Jumat, 31 Juli 2020

FUQOHA’ SEJATI


—Saiful Islam*—

“Al Qur’an, itu isinya bukan hanya urusan halal haram…”

Kali ini kita berpijak dari kata faqiha. Secara sekilas, kata ini berarti mengerti atau paham.

Di dalam Al Qur’an, kata tafqohuun itu hanya terdapat sekali (QS.17:44). Begitu juga kata nafqoh (QS.11:91). Yafqohuu (QS.20:28). Yafqohuun terulang sebanyak 13 kali. Yaitu QS.4:78; 6:65; 6:98; 7:179; 8:65; 9:81; 9:87; 9:127; 18:93; 48:15; 59:13; 63:3; dan QS.63:7. Kata yafqohuuh terdapat pada tiga ayat (QS.6:25; 17:46; dan QS.18:57). Sedangkan yatafaqqohuu, itu hanya disebut sekali saja (QS.9:122).

Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-fiqh itu artinya adalah mencapai pengetahuan (ilmu) yang abstrak dengan ilmu yang kongkret. Ini merupakan sebuah ilmu yang lebih khusus lagi. Kemudian penulis, Al-Raghib, mengutip QS.4:78; QS.63:7 dan lain-lain.

Al-fiqh adalah pengetahuan terhadap hukum-hukum syariat. Ketika dikatakan, “Faquha al-rojul faqoohatan,” maka artinya adalah laki-laki tersebut menjadi faqiih. Yakni orang yang tahu hukum-hukum syariat. Orang kalau disebut faqiha, maka orang tersebut mengerti.

Sedangkan syariat sendiri, itu diambil dari kata syaro’a yang artinya adalah jalan yang terang benderang. Yang dimaksud syariat di sini adalah jalan ketuhanan (al-thoriiqoh al-ilaahiyyah). Jalan ketuhanan di sini tentu saja adalah Al Qur’an. Maka faqiih, itu adalah orang yang mengerti hukum-hukum Al Qur’an.

Adapun ketika seseorang disebut tafaqqoha, maka itu berarti ia menuntut ilmu dan menjadi spesialis di bidang tersebut. Pemahaman ini, sebagaimana disebutkan oleh QS.9:122.

QS. Al-Tawbah[9]: 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk MEMPERDALAM PENGETAHUAN MEREKA TENTANG AGAMA. Dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Lisan al-Arab lebih gamblang lagi menceritakan kata faqiha ini. Saya ringkaskan yang paling relevan saja. Disebutkan al-fiqh itu adalah pengetahuan sekaligus paham tentang sesuatu. Titik tekannya memang pada ilmu agama. Yang menurut Ibnu al-Atsir adalah ilmu syariat dan cabang-cabangnya. Yang lain berpendapat asal dari al-fiqh itu adalah paham.

Redaksi “liyatafaqqohuu fii al-diin,” pada QS.9:122, itu artinya adalah supaya mereka menjadi orang-orang yang tahu (ulama) tentang agama Islam (Qur’an). Yang kemudian Allah memberi kepahaman.

Diceritakan sebuah Hadis, yaitu ketika Nabi berdoa kepada Allah untuk Ibnu Abbas. “Alloohumma ‘allimhu al-diin wa faqqihhu fii al-ta’wiil: Ya Allah. Ajarkanlah agama (Al Qur’an) kepada Ibnu Abbas. Dan pahamkanlah ia takwilnya.” Yakni pahamkan ia takwil dan maknanya. Allah pun mengabulkan doa Nabi. Ibnu Abbas, pada zamannya, lantas menjadi orang yang paling pakar Al Qur’an.

Faqqoha dan afqoha itu berarti mengajarkan. Seperti guru yang mengajarkan materi tertentu kepada muridnya yang berusaha membuat mereka tahu, mengerti dan paham. Sedangkan tafaqqoha artinya adalah saling mengambil kepahaman.

Jadi secara bahasa, al-fiqh, itu berarti mengetahui dan memahami. Ini berlaku umum untuk semua ilmu pengetahuan (Sains). Misalnya ilmu Fisika, Kimia, Biologi, Neurosains, Astronomi, Kedokteran, Geologi, Psikologi, Antropologi, Sosiologi, Sejarah, Manajemen, Entreprenership, Politik, Kewarganegaraan, Hubungan Internasional, dan lain seterusnya.

Sedangkan secara khusus, al-fiqh itu lebih kepada mengetahui dan paham terhadap Al Qur’an. Sayangnya di masyarakat Islam sendiri, makna faqiih dan fuqohaa’ ini sering direduksi menjadi paham Ilmu Fikih saja. Yakni soal halal haram. Bahkan terlalu sibuk sampai-sampai hampir melupakan Al Qur’an itu sendiri. Padahal isinya Qur’an itu bukan hanya soal halal haram saja. Tetapi multi disiplin ilmu.

QS. Al-An’am[6]: 65 & 98
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ
65. Katakanlah: "Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu. Atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti AGAR MEREKA MEMAHAMINYA.”

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ
98. Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari seorang diri. Maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya KAMI TELAH JELASKAN TANDA-TANDA KEBESARAN KAMI KEPADA ORANG-ORANG YANG MEMAHAMINYA.

QS. Al-A’raf[7]: 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai HATI, tetapi tidak dipergunakannya untuk MEMAHAMI (AYAT-AYAT ALLAH). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka bagaikan binatang ternak. Bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

QS. Al-Anfal[8]: 65
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
Hai Nabi. Kobarkanlah semangat Kaum Mukminin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Jika ada seratus orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu orang kafir. Disebabkan ORANG-ORANG KAFIR ITU KAUM YANG TIDAK MAU MENGERTI.

QS. Al-Tawbah[9]: 87 & 127
رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
87. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang dan HATI mereka telah DIKUNCI MATI. Maka mereka TIDAK MENGETAHUI.

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا ۚ صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
127. Apabila diturunkan satu Surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): "Adakah seorang dari (Muslimin) yang melihat kamu?" Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah KAUM YANG TIDAK MAU MEMAHAMI.

QS. Al-Munafiqun[63]: 3
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi). Lalu hati mereka dikunci mati; karena itu MEREKA TIDAK DAPAT MENGERTI.

QS. Al-An’am[6]: 25
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ ۖ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا ۚ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu. Padahal Kami telah meletakkan TUTUPAN DI ATAS HATI MEREKA (SEHINGGA TIDAK BISA) MEMAHAMINYA. Dan sumbatan di telinganya. Jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu."

QS. Al-Isra’[17]: 46
وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا
Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, AGAR MEREKA TIDAK DAPAT MEMAHAMINYA. Apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.

QS. Al-Kahf[18]: 57
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا
Siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu ia berpaling dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (SEHINGGA MEREKA TIDAK) MEMAHAMINYA. Dan sumbatan di telinga mereka. Kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.



MEMBACA SEJARAH & REALITAS


—Saiful Islam*—

“Justru ‘ibroh, itu berada di balik teks dan realitas…”

Kita pun sering mendengar orang-orang di sekitar kita yang mengatakan, “Kita ambil ibrohnya.” Nah, kata ibroh itu memang ada dalam Qur’an.

Dari ‘abaro, menurut Al-Mufrodat fi Gharib al-Qur’an, kata ini asalnya berarti melintas dari satu kondisi ke kondisi yang lain. Al-‘ubuur itu berarti khusus untuk melintasi atau melewati air, baik dengan berenang, naik kapal, naik unta, atau semacam dengan perahu beratap. Orang yang berjalan di tepi sungai, itu juga bisa menggunakan redaksi ‘abaro itu.

Diambil dari makna di atas, adalah redaksi ‘abaro al-‘ayn. Karena mata bisa mengalirkan airnya. Yaitu ketika menangis. Al-‘abroh itu seperti aliran air mata. Dan menurut satu pendapat, ‘aabir sabiil, yakni yang lewat. Seperti makna QS.4:43. Begitu juga dijumpai kalimat ‘naaqoh ‘ubr asfaar’. Artinya kurang lebih sama: melewati atau melintasi.

Adapun kalimat ‘abaro al-qowm idzaa maatuu: kaum itu telah melintas ketika wafat,’ itu maknanya adalah seakan-akan kaum tersebut telah melintasi atau telah melewati kungkungan dunia.

Sedangkan al-‘ibaaroh itu artinya khusus untuk kalimat yang melintasi udara dari lisannya orang yang berbicara menuju pendengaran orang yang mendengar. Gampangnya, al-‘ibaaroh itu adalah kalimat yang diucapkan oleh seseorang dan didengar oleh audiens yang dituju.

Al-I’tibaar dan al-‘ibroh, itu dengan keadaan yang menjadi media pengetahuan terhadap sesuatu yang tidak tampak. Disebutkan, “Inna fii dzaalika la’ibroh,” (QS.3:13) dan “Fa’tabiruu yaa ulil abshoor,” (QS.59:2).

Adapun al-ta’biir itu tertentu untuk menakwil mimpi. Yaitu melintas dari yang tampak menuju yang tidak tampak. Jadi semacam mengambil pelajaran atau pesan dari aktor, lingkungan (setting) dan adegan dalam sebuah film. Pemahaman tersebut, itu seperti tertera pada QS.12:42. Ceritanya tampak. Tetapi pesan atau pelajaran di balik cerita tersebut memang tidak tampak.

Sedangkan Lisan al-Arab menjelaskan begini. Al-‘ibroh itu takjub. I’tabaro minhu berarti menjadi takjub. Adapun makna “Fa’tabiruu yaa ulil abshor,” pada QS.59:2, itu adalah pelajari dan pahamilah (tadabbaruu) isi ayat tersebut, perhatikanlah dengan penuh penghayatan dan penghormatan, qiyaskanlah (analogikanlah) perbuatan mereka itu serta ambillah pelajaran dari siksa yang menimpa mereka.

Al-‘ibar itu bentuk plural dari ‘ibroh. Yaitu semacam pelajaran yang diambil oleh seseorang kemudian diamalkan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, kemudian ia berdalil dengannya. Disebutkan pula bahwa ‘ibroh itu adalah mengambil pelajaran dari peristiwa yang telah berlalu.

Jadi secara bahasa, i’tibaar itu adalah proses mengkaji, mempelajari, memikir-mikirkan, merenung-renungkan, untuk mendapatkan sebuah pemahaman terhadap sebuah pesan yang dikandung di dalam teks atau kejadian. Sedangkan ‘ibroh, itu adalah pelajaran yang berhasil diraih dari i’tibaar itu. I’tibaar adalah prosesnya, sedangkan ‘ibroh adalah hasilnya.

Kata ta’buruun dalam Al Qur’an, itu terulang hanya sekali (QS.12:43). Kata fa’tabiruu juga hanya sekali (QS.59:2). Kata ‘aabiriy pun sekali (QS.4:43). Sedangkan kata ‘ibroh, itu terulang enam kali. Yaitu pada QS.3:13; QS.12:111; QS.16:66; QS.23:21; QS.24:44 dan QS.79:26.

Marilah kita pahami kata i’tibaar dan ‘ibroh itu dalam konteks ayat-ayat Qur’an itu sendiri.

QS. Al-Hasyr[59]: 2
هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar. Mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah. Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka. (Sehingga) mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang Mukmin. MAKA AMBILLAH (KEJADIAN ITU) UNTUK MENJADI PELAJARAN, hai orang-orang yang MEMPUNYAI WAWASAN.

QS. Ali Imran[3]: 13
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya PADA YANG DEMIKIAN ITU TERDAPAT PELAJARAN bagi orang-orang yang MEMPUNYAI MATA HATI.

QS. Yusuf[12]: 111
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya pada SEJARAH mereka itu terdapat PENGAJARAN bagi orang-orang yang MEMPUNYAI AKAL. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

QS. Al-Nahl[16]: 66
وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ
Dan sesungguhnya pada BINATANG TERNAK itu benar-benar terdapat PELAJARAN bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

QS. Al-Nur[24]: 44
يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
Allah mempergantikan MALAM DAN SIANG. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat PELAJARAN YANG BESAR bagi orang-orang yang MEMPUNYAI PANDANGAN.

QS. Al-Nazi’at[79]: 20-26

20. Lalu Musa memperlihatkan kepadanya ayat yang agung.

21. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai.

22. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa).

23. Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya.

24. (Seraya) berkata: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.”

25. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ
26. Sesungguhnya pada yang DEMIKIAN ITU terdapat PELAJARAN bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).

Jadi i’tibar itu semacam mengambil pelajaran dari sebuah kejadian atau realitas alam. Atau mengambil pelajaran dari sejarah yang dikisahkan oleh teks Qur’an. Semacam sebab akibat dari sebuah realitas dan sejarah. Kalau begini, maka begitu. Kenapa? Karena sebab akibat itu berulang. Nah dari kejadian sejarah dan realitas yang berulang sebab akibatnya itu, kemudian manusia mengambil ‘ibrah (pelajaran). Yakni menyesuaian diri supaya selamat, sukses, dan bahagia dunia akhirat.

Misalnya, mengapa ada orang yang sakit-sakitan dan cepat mati, sedangkan yang lain sehat dan panjang umur? Mengapa ada orang yang harmonis rumah tangganya, sedangkan yang lain berantakan (broken home)? Mengapa ada orang yang arif, berilmu, dan bijak, sedangkan yang lain sebaliknya? Mengapa ada orang yang beruntung secara finansial, sedangkan yang lain banyak hutang? Mengapa ada orang yang selamat, sukses dan bahagia, sedangkan yang lain sengsara dan celaka?

Tentu saja mengambil pelajaran itu dengan akal. Tidak seorang pun yang bisa mengambil pelajaran itu, kecuali orang yang menggunakan akalnya (QS.2:269). Maka membaca dengan redaksi i’tibaar yang hasilnya adalah ‘ibroh, ini pun mengharuskan kita berupaya untuk memahami teks (ayat qowliyah) dan realitas (ayat kawniyah). Tidak akan mendapatkan ‘ibroh, siapa pun yang membaca tanpa ada upaya memahami itu.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.


KETIKA QUR’AN MENJELASKAN


—Saiful Islam*—

“Penjelasan, itu bukan hanya ayat qowliyah bil ayat qowliyah, tetapi juga ayat qowliyah bil ayat kawniyah…”

Terkait tema QUR’AN INSPIRASI LITERASI, ini rasanya penting untuk diceritakan di sini kata al-bayaan.

Qur’an sendiri yang memproklamirkan dirinya sebagai penjelas. Atau penjelasan. Juga bisa disebut penerang. Penerangan. Keterangan. Jika diibaratkan, Qur’an itu seperti cahaya atau sinar yang menerangi. Menerangi apa? Menerangi pikiran kita, hati kita, akal kita. Tentu saja yang namanya penjelasan, itu memang harus dipikir-pikirkan, direnungkan, dipahami maknanya. Buahnya adalah keputusan dan langkah kita dalam perjalanan hidup menuju pulang kepada-Nya ini.

QS. Ali Imran[3]: 138
هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
(Al Qur’an) ini adalah PENERANGAN bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Jadi menurut ayat di atas, Qur’an ini merupakan penerangan atau penjelasan malah bukan hanya untuk Kaum Muslimin-Mukminin saja. Bahkan untuk seluruh umat manusia. Sehingga termasuk Non Muslim juga bukan hanya dipersilakan. Tetapi seperti diundang untuk meneliti Qur’an itu. Mulai dari orang awam sampai profesor.

Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-bayyinah itu berarti petunjuk (dalaalah) yang jelas. Baik secara akal, maupun rasa.

Sedangkan al-bayaan, itu berarti penyingkap (pembuka tabir) sesuatu. Yang awalnya masih abu-abu atau remang-remang, maka dengan al-bayaan menjadi tampak jelas, dan terang.

Menurut Lisan al-‘Arab, kata al-bayaan, itu artinya adalah penjelas suatu dalil (petunjuk) dan yang semisalnya. Dengan al-bayaan, itu sebuah petunjuk menjadi semakin jelas. Bisa juga berarti keterangan. Dengan al-bayaan, sebuah dalil menjadi semakin terang. Semakin gamblang dan tampak. Baana, istabaana, tabayyana, abaana, dan bayyana, itu berarti satu. Artinya sama.

Al-tabyiin, itu berarti menerangkan atau keterangan-keterangan. Begitu juga al-tibyaan, mubiin, mubayyinah, artinya kurang lebih sama. Titik tekannya adalah kata al-bayaan dan yang semisalnya itu, lebih pada berupa kalimat-kalimat. Atau kata-kata. Nah, kalimat atau kata-kata, itu ada yang diucapkan dan ada yang tertulis.

Qur’an itu, memang adalah kalimat-kalimat. Qur’an adalah kata-kata. Qur’an pertama kali diterima dan diucapkan oleh Nabi, lantas kemudian ditulis sehingga sampai kepada kita. Salah satu penjagaan Allah terhadap Qur’an selain penghafalan, adalah dengan penulisan.

Qur’an sebagai penerangan atau penjelasan, itu bukan hanya untuk satu masalah. Tetapi bahkan untuk banyak masalah—kalau tidak disebut semua masalah. Mungkin kasus spesifiknya bisa tidak dituturkan oleh Qur’an. Tetapi prinsip-prinsipnya, insya Allah ada semua di dalam Qur’an untuk semua urusan dunia ini. Qur’an memang bukan hanya untuk masa lalu, tetapi juga untuk sekarang dan masa depan.

QS. Al-Nahl[16]: 89
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk MENJELASKAN SEGALA SESUATU dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

Menurut ayat di bawah ini, ayat-ayat Qur’an itu bisa saling menjelaskan. Alias ayat yang satu, itu dijelaskan oleh ayat yang lain.

QS. Al-Baqarah[2]: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai PETUNJUK bagi manusia dan PENJELAS MENGENAI PETUNJUK TERSEBUT dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Jadi, untuk masalah apa pun di muka bumi ini—terutama untuk Kaum Mukminin, carilah penjelasannya dari Qur’an. Insya Allah ada. Kalau ayat satu kurang jelas, coba cari di ayat yang lain. Yang setema. Inilah cara terbaik menafsiri Qur’an itu. Tafsir ayat bil ayat, istilahnya. Secara tematik (mawdhu’iy, istilahnya).

Jangan belum apa-apa, langsung ujug-ujug, gegabah, terburu-buru, tiba-tiba menyimpulkan bahwa tidak ada ayatnya. Padahal belum mencari. Belum menelusuri. Belum melacak ayat-ayat Qur’an itu sendiri. Lalu ujug-ujug lari kepada Hadis-Hadis, bahkan pendapat-pendapat yang tidak jelas dasarnya. Sambil menyangka semua yang selain Qur’an itu adalah penjelasan yang terbaik.

Pernah seorang kawan, meskipun dengan nada yang lembut dan halus seperti belut, mengatakan bahwa saya liar. Padahal saya mengutamakan merujuk Qur’an. Ini merujuk Qur’an disebut liar. Orang yang ujug-ujug lari kepada Hadis-Hadis dan pendapat-pendapat tanpa diketahui dasarnya, malah dianggap jinak. Padahal tali Allah (Al Qur’an) inilah yang justru berfungsi ‘mengikat’ kita semua supaya jinak. Jadi siapa sebenarnya yang liar itu?!

QS. Ali Imran[3]: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan BERPEGANG TEGUHLAH KAMU SEMUANYA KEPADA TALI ALLAH (AL QUR’AN). Dan JANGANLAH BERCERAI BERAI. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu. Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Sebenarnya tidak masalah semua rujukan yang berusaha menjelaskan Qur’an. Tetapi prinsipnya tentu saja: Jangan sampai bertentangan dengan Qur’an itu sendiri. Posisikan Qur’an itu semestinya—yang pertama dan utama.

QS. Al-Qiyamah[75]: 19
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah PENJELASANNYA.

Ayat di atas, Allah menggunakan redaksi ‘Kami’. Biasanya itu menunjukkan Allah melibatkan pihak lain dalam penjelasan itu. Kalau sampainya Qur’an kepada Nabi, jelas pihak lain itu adalah Jibril (QS.26:193-194). Dan untuk masa kita, pihak lain itu bisa berupa Sains (ilmu alam dan sosial) dan Teknologi yang disusun oleh para pakarnya masing-masing. Alias menjelaskan ayat qowliyah dengan ayat kawniyah.

Ambil contoh misalnya QS.51:21 yang berbunyi: “Wa fii anfusikum afalaa tubshiruun: Apakah kalian tidak mengamati apa yang ada dalam diri kalian.” Tentu kita butuh ulama Biologi, ulama Kimia, ulama Psikologi, ulama Neurosains, dan seterusnya. Yang menjelaskan tentang DNA, inti sel, sel, jaringan, organ, reaksi-reaksi Kimia apa saja yang terjadi, hormon-hormon, sirkuit dan gelombang otak dan lain seterusnya.

Tentu saja, sekali lagi, semua penjelasan itu harus dan wajib dipahami. Bukan penjelasan atau keterangan namanya kalau tidak ada upaya memahami. Orang yang hanya membaca Qur’an tanpa ada upaya memahami, saya jamin orang seperti itu tidak akan mendapatkan ‘cahaya’ dari Qur’an.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

QUR’AN BUKAN JIMAT


—Saiful Islam*—

“Mereka tidak mengikuti kecuali PRASANGKA BELAKA. Dan cuma MENDUGA-DUGA saja…”

Merupakan penyalahgunaan, adalah menjadikan ayat-ayat Qur’an sebagai jimat. Atau azimat yang menurut KBBI berarti barang (tulisan) yang dianggap mempunyai kesaktian dan dapat melindungi pemiliknya, digunakan sebagai penangkal penyakit dan sebagainya.

Dijumpai juga pengertian jimat, azimat atau tamimah adalah sejenis barang atau tulisan yang digantungkan pada tubuh, kendaraan, atau bangunan dan dianggap memiliki kesaktian untuk dapat melindungi pemiliknya, menangkal penyakit dan tolak bala.

Sedangkan sakti, diartikan sebagai mampu berbuat sesuatu yang melampaui kodrat alam. Sakti atau kesaktian juga dipahami sebagai mempunyai kuasa gaib, bertuah, keramat dan kebal. Sakti mandraguna, itu sakti yang luar biasa.

Tentang ayat Qur’an untuk ruqyah, sudah pernah saya tulis dan bagikan sebelumnya. Yaitu kisah konyol gadis kesurupan yang kemudian dibacakan ayat Qur’an. Tujuannya untuk mengusir ‘setan yang masuk’ pada gadis itu. Ternyata gadis yang ‘kesurupan’ itu malah mengoreksi tajwid bacaan si ‘ustadz’.

Kini cerita yang lain. Pernah di Banyuwangi. Beberapa anak muda iseng mendatangi dukun yang berdandan ala kiai. Dukun itu memakai sarung, kopiah haji, baju koko putih, surban (atau semacam siyal), tasbih dan asesoris lain untuk meyakinkan korban.

Wong pinter,” orang awam biasa menyebut. Anak-anak muda itu minta solusi bagaimana supaya memelet gadis-gadis. “Aji-aji jarang goyang,” itu nama salah satu pelet yang sangat terkenal di kota gandrung.

Oleh dukun tadi mereka diminta membeli spidol tinta emas. Ditulis dengan aksara Arab, semacam potongan ayat, di atas selembar kertas SIDU. Lalu dilipat-lipat. Biasanya diberi pantangan: tidak boleh dibawa masuk toilet. Jimat!

Hasilnya? Bukannya gadis-gadis itu terpelet. Malah anak-anak muda itu yang semakin galau. Stres. Pikirannya berharap gadis pujaan hatinya datang bertekuk lutut mengemis cintanya. Padahal si gadis sendiri cuek. Fokus dengan pelajaran sekolah.

Di masyarakat awam, juga banyak praktik menyimpang itu. Kerap kita mendengar, “Kalau ingin memelet anak gadis orang, atau supaya dicintai banyak orang, bacalah Surat Yusuf sekian kali.”

“Kalau ingin cepat kaya, bacalah Surat Al-Waqi’ah sekian kali.” Tentu tanpa perlu mengerti artinya.

“Kalau ingin pintar, bacalah Surat Al-Kahfi sekian kali.”

“Kalau ingin selamat, ingin mengusir setan, bacalah Ayat Kursi sekian kali.”

“Kalau ingin berkuasa, bacalah Surat Al-Mulk sekian kali.”

“Kalau ingin laris dagangan, bacalah Surat Yasin sekian kali.”

“Caleg mengundang ustadz untuk menghatamkan Qur’an dengan tujuan supaya menang.”

Begitu juga orang berharap mengusir setan-setan yang ada di rumahnya dengan mengundang ustadz untuk menghatamkan Qur’an. Tentu semua itu tanpa perlu dimengerti artinya.

Bahkan sampai mengajari murid untuk kurang ajar kepada gurunya. Tepatnya ketika ujian. Murid itu disuruh membaca, “Shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun,” untuk gurunya. Baik dukunnya maupun muridnya soalnya sama-sama tidak tahu artinya.

Padahal itu potongan QS.2:18 yang artinya: “Mereka tuli, bisu dan buta. Maka mereka tidak akan kembali (ke jalan yang benar).” Jadi tujuannya dukun dan murid tadi berharap gurunya yang menjaga ujian itu menjadi tuli, bisu dan buta. Sehingga ia bisa mencontek sebebas-bebasnya. Kurang ajar sekali!

Contoh sepadan, yaitu ketika ada razia polisi. Operasi gabungan kelengkapan surat-surat kendaraan bermotor. Itu juga disuruh membaca potongan QS.2:18 tadi. Tujuannya supaya polisinya menjadi tuli, bisu, buta. Sehingga ia bisa lolos razia meskipun surat-suratnya tidak lengkap. Hasilnya? Tetap ditilang! Ini kalau polisinya sampai membaca tulisan ini, terus menemui orang yang ‘komat-kamit’ saat ditilang, bisa-bisa ditempeleng orang itu.

Di rumah-rumah kaum Mukminin, juga kerap dijumpai kaligrafi. Yaitu potongan ayat Qur’an yang ditulis secara artistik. Biasanya Ayat Kursi. Tentu kalau tujuannya sekadar seni, itu boleh-boleh saja. Apalagi yang punya rumah mengerti arti dan maknanya. Sehingga bisa mengingatkannya pada substansi ayat itu. Ini malah baik sekali. Tetapi kalau tujuannya ‘Mengusir Setan’ tentu itu penyalahgunaan ayat.

Saya rasa masih banyak cerita-cerita konyol seperti itu yang terjadi di sekitar umat Islam. Mereka menyalahgunakan fungsi Qur’an. Al-Qur’an hanya dirapal layaknya mantra tanpa diketahui artinya. Fungsi Qur’an telah menyimpang sudah terlalu jauh. Umat kehilangan pedoman hidup sejatinya.

Intinya, baik pengertian maupun praktik di atas, itu tidak ada tuntunannya dari Qur’an itu sendiri. Tidak pernah ada satu pun ayat Qur’an yang menyuruh melakukan praktik konyol seperti contoh di atas. Tidak pernah ada satu pun ayat Qur’an yang mengatakan bahwa ayat-ayat Qur’an itu dibaca tanpa dipahami. Lalu menjadi mantra dan jimat yang menggelikan seperti kasus-kasus itu.

Karena memang, Qur’an itu bukan untuk jimat. Bukan untuk azimat. Bukan untuk dibaca tanpa dimengerti artinya. Bukan untuk ditulis tanpa dimengerti maknanya. Kemudian ujug-ujug berharap akan ada dampak baik dari praktik konyol jimat itu. Apalagi dengan tujuan-tujuan yang melanggar ajaran Qur’an itu sendiri. Kalau bahasa Fikih-nya, jelas itu haram!

Berkali-kali saya kutipkan. Bahwa tujuan Qur’an, itu adalah petunjuk. Mustahil Qur’an bisa menjadi petunjuk, kalau Qur’an diperlakukan seperti praktik-praktik konyol di atas. Sebagai petunjuk, itu Qur’an mesti dimengerti artinya. Kalau hanya dirapal, ditulis, tanpa dimengerti artinya, lantas dibuat jimat, itu jelas teladan dukun. Bukan teladan Nabi!

QS. Al-Baqarah[2]: 2
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya. MENJADI PETUNJUK bagi mereka yang bertaqwa.”

QS. Yunus[10]: 108
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ
Katakanlah: "Hai manusia. Sesungguhnya teIah datang kepadamu KEBENARAN (AL QUR’AN) DARI TUHANMU. Sebab itu barangsiapa yang mendapat PETUNJUK, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.”

QS. Naml[27]: 92
وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ
Dan supaya aku MEMBACAKAN AL QUR’AN (KEPADA MANUSIA). Maka barangsiapa yang mendapat PETUNJUK (QUR’AN ITU), maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya. Dan barangsiapa yang sesat, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku (ini) tidak lain HANYALAH salah seorang PEMBERI PERINGATAN.”

Soal ayat sakti, itu tidak ada ayat Qur’an yang sakti secara gaib metafisika. Ayat-ayat Qur’an, itu tidak ada yang mempunyai kuasa gaib yang melampaui kodrat alam. Apalagi yang dianggap sakti secara gaib antah berantah itu teksnya. Semua itu hanya dugaan belaka dukun yang sedang sakit psikologis.

QS. Yunus[10]: 36 & 66
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali PERSANGKAAN BELAKA. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai KEBENARAN. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ ۗ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
66. Ingatlah. Sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali PRASANGKA BELAKA. Dan mereka hanyalah MENDUGA-DUGA.

‘Kesaktian’ Qur’an, itu justru ada pada maknanya. Yang kemudian dipahami. Nilai-nilai dan prinsipnya dipedomani. Lantas dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Barulah akan membuahkan dampak-dampak baik dan manfaat bagi hidup dan kehidupan manusia itu sendiri.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishowaab....

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.



AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...