Minggu, 08 Desember 2019

INSPIRED BY QUR’AN


—Saiful Islam—

“Tidak perlu nggetu-nggetu berprinsip dengan hadis-hadis. Sampai mem-bid’ah-bid’ah-kan yang lain. Seng penting onok hadise, atau niro wong Madinah, yoweslah. lumayan!”

Dengan tulisan-tulisan sebelumnya, tampaknya sudah sangat jelas. Bahwa Hadis-Hadis, itu memang bukan wahyu. Sudah cukup untuk membuktikan bahwa Hadis-Hadis, memanglah bukan wahyu. Tidak semua yang diucapkan, disikapi, dan diputuskan Nabi adalah wahyu. Yang wahyu itu hanyalah Qur’an saja. The one and only wahyu itu ya Qur’an itu saja.

Tidak ada wahyu yang sampai ke Nabi selain Qur’an. Tidak ada wahyu yang berdiri sendiri selain Qur’an. Tidak ada wahyu yang tidak tertulis. Semua wahyu sudah tertulis semua. Yakni Qur’an. Sudah komplit Qur’an ini. Tidak ada kurang meski satu hurufnya. Firman Tuhan sudah komplit. Sudah sempurna. Tidak ada sedikit pun yang dilupakan oleh Nabi.

Juga sudah komplit dan sempurna disampaikan beliau SAW untuk kita, umatnya. Supaya Qur’an itu dijadikan referensi utama dalam hidup dan kehidupan kita. Menjadi kiblat utama hati dan akal kita. Semua rujukan doktrin Islam, sekali lagi semuanya, itu zhann. Kebenarannya itu hanya sebatas dugaan saja. Yang pasti benarnya, memang hanya Qur’an. Pasti keluar dari mulut Rasulullah SAW yang amat kita cintai itu.

Biasanya yang dijadikan andalan untuk membantah kesimpulan-kesimpulan saya itu, adalah Hadis-Hadis teknis ibadah mahdhah. Yaitu teknis shalat, zakat, puasa, dan teknis (manasik) haji. Dianggap teknis-teknis ibadah tersebut tidak ada dalam Qur’an. Lantas ujug-ujug disimpulkan bahwa ada wahyu lain selain Qur’an. Ada wahyu yang tidak tertulis. Ada wahyu yang berdiri sendiri selain Qur’an. Lalu memaksakan QS.53:3-4 sebagai pembenar bahwa semua Hadis-Hadis (termasuk Hadis Qudsi) yang sahih adalah wahyu. Tentu saja, tidak benar. Karena pasti bertabrakan dengan ayat-ayat yang saya tulis pada tulisan-tulisan sebelumnya.

Pertama, jangan gampangan mengatakan semua teknis ibadah mahdhah tersebut, itu tidak ada dalam Qur’an. Kita ambil contoh teknis salat misalnya. Pernah saya mendengar Sejarawan Barat yang menjeneralisir bahwa salat itu tidak ada dalam Qur’an. Salat dalam Islam, itu hanya Tradisi (Hadis). Tak sedikit juga kaum Mukminin yang ‘pukul rata’ begitu, bahwa teknis salat tidak ada dalam Qur’an.

Memang ada benarnya. Tapi juga ada salahnya. Ini yang saya maksud, hati-hatilah dengan pernyataan: teknis salat itu tidak ada dalam Qur’an. Teknis salat, itu memang tidak ada dalam Qur’an. Itu hanya yang tidak substansial. Teknis salat yang paling substansial (isi/pokok/inti) itu ada dalam Qur’an. Yaitu sujud, rukuk, bertasbih (memuji dan mengagungkan-Nya).

Sujud, misalnya QS. Fushshilat[41]: 37
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari maupun bulan. TETAPI BERSUJUDLAH KEPADA ALLAH YANG MENCIPTAKAN SEMUA ITU, jika hanya kepada-Nya saja kalian menyembah.

Rukuk, misalnya QS. Al-Hajj[22]: 77
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, RUKUKLAH KALIAN, SUJUDLAH, SEMBAHLAH TUHAN KALIAN, dan berbuatlah kebajikan, supaya kalian mendapat kemenangan.

Bertasbih (menquduskan Allah), misalnya QS. Thaha[20]: 130
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan. Dan BERTASBIHLAH DENGAN MEMUJI TUHANMU, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya. Dan BERTASBIHLAH juga pada waktu-waktu di malam hari, dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang (puas).

Begitu juga, banyak yang ceroboh bahwa waktu salat itu juga tidak ada dalam Qur’an. Sekali lagi, jangan ujug-ujug mengatakan teknis-teknis ibadah mahdhah itu, tidak ada dalam Qur’an sebelum mengeceknya langsung. Atau jangan-jangan mereka telah mencuekin Qur’an? Dan ujug-ujug suibuk dengan Hadis-Hadis? Menjadikan Qur’an nomer 2 di bawah Hadis-Hadis? Berikut bahwa waktu salat yang lima waktu itu ada dalam Qur’an!

QS. Al-Isra’[17]: 78
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Dirikanlah salat DARI SESUDAH MATAHARI TERGELINCIR (DHUHUR DAN ASAR) SAMPAI GELAP MALAM (MAGRIB DAN ISYA’) DAN (DIRIKANLAH PULA SALAT) SUBUH. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

QS. Hud[11]: 114
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ
Dan dirikanlah salat itu PADA KEDUA TEPI SIANG (SUBUH DAN ASAR) DAN PADA BAGIAN PERMULAAN MALAM (MAGRIB DAN ISYA’). Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

QS. Al-Rum[30]: 17
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ
Maka bertasbihlah kepada Allah DI WAKTU KAMU BERADA DI PETANG HARI (MAGRIB DAN ISYA’) DAN WAKTU KAMU BERADA DI WAKTU SUBUH.

QS. Al-Nisa’[4]: 103
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya SALAT ITU ADALAH FARDHU YANG DITENTUKAN WAKTUNYA atas orang-orang yang beriman.

Adapun teknis salat yang tidak substansial, seperti posisi tangan ketika takbiratul ihram, posisi tangan bersedekap (sendakep, jare wong Jowo), bacaan-bacaan tasbih, i’tidal dan bacaan-bacaannya, itu memang bisa berbeda-beda. Posisi tangan ketika sujud. Ketika mau sujud tangannnya dulu sampai lantai atau dengkulnya dulu. Dan seterusnya. Tidak masalah. Semua ini, memang teknis yang tidak substansial. Dan itu dilakukan Nabi berdasar ijtihad beliau sendiri. Bukan karena ada wahyu lain selain Qur’an.

Makanya, Imam Malik dengan Imam Syafi’i misalnya, itu bisa berbeda terkait teknis-teknis yang tidak substansial ini. Karena Imam Malik lebih percaya pada praktik turun temurun orang-orang Madinah, sedangkan Imam Syafi’i lebih menggunakan Hadis-Hadis. Tetapi yang jelas, para Imam yang kita hormati tersebut, itu salat. Sujud. Rukuk. Bertasbih dan memuji Allah! Makanya, tidak perlu nggetu-nggetu berprinsip dengan Hadis-Hadis. Sampai-sampai membid’ah-bid’ah-kan yang lain. Seng penting onok Hadise, atau niro wong Madinah, yoweslah. Lumayan! Kecuali misalnya ada orang sujud dengan salto dan kayang. Hehe. Nah itu boleh kalian bid’ahkan, sah kalian sesatkan.

Kedua, ada kawan yang meminta menunjukkan dasar saya bahwa Nabi terinspirasi oleh Qur’an. Memang secara tekstual, tidak ada ayat yang berbunyi misalnya: “Sesungguhnya Rasulullah itu terinspirasi oleh Qur’an.” Ya, tidak ada. Tetapi memahami Qur’an, selain secara komprehensif, itu juga harus kontekstual. Mengumpulkan ayat-ayat terkait (tadabbur), dipertimbangkan secara konteksual, barulah diambil kesimpulan.

Dasar saya bahwa Nabi itu terinspirasi oleh Qur’an adalah teknis ibadah mahdhah Nabi yang tidak substansial itu sendiri. Seperti teknis salat Nabi yang tidak substansial tersebut. Seperti posisi sendakep tangan di pusar perut, atau di dada, atau miring di perut bagian pinggir kiri. Tidak ada semua itu dalam Qur’an. Kok bisa berbeda-beda begitu? Ya itu karena Nabi terinspirasi oleh perintah salat dalam Qur’an. Misalnya QS.2:43 berikut ini.

QS. Al-Baqarah[2]: 43
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
DAN DIRIKANLAH SALAT, TUNAIKANLAH ZAKAT DAN RUKUKLAH BESERTA ORANG-ORANG YANG RUKUK.

Jadi teknis salat Nabi yang tidak substansial tersebut, itu terinspirasi oleh Qur’an. Bukan karena wahyu lain yang berdiri sendiri, yang tidak tertulis.

Kawan lain berkomentar. “Wah, terinspirasi oleh Qur’an? Kalau begitu apa bedanya Syahrur dengan Nabi?”

Oh, beda sekali. Pertama, kalau inspirasi Nabi salah, maka langsung ditegur oleh Allah. Kalau Syahrur, dan siapa pun yang selain Nabi, itu tidak ditegur langsung oleh Allah. Kedua, yang berhak berjitihad soal teknis salat adalah Nabi SAW saja. Syahrur, dan siapa pun yang selain Nabi, tidak berhak. Misalnya salat dengan Bahasa Inggris, hehe, ya haram.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Sabtu, 07 Desember 2019

MANUSIA SETENGAH TUHAN


—Saiful Islam—

“Ingat. Hadis-Hadis, BUKAN Nabi itu sendiri!”

“Wahai Ahli Kitab. Janganlah kalian berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agama kalian,” begitu kata QS.5:77. Mereka berlebih-lebihan, sampai menganggap Isa, yang manusia biasa itu, sebagai Tuhan. Ayat-ayat sebelumnya, QS.5:72-76, mengritik sikap mereka tersebut.

QS. Al-Maidah[5]: 75
مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Al-masih (Isa), putera Maryam itu HANYALAH seorang Rasul (utusan Tuhan). Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang sangat benar. Keduanya BIASA MEMAKAN MAKANAN. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami). Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling.

Saya mengajak Rekan-Rekan sekalian untuk memposisikan Nabi secara proporsional.

Menghormati nabi-nabi, itu harus. Wajib. Bagaimana tidak, wong Allah saja memilih beliau-beliau?! Tentu saja, soal prestasi amal saleh, kita masih sangat-sangat jauh dibanding mereka. Meskipun kita akan terus berusaha meneladani mereka. Termasuk menghormati dan menyanjung Nabi Muhammad SAW. Menyanjung yang dicintai, itu wajar. Biasa. Memuja yang dikasih dan disayangi, itu manusiawi. Tetapi menghormati dan menyanjung yang berlebihan, ini bisa bahaya.

Sudah pernah terjadi pada orang-orang Nasrani kepada Nabi Isa. Menyanjung, memuja, dan menghormati secara berlebihan. Sampai membuat kesimpulan bahwa Isa firman Tuhan yang menjadi daging. Lalu Isa adalah anak Tuhan. Sampai akhirnya menjadi Tuhan itu sendiri: Tuhan Yesus. Terserah, itu hak mereka. Itu iman mereka: Nasrani. Tetapi bagi saya, Isa adalah hanya manusia biasa yang mendapat wahyu Allah. Persis Nabi SAW.

Penghormatan dan sanjungan yang berlebihan itu, ternyata pernah terjadi kepada Nabi SAW. Seperti cerita Nabi yang dioperasi Malaikat ketika kecil. Hati (liver) Nabi diambil, kemudian dibedah untuk dikeluarkan gumpalan hitamnya. Setelah itu hati itu disambung lagi. Perut yang dibedah, disambung lagi. Jadi semacam operasi transnplantasi hati. Juga konsep cahaya Muhammad. Nur Muhammad. Katanya, sebelum ada semesta ini, Allah menciptakan Nur Muhammad terlebih dahulu. Adanya alam semesta ini, hanya karena adanya Nur Muhammad itu.

Saya berani memastikan. Bahwa mitos-mitos tentang Nabi SAW seperti transplantasi liver dan Nur Muhammad itu, bersumber dari selain Qur’an. Kalau Anda mencari rujukannya dalam Qur’an, pasti tidak akan pernah ada penggambaran Nabi yang non manusiawi seperti itu. Sebaliknya, selalu dan selalu Qur’an mendeskripsikan Nabi SAW itu sebagai manusia biasa. Karena manusia biasa itulah, Nabi dijadikan uswatun hasanah oleh Allah bagi kita. Kalau Nabi itu Malaikat, atau apa pun yang bukan manusia, ya tidak akan bisa menjadi contoh, teladan, uswatun hasanah bagi kita!

QS. Al-Ahzab[33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi kalian. (Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan ia banyak mengingat Allah.

Ada kawan yang mengaku sedih karena saya mengatakan bahwa Nabi SAW itu adalah manusia biasa. Justru saya lebih sedih lagi, kalau ada yang mengatakan Nabi SAW, Nabi yang saya hormati dan cintai itu, adalah bukan manusia biasa. Justru bahaya sekali kalau dikatakan bahwa Nabi itu bukan manusia biasa. Pasti akan bertabrakan dengan ayat-ayat berikut ini. Semua Nabi, mulai Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, itu memang manusia biasa. Bedanya cuma satu dengan kita: beliau-beliau itu mendapat pesan Tuhan secara langsung.

QS. Al-Kahfi[18]: 110
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
Katakanlah: “SESUNGGUHNYA AKU INI HANYALAH MANUSIA BIASA SEPERTI KAMU, YANG DIWAHYUKAN KEPADAKU: Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh. Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.

QS. Ibrahim[14]: 11
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "KAMI TIDAK LAIN HANYALAH MANUSIA SEPERTI KAMU, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.”

QS. Al-Fushshilat[41]: 6
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: "BAHWASANYA AKU HANYALAH SEORANG MANUSIA SEPERTI KAMU, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya. Dan beristighfarlah kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.”

Sekali lagi, justru bahaya kalau dikatakan para utusan Allah (Rasul Allah) itu, bukan manusia biasa. Nabi dipaksa harus bukan manusia, itu justru kemauan orang-orang yang ingkar kepada kenabian para Rasul Allah tersebut. Mereka meremehkan kemanusiaan para Rasul itu.

QS. Al-Mukminun[23]: 24
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "ORANG INI TIDAK LAIN HANYALAH MANUSIA SEPERTI KAMU, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.

QS. Al-Anbiya’[21]: 3
لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ ۗ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ ۖ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ
(Lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "ORANG INI TIDAK LAIN HANYALAH SEORANG MANUSIA (JUA) SEPERTI KAMU, maka apakah kamu menerima sihir itu. Padahal kamu menyaksikannya?"

QS. Al-Mukminun[23]: 33
وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ
Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: "(ORANG) INI TIDAK LAIN HANYALAH MANUSIA SEPERTI KAMU, DIA MAKAN DARI APA YANG KAMU MAKAN, DAN MEMINUM DARI APA YANG KAMU MINUM.”

Begitu juga soal wahyu ini. Menurut saya, berlebihan jika dikatakan SEMUA ucapan, sikap, dan perilaku Nabi SAW itu adalah wahyu. Tambah parah berlebihannya itu, saat dikatakan bahwa semua Hadis-Hadis yang sahih, dan Hadis Qudsi yang sahih, adalah wahyu yang berdiri sendiri selain Qur’an. Semua jenis Hadis yang saya sebut barusan, itu bukan Nabi itu sendiri. Ingat, Hadis-Hadis, BUKAN Nabi itu sendiri!

Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah Hadis riwayat Bukhari, Muslim, dan lainnya, yang saya kira sahih. Waktu itu ada tiga orang Sahabat Nabi yang kemelete (sok alim), mengadu kepada istri Nabi. Orang pertama mengatakan tidak akan menikah. Orang kedua mengatakan, tidak akan makan daging. Dan orang ketiga mengatakan, tidak akan tidur di kasur.

Mendengar ucapan ketiga Sahabat tadi, Rasululllah pun menjawab yang seakan-akan teguran untuk mereka yang kemelete itu. “Demi Allah,” kata Rasul, “sesunguhnya akulah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya dibanding kalian. Tetapi, aku ya berpuasa, ya berbuka. Aku ya salat, ya tidur. Dan aku juga menikahi perempuan…”

Oh, Nabi. We do love you.... Habiibiy sallaamun ‘alaik

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam



Jumat, 06 Desember 2019

WAHYU TAK SELALU ONLINE


—Saiful Islam—

“Tidak ada wahyu yang berdiri sendiri selain Qur’an…”

Tampkanya saya harus memantapkan konsep wahyu dulu. Sebelum membahas metodologi, Hadis, Hadis Qudsi, Sejarahnya, filsafat (kaidah) menyikapi Hadis, asbabun nuzul, dan lain-lain. Sebab beberapa pertanyaan yang menguji, tampaknya belum benar-benar ngeh dengan tulisan-tulisan sebelumnya tentang wahyu. Minta lebih diperjelas lagi. Karena ini marathon (paling tidak 60 tulisan untuk jadi buku) dan bukan sprint, saya akan mematangkan dulu konsep wahyu ini.

Seorang kawan meminta supaya pengertian wahyu diperjelas. Sebelum menafsirkan maksud QS.53:4, wa maa yanthiqu ‘an al-hawaa in huwa illaa wahy yuuhaa (Yang diucapkan Nabi Muhammad itu bukan berdasar keinginannya, tetapi wahyu yang diwahyukan kepadanya).

Ia menulis begini. Ketika kita merujuk pada literatur Ilmu al-Qur’an, diperoleh pengertian wahyu adalah pengetahuan yang didapat seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah. Baik dengan melalui perantara ataupun tidak, melalui suara yang terjelma dalam telinga, atau tanpa suara sama sekali. Adapun bentuk turunnya wahyu, bisa berupa wahyu secara langsung, wahyu yang disampaikan ke dalam hati Rasulullah secara langsung tanpa perantara.

Atau bisa juga wahyu berbentuk suara, yakni wahyu yang langsung sampai ke pendengaran Rasulullah tanpa ada seorang pun yang bisa mendengarnya. Bisa juga wahyu melalui perantara Jibril. Malaikat penyampai wahyu membawa pesan Tuhan untuk dikabarkan kepada Rasulullah sebagaimana yang masyhur terjadi pada al-Qur’an.

Nah pengertian wahyu menurut Saiful itu yang mana? Apa jangan-jangan pengertian sempit bahwa wahyu itu hanya yang disampaikan melalui perantara Jibril saja? Sehingga hanya al-Qur’an saja yang berupa wahyu sementara Hadis (mutawatir dan sahih) bukanlah wahyu?

***

Baiklah. Soal QS. Al-Najm[53]: 4. Yang diucapkan Nabi SAW itu bukan berdasar keinginannya, tetapi wahyu yang diwahyukan kepadanya. Yang diucapkan Nabi itu, yang dimaksud adalah Qur’an. Jelas sekali. Bukan yang lain. Jadi bukan semuanya yang diucapkan Nabi itu adalah Qur’an. Tidak mungkin semua ucapan Nabi adalah wahyu. Yang wahyu itu yang diucapkan Nabi itu, memang yang Qur’an saja. Mesti Qur’an memang firman Allah, tapi Qur’an memang diucapkan Nabi.

Buktinya, baca tulisan sebelumnya QUR’AN MENEGUR NABI. Kalau betul semua yang diucapkan Nabi adalah wahyu, pastilah Nabi tidak akan pernah keliru. Masak ada wahyu salah?! “Hai Nabi, kenapa Engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan untukmu?!” begitu redaksi QS.66:1.

Gampangnya, ada dua fungsi dalam diri Nabi SAW itu. Pertama, fungsi Nabi sebagai manusia biasa. Kedua, fungsi Nabi SAW sebagai utusan Allah (Rasulullah). Dasarnya, seperti QS.18:10. Nah, sebagai manusia biasa, ucapan Nabi itu bukan wahyu. Karenanya, bisa benar dan bisa juga salah. Begitu juga sikap dan keputusan beliau. Tetapi, ketika yang diucapkan Nabi itu adalah ayat-ayat Qur’an, barulah itu wahyu. Yang tidak mungkin salah selamanya! Di sinilah fungsi beliau sebagai Rasul Allah.

Jangan pernah mengira. Bahwa sejak Nabi pertama kali mendapat wahyu Qur’an, itu langsung otomatis Jibril menjadi asisten Nabi yang bisa dihubungi kapan saja. Atau jangan pernah menganggap, sejak dipilih sebagai Rasul, itu wahyu selalu connect dengan Nabi. Wahyu kepada Nabi, itu tidak selalu on. Tidak selalu online. Tetapi kadang offline. Proses pewahyuan kepada Nabi, itu terjadi secara gradual. Historis, periodik selama kurang lebih 23 tahun. Nabi itu kadang mendapat wahyu, kadang tidak. Wahyu itu kadang nyambung, kadang terputus.

Yang menganggap semua perkataan Nabi, semuanya adalah wahyu, itu dari awal—entah sadar atau tidak—meyakini bahwa ada wahyu lain selain Qur’an. Tentu saja, keyakinan itu tidak mempunyai pijakan yang kuat. Sangat rapuh, malah. Pasti akan mengalami kerancuan-kerancuan logika. Pikirannya akan bertabrakan sendiri. Biasanya pijakannya hanya Hadis-Hadis. Qur’an hanya dijadikan tafsirnya Hadis. Terbalik. Tak jarang malah, Qur’an (yang sudah jelas-jelas pastinya dari Nabi) dilupakan.

Selanjutnya, tentang literatur ‘Ulumul Qur’an. Kalau belajar tanpa kritik, hanya ‘aamiin’ saja, memang akan begitu ceritanya. Makanya saya kritisi. Tidak pernah ada info dari Qur’an bahwa wahyu yang sampai kepada Nabi SAW itu melalui penampakan Jibril, atau melalui lonceng, atau melalui suara. Wahyu yang sampai kepada Nabi SAW, itu hanya melalui satu cara. Yaitu langsung ke hati Nabi melalui Jibril yang tidak menampakkan diri. Baca lagi tulisan sebelumnya, WAHYU KEPADA NABI SAW.

Jadi sebagaimana definisi yang telah saya buat, wahyu adalah pesan Tuhan kepada seseorang yang Dia pilih (al-mushtofa) melalui media tertentu. Nah, proses pewahyuan khusus kepada Nabi SAW, itu hanya melalui satu cara! Yaitu pesan Tuhan yang dibawa Malaikat Jibril langsung ke dalam hati Nabi!!

Kok bisa pengertian wahyu dibatasi hanya penelusuran ayat-ayat Qur’an saja? Karena proses pewahyuan, ini masalah gaib. Urusan metafisika. Soal pengetahuan eskatologi. Maka infonya harus SEBATAS info dari Qur’an saja. Akal siapa pun, termasuk akal Nabi SAW, itu tidak akan tahu hal-hal gaib demikian, KECUALI mendapat info dari Qur’an. Sebaiknya baca lagi AKAL NABI SAW.

Maka definisi ini, bukan saya persempit. Atau definisi sempit. Tetapi informasi dari Qur’an tentang wahyu yang sampai kepada Nabi, itu memang HANYA terjadi dengan satu cara itu saja. Masak saya mau menambah-nambahi sesuatu hal metafisik yang tidak ada infonya dari Qur’an? Ya, mengada-ada itu namanya. Wong Nabi saja tidak berani kebablasan kok soal eskatologi ini. Apalagi ngarang-ngarang. Baca misalnya QS.6:50, QS.7:187-188, QS.6:59, dan lain-lain.

Jadi pertanyaan kawan itu, “Sehingga hanya al-Qur’an saja yang berupa wahyu sementara Hadis (mutawatir dan sahih) bukanlah wahyu?” Maka saya jawab secara singkat dulu: bukan. Hadis mutawatir dan sahih itu BUKAN wahyu. Tidak ada wahyu yang berdiri sendiri selain Qur’an.

Ada kaidah (rumus), kurang lebih begini: Asal dari ibadah mahdhah, itu HARAM sampai ada Qur’an yang menyuruh. Maka untuk dunia Tafsir Hadis, izinkan saya menyumbang kaidah berikut: Asal dari hal-hal metafisika itu TIDAK DIKETAHUI dan HARAM DIIMANI, sampai ada Qur’an yang menginfokan.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

Kamis, 05 Desember 2019

AKAL NABI SAW


—Saiful Islam—

“OK, kalau wahyu, Qur’an Surat apa ayat berapa??? Pasti tidak bisa jawab! Tanpa sadar, kita cuma ikut-ikutan mempercayai ada wahyu lain selain Qur’an!! Alamak!!!”

Sederhananya, objek yang bisa diterima oleh akal manusia, itu ada dua. Yaitu, pertama adalah objek fisik. Dan kedua adalah objek metafisik (gaib atau eskatologi). Objek fisik, itu seperti gelas, globe, mouse, buku, meja, laptop, smartphone, dan lain semisalnya. Intinya semua materi fisik, itu bisa diketahui oleh akal manusia. Baik yang berupa bentuk fisiknya, maupun hasil laporan observasinya dalam bentuk teks maupun audio visual.

Sedangkan objek metafisik (gaib), itu seperti Tuhan, surga, neraka, malaikat, bidadari, pahala dan dosa, dan semisalnya. Nah, objek gaib ini, tidak akan bisa diterima oleh akal, kecuali ada informasi yang diimani. Kenapa orang-orang Ateis, itu tidak percaya Tuhan, tidak percaya surga dan neraka? Karena akal manusia memang tidak akan bisa mengobservasi hal-hal gaib (metafisik) itu!

Akal manusia itu memang bisa mengetahui hal-hal fisik. Akal manusia itu bisa membaca hasil-hasil observasi. Menangkap hasil-hasil laporan ilmu pengetahuan. Baik yang teoritis (Sains), maupun yang aplikatif (Teknologi). Akal ini juga mampu melakukan analisis (proses berpikir) dari data-data yang disimpan di memori otak. Bukan hanya itu, akal manusia—tepatnya otak kanan—juga mempunyai kemampuan untuk berimajinasi atau berkhayal.

Nah, kemampuan akal yang bisa berkhayal ini, harus selalu diwaspadai. Karena ia memang muncul dalam bentuk gambar-gambar. Banyak yang meyakininya sebagai sebuah fakta, padahal sejatinya adalah buah dari berkhayal saja. Coba bayangkan: saat ini tiba-tiba seekor kucing putih yang berkepala kuda ada di depan Anda. Kucing berkepala kuda ini berkaki 6 kecil yang memiliki sayap yang lebar. Ekornya dua, panjang satu meter. Ia bilang, “I love you,” kepada Anda. Muncul kan di kepala Anda?!

QS. Al-Naml[27]: 65
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
Katakanlah: "TAK SEORANG PUN DI LANGIT DAN DI BUMI YANG MENGETAHUI PERKARA YANG GAIB, KECUALI ALLAH.” Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.

Sekarang saya mau tanya. Proses pewahyuan, itu hal fisika atau hal metafisika (gaib)? Jelas, proses pewahyuan sebagai pesan Tuhan yang disampaikan kepada seseorang, itu adalah perkara gaib. Maka informasi terkait proses pewahyuan yang gaib ini, harus berdasar informasi Qur’an saja! Kenapa harus Qur’an saja? Karena Nabi SAW pun pasti mengetahui hal-hal gaib seperti ini hanya berdasar Qur’an saja!

Kalau ada Hadis-Hadis, maka HARUS mendukung informasi Qur’an. Tetapi TIDAK BOLEH MELEBIHI informasi Qur’an. Berkali-kali sudah saya ingatkan, harus ekstra waspada dan hati-hati kalau ada informasi  metafisika (gaib/eskatologi) yang melebihi Qur’an. Kelebihan itu dari mana? Dari Nabi. OK, Nabi dari mana? Dari wahyu. OK, kalau wahyu, Qur’an Surat apa ayat berapa??? Pasti tidak bisa jawab! Tanpa sadar, kita cuma ikut-ikutan mempercayai ada wahyu lain selain Qur’an!! Alamak!!!

Berkali-kali Nabi SAW mengatakan bahwa beliau tidak mengetahui hal gaib. Kecuali diberi infonya oleh Allah melalui Qur’an. Beliau juga mengatakan bahwa beliau bukan malaikat. Karena akal Nabi sebagai manusia, itu memang sama dengan akal manusia yang lain. Yaitu tidak akan tahu hal gaib kecuali diberi info oleh Qur’an. Alias, hanya akan tahu hal-hal gaib SEBATAS info dari pesan Allah (wahyu), yakni Qur’an. Berikut ayatnya.

QS. Al-An’am[6]: 50
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
Katakanlah (Muhammad): Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, DAN TIDAK (PULA) AKU MENGETAHUI YANG GAIB DAN TIDAK (PULA) AKU MENGATAKAN KEPADAMU BAHWA AKU SEORANG MALAIKAT. AKU TIDAK MENGIKUTI KECUALI APA YANG DIWAHYUKAN KEPADAKU. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"

Sangat gamblang ayat di atas bahwa sekelas Nabi sekali pun, itu tidak tahu hal gaib. Sampai Allah memberi info tentang hal gaib itu. Asalnya, Nabi itu tidak tahu apa itu surga, apa itu neraka, apa itu hari berbangkit (yaum al-ba’ats), dan semisalnya. Barulah setelah ada info ayat-ayat Qur’an yang bercerita tentang surga, neraka, yaum al-ba’ts, kiamat, itu Nabi pun lantas tahu. Beliau kemudian menceritakannya kepada kita.

QS. Al-A’raf[7]: 188
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. DAN SEKIRANYA AKU MENGETAHUI YANG GAIB (METAFISIKA), TENTULAH AKU MEMBUAT KEBAJIKAN SEBANYAK-BANYAKNYA. Dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain HANYALAH pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Bahkan sekelas Nabi sekali pun, itu menunggu info dari Allah untuk hal-hal gaib. Jadi soal-soal gaib (metafisika atau eskatologi), itu Nabi memang selalu menunggu info dari Allah. Nabi jujur, bahwa beliau memang tidak akan tahu hal-hal gaib itu. Sampai Allah memberi info kepada beliau. Berikut ayatnya.

QS. Yunus[10]: 20
وَيَقُولُونَ لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۖ فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ
Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) SUATU KETERANGAN (MUKJIZAT) dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya YANG GAIB ITU KEPUNYAAN ALLAH, sebab itu TUNGGULAH saja. SESUNGGUHNYA AKU BERSAMA KAMU TERMASUK ORANG-ORANG YANG MANUNGGU.

QS. Hud[11]: 31
وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ ۖ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ
Dan aku TIDAK mengatakan kepada kamu: "Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah.” DAN AKU TIDAK MENGETAHUI YANG GAIB. Dan TIDAK (pula) aku mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah malaikat.” Dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: “Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka.” Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.

QS. Hud[11]: 49
تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
Itu adalah di sebagian BERITA-BERITA GAIB YANG KAMI WAHYUKAN KEPADAMU (MUHAMMAD). TIDAK PERNAH KAMU MENGETAHUINYA DAN TIDAK (PULA) KAUMMU SEBELUM INI. Maka bersabarlah. Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Tidak pernah ada info dari Qur’an bahwa Nabi bisa tahu hal-hal gaib dengan sendirinya. Ini memang tidak akan pernah mungkin. Mustahil selamanya. Tidak pernah ada info dari Qur’an bahwa ada wahyu tidak tertulis. Tidak pernah ada info dari Qur’an bahwa ada wahyu lain selain Qur’an yang sampai kepada Nabi SAW. Tidak pernah ada wahyu kedua (second revelation). Keyakinan wahyu lain selain Qur’an, pasti akan bertabrakan dengan ayat-ayat yang sudah saya ceritakan di atas. Wahyu kepada Nabi, itu memang hanya Qur’an saja.

“Apakah ia mempunyai pengetahuan tentang YANG GAIB, sehingga ia bisa melihat?” kata QS.53:35. “Atau mereka punya pengetahuan tentang HAL GAIB, lalu mereka menuliskannya?” kata QS.68:47. Allah tidak akan memperlihatkan hal-hal gaib itu kepada siapa pun (QS.72:26), kecuali Rasul yang Dia pilih. Itu pun Rasul masih menunggu info tentang hal gaib itu dari-Nya (QS.10:20).

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Walloohu a’lam bishshowaab. Salam

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...