Sabtu, 15 Agustus 2020

SEBAB AKIBAT QUR’AN


—Saiful Islam*—

“Mereka mendapat nasib sesuai dengan apa yang mereka usahakan…” QS.2:202

Al Qur’an berfungsi sebagai maw’izhoh. Umumnya diartikan pelajaran. Di depan sudah saya singgung sedikit, bahwa yang namanya pelajaran itu memang harus dipahami. Misalnya disebut oleh QS.3:138.

QS. Ali Imran[3]: 138
هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta PELAJARAN bagi orang-orang yang bertakwa.

Dari wa’azho, menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, kata al-wa’zhu itu berarti teguran bersamaan dengan menakuti. Menurut Al-Khalil, al-wa’zhu berarti pengingat kebaikan yang bisa melembutkan hati (akal). Kata bendanya adalah al-‘izhoh dan al-maw’izhoh. Ayat-ayatnya seperti QS.16:90; 34:46; 58:3; 10:57; 11:120; 3:138; 7:145; dan QS.4:63.

QS. Al-Nahl[16]: 90
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi PENGAJARAN kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

QS. Hud[11]: 120
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
Semua kisah dari para Rasul Kami ceritakan kepadamu, adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Dan dalam surat ini (Al Qur’an) telah datang kepadamu kebenaran serta PENGAJARAN dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.

Adapun menurut Lisan al-Arab, kata al-wa’zh, al-‘zhoh, al-‘azhoh, dan al-maw’izhoh itu artinya sama. Yaitu nasehat dan pengingat adanya akibat kebaikan. Menurut Ibnu Sidah artinya adalah pengingat adanya konsekuensi baik buruk yang bisa melembutkan hati dan akal manusia.

Jadi secara bahasa, maw’izhoh itu berarti sebab akibat. Konsekuensi. Jika melakukan sebab kebaikan, maka akibatnya (hasilnya) adalah kebaikan. Nasib baik. Sebaliknya jika melakukan sebab keburukan, maka akibatnya adalah keburukan. Nasib buruk.

Khusus untuk kata al-maw’izhoh, itu hanya terulang 9 kali dalam Al Qur’an. Yaitu QS.2:66, 275; QS.3:138; QS.5:46; QS.7:145; QS.10:57; QS.11:120; QS.16:125 dan QS.24:34.

QS. Al-Nahl[16]: 125
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
AJAKLAH (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan Hikmah dan PELAJARAN YANG BAIK. Dan bantahlah mereka dengan CARA YANG BAIK. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang LEBIH MENGETAHUI tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

QS. Al-Baqarah[2]: 275
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang diserang setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya PELAJARAN (MAW’IZHOH) dari Tuhannya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

QS. Al-Nur[24]: 34
وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ
Sesungguhnya KAMI TELAH MENURUNKAN KEPADA KALIAN ayat-ayat yang memberi penerangan dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan PELAJARAN bagi orang-orang yang bertakwa.

Dari ayat-ayat Qur’an itu pun, kita bisa melihat hukum kausalitas yang menghasilkan konsekuensi itu. Dan konsekuensi, itu tidak hanya terjadi di dunia saja. Artinya, akibatnya itu sampai terjadi di akhirat. Iman dan amal saleh berbuah surga. Kufur dan berbuat kerusakan akan berakibat neraka.

Jadi pertama, ada kausalitas Al Qur’an. Jika begini, maka begitu. Ini sudah ketetapan-Nya. Sudah takdir-Nya. Sebuah kepastian. Sunnatullah yang tidak akan pernah bisa menyimpang dan tidak akan pernah bisa terganti (QS.35:43).

Secara umum, siapa yang berbuat kebaikan, maka ia akan mendapat kebaikan. Siapa yang berbuat keburukan, maka begitu pula yang akan ia dapatkan. Seperti disebut QS.99:8; QS.17:7; QS.53:39; dan QS.2:134. Atau seperti disebut QS.16:90 di atas, bentuk kebaikan itu seperti adil dan memberi kepada kaum kerabat. Sedangkan bentuk keburukan seperti berzina, mungkar dan permusuhan.

Ingin selamat, misalnya pahami dan praktikkan pesan QS.32:19 dengan beriman dan beramal saleh, berilmu (QS.58:11), taat kepada Allah dan Rasul-Nya (QS.4:59), berbakti kepada orang tua (QS.17:23) dan berbuat baik kepada diri sendiri, alam dan sesama (QS.28:77; QS.5:2 & QS.31:18). Juga ayat di bawah ini.

QS. Al-Nahl[16]: 97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya KEHIDUPAN YANG BAIK. Dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Ingin beruntung, menang dan sukses, misalnya pahami dan praktikkan pesan syukur (QS.14:7), sabar (QS.32:24), memberi (QS.2:261 & QS.65:7) dan rajin berusaha dan banyak mengingat Allah (QS.62:10) serta bertakwa dan bertawakkal kepada Allah (QS.65:2-3). Diterapkan juga pesan QS.23:1-11.

Ingin keluarga harmonis, misalnya pahami dan praktikkan pesan QS.4:19 dan QS.24:30 dengan sabar jika mendapati kekurangan-kekurangan pasangan. Fokus kepada kelebihan-kelebihannya. Mengalah. Memaafkan kesalahan-kesalahannya. Mengingat kontribusinya bagi keluarga. Bukan malah gampangan bercerai. Lihatlah ranum, harum, dan indahnya mawar. Bukan durinya.

Ingin tentram dan bahagia, misalnya pahami dan praktikkan pesan 13:28 dengan mengingat Allah, mengeluh hanya kepada-Nya (QS.12:86), berharap hanya kepada-Nya (QS.94:8), menyembah, berdoa dan meminta hanya kepada-Nya (QS.1:5).

Ingin sehat dan panjang umur, misalnya pahami dan praktikkan pesan 5:88 dengan mengonsumsi yang halal dan baik (sehat bergizi seimbang), serta tidak berlebihan (QS.7:31). Intinya, tidak mengonsumsi semua yang buruk (QS.7:157).

Dan lain seterusnya yang bisa ditelusuri di dalam Qur’an.

Kedua, ada kausalitas alam. Hukum alam. Ini juga termasuk sunnatullah. Ayat kawniyah. Saya termasuk yang yakin, tidak pernah terjadi pertentangan antara kausalitas Qur’an dengan kausalitas alam. Karena dua-duanya adalah ayat Allah. Sudah banyak contohnya orang baik hidupnya akan baik. Orang jahat, akan menderita hidupnya. Bahkan sejak di dunia ini.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

HIDAYAH SEJATI


—Saiful Islam*—

“Ibarat gelas dibalik. Selebat apa pun hujan, setitik air pun takkan pernah bisa masuk…”

Fokus kita kali ini adalah Qur’an berfungsi sebagai petunjuk (QS.2:2). Hudan. Alias hidayah. Di depan sedikit saya singgung bahwa yang namanya petunjuk, itu harus dipahami. Inilah salah satu fungsi utama Qur’an diturunkan.

Al-hidaayah adalah petunjuk yang halus. Dari kata al-hidaayah itu muncul kata al-hadiyyah (pemberian) dan hawaadiy al-wahsy (paling depannya hewan yang berjalan berbaris). Yang berarti petunjuk, itu menggunakan redaksi haadaytu. Sedangkan yang berarti pemberian (hadiah), memakai bentuk ahdaytu.

Al-hudaa menurut Ibnu Sidah, seperti yang dikutip oleh Lisan al-Arab, artinya adalah lawan kata sesat (al-dholaal).

Hidayahnya Allah kepada manusia, itu ada empat bentuk. Begitu disebut oleh Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an.

Pertama, hidayah yang umum kepada para mukallaf. Yaitu dalam bentuk akal, kecerdasan, dan pengetahuan-pengetahuan pokok (dasar) dengan kapasitas dan kapabilitas tertentu. Misalnya disebut pada QS.20:50.

QS. Thaha[20]: 50
قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ
Musa berkata: "Tuhan Kami ialah Yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian MEMBERINYA PETUNJUK.”

Kedua, hidayah kepada manusia dengan doanya para Nabi dan diturunkannya Al Qur’an, dan yang semisalnya. Itulah yang dimaksud oleh QS.21:73.

QS. Al-Anbiya’[21]: 73
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai para pemimpin yang MEMBERI PETUNJUK dengan perintah Kami.

Ketiga, hidayah berupa persetujuan Allah kepada orang yang sengaja mencari petunjuk. Ini seperti disebut oleh QS.47:17; QS.64:11; QS.10:9; QS.29:69; QS.19:76; dan QS.2:213.

QS. Muhammad[47]: 17
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
Dan orang-orang TERUS MENCARI PETUNJUK, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.

QS. Al-Ankabut[29]: 69
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari restu) Kami, BENAR-BENAR AKAN KAMI TUNJUKKAN kepada mereka jalan-jalan kami.

Keempat, hidayah di akhirat kelak. Yaitu petunjuk menuju surga. Seperti QS.47:5 dan QS.7:43.

QS. Muhammad[47]: 5
سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ
Allah akan MEMBERI PETUNJUK mereka dan memperbaiki keadaan mereka.

Keempat bentuk hidayah di atas, itu tersusun tertip. Artinya, orang yang tidak memiliki hidayah pertama, ia tidak akan bisa meraih hidayah kedua. Bahkan tidak wajib beragama kalau orang tidak berakal.

Keempat hidayah itu, juga semacam pemberian dari Allah. Menurut Al-Ashfahaniy, ini seperti disebut oleh QS.28:56.

QS. Al-Qashash[28]: 56
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Sungguh KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Selain keempat macam hidayah di atas, manusia disebut bisa memberi petunjuk kepada sesamanya dengan mendoakan dan mengemukakan alasan-alasan rasional. Seperti QS.42:52; QS.32:24; dan QS.13:7.

QS. Al-Syura[42]: 52
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. Tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang KAMI TUNJUKI DENGAN AL QUR’AN ITU siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Allah tidak akan memberi hidayah pada orang yang zalim, pendusta dan ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini disebut misalnya oleh QS.3:86; QS.39:3 dan QS.16:107.

Hidayah, itu semacam kemauan bebas seseorang yang direstui oleh Allah. Nabi hanya menyampaikan hidayah (Al Qur’an). Nabi tidak bisa memaksa seseorang untuk mendapat hidayah. Meskipun Nabi sangat ingin kaumnya dapat hidayah. Ini disebut oleh QS.10:99. Bentuk-bentuknya misalnya QS.2:282; QS.6:35; QS.27:81; QS.16:37; QS.39:37; dan QS.28:56.

QS. Yunus[10]: 99
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah BERIMAN SEMUA ORANG yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

QS. Al-Naml[27]: 81
وَمَا أَنْتَ بِهَادِي الْعُمْيِ عَنْ ضَلَالَتِهِمْ ۖ إِنْ تُسْمِعُ إِلَّا مَنْ يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ
Kamu sekali-kali TIDAK DAPAT MEMBERI PETUNJUK ORANG BUTA DARI KESESATANNYA. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada AYAT-AYAT KAMI, lalu mereka berserah diri.

Siapa yang berpegang teguh kepada Al Qur’an, berarti orang tersebut diberi hidayah pada jalan yang lurus. Ini disebut misalnya dalam QS.3:101; QS.4:68; QS.6:87; QS.37:118; dan QS.1:6.

QS. Ali Imran[3]: 101
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal AYAT-AYAT ALLAH DIBACAKAN kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang BERPEGANG TEGUH KEPADA ALLAH (AL QUR’AN), maka sungguh ia telah DIBERI PETUNJUK KEPADA JALAN YANG LURUS.

Al-hudaa dan al-hidaayah, secara bahasa, artinya sama: petunjuk. Tetapi Allah menggunakan al-hudaa itu khusus untuk orang-orang tertentu. Bukan untuk manusia secara umum. Yang benar-benar petunjuk, itu adalah al-hudaa (Al Qur’an) bagi orang yang mau dan berusaha pada petunjuk yang lantas direstui oleh Allah. Misalnya QS.2:2, 38 dan QS.6:71.

QS. Al-Baqarah[2]: 2
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Kitab Al Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; MENJADI PETUNJUK bagi mereka yang bertaqwa.

QS. Al-An’am[6]: 71
قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۖ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya PETUNJUK ALLAH (AL QUR’AN) ITULAH (YANG SEBENARNYA) PETUNJUK. Dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.”

Adapun al-ihtidaa’, itu artinya adalah kemauan dan usaha manusia untuk mendapat petunjuk, baik urusan dunia maupun urusan akhirat. Misalnya QS.6:97; QS.2:53, 137, 150; dan QS.3:20.

QS. Al-An’am[6]: 97
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan BINTANG-BINTANG BAGIMU, agar kamu MENJADIKANNYA PETUNJUK DALAM KEGELAPAN DI DARAT DAN DI LAUT. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.

Jadi, semua makhluk—manusia, hewan dan tumbuhan—itu sudah diberi perangkat oleh Allah untuk bisa mendapat hidayahnya masing-masing (QS.20:50). Termasuk mendapat rezeki dasarnya untuk hidup dan bereproduksi.

Ketika seseorang salat, berdoa “Ihdinaashshiroothol mustaqiim… (QS.1:6-7),” itu sejatinya jalan yang lurus tersebut adalah nilai-nilai, akidah dan syariat Qur’an (QS.42:52). Dan hidayah Allah (Al Qur’an), itulah sebenar-benarnya hidayah (QS.6:71).

Dari QS.42:52 itu juga kita tahu bahwa sampainya hidayah Qur’an pada seseorang, itu Allah tidak bekerja sendiri. Kata ‘Kami’ itu artinya Allah melibatkan pihak lain dalam proses pemberian hidayah itu. Salah satunya adalah manusia.

Di samping bisa mendapat hidayah Qur’an (ayat qowliyah), manusia bisa mendapat hidayah ayat kawniyah. Yakni realitas alam dan sosial (QS.6:97). Karenanya, manusia pun bisa mendapat hidayah ilmu pengetahuan. Hidayah ekonomi, bisa diperoleh dari pakar ekonomi. Dan seterusnya pakar manajemen, seni, psikologi, sosial, sejarah, kuliner, desain, IT dan lain-lain.

Meski begitu, hidayah yang selain Qur’an, patut selalu dipilih dan dipilah. Rujukan apa pun, mesti di-crosscheck dengan Qur’an. Sebab masih bisa jadi, itu ternyata bukan hidayah. Tetapi hanya seakan-akan hidayah. Yang bisa menyelewengkan kita dari Qur’an. Seakan-akan hidayah, ini ulah setan (QS.43:36). Disangka hidayah, padahal bukan (QS.43:37).

Semua hidayah, itu sesuai kehendak bebas seseorang yang kemudian direstui Allah (QS.28:56). Orang yang tidak mau hidayah, tidak akan pernah mendapat hidayah. Baik dari Qur’an maupun ilmu pengetahuan. Kaffaar, istilah QS.39:3. Alias menutup akal pikiran dan hatinya. Seperti gelas yang dibalik. Selebat apa pun hujan, tak akan pernah sebutir air pun bisa masuk.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.

Jumat, 14 Agustus 2020

QUR’AN INSPIRASI SASTRA


—Saiful Islam*—

“Meski begitu, Qur’an bukan karya Sastra layaknya novel dan syair…”

Kalau sedang tidak menulis sebuah tema tertentu, saya menikmati karya Sastra. Biasanya, novel. Meskipun karya fiksi, karya Sastra semacam novel, itu bisa jadi sangat bergizi bagi psikis kita dengan penyajian yang renyah dan indah. Indonesia pernah punya tokoh inspiratif yang punya karya Tafsir (Tafsir al-Azhar) dan karya Sastra. Yang sudah saya hatamkan berjudul Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Namanya kerap dipanggil dengan sebutan Hamka.

Terkait tema QUR’AN INSPIRASI LITERASI, penting untuk disampaikan ini. Setiap ucapan atau tulisan, secara garis besar itu bisa dikategorikan dua macam. Yaitu karya fiksi dan karya non fiksi. Gampangnya fiksi itu cerita rekaan atau khayalan. Sedangkan non fiksi, sebaliknya. Yaitu sifatnya berdasar fakta dan kenyataan.

Meskipun, bisa saja cerita fiksi, inspirasinya dari fakta dan kenyataan. Makanya muncul istilah ketiga: faksi. Yakni cerita fiksi yang terinpirasi oleh kenyataan dan fakta sehari-hari. Memang hampir semua karya fiksi, itu adalah cerita. Sebuah narasi yang hampir seluruhnya ditulis dengan kalimat deskripsi. Jadi lebih ke menunjukkan dan menggambarkan.

Contoh-contoh karya fiksi antara lain yang dekat dengan kita misalnya lagu, dongeng, cerita pendek (cerpen), novel, syair, puisi, dan film. Semua karya-karya itu, harus kita anggap sebagai fiksi. Meskipun faksi, sekali pun, tetapi itu adalah fiktif. Dan kalau kita amati semua karya-karya Sastra itu adalah cerita. Yang digambarkan secara deskriptif. Kalimatnya lebih ke narasi dan deskripsi. Bukan argumentasi.

Nah, tulisan yang lalu, sudah saya tunjukkan bahwa Qur’an pun menggunakan kalimat-kalimat penggambaran itu. Kalimat deskripsi. Tetapi ingat, jangan sampai Qur’an disebut sebagai buku fiksi. Jangan terjebak, menyamakan deskripsi Qur’an yang non fiksi (ilmiah) itu dengan deskripsi karya Sastra yang fiksi.

Memang tidak ada salahnya kita belajar Sastra Arab. Bahkan bagus sekali. Tetapi jangan terjebak mau mengoreksi Qur’an dengan teori Sastra. Jangan terjebak mengatakan bahwa Qur’an adalah buku Sastra. Pernah terjadi, Qur’an disebut fiksi. Alamak! Padahal tujuan permisalan atau penggambaran Qur’an, itu supaya makna yang sangat dalam bisa dipahami dengan mudah. Berikut lagi beberapa contoh ayat-ayat Qur’an.

QS. Al-Baqarah[2]: 187 & 223
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ
187. Istrimu itu adalah PAKAIAN bagimu, dan kamu pun adalah pakaian baginya.

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ
223. Istrimu adalah (seperti) SAWAH LADANGMU. Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.

QS. Ibrahim[14]: 24 – 25
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
24. Tdakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, itu SEPERTI POHON YANG BAIK. Akarnya kokoh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

ؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
25. Pohon itu MEMBERIKAN BUAHNYA pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

QS. Al-Rahman[55]: 24
وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ
Dan kepunyaan-Nya lah kapal-kapal yang tinggi layarnya di lautan laksana GUNUNG-GUNUNG.

QS. Shaff[61]: 4
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka suatu BANGUNAN YANG TERSUSUN KOKOH.

QS. Al-Haqqah[69]: 7
سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ
Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus. Maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka TUNGGUL POHON KURMA YANG LAPUK.

QS. Naba’[78]: 10
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا
Dan Kami jadikan malam bagimu SEBAGAI PAKAIAN.

QS. Al-Fil[105]: 5
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
Lalu Dia menjadikan mereka seperti DAUN-DAUN YANG DIMAKAN (ULAT).

QS. Al-Qolam[68]: 20
فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ
Maka jadilah kebun itu hitam seperti MALAM YANG GELAP GULITA.

QS. Al-Muddatstsir[74]: 50
كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ
Seakan-akan mereka itu KELEDAI LIAR YANG LARI TERKEJUT.

Dari ayat-ayat di atas, kita bisa saksikan sendiri. Allah pun menggunakan ungkapan-ungkapan deskriptif itu. Sebagaimana banyak karya Sastra, juga menggunakan kalimat-kalimat deskripsi. Tak berlebihan rasanya kita sebut, Qur’an inspirasi Sastra. Sungguh dengan cara penggambaran seperti itu, Allah justru hendak mempermudah pemahaman orang awam. Bukan mempersulit.

Dan meski begitu, Qur’an bukan buku Sastra. Bukan karya Sastra layaknya novel. Bukan. Ia bukanlah dongeng dan perkataan dukun sebagaimana tuduhan para rival Nabi. Juga bukan buku kumpulan syair.

QS. Al Haqqah[69]: 40 – 42
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ
40. Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ
41. Dan Al Qur’an itu BUKANLAH PERKATAAN SEORANG PENYAIR. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
42. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu MENGAMBIL PELAJARAN darinya.

Tidak pernah ada dalam Al Qur’an yang menyebutkan bahwa Qur’an adalah syair. Bahkan Allah menyebut bahwa Nabi pun, itu tidak pantas bersyair (QS.36:69).

QS. Yasin[36]: 69
وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ
Dan KAMI TIDAK MENGAJARKAN SYAIR KEPADANYA (Muhammad). Dan BERSYAIR ITU TIDAKLAH LAYAK BAGINYA. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.

Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab…

*Penulis buku ‘Ayat-Ayat Kemenangan’, dll.


AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...