Selasa, 04 Agustus 2020

MAKNA DALAM GAMBAR


—Saiful Islam*—

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur’an ini setiap macam PERUMPAMAAN supaya mereka dapat PELAJARAN…” QS.39:27

Kalau kita belajar Ulumul Qur’an, salah satu babnya, itu membahas tentang perumpamaan. Tentang permisalan. Tentang penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Menjelaskan atau menceritakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang biasanya berupa penggambaran. Deskripsi.

Ilmu tersebut adalah Amtsaal al-Qur’aan.

Kalau pelajaran Sastra Indonesia, salah satunya bisa diumpamakan seperti pelajaran Majas. Seperti ungkapan seseorang pada kekasihnya, “Wajahmu adalah bulan purnama. Saat berkedip, matamu seperti bintang.” Tentu untuk memahaminya, orang perlu punya rasa Sastra. Bukan hanya Matematika.

Saya termasuk penyuka Sastra. Skripsi saya dulu membahas satu Hadis dengan pendekatan teori Sastra Arab. Saya rasa ada kemiripan-kemiripan antara Sastra Arab, Sastra Indonesia, dan Sastra Inggris, terutama soal penyerupaan atau pemisalan ini. Intinya, menyebut kata tertentu tetapi yang dimaksud justru bukan kata itu.

Tujuan perumpamaan itu, biasanya untuk memberi kesan yang lebih mengena. Atau memberi gambaran yang lebih konkret dan sederhana, sehingga mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca. Atau di dalam penggambaran tersebut, ada sebuah sifat dan keadaan yang mengandung makna yang sangat dalam.

Kata al-mutsuul, itu asalnya berarti berdiri tegak lurus. Yakni sejajar. Adapun al-muwatstsal itu artinya adalah sesuatu yang digambarkan sesuai dengan kadar (kualitas dan kapabilitas) sesuatu yang lainnya. Jadi jika dikatakan “matsal al-syay’,” maka itu artinya sesuatu itu menjadi setara dan tergambar (berbentuk).

Al-Timtsaal, itu berarti sesuatu yang tergambar (terbentuk). Begitu juga kata kerja tamatstsala, artinya sama. Yakni menjadi berupa, tergambar, atau terbentuk. Misalnya seperti disebut oleh QS.19:17.

Sedangkan al-matsal, itu untuk menyebut suatu ungkapan yang menyerupai ungkapan yang lain, di antara kedua ungkapan tersebut ada sesuatu yang diserupakan. Tujuannya supaya ungkapan yang satu menjelaskan dan menggambarkan ungkapan yang lain tersebut. Allah memang membuat perumpaan itu (QS.59:21). Penting juga untuk ditinjau QS.29:43.

QS. Al-Hasyr[59]: 21
لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Kalau sekiranya Kami turunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN ITU KAMI BUAT untuk manusia SUPAYA MEREKA BERFIKIR.

QS. Al-Ankabut[29]: 43
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ
Dan PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya KECUALI orang-orang yang BERILMU.

Disebutkan dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an bahwa al-matsal itu bisa bermakna dua. Pertama bermakna al-mitsl. Sebagian berpendapat bahwa baik al-matsl maupun al-mitsl itu untuk mensifati sesuatu. Seperti, “Matsal al-jannah allatiy wu’ida al-muttaquun,” QS.13:35.

QS. Al-Ra’ad[13]: 35
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا ۚ تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا ۖ وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ
PERUMPAMAAN (gambaran) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.

Kedua, kata al-matsal itu untuk menunjuk keserupaan makna dengan makna yang lain. Ada perbandingan di sini. Sebuah kata-kata paling umum yang digunakan untuk penyerupaan itu. Karena itu, Allah menyebut dalam QS.42:11 (laysa kamitslihi syay’). Menurut satu pendapat, huruf ‘kaaf’ digandeng dengan kata mitsl, itu untuk penguat. Maknanya, “Sungguh Allah itu tidak bisa digambarkan dengan apa pun.”

Kata al-matsal pada QS.16:60 itu bermakna sifat. Yakni sifat hina bagi orang kafir. Dan sifat Maha Agung bagi Allah. Dan Allah melarang diri-Nya diserupakan dengan sesuatu (QS.16:74).

Kata al-matsal pada QS.62:5 itu berarti kebodohan mereka (karena tidak mau memahami dengan rendah hati) terhadap kandungan hakikat Taurat, itu seperti bodohnya keledai yang tidak akan pernah bisa memahami tumpukan buku yang ada di punggungnya.

QS. Al-Jumu’ah[62]: 5
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
PERUMPAMAAN orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa buku-buku yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya.

Kata matsal pada QS.7:176, Allah membuat perumpamaan seseorang yang selalu mengikuti hawa nafsurnya, itu seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya.

Paling tidak, perumpamaan dalam Qur’an itu dibagi menjadi dua. Pertama, perumpaan yang jelas terdapat kata matsal. Seperti QS.2:17-20 dan lain-lain. Kedua, perumpaan terselubung. Yakni perumpamaan tanpa menggunakan kata matsal. Misalnya pada QS.17:29 dan lain-lain.

QS. Al-Isra’[17]: 29
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا
Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu. Dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya. Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.

Kata matsal dan derivasinya, ini termasuk kata yang cukup banyak diulang dalam Al Qur’an. Sampai ratusan kali. Pada intinya bertujuan supaya manusia memikirkan dan memahaminya (QS.59:21). Lantas mencontoh sifat yang digambarkan baik, dan tidak meniru sifat perumpaan yang buruk. Berikut beberapa contohnya.

QS. Al-Baqarah[2]: 261
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
PERUMPAMAAN orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir, ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

QS. Al-Ra’ad[13]: 6
وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ وَقَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمُ الْمَثُلَاتُ ۗ وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلْمِهِمْ ۖ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ
Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan. Padahal telah terjadi BERMACAM-MACAM CONTOH siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia atas kezaliman mereka. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya.

QS. Thaha[20]: 104
نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا يَوْمًا
Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang YANG PALING LURUS JALANNYA di antara mereka: "Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja.”

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

SANG ULIN NUHA


—Saiful Islam*—

“Nasib dan takdir, itu pilihan. Ulin Nuha akan menyesuaikan dirinya pada nasib dan takdir baik…”

Berbeda dengan Ulil Albab dan Ulil Abshor yang sering kita dengar. Ada satu lagi frase (idhoofah) yang mirip dengan keduanya. Seperti ‘saudara kembarnya’. Yaitu Ulin Nuha. Jadi uuliy al-albaab, uuliy al-abshoor dan uuliy al-nuhaa. Sekilas, artinya pun mirip: Sang Pemilik Akal Sehat. Tiga-tiganya dipuji oleh Allah.

Menurut Al-Raghib al-Ashfahaniy dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata nuhaa itu ternyata bentuk plural dari kata al-nuhyah. Artinya adalah akal yang melarang atau mencegah pemiliknya berbuat keji atau keburukan. Frase Ulin Nuha itu seperti disebut oleh QS.20:54.

Sebab kalau mau melakukan pelacakan pun, kita memulainya dari kata kerja nahaa. Bentuk kata bendanya adalah al-nahyu yang memang berarti larangan mengerjakan sesuatu.

Sedangkan menurut Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab, kata al-nahyu itu kebalikan dari perintah. Yakni larangan. Jiwa yang melarang atau mencegah pelakunya dari sesuatu, itu disebut nafsun nahaatun.

Beberapa redaksi yang bisa dijumpai seperti “Fataa kaana dzaa hilmin ashiilin wa nuhyatin: pemuda yang baik akhlaknya dan cerdas akalnya.” Juga “Uuluu al-ahlaam wa al-nuhaa: yang baik perangainya dan berakal cerdas.” Disebutkan dalam sebuah Hadis Abu Wail, “Sungguh aku tahu, bahwa orang yang bertakwa itu dzuu nuhyah.” Yakni orang bertakwa, itu menggunakan akalnya.

Kata al-nihaayah dan al-manhaat itu juga bisa berarati akal, seperti al-nuhyah. Jika dikatakan “rojulun manhaatun” itu artinya adalah laki-laki yang berakal, bagus pemikirannya.

“Wa qod nahuwa maa syaa’a, fahuwa nahiyyun, min qowmin anhiyaa’.” Kata nahuwa, nahiyyun dan anhiyaa’ pada kalimat itu semuanya terkait dengan akal. Jika dikatakan, “Fulaan dzuu nuhyah: Fulan pemilik akal,” maka maksudnya adalah akalnya mencegah dirinya untuk berbuat keburukan, serta memasukkannya ke dalam kebaikan.

Kalimat “Huwa nahiyyun min qowmin anhiyaa’, wa nahin min qowmin nahiin,” menurut Ibnu Sidah, semua itu berarti kematangan akal. Begitu juga nihin.

Jadi secara bahasa, frase Ulin Nuha itu artinya yang selalu menggunakan akal sehatnya. Yang mendayagunakan akal sehatnya. Yang memelihara akal sehatnya dengan mengasah potensi kecerdasannya untuk membaca ayat-ayat Allah. Secara umum, baik itu ayat-ayat qowliyah (Al Qur’an) maupun ayat-ayat kawniyah (realitas alam dan sosial).

Orang yang memahami hukum alam (sunnatullah alias sebab akibat), lantas menyesuaikan dirinya untuk nasib baik, itu adalah Ulin Nuha. Orang yang menggunakan akalnya, untuk menyesuaikan dirinya dengan takdir baik, selamat, sukses dan bahagia dunia akhirat, itu juga Ulin Nuha.

Orang yang memelihara pikirannya, ucapannya dan perbuatannya dengan akal sehatnya, sehingga ia terhindar dari nasib buruk dan takdir celaka dunia akhirat, itu adalah Ulin Nuha. Orang yang Ulin Nuha akan selalu berusaha mengarahkan pikiran, ucapan dan perbuatannya pada kebaikan dan kemanfaatan.

Orang-orang yang Ulin Nuha akan selalu mempertimbangkan hukum Qur’an dan hukum alam (sunnatullah). Ia akan selalu membaca tanda-tanda, baik dari Qur’an, maupun dari realitas alam dan sosial. Ia adalah pribadi yang haus membaca. Tentu saja mencari manfaat dan menghindar dari mudarat.

Frase Ulin Nuha, ini dalam Al Qur’an hanya diulang dua kali saja. Yaitu QS.20:54 dan 128.

QS. Thaha[20]: 53 – 54 & 128
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّىٰ
53. Yang telah menjadikan bagimu BUMI sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.

كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰ
54. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu (di bumi itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat AYAT-AYAT (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi ORANG-ORANG YANG BERAKAL.

Ada gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya di alam semesta ini. Putaran itu sangat cepat. Akibatnya beberapa gumpalan kabut itu melesat dari pusatnya. Ada bagian besarnya yang membentuk cakram raksasa yang meledak membentuk asap (nebula). Kemudian nebula itu mendingin selama 4,6 miliar tahun.

Bima Sakti, itu terbentuk dari proses di atas. Tetapi, bagian-bagian kecil dari kabut raksasa itu kemudian mendingin dan memadat. Lantas menjadi planet-planet. Nah, salah satunya adalah planet biru yang kita tinggali ini. Di atas bumi, itu manusia bisa berjalan dan berkendara di darat. Berlayar di lautan.

Hujan terjadi berawal dari air yang menguap karena panas matahari. Uap air yang terangkat ke udara mengalami proses kondensasi.  Lalu menjadi embun. Suhu udara yang semakin tinggi, membuat embun itu semakin banyak. Memadat dan kemudian menjadi awan.

Angin menggerakkan awan yang membawa butir-butir air menuju tempat dengan suhu yang lebih rendah. Awan-awan yang terkumpul bergabung menjadi awan besar yang kelabu warnanya. Itulah alasan ketika akan hujan, biasanya banyak angin dan langitnya mendung.

Kemudian butir-butir air yang sudah melimpah dan memenuhi awan itu ditarik oleh gaya gravitasi bumi. Itulah hujan yang menyirami bumi. Bumi itu kemudian ‘melahirkan’ aneka jenis tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Seperti padi, gandum, kedelai, kacang, mangga, alpukat, apel, durian dan seterusnya yang lantas dikonsumsi dan dimanfaatkan oleh manusia.

Itu adalah sebuah proses yang teratur dan harmonis. Sebuah sistem yang bekerja dengan teratur. Mustahil keteraturan itu terjadi dengan sendirinya. Ulin Nuha menyimpulkan, Dia lah Allah yang mengatur dan memeliharanya.

أَفَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰ
128. Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat AYAT-AYAT bagi orang yang berakal.

Ayat di atas juga mengajarkan kepada Ulin Nuha itu. Bahwa orang yang menentang hukum Allah, baik hukum Qur’an maupun hukum sunnatullah, akan celaka dan menderita hidupnya. Bahkan sudah sejak di dunia ini. Orang-orang yang Ulin Nuha, itu tidak akan mengulangi kesalahan orang yang celaka itu. Ulin Nuha akan melakukan sebaliknya. Sehingga selamat, sukses dan bahagia dunia akhirat.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

Minggu, 02 Agustus 2020

SANG ULIL ABSHOR


—Saiful Islam*—

“Semuanya menunjuk kecerdasan akal, sehingga mudah mengerti…”

Frase yang tak kalah apik lagi, terkait temat Qur’an Inspirasi Literasi, ini adalah Ulil Abshor. Saking menariknya, anak saya yang satunya lagi, saya beri nama Rayhan Ulil Abshor. Susunan kata Ulil Abshor, itu secara sekilas artinya adalah yang memiliki wawasan. Sang pemilik wawasan yang luas. Idhoofah tersebut memang digunakan oleh Allah di dalam Al Qur’an.

Berdasar Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, begini. Kata al-bashor itu untuk menamai salah satu organ tubuh manusia yang digunakan untuk melihat. Yakni mata. Seperti disebut oleh QS.16:77 dan QS.33:10.

Kata al-bashor, itu juga untuk menunjuk kekuatan yang ada di dalam mata. Dan dikatakan bahwa nama untuk kekuatan akal yang cerdas, sehingga mudah mengerti, itu adalah bashiiroh dan bashor. Seperti QS.50:22 dan QS.53:17.

Bentuk plural al-bashor adalah abshoor. Dari kata inilah Ulil Abshor itu diambil. Sedangkan bentuk plural al-bashiiroh adalah bashooir.

Menurut Lisan al-Arab, kata bashooir pada ayat ‘Qod jaaakum bashooir min robbikum (QS.6:104),” itu artinya adalah Al Qur’an. Sehingga terjemahnya, “Sungguh telah datang Al Qur’an dari Tuhan kalian.” Karena Al Qur’an itu mengandung penjelasan-penjelasan dan pengetahuan yang memperkaya wawasan. Yang memperhatikan Qur’an akan bermanfaat bagi dirinya. Sebaliknya yang mencuekin Qur’an, akan berbahaya bagi dirinya.

Kata mubshiroh pada QS.27:13, menurut Al-Zajjaj maknanya adalah yang terang atau jelas. Yakni yang bisa dilihat, dipikirkan dan direnungkan. Menurut Al-Farra’, kata mubshiroh itu artinya adalah yang menerangi (akal dan jiwa), sebagaimana QS.10:67. Menurut Abu Ishaq, kata mubshiroh itu berarti menjelaskan sehingga mereka mempunyai wawasan.

QS. Al-Naml[27]: 13
فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
Maka tatkala ayat-ayat Kami yang JELAS itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: "Ini adalah sihir yang nyata.”

Al-bashiiroh, juga menurut Ibnu Manzhur berarti argumentasi. Juga bisa berarti meminta penjelasan detail.

Al-bashiiroh adalah keyakinan hati. Menurut Al-Layts al-bashiiroh berarti nama keyakinan di hati soal Agama Islam dan penelusuran hakikat sesuatu. Menurut satu pendapat al-bashiiroh artinya kecerdasan. Orang Arab biasa berkata, “Allah membutakan bashooir-nya.” Yakni kecerdasannya.

Dijumpai redaksi seperti “Wa innahuu ladzuu bashor wa bashiiroh fi al-‘ibaadah.” Serta redaksi “Wa innahuu labashiir bi al-asyyaa’.” Yang dimaksud adalah ia memiliki pengetahuan dalam urusan tersebut. Jadi bashor, bashiiroh dan bashiir di situ artinya memiliki ilmu pengetahuan.

Untuk firasat yang benar (semacam feeling kalau Inggris-nya), itu disebut firoosah dzaat bashiiroh. Kata al-bashiiroh juga berarti al-‘ibroh (proses mengambil pelajaran dari sesuatu dengan menggunakan akal kecerdasan).

Jadi menurut bahasa, kata abshoor yang bentuk plural dari bashor, atau pun bashooir yang merupakan bentuk plural dari bashiiroh, itu lebih menunjuk ke aktivitas psikis seseorang. Sesuatu yang terjadi di otak. Yakni memandang dengan akal. Melihat dengan hati. Memandang dengan ilmu pengetahuan. Atau pengetahuan itu sendiri yang ditangkap oleh akal kemudian menghasilkan pandangan. Alias wawasan.

Mata, itu berbeda dengan penglihatan. Kalau mata menunjuk pada fisik organnya. Kalau penglihatan menunjuk pada fungsinya. Mata, juga berbeda dengan pandangan atau wawasan. Pandangan dan wawasan, itu juga menunjuk pada fungsi atau kemampuannya. Lebih ke non fisiknya. Makanya ada istilah ‘mata batin’. Begitu juga, telinga bisa dibedakan dengan pendengaran, dan akal dengan otak.

QS. Al-Nahl[16]: 78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Lalu Dia memberi kamu PENDENGARAN, PENGLIHATAN dan AKAL, agar kamu MENSYUKURINYA.

Mensyukurinya pada ayat di atas, maksudnya adalah menggunakan pendengaran, penglihatan dan akal tersebut dengan sebaik-baiknya. Mendayagunakannya.

Sehingga Ulil Abshor itu bisa diartikan secara sederhana sebagai orang yang memiliki banyak wawasan. Atau istilah yang lebih populer barang kali, sang pemilik wawasan yang luas. Frase tersebut hanya 4 kali saja terulang dalam Al Qur’an (QS.3:13; QS.38:45; QS.59:2 dan QS.24:44). Sebagai berikut.

QS. Ali Imran[3]: 13
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat PELAJARAN bagi orang-orang yang MEMPUNYAI MATA HATI.

QS. Shad[38]: 45
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ILMU-ILMU YANG TINGGI.

Jadi menurut QS.38:45 di atas, para Rasul itu digambarkan sebagai pribadi-pribadi yang Ulil Abshor. Bukan hanya kuat ingatannya, luas ilmu dan wawasannya, tetapi juga cerdas, bijaksana dan berakhlak mulia. Salah satunya selalu mengingatkan manusia kepada negeri akhirat (QS.38:46). Pandangan mereka seakan-akan tembus ke masa depan. Bisa ‘melihat’ sebuah kehidupan ‘di sana’, setelah kehidupan dunia yang di sini ini.

QS. Al-Hasyr[59]: 2
هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah. Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka. Sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang Mukmin. Maka AMBILLAH (kejadian itu) untuk MENJADI PELAJARAN, wahai orang-orang yang MEMPUNYAI WAWASAN.

QS. Al-Nur[24]: 44
يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat PELAJARAN yang besar bagi orang-orang yang MEMPUNYAI PENGLIHATAN.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

SANG ULUL ALBAB


—Saiful Islam*—

“Tak seorang pun bisa mengambil apa pun pelajarannya, terutama Al Qur’an, kecuali yang menggunakan akal sehatnya…”

Kata sangat menarik yang menurut saya masih terkait dengan tema QUR’AN INSPIRASI LITERASI adalah Ulul Albab. Atau frase (idhoofah) Ulil Albab yang sekilas artinya pemilik akal sehat. Ini juga menjawab prinsip yang katanya: membaca Qur’an itu boleh tanpa paham.

Frase Ulul Albab yang saya suka, ini memang ada dalam Qur’an. Salah satu dari tiga anak saya yang semuanya lahir di Bulan Ramadan, saya beri nama Ramdhan Ulil Albab. Salah satu adik saya, bernama Labib. Keponakan saya, juga ada yang bernama Ulul Albab. Keluarga kami, ayah saya terutama, itu memang gampang ngefans pada orang-orang berilmu yang cerdas. Pecinta ulama.

Alhamdulillah, saya punya guru-guru dan kawan-kawan yang cerdas. Para pecinta ilmu dan ulama. Pecinta buku dan kitab. Pecinta bahasa (terutama Indonesia, Arab, Inggris). Pecinta membaca dan menulis. Pecinta diskusi yang akrab dan terbuka. Pecinta literasi.

Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-lubb itu artinya adalah akal murni tanpa campur kotoran lagi. Ibarat kelapa, al-lubb itu minyaknya yang jernih setelah melalui beberapa proses. Alias sarinya. Karena substansi manusia, itu ya akal sehatnya itu. Al-lubb itu adalah paling intinya segala sesuatu.

Menurut satu pendapat, al-lubb itu adalah akal yang paling suci dan bersih. Substansinya akal. Maka setiap lubb itu pasti adalah akal. Dan tidak semua akal itu lubb. Karenanya Allah mengaitkan hukum-hukum atau hikmah-hikmah yang tidak bisa dicapai kecuali oleh akal yang jernih, itu dengan Ulul Albab. Sebagaimana disebut oleh QS.2:269 dan ayat-ayat lain yang serupa.

QS. Al-Baqarah[2]: 269
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. HANYA ORANG-ORANG YANG BERAKAL SAJA yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Jika dikatakan, “Labba al-Fulaan yalabb,” maka artinya Fulan itu menjadi punya akal sehat.

Kalau Lisan al-Arab bercerita begini. Lubb-nya setiap sesuatu, itu adalah yang terbaik dan yang terpilih dari sesuatu itu. The chosen one (al-lubaab). Diibaratkan buah, lubb itu yang dimakan. Yakni ‘dagingnya’. Kulitnya yang dikupas, itu dibuang. Bayangkan saja seperti buah durian.

Disebutkan juga bahwa lubb-nya setiap sesuatu itu adalah jiwanya (nyawanya) dan hakikatnya. Terkadang bisa atau racunnya ular, itu disebut lubb. Kenapa? Karenanya bisa ular itu adalah paling pentingnya ular. Kalau ayam, ya tajinya (jalunya). Kalau manusia, ya akalnya. Dan seterusnya. Jadi akal sehat, itu al-lubb. Bentuk pluralnya (jamak) adalah albaab, alubb dan albub.

Labiib itu adalah orang yang berakal sehat. Untuk laki-laki. Bentuk mashdar-nya adalah labaabah. Kalau perempuan labiibah.

Jadi menurut bahasa Ulul Albab atau Ulil Albab itu artinya adalah sang pemilik akal sehat. Yaitu orang yang selalu mendayagunakan seluruh potensi kecerdasannya untuk memahami ayat-ayat qowliyah (Al Qur’an) dan ayat-ayat kawniyah (realitas alam dan sosial). Sekaligus mampu mengaplikasikannya langsung secara nyata ke dalam kehidupan sehari-hari.

Kata albaab ini terulang sebanyak 16 kali di dalam Al Qur’an. Yaitu QS.2:179, 197, 269; QS.3:7, 190; QS.5:100; QS.12:111; QS.13:19; QS.14:52; QS.38:29, 43; QS.39:9, 18, 21; QS.40:54; dan QS.65:10. Beberapa sudah diceritakan pada tulisan sebelumnya. Marilah kita lihat beberapa lagi.

QS. Ali Imran[3]: 7
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang Muhkamat. Itulah pokok-pokok isi Al Qur'an. Dan yang lain (ayat-ayat) Mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah, dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." TIDAK AKAN BISA MENGAMBIL PELAJARAN (DARINYA) KECUALI ORANG-ORANG YANG BERAKAL.

QS. Al-Maidah[5]: 100
قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka BERTAKWALAH kepada Allah hai orang-orang BERAKAL, agar kamu mendapat KEBERUNTUNGAN."

QS. Al-Ra’ad[13]: 19
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang ‘buta’? HANYALAH ORANG-ORANG YANG BERAKAL SAJA YANG DAPAT MENGAMBIL PELAJARAN.

Di antara sifat Ulul Albab, itu memenuhi janji Allah, dan tidak melanggar perjanjian (QS.13:20). Dan memelihara silaturahim, takut kepada Allah, takut kepada hisab yang buruk (QS.13:21). Serta orang yang sabar karena mengharap ridha Allah, melaksanakan salat, menginfakkan sebagian rezekinya dan membalas kejahatan (orang lain) dengan kebaikan (QS.13:22).

QS. Ibrahim[14]: 52
هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia. Supaya mereka diberi peringatan dengannya. Dan supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dan AGAR ORANG-ORANG YANG BERAKAL MENGAMBIL PELAJARAN.

QS. Al-Zumar[39]: 18
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
Yang mendengarkan perkataan lalu MENGIKUTI apa yang PALING BAIK di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah DIBERI ALLAH PETUNJUK dan mereka itulah orang-orang yang MEMPUNYAI AKAL.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...