Kamis, 11 Juni 2020

NABI MENGKAJI QUR’AN


—Saiful Islam*—

“Beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya. Karena jiwa yang kotor tidak akan bisa ‘menyentuh’ Al Qur’an…”

Setelah menelusuri kata tilawah, qiro’ah, tumlaa, tartil, tadabbur, tadarus, yang semuanya memang mengharuskan pemahaman, rasanya menarik juga disampaikan beberapa hal berikut ini.

Pertama, tentang proses pewahyuan kepada Nabi. Ayat-ayat Qur’an, itu diwahyukan oleh Allah kepada Nabi. Allah melibatkan Jibril dalam pewahyuan itu. Karenanya Allah sering menggunakan redaksi ‘Kami’. Yaitu Allah melibatkan selain Dzat-Nya sendiri. Pihak lain. Jibril menancapkan ayat-ayat Al Qur’an itu langsung ke hati Nabi (‘alaa qolbik). Tanpa suara. Tanpa mimpi. Jibril tanpa perlu menjelma menjadi manusia. Diceritakan oleh ayat-ayat berikut ini.

QS. Al-Baqarah[2]: 97
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka JIBRIL ITU TELAH MENURUNKANNYA (AL QUR’AN) KE DALAM HATIMU dengan izin Allah. Al Qur’an itu membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

QS. Al-Syu’ara[26]: 192 – 194
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ
Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril).

عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
KE DALAM HATIMU (MUHAMMAD) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.

Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas lagi tentang proses pewahyuan, ini bisa dibaca Surat ke-53, Al-Najm ayat 3 sampai 18. Di sini terutama digambarkan akal kecerdasan dan hati (fuaad) Nabi dalam melihat ayat Qur’an itu.

Begitu juga ketika Allah menjaga keotentikan Al Qur’an. Juga menggunakan redaksi ‘Kami’. Ia tidak bekerja sendiri. Tetapi selalu melibatkan pihak lain (QS.15:9). Selain Malaikat, Allah melibatkan manusia dalam penjagaan dan pemeliharaan Al Qur’an itu. Seperti dengan ditulis, dicetak, dengan aplikasi android, dan penggunakan teknologi lainnya. Termasuk dihafal teksnya di luar kepala. Serta dengan kajian.

Kedua, cara Nabi mengkaji Qur’an. Ini lebih kepada Nabi yang mengkaji Al Qur’an sendirian. Di malam hari yang panjang. Sedikit tidur. Beristighfar di waktu sahur (QS.51:17-18). Nabi mengulang-ulang pengkajian ayat-ayat Qur’an yang telah turun kepada beliau. Nabi diperintahkan untuk mengkaji Al Qur’an itu perlahan-lahan. Pengkajian itu, membuat Nabi mendapat perkataan yang berbobot (Al Qur’an). Ayat-ayat itu mantap di kalbu beliau.

QS. Al-Muzammil[73]: 1 – 7
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ
 Hai orang yang berselimut (Muhammad).

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا
Bangunlah di malam hari, kecuali sedikit (darinya).

نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا
(Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Atau lebih dari seperdua itu. Dan KAJILAH AL QUR’AN ITU DENGAN PERLAHAN-LAHAN.

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
Sesungguhnya Kami akan MENGANUGERAHKAN kapadamu PERKATAAN YANG BERBOBOT.

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah LEBIH KUAT MENGISI JIWA dan MENGKAJI QUR’AN DI WAKTU ITU LEBIH BERKESAN.

إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا
Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).

Ketiga, tentang cara Nabi menyampaikan Qur’an. Atau cara Nabi mengajar Al Qur’an itu kepada para sahabatnya. Nabi mengkaji Al Qur’an bersama para Sahabatnya, itu juga pada malam hari. Karena kajian di waktu itu, sangat berkesan. Digambarkan oleh ayat berikut ini.

QS. Al-Muzammil[73]: 20
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu bangun kurang dari dua pertiga malam. Atau seperdua malam. Atau sepertiganya. (Demikian pula) segolongan dari ORANG-ORANG YANG BERSAMA KAMU. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu. Maka Dia memberi keringanan kepadamu. Karena itu BACALAH (KAJILAH) APA YANG MUDAH (BAGIMU) DARI AL QUR’AN. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah. Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Keempat, cara kita meneladani Nabi dan para Sahabatnya dalam mengkaji Qur’an. Secara umum. Yaitu kajian Al Qur’an itu sebaiknya dilakukan di malam hari. Sambil istighfar di waktu sahur. Sedikit tidur di waktu malam. Melakukan puasa Sunnah, misalnya puasa Senin-Kamis (QS.2:184). Juga memelihara kesucian jiwa (QS.87:14). Karena jiwa yang kotor tak akan bisa menangkap mutiara Al Qur’an (QS.56:79).

QS. Al-Qiyamah[75]: 16 – 19
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Janganlah kamu CEPAT-CEPAT MENGGERAKKAN LIDAHMU UNTUK (MENGKAJI DAN MENYAMPAIKAN) AL QUR’AN.

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Sesungguhnya atas tanggungan Kami lah MENGUMPULKANNYA (DI KALBUMU) DAN MENYATUKANNYA (MENJADI AL QUR’AN SEMPURNA).

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
Apabila Kami telah selesai MENYATUKANNYA (MENJADI AL QUR’AN UTUH) MAKA IKUTILAH AL QUR’AN ITU.

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami lah PENJELASANNYA.

Kita tahu bahwa Al Qur’an, itu diwahyukan kepada Nabi berangsur-angsur. Tidak turun 30 juz sekaligus. Pewahyuan itu dalam proses selama 23 tahun. Memang untuk memantapkan hati dan akal kecerdasan Nabi (QS.25:32). Begitu juga ketika Nabi menyampaikannya kepada para Sahabatnya. Berangsur-angsur (QS.17:106). Supaya ayat-ayat Qur’an itu mengakar kokoh di hati dan akal kecerdasan mereka.

Dengan begitu, ada masa ayat-ayat Qur’an itu dalam proses pengumpulan. Yakni belum komplit 30 juz. Ada pula masa dimana ayat-ayat Qur’an, itu sudah sempurna dan komplit 30 juz. Namun yang jelas, Nabi mengkaji dan mengajarkan Al Qur’an kepada para Sahabatnya, itu tidak menunggu komplit 30 juz dulu. Tujuannya selalu begini: dikaji berulang-ulang, perlahan-lahan, dipahami, dan dipraktikkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Walloohu a’lam bishshowaab….

*Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, Beraksi ala Pememang, dll

MENANGKAP MAKNA TEKS


—Saiful Islam*—

“Qur’an, itu bukan rangkaian teks tanpa makna…”

Terkait membaca yang mesti dengan pemahaman, ini menarik rasanya menelusuri kalimat sanulqiyy ‘alayka qowlan… dan kalimat lain yang sepadan dengan itu di dalam Qur’an.

Dari kata dasar laqiya. Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-liqoo’ itu artinya adalah bertemunya sesuatu baik disengaja atau tidak. Kata-kata derivasinya, maknanya bisa dipertimbangkan dari arti bertemu tersebut. Disebutkan juga bahwa bertemu yang dimaksud, adalah meraih sesuatu dengan rasa (feeling), pengetahuan (bashor), dan akal kecerdasan (bashiiroh).

Disebutkan redaksi alqoytu ilayka qowlan wa salaaman wa kalaaman wa mawaddatan. Seperti tulquuna ilayhim bil mawaddah pada QS.60:1; fa alqow ilayhim al-qowl (QS.16:86); wa alqow ilallooh yawmaidz al-salam (QS.16:87); innaa sanulqiy ‘alayk qowlan tsaqiilan (QS.73:5). Itu menunjuk pada substansi kenabian dan wahyu. Adapun kalimat alqoo al-sam’a (QS.50:38), maksudnya adalah mendengarkan.

Begitu juga menurut Lisan al-Arab. Bahwa apapun yang bertemu, baik bertemunya itu disengaja, atau bertemunya itu kebetulan, maka disebut laqiya.

Disebutkan dalam Hadis Aisyah: “Ketika iltaqoo al-khitanaan (dua organ reproduksi berbeda jenis bertemu), maka wajib mandi.”

Adapun firman Allah fatalaqqo aadam min robbih kalimaat… (QS.2:37), maka yang dimaksud talaqqoo itu adalah menerima dengan mengambil kalimat itu. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud adalah mempelajari dan berdoa dengan kalimat itu. Jadi Adam menerima sebuah kalimat dari Allah. Kemudian ia mempelajarinya dan berdoa dengan kalimat tersebut.

Kalimat yulaqqoohaa pada QS.28:80, itu artinya adalah diberi ilmu dan diberi penjelasan. Hanya orang yang sabar yang bisa meraih ilmu dan penjelasannya.

Kalau kita perhatikan juga ayat-ayat Qur’an terkait kata laqiya yang terkait dengan bacaan atau ucapan, itu kadang-kadang diterjemahkan dengan menurunkan, menyatakan, mengatakan, mengemukakan, menyerahkan, menyampaikan, memberikan, menerima, meraih, memperoleh, dan lain sebagainya. Intinya sama, yaitu mempertemukan maksudnya kepada pihak lain.

Begitulah orang berbicara atau menulis. Tentu bukan hanya bermaksud untuk mempertemukan perkataan atau teks saja kepada seseorang. Tetapi memang supaya hati dan akal kecerdasan pendengar atau pembaca bertemu dengan maksud atau makna di balik kata-kata penulis itu. Bukan hanya sampai di telinga dan mata saja. Tapi tembus ke hati dan akal sampai menghasilkan pemahaman.

Jadi ketika terkait dengan ucapan, kalimat, atau teks, maka laqiya itu artinya adalah meraih sesuatu dengan rasa (feeling), pengetahuan, dan akal kecerdasan. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Mufradat di atas. Nah, ketika sudah melibatkan rasa dan akal kecerdasan, pasti yang diraih itu bukan hanya teksnya. Tetapi maknanya. Yakni pemahamannya.

Marilah kita perhatikan dengan perlahan-lahan.

QS. Muzzammil[73]: 5
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
Sesungguhnya Kami akan MENURUNKAN kapadamu perkataan yang berbobot.

QS. Al-Baqarah[2]: 37
فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Kemudian Adam MENERIMA beberapa kalimat dari Tuhannya. Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

QS. Al-Naml[27]: 6, 28 dan 29
وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar DIBERI Al Qur'an dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

اذْهَبْ بِكِتَابِي هَٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ
Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu SERAHKAN kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan."

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ
Berkata ia (Balqis): "Hai para pembesar, sesungguhnya telah DISERAHKAN kepadaku sebuah surat yang mulia.

QS. Al-Nahl[16]: 86 & 87
وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ أَشْرَكُوا شُرَكَاءَهُمْ قَالُوا رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ شُرَكَاؤُنَا الَّذِينَ كُنَّا نَدْعُو مِنْ دُونِكَ ۖ فَأَلْقَوْا إِلَيْهِمُ الْقَوْلَ إِنَّكُمْ لَكَاذِبُونَ
Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata: "Ya Tuhan kami. Mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain dari Engkau.” Lalu sekutu-sekutu mereka MENGATAKAN (MENYAMPAIKAN) kepada mereka: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang-orang yang dusta.”

وَأَلْقَوْا إِلَى اللَّهِ يَوْمَئِذٍ السَّلَمَ ۖ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ
Dan mereka MENYATAKAN ketundukannya kepada Allah pada hari itu dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan.

QS. Al-Qiyamah[75]: 15
وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ
Meskipun ia MENGEMUKAKAN alasan-alasannya.

QS. Al-Nisa’[4]: 171
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا
Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam, itu adalah utusan Allah dan KALIMAT-NYA YANG DISAMPAIKAN-NYA kepada Maryam, dan ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

QS. Al-Qomar[54]: 25
أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ
Apakah wahyu itu DITURUNKAN kepadanya di antara kita? Sebenarnya ia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong.

QS. Al-Qashash[28]: 86
وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَىٰ إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ
Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Qur’an DITURUNKAN kepadamu. Tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu. Sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.

QS. Yunus[10]: 15
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ ۙ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَٰذَا أَوْ بَدِّلْهُ ۚ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۖ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah ia.” Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya DARI PIHAK DIRIKU SENDIRI. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).”

Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, Beraksi ala Pemenang, dll

TADARUS YANG BENAR


—Saiful Islam*—

“Membaca tanpa dipahami, itu tidak layak disebut tadarus…”

Telinga kita juga kerap mendengar istilah tadarus. Biasanya yang dimaksud adalah tadarus Al Qur’an. Sekilas, dimaknai ‘membaca Al Qur’an’. Sudah benarkah praktik tadarus kita? Apakah tadarus itu hanya untuk Qur’an saja, atau bisa juga untuk selain Qur’an? Benarkah tadarus itu tanpa proses pemahaman? Marilah kita selidiki dari sumber-sumber yang biasa dipakai oleh para pakar tafsir Qur’an.

Dari kata darosa. Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, jika disebut darosa al-daar (sebuah negeri darosa), maka maknanya adalah jejak negeri itu masih ada. Jejak yang masih ada, itu berarti ada sebagiannya yang hilang atau terhapus. Karenanya, kata al-duruus, itu ditafsiri dengan hilang atau hapus. Kalimat yang senada seperti, “Darosa al-kitaabu.”

Maka jika dikatakan, “Darostu al-‘ilma: Aku mempelajari sebuah disiplin ilmu,” itu artinya adalah aku mendapat jejaknya dengan ingatan. Artinya ketika mempelajari sesuatu, itu pasti ada sebagian dilupakan dan sebagian lagi diingat. Biasanya yang diingat, itu yang paling intinya.

Kata darosta ada pada QS.6:105. Darosuu (QS.7:169); tadrusuuna (QS.3:79 dan QS.68:37); yadrusuun (QS.34:44); dan diroosah (QS.6:156). Secara spesifik, kata tadarrus maupun tadaarus, itu tidak dijumpai dalam Al Qur’an. Tetapi jika yang dimaksud adalah tadaarus (ada alif setelah dal), itu artinya adalah mempelajari bersama. Jika dikatakan tadarrus, tampaknya itu hanya bentuk fi’il laazim (intransitive verb atau kata kerja tanpa objek) saja.

Dari kata darosa, itu lantas mucul kata duruus (pelajaran), mudarris (guru atau pengajar), midras (buku), sampai madrosah (sekolah) yang sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia: Madrasah. Seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), dan Madrasah Aliyah (MA). Semuanya berarti sekolah. MI adalah Sekolah Dasar (SD). MTS adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP). MA adalah Sekolah Menengah Atas (SMA). Hanya di-Arab-kan saja.

Lisan al-Arab menceritakan tidak jauh beda. Bahwa darosa itu bisa untuk kata kerja yang butuh objek (transitive verb kalau Inggris-nya), juga bisa untuk yang tak butuh objek (intransitive verb). Arti asalnya adalah menghapus. Baju yang sudah pudar, itu disebut dariis. Karena sebagian kualitasnya ada yang hilang. Semua yang sudah usang, seperti pedang, perisai, helm tempur, baju besi dan semisalnya, bisa disebut al-dirsaan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ketika menafsiri QS.6:105. Bahwa makna kata darosta di situ adalah engkau mempelajari atau diajari.

Jika dikatakan, “Darostu al-kitaab,” maka itu artinya adalah aku menguasai isi buku itu dengan banyak dan sering membacanya. Sehingga aku mudah mengingatnya. Begitu juga redaksi darostu al-suuroh (aku mengingat surat itu) dan contoh-contoh yang semisalnya.

Disebutkan dalam sebuah Hadis: Tadaarosuu al-Qur’aan (tadarusilah Al Qur’an). Maknanya adalah bacalah (iqro’uu) dan perhatikanlah Al Qur’an itu, supaya kalian tidak lupa. Lagi-lagi di sini menggunakan redaksi qoro’a. Silakan perhatikan lagi bahasan qoro’a yang terkait dengan pemahaman.

Ketika perolehan ilmu itu dengan pembacaan yang terus-menerus (kontinyu), maka yang dimaksud membaca di situ, adalah mempelajari.

Jadi, tadarus itu bermakna mempelajari. Yang namanya mempelajari, itu jelas melibatkan akal pikiran. Ada peran kecerdasan. Disebut mempelajari, itu tidak cukup hanya dibaca tanpa memahami. Bukan suara-suara kosong tanpa makna. Perhatikan saja aktivitas belajar mengajar di madrasah. Semuanya terkait pemahaman.

Sebenarnya, tadarus itu berlaku umum. Mempelajari apa pun. Sudah maklum, jika seseorang mempelajari apa pun, itu bertujuan untuk memahaminya. Bahkan dipelajari berulang-ulang supaya menguasainya. Tentu saja untuk kemanfaatan.

Tak terkecuali tadarus Al Qur’an. Ia mesti dipelajari. Dipahami dan lantas diamalkan isi, prinsip, dan petunjuknya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Jadi bukan sekadar dibaca dengan tanpa dipahami. Dibaca tanpa dipahami, itu tidak layak disebut tadarus.

Maka ketika dikatakan tadarus Al Qur’an, tetapi tiba-tiba dikatakan tidak harus dipahami, ini tampaknya ada masalah besar terhadap keberagamaan umat Islam saat ini! Berbahaya jika umat Islam jauh apalagi sampai mencuekin kitab sucinya.

QS. Al-An’am[6]: 105
وَكَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat (Al Qur’an itu) dan supaya mereka mengatakan: "Kamu telah MEMPELAJARI ayat-ayat itu." Dan supaya Kami MENJELASKAN Al Qur’an itu kepada orang-orang yang MENGETAHUI.

QS. Al-A’raf[7]: 169
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا الْأَدْنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ ۚ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ ۗ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: "Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah MEMPELAJARI apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?

QS. Ali Imran[3]: 79
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak patut bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan Kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang RABBANI, KARENA kamu selalu MENGAJARKAN AL KITAB dan disebabkan kamu tetap MEMPELAJARINYA.

QS. Al-Qolam[68]: 37
أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ
Atau adakah kamu mempunyai sebuah Kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu MEMPELAJARINYA?

QS. Saba’[34]: 44
وَمَا آتَيْنَاهُمْ مِنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا ۖ وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ
Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka Kitab-Kitab yang mereka MEMPELAJARINYA. Dan sebelum kamu, Kami tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka seorang pun pemberi peringatan.

QS. Al-An’am[6]: 156
أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَىٰ طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ
(Kami turunkan Al Qur’an itu) agar kalian (tidak) mengatakan: "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami. Dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka PELAJARI.”

Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, Beraksi ala Pemenang, dll

MENTADABBURI AL QUR’AN


—Saiful Islam*—

“Tidak mau memahami Qur’an, bisa-bisa dimarahi Allah…”

Lagi. Sebuah kata di dalam Al Qur’an yang menarik untuk dieksplor terkait tema QUR’AN INSPIRASI LITERASI, ini adalah tadabbur. Tampaknya, kita sudah sering mendengar istilah itu: Tadabbur Qur’an.

Di Qur’an memang ada kalimat berikut: “Mengapa mereka tidak mentadabburi Al Qur’an?” Tentu saja, maksudnya adalah perintah atau sangat dianjurkan mentadabburi Qur’an. Bukan untuk Allah. Tapi untuk kemanfaatan manusia sendiri.

QS. Muhammad[47]: 24
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak MEMPERHATIKAN (YATADABBARUUNA) AL QUR’AN ataukah hati mereka terkunci?

Mengutip Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an, kata yatadabbaruuna, itu hanya terulang dua kali. Yaitu selain QS.47:24 di atas, juga ada pada QS.4:82.

QS. Al-Nisa’[4]: 82
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak MENTADABBURI AL QUR’AN? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

Sedangkan kata yaddabbaru, itu juga hanya terulang dua kali. Yaitu pada QS.23:68 dan QS.38:29.

QS. Al-Mu’minun[23]: 68
أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ
Maka apakah mereka tidak MEMPERHATIKAN PERKATAAN (KAMI), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?

Asal katanya adalah dari dabaro. Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, dubur-nya sesuatu itu adalah lawan kata al-qubl (depan). Yakni belakang.

Terkadang dibaca dubur. Bisa juga dubr. Itu bentuk tunggalnya (singular atau murfad). Adapun bentuk pluralnya (jama’) yaitu adbaar. Misalnya pada QS.8:15-16; QS.8:50; QS.50:40; QS.74:33; QS.15:66; QS.6:45; QS.74:23; dan seterusnya.

Ada Hadis bagus muttafaq ‘alayh yang berbunyi begini. “Laa taqootho’uu WALAA TADAABARUU wa kuunuu ‘ibaadallooh ikhwaanan: Janganlah kalian saling memutus tali silaturahim, JANGANLAH KALIAN SALING MEMBELAKANGI (MELENGOS). Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Penting juga disebutkan di sini. Bahwa al-tadbiir, itu adalah al-tafkiir fii dubur al-umuur. Yakni memikirkan sesuatu setelah diketahui data-datanya.

Sedangkan Lisan al-Arab menceritakan lebih gamblang lagi soal tadabbur itu yang terkait dengan kepahaman. Begini. Dubur-nya setiap sesuatu itu adalah ujungnya atau akhirnya. Yang terakhir.

Jika dikatakan “Dabbaro al-amr” dan “Tadabbarohu,” maka itu artinya adalah melihat akibat atau dampaknya. Alias mempertimbangkan sebab akibatnya. Jarir mengatakan, “Wa laa ta’rifuuna al-amr illaa tadabburon: Kalian tidak akan mengetahui suatu persoalan kecuali dengan cara mentadabburinya.”

Istilah “Al-tadbiir fii al-amr,” itu berarti melihat sebab akibatnya. Sedangkan al-tadabbur, artinya adalah memikir-mikirkan (al-tafakkur fiih).

Dijumpai pula istilah dabbaro al-hadiits. Maksudnya adalah meriwayatkan atau menceritakan sebuah berita dari seseorang. Terutama ketika yang memiliki berita telah wafat.

Ini menurut Ibnu Sidah. Jika dikatakan, “Dabaro al-kitaab yadburuh,” maka itu artinya adalah seseorang telah menulis sebuah buku.

Jadi, yang namanya tadabbur, itu pasti selalu terkait dengan akal, ilmu pengetahuan, dan pemahaman. Yakni mempertimbangkan sebab akibat dari sebuah masalah setelah dikumpulkan data-datanya. Lantas dibuatlah kesimpulannya. Tentu semua ini melibatkan proses pemikiran. Tidak bisa tidak. Yaitu mengumpulan data-data terkait tema atau masalah tertentu. Kemudian dilakukan analisa terhadap data-data yang telah terkumpul itu. Hasilnya adalah kesimpulan.

Maka tadabbur Al Qur’an, itu begini. Ada permasalahan untuk tema atau topik tertentu. Dicari dan dikumpulkanlah ayat-ayat yang membahas tentang tema tersebut. Semakin banyak ayat yang berhasil terkumpul, semakin jelas juga gambaran yang diperoleh. Ayat-ayat itu kemudian dianalisis dengan akal pikiran. Barulah kemudian dibuat kesimpulan. Dari semua proses tersebut, buahnya adalah kepahaman. Dari kepahaman berbuah sikap dan tindakan.

Perhatikan QS.47:24 di atas: “Maka apakah mereka tidak MENTADABBURI AL QUR’AN, ataukah hati mereka terkunci?” Jadi tadabbur Al Qur’an, itu dikaitkan dengan hati yang terkunci. Seakan-akan orang yang tidak mau memahami Qur’an, itu hatinya telah terkunci. Pemahaman itu tidak bisa masuk ke dalam pintu hatinya. Quluub—arti sekilasnya adalah hati, itu memang berfungsi untuk memahami. Misalnya disebut pada QS.7:179.

QS. Al-A’raf[7]: 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. MEREKA MEMPUNYAI HATI (QULUUB), TETAPI TIDAK DIPERGUNAKANNYA UNTUK MEMAHAMI (AYAT-AYAT ALLAH). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.

Jadi Al Qur’an itu harus ditadabburi. Maka membaca Qur’an itu wajib berupaya untuk memahaminya dengan segenap akal kecerdasan (quluub). Inilah perintah Allah. Saya termasuk yang khawatir Al Qur’an tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Jangan-jangan terjadi penyelewengan fungsi Al Qur’an.

Sekaligus menasehati saudara-saudara pembaca, untuk berhati-hati ketika berprinsip bahwa membaca Al Qur’an tidak untuk dipahami. Atau membaca Al Qur’an dengan tujuan selain memperoleh pemahaman. Kalau seseorang membaca Al Qur’an tidak untuk memahaminya, berarti saat membaca itu, ia menonaktifkan quluub-nya. Padahal hati yang tak digunakan untuk memahami Al Qur’an, itu jelas dimarahi Allah: laqod dzaro’naa li jahannam…

Begitu juga kalau kita memperhatikan QS.4:82 di atas: “Apakah mereka tidak MENTADABBURI AL QUR’AN? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” Pada ayat ini, tadabbur Al Qur’an, itu dikaitkan dengan ditemukannya pertentangan yang banyak.

Pastinya, seseorang yang berusaha mencari pertentangan Al Qur’an, itu membaca beberapa ayat. Tidak satu ayat. Dibandingkan. Dipertimbangkan. Dipikirkan. Dipahami. Kemudian barulah dibuat kesimpulan. Seakan-akan Qur’an, itu memang menantang agar ia diselidiki. Dibuktikan, benarkah ayat-ayatnya saling bertentangan. Caranya? Tadabbur!

Mustahil, orang bisa menentukan bahwa ayat ini bertentangan dengan ayat itu atau tidak bertentangan, tanpa melakukan pengumpulan beberapa ayat dan tanpa dianalisis. Apalagi orang yang dari awal tujuan membacanya sudah salah. Misalnya untuk balapan hatam, untuk pamer kemerduan dan lengkingan suara, dan seterusnya. Pasti orang seperti itu tidak melakukan proses tadabbur Qur’an.

QS. Shad[38]: 29
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab (Al Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka MEMPERHATIKAN AYAT-AYAT-NYA dan supaya MENDAPAT PELAJARAN orang-orang yang MEMPUNYAI PIKIRAN.

Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, Beraksi ala Pemenang, dll



AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...