Selasa, 01 September 2020

MENYENTUH QUR’AN


—Saiful Islam*—

“Bolehkah membaca Qur’an dengan berusaha memahaminya tanpa wudhu dulu, keadaan junub, dan haid? Boleh sekali!”

Pernah suatu hari saya salat di sebuah masjid. Sambil menikmati bacaan imam, tanpa sengaja mata saya melihat sebuah Al Qur’an. Sampulnya bertuliskan, “Laa yamassuhuu illaa al-muthohharuun.” QS.56 ayat 79 itu kurang lebih berarti: “Tidak bisa menyentuh Al Qur’an itu kecuali orang-orang yang disucikan.” Sekilas waktu itu saya terinpirasi: “Tidak akan bisa memahami dan mengamalkan Qur’an, itu kecuali orang-orang yang mensucikan jiwanya.”

Pada umumnya, lantas, ayat itu digunakan dalil bahwa menyentuh Qur’an itu wajib berwudhu bagi orang yang berhadas kecil. Begitu juga, orang yang berhadas besar wajib mandi besar dulu sebelum menyentuh dan membaca Qur’an. Dengan kata lain, orang yang tidak punya wudhu apalagi belum mandi besar (junub) haram membaca Qur’an. Jangankan membacanya. Menyentuh saja sudah haram. Nah, saya beda pendapat.

Saya kutipkan dulu ayatnya.

QS. Al-Waqi’ah[56]: 77 – 79
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
 Sesungguhnya AL QUR’AN ini adalah bacaan yang sangat mulia.

فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ
 Pada KITAB yang TERPELIHARA.

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
 Tidak MENYENTUHNYA kecuali orang-orang yang DISUCIKAN.

Untuk ayat 78 yang berbunyi “fii kitaab maknuun,” ada yang menerjemahkannya dengan Lawh Mahfuuzh—dengan maksud soft file Qur’an gaib yang antah-berantah. Menurut saya, arti yang lebih tepat begini: ayat-ayat Qur’an itu benar-benar terkumpul dalam sebuah buku. Ya Mushhaf ini.

Istilah Lawh Mahfuuzh (QS.85:21-22), itu bukan soft file Qur’an antah-berantah. Tetapi menunjukkan bahwa ayat-ayat Qur’an benar-benar ditulis pada lembaran-lembaran (indikasi kuatnya kulit binatang). Dengan pembukuan menjadi mushshaf, itu adalah cara Allah menjaga keasilan dan kemurnian Qur’an. Penjagaan Qur’an, itu lebih dengan tulisan. Lebih detail tinjau lagi HAAFIZH BUKAN HAFAL.

Sekarang kita masuk pada QS.56:79. Terutama kata ‘yamassuhu’ yang secara harfiah berarti menyentuhnya (Al Qur’an). ‘Menyentuh’ di sini, itu bukan menyentuh secara fisik. Misalnya menyentuh Mushhaf dengan tangan. Tetapi maksudnya adalah menyentuh secara psikis. Yakni memahami dan mengamalkan. Tidak bisa ‘menyentuh’ Qur’an kecuali orang yang disucikan, maksudnya adalah tidak akan bisa memahami Qur’an itu kecuali orang yang mensucikan jiwanya.

Jadi, kata ‘menyentuh’ pada QS.56:79 itu adalah makna majas. Bukan makna hakiki. Makna konotatif. Bukan makna denotatif. Makna implisit. Bukan makna eksplisit. Makna kiasan. Bukan makna harfiah. Pemaknaan itu, kita bisa mengambil i’tibarnya dari ayat berikut.

QS. Al-Baqarah[2]: 237
وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ
Jika kamu menceraikan isterimu sebelum kamu ‘BERSENTUHAN’ (berhubungan intim) dengannya, padahal kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu.

Atau ayat di bawah ini.

QS. Al-Baqarah[2]: 236
لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ
Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isterimu sebelum kamu ‘BERSENTUHAN’ (berhubungan intim) dengannya dan sebelum kamu menentukan maharnya.

Atau ungkapan Maryam pada ayat di bawah ini.

QS. Ali Imran[3]: 47
قَالَتْ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Maryam berkata: "Ya Tuhanku. Bagaimana mungkin aku mempunyai anak. sedangkan belum pernah seorang laki-laki pun ‘MENYENTUHKU’." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah" maka jadilah ia.

Jadi kata ‘menyentuh’ dengan redaksi al-mass pada ketiga ayat di atas, itu bukan bermakna hakiki. Tetapi majazi—menyebut satu kata, tetapi yang dimaksud adalah bukan kata itu. ‘Menyentuh’ yang dimaksud adalah berhubungan intim.

Maka begitu juga kata ‘menyentuh’ pada QS.56:79 itu. Tidak menyentuh Qur’an, kecuali orang-orang yang disucikan. Itu artinya adalah tidak akan bisa paham (idrook) Qur’an kecuali orang-orang yang mensucikan jiwanya. Orang yang akan bisa paham Qur’an, itu hanyalah orang-orang yang punya niatan baik ketika membaca Qur’an. Orang-orang yang tulus mencari petunjuk dan kebenaran dari Qur’an.

Itulah orang-orang yang disucikan itu (al-muthohharuun). Sebenarnya al-muthohharuun, itu adalah kata pasif. Mabni majhuul, istilah Arabnya. Artinya orang yang disucikan. Atau tersucikan. Disucikan oleh siapa? Tentu saja yang pertama dan utama adalah kemauan orang itu sendiri. Siapa yang mensucikan jiwa seseorang sehingga bisa paham Qur’an? Tentu orang itu sendiri. Barulah Allah merestui.

Makanya beberapa ayat yang sudah disebut terdahulu, dijumpai kata ihtadaa yahtadiy. Misalnya “Siapa yang berusaha mendapat petunjuk, maka petunjuk itu untuk dirinya sendiri,” (QS.10:108). Yakni orang yang memang berusaha mendapat petunjuk. Begitu kalau ada orang yang condong pada kesesatan, ya Allah turuti (QS.61:5).

Adapun orang-orang yang dari awal niatnya sudah condong pada kesesatan (QS.3:7), ya tentu dia semakin menemukan dalil untuk menuju kesesatan itu. Lebih tepatnya, melintir ayat. Mau tidak salat, ada ayatnya. Mau merampok, ada ayatnya. Mau menjadi teroris, ada ayatnya. Biasanya hanya mengambil satu ayat saja. Atau malah sepenggal saja. Tidak komprehensif memahami ayat. Penyebab utamanya adalah tendensi buruk itu tadi. Niat jahat. Inilah orang-orang yang tidak mensucikan jiwanya. Mengotori jiwanya.

Termasuk yang tidak akan bisa memahami Qur’an, itu adalah orang-orang yang hobi berbuat salah dan dosa. Karenanya Allah menegaskan beruntung orang yang mensucikan jiwa itu dan merugilah orang-orang yang mengotorinya (QS.91:9-10).

Begitu juga orang-orang kafir. Adalah orang jiwanya dikotori. Mereka mengotori jiwanya sendiri. Dari awal sudah apriori. Menutup akal dan hatinya sendiri. Untuk tidak mau paham Qur’an. Ya sampai kiamat pun tidak akan paham Qur’an. Wong nggak mau paham. Malah dari awal sudah tendensius. Memusuhi Qur’an. Mau melenyapkan Qur’an. Mereka itulah orang-orang yang tidak mensucikan jiwanya. Sehingga tidak bisa paham (idrook) Qur’an.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

SANG ILMUWAN


—Saiful Islam*—

“Ternyata istilah Ilmu Ladunniy, itu salah…”

Kata ‘aliim atau al-‘aliim (terulang 140 kali) atau ‘aliiman (22 kali) hampir semuanya untuk Allah. Yang berarti Yang Maha Mengetahui.

Menurut Lisan al-Arab, kata ‘aliim itu boleh juga untuk menamai orang yang Allah anugerahi ilmu pengetahuan. Seperti ucapan Nabi Yusuf (QS.12:55) kepada raja: “Aku bisa memeliharanya (hafiizh) juga punya ilmunya (‘aliim).” Bentuk pluralnya adalah ulamaa’.

QS. Yusuf[12]: 55
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Yusuf berkata: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi BERPENGETAHUAN.”

Kata ulamaa’ tersebut, sudah diserap Bahasa Indonesia, ulama, diartikan orang yang ahli agama Islam. Yang biasanya dispesifikkan dengan Ilmu Fikih (Hukum Islam). Mestinya Ilmu Al Qur’an (QS.20:114). Karena sekali lagi, di zaman Nabi masih hidup, yang disebut agama Islam adalah Al Qur’an dan Sunnah itu sendiri.

Sebenarnya, definsi ulama menurut KBBI di atas, itu kurang tepat. Lebih tepatnya adalah definisi yang disebutkan oleh Lisan al-Arab. Yakni setiap orang yang mempunyai ilmu pengetahuan pada umumnya. Saya senang menyebutnya, dengan istilah ilmuwan. Bisa jadi memang, salah satunya adalah Ilmu Fikih.

Sebab ilmu pengetahuan, itu tidak hanya ilmu agama Islam. Ada ilmu Perbandingan Agama, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Kedokteran, Neurologi, Kosmologi, Geografi, Psikologi, Sosiologi, Antropologi, Sejarah, Politik, Hukum, Manajemen, Entrepreneurship, Pertanian dan Perikanan, Kesenian dan Keterampilan dan cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain.

Itu semua ilmu Allah. Kita pun memiliki ilmuwan Muslim yang hebat. Seperti Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Al-Kindi, Jabir bin Hayyan, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu al-Nafis, Ibnu Khaldun, dan lain-lain.

Bahkan jika mengacu pada sejarah Yusuf pada QS.12:55, itu lebih menunjukkan ilmu manajemen keuangan. Atau ilmu ekonomi. Bukan hanya mengindikasikan ilmu teoritis (‘aliim), tetapi juga ilmu praktis (hafiizh). Skill.

Kata al-‘ulamaa’ sendiri, itu hanya terulang 2 kali saja (QS.26:197 dan QS.35:28). Pada QS.26:197, berbentuk frase ulama Bani Israil. Ulama di sini menunjuk pada orang yang mengetahui Qur’an. Bahwa kandungan Qur’an, itu telah disebut dalam Kitab-Kitab terdahulu, seperti Zabur, Taurat dan Injil. Diketahui oleh orang yang memiliki Ilmu Kitab (QS.13:43).

QS. Al-Syu’ara’[26]: 196 – 197
وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ
Sesungguhnya AL QUR’AN itu benar-benar (TERSEBUT) DALAM KITAB-KITAB ORANG TERDAHULU.

أَوَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ آيَةً أَنْ يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ
Apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa PARA ULAMA BANI ISRAIL MENGETAHUINYA?!

Adapun ulama pada QS.35:28, itu lebih menunjuk kepada orang yang pakar ilmu alam dan sosial. Fenomena alam dan sosial. Atau pakar ayat kawniyah. Bukan Ilmu Fikih. Sebab ayat itu dan sebelumnya (QS.35:27) bercerita tentang hujan, aneka jenis buah-buahan, gunung-gunung, manusia dan hewan ternak.

QS. Fathir[35]: 28
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Dan demikian (pula) di antara MANUSIA, BINATANG MELATA dan HEWAN TERNAK ada yang BERMACAM-MACAM warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang TAKUT KEPADA ALLAH di antara hamba-hamba-Nya, HANYALAH ULAMA. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Sedangkan al-‘ilm terulang sebanyak 80 kali. Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-‘ilm itu sendiri artinya adalah mengerti hakikat sesuatu. Menurut Lisan al-Arab, kata al-‘ilm itu lawan kata al-jahl (bodoh, tidak tahu). Diserap oleh Bahasa Indonesia menjadi llmu. Mudahnya diartikan dengan pengetahuan. Ilmu ada dua macam. Ilmu teoritis (seperti ilmu alam) dan ilmu praktis (seperti ilmu teknis ibadah).

Hanya Allah yang tahu ilmu tentang hal gaib. Siapa pun tidak diberi ilmunya, kecuali kepada Rasul (QS.72:26-28). Nabi SAW misalnya lantas tahu Allah, surga, neraka, hari dibangkitkan dari kubur, pengadilan, dan seterusnya sebatas info Qur’an. Karenanya mengarang-ngarang tentang Allah tanpa ilmu itu dilarang (QS.6:144).

Tentang kiamat pun, ilmu Nabi terbatas hanya sesuai info Qur’an saja. Karena secara detail, termasuk kapan waktunya kiamat, itu termasuk ilmu gaib masa depan yang hanya Allah saja yang tahu (QS.31:34; 43:61; 67:26; QS.7:187-188 dan QS.33:63). Bahkan tentang ruh pun, itu juga sedikit ilmunya yang diberikan Allah kepada manusia (QS.17:85).

Qur’an juga menyatakan bahwa kebanyakan manusia, itu tidak berilmu (QS.12:68). Yang bisa menyesatkan orang lain, itu memang tidak punya ilmunya atau tanpa ilmu (QS.16:25; QS.6:119). Karena orang yang tidak punya ilmu, itu hanya akan selalu mengikuti prasangka (QS.45:24; QS.53:28). Bukan ilmu pengetahuan yang benar.

Umat Islam dilarang ikut-ikutan tanpa tahu ilmunya (QS.17:36). Dengan kata lain, mengikuti itu harus paham ilmunya. Tidak bisa ‘pokoknya’ ikut. Iman dan Islam kita ini harus dilandasi dengan kepahaman. Karena setiap pendengaran, penglihatan dan akal (hati) akan dimintai pertanggungan jawabnya masing-masing. Tentu salah pernyataan: percaya, itu ya percaya saja. Tanpa kenapa-kenapa. Tanpa kalkulasi.

Keyakinan terhadap Al Qur’an, itu dekat dengan orang-orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (QS.22:54). Qur’an itu menjadi tanda-tanda yang gamblang akan eksistensi Allah di dada orang yang diberi ilmu pengetahuan (QS.29:49). Wajar kalau Allah pun mengapresiasi orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan dilebihkan derajatnya (QS.58:11).

Ilmu diberikan Allah, itu seiring dengan kematangan akal seseorang dan sebagai balasan kebaikan yang dilakukan (QS.12:22; QS.28:14). Qur’an pun menceritakan Nabi Luth yang Allah beri Hikmah dan Ilmu pengetahuan (QS.21:74). Begitu juga Nabi Daud dan Nabi Sulaiman (QS.21:79; QS.27:15).

Adapun yang terkenal dengan istilah Ilmu Ladunni, itu sebenarnya salah istilah. Yang benar adalah Ilmu Ladunnaa (QS.18:65). Ladunniy berarti ‘ilmu dari sisi-Ku’. Kalau ladunnaa berarti ‘ilmu dari sisi Kami’. Ayat itu bercerita tentang Musa dan asistennya, bertemu seorang Nabi (umumnya disebut Khidir) yang sudah mendapat pesan Tuhan.

Redaksi ‘Kami’ pada QS.18:65, itu mengindikasikan Allah memberikan wahyu kepada Khidir dengan melibatkan pihak lain. Pihak lain tersebut adalah Jibril. Karenanya di ayat-ayat selanjutnya, Khidir bisa tahu masa depan dan melakukan tindakan yang salah menurut Musa. Tetapi kemudian dijelaskan oleh Khidir. “Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri,” kata Khidir (QS.18:82).

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.



PUTUS DENGAN QUR’AN


—Saiful Islam*—

“Yang disebut sebagai Agama Islam di zaman Nabi hidup, itu bukan Hadis, Ijma’, Qiyas dan Mazhab. Tetapi Qur’an dan Sunnah…”

Sudah menjadi sunnah-Nya, bahwa setiap penyampai firman-Nya (Rasul) itu ada yang memusuhi (QS.25:31). Tidak terkecuali Nabi SAW. Para rival Nabi itu berusaha keras menghabisi beliau, sejatinya tujuan paling intinya adalah memusnahkan ajarannya. Melenyapkan Qur’an. Sampai-sampai Nabi ‘curhat’ kepada Allah sebagaimana direkam dalam ayat berikut.

QS. Al-Furqon[25]: 30
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Rasul (Muhammad) mengadu: "Ya Tuhanku. Sesungguhnya kaumku MENJADIKAN AL QUR’AN itu sesuatu yang TIDAK DIACUHKAN.”

Kata mahjuuron, itu berasal dari al-hajr. Artinya adalah lawan kata menyambung (al-washl). Yakni memutus. Menjadikan Qur’an sebagai mahjuuron berarti memutus interaksi dengan Qur’an. Mengabaikan Qur’an. Menyepelekan Qur’an. Tidak mau mendasarkan beragamanya, beribadahnya, bersosialnya, berprinsipnya, hidup dan kehidupannya pada Qur’an.

Makanya, di beberapa tempat (misalnya QS.3:103; QS.22:78 dan QS.31:22) Allah menyebut Qur’an itu dengan tali Allah. Supaya Kaum Mukminin selalu berpegang teguh dengannya. Mendasarkan hidupnya secara totalitas pada nilai-nilai dan norma-norma yang tercantum di dalamnya.

QS. Ali Imran[3]: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
BERPEGANG TEGUHLAH kamu SEMUANYA kepada TALI ALLAH (AL QUR’AN), dan janganlah bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu (dengan Qur’an itu). Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah (Qur’an), orang-orang yang bersaudara. Kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Pernah seorang kawan menafsirkan tali Allah itu adalah agama Islam. “Agama Islam, itu tidak hanya Qur’an. Tetapi Hadis, Ijma’ dan Qiyas,” katanya.

Baiklah tali Allah disebut agama Islam. Tetapi agama Islam yang dimaksud ayat itu jelas hanya Qur’an. Kenapa? Sebab Hadis-Hadis, Ijma’ dan Qiyas, itu tidak ada ketika Nabi masih hidup dan para Sahabatnya. Hadis-Hadis, Ijma’ dan Qiyas, itu baru ada sekitar 200 tahun kemudian setelah wafatnya Nabi. Jadi yang disebut agama Islam di zaman Nabi, itu adalah Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.

Para pengingkar itu, memang sengaja membuat noise terhadap Qur’an. Hiruk-pikuk terhadap Qur’an. Membuat kegaduhan. Sengaja dibuat segala pernak-pernik yang menarik, untuk memalingkan umat Islam dari Qur’annya. Sehingga Kaum Mukminin gagal fokus terhadap Qur’an. Perhatian umat Islam terhadap Qur’an menjadi ambyar. Kabur. Sebagaimana dikisahkan oleh ayat berikut ini.

QS. Fushshilat[41]: 26
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
Dan orang-orang yang kafir berkata: "JANGANLAH KAMU MENDENGAR dengan sungguh-sungguh akan AL QUR’AN INI DAN BUATLAH HIRUK-PIKUK TERHADAPNYA, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.”

Intinya, mereka dengan segala cara membuat halangan dan rintangan (barricade), supaya umat Islam tidak bisa selalu online dengan Qur’an. Dilarang mendengarkan. Dilarang menyimak. Dilarang memikirkan. Dilarang merenungkan. Dilarang mentadabburi makna-maknanya. Dilarang membahas pesan, hukum, dan hikmah-hikmahnya. Dilarang mengambil pelajaran darinya. Dilarang memahami. Dan seterusnya.

Dan noise itu pun bisa terjadi di zaman informasi abad 21M ini. Maka wajar kalau Umat Islam menjadi seperti pohon yang tercabut dari akarnya. Beragamanya menjadi rapuh. Gampang terombang-ambing. Seperti kapal tanpa mesin, yang tidak memiliki tujuan yang jelas. Angin ke utara, ikut ke utara. Angin ke selatan, ikut ke selatan. Berputar-putar.

Padahal. Siapa yang berpaling dari Qur’an, pasti hidupnya akan sempit. Sebagaimana disebut oleh ayat berikut ini.

QS. Thoha[20]: 124
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Barangsiapa BERPALING DARI PERINGATAN-KU (AL QUR’AN), maka sungguh baginya PENGHIDUPAN yang SEMPIT. Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta.

Ada orang yang biasa berbicara tanpa ilmu. Omong kosongnya itu menyesatkan manusia. Wajar kalau orang demikian langsung berpaling sambil menyombongkan diri ketika dibacakan ayat-ayat Allah (QS.31:6-7).

Orang kafir pasti berpaling kalau dibacakan Qur’an (QS.54:2 dan QS.36:46). Kebanyakan mereka memang akan berpaling kalau dikemukakan Qur’an (QS.41:4 dan QS.6:4). Itu juga yang pernah terjadi pada Kaum Tsamud. Mereka langsung mendustakan Rasul. Dan berpaling dari ajaran-Nya (QS.15:81).

Qur’an disebut sebagai pelajaran orang-orang yang bersama Nabi. Kandungannya itu, terutama Tauhid, juga ada pada kitab-kitab terdahulu. Tetapi para rival Nabi itu kebanyakan tidak mengetahui kebenaran. Makanya tidak memperhatikan Qur’an (QS.21:24 dan QS.26:5).

Orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Allah, itu diumpamakan dengan keledai liar yang lari terkejut karena kaget ada singa yang akan menerkamnya (QS.74:49-52). Jadi bagi mereka, Qur’an ini adalah ancaman.

Orang yang diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya (Qur’an), tetapi berpaling, itu disebut oleh QS.18:57 sebagai orang yang zalim. Bahkan sangat zalim (QS.32:22). Karena itu akal mereka terhijab. Sehingga tidak bisa memahami. Apalagi dapat petunjuk.

Bahkan, kebanyakan manusia berpaling, itu bukan hanya terhadap ayat-ayat Qur’an. Ayat-ayat qowliyah. Tetapi juga ayat-ayat realitas alam dan sosial. Mereka tidak mengacuhkan ayat-ayat kawniyah. Tidak peduli (QS.12:105).

Orang yang sudah menutup hati dan akalnya untuk beriman terhadap eksistesi Tuhan, memang pasti akan berpaling dari dua jenis ayat Allah itu (QS.21:32). Fenomena alam dan sosial yang tersistem teratur dan harmonis, itu hanya mereka anggap kebetulan saja. Terjadi dengan sendirinya.

Mereka itulah orang yang menjadi teman setan. Setan itu yang menyesatkan mereka dari jalan yang benar. Sambil menyangka mendapat petunjuk. Padahal bukan.

QS. Al-Zukhruf[43]: 36 – 37
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
Barangsiapa yang BERPALING DARI PENGAJARAN TUHAN YANG MAHA PEMURAH (AL QUR’AN), Kami adakan baginya SETAN (YANG MENYESATKAN). Maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
Dan sungguh setan-setan itu benar-benar MENGHALANGI MEREKA DARI JALAN YANG BENAR dan mereka MENYANGKA bahwa mereka mendapat petunjuk.

Mereka itulah yang diancam dengan adzab yang sangat keras (QS.72:17)

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

TAK MAU PAHAM


—Saiful Islam*—

“Orang Arab asli sekalipun, kalau tidak mau paham, tidak akan bisa paham Qur’an. Apalagi dapat petunjuk…”

Orang-orang yang tidak mau paham, itu dicela oleh Al Qur’an. Sebagaimana disebut oleh ayat berikut.

QS. Al-Anfal[8]: 22
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya seburuk-buruknya makhluk di sisi Allah adalah orang-orang yang pekak dan tuli yang TIDAK MAU MEMAHAMI.

Allah pun marah pada orang-orang yang tidak mau memahami. Jelas sekali tercantum pada ayat di bawah ini.

QS. Yunus[10]: 100
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
Tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah. Dan ALLAH MENIMPAKAN KEMURKAAN kepada orang-orang yang TIDAK MAU MEMAHAMI.

Orang yang tidak mau paham, itu disamakan dengan hewan ternak, bahkan lebih sesat (QS.25:44). Orang kafir (menutup akal dan hatinya) itu juga disamakan dengan hewan ternak (QS.2:170-171). Karena dari awal, mereka memang sudah tidak mau paham (QS.8:65).

QS. Al-Furqon[25]: 44
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau MEMAHAMI. Mereka itu tidak lain, hanyalah SEPERTI BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

Qur’an juga menggambarkan bahwa orang yang tidak mau paham, itu identik dengan orang munafik. Karena tidak mau paham itu, Allah lantas memalingkan hati (akal) mereka (QS.9:127)

Orang yang mengejek dan mengolok-olok agama ini, tentu saja tidak patut dijadikan pemimpin Kaum Mukminin. Mereka itu pun diidentikkan dengan orang yang tidak paham (QS.5:58).

Yang mengarang-ngarang syariat sesuai kemauannya sendiri, juga mengarang-ngarang soal akidah (terutama tentang Allah), itu juga disebut Qur’an sebagai orang-orang yang tidak paham (QS.5:103).

Mau mendengar Qur’an, itu tidak otomatis bisa paham. Apalagi bisa dapat petunjuk Qur’an. Bahkan orang Arab asli yang sehari-hari berbahasa Arab sekali pun. Tidak akan bisa paham. Inilah yang terjadi pada para rival Nabi. Jadi seandainya Nabi membacakan 30 juz pun, bahkan berulang-ulang, mereka tidak akan bisa paham. Tidak akan bisa memperoleh petunjuk (QS.10:42-43).

Orang yang tidak bisa paham, itu identik dengan hati dan akal yang terkunci atau buta. Serta pendengaran yang tersumbat. Sehingga tertutup. Lantas paham itu tidak bisa masuk. Ini digambarkan misalnya oleh QS.63:3; QS.6:25; QS.17:46; QS.18:57 dan QS.22:46.

QS. Al-Isra’[17]: 46
وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا
Kami adakan TUTUPAN di atas hati mereka dan SUMBATAN di telinga mereka, AGAR MEREKA TIDAK DAPAT MEMAHAMINYA. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.

Penghuni neraka, kelak akan menyesal. Karena dulu sewaktu hidup di dunia, mereka tidak mau memahami (QS.67:10). Kebanyakan penghuni neraka, itu memang orang-orang yang tidak mau memahami (QS.7:179).

QS. Al-A’raf[7]: 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Sungguh Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) KEBANYAKAN dari jin dan manusia. Mereka MEMPUNYAI HATI (AKAL), TETAPI TIDAK DIGUNAKAN UNTUK MEMAHAMI (AYAT-AYAT ALLAH). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Itulah orang-orang yang lalai.

Jadi, marilah peringatan-peringatan Qur’an di atas, itu menjadi auto kritik bagi kita Umat Islam sendiri. Jangan sampai kita menjadi tercela. Jangan sampai Allah marah kepada kita. Jangan sampai kita seperti binatang ternak. Dan jangan sampai kita, lantas masuk neraka. Celaka dunia, dan celaka akhirat. Na’uudzu billaah.

Caranya, dengan melakukan sebaliknya. Yaitu berusaha memahami. Baik memahami ayat-ayat Qur’an (qowliyah), maupun memahami ayat-ayat realitas alam dan sosial (kawniyah). Lantas mengikuti perintah dan anjuran Allah yang menyelamatkan, mensukseskan dan membahagiakan kita dunia akhirat. Serta sekuat tenaga tidak melakukan apa yang dilarang.

Beragama ini memang sebuah perjalanan memahami. Proses terus-menerus. Tak pernah final. Kecuali kematian. Memilih pemahaman yang terbaik. Tidak boleh hanya ikut-ikutan, tanpa paham. Karena pendengaran, penglihatan dan hati, kelak akan dimitai pertanggungan jawabnya masing-masing.

QS. Al-Isra’[17]: 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
JANGANLAH MENGIKUTI apa yang kamu TIDAK TAHU ILMUNYA. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu AKAN DIMINTA PERTANGGUNGAN JAWABNYA.

QS. Al-Zumar[39]: 18
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
Yang MENDENGARKAN perkataan lalu MENGIKUTI apa YANG PALING BAIK di antaranya. Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk. Itulah orang-orang yang MAU MEMAHAMI.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...