Sabtu, 01 Agustus 2020

HAAFIZH BUKAN HAFAL


—Saiful Islam*—

“Itu adalah Al Qur’an yang DIPELIHARA dengan tulisan…”

Kata al-hifzh sudah diserap oleh Bahasa Indonesia, yaitu hafiz. Diartikan sebagai penghafal Qur’an. Hafal sendiri diartikan dengan 1) telah masuk dalam ingatan (tentang pelajaran), dan 2) dapat mengucapkan di luar kepala (tanpa melihat buku atau catatan lain). Jadi hafiz, menurut KBBI adalah dapat mengucapkan ayat-ayat Qur’an tanpa melihat buku Al Qur’an (Mushhaf).

Benarkah pengertian KBBI di atas itu? Bagaimana makna hafiz itu sebenarnya menurut Qur’an? Ternyata, haafizh itu bukan hafal. Ternyata lagi, pemeliharaan Allah kepada Qur’an, itu lebih ke tulisan. Bukan hafalan! Mari kita lihat.

Dari hafazha. Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-hifzh itu bisa berarti tiga. Pertama, kesiapan jiwa untuk menerima kepahaman. Ingat arti paham (mengerti sesuatu sekaligus makna dan maksud yang dikandungnya). Kedua, kata al-hifzh berarti kuatnya ingatan (memori di otak), lawan kata pelupa.

Dan ketiga, bisa al-hifzh itu artinya adalah pengoperasian kekuatan memori tersebut. Misalnya dikatakan, “Hafizhtu kadzaa hifzhon,” kemudian kekuatan ingatan itu dipakai untuk setiap pencarian sesuatu yang hilang, penjagaan janji dan untuk setiap pemeliharaan. Lantas oleh Kamus-Kamus Arab Indonesia diartikan sederhana: menjaga atau memelihara.

Orangnya, atau subjeknya itu disebut haafizh atau hafiizh. Yang menurut Lisan al-Arab berarti seseorang yang diwakili sesuatu untuk memeliharanya. Bahasa lainnya, seseorang yang dititipi amanah.

Penerapan dari kekuatan ingatan tersebut (menjaga atau memelihara), itu seperti disebutkan oleh beberapa ayat berikut.

QS. Yusuf[12]: 12
أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Biarkanlah Yusuf pergi bersama kami besok pagi, agar ia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main. Sungguh, kami pasti MENJAGANYA."

QS. Al-Baqarah[2]: 238
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ
PELIHARALAH semua salat kalian.

QS. Al-Ma’arij[70]: 29
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
Dan orang-orang yang MEMELIHARA kemaluannya.

QS. Al-Syura[42]: 48
فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ
Jika mereka berpaling, maka Kami tidak mengutus kamu sebagai penjaga bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).

QS. Al-Nisa’[4]: 34
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ
Wanita yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi MEMELIHARA diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah MEMELIHARA (mereka).

Memelihara diri pada QS.4:34 di atas maksudnya adalah istri yang menjaga janji-janji pernikahan, terutama ketika suaminya pergi, bekerja, bisnis dan semisalnya. Dan menjaga hak-hak Allah.

Jika dikatakan, “Wa ‘indanaa kitaab hafiizh: kami punya buku yang memelihara (QS.50:4),” maka maksudnya adalah isi buku itu memelihara perbuatan-perbuatan mereka. Semacam pedoman berpikir, bersikap, dan berbuat dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun al-hafaazh itu adalah al-muhaafazhah. Yakni saling memelihara. Maksudnya begini. Orang yang menjaga salatnya sesuai perintah oleh QS.23:9 dan QS.70:34, maka salat pun akan memeliharanya. Sebagaimana disebut oleh QS.29:45.

Jadi menurut bahasa, al-hifzh itu bisa berarti tiga sekaligus. Pertama, kuatnya memori. Kedua, kuatnya memori itu sudah otomatis dengan kepahamannya. Dan kuat memori yang sudah otomatis dengan kepahamannya, itu diterapkan untuk memelihara amanah. Sebagaimana arti ketiga. Jadi fokusnya, itu untuk PENERAPAN dari kuatnya memori yang siap menerima kepahaman tersebut.

Sehingga makna al-hifzh, itu sebagaimana semestinya orang berinteraksi dengan Al Qur’an. Yaitu membaca mesti dengan kepahaman. Kemudian hasil pahamnya itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. DIAMALKAN. Ketika Qur’an memerintahkan salat, syukur, dan sabar, orang itu benar-benar akan praktik salat, syukur, dan sabar. Dikala Qur’an melarang boros, benci, dan bakhil, misalnya, maka orang tersebut benar-benar praktek tidak boros (hemat), tidak benci (belas kasih), dan memberi.

Jadi jelas sekali, bahwa Haafizh al-Qur’aan, itu bukan hafal Al Qur’an. Perhatikan lagi definisi KBBI di atas: “dapat mengucapkan ayat-ayat Qur’an tanpa melihat buku Al Qur’an (Mushhaf).” Jadi hanya mengucapkan tanpa melihat Mushhaf. Kalau hanya mengucapkan seperti itu, anak kecil yang belum baligh saja bisa. Tanpa paham. Apalagi mengamalkannya. Kalau Haafizh al-Qur’aan, ini adalah bisa paham dan mengamalkannya. Meskipun tidak bisa mengucapkan teksnya dengan tanpa melihat Mushhaf.

Kedua, tentang pemeliharaan keaslian teks Al Qur’an. Allah menggunakan redaksi ‘Kami’ dalam proses pemeliharaan teks Al Qur’an itu. Itu artinya, Allah melibatkan pihak lain selain ‘diri-Nya’. Yaitu terutama, Jibril, Nabi Muhammad, dan para Sahabatnya. Allah tidak bekerja sendiri dalam pemeliharaan Al Qur’an itu. Diceritakan pada ayat berikut.

QS. Al-Hijr[15]: 9
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sungguh KAMI BENAR-BENAR MEMELIHARANYA.

Kalau menurut Sejarah, pemeliharaan Al Qur’an itu dengan dua cara. Pertama, dengan tulisan: di atas batu, kulit binatang, tulang, pelepah kurma, bahkan tidak menutup kemungkinan di atas kertas. Dan kedua, dengan hafalan yang disertasi kepahaman. Bahkan kalau ‘hafalnya’ Nabi, itu tidak akan pernah lupa lagi (QS.87:6). Karena memang ditancapkan langsung ke akal atau hati beliau (QS.2:97 & QS.26:194). Juga dipraktekkan semuanya, karenanya beliau digambarkan, “Kaana khuluquhu al-Qur’aan: akhlak Nabi itu adalah Al Qur’an.”

Adapun penjagaan teks Qur’an dengan hafalan oleh para Sahabat Nabi, itu sebenarnya tidak ada informasinya dalam Qur’an. Saya belum menemukan perintah untuk menghafal teks Qur’an itu di dalam ayat-ayat Qur’an. Meski begitu, Sejarah tentang ada beberapa Sahabat Nabi yang hafal teks Qur’an, itu sangat mungkin bisa terjadi. Dan kalau ada Muslimin sekarang bisa hafal Qur’an 30 juz, itu sungguh sangat membanggakan.

Tampaknya, pemeliharaan teks Qur’an, itu lebih kepada tulisan. Bukan dengan hafalan. Ini tidak hanya didukung oleh Sejarah, tetapi Qur’an sendiri menggambarkan hal tersebut. Ada ayatnya. Berikut ini.

Al-Buruj[85]: 21-22
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ
21. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah AL QUR’AN yang mulia.

فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ
22. Yang TERLULIS pada LAWH yang TERPELIHARA.

Al-Lawh sendiri itu memang artinya adalah sesuatu apa pun yang ditulis di atasnya, seperti tulisan di atas kayu balok, di atas pelepah kurma, di atas batu, di atas kertas, di atas permukaan kulit yang sudah dikeringkan, dan seterusnya.

Bahkan sejak di periode Mekkah, itu sudah ada tulisan Qur’an itu. Sebagaimana diceritakan oleh Sirah Ibnu Hisyam vol.1-2, halaman 343-346 yang dikutip oleh Prof. Dr. M.M. Al-A’zhami. Berikut ini:

Suatu hari Umar keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad. Beberapa Sahabat sedang berkumpul dalam sebuah rumah di bukit Shafa. Jumlah mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum perempuan. Di antaranya adalah paman Nabi, Hamzah, Abu Bakar, Ali dan juga lainnya yang tidak pergi berhijrah ke Ethiopia.

Nu’aim secara tak sengaja berpapasan dan bertanya ke mana Umar hendak pergi. “Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang telah membuat orang Quraisy khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci maki tata cara kehidupan, agama, dan tuhan-tuhan kami. Sekarang, akan aku libas dia.”

“Engkau hanya akan menipu diri sendiri Umar,” katanya. “Jika engkau menganggap bahwa Bani Abdu Manaf mengizinkanmu menapak bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik pulang temui keluargamu dan selesaikan permasalahan mereka.”

Umar pulang sambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa keluarganya. Nu’aim menjawab, “Saudara ipar, keponakan yang bernama Said serta adik perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, akan lebih baik jika kamu kembali menemui mereka.”

Umar cepat-cepat menuju iparnya di rumah, tempat Khabba sedang membaca Surat Thaha dan sepotong tulisan Al Qur’an. Saat mereka mendengar suara Umar, Khabbab lari masuk ke kamar kecil. Sedang Fathimah mengambil kertas kulit yang bertuliskan Al Qur’an dan diletakkan di bawah pahanya.

Menurut Ibnu Abbas, ayat-ayat yang diturunkan di Mekah terekam dalam bentuk tulisan sejak dari sana. Orang lain sebagai penulis resmi adalah Khalid bin Said bin al-Ash di mana ia mengatakan: “Saya orang pertama yang menulis Bismillaahirrahmaanirrahiim.”

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

SALAH KAPRAH ZIKIR


—Saiful Islam*—

“Syair Tombo Ati: moco qur’an angen-angen sak maknane…”

Menurut Lisan al-Arab, kata al-dzikr dan al-dzikroo itu lawan kata lupa. Jadi, al-dzikr itu artinya adalah ingat. Disebutkan bahwa al-dzikr, itu bisa juga dengan lisan.

Jika disebut istadzkaro al-syay’, maka itu artinya seseorang mempelajari sesuatu untuk mengingatnya.

Seluruh kitab-kitab para Nabi, itu juga namanya dzikr. Buku yang membahas tentang Islam dan agama-agama, bisa juga disebut dzikr. Salat, doa, sanjungan atau pujian kepada Allah, juga bisa disebut dzikr. Menurut Abu al-Abbas, membaca Qur’an, syukur, taat dan bertasbih itu juga bisa disebut dzikr.

Jadi begini. Secara bahasa, dzikr itu artinya memang bisa umum. Tetapi fokusnya adalah mengingat. Yang namanya mengingat, itu sebenarnya adalah aktivitas otak. Orang bisa mengingat sesuatu di otaknya, meski tanpa membuka mulut. Adapun mulut, itu adalah salah satu pendukung untuk mengingat itu.

Disebutkan pada tulisan sebelumnya, bahwa setiap ucapan itu dzikr. Maka pujian, doa, salat, tasbih, membaca Qur’an, itu juga disebut dzikr. Ya karena diucapkan. Semua itu bisa menjadi media untuk mengingat.

Sederhananya, seperti diartikan oleh Kamus Mahmud Yunus bahwa dzikr itu adalah mengingat dan menyebut. Dengan kata lain, menyebut itu sejatinya tujuannya adalah supaya ingat. Jadi, dzikr itu sangat terkait dengan psikis: akal atau hati. Disebutkan misalnya pada ayat berikut.

QS. Al-Ra’ad[13]: 28
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan AKAL/HATI mereka MANJADI TENTERAM dengan MENGINGAT ALLAH. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.

Dengan begitu, dalam konteks yang umum ini, definisi KBBI itu bisa diterima. Meskipun tidak selalu harus dengan melagukan dan perayaan dalam keadaan formal dan serius. Karena mengingat Allah itu menurut Qur’an, bisa dengan berdiri, duduk dan bahkan rebahan (santai).

QS. Ali Imran[3]: 191
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(Yaitu) orang-orang yang MENGINGAT ALLAH ketika BERDIRI, DUDUK dan dalam keadaan BERBARING. Dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami. Tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau. Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”

Bahkan kalau kita melihat ayat sebelumnya, QS.3:190, ada kesan zikir kepada Allah itu sekaligus bersamaan dengan memikirkan penciptaan langit dan bumi. Fenomena alam (ayat kawniyah). Semua aktivitas itu berkelindan terjadi dalam benak. Bahkan QS.3:191 di atas, itu adalah definisi siapa Ulul Albab (pemilik aktivitas akal sehat) itu sebenarnya.

Indikasi bahwa dzikr itu tidak harus selalu formal, serius, dan melagukan atau mengucapkan dengan mulut, itu bisa dilihat pada ayat berikut ini. Bahwa dzikr kepada Allah, itu lebih pada aktivitas akal atau hati. Non formal. Dimana pun, kapan pun, dan bagaimana pun. Saat kerja, ibadah, sendiri, ramai-ramai, di rumah, di lapangan, di kantor, di acara pesta, di masjid, di sekolah, dan seterusnya. Kita memang sebaiknya selalu ingat kepada Allah. Supaya menang!

QS. Al-Jumu’ah[62]: 10
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila salat telah ditunaikan, maka BERTEBARANLAH kalian di muka bumi; dan CARILAH karunia Allah dan INGATLAH ALLAH SEBANYAK MUNGKIN supaya kamu BERUNTUNG.

Adapun kaitan dzikr dengan Al Qur’an dan kepaham, itu begini. Kita sudah tahu bahwa Al Qur’an itu adalah al-dzikr (QS.21:24, 50 dan QS.38:8). Kata al-dzikroo (QS.51:55) itu juga Al Qur’an. Begitu juga kata tadzkiroh (QS.80:11) itu yang dimaksud juga adalah Al Qur’an. Baik al-dzikr, al-dzikroo, maupun tadzkiroh, menurut saya terjemah lebih pasnya adalah PENGINGAT. Supaya lebih jelas perbedaannya dengan kata nadziiron (peringatan).

Nah, jangan lupa kalimat penting ini: “Al Qur’an itu adalah sesuatu (media) yang membuat seseorang ingat kepada sesuatu yang lain.” Sebagaimana disebut Al-Mufradat itu bahwa al-tadzkiroh artinya adalah sesuatu yang membuat ingat terhadap sesuatu yang lain. Qur’an itu memang disebut tadzkiroh. Karena ia adalah sesuatu yang mengingatkan seseorang pada sesuatu yang lain.

Jadi permisalannya seperti ini. Anda punya kekasih. Berkerudung pink. Tepat di ujung kerudungnya itu tertulis nama Anda dan kekasih Anda itu. Suatu hari, kekasih Anda itu tidak memberi kabar. Sudah tiga hari Anda telepon tidak bisa. Anda cek akun sosmed (FB, Instagram, Twitter, dan seterusnya) tidak aktif. Sampai bertahun-tahun Anda kehilangan jejaknya. Anda sangat merindukannya.

Tiba-tiba suatu hari, ada paketan yang dikirim Pos sampai di alamat rumah Anda. Ketika Anda buka, ternyata isinya adalah kerudung pink. Persis di ujungnya, itu nama Anda dan kekasih Anda itu. Harum pula aromanya. Tentu saja, seketika itu Anda langsung ingat kepada kekasih Anda yang amat sangat Anda rindukan itu. Jadi kerudung pink itu, adalah sesuatu yang mengingatkan Anda kepada sesuatu yang lain. Apalagi ada suratnya yang bertuliskan dengan spidol emas: “Sebulan lagi, nikah yuk!”

Begitulah Al Qur’an. Ia adalah sesuatu yang mengingatkan orang kepada sesuatu yang lain. Ketika Qur’an berbicara tentang kematian, langsung mengingatkan kita bahwa semua kita pasti mati. Ketika Qur’an berbicara tentang orang tua, kita langsung ingat cara yang benar bergaul dengan ibu dan bapak. Ketika tentang surga dan neraka yang terkait dengan iman dan amal saleh, kita menjadi menyesuaikan diri supaya selamat, bahagia dan sukses dunia akhirat. Dan begitu seterusnya.

Jadi, orang melihat teksnya. Yang dilihat itu memang adalah kalimat-kalimatnya. Tetapi membuat orang lantas mengingat sesuatu yang bukan teks itu. Sama seperti kerudung kekasih Anda tadi. Anda memang melihat kerudungnya. Tetapi yang Anda ingat, justru bukan kerudungnya. Tetapi kekasih Anda. Iya kan?!

Maka, Al Qur’an, itu memang semestinya dimengerti arti dan maknanya. Seperti syair Tombo Ati begitu: moco Qur’an angen-angen sak maknane. Membaca Qur’an itu memang mesti dimengerti maknanya. Barulah Qur’an bisa mengingatkan kita kepada sesuatu yang lain. Yakni pesan dan informasi yang dikandung oleh ayat-ayat Qur’an itu sendiri. Itulah zikir dengan Al Qur’an yang tepat!

Memang betul kalau salat, doa, sanjungan atau pujian kepada Allah, juga bisa disebut dzikr. Menurut Abu al-Abbas, membaca Qur’an, syukur, taat dan bertasbih itu juga bisa disebut dzikr. Tentu yang dimaksud, itu kalau mengerti maknanya. Paham isi informasinya. Ya mereka orang Arab. Bisa langsung mengerti artinya. Muslim yang bukan orang Arab? Mesti ada upaya untuk mengerti dan paham. Seperti belajar perlahan-lahan, baca terjemah, dan seterusnya sepanjang hidup.

Menurut saya salah kaprah, mengatakan zikir dengan Qur’an atau berdoa dengan Qur’an, ternyata prakteknya seperti membaca Surat Yasin 3 kali atau Surat Al-Mulk 3 kali atau Surat Waqi’ah 3 kali atau Surat Yusuf 3 kali tanpa dimengerti dan tanpa dipahami. Apalagi tujuannya cepet-cepetan hatam dan supaya laris dagangan, supaya ‘memelet’ orang, dan semisalnya. Itu bukan berdzikir atau berdoa dengan Qur’an. Tetapi merapal mantra namanya!

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

MEMBEDAH ZIKIR


—Saiful Islam*—

“Al Qur’an itu adalah sesuatu yang membuat seseorang ingat kepada sesuatu yang lain…”

Dzikr, termasuk kata yang derivasinya cukup banyak diulang dalam Al Qur’an. Ratusan kali. Tampaknya menunjukkan kepada kita betapa pentingnya kata al-dzikr ini.

Telinga kita juga tidak asing lagi mendengar kata dzikr itu. Yang sudah diserap oleh Bahasa Indonesia: zikir. Yang diartikan sebagai 1) Puji-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang-ulang; 2) Doa atau puji-pujian berlagu (dilakukan pada perayaan Maulid Nabi); 3) Perbuatan mengucapkan zikir. Kata kerjanya berzikir: mengucapkan zikir; mengingat dan menyebut berulang-ulang nama dan keagungan Allah.

Sudah benarkah definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di atas itu? Bagaimana makna dzikr menurut Qur’an? Sudah sesuai Qur’an kah praktek dzikr kita, umat Islam? Apa sebenarnya yang dimaksud dzikr dengan Qur’an?

Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an bercerita begini. Kata al-dzikr bisa diartikan sebagai sebuah keadaan jiwa yang memungkinkan seseorang untuk bisa menjaga ilmu yang ia simpan. Seperti al-hifzh. Hanya saja al-hifzh itu lebih ke penjagaannya. Atau pemeliharaannya. Sedangkan al-dzikr itu lebih ke menghadirkannya. Jadi tujuan dzikr, itu lebih ke menghadirkan sesuatu yang pernah diingat.

Bisa juga al-dzikr itu artinya untuk hadirnya sesuatu di otak atau ucapan. Karenanya disebutkan bahwa al-dzikr itu ada dua: dzikr dengan akal dan dzikr dengan lisan. Baik dzikr dengan akal, maupun dzikr dengan lisan, itu bisa dua bentuk (tujuan). Yaitu pertama, dzikr dari lupa, yakni untuk mengingat. Kedua, dzikr yang bukan dari lupa, tetapi untuk meneruskan penjagaan (idaamah al-hifzh).

Setiap ucapan, itu disebut dzikr.

Masih menurut Al-Mufradat. Dzikr dengan lisan, itu seperti disebut oleh QS.21:10.

QS. Al-Anbiya’[21]: 10
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya telah Kami turunkan kepadamu sebuah kitab yang di dalamnya membuatmu DIPERBINCANGKAN OLEH ORANG. Maka apakah kamu tiada memahaminya?

Kata dzikr pada QS.21:24, 50 dan QS.38:8, yang dimaksud adalah Al Qur’an.

QS. Al-Anbiya’[21]: 24 & 50
أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ ۖ هَٰذَا ذِكْرُ مَنْ مَعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِي ۗ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ ۖ فَهُمْ مُعْرِضُونَ
24. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: "Unjukkanlah hujjahmu! (AL QUR’AN) INI ADALAH DZIKR (PENGINGAT) bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku.” Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.

وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ ۚ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ
50. Dan AL QUR’AN INI ADALAH DZIKR (PERINGATAN) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?

QS. Shad[38]: 8
أَأُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا ۚ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْ ذِكْرِي ۖ بَلْ لَمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ
“Mengapa AL-DZIKR (AL QUR’AN) itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap AL QUR’AN-KU, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku.

Kata dzikr pada QS.38:1 dan QS.43:44, yang dimaksud adalah kemuliaan bagimu dan kaummu.

QS. Al-Zukhruf[43]: 43-44
فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
43. Maka BERPEGANG TEGUHLAH kamu kepada AGAMA YANG TELAH DIWAHYUKAN KEPADAMU. Sesungguhnya kamu berada di atas JALAN YANG LURUS.

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ ۖ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ
44. Sesungguhnya AL QUR’AN ITU BENAR-BENAR ADALAH DZIKR (suatu kemuliaan besar) bagimu dan bagi kaummu. Dan KELAK KALIAN AKAN DIMINTA PERTANGGUNGAN JAWAB.

Kata dzikr pada QS.16:43, maksudnya adalah kitab-kitab terdahulu (seperti Zabur, Taurat, dan Injil).

Kata dzikr pada QS.65:10-11, itu menurut satu pendapat artinya adalah sifat untuk Nabi SAW. Sebagaimana kata dzikr tersebut sebagai sifat untuk Nabi Isa AS, dimana kedatangannya sudah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu. Maka kata ‘rosuulan; utusan’ pada ayat itu, menjadi pengganti (badal) kata dzikr tersebut. Dan menurut yang lain, kata ‘rosuulan’ pada QS.65:11 di atas, itu menjadi sifat kata dzikr pada QS.65:10.

Adapun dzikr dari lupa, yakni mengingat, itu seperti disebut oleh QS.18:63.

QS. Al-Kahf[18]: 63
قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا
Pelayan Musa menjawab: "Tahukah kau tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi. Sungguh aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu. Tidak ada yang melupakan aku untuk MENGINGATNYA kecuali setan. Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang mengherankan.”

Sedangkan dzikr dengan akal dan lisan secara bersamaan, itu seperti yang teradapat pada QS.2:200.

QS. Al-Baqarah[2]: 200
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka BERZIKIRLAH KEPADA ALLAH, sebagaimana zikirmu kepada nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu.

Kata dzikr pada QS.2:198 dan QS.21:105 yang dimaksud yakni setelah kitab terdahulu.

Kata dzikr pada QS.76:1 maksudnya adalah belum ada. Meskipun dalam sudut pandang ilmu Allah, sudah ada.

Kata dzikr pada QS.19:67 yang dimaksud yakni apakah penentang itu tidak ingat akan awal penciptaannya, yang ia lantas menjadi sadar. Seperti itu juga apa yang disebut oleh QS.36:79 dan QS.30:28.

Al-dzikroo berarti banyak dzikr-nya. Seperti disebutkan pada QS.38:43 dan QS.51:55.

QS. Shad[38]: 43
وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Kami anugerahi Ayyub (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula, sebagai rahmat dari Kami dan SEBAGAI PELAJARAN bagi orang-orang yang mempunyai PIKIRAN.

QS. Al-Dzariyat[51]: 55
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan TETAP INGATKANLAH MEREKA (DENGAN QUR’AN). Karena sesungguhnya PERINGATAN itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Sedangkan al-tadzkiroh artinya adalah sesuatu yang membuat ingat terhadap sesuatu yang lain. Kata ini lebih umum daripada petunjuk (dalaalah) dan tanda penunjuk (amaaroh). Seperti pada QS.74:49 dan QS.80:11. Yang dimaksud al-tadzkiroh di sini adalah Al Qur’an.

QS. Abasa[80]: 11-12
كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ
11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya AJARAN-AJARAN TUHAN (AL QUR’AN) ITU ADALAH SUATU PENGINGAT.

فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ
12. Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia MENGINGATNYA.

Begitu dulu. Analisisnya di belakang. Insya Allah.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

PANDANGAN SANG KHALILULLAH


—Saiful Islam*—

“Membaca laporan hasil penelitian para ilmuwan…”

Kata nazhor dipakai oleh Allah di dalam Al Qur’an. Tampaknya, kata tersebut belum diserap oleh Bahasa Indonesia. Pelafalannya memang terasa tidak familier bagi lidah Indonesia.

Digambarkan dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Kata al-nazhor adalah berarti kajian. Atau bahasan (al-bahts). Kata ini lebih umum daripada analogi (al-qiyaas). Setiap qiyas adalah nazhor, dan tidak setiap nazhor adalah qiyas.

Al-nazhor adalah membolak-balikkan pandangan dan akal untuk mencapai sesuatu dan melihatnya. Terkadang yang dimaksud adalah pengamatan dan pemeriksaan atau percobaan (eksperimen). Atau pengetahuan yang dihasilkan setelah penelitian dan observasi.

Perintah ‘amatilah’ dengan redaksi ‘unzhuruu’ pada QS.10:101, itu maksudnya adalah periksalah. Lakukan eksperimen. Penelitian.

QS. Yunus[10]: 101
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "PERHATIKANLAH apa yang ada di LANGIT dan di BUMI. Tidaklah bermanfaat tanda-tanda tersebut dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.”

Al-nazhor yang berarti lihatlah dengan pandangan (mata), itu banyak terjadi pada orang-orang awam. Sedangkan al-nazhor yang berarti lihatlah dengan pandangan akal, itu banyak terjadi pada orang-orang tertentu.

“Kepada Tuhannya, mereka memandang (naazhiroh),” (QS.75:22-23). Redaksi nazhortu ilaa, itu artinya kau arahkan matamu kepadanya. Kau sudah pernah melihatnya atau belum. Maksudnya menurut Lisan al-Arab, bisa melihat dengan mata dan bisa juga melihat dengan akal (qalb). Kalau nazhortu fiihi, itu artinya kau telah melihatnya dan telah mengkaji dan memikirkannya.

QS. Al-Qiyamah[75]: 22-23
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
22. Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri.

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
23. Kepada Tuhannyalah mereka MEMANDANG.

“Apakah kalian tidak mengamati unta, bagaimana ia diciptakan,” (QS.88:17). Mengamati (yanzhuruuna) yang dimaksud ayat ini adalah melakukan penelitian. Begitu juga QS.37:88-89 dan QS.7:185, itu maksudnya adalah motivasi (anjuran) untuk melakukan penyelidikan atau penelitian (eksperimen) sampai mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang penciptaannya.

QS. Al-Ghasyiyah[88]: 17-20
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
17. Maka apakah mereka tidak MEMPERHATIKAN, bagaimana UNTA diciptakan?

وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ
18. Dan LANGIT, bagaimana ia ditinggikan?

وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ
19. Dan GUNUNG-GUNUNG bagaimana ia ditegakkan?

وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
20. Dan BUMI bagaimana ia dihamparkan?

QS. Al-Shaffat[37]: 88-89
فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ
88. Lalu Ibrahim MEMANDANG bintang-bintang.

فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ
89. Kemudian ia berkata:"Sesungguhnya aku sakit.”

QS. Al-A’raf[7]: 184-185
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا ۗ مَا بِصَاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
184. Apakah (mereka lalai) dan tidak MEMIKIRKAN bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
185. Apakah mereka tidak MEMPERHATIKAN kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Qur’an itu?

Nazhor-nya Allah kepada para hamba-Nya adalah Allah memperbagus dan memperindah hidup mereka serta melimpahkan nikmat-nikmat-Nya untuk mereka. Makna itu sebagaimana disebut dalam QS.3:77 dan QS.83:15.

Al-nazhor juga bisa berarti menunggu atau memberi kesempatan waktu (al-intizhoor). Redaksinya bisa menggunakan nazhortuhu, intazhortuhu, dan anzhortuhu. Makna itu seperti tertuang dalam QS.11:122, QS.10:102, QS.57:13, QS.15:8, QS.7:15-16, QS.11:55, QS.32:29, dan QS.44:29. Mereka tidak diberi kesempatan, itu petunjuk sebagaimana yang disebut oleh QS.7:34, QS.33:53, QS.27:35, QS.2:210, QS.43:66, dan QS.38:15.

Kata al-nazhor, itu juga bisa berarti heran atau takjub pada sesuatu. Misalnya sebagaimana disebut oleh QS.2:55, QS.7:198, QS.42:45, dan QS.10:43.

Adapun al-nazhor pada QS.2:50, menurut satu pendapat artinya adalah kalian menyaksikan. Yakni Bani Israil menyaksikan sendiri. Menurut pendapat yang lain artinya adalah memikirkan dan mengambil pelajaran (ibrah) dari kejadian itu.

QS. Al-Baqarah[2]: 50
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
Dan (ingatlah), ketika Kami ‘pisahkan’ laut untuk kalian (Bani Israil). Lalu Kami selamatkan kalian dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya. Sedang kalian sendiri MENYAKSIKAN.

Lantas dihasilkan juga kata al-munaazhoroh. Yaitu artinya adalah mendiskusikan pandangan masing-masing. Dan menghadirkan atau menyajikan apa yang dilihat seseorang dengan pandangan akalnya.

Jadi kalau kita memperhatikan secara bahasa dan konteks ayat-ayat Qur’an, kata nazhor itu titik tekannya lebih kepada melihat dengan ilmu dan akal. Bukan hanya melihat dengan mata begitu saja. Jelas melihatnya itu, tidak seperti ikan. Melihat di sini, lebih ke memperhatikan, menyimak, meneliti, melakukan eksperimen, melacak, menyelidiki, mengamati, dan seterusnya.

Melihat langit dan bumi (QS.10:101), melihat unta dan gunung (QS.88:17-20), atau melihat apa pun sesuatu yang ada di dalam semesta ini (QS.7:185), tentu saja yang dimaksud di situ adalah melihat dengan ilmu dan akal. Pada awalnya, para ilmuwan (ulama) memang melakukan penelitian langsung ke lapangan. Kemudian mereka membuat laporan hasil penelitian tersebut.

Jadi melihat dengan ilmu dan akal itu begini. Bagi kita yang belum mampu melakukan penelitian lapangan langsung, itu bisa membaca laporan hasil penelitian para ilmuwan tadi. Tentang bumi, misalnya. Bisa dibaca ilmu bumi, seperti Geologi dan Geografi. Tentang langit, kita bisa membaca ilmu langit seperti Astronomi. Tentang unta, misalnya bisa membaca ilmu Biologi. Dan banyak lagi Sains dan Teknologi yang sudah cukup maju di abad 21 Masehi ini.

Tentang manusia, itu misalnya bisa dibaca laporan ulama dalam ilmu Psikologi, Kedokteran, Antropologi, dan seterusnya. Tentang masyarakat, juga bisa membaca seperti ilmu Sosiologi, Sejarah, dan lain seterusnya. Jadi memang, sebenarnya tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu non agama itu. Semua itu ilmu Allah. Para ilmuwan (ulama) tersebut, bukan menemukan. Dan apalagi menciptakan. Mereka hanya melaporkan hasil penelitiannya terhadap semua realitas dan fenomena ciptaan Allah.

Tentunya setelah melihat dengan ilmu tersebut, akal sehat seseorang akan ‘otomatis’ takjub dan lantas menyimpulkan: Subhaanak! Maha Suci Engkau Ya Allah!! Bahkan bisa sampai bergetar hatinya sambil bercucuran air mata!!!

QS. Ali Imran[3]: 190-191
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang ADALAH AYAT-AYAT bagi ORANG-ORANG YANG BERAKAL.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
191. (Yaitu) orang-orang yang MENGINGAT Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring. Dan mereka MEMIKIRKAN tentang PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI (takjub lantas berkata): "Ya Tuhan Kami. Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau. Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...