Selasa, 09 Juni 2020

MEMBACA VERSI IBNU ABBAS


—Saiful Islam*—

“Jika disebut taqorro’a, maka itu artinya adalah mengerti dan faham akan sesuatu (tafaqqoha)…”

Lisan al-Arab meceritakan dengan sangat menarik kata al-qiroo’ah itu. Bahwa nama Al Qur’an, itu diambil dari kata dasar qoro’a ini.

Menurut Abu Ishaq al-Nahwiy, firman Allah yang turun kepada Nabi SAW itu disebut kitaab, qur’aan dan furqoon. Makna al-qur’aan adalah mengumpulkan. Karena di dalamnya terkumpul atau mengandung beberapa Surat. Ia juga mengutip tafsir Ibnu Abbas terkait QS.75:17-18, “Ketika Kami menjelaskannya kepadamu melalui bacaan, maka amalkanlah.” Tentu saja, untuk bisa mengamalkan atau mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, itu harus dan wajib dipahami dulu.

Tanpa melalui proses pemahaman, pasti pembaca Qur’an, itu tidak akan bisa mengamalkan isi kandungan Al Qur’an itu sendiri!

Menurut Ibnu al-Atsir, berkali-kali disebutkan di dalam Hadis kata-kata al-qiroo’ah, al-iqtiroo’, al-qoori’ dan al-qur’aan. Asalnya semua redaksi itu berarti mengumpulkan. Dinamai Al Qur’an, itu karena mengumpulkan kisah-kisah, perintah, larangan, janji, ancaman, ayat-ayat dan beberapa Surat yang saling melengkapi.

Di dalam Hadis Ibnu Abbas bahwa Nabi tidak membaca ayat Qur’an pada salat Dhuhur dan Asar. Kemudian di akhir beliau bersabda, “Wa maa kaana Robbuka nasiyyan: Tuhanmu tidak lupa.” Maknanya adalah Nabi tidak mengeraskan bacaannya pada kedua salat tersebut. Atau tidak memperdengarkan bacaannya itu.

Kalimat, “Tuhanmu tidak lupa,” seakan-akan itu adalah jawaban Nabi setelah melihat sekelompok orang yang membacanya keras. Yang menganggap, kalau dibaca keras akan dicatat Malaikat. Kalau tidak dibaca keras, maka tidak dicatat Malaikat. Padahal dua-duanya Allah tidak lupa untuk membalas pahalanya.

Jika disebut taqorro’a, maka itu artinya adalah mengerti dan faham akan sesuatu (tafaqqoha). Kata taqorro’a juga berarti beribadah (tanassaka).

Qoro’a (membaca) itu kata kerja (fi’l). Pelakunya (subjeknya atau faa’il-nya) disebut qoori’ (pembaca). Itu bentuk tunggalnya (singular atau mufrod). Adapun bentuk pluralnya (jama’) disebut qurro’ (para pembaca).

Adapun Kamus Al-Munawwir menceritakan arti qoro’a dengan berbagai derivasinya antara lain: menelaah, mempelajari, meneliti, menyelidiki dengan seksama, yang beribadah, yang bagus bacaannya, yang lebih fasih bacaannya dan penelitian (al-istiqroo’).

Sedangkan Kamus Hans Wehr: A Dictionary of Modern Written Arabic ditemukan arti antara lain sebagai berikut: Seni membaca (art of reading/reciting), mengajar (to teach), meneliti (to investigate), menguji (to examine), melacak/menelusuri (to explore) dan mencari (to search).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring pun mengartikan membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).

Marilah sekali lagi kita perhatikan dengan seksama, kaitan antara membaca ayat-ayat Allah (Al Qur’an) dengan kepahaman, pengertian, ilmu pengetahuan, dan akal pikiran. Juga buahnya yang berupa pengamalan dari kepahaman itu. Baik berupa penyikapan, ucapan, sampai tindakan nyata. Supaya tidak terlalu makan tempat, saya cantumkan terjemahnya saja.

QS. Al-Thalaq[65]: 11

Seorang Rasul yang MEMBACAKAN kepadamu ayat-ayat Allah yang MENERANGKAN (bermacam-macam hal) supaya dia MENGELUARKAN orang-orang yang beriman dan beramal saleh DARI KEGELAPAN KEPADA CAHAYA.

QS. Al-Ahqaf[46]: 29

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (UNTUK) MEMBERI PERINGATAN (DENGAN QUR’AN ITU).

QS. Fushilat[41]: 3 & 44

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya. Yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang MENGETAHUI.

Jikalau Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Qur’an itu adalah PETUNJUK dan PENAWAR bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada SUMBATAN, sedang Al Qur’an itu suatu KEGELAPAN bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh".

QS. Saba’[34]: 43

Dan apabila DIBACAKAN kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: "Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin MENGHALANGI kamu dari apa yang disembah oleh bapak-bapakmu.” Dan mereka berkata: "(Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah KEBOHONGAN yang diada-adakan saja". Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini tidak lain hanyalah SIHIR yang nyata.”

QS. Al-Ahzab[33]: 34

Dan INGATLAH (PELAJARAN) APA YANG DIBACAKAN DI RUMAHMU DARI AYAT-AYAT ALLAH DAN HIKMAH. Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui.

QS. Al-Naml[27]: 92

Dan supaya aku MEMBACAKAN AL QUR’AN (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat PETUNJUK maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya. Dan barangsiapa yang SESAT (tidak mau Qur’an), maka katakanlah: "Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang PEMBERI PERINGATAN (dengan Qur’an itu).”

QS. Thaha[20]: 114

Dan JANGANLAH kamu TERGESA-GESA MEMBACA AL QUR'AN sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu. Dan katakanlah: "Ya Tuhanku, TAMBAHKANLAH kepadaku ILMU PENGETAHUAN."

QS. Maryam[19]: 58

Apabila DIBACAKAN AYAT-AYAT ALLAH yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan BERSUJUD dan MENANGIS.

QS. Al-Isra’[17]: 107

Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi PENGETAHUAN sebelumnya apabila AL QUR’AN DIBACAKAN KEPADA MEREKA, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.

QS. Yunus[10]: 94

Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang APA YANG KAMI TURUNKAN KEPADAMU (AL QUR’AN), maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu JANGANLAH SEKALI-KALI kamu temasuk orang-orang yang RAGU-RAGU.

QS. Al-Anfal[8]: 2

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka. Dan apabila DIBACAKAN AYAT-AYATNYA BERTAMBAHLAH IMAN MEREKA (KARENANYA), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

QS. Al-A’raf[7]: 204

Dan apabila DIBACAKAN AL QUR’AN, maka SIMAKLAH DENGAN SEBAIK-BAIKNYA. Dan PERHATIKANLAH DENGAN TENANG agar kamu mendapat rahmat.

QS. Al-An’am[6]: 25 & 151

Dan di antara mereka ada orang yang MENDENGARKAN BACAAN QUR’ANMU. Padahal Kami telah MELETAKKAN TUTUPAN DI ATAS HATI MEREKA (SEHINGGA MEREKA TIDAK) MEMAHAMINYA DAN (KAMI LETAKKAN) SUMBATAN DI TELINGANYA. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al Qur’an ini tidak lain HANYALAH DONGENG orang-orang dahulu."

Katakanlah: "Marilah KUBACAKAN apa yang DIHARAMKAN atas kamu oleh Tuhanmu. Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak. Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka. Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu SUPAYA KAMU MEMAHAMI(NYA).

QS. Ali Imran[3]: 101

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang BERPEGANG TEGUH KEPADA ALLAH (AL QUR’AN), maka sesungguhnya IA TELAH DIBERI PETUNJUK KEPADA JALAN YANG LURUS.

QS. Al-Baqarah[2]: 44

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu MEMBACA AL-KITAB. Maka tidaklah kamu BERPIKIR?!

Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, Beraksi ala Pemenang, dll

QIRO’AH QUR’AN


—Saiful Islam*—

“Dipahami dengan segenap akal kecerdasan, dipraktikkan dengan sepenuh kerinduan dan kemampuan serta disampaikan kepada sesama dengan seutuh kesabaran dan kerendahan hati…”

Selain talaa, kata ‘membaca’ dalam Qur’an itu disebut dengan al-qiroo’ah. Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-qiroo’ah berarti menyusun (mengumpulkan) huruf-huruf dan kata-kata secara bagus dan indah. Meskipun qoro’a dan jama’a artinya berdekatan, tetapi tidak bisa dipakai untuk semua konteks kalimat. Misalnya, tidak boleh dikatakan, “Qoro’tu al-qowm,” sedangkan yang dimaksud adalah “Aku berkumpul dengan suatu kaum.” Lebih tepatnya, al-qiroo’ah berarti menyusun.

Kalau seseorang mengucapkan hanya dengan sebuah huruf, maka itu tidak bisa disebut qiroo’ah. Bentuk kata al-qur’aan, itu aslinya adalah mashdar (semacam kata benda atau kata sifat). Bentuknya seperti kufroon dan rujhaan.

QS. Al-Qiyaamah[75]: 17-18
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di kalbumu) dan MENYUSUNNYA.

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
Apabila Kami telah selesai MEMBACAKANNYA, maka ikutilah BACAANNYA itu.

Jika dikatakan, “Taqorro’tu,” maka artinya adalah “Aku menjadi paham (tafahhamtu).” Dan jika dikatakan, “Qooro’tuh,” itu artinya adalah “Aku mempelajarinya (daarostuh).”

Menurut Ibnu Abbas, QS.75:17-18 di atas, itu maksudnya adalah begini: “Ketika Kami mengumpulkan dan mengokohkan ayat-ayat Qur’an itu di dadamu, maka amalkanlah.” Jadi, selain untuk memikir-mikirkan maknanya (tadabbur al-ma’naa), serta berusaha memahaminya, membaca Qur’an, itu memang sudah sepatutnya ada kerinduan dan upaya untuk mengamalkannya.

Membaca Qur’an, itu memang bukan hanya sekadar dirapal dengan pamer lengkingan dan merdunya suara. Juga bukan hanya sekadar dihafalkan teksnya, tanpa dipahami kandungannya dan tanpa keinginan mempraktikkannya langsung dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utama Qur’an itu, adalah ini: dipahami dengan segenap akal kecerdasan, dipraktikkan dengan sepenuh kerinduan dan kemampuan serta disampaikan kepada sesama dengan seutuh kesabaran dan kerendahan hati.

Kata Al Qur’an, itu kemudian menjadi nama khusus untuk Al-Kitab (ayat-ayat Qur’an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Maka Al Qur’an itu lantas menjadi tanda atau petunjuk bagi beliau SAW. Sebagaimana Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Injil kepada Nabi Isa AS.

Menurut sebagian ulama, Al-Kitab yang turun kepada Nabi dinamai Al Qur’an, itu karena Al Qur’an menghimpun intisari kitab-kitab Allah terdahulu. Bahkan karena Al Qur’an itu menghimpun inti sari semua ilmu pengetahuan. Sebagaimana ditunjukkan oleh QS.12:111.

QS. Yusuf[12]: 111
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya pada KISAH-KISAH mereka itu terdapat PELAJARAN bagi orang-orang yang menggunakan AKALNYA. AL QUR’AN ITU BUKANLAH KISAH YANG DIBUAT-BUAT, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, MENJELASKAN SEGALA SESUATU, serta sebagai PETUNJUK dan RAHMAT bagi kaum yang beriman.

Membaca yang menggunakan redaksi qoro’a, itu misalnya seperti diceritakan oleh beberapa ayat Qur’an berikut.

QS. Al-Nahl[16]: 89
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) UNTUK MENJELASKAN SEGALA SESUATU dan PETUNJUK serta RAHMAT dan KABAR GEMBIRA bagi orang-orang yang berserah diri.

QS. Al-Zumar[39]: 28
قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
(Ialah) AL QUR’AN DALAM BAHASA ARAB yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) SUPAYA MEREKA BERTAKWA.

QS.Al-Isra’[17]: 106
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur AGAR KAMU MEMBACAKANNYA PERLAHAN-LAHAN KEPADA MANUSIA. Dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.

QS.  Al-Rum[30]: 58
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ
Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Qur’an ini SEGALA MACAM PERUMPAMAAN untuk manusia.

QS. Al-Isra’[17]: 78
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

QS. Al-Waqi’ah[56]: 77-81
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah BACAAN yang sangat mulia.

فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ
Pada Kitab yang terpelihara.

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
Tidak akan bisa ‘menyentuhnya’ kecuali orang-orang yang disucikan.

تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Diturunkan dari Tuhan semesta alam.

أَفَبِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ
Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur’an ini?!

Adapun yang berarti membacakan, redaksinya berasal dari kata aqro’a. Jika dikatakan, “Aqro’tu Fulaan,” itu artinya membacakan sesuatu kepada Fulan. Makna seperti ini juga terdapat dalam QS.87:6.

QS. Al-A’la[87]: 6
سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَىٰ
Kami akan MEMBACAKAN (AL QUR’AN) KEPADAMU (MUHAMMAD), maka kamu tidak akan lupa.

Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, Beraksi ala Pemenang, dll

MAKNA TILAWAH QUR’AN


—Saiful Islam—

“Membaca, itu tadabbur al-ma’naa: memikir-mikirkan dan mempertimbangkan maknanya…”

Kata ‘membaca’ dalam QS.35:29, itu menggunakan redaksi yatluuna. Kata dasarnya adalah talaa.

QS. Fathir[35]: 29
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
Sesungguhnya orang-orang yang MEMBACA KITAB ALLAH (AL QUR’AN), mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.

Menurut al-Raghib al-Ashfahany dalam al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Kata talaa itu berarti mengikuti secara berangsur-angsur di dalam sebuah kelompok atau komunitas tertentu. Sehingga selain kelompok itu, tidak termasuk. Mengikuti itu, bisa secara fisik, hukum, dan bacaan (al-qiroo’ah) atau memikirkan makna (tadabbur al-ma’naa).

Membaca ayat-ayat Allah (QS.3:113). Kata al-tilaawah (membaca) di sini, berarti khusus mengikuti kitab-kitab Allah. Bisa berupa membaca (qiroo’ah), atau berupa tulisan (irtisaam) kandungannya: perintah, larangan, motivasi, dan ancaman. Intinya, yang dianggap terkait dengan baca tulis seperti itu, khusus disebut qiroo’ah. Setiap tilaawah adalah qiroo’ah. Tetapi tidak semua qiroo’ah adalah tilaawah.

Al-Tilaawah dan al-taliyyah adalah yang tinggal dari yang dibaca. Yakni yang diikuti.

Ketika di dalam Qur’an kata membaca itu disebut dengan talaa, maka si pembaca wajib mengikutinya.

Sedangkan menurut Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab, begini. Jika dikatakan, “Aku membaca Qur’an secara tilaawah,” maka yang dimaksud adalah aku membacanya (qoro’tuh). Yakni dengan redaksi qoro’a (membaca). Tidak hanya untuk Qur’an. Kata talaa itu berlaku umum untuk semua kalimat, menurut sebagian orang Arab.

Jadi kesimpulan sementaranya begini. Membaca dengan kata talaa, itu maksudnya adalah membaca dengan kata qoro’a. Sebagaimana disebut oleh Lisan al-Arab. Sedangkan kata qoro’a, itu sendiri bermakna MEMIKIR-MIKIRKAN ATAU MEMPERTIMBANGKAN MAKNANYA, sebagaimana disebut oleh Al-Mufradat di atas. Apalagi, talaa itu umum yang juga meliputi qoro’a.

Ayat-ayat di dalam Qur’an yang menggunakan kata dasar talaa, ini antara lain sebagai berikut:

QS. Ali Imran[3]: 58
ذَٰلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
Demikianlah (kisah 'Isa), Kami MEMBACAKANNYA kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) AL QUR’AN YANG PENUH HIKMAH.

QS. Yunus[10]: 15 & 16
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ ۙ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَٰذَا أَوْ بَدِّلْهُ ۚ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۖ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Dan apabila DIBACAKAN kepada mereka AYAT-AYAT KAMI yang jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah.” Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).”

قُلْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلَا أَدْرَاكُمْ بِهِ ۖ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Katakanlah: "Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak MEMBACAKANNYA kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu". Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka Apakah kamu tidak MENGGUNAKAN AKAL?

QS.Al-Anfal[8]: 31
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَٰذَا ۙ إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Dan apabila DIBACAKAN kepada mereka AYAT-AYAT KAMI, mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala.”

QS. Maryam[19]: 73
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا
Dan apabila DIBACAKAN kepada mereka AYAT-AYAT KAMI yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?"

QS.Al-Hajj[22]: 72
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكُمُ ۗ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Dan apabila DIBACAKAN di hadapan mereka AYAT-AYAT KAMI yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: "Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?" Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

QS.Al-Ankabut[29]: 51
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu AL-KITAB (AL QUR’AN) sedang ia DIBACAKAN kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur’an) itu terdapat RAHMAT yang besar dan PELAJARAN bagi orang-orang yang beriman.

QS. Al-Anfal[8]: 2
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka. Dan apabila DIBACAKAN AYAT-AYAT-NYA BERTAMBAHLAH IMAN MEREKA (KARENANYA), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

QS.Al-Shaffat[37]: 3
فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا
Dan demi (rombongan) yang MEMBACAKAN PELAJARAN.

QS. Al-Baqarah[2]: 121
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Orang-orang yang telah Kami berikan AL-KITAB kepadanya, mereka MEMBACANYA dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Walloohu a’lam bishowaab....

GAGAL FOKUS MEMBACA QUR’AN

—Saiful Islam—

 “Bilang membaca, tapi sama sekali tidak mengerti, itu bukan membaca. Tapi melamun. Atau merapal mantra…”

 Seorang kawan dengan berdasar QS.35:29-30 dan QS.73:20 berkesimpulan bahwa pertama, membaca Qur’an itu tanpa syarat mengerti. Kedua, itu sebagai jawaban pernyataan saya bahwa tidak ada satu ayat pun yang menyuruh membaca Qur’an sebagai ajang untuk berburu pahala.

 Baiklah, saya tanggapi poin pertama dulu. Sebenarnya sudah bisa dipahami. Bahwa yang namanya membaca, itu pasti selalu terkait dengan informasi alias pengetahuan. Ilmu. Dari ilmu berbuah pemahaman. Dan dari pemahaman menghasilkan perbuatan.

 Sudah otomatis, yang namanya membaca itu pasti melibatkan akal dan hati untuk memproses informasi itu. Dengan kata lain, yang namanya membaca itu harus dimengerti. Kecuali tentu saja, anak kecil yang baru belajar membaca—mengenal huruf-huruf dan kata-kata. Hanya anak kecil yang identik dengan membaca tanpa syarat mengerti. Atau mungkin cara beragama kita, ini masih seperti anak kecil.

 Pada QS.35:29-30 dan QS.73:20, memang tidak tertulis secara teks ‘bacalah untuk dimengerti’ atau ‘bacalah dengan syarat dimengerti’. Tetapi secara konteks, itu sudah bisa dipahami bahwa membaca itu ya memang harus dimengerti. Bahkan anak kecil yang baru belajar membaca huruf pun, itu tujuannya nanti kalau sudah pandai membaca adalah supaya mengerti.

 Kemudian. Memahami Qur’an, itu harus komprehensif. Harus melibatkan ayat-ayat lain. Membaca tujuannya adalah untuk dimengerti, itu misalnya QS.95:1-5. Setelah Allah memerintahkan untuk membaca, lantas disebut pada ayat 4 dan 5: ‘Yang mengajar manusia dengan pena (baca tulis), Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.’

 Rasul pun, itu diutus untuk mengajar Qur’an. Tentu bukan mengajar Tajwid, karena Ilmu Tajwid saat itu belum ada. Yang namanya mengajar, itu transfer pengetahuan. Supaya dengan Qur’an, itu umatnya menjadi mendapat petunjuk. Meskipun sebelum ada Qur’an, mereka dalam kesesatan. Mendapat petunjuk, itu maksudnya betul pengertian dan pemahamannya. Sesat, itu maksudnya salah pengertian dan pemahamannya. Jadi tergantung mengertinya. Ada yang mengertinya benar, disebut mendapat petunjuk. Sebaliknya, ada yang mengertinya itu salah. Disebut sesat.

 QS. Ali Imran[3]: 164

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, YANG MEMBACAKAN KEPADA MEREKA AYAT-AYAT ALLAH, membersihkan (jiwa) mereka, dan MENGAJARKAN KEPADA MEREKA AL-KITAB (QUR’AN) dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya SEBELUM ITU, mereka adalah benar-benar DALAM KESESATAN YANG NYATA.

 Dari membaca itu, manusia menjadi tahu. Dari pengetahuan, itu manusia menjadi mendapat petunjuk. Mana yang benar, mana yang salah. Mana yang harus dilakukan, dan mana yang harus ditinggalkan. Allah sendiri pun menyebut Qur’an, itu salah satunya sebagai petunjuk. Tentu saja, petunjuk itu diperoleh dengan proses olah pikir dan olah rasa. Barulah bisa mengerti dan paham. Lantas bisa membedakan antara yang benar dan salah. Antara yang baik dan yang buruk.

 QS. Al-Baqarah[2]: 2

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; sebagai PETUNJUK bagi mereka yang bertaqwa.

 Yang namanya petunjuk (hudan), itu memang harus dimengerti. Supaya petunjuk itu bermanfaat. Tanpa dimengerti, petunjuk itu tidak akan bermanfaat. Contoh orang Madura yang sama sekali tidak bisa bahasa Jawa, memberi petunjuk kepada orang Jawa yang sama sekali tidak mengerti bahasa Madura. Pastilah petunjuk tersebut tidak ada manfaatnya.

 QS. Al-Nahl[16]: 89

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Qur’an) untuk MENJELASKAN SEGALA SESUATU dan petunjuk serta rahmat dan KABAR GEMBIRA bagi orang-orang yang berserah diri.

 Jadi, Qur’an itu juga sebagai penjelas segala sesuatu. Yang namanya penjelasan (tibyaanan li kull syay’), itu ya memang harus dimengerti. Dipahami. Melibatkan proses olah pikir dan olah rasa. Sudah dijelaskan, tetapi tidak mau dimengerti, maka otomatis penjelasan tersebut menjadi sia-sia. Karena kebermanfaatan sebuah penjelasan, itu paling intinya ya memang di maknanya itu.

 Selain itu, Qur’an itu untuk kabar gembira. Tentu saja, untuk bisa tahu bahwa sebuah informasi itu mengandung kabar gembira, maka informasi itu harus dimengerti. Harus dipahami. Harus mengerti arti dan maknanya. Orang tidak akan bisa paham bahwa sebuah informasi mengandung kabar gembira, kecuali dengan mengerti maknanya. Sehingga ketika Qur’an menyebut dirinya sebagai busyroo, maka syarat utamanya adalah harus dimengerti.

 Sebagaimana QS.15:9, Qur’an itu juga disebut sebagai peringatan (al-dzikr). Namanya peringatan itu memang harus dimengerti. Untuk bisa mengerti, itu selalu melibatkan proses olah pikir dan olah rasa. Makanya oleh QS.2:269, hanya orang yang mengunakan akalnya saja yang bisa mengambil pelajaran dari al-dzikr itu. Siapa pun, tanpa menggunakan akal kecerdasannya, tidak akan bisa mengambil pelajaran dari Qur’an.

 Bahkan jelas sekali pada ayat di bawah ini, Qur’an itu memang untuk dipikirkan. Supaya dimengerti.

 QS. Al-Nahl[16]: 44

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu MENERANGKAN pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan SUPAYA MEREKA MEMIKIRKAN.

 Nabi Muhammad membacakan Qur’an, itu juga supaya menjadi peringatan (hal yang ditakuti) untuk umatnya. Maka umatnya, termasuk kita, itu wajib mengerti. Kalau tidak dimengerti, orang bisa bersuka ria membaca Qur’an setelah ngopi dengan pamer merdunya suara meliuk-liuk dan melengking, padahal yang dibaca adalah ayat azab. Padahal yang sedang dibacanya ayat neraka dan ancaman.

 QS. Al-An’am[6]: 19

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku SUPAYA DENGAN QUR’AN ITU, AKU MEMBERI PERINGATAN KEPADAMU DAN KEPADA ORANG-ORANG YANG SAMPAI AL-QUR’AN (kepadanya).

 Rasul ingin Qur’an ini menjadi peringatan yang di dalamnya ada berita tentang janji dan ancaman, tentang neraka. Terus kita bilang, “Membaca Qur’an, itu tidak harus mengerti.” Itu sama saja kita mencuekin Rasul. Memposisikan Qur’an tidak sebagaimana mestinya. Gagal fokus membaca Qur’an.

 Sehingga. Kata ‘membaca’ dalam kalimat, ‘Innalladziina yatluuna kitaaballooh: sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah…,’ pada QS.35:29, itu sudah otomatis harus dengan usaha untuk mengerti dan memahaminya. Bukan tanpa syarat mengerti. Pemahaman harus dimengerti, itu sudah masuk (include) di dalamnya.

 Kalau tak mau mengerti, ya tidak perlu menggunakan akal pikiran dan perasaan. Dan itu tidak layak disebut membaca. Komat-kamit tanpa melibatkan proses pemahaman dengan akal pikiran dan perasaan, lebih pas disebut merapal mantra. Mengaku sudah membaca. Setelah ditanya, ternyata tidak mengerti sama sekali apa yang telah dibacanya. Itu bukan membaca. Tapi melamun.

 Walloohu a’lam bishowaab....


AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...