Rabu, 04 Desember 2019

WAHYU KEPADA NABI SAW


—Saiful Islam—

“Ternyata. TIDAK PERNAH Nabi mendapat pesan Tuhan (wahyu) itu melalui mimpi, atau suara, atau lonceng, atau penampakan Jibril…”

Jadi secara bahasa, wahyu itu adalah tanda-tanda yang mengandung pesan. Atau pesan yang ada dalam simbol-simbol dan lambang-lambang. Terutama bahasa. Baik yang ditulis maupun yang diucapkan. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan pengertian wahyu secara bahasa ini.

Barulah secara teologis, pemahaman wahyu ini menjadi istimewa.

Secara teologis, wahyu adalah pesan Tuhan kepada seseorang yang Dia pilih (al-mushtofa) melalui media tertentu. Melalui media suara, seperti yang terjadi kepada Nabi Musa (misalnya QS.28:30) dan ibunya (QS.28:7). Melalui mimpi, seperti yang terjadi pada Nabi Ibrahim (QS.37:102). Melalui penampakan Jibril, seperti terjadi pada Maryam (QS.19:17-22).

QS. Al-Nahl[16]: 2
يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ
DIA MENURUNKAN PARA MALAIKAT DENGAN (MEMBAWA) WAHYU (PESAN TUHAN) DENGAN PERINTAH-NYA KEPADA SIAPA YANG DIA KEHENDAKI DI ANTARA HAMBA-HAMBA-NYA, Yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku. Maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.”

QS. Al-Baqarah[2]: 136
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan APA YANG DITURUNKAN KEPADA KAMI. DAN APA YANG DITURUNKAN KEPADA IBRAHIM, ISMA'IL, ISHAQ, YA'QUB DAN ANAK CUCUNYA. DAN APA YANG DIBERIKAN KEPADA MUSA DAN ISA SERTA APA YANG DIBERIKAN KEPADA NABI-NABI DARI TUHANNYA. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka. Dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Lalu bagaimana pesan Tuhan (wahyu) itu terjadi kepada Nabi Muhammad SAW? Ternyata, proses pewahyuan kepada Nabi Muhammad, itu hanya langsung kepada jiwa (hati/kalbu/psikis) Nabi yang dibawa oleh Jibril. Sepanjang penelusuran saya terhadap ayat-ayat Qur’an, tidak pernah Nabi mendapat pesan Tuhan (wahyu) itu melalui mimpi, atau suara, atau lonceng, atau penampakan Jibril.

Berikut ayat-ayat Qur’an yang menceritakan bahwa proses pewahyuan kepada Nabi SAW itu hanya terjadi secara psikis.

QS. Al-Syu’ara[26]: 192-195
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
192. Dan sesungguhnya Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ
193. IA DIBAWA TURUN OLEH AL-RUH AL-AMIN (JIBRIL).

عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
194. KE DALAM HATIMU (MUHAMMAD), agar engkau menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
195. Dengan bahasa Arab yang jelas.

QS. Al-Baqarah[2]: 97
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka JIBRIL ITU TELAH MENURUNKANNYA (QUR’AN) KE DALAM HATIMU DENGAN SEIZIN ALLAH, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Jibril pada ayat di atas disebut dengan al-ruuh al-amiin. Di tempat yang lain, Jibril juga disebut dengan ruuh al-qudus.

QS. Al-Nahl[16]: 102
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
Katakanlah: "RUHUL QUDUS (JIBRIL) MENURUNKAN QUR’AN ITU DARI TUHANMU dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

Dan pada ayat berikut ini, Jibril disebut dengan syadiid al-quwaa (pemilik kekuatan yang dahsyat) yang dzuu mirrah (pemilik keteguhan dan kecerdasan).

QS. Al-Najm[53]: 3-18
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ
3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
4. Ucapannya itu (Qur’an) tiada lain hanyalah wahyu (pesan Tuhan) yang diwahyukan (kepadanya).

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ
5. Yang diajarkan kepadanya (Muhammad) OLEH (JIBRIL) YANG SANGAT KUAT.

ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ
6. YANG MEMPUNYAI AKAL YANG CERDAS; dan (Jibril itu) bermaksud (kepada Muhammad itu untuk mewahyukan).

وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ
7. Sedang ia berada di ufuk yang tinggi.

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ
8. Kemudian ia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.

فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ
9. Maka jadilah ia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).

فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ
10. Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa (sebagian ayat Qur’an) yang telah Allah wahyukan.

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ
11. HATINYA tidak mendustakan apa yang telah DILIHATNYA (pesan Tuhan tersebut).

أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ
12. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa (pesan Tuhan/wahyu/Qur’an) yang telah DILIHATNYA?

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ
13. Dan sesungguhnya Muhammad telah MELIHAT (wahyu/pesan Tuhan) itu pada waktu yang lain.

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ
14. (Yaitu) di sidrah al-muntaha (nama sebuah pohon di tempat yang paling jauh).

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ
15. Di dekatnya ada jannah (kebun atau taman) sebagai tempat tinggal.

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ
16. Ketika sidrah itu diliputi (malam).

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ
17. PENGLIHATANNYA (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya (pesan Tuhan/wahyu) itu dan tidak (pula) melampauinya.

لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ
18. Sesungguhnya MUHAMMAD TELAH MELIHAT SEBAGIAN AYAT-AYAT TUHANNYA yang paling besar (Qur’an).

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Selasa, 03 Desember 2019

MELACAK WAHYU


—Saiful Islam—

“Selamanya. Tidak mungkin Allah berbicara secara langsung kepada manusia. Bahkan kepada Nabi dan Rasul sekalipun…”

Masih mengikuti cerita Ibnu Manzhur. Ibnu Ishaq berpendapat, menurut bahasa, wahyu itu asalnya semuanya bermakna memberi tahu secara rahasia. Karenanya, ilham juga disebut wahyu. “Karena itulah isyarat dan tanda (sinyal), disebut wahyu. Tulisan juga disebut wahyu,” kata al-Azhariy.

QS. Al-Syura[42]: 51
 وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan TIDAK MUNGKIN ALLAH BERKATA-KATA LANGSUNG KEPADA MANUSIA kecuali dengan PERANTARAAN WAHYU, atau DI BALIK TABIR, atau dengan MENGUTUS SEORANG UTUSAN. Lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Wa maa kaana li basyar an yukallimahulloh illaa wahyan aw min waraa’ hijaab. Yakni kecuali diwahyukan kepada manusia itu sebuah wahyu, maka Allah mengajarnya dengan sesuatu yang manusia ketahui, bahwa Allah lah yang mengajarnya. Baik dengan ilham, maupun dengan mimpi. Atau diturunkan kepadanya sebuah kitab, sebagaimana yang terjadi kepada Nabi Musa. Atau dengan bacaan yang dibacakan kepadanya, sebagaimana terjadi kepada Nabi Muhammad SAW. Semua ini adalah memberi tahu (pengajaran), meskipun berbeda-beda sebab pengajaran tersebut.

Tradisi orang Arab, jika disebutkan, “Aku mewahyukan kepadamu sebuah berita,” maka artinya adalah “Aku memberi isyarat dengan mengatakannya secara perlahan-lahan dan lemah lembut.”

Menurut Abu al-Haytsam. Bahwa jika disebut wahaytu ilaa Fulaan, uuhiya ilayh wahyan, wa awhaytu ilayh, uuhiya iihaa’an (aku mewahyukan kepada Fulan, diwahyukan kepadanya), maka artinya adalah ketika aku memberi isyarat dan memberi sinyal (tanda yang dipahami) kepadanya.

Al-‘Ajjaj bersyair: “Allah mewahyukan kepada bumi itu. Maka bumi pun menjadi kokoh.” Yakni Allah mewahyukan kepada bumi. Maka bumi menjadi kokoh, dan tidak mengguncang penduduknya. Yakni Allah memberi isyarat kepada bumi itu akan hal tersebut. Ia juga berkata bahwa yang dimaksud wahaa lahaa al-qaraar (Allah mewahyukan kepada bumi kekokohan) adalah Allah telah menentukan takdir seperti itu untuk bumi.

Jika disebutkan, “Aku mewahyukan sebuah buku kepadanya,” artinya adalah aku lah penulis buku tersebut. Maka buku itu adalah muuhiy (yang mewahyukan).

Menurut Ru’bah, bahwa Injil, Taurat itu wahyu munamnimuh. Yakni ditulis oleh penulisnya.

Wahyu juga berarti api. Raja itu disebut wahyu juga diambil dari makna ini. Tsa’lab pernah bertanya kepada Ibnu al-A’robiy tentang definisi wahyu. Dijawab oleh al-A’robiy bahwa wahyu adalah seorang raja. Alasan wahyu itu api adalah karena wahyu itu seakan-akan seperti api yang bisa memberi manfaat sekaligus memberi mudharat. Raja atau pemimpin itu seperti itu. Bisa memberi manfaat kepada rakyatnya, bisa juga memberi mudharat.

Al-wahyu juga bisa berarti tuan atau pemimpinnya kaum laki-laki.

Al-Wahyu itu seperti al-waghoo (suara dalam peperangan). Yakni seperti suara sekerumunan lebah (nggeremeng, kalau Bahasa Jawa-nya).

Al-Wahyu juga berarti sesuatu yang cepat. Atau lekas-lekas. Orang Arab biasa mengatakan, “Al-wahy al-wahy atau al-wahaa’ al-wahaa’,” artinya kurang lebih, “Ayo cepat! Ayo segera! Ayo lekas-lekas!” Terkadang mereka menambahi huruf kaf di belakangnya: “Al-wahaak al-wahaak!” Di dalam Hadis Abu Bakar juga dijumpai al-wahy yang berarti cepat itu.

Untuk makna cepat ini, ada sebuah Hadis. Begini bunyinya: Ketika engkau hendak melakukan sesuatu, maka pertimbangkanlah akibatnya. Jika buruk, maka jangan dilakukan. Jika baik, maka bersegeralah (fatawahhah)—yakni cepat-cepatlah mengerjakannya. Juga ada kalimat, “Wahhaa Fulaan dzabiihatah, Fulan menyembelih hewannya.” Menggunakan kata wahhaa, yaitu Fulan menyembelihnya dengan cepat.

Syay’un wahyun berarti sesuatu yang cepat. Begitu juga tawahhaa bi al-syay’, artinya adalah cepat.

Redaksi istawhaa al-syay’ bermakna seseorang yang memanggil kawannya, atau minta tolong kepada kawannya itu, untuk mengambilkan atau mengirimkan sesuatu. Seperti kalimat, “Tolong dong, ambilkan penaku itu.” Redaksi itu juga bisa dipakai untuk anjing. Dengan maksud anjing mengambilkan sesuatu atau menangkapkan sesuatu untuk dirinya.

Sebagian orang Arab itu ada yang mengartikan al-iihaa’ (dari kata awhaa) dengan menangis. Seperti kalimat, “Fullaan yuuhiyy abaah, Fulan menangisi ayahnya (yang sudah meninggal).”

Di dalam percakapan orang-orang Arab, dijumpai pula frase-frase yang memiliki arti khusus. Perumpamaan. Seperti wahy fi hajar (wahyu pada batu). Frase tersebut untuk menggambarkan orang yang menyembunyikan rahasianya. Abu Zayd berkata, “Batu itu tidak bisa menginformasikan apa pun. Maka aku pun seperti batu yang tidak akan menginfokan apa pun. Aku menyembunyikannya.”

Meski begitu, menurut al-Azhariy, bisa berarti sebaliknya. Frase tersebut bisa juga untuk menggambarkan sesuatu yang tampak jelas. Seperti ungkapan, “Ia seperti wahyu pada batu, ketika diukir di permukaannya.” Dan seperti ungkapan Zahir, “Seperti wahyu pada batu kali yang besar dan kokoh.”

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Senin, 02 Desember 2019

MENYELIDIK WAHYU


—Saiful Islam—

“Ketika Engkau berbisik-bisik kepada seseorang secara rahasia…”

Ibnu Manzhur, dalam Lisan al-‘Arab, menghabiskan tiga halaman untuk medeskripsikan makna wahyu ini. Saya ceritakan sebagian dulu.

Wahyu adalah isyarat (tanda yang memberi petunjuk), tulisan, surat, ilham, ucapan yang samar, dan apa pun yang Anda sampaikan kepada orang lain.

Dikatakan, “Aku wahyukan kepadanya perkataan.” Redaksinya wahaytu (intranstitive verb atau fi’il lazim) atau awhaytu (transitive verb atau fi’il muta’addiy), yang berarti aku mewahyukan.

Wahaa, wahyan, dan awhaa berarti menulis.

Al-wahyu adalah sesuatu yang ditulis, dan juga berarti buku (al-kitaab).

Di dalam Hadis (berita) al-Harits al-A’war, ‘Alqomah berkata: Aku membaca Qur’an dalam dua tahun. Al-Harits kemudian berkata, “Al-Qur’an itu mudah. Sedangkan al-wahyu lebih sulit.” Yang dimaksud al-Qur’an di sini adalah membaca. Sedangkan yang dimaksud al-wahyu adalah menulis dan mencatat. Dikatakan, “Wahaytu al-kitaab wahyan, aku menulis kitab. Fa anaa waahin, maka aku adalah penulis.”

Wa awhaa ilayh, artinya adalah mengutus. Awhaa ilayh juga bisa berarti mengilhamkan. Disebutkan dalam Qur’an (16:68), “Wa awhaa robbuka ilaa al-nahl, Tuhanmu mewahyukan kepada lebah.” Juga dalam Qur’an (99:5), “Bi anna robbaka awhaa lahaa, Tuhanmu mewahyukan kepada bumi.” Maknanya adalah memerintahnya.

QS. Al-Nahl[16]: 68
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Dan TUHANMU MEWAHYUKAN KEPADA LEBAH: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.”

QS. Al-Zalzalah[99]: 5
بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا
Karena sesungguhnya TUHANMU TELAH MEWAHYUKAN (memerintahkan yang sedemikian itu) kepada bumi itu.

Mewahyukan kepada bumi, itu menurut al-‘Ajjaj berarti memperkokoh bumi. Sehingga bumi itu tenang (anteng). Dan diperkuat bumi itu dengan gunung-gunung yang kokoh.

Ibnu Barriy berpendapat. Jika disebutkan wahaa fi al-bayt, maka wahaa di sini berarti menulis. Wahaa ilayh dan awhaa, artinya berbicara kepada seseorang secara rahasia, sehingga tidak diketahui oleh yang lain. Wahaa ilayh dan awhaa, juga bisa berarti mengisyaratkan atau memberi isyarat (bahasa isyarat dengan anggota tubuh, seperti tangan, kepala, mata, dan semisalnya).

Disebut dalam Qur’an (19:11), “Fa awhaa ilayhim an sabbihuu bukrotan wa ‘asyiyyan, Zakariya memberi isyarat kepada mereka: bertasbihlah kalian pada waktu pagi dan petang.” Menurut al-Farra’, awhaa ilayhim di sini berarti Zakariya memberi bahasa isyarat. “Orang-orang Arab mengatakan awhaa, wahaa (mewahyukan), dengan awmaa dan wamaa, itu maknanya satu.

QS. Maryam[19]: 11
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا
Maka Zakariya keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia MEWAHYUKAN (memberi isyarat) kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.

Begini pendapat Ibnu al-A’robiy. Jika dikatakan seorang laki-laki mewahyukan, maka artinya adalah ketika ia mengutus seorang laki-laki yang terpercaya (tsiqoh) kepada budak yang terpercaya juga. Atau bisa juga berarti, ketika laki-laki itu berbicara langsung kepada budaknya. Seseorang dikatakan mewahyukan, itu bisa untuk arti seseorang yang menjadi raja yang kaya yang sebelumnya fakir. Dan bisa juga artinya adalah seseorang yang zhalim dalam kekuasaannya.

Al-wahyu adalah sesuatu yang Allah wahyukan kepada para nabi-Nya. Orang Arab berkata, “Aku beriman kepada wahyu Allah.” Menurut Ibnu al-Anbariy, disebut wahyu karena al-Malik (Allah) merahasiakan (informasi) itu kepada makhluk-Nya, dan menyampaikannya secara khusus kepada Nabi SAW yang diutus. Disebut dalam Qur’an (6:112), “Yuuhiy ba’dhuhum ilaa ba’dh zukhruf al-qowl ghuruuron,” maknanya adalah saling merahasiakan. Dari makna asal itu, al-wahyu kemudian dipakai untuk makna ilham, perintah, dan isyarat.

QS. Al-An’am[6]: 112
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh. Yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin. Sebagian mereka MEWAHYUKAN (membisikkan) kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Disebutkan dalam Qur’an (5:111), “Wa idz awhaytu ilaa al-hawaariyyiin an aaminuu biy wa bi rosuuliy.” Menurut al-Zajjaaj yang juga mengutip pendapat, artinya adalah Aku (Allah) menghilhamkan. Sebagaimana redaksi Qur’an (16:68), “Wa awhaa robbuka ila al-nahl.” Sedangkan pendapat yang lain menyatakan bahwa artinya adalah Aku (Allah) memerintahkan kepada mereka. Ini semakna ketika Allah mewahyukan kepada bumi.

QS. Al-Maidah[5]: 111
وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ
Dan (ingatlah), ketika Aku WAHYUKAN (ilhamkan) kepada pengikut Isa yang setia (al-hawaariyyiin): "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku". Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).”

Wahyu kepada Hawariyyin (para pengikut setia Isa) itu, menurut pendapat yang lain, berarti ayat-ayat dan bukti-bukti yang ada di dalam wahyu kepada Nabi Isa AS, itu dihadirkan kepada mereka. Kemudian mereka mendapat petunjuk dari ayat-ayat dan bukti-bukti tersebut. Lantas mereka beriman kepada Allah dan kerasulan Isa.

Disebutkan dalam Qur’an (28:7), “Wa awhaynaa ilaa ummi Muusaa an ardhi’iih.” Menurut al-Azhariy, Allah menancapkan (informasi) ke dalam hati Ibu Musa. Wahyu di sini berfungsi untuk memberi tahu jaminan Allah kepadanya: bahwa Musa akan dikembalikan kepadanya dan menjadikannya salah seorang utusan Allah.

QS. Al-Qashash[28]: 7
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Dan Kami WAHYUKAN (ilhamkan) kepada ibu Musa: "Susuilah dia. Dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah ia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati. Karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu. Dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”

Menurut pendapat yang lain, wahyu di ini berarti ilham. Kemudian disebutkan bahwa boleh jadi Allah memberikan informasi itu ke dalam hati Ibu Musa. Bahwa isi dari informasi tersebut adalah Musa akan dikembalikan kepadanya nanti. Dan akan menjadikan Musa sebagai salah seorang utusan-Nya. Akan tetapi, memberi info atau menginfokan (al-i’laam), lebih jelas untuk makna wahyu di sini.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Minggu, 01 Desember 2019

PROSES PEWAHYUAN


—Saiful Islam—

“Wahyu kepada manusia (Muhammad, Isa, Harun, Musa, ibunya Musa, dan lain-lain), wahyu kepada lebah, sampai wahyu kepada langit dan bumi…”

Sudah saya katakan. Bahwa semua rujukan selain Qur’an, dalam doktrin Islam, itu zhanniy semua. Tidak ada yang pasti kebenarannya. Semuanya relatif. Hanya Qur’an yang kebenarannya mutlak dan pasti. Pasti firman Allah. Pasti dari Rasulullah. Qur’an ini, memang harus menjadi rujukan sentral, primer, dan pokok bagi Kaum Mukminin. Selain Qur’an, hanya rujukan sekunder saja. Dan semua rujukan selain Qur’an itu, harus diuji kebenarannya dengan Qur’an (QS.5:48). Termasuk Hadis-Hadis.

Meski begitu. Karena Qur’an ini diturunkan dengan Bahasa Arab (misalnya QS.12:2), maka mau tidak mau kita harus merujuk kepada kamus-kamus Arab supaya mengerti maknanya. Tetapi tetap harus waspada. Pernyataan-pernyataan yang melebihi informasi Qur’an—terutama hal-hal metafisika—harus ekstra hati-hati. Kita mesti kritis menerima pernyataan. Alias diuji dulu. Tidak langsung percaya oleh penulis. Termasuk tulisan saya ini, jangan langsung diamini.

Kali ini saya akan bercerita tentang wahyu menurut al-Raghib al-Ashfahaniy, dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Ingat, saya baru menceritakan. Baru menggambarkan. Belum saya kritisi. Beserta analisisnya insya Allah, nanti di depan.

OK, let’s go…

WAHYU ITU ASALNYA BERARTI PETUNJUK YANG CEPAT. Untuk memberi makna cepat itu, biasanya dikatakan, amrun wahyun (urusan yang cepat).

Petunjuk yang cepat itu bisa berupa kata-kata melalui simbol dan lambang. Bisa juga dengan suara. Dan bisa pula petunjuk dengan isyarat anggota badan, dan dengan tulisan. Makna tersebut terkandung dalam QS.19:11.

Ada pula yang mengatakan bahwa wahyu itu adalah simbol, i’tibar (ibrah), dan menulis atau tulisan. Seperti disebut oleh QS.6:112.

Adapun kata mewahyukan dalam QS.6:121, artinya adalah membuat was-was. Seperti ditunjukkan oleh QS.114:4.

Adapun kata-kata ilahiyah (firman Allah), yang disampaikan kepada para nabi dan para wali-Nya, itu disebut wahyu. Sebagaimana ditunjukkan oleh QS.42:51.

QS. Al-Syura[42]: 51
 وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan TIDAK MUNGKIN ALLAH BERKATAK-KATA LANGSUNG KEPADA MANUSIA kecuali dengan PERANTARAAN WAHYU, atau DIBELAKANG TABIR, atau dengan MENGUTUS SEORANG UTUSAN (MALAIKAT). Lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Maka, adakalanya wahyu itu disampaikan oleh utusan yang disaksikan, yang tampak fisiknya, serta didengar ucapannya. Seperti penyampaikan Jibril kepada Nabi dengan penampakan yang nyata.

Atau seperti mendengar ucapan yang suaranya saja, tanpa tampak siapa yang berbicara. Seperti Nabi Musa yang mendengar firman-Nya. Atau langsung ke dalam jiwa. Seperti sabda Nabi, “Sesungguhnya Ruhul Qudus meniup di dalam jiwaku.”

Atau dengan ilham. Yakni petunjuk ke dalam hati. Seperti QS.28:7. Atau dengan penundukan (insting). Seperti wahyu kepada lebah, QS.16:68.

Atau dengan mimpi. Seperti sabda Nabi, “Wahyu telah selesai. Tinggal mimpinya orang beriman.”

Ilham, insting, dan mimpi ditunjukkan oleh kalimat “Illaa wahyan, kecuali wahyu,” dalam QS.42:51.

Adapun mendengar kalimat yang jelas, ditunjukkan dengan kalimat, “Aw min waraa’i hijaab, atau dari balik tabir,” dalam QS.42:51.

Sedangkan penyampain Jibril dengan rupa yang jelas, ditunjukkan dengan kalimat, “Aw yursila rasuulan fayuuhiya, atau Dia mengutus utusan dan kemudian utusan tersebut mewahyukan,” dalam QS.42:51.

Adapun QS.6:93, itu adalah gambaran orang yang mengaku-ngaku mendapat wahyu. Dengan cara-cara pewahyuan seperti disebutkan di atas. Padahal sejatinya dia hanya mengada-ada saja.

Wahyu yang disebut dalam QS.21:25, bersifat umum. Mencakup semua model-model pewahyuan. Bahwa pengetahuan tentang keesaan Allah, dan pengetahuan kewajiban beribadah kepada-Nya, bukan terbatas pada wahyu kepada para rasul yang bergelar ulul ‘azmi saja. Tapi juga diketahui dengan akal, dan ilham. Seperti juga diketahui dengan pendengaran (mendengar suara).

Yang dimaksud QS.21:25 ini adalah mustahil kalau rasul itu tidak tahu keesaan Allah, dan mustahil tidak tahu bahwa harus beribadah kepada-Nya.

Wahyu dalam QS.5:111, adalah wahyu dengan perantara Isa AS. Begitu juga wahyu dalam QS.21:73, merupakan wahyu kepada umat manusia dengan perantara para Nabi.

Adapun wahyu yang khusus kepada Nabi Muhammad SAW adalah QS.10:109, QS.10:15, dan QS.18:110.

Wahyu kepada Nabi Musa dalam QS.10:87, itu melalui perantara Malaikat Jibril. Sedangkan wahyu kepada Harun, itu melalui perantara Jibril dan Musa.

Wahyu pada QS.8:12, adalah wahyu kepada orang-orang beriman melalui lembaran dan pena.

Wahyu kepada langit, disebut dalam QS.41:12. Jika wahyu tersebut ditujukan kepada penduduk langit saja, maka objeknya itu dihapus (tidak disebutkan). Seakan-akan Allah berfirman, “Dia mewahyukan kepada malaikat.” Karena penduduk langit adalah malaikat. Itu seperti disebut oleh QS.8:12.

Dan jika objek wahyu itu adalah langit (tujuh langit), maka itu wahyu penundukan bagi orang yang menganggap langit adalah makhluk (benda) mati. Dan sebagai wahyu ucapan bagi orang yang menganggap langit itu makhluk hidup.

Mewahyukan kepada bumi, QS.99:5. Makna yang lebih dekat adalah yang pertama. Yakni objeknya tidak disebutkan. Yang dimaksud adalah penduduk bumi. Berarti, “Dia mewahyukan kepada penduduk bumi.”

Wahyu dalam QS.20:114, adalah motivasi supaya tenang, dan fokus dalam mendengar dan memperhatikan proses pewahyuan Qur’an. Jangan cepat-cepat, jangan terburu-buru, dalam menerima atau menyampaikan ayat-ayat Qur’an. 

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...