Kamis, 11 Juni 2020

TADARUS YANG BENAR


—Saiful Islam*—

“Membaca tanpa dipahami, itu tidak layak disebut tadarus…”

Telinga kita juga kerap mendengar istilah tadarus. Biasanya yang dimaksud adalah tadarus Al Qur’an. Sekilas, dimaknai ‘membaca Al Qur’an’. Sudah benarkah praktik tadarus kita? Apakah tadarus itu hanya untuk Qur’an saja, atau bisa juga untuk selain Qur’an? Benarkah tadarus itu tanpa proses pemahaman? Marilah kita selidiki dari sumber-sumber yang biasa dipakai oleh para pakar tafsir Qur’an.

Dari kata darosa. Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, jika disebut darosa al-daar (sebuah negeri darosa), maka maknanya adalah jejak negeri itu masih ada. Jejak yang masih ada, itu berarti ada sebagiannya yang hilang atau terhapus. Karenanya, kata al-duruus, itu ditafsiri dengan hilang atau hapus. Kalimat yang senada seperti, “Darosa al-kitaabu.”

Maka jika dikatakan, “Darostu al-‘ilma: Aku mempelajari sebuah disiplin ilmu,” itu artinya adalah aku mendapat jejaknya dengan ingatan. Artinya ketika mempelajari sesuatu, itu pasti ada sebagian dilupakan dan sebagian lagi diingat. Biasanya yang diingat, itu yang paling intinya.

Kata darosta ada pada QS.6:105. Darosuu (QS.7:169); tadrusuuna (QS.3:79 dan QS.68:37); yadrusuun (QS.34:44); dan diroosah (QS.6:156). Secara spesifik, kata tadarrus maupun tadaarus, itu tidak dijumpai dalam Al Qur’an. Tetapi jika yang dimaksud adalah tadaarus (ada alif setelah dal), itu artinya adalah mempelajari bersama. Jika dikatakan tadarrus, tampaknya itu hanya bentuk fi’il laazim (intransitive verb atau kata kerja tanpa objek) saja.

Dari kata darosa, itu lantas mucul kata duruus (pelajaran), mudarris (guru atau pengajar), midras (buku), sampai madrosah (sekolah) yang sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia: Madrasah. Seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), dan Madrasah Aliyah (MA). Semuanya berarti sekolah. MI adalah Sekolah Dasar (SD). MTS adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP). MA adalah Sekolah Menengah Atas (SMA). Hanya di-Arab-kan saja.

Lisan al-Arab menceritakan tidak jauh beda. Bahwa darosa itu bisa untuk kata kerja yang butuh objek (transitive verb kalau Inggris-nya), juga bisa untuk yang tak butuh objek (intransitive verb). Arti asalnya adalah menghapus. Baju yang sudah pudar, itu disebut dariis. Karena sebagian kualitasnya ada yang hilang. Semua yang sudah usang, seperti pedang, perisai, helm tempur, baju besi dan semisalnya, bisa disebut al-dirsaan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ketika menafsiri QS.6:105. Bahwa makna kata darosta di situ adalah engkau mempelajari atau diajari.

Jika dikatakan, “Darostu al-kitaab,” maka itu artinya adalah aku menguasai isi buku itu dengan banyak dan sering membacanya. Sehingga aku mudah mengingatnya. Begitu juga redaksi darostu al-suuroh (aku mengingat surat itu) dan contoh-contoh yang semisalnya.

Disebutkan dalam sebuah Hadis: Tadaarosuu al-Qur’aan (tadarusilah Al Qur’an). Maknanya adalah bacalah (iqro’uu) dan perhatikanlah Al Qur’an itu, supaya kalian tidak lupa. Lagi-lagi di sini menggunakan redaksi qoro’a. Silakan perhatikan lagi bahasan qoro’a yang terkait dengan pemahaman.

Ketika perolehan ilmu itu dengan pembacaan yang terus-menerus (kontinyu), maka yang dimaksud membaca di situ, adalah mempelajari.

Jadi, tadarus itu bermakna mempelajari. Yang namanya mempelajari, itu jelas melibatkan akal pikiran. Ada peran kecerdasan. Disebut mempelajari, itu tidak cukup hanya dibaca tanpa memahami. Bukan suara-suara kosong tanpa makna. Perhatikan saja aktivitas belajar mengajar di madrasah. Semuanya terkait pemahaman.

Sebenarnya, tadarus itu berlaku umum. Mempelajari apa pun. Sudah maklum, jika seseorang mempelajari apa pun, itu bertujuan untuk memahaminya. Bahkan dipelajari berulang-ulang supaya menguasainya. Tentu saja untuk kemanfaatan.

Tak terkecuali tadarus Al Qur’an. Ia mesti dipelajari. Dipahami dan lantas diamalkan isi, prinsip, dan petunjuknya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Jadi bukan sekadar dibaca dengan tanpa dipahami. Dibaca tanpa dipahami, itu tidak layak disebut tadarus.

Maka ketika dikatakan tadarus Al Qur’an, tetapi tiba-tiba dikatakan tidak harus dipahami, ini tampaknya ada masalah besar terhadap keberagamaan umat Islam saat ini! Berbahaya jika umat Islam jauh apalagi sampai mencuekin kitab sucinya.

QS. Al-An’am[6]: 105
وَكَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat (Al Qur’an itu) dan supaya mereka mengatakan: "Kamu telah MEMPELAJARI ayat-ayat itu." Dan supaya Kami MENJELASKAN Al Qur’an itu kepada orang-orang yang MENGETAHUI.

QS. Al-A’raf[7]: 169
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا الْأَدْنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ ۚ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ ۗ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: "Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah MEMPELAJARI apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?

QS. Ali Imran[3]: 79
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak patut bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan Kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang RABBANI, KARENA kamu selalu MENGAJARKAN AL KITAB dan disebabkan kamu tetap MEMPELAJARINYA.

QS. Al-Qolam[68]: 37
أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ
Atau adakah kamu mempunyai sebuah Kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu MEMPELAJARINYA?

QS. Saba’[34]: 44
وَمَا آتَيْنَاهُمْ مِنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا ۖ وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ
Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka Kitab-Kitab yang mereka MEMPELAJARINYA. Dan sebelum kamu, Kami tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka seorang pun pemberi peringatan.

QS. Al-An’am[6]: 156
أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَىٰ طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ
(Kami turunkan Al Qur’an itu) agar kalian (tidak) mengatakan: "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami. Dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka PELAJARI.”

Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, Beraksi ala Pemenang, dll

MENTADABBURI AL QUR’AN


—Saiful Islam*—

“Tidak mau memahami Qur’an, bisa-bisa dimarahi Allah…”

Lagi. Sebuah kata di dalam Al Qur’an yang menarik untuk dieksplor terkait tema QUR’AN INSPIRASI LITERASI, ini adalah tadabbur. Tampaknya, kita sudah sering mendengar istilah itu: Tadabbur Qur’an.

Di Qur’an memang ada kalimat berikut: “Mengapa mereka tidak mentadabburi Al Qur’an?” Tentu saja, maksudnya adalah perintah atau sangat dianjurkan mentadabburi Qur’an. Bukan untuk Allah. Tapi untuk kemanfaatan manusia sendiri.

QS. Muhammad[47]: 24
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak MEMPERHATIKAN (YATADABBARUUNA) AL QUR’AN ataukah hati mereka terkunci?

Mengutip Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an, kata yatadabbaruuna, itu hanya terulang dua kali. Yaitu selain QS.47:24 di atas, juga ada pada QS.4:82.

QS. Al-Nisa’[4]: 82
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak MENTADABBURI AL QUR’AN? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

Sedangkan kata yaddabbaru, itu juga hanya terulang dua kali. Yaitu pada QS.23:68 dan QS.38:29.

QS. Al-Mu’minun[23]: 68
أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ
Maka apakah mereka tidak MEMPERHATIKAN PERKATAAN (KAMI), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?

Asal katanya adalah dari dabaro. Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, dubur-nya sesuatu itu adalah lawan kata al-qubl (depan). Yakni belakang.

Terkadang dibaca dubur. Bisa juga dubr. Itu bentuk tunggalnya (singular atau murfad). Adapun bentuk pluralnya (jama’) yaitu adbaar. Misalnya pada QS.8:15-16; QS.8:50; QS.50:40; QS.74:33; QS.15:66; QS.6:45; QS.74:23; dan seterusnya.

Ada Hadis bagus muttafaq ‘alayh yang berbunyi begini. “Laa taqootho’uu WALAA TADAABARUU wa kuunuu ‘ibaadallooh ikhwaanan: Janganlah kalian saling memutus tali silaturahim, JANGANLAH KALIAN SALING MEMBELAKANGI (MELENGOS). Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Penting juga disebutkan di sini. Bahwa al-tadbiir, itu adalah al-tafkiir fii dubur al-umuur. Yakni memikirkan sesuatu setelah diketahui data-datanya.

Sedangkan Lisan al-Arab menceritakan lebih gamblang lagi soal tadabbur itu yang terkait dengan kepahaman. Begini. Dubur-nya setiap sesuatu itu adalah ujungnya atau akhirnya. Yang terakhir.

Jika dikatakan “Dabbaro al-amr” dan “Tadabbarohu,” maka itu artinya adalah melihat akibat atau dampaknya. Alias mempertimbangkan sebab akibatnya. Jarir mengatakan, “Wa laa ta’rifuuna al-amr illaa tadabburon: Kalian tidak akan mengetahui suatu persoalan kecuali dengan cara mentadabburinya.”

Istilah “Al-tadbiir fii al-amr,” itu berarti melihat sebab akibatnya. Sedangkan al-tadabbur, artinya adalah memikir-mikirkan (al-tafakkur fiih).

Dijumpai pula istilah dabbaro al-hadiits. Maksudnya adalah meriwayatkan atau menceritakan sebuah berita dari seseorang. Terutama ketika yang memiliki berita telah wafat.

Ini menurut Ibnu Sidah. Jika dikatakan, “Dabaro al-kitaab yadburuh,” maka itu artinya adalah seseorang telah menulis sebuah buku.

Jadi, yang namanya tadabbur, itu pasti selalu terkait dengan akal, ilmu pengetahuan, dan pemahaman. Yakni mempertimbangkan sebab akibat dari sebuah masalah setelah dikumpulkan data-datanya. Lantas dibuatlah kesimpulannya. Tentu semua ini melibatkan proses pemikiran. Tidak bisa tidak. Yaitu mengumpulan data-data terkait tema atau masalah tertentu. Kemudian dilakukan analisa terhadap data-data yang telah terkumpul itu. Hasilnya adalah kesimpulan.

Maka tadabbur Al Qur’an, itu begini. Ada permasalahan untuk tema atau topik tertentu. Dicari dan dikumpulkanlah ayat-ayat yang membahas tentang tema tersebut. Semakin banyak ayat yang berhasil terkumpul, semakin jelas juga gambaran yang diperoleh. Ayat-ayat itu kemudian dianalisis dengan akal pikiran. Barulah kemudian dibuat kesimpulan. Dari semua proses tersebut, buahnya adalah kepahaman. Dari kepahaman berbuah sikap dan tindakan.

Perhatikan QS.47:24 di atas: “Maka apakah mereka tidak MENTADABBURI AL QUR’AN, ataukah hati mereka terkunci?” Jadi tadabbur Al Qur’an, itu dikaitkan dengan hati yang terkunci. Seakan-akan orang yang tidak mau memahami Qur’an, itu hatinya telah terkunci. Pemahaman itu tidak bisa masuk ke dalam pintu hatinya. Quluub—arti sekilasnya adalah hati, itu memang berfungsi untuk memahami. Misalnya disebut pada QS.7:179.

QS. Al-A’raf[7]: 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. MEREKA MEMPUNYAI HATI (QULUUB), TETAPI TIDAK DIPERGUNAKANNYA UNTUK MEMAHAMI (AYAT-AYAT ALLAH). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.

Jadi Al Qur’an itu harus ditadabburi. Maka membaca Qur’an itu wajib berupaya untuk memahaminya dengan segenap akal kecerdasan (quluub). Inilah perintah Allah. Saya termasuk yang khawatir Al Qur’an tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Jangan-jangan terjadi penyelewengan fungsi Al Qur’an.

Sekaligus menasehati saudara-saudara pembaca, untuk berhati-hati ketika berprinsip bahwa membaca Al Qur’an tidak untuk dipahami. Atau membaca Al Qur’an dengan tujuan selain memperoleh pemahaman. Kalau seseorang membaca Al Qur’an tidak untuk memahaminya, berarti saat membaca itu, ia menonaktifkan quluub-nya. Padahal hati yang tak digunakan untuk memahami Al Qur’an, itu jelas dimarahi Allah: laqod dzaro’naa li jahannam…

Begitu juga kalau kita memperhatikan QS.4:82 di atas: “Apakah mereka tidak MENTADABBURI AL QUR’AN? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” Pada ayat ini, tadabbur Al Qur’an, itu dikaitkan dengan ditemukannya pertentangan yang banyak.

Pastinya, seseorang yang berusaha mencari pertentangan Al Qur’an, itu membaca beberapa ayat. Tidak satu ayat. Dibandingkan. Dipertimbangkan. Dipikirkan. Dipahami. Kemudian barulah dibuat kesimpulan. Seakan-akan Qur’an, itu memang menantang agar ia diselidiki. Dibuktikan, benarkah ayat-ayatnya saling bertentangan. Caranya? Tadabbur!

Mustahil, orang bisa menentukan bahwa ayat ini bertentangan dengan ayat itu atau tidak bertentangan, tanpa melakukan pengumpulan beberapa ayat dan tanpa dianalisis. Apalagi orang yang dari awal tujuan membacanya sudah salah. Misalnya untuk balapan hatam, untuk pamer kemerduan dan lengkingan suara, dan seterusnya. Pasti orang seperti itu tidak melakukan proses tadabbur Qur’an.

QS. Shad[38]: 29
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab (Al Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka MEMPERHATIKAN AYAT-AYAT-NYA dan supaya MENDAPAT PELAJARAN orang-orang yang MEMPUNYAI PIKIRAN.

Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, Beraksi ala Pemenang, dll



MAKSUD MEMBACA TARTIL


—Saiful Islam*—

“Balapan hatam Qur’an, itu bertentangan dengan perintah Allah…”

Dijumpai juga kata dalam Al Qur’an, yang sekilas bisa diartikan membaca. Kata itu adalah rottala. Ikut bentuk fa’’ala (ganda ‘ain fi’il-nya). Kata dasarnya adalah rotala. Menurut penelusuran Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an, kata rotala, itu terdapat pada QS.25:32; dan QS.73:4. Yaitu kata rottalnaahu, rottil, dan tartiilan. Kita kutip ayat sebelum dan sesudahnya agar mendapat gambaran konteksnya.

QS. Al-Furqan[25]: 32 – 33
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya SEKALI TURUN SAJA?” Demikianlah (turun berangsur-angsur), SUPAYA KAMI PERKUAT HATIMU DENGANNYA dan Kami membacanya SECARA TARTIL (teratur dan benar).

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا
Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.

QS. Al-Muzammil[73]: 1 – 6
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ
Hai orang yang berselimut (Muhammad).

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا
Bangunlah di malam hari, kecuali sedikit (darinya).

نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا
(Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Atau lebih dari seperdua itu. Dan BACALAH AL QUR’AN ITU DENGAN PERLAHAN-LAHAN.

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu PERKATAAN YANG BERBOBOT.

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah LEBIH KUAT MENGISI JIWA dan BACAAN DI WAKTU ITU LEBIH BERKESAN.

Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-rotal itu artinya adalah memberi muatan (isi) kepada sesuatu sekaligus aturannya secara istiqomah (ajeg atau konsisten). Misalnya dikatakan, “Rojul rotal al-asnaan,” yakni laki-laki yang teratur barisan giginya.

Sedangkan al-tartiil, artinya adalah mengirim kata dari mulut dengan mudah dan terus menerus (istiqomah).

Adapun Lisan al-Arab menggambarkan begini. Al-rotal itu berarti merangkai (mengatur) sesuatu dengan baik. Contohnya sama, yaitu gigi-gigi yang tertata rapi. Ada celah-celahnya sedikit. Tidak bertumpuk. Atau seperti tanaman yang berbaris rapi. Menurut Abu Manshur jika disebut gigi yang rotal, maksudnya ketika gigi itu tersusun dengan rapi.

Jika dikatakan, “Kalaam rotal,” atau “Kalaam rotil,” maka artinya adalah kalimat itu disampaikan dengan baik, teratur, dan perlahan-lahan.

Rottala al-kalaam, artinya adalah memperbagus ketika menyusun dan menjelaskan kalimat itu serta dengan tenang dan perlahan-lahan.

Al-tarttil fi al-qiroo’ah atau tartil dalam bacaan, maksudnya adalah perlahan-lahan dalam bacaan itu dan menjelaskannya dengan benar. Kalimat warottil al-Qur’aan tartiilan (QS.72:4), menurut Abu al-Abbas yang dimaksud adalah penyelidikan, penjelasan, dan penegasan (pengokohan) dalam membaca Qur’an.

Sedangkan menurut Mujahid, kata tartiil pada QS.72:4 itu berarti secara perlahan-lahan. Kemudian ia berkata, “Warottaltuhu tartiilan, sebagiannya menjadi jejak bagi sebagian yang lain.” Yakni bagian yang satu terkait dengan bagian yang lain.

Adapun menurut Ibnu Abbas, maksud QS.72:4, itu adalah “Jelaskanlah Qur’an itu dengan sejelas-jelasnya.”

Abu Ishaq berpendapat begini. Penjelasan (al-tabyiin), itu tidak sempurna jika tergesa-gesa ketika membacanya. Barulah penjelasan itu akan sempurna jika dijelaskan semua huruf-hurufnya serta sisi-sisi (sudut pandang) lain yang membuat audiens puas.

Sampai Al-Dhahhak berpendapat. Bahwa terkait QS.72:4 itu, yang dimaksud adalah rincilah per hurufnya. Juga terkait cara membacanya Nabi SAW, “Beliau membaca secara tartil itu ayat per ayat.”

Istilah tartiil al-qiroo’ah itu artinya adalah berlambat-lambat dan perlahan-lahan dalam bacaan, menjelaskan huruf-huruf dan harokat-harokat seperti gigi yang tersusun dengan rapi. Atau diserupakan dengan deretan bunga aster yang tidak hanya rapi, tetapi juga bagus dan indah. Maka dikatakan, “Rottala al-qiroo’ah: Seseorang membaca dengan tartil.” Dan “Tarottala fiihaa: Bacaannya menjadi tartil.”

Firman Allah: Warottalnaahu tartiilan, artinya adalah Kami menurunkan Al Qur’an itu secara tartil. Yang dimaksud tartil di sini adalah lawan dari tergesa-gesa dan tenang bahkan menetap padanya. Alias tidak terburu-buru. Ini adalah pendapat al-Zajjaj. Jika dikatakan “Tarottala fi al-kalaam,” itu artinya adalah kalimat itu dibaca atau perlahan-lahan.

Sedangkan menurut Al-Kura’, al-rotal dan al-rotil itu bermakna kebaikan dalam setiap sesuatu.

Jadi pertama, kata tartil, itu lebih kepada cara membacanya. Yakni cara membaca Al Qur’an itu. Yaitu mesti tenang, perlahan-lahan. Bahkan jika diperlukan, berhenti itu baik.

Kedua, tartil, itu menunjuk pada cara turunnya ayat-ayat Al Qur’an yang berangsur-angsur. Teratur. Sedikit-sedikit. Begitulah cara Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi.

Nabi pun lantas menyampaikan Al Qur’an itu kepada umatnya juga meniru cara Allah itu. Yakni sedikit-sedikit. Perlahan-lahan. Selama kurang lebih 23 tahun. Tidak ditumpahkan sekaligus 30 juz ke hati beliau.

Ketiga, membaca Al Qur’an, itu memang sebaiknya dilakukan pada malam hari. Pemilihan waktu malam hari, itu juga cara terbaik membaca ayat-ayat Qur’an.

Dalam rangka apa semua itu? Tentu saja supaya mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Jelas tergambar pada QS.25:32 di atas: Supaya Kami perkuat hatimu dengan Al Qur’an itu. Tentu supaya hati menjadi kuat dan mantap, mesti melalui proses pemahaman terlebih dahulu. Mustahil hati bisa mantap tanpa memahami ayat-ayat Qur’an itu sendiri.

Tujuan membaca secara tartil, itu semakin gamblang pada Surat Al-Muzammil. Setelah perintah supaya Qur’an itu dibaca dengan perlahan-lahan pada QS.73:4, lantas disebutkan pada QS.73:5-nya: Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu PERKATAAN YANG BERBOBOT. Apanya yang berbobot? Tentu saja kandungan maknanya. Informasinya. Substansinya. Di situlah energi Qur’an itu!

Sehingga, jika ada orang membaca Qur’an secara seperti kejar setoran, maka jelas itu bertentangan dengan tuntunan Qur’an. Membaca Qur’an secara balapan hatam, itu tidak nurut perintah Allah. Pasti, orang seperti itu tidak akan mendapat mutiara Al Qur’an yang paling berharga: pemahaman. Karena dari awal memang tidak mau dengan mutiara itu. Tidak mau paham.

Contoh orang yang mendapat mutiara Qur’an itu. Misalnya sekarang Covid-19 sedang melanda dunia, tak terkecuali Indonesia. Ia akan tetap waspada dengan menerapkan sebisa mungkin saran dari pakar, seperti dokter, perawat, profesor medis, dan sebagainya. Tetapi hatinya tidak sedih, tidak takut, dan mantap melanjutkan hidup. Kenapa hatinya tidak takut, tidak sedih, dan tetap mantap? Karena ia paham dan menerapkan misalnya firman Allah berikut ini.

QS. Al-Baqarah[2]: 112
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Barangsiapa yang MENYERAHKAN DIRI KEPADA ALLAH, sedang ia berbuat KEBAJIKAN, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan TIDAK ADA KETAKUTAN terhadap mereka dan TIDAK (pula) mereka BERSEDIH HATI.

QS. Fushshilat[41]: 30
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "TUHAN KAMI IALAH ALLAH." Kemudian mereka MENEGUHKAN PENDIRIAN mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "JANGAN TAKUT DAN JANGAN SEDIH. Dan BERGEMBIRALAH dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

QS. Al-Tawbah[9]: 40
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya. (Yaitu) ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Mekah) sedang ia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu ia berkata kepada temannya: "JANGANLAH KAMU BERDUKA. SESUNGGUHNYA ALLAH BESERTA KITA." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan MEMBANTUNYA DENGAN TENTARA YANG TIDAK TERLIHAT. Dan Al Qur’an menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, Beraksi ala Pemenang, dll

Selasa, 09 Juni 2020

MEMBACAKAN KISAH QUR’AN


—Saiful Islam*—

“Sesungguhnya pada KISAH-KISAH mereka itu terdapat PELAJARAN bagi orang-orang yang MENGGUNAKAN AKALNYA…”  (QS.12:111)

Kisah itu dibacakan (didektekan), memang supaya dipahami, dinikmati, dan dipelajari pesan moralnya. Dan Qur’an mengandung kisah-kisah.

Kata membaca dalam Al Qur’an, juga disebut dengan redaksi amlaa. Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, dari kata malaa yang bentuk mashdar-nya al-imlaa’, itu berarti memperpanjang (al-imdaad). Menurut pendapat yang lain, kata malaa, ini berarti waktu (durasi) yang panjang.

Seperti juga disebutkan dalam Lisan al-Arab. Bahwa malaa yang bentuk mashdar-nya al-milaawah, al-mulaawah, al-malaawah, al-malaa dan al-maliy, semuanya berarti durasi hidup yang panjang. Di dalamnya juga terdapat makna menangguhkan atau memberi kesempatan waktu lebih panjang. Seperti memberi tempo kepada orang yang berhutang ketika sudah waktunya membayar. Atau deadline yang sudah tiba waktunya.

Makna memperpanjang atau durasi yang panjang itu, misalnya seperti disebut oleh QS.19:46 berikut ini.

QS. Maryam[19]: 46
قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam. Dan tinggalkanlah aku UNTUK WAKTU YANG LAMA.”

Contoh-contoh kalimat yang biasa diucapkan orang Arab antara lain: “Tamallayta dahran: Harimu masih panjang,” “Tamallaytu al-tsawb: Aku memakai baju ini tahunan (bajunya awet),” “Tamallaa bi kadzaa: Menikmatinya sepanjang hari,” “Malaakallooh: Allah memperpanjang usiamu,” dan “’Isytu maliyyan: Usiaku panjang atau aku panjang umur.”

Bisa dilihat juga pada misalnya QS.7:183; QS.47:25; dan QS.3:178.

QS. Al-A’raf[7]: 183
وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
Dan Aku MEMBERI TANGGUH (KESEMPATAN WAKTU LAGI) kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat kokoh.

QS. Muhammad[47]: 25
إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ
Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan MEMANJANGKAN angan-angan mereka.

QS. Ali Imran[3]: 178
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa PEMBERIAN TANGGUH Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami MEMBERI TANGGUH kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.

Sedangkan kata amlaa yang terkait dengan membaca, biasanya disebutkan kata al-kitaab atau buku. Seperti kata orang Arab, “Amlaytu al-kitaab, umliih,” yang artinya adalah “Aku membacakan buku untuk seseorang.” Atau “Aku mendiktekan (membacakan isi) sebuah buku.”

Disebutkan juga bahwa kata amlaytu (dari kata malaa yang ikut bentuk af’ala), itu aslinya adalah amlaltu—dari kata malla yang juga ikut bentuk af’ala. Kata malla itu sendiri salah satu artinya memang adalah mendiktekan. Bentuk mashdar-nya adalah al-imlaa’. Sudah ada Bahasa Indonesianya, imla, yang sinonimnya adalah dikte. Yaitu sesuatu yang dikatakan atau dibaca keras-keras supaya ditulis oleh orang lain.

Ayat Qur’an yang menggunakan kata amlaa yang berarti membaca atau mendiktekan, itu misalnya seperti disebut oleh QS.25:5 dan QS.2:282.

QS. Al-Furqan[25]: 4 - 6
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ ۖ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا
Dan orang-orang kafir berkata: "Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain." Maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar.

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan. Maka DIBACAKANLAH dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang."

قُلْ أَنْزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
Katakanlah: "Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

QS. Al-Baqarah[2]: 282
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman. Apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya. Maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu MENGIMLAKKAN (MENDIKTEKAN APA YANG AKAN DITULIS ITU). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. Dan janganlah ia mengurangi sedikit pun dari hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu MENGIMLAKKAN, maka hendaklah walinya MENGIMLAKKAN dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai. Supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil. Dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli. Dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah. Allah mengajarmu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, Beraksi ala Pemenang, dll

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...