Orang yang sudah mati, tidak akan bisa hidup lagi. Digambarkan dalam ayat berikut.

QS. Al-Mukminun[23]: 99 – 100
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
99. Hingga apabila datang KEMATIAN kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).

لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
100. Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. SEKALI-KALI TIDAK. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada BARZAKH (DINDING) sampal hari mereka dibangkitkan.

Dengan demikian, tidak benar keyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW hadir, baik jasad maupun ruhnya, di majelis shalawatan. Di mahallul qiyam sekalipun. Maka, kalau mau shalawatan, ya shalawatan saja. Mau mahallul qiyam, ya mahallul qiyam saja. Tidak perlu ada keyakinan bahwa Nabi Hadir.

Saya saja. Kadang tapi. Kalau pagi, masih terasa ngantuk-ngantuk, daripada mutar musik rock. Tidak enak sama tetangga. Saya lebih memilih memutar shalawatan Habib Syeikh. Saya putar agak kencang. Saya gerakkan badan. Semacam olahraga ringan. Dance ringan. Hehe. Saya ikut shalawatan. Sambil mengingat-ingat perjuangan Nabi yang sangat tulus itu sebisa saya. Uwah. Enak tenan. Seger. Ilang ngantuk e. Hehehe.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Jumat, 16 Agustus 2019

SUSUK UNTUK PELET


—Saiful Islam—

Ada kawan yang bertanya kepada saya tentang susuk pelet. Atau susuk pengasihan. Jadi begini.

Susuk, biasanya dipahami sebagai suatu cara memasukkan benda asing ke dalam tubuh seseorang secara spiritual. Tujuannya untuk mendapatkan kelebihan. Benda asing itu umumnya berupa jarum kecil. Mendapat kelebihan maksudnya berupa perlindungan spiritual, penarik lawan jenis, penambah daya tarik (kharisma), kekuatan fisik, dan semisalnya. Jadi, dengan dimasukkannya jarum tersebut ke dalam tubuh, lantas diyakini karenanya seseorang bisa terlihat cantik atau tampan, atau sakti, atau berwibawa, atau hebat, secara magis.

Benda-benda yang dikenal untuk susuk seperti emas, perak, berlian, kuningan, biji beras, kristal, pelor (gotri), dan seterusnya. Katanya ada yang memang benda-benda tersebut memang dimasukkan ke dalam tubuh. Ada lagi tukang susuk yang mengatakan bahwa benda-benda tersebut memang dimasukkan ke dalam tubuh. Tapi tidak melukai kulit atau tubuh. Alasannya, karena benda itu sudah menjadi energi. Jadi, kulit atau tubuh seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal diyakinkan bahwa sudah dimasukkan susuknya. Dengan cara batin gaib metafisik.

Jujur saya ngeri. Ketika tukang susuk laki-laki yang masih 30-an (kayak usia saya, hehe) mengatakan bahwa susuk itu bisa dimasukkan di antara dua alis mata, pipi wajah, dagu atau sudut bibir, tengkuk, (terutama yang ini) bawah payudara kanan atau kiri, (apalagi yang ini) kemaluan, punggung kanan atau kiri, pinggul kanan atau kiri, lengan kanan atau kiri, telapak tangan atau kiri, telapak tangan kanan atau kiri, bawah pusar, paha kanan atau kiri, dan betis kanan atau kiri. Pokok e belejet lah wes.

Lebih jelas lagi, manfaat susuk itu diyakini secara magis, bahwa susuk bisa membuat pelakunya bisa menarik lawan jenisnya. Kalau pria bisa memelet para perempuan. Kalau perempuan ya bisa menyedot (seperti magnet) para lelaki. Terutama lawan jenis idamannya. Juga diyakini susuk itu untuk mendapatkan jodoh, sukses bisnis, melanggengkan hubungan, meningkatkan keharmonisan pasangan, dan semisalnya. Intinya susuk diyakini mempunyai kekuatan magis gaib untuk mengatasi masalah-masalah kemanusiaan.

Atau untuk meningkatkan kharisma yang sudah ada. Atau susuk dipercaya sebagai meningkatkan aura. Dan bahkan energi. Meskipun tidak jelas, ini aura dan energi yang apa dan bagaimana. Agaknya energi dan aura yang dimaksud adalah energi dan aura gaib yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Alasan ini agaknya untuk memperkuat kesan kepada seseorang bahwa susuk itu memang sakti.

Misalnya disebutkan bahwa susuk itu telah diberi energi, “Si Mbah telah membalutkan energi pengasihan dari laku tirakat yang dilakukan selama 21 hari. Sehingga energinya sangat luar biasa hebat.” Mendengar ini, pasien yang awam pastilah langsung membeli jasa susuknya. Hehe. Semakin diyakinkan bahwa susuk bisa menghilangkan rasa grogi, gemetaran, minder, malu; sampai menciptakan kembali semangat gairah dan meningkatkan nafsu seksual.

Intinya, yang ingin populer pakailah susuk. Yang ingin kaya, pakailah susuk. Yang ingin berkharisma dan berwibawa, pakailah susuk. Yang ingin jodohnya cantik atau tampan, pakailah susuk. Yang ingin sehat, pakailah susuk. Mengusir roh jahat, pakailah susuk. Ingin cerdas, pakailah susuk. Ingin pagar gaib, pakailah susuk. Yang ingin naik pangkat, pakailah susuk. Yang ingin tidak mati-mati, pakailah susuk. Untuk yang terakhir ini memang, diyakini bahwa orang yang memakai susuk itu sulit matinya. Wajarlah kalau tukang susuk seperti ini sampai menarif pasiennya dengan harga yang bombastis pula. Jutaan rupiah! Hampir-hampir setara gaji UMR Surabaya!!

Istilah umumnya adalah pengasihan. Atau susuk pengasihan. Pelet. Atau susuk pelet. Pemilik jasa susuk biasanya dikenal sebagai guru spiritual. Sebab susuk itu diyakini bukan sembarang susuk. Sebelum susuk itu dimasukkan ke dalam tubuh pasien, susuk itu katanya telah dijompa-jampi. Diberi mantra. Sehingga sakti. Dan ada juga tukang susuk itu melabel dirinya sebagai Gos. Atau Mbah. Bahkan ustadzah—sebuah gelar kehormatan yang menurut saya disalah gunakan.

Di samping melabel diri dengan istilah-istilah yang biasa dihormati masyarakat awam, tukang susuk biasanya juga berpenampilan seperti tokoh agama. Lebih tepatnya tokoh agama yang disegani. Misalnya memakai kopiah putih. Memakai surban. Bahkan imamah. Memakai sarung. Dan tasbih. Kalau perempuan, memakai ‘baju muslim’. Seperti kerudung yang gelombor, dan baju yang longgar, serta di tangannya melilit sebuah tasbih. Dari luar memang tampak ‘ustadzah’.

Dan kata-kata tukang susuk ini, juga disetting supaya mengaburkan ajaran Islam. Yakni omongan-omongannya sengaja mengutip istilah-istilah Islam. Seperti, “Awwoh dalam assalamu’alaikum… yang maksudnya adalah Alloh, (bilang Alloh saja salah)”. Atau membahas misalnya khasiat Surat Al-Ikhlas untuk pengasihan. Yaitu harus dibaca sekian ratus kali dalam sehari, dan harus dilakukan selama empat puluh hari. Pokoknya, orang awam yang nonton pastilah langsung percaya bahwa tukang susuk ini memang benar-benar ustadz atau ustadzah.

Kata-kata lain yang mencoba mengaburkan nalar sehat seperti, “Sebagai manusia modern, seharusnya kita tidak boleh melupakan tradisi kita sendiri, terlebih bagi kita yang notabene adalah orang pribumi asli tanah jawab.” Dengan tujuan, secara halus adalah saran menghormati dan meyakini tradisi susuk gaib mistis.

 Selain menyantolkan kepada energi, aura, budaya, dan agama atau spiritualitas tertentu, tukang susuk mengaitkan praktiknya itu dengan pengobatan Akupuntur. “Yaitu teknik pengobatan alami menggunakan jarum yang populer dari China,” katanya kurang lebih. “Namun berbeda dengan Akupuntur. Proses memasukkan pelet pengasihan ke tubuh adalah proses yang menggunakan ilmu magis. Proses ini tidak akan menimbulkan rasa sakit dan bekas luka di kulit. Karena nantinya susuk itu nanti akan berubah menjadi energi-energi supranatural yang akan menyatu ke seluruh tubuh si klien,” terusnya.

Supaya tampak benar-benar sakti, orang yang memakai susuk itu punya pantangan. Atau sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Seperti tidak boleh makan sate langsung dari tusuknya, tidak boleh berjalan di bawah tali jemuran, tidak boleh memakan pisang emas, dan semisalnya. Kadang kala kata-katanya disusupkan kata-kata yang memang baik. Misalnya supaya orang andhap asor (rendah hati), tidak sombong, dan lain sebagainya.

Pertama. Bagi kalian yang memiliki keyakinan lain, silakan. Bahkan agama, itu murni pilihan kalian pribadi. Hak asasi kalian. Mau Hindu, mau Budha, silakan. Mau Kebatinan, silakan. Mau Kejawen, ya silakan. Wong resiko itu ditanggung sendiri-sendiri, kok. Tidak ada paksaan dalam beragama.

Namun bagi saya, saya ini Islam. Dasar keimanan saya adalah yang pertama dan paling utama, adalah Qur’an. Informasi gaib apa pun yang ada dalam Qur’an, 100% saya imani. Tak kurang sedikitpun. Dan informasi gaib apa pun yang tidak ada dalam Qur’an (atau Hadis sahih tentunya), 100% tidak akan saya imani. Akan saya tolak. Atau paling tidak, harus saya tabayyuni. Harus saya cek. Harus saya periksa. Harus saya uji kebenarannya. Nah, keyakinan susuk seperti di atas, itu tidak ada dalam Qur’an.

Kedua. Begitu juga secara Sains. Atau menurut teori-teori ilmu pengetahuan. Kepahaman atau keyakinan susuk tersebut, itu tidak ada penjelasannya. Bagaimana PROSESNYA atau MEKANISMENYA ketika susuk itu bisa membuat orang berkharisma, berwibawa, mempesona, kebal, dan seterusnya, itu tidak bisa dijelaskan secara saintifik. Secara ilmu pengetahuan. Atau bagaimana MEKANISME susuk yang fisik itu berubah menjadi energi kemudian lantas masuk ke dalam tubuh seseorang tanpa melukai kulit atau tubuh, ini juga tidak bisa dijelaskan. Ujug-ujug saja beralasan “magis”, “gaib”, “supranatural”, dan semisalnya. Tentu saja, ini tidak bisa diterima. Tertolak! Maka, sudah pasti saya menolaknya!

Bapak Quraish Shihab pernah mengatakan, “Terimalah karena ilmu. Dan tolaklah karena ilmu.” Jadi, kalau kita mau menerima kesimpulan, itu harus berdasar ilmu. Begitu juga sebaliknya, kalau mau menolak, ya harus dengan ilmu.

Susuk magis supernatural gaib seperti cerita di atas, tentu berbeda dengan KB susuk. Aslinya namanya dalam medis adalah KB implan. Kalau KB implan ini, bisa dijelaskan secara saintifik. Yaitu tabung plastik kecil dan fleksibel seukuran korek api yang berisi hormon untuk mencegah kehamilan. Tabung ini akan dimasukkan ke dalam lengan kulit atas. Jadi jelas.

Cara kerjanya juga jelas. Yaitu ‘susuk’ yang sudah dimasukkan ke bawah kulit akan melepaskan hormon progestin dengan kadar rendah untuk mencegah kehamilan. Hormon ini akan mencegah ovulasi (pelepasan sel telur dalam siklus bulanan). Jika seorang wanita tidak berovulasi, ia tidak bisa hamil. Karena tidak ada sel telur untuk dibuahi.

Progestin itu juga akan menebalkan lender di sekitar leher rahim (serviks). Ini akan menghalangi sperma untuk memasuki rahim. Progestin juga akan menipiskan lapisan dinding rahim. Sehingga jika ada sperma yang berhasil membuahi sel telur, telur tersebut akan sulit menempel pada dinding rahim untuk memulai kehamilan.

Karena diimplankan (dimasukkan) ke dalam tubuh, pastinya melukai kulit. Caranya mirip disuntik. Silakan cek. Saya sudah cek di YouTube, ketik saja “Tutorial KB Implan”. Ya, pasti melukai. Jadi tidak bisa materi dirubah menjadi energi kemudian tiba-tiba dimasukkan ke dalam tubuh seseorang. Tidak bisa. Ini juga alasan saya menolak santet atau sihir magis metafisik.

Ketiga. Susuk supernatural itu dikait-kaitkan dengan aura dan energi. Tentu ini tidak masuk akal. Tidak bisa diterima. Tertolak. Aura dan energi menurut Sains, itu tidak ada kaitannya dengan magis dan supernatural. Tidak ada kaitannya dengan gaib metafisika. Tidak ada kaitannya dengan makhluk halus, roh halus, dan kawan-kawannya itu. Aura adalah medan elektromagnetik di sekitar makhluk hidup. Lihat, tidak ada yang magis!

Sedangkan energi adalah properti fisika dari suatu objek, dapat berpindah melalui interaksi fundamental, yang dapat diubah bentuknya, namun tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Iya kan. Properti fisika. Jadi bukan metafisika. Jadi energi itu memang properti fisika. Bukan metafisika!

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah.

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Kamis, 15 Agustus 2019

BEGINILAH JIN VERSI YAHUDI


—Saiful Islam—

“Sangat bisa jadi, konsep Jin yang diyakini sebagian Umat Islam, itu terpengaruh oleh keyakinan Yahudi…”

Dasar keyakinan Islam yang paling utama adalah Al Qur’an. Sedangkan dasar keyakinan Kristen yang paling utama adalah Injil. Terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sedangkan dasar keyakinan Yahudi adalah Tanakh. Yang meliputi Taurat (Pentateukh), Nevi’im, dan Ketuvim. Sebutan lain untuk Tanakh ini adalah Alkitab Ibrani.

Kitab-kitab dalam Tanakh itu berjumlah 24 kitab. Semua kitab-kitab ini dihimpun dalam Taurat (pengajaran), Nevi’im (nabi-nabi), dan Ketuvim (tulisan) tadi. Jadi, Tanakh itu terdiri dari tiga. Yaitu Taurat, Nevi’im, dan Ketuvim. Dan Taurat, Nevi’im, dan Ketuvim ini menghimpun 24 kitab (bab atau bahasan). Ke 24 kitab inilah dasar utama keyakinan Yahudi.

Taurat terdiri dari lima kitab (bab/bahasan). Yaitu 1. kitab Kejadian (Genesis), 2. Keluaran (Exodus), 3. Imamat (Leviticus), 4. Bilangan (Numbers), dan 5. Ulangan (Deuteronomy). Jadi di Taurat ini sudah ada 5 (Penta) kitab.

Nevi’im terdiri dari delapan kitab. Yaitu 1. Yosua, 2. Hakim-Hakim, 3. Samuel, 4. Raja-Raja, 5. Yesaya, 6. Yeremia, 7. Yehezkiel, dan 8. Dua Belas Nabi Kecil. Untuk yang Dua Belas Nabi Kecil ini dianggap satu kitab. Dua Belas Nabi Kecil (Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi). Taurat dan Nevi’im sudah 13 belas.

Ketuvim terdiri dari 11 kitab sisanya itu. Ketuvim terdiri dari Tiga Kitab. Yaitu Kitab Puisi, Lima Megillot, dan Kitab-Kitab Lainnya. Nah, Kitab Puisi itu isinya 1. Mazmur, 2. Amsal, 3. Ayub. Lima Megillot isinya 1. Kidung Agung (Paskah Yahudi), 2. Rut, 3. Ratapan, 4. Pengkhotbah, 5. Ester. Sedangkan Kitab-Kitab Lainnya itu isinya 1. Daniel, 2. Ezra-Nehemia, 3. Tawarikh.

Jadi kitab-kitab dalam Taurat, Nevi’im, dan Ketuvim jika dijumlah menjadi 24 kitab. Sekali lagi, 24 kitab inilah dasar pokok keyakinan Yahudi.

Jadi, dasar keyakinan Yahudi itu bukan cuma Taurat. Meskipun memang, Taurat ini adalah bagian paling penting dari kitab suci (kanon) orang Yahudi.

Menariknya, semua 24 kitab dalam dasar pokok keyakinan Yahudi, itu adalah Perjanjian Lama dalam Kristen. Ingat, Pernjanjian Lama merupakan bagian dari dasar keyakinan Kristen. Selain Perjanjian Lama, dasar pokok keyakinan Kristen adalah Perjanjian Baru. Meskipun dari 24 kitab itu, menjadi berkembang. Atau bertambah. Perjanjian Lama Kristen Protestan ada 39 kitab (bab atau bahasan—seperti Surat kalau dalam Qur’an). Kristen Katolik ada 46 kitab. Sedangkan Perjanjian Lama Ortodoks Timur itu ada 51 kitab.

Jadi termasuk Taurat, yang merupakan bagian terpenting kitab suci orang Yahudi, itu juga diyakini oleh Kristen (sebagai Perjanjian Lama). Perjanjian Lama yang diyakini Kristen itu, secara umum memang dibagi menjadi empat bagian. 1. Taurat (Torah), 2. Kitab Sejarah yang menceritakan sejarah Bangsa Israel sejak penaklukan Kanaan sampai pembuangan ke Babilonia. 3. Kitab Puisi (Hikmat) yang dalam beragam bentuknya berhubungan dengan masalah kebaikan dan kejahatan di dunia. 4. Kitab Para Nabi (Nubuat) yang berisi peringatan-peringatan terkait konsekuensi jika berpaling dari Allah.

Maka bisa dipahami jika ada yang menulis ‘keyakinan Yahudi-Kristen’. Seakan-akan menggabungkan. Maksudnya adalah jika seseorang yang mendasarkan keyakinannya dengan mengutip Perjanjian Lama. Artinya, jika ada orang Kristen (baik protesten, Katolik, maupun Ortodoks Timur) mengutip Perjanjian Lama, bisa dipastikan keyakinannya itu juga diyakini oleh orang Yahudi.

Bagi Yahudi, Jin itu sebuah kata dari Bahasa Ibrani, sa’iyr. Artinya yang berbulu atau kambing jantan. Bentuk jamaknya adalah se’irim. Kata Jin-Jin (se’irim) ini diambil dari Perjanjian Lama, Kitab Imamat 17:7 sebagai berikut:

וְלֹא־יִזְבְּחוּ עֹוד אֶת־זִבְחֵיהֶם לַשְּׂעִירִם אֲשֶׁר הֵם זֹנִים אַחֲרֵיהֶם חֻקַּת עֹולָם תִּֽהְיֶה־זֹּאת לָהֶם לְדֹרֹתָֽם׃
velo-yizbekhu 'od 'et-zivkheihem lase'irim 'asyer hem zonim akhareyhem khukat olam tihyeh-zot lahem ledorotam
They shall no longer sacrifice their sacrifices to the goat demons with which they play the harlot. This shall be a permanent statute to them throughout their generations. Yang artinya, janganlah mereka mempersembahkan lagi korban mereka kepada jin-jin. Sebab menyembah jin-jin itu adalah zinah. Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi mereka turun-temurun. 

Selain itu, inspirasi kata Jin ini juga dari Perjanjian Lama, Kitab II Tawarikh 11:15 sebagai berikut:
וַיַּֽעֲמֶד־לֹו כֹּֽהֲנִים לַבָּמֹות וְלַשְּׂעִירִים וְלָעֲגָלִים אֲשֶׁר עָשָֽׂה׃
vaya'amed-lo kohanim labamot velaseirim vela'agalim asyer 'asah
And he ordained him priests for the high places, and for the devils, and for the calves which he had made. Artinya, dan mengangkat bagi dirinya imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan untuk jin-jin dan untuk anak-anak lembu jantan yang dibuatnya.

Menurut paham Yahudi awal, se’irim adalah demons. Yaitu makhluk supernatural yang bukan merupakan manusia dan biasanya digambarkan jahat. Dalam kepercayaan semitis kuno, se’irim dianggap dewa-dewa yang mempunyai rupa kambing jantan. Berdasar II Tawarikh 11:15 di atas, dipahami bahwa korban-korban dipersembahkan untuk makhluk gaib metafisik tersebut di tempat-tempat yang tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, dengan imam-imam yang khusus melayani upacara keagamaan itu.

Selain itu, ada juga yang menganggap bahwa Jin itu memang makhluk supernatural yang jahat yang melompat-lompat di atas reruntuhan Babel. Ini juga didasarkan pada Perjanjian Lama, Kitab Yeyasa 13:21: Tetapi yang akan berbaring di sana ialah binatang gurun, dan rumah-rumah mereka akan penuh dengan burung hantu; burung-burung unta akan diam di sana, dan jin-jin akan melompat-lompat.

Makhluk supernatural maksudnya adalah sesuatu yang berada di luar alam fisik. Dengan kata lain, makluk supernatural merupakan sesuatu yang metafisik. Alias makhluk gaib metafisik.

Bahkan dalam Yeyasa 34:14 disebut begini: Di sana berpapasan binatang gurun dengan anjing hutan, dan jin bertemu dengan temannya; hantu malam saja ada di sana dan mendapat tempat perhentian.

Dengan demikian, konsep Jin sebagai sosok gaib metafisik itu berasal dari Yahudi. Maka, jika ada Kaum Muslim yang meyakini bahwa Jin itu sosok gaib metafisika, sangat bisa jadi itu terpengaruh oleh keyakinan Yahudi.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...