Senin, 07 September 2020

KEAJAIBAN BAHASA

 

—Saiful Islam*—

 “As well as learning vocabulary and grammar you’re also unconsciously learning a whole new way of seeing the world. There’s an inextricable link between language, culture and cognition.”  — Profesor Panos, Universitas Lancaster

 Keterampilan berbahasa yang lebih tinggi, itu terkait langsung dengan pertumbuhan hippocampus dan beberapa area cerebral cortex—terkait dengan ingatan (memori), pikiran dan tindakan.

 Sebuah studi MRI (Magnetic Resonance Imaging) tahun 2012 di Swedia menunjukkan bahwa belajar suatu bahasa memperbaiki ketebalan kortikal (cortical thickness)—lapisan selaput neuron yang berperan besar untuk pikiran, bahasa, kesadaran dan ingatan.

 Ukuran yang bertambah itu terkait dengan ingatan dan ketajaman pikiran yang lebih baik di masa tua. Belajar bahasa asing, itu akan mengubah otak, layaknya orang belajar keterampilan motorik (gerak) yang kompleks, seperti menari dan atraksi lempar bola-bola kasti.

 Meski demikian, sebuah studi oleh McGill University tahun 2013 menunjukkan bahwa belajar dua bahasa sejak lahir, tidak ada dampaknya pada otak.

 Sepanjang sejarah, banyak pemikir menyatakan bahwa perbedaan dalam bahasa itu mengarahkan pada perbedaan yang luas dalam pengalaman dan pemikiran. Teori ini disebut relativitas bahasa (linguistic relativity).

 Persepsi warna merupakan alat uji yang paling ideal untuk pandangan tersebut. Sebab ada banyak variasi antara bagaimana bahasa-bahasa yang berbeda itu mendeskripsikan warna.

 Misalnya Bahasa Jepang, itu memiliki banyak istilah untuk menggambarkan warna biru gelap dan biru terang—ada sekitar 12 istilah. Istilah itu tidak ditemukan dalam Bahasa Inggris yang hanya memiliki 3 istilah saja.

 Sebaliknya bahasa-bahasa yang hanya memiliki sedikit istilah. Juga memiliki dampak yang sebaliknya—sedikit pengalaman dan pemikiran. Misalnya orang-orang Namibian Himba yang mengategorikan warna itu hanya menjadi 5 saja: vapa (putih dan kekuningan), buru (kehijauan dan kebiruan), dambu (semu hijau, merah, coklat), sedandu (merah, oren, merah muda), dan zuzu (biru tua, merah, hijau, ungu). 

“Ketika belajar kosa kata dan tata bahasa, itu secara tidak sadar berarti Anda juga belajar cara baru yang menyeluruh dalam melihat dunia. Ada sebuah rantai yang tak bisa dipisahkan antara bahasa, budaya dan kecerdasan,” kata Prof. Panos seperti yang telah saya kutip di atas. 

Otak manusia, itu memiliki belahan otak kiri dan otak kanan. Nah, terkait dengan pemahaman bahasa dan produksi (ide) pembicaraan, itu terletak di otak sebelah kiri.

 Terkait dengan bahasa ini, ada bagian otak yang disebut Broca’s Area. Ini terkait dengan rencana gerak dan produksi bicara. Area Broca ini dipercaya berperan untuk proses kosa kata (lexical) dan bunyi kata (phonological). Kerusakan bagian ini, menyebabkan sulit berbicara meskipun masih mengerti bahasa.

 Ada juga bagian yang bernama Motor Cortex. Wilayah vocal (a,i,u,e,o) dari bagian ini berfungsi mengontrol pergerakan mulut dan bibir, termasuk produksi pembicaraan secara fisik.

 Ada lagi bagian yang bernama Wernicke’s Area. Yaitu bagian penting yang terkait dengan pemahaman bahasa. Bagian ini bertanggung jawab untuk memroses suara suatu pembicaraan. Jika bagian ini rusak, maka akan menyebabkan rusaknya pemahaman. Meski mampu memproduksi suara, tetapi tidak akan bermakna. Jadi seperti orang yang sedang mengigau.

 Bagian terakhir adalah Auditory Cortex. Fungsinya menerima sinyal-sinyal dari saraf-saraf pendengaran pada telinga bagian dalam, serta mengirimnya sesuai data yang tersimpan di otak (temporal and spatial frames of reference for the data).

 Meskipun para peneliti tidak pernah menemukan kesepakatan terkait usia dan kemampuan belajar bahasa, tetapi ada semacam masa kritis dimana belajar bahasa dirasa menjadi lebih sulit.

 Persentase kecakapan belajar bahasa yang terkait dengan usia otak, seperti ditunjukkan oleh sebuah studi yang pernah dilakukan oleh Jacqueline Johnson dan Elisa Newport. Studi yang bertajuk Critical Period Effects In Second Language Learning pada tahun 1989, itu membandingkan nilai tes Tata Bahasa Inggris untuk para imigran berdasar usia yang datang ke United States (US). 

Grafiknya sebagai berikut. Untuk usia 3 – 7 tahun menghasilkan kecakapan 98 persen. Usia 8 – 10 tahun 93 persen. Usia 11 – 15 tahun 83 persen. Dan usia 17 – 39 tahun itu menghasilkan kecakapan 76 persen. Dengan demikian, anak-anak yang mulai belajar bahasa asing sejak usia 3 tahun itu efektivitasnya sangat tinggi.

 Belajar sebuah bahasa sejak dini, itu memiliki beberapa keuntungan. Yaitu pertama, meningkatkan kemampuan kognisi—kemampuan memahami. Pengalaman dini dengan dua bahasa memberikan anak-anak mental yang fleksibel, unggul dalam konsep, dan kemampuan mental yang kaya. 

Kedua, mampu berprestasi lebih tinggi dalam beberapa bidang akademik yang berbeda. Para pelajar kelas 3 yang mendapatkan pelajaran bahasa selama 30 menit setiap pekan, meraih nilai yang lebih tinggi pada ujian prestasi akademik dibanding dengan anak-anak yang tidak mendapatkan pelajaran bahasa.

 Ketiga, mendapatkan nilai lebih tinggi pada ujian standar. Para pelajar yang belajar bahasa asing di sekolah menengah, memperoleh nilai yang lebih tinggi pada bagian verbal dari tes Shcolastic Aptitude.

 Manfaat lain dari menguasai bahasa asing, seperti berikut. 270 biro jodoh British sepakat bahwa orang-orang yang berbicara dengan bahasa asing, itu tampak lebih menarik. Anak-anak yang diasuh oleh kedua orang tuanya yang bisa bahasa asing, akan memiliki ingatan dan kecerdasan secara umum yang lebih baik. 

97 persen orang yang disurvei mengaku bahwa kemampuan bahasa asing membuat pelesir ke luar negeri menjadi lebih mudah. 98 persen dari yang disurvei itu mengaku bahwa belajar bahasa asing akan mendukung karir mereka. Lebih sepertiga bisnis menginginkan orang-orang yang memiliki kemampuan bahasa.

 Orang-orang yang memiliki kemampuan lebih dari dua bahasa, berpeluang untuk menjadi jurnalis (penulis), computer games designer, marketing manager, tourist guide, insinyur dan dokter. Sumber UNWTO World Tourism Barometer, UNESCO, British Council, CILT, CBI, dan lain-lain yang dirangkum oleh elearninginfographics.com.

 QS. Yusuf[12]: 2

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa AL QUR’AN dengan BAHASA ARAB, supaya kamu MEMAHAMINYA.

 Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab….

 *Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, dll.

Sabtu, 05 September 2020

MENYALAKAN CAHAYA LITERASI

 

—Saiful Islam*—

 “Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan generasi lemah di belakang mereka…” (QS.4:9)

 Menurut perspektif sejarah, tingkat literasi populasi dunia meningkat secara drastis dalam dua abad terakhir. Pada tahun 1820, hanya 12 persen manusia di dunia yang mampu membaca dan menulis. Kini sudah berbalik. Pada tahun 2016, hanya 14 persen saja populasi di dunia yang tidak bisa membaca dan menulis. Tingkat literasi global meningkat 4 persen setiap 5 tahun pada lebih dari 65 tahun terakhir—dari 42 persen pada 1960 menjadi 86 persen pada 2015.

 Banyak analisis menyatakan bahwa tingkat literasi itu merupakan ukuran sangat penting untuk menilai sumber daya manusia di sebuah wilayah. Misalnya, orang-orang yang mempunyai kemampuan literasi itu lebih mudah dilatih. Dan secara umum, mereka mempunyai status sosial lebih tinggi. Karenanya, mereka bisa menikmati kesehatan dan prospek kerja yang lebih baik. Komunitas internasional pun menyatakan bahwa literasi itu menjadi fasilitator kunci dan tujuan pembangunan.

 Terbukti. Mayoritas tahanan itu tidak memiliki kemampuan literasi. Di penjara Edinburgh—pemenang 2010 Libraries Change Lives Award pernah merilis pernyataan menarik. Bahwa perpustakaan telah menjadi landasan penting bagi strategi literasi penjara. Dengan strategi tersebut, para pelaku kriminal bisa dikurangi. Dan mereka bisa bekerja dengan layak hingga memperoleh status sosial ekonomi yang lebih tinggi.

 Ketidakmampuan literasi terkait dengan kurangnya pengetahuann modern tentang kebiasaan hidup sehat dan bersih—ketidaksadaran terhadap isu-isu kesehatan. Secara khusus di negara-negara berkembang, tingkat literasi berdampak pada kematian anak. Yaitu para ibu yang memiliki kemampuan literasi, berpeluang besar memiliki anak yang terus hidup di atas usia 5 tahun. Mereka lebih berhasil mengakses sistem kelayakan kesehatan.

 Literasi juga mampu meningkatkan peluang kerja serta akses ke pendidikan yang lebih tinggi. Pada tahun 2009, The National Adult Literacy Agency (NALA) di Irlandia, menganalisis keuntungan dari pelatihan literasi bagi kalangan dewasa. Kesimpulannya adalah ada keuntungan per individu, perusahaan tempat mereka kerja dan peningkatan ekonomi secara umum di sebuah negara. Contohnya adalah peningkatan Produk Domestik Bruto—salah satu indikator penting untuk mengukur kondisi perekonomian suatu negara.

 Sumber lain (laubach-on.ca) menyatakan bahwa sebanyak 42 persen orang dewasa di Kanada, itu tidak memiliki kemampuan literasi minimal untuk mengatasi masalah kerja dan kehidupan sehari-hari. Dan 15 persen dan 42 persen itu, mengalami kesulitan secara serius ketika berhadapan dengan bahan-bahan cetak. Lantas disimpulkan bahwa kemampuan literasi yang rendah, itu terkait langsung dengan kemiskinan, kesehatan yang buruk dan pengangguran.

 “Kesejahteraan ekononomi dari setiap bangsa, sangat terkait dengan literasi penduduknya,” tegas John Miller—presiden Central Connecticut State University. “Masyarakat yang tidak melakukan praktek literasi, sering terlantar dan kurang gizi. Baik jiwanya maupun tubuhnya. Serta melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan harkat martabat, brutal dan kejam,” lanjutnya.

 UNESCO Institute for Lifelong Learning pun telah mendeklarasikan peran sentral literasi dalam merespon tantangan pembangunan yang berkelanjutan. Seperti kesehatan, keadilan sosial, pemberdayaan ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan.

 Sementara itu, data berikut ini adalah hasil penelitian, pertama dari Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) tahun 2015.

 Responden penelitian itu adalah anak-anak sekolah berjumlah sekitar 540 ribu yang berusia 15 tahun.

 Untuk kategori performa membaca, ditunjukkan sebagai berikut: Singapura (rangking 1 dengan skor 535), Kanada (urutan 2 skor 527), Hongkong (urutan 3 skor 527), Finlandia (urutan 4 skor 526), Korea (peringkat 7 skor 517), Jepang (rangking 8 skor 516), Jerman (urutan 10 skor 509) dan posisi Amerika di urutan 24 dengan skor 497.

 Indonesia sendiri berada di posisi ke-44 dengan skor 397. Di atasnya (rangking 43) ada Peru dengan skor 398. Tunisia (urutan 45 skor 361), selanjutnya ada Republik Dominika (skor 358), FYROM (skor 352), Aljazair (skor 350), Kosovo (skor 347) dan Lebanon yang meraih skor 347.

 Yang kedua adalah peringkat literasi dari Central Connecticut State University (CCSU), berjudul World’s Most Literate Nations yang diumumkan Maret 2016 lalu.

 Pemeringkatan itu didasarkan pada indikator kesehatan literasi negara. Yaitu perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer. Di samping performa literasi masyarakatnya itu sendiri. Jadi diukur dari dua sisi: performa literasi dan media pendukungnya.

 “The Nordic countries dominated the top of the charts, with Finland in first place and Norway in second, and Iceland, Denmark and Sweden rounding out the top five. Switzerland follows in sixth, with the US in seventh, Canada in 11th, France in 12th and the UK in 17th place. Botswana was last, in 61st place, behind Indonesia in 60th and Thailand in 59th.”

 Jadi menurut laporan theguardian.com di atas, mulai dari negara peringat 5 besar urutannya sebagai berikut: Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia. Adapun Swiss berada di posisi ke-6, Amerika ke-7, Kanada ke-11, Prancis ke-12, Inggris ke-17. Thailand berada di urutan ke-59. Peringkat paling buncit (ke-61) diduduki oleh Botswana.

 Sedangkan Indonesia sendiri, berada di urutan kedua dari bawah. Yakni peringkat ke-60.

 Dengan demikian, meningkatkan kemampuan literasi, ini menjadi tugas kita bersama. Sudah semestinya masyarakat dan pemerintah bekerja sama, bahu membahu, saling mendukung untuk tujuan yang sangat mulia ini. Menciptakan manusia Indonesia yang tidak hanya kuat iman dan takwanya (IMTAK), tetapi juga kokoh ilmu pengetahuan dan teknologinya (IPTEK). Menuju insan kamil. Bangsa yang selamat, sukses dan bahagia dunia akhirat.

 Langkah kecil bisa dilakukan. Misalnya menyediakan ruang khusus untuk perpustakaan sederhana di rumah. Perpustakaan adalah jantungnya rumah.

 Orang tua pun bisa rutin membacakan buku cerita atau buku ilmu pengetahuan kepada anak-anak. Menentukan waktu belajar anak. Menunjukkan kecintaan kepada buku. Baik yang dicetak maupun yang digital. Membatasi menonton TV dan bermain gawai (gadget). Mengajak anak ke perpustakaan kota atau berkunjung ke taman-taman baca kota terdekat.

 Juga mendorong anak untuk bercerita, baik lisan maupun tulisan. Mengajak anak dialog atau mendiskusikan sebuah buku. Mengajak anak bermain yang bersifat edukatif dan membuat keterampilan. Mengajak anak ke toko buku. Membelikan anak buku-buku berkualitas yang mereka senangi. Mendorong anak untuk menulis bebas di buku catatan hariannya (diary). Sampai orang tua menjadi contoh langsung dengan gemar membaca buku, mencintai ilmu, dan menulis.

 Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab….

 *Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, dll.

Jumat, 04 September 2020

QUR’AN INSPIRASI LITERASI

 

—Saiful Islam*—

 “Dari konsumen literasi ke produsen literasi…”

 Di depan sudah dibahas secara mendetail, terutama tentang membaca. Bahwa semua kata membaca dalam Qur’an, itu memotivasi kita untuk memahami kandungan maknanya. Tidak ada satu pun kata membaca dalam Qur’an itu yang berarti merapal—yakni sekedar diucapkan tanpa dimengerti. Tujuan utama Qur’an memang untuk dipahami. Setelah paham, lantas diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

 Ayat-ayat Allah, itu ada dua rupa. Pertama, adalah ayat-ayat qowliyah. Yakni teks Qur’an dan kandungan maknanya (al-hikmah). Dan kedua adalah ayat-ayat kawniyah. Alias realitas alam dan sosial. Umat Islam diperintah untuk membaca dan memahami dua-duanya. Informasi yang bersifat teoritis, membuat orang bijak. Informasi yang bersifat praktis (teknologis), membuat orang terampil.

 Hukum alam yang tersistem teratur itu, kemudian melahirkan aneka disiplin ilmu. Baik yang teoritis maupun yang praktis. Para ilmuwan yang melakukan pengamatan dan penelitian fenomena alam dan sosial, kemudian merumuskannya (menuliskannya) sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan (Sains) alam dan sosial.

 Hukum-hukum alam, itu sepasti hukum-hukum Qur’an. Jika begini, maka begitu. Siapa ingin selamat, sukses dan bahagia dunia akhirat, ada hukumnya. Ada aturannya. Pasti. Sebaliknya, siapa ingin celaka, gagal, dan menderita dunia akhirat, ada hukumnya. Ada ‘jalannya’. Manusia semestinya bisa memahaminya. Lalu menyesuaikan dirinya. Karena Allah sudah membekali manusia akal lengkap dengan perangkatnya.

 Lalu apa kaitannya dengan literasi?

 Literasi berasal dari Bahasa Latin, literatus, artinya adalah orang yang belajar. Bahasa Inggrisnya, literate, yang oleh Dictionary.cambridge diartikan sebagai able to read and write. Yakni kemampuan membaca dan menulis.

 The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengartikan literasi dengan seperangkat keterampilan (skill) nyata, terutama skill dalam membaca dan menulis. Terlepas dari konteks darimana keterampilan itu diperoleh dan siapa yang memperolehnya.

 Selain itu, ada juga yang mengartikan literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan keterampilan (skill), berpikir kritis dalam memecahkan masalah dan kemampuan berkomunikasi secara efektif yang bisa meningkatkan potensi serta berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

 Adapun kbbi.kemendikbud mengartikan literasi 1. Kemampuan menulis dan membaca. 2. Pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu. 3. Kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

 Jadi literasi itu adalah kemampuan memahami teks dan konteks, yang menghasilkan kearifan dan keterampilan sebagai bekal untuk mengatasi problematika hidup (problem solving). Sehingga literasi itu sangat terkait dengan kemampuan berbahasa: membaca, mendengar, berbicara dan menulis. Serta modifikasi dari bahasa yang disesuaikan dengan keperluan dan tujuan dalam konteks yang luas.

 Maka titik temu antara Qur’an dan literasi adalah Qur’an inspirasi literasi. Allah memerintahkan supaya Qur’an dipahami. Proses ini akan mencerdaskan seseorang. Setelah dipahami dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Tahap ini akan membuat seseorang terampil (skillful). Dampaknya adalah amal saleh. Yakni kontribusi manfaat bagi kehidupan. Baik untuk dirinya sendiri maupun alam dan sesamanya.

 Bahkan ditahap mereproduksi teks itu lagi sesuai konteks kekinian, pun Qur’an bertemu dengan literasi itu. Yakni dalam proses belajar mengajar. Tentu saja, proses ini tidak harus formal. Bisa juga non formal. Qur’an dan literasi mendorong kita supaya terbiasa membaca, mendengar, berbicara dan menulis. Terbiasa musyawarah, dialog dan diskusi dengan baik. Transfer informasi dan ilmu pengetahuan. Salah satu predikat rasul, itu pun adalah tabligh. Yakni pribadi yang komunikatif.

 Bahkan di tingkat lebih lanjut, seseorang sudah bisa berperan sebagai pelaku (subjek) literasi. Yakni berperan sebagai penyedia konten-konten yang dibutuhkan dan diinginkan masyarakat. Baik secara manual, maupun digital. Misalnya membuat cerita pendek (cerpen), novel, menulis buku fiksi atau non fiksi, lirik lagu, syair, opini, kumpulan puisi, teks drama, teks iklan, naskah film atau video, narasi dan deskripsi video, sampai menciptakan lagu, video dan film itu sendiri.

 Qur’an gamblang sekali memerintahkan untuk selalu membaca dan memahami. Tentu bukan hanya membaca teks Qur’an saja. Tetapi juga Qur’an memotivasi untuk membaca dan memahami ilmu pengetahuan. Qur’an memerintahkan untuk memahami realitas alam dan sosial. Itu artinya, Qur’an mendorong kita untuk selalu mendialogkan antara teks Qur’an, teks ilmu pengetahuan dan konteks realitas alam dan sosial sehari-hari.

 Gampangnya begini. Misalnya menjadi orang tua yang baik. Menjadi orang tua yang baik, itu ada ilmunya. Maka pelajarilah Ilmu Parenting. Di dalamnya bukan hanya bercerita tentang pengetahuan yang bersifat wawasan (teoritis). Tetapi juga ditunjukkan cara bersikap dan cara bertindak sebagai orang tua (skill). Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun bisa mengamati nasib anak-anak yang dididik dengan penuh perhatian dan kasih sayang dan sebaliknya, diabaikan dan kekerasan.

 Tentang keuangan, itu juga ada ilmunya. Maka pelajarilah Ilmu Finansial. Di dalamnya diceritakan bukan hanya wawasan tentang keuangan. Tetapi juga cara bersikap dan menggunakan uang dengan tepat. Misalnya, membeli sesuatu itu harus berdasar kebutuhkan dan bukan keinginan. Tidak boros. Pentingnya menabung, bisnis, investasi dan bersedekah. Sehingga seseorang benar-benar bisa mengontrol keuangannya. Menjadi berkah sebagai penunjang kehidupannya.

 Begitu juga, tentang keluarga yang harmonis, tentang kuliner, tentang kesehatan, tentang gizi, tentang hubungan (relationship), tentang kejiwaan, dan lain-lain. Semua itu ada ilmunya. Ada pakarnya. Zaman sekarang, kita bisa mengakses ilmu-ilmu itu dari buku dan dari internet. Sumber-sumber itu bisa berupa teks, audio, gambar, sampai audio visual. Bahkan sudah tidak harus lagi mendatangi langsung tokoh yang bersangkutan. Kini sudah bisa live streaming.

 Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab….

 *Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, dll.

Kamis, 03 September 2020

MENIRU DOA NABI

 

—Saiful Islam*—

 “Ternyata. Allah dan para malaikat-Nya bersholawat, itu TIDAK HANYA kepada Nabi. Allah dan para malaikat-Nya, itu pun BERSHOLAWAT kepada kita…”

 Doa, menurut KBBI, adalah  permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Berdoa berarti mengucapkan (memanjatkan) doa kepada Tuhan. Sedangkan mendoakan itu artinya memohonkan berkat (tambahnya kebaikan) dan sebagainya kepada Tuhan (dengan membaca atau mengucapkan doa).

 Tidak ada istilah ‘mengirim doa’. Atau ‘menghadiahkan doa’. Yang benar adalah berdoa, memanjatkan doa dan mendoakan.

 Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an bercerita begini. Al-du’aa’ itu seperti al-nidaa’. Yakni memanggil atau menyeru. Misalnya QS.2:171. Al-du’aa’ juga bisa berarti memberi nama. Seperti kalimat, “Da’awtu ibniy zaydan: Aku memanggil anakku Zayd.” Yakni memberi nama dengan nama Zayd.

 Jika Anda mengatakan, “Da’awtuhu,” itu artinya Anda meminta sesuatu, minta bantuan atau pertolongan kepadanya. Makna ini terdapat seperti pada QS.2:68; 7:56; 2:23; 38:8; dan QS.10:12 & 106.

 Adapun QS.6:40-41 itu pengingat. Bahwa jika seseorang ditimpa mara bahaya (bencana), maka ia tidak takut kecuali kepada Allah.

 Al-du’aa’ ilaa al-syay’ berarti mengajak. Misalnya QS.12:33; 10:25; dan QS. 40:41-42.

 Ada pendapat dari Abu Ishaq dalam Lisan al-Arab terkait QS.2:186, “Aku mengabulkan setiap doa orang.” Ayat sepadan QS.40:60. Bahwa doa kepada Allah itu ada tiga bentuk. Pertama, mentauhidkan dan memuji-Nya. Seperti berikut ini. “Yaa Allooh. Laa ilaaha illaa anta: Wahai Allah. Tidak ada Tuhan selain Engkau.” Juga “Robbanaa lakal hamd: Tuhan Kami. Hanya bagi Engkaulah segala puji.”

 Bentuk doa yang kedua adalah meminta maaf atau ampunan, rahmat dan seterusnya yang mendekati. Seperti kalimat, “Alloohummaghfir lanaa: Ya Allah. Ampunilah kami.”

 Ketiga bentuk doa adalah meminta rezeki dunia. Seperti “Alloohummarzuqniy  maalan wa waladan: Ya Allah. Aku meminta rezeki harta dan anak.”

 Adab (etika, tatakrama atau sopan santun) berdoa kepada Allah, itu disebutkan oleh ayat berikut ini.

 QS. Al-A’raf[7]: 55 – 56

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

BERDOALAH kepada Tuhanmu dengan BERENDAH DIRI dan SUARA YANG LEMBUT. Sesungguhnya Allah TIDAK MENYUKAI orang-orang yang MELAMPAUI BATAS.

 وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

BERDOALAH kepada-Nya dengan RASA TAKUT dan RASA HARAP (ingin dikabulkan yang dimintanya itu). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

 Kaitannya dengan kepahaman, adalah tentu saja harus dipahami. Doa itu meminta sesuatu dan memohon pertolongan. Tentu ‘aneh’ ada orang meminta sesuatu atau memohon pertolongan, tetapi tidak mengerti apa yang diucapkannya.

 Jadi berdoa kepada Allah, harus ada upaya memahami kalau misalnya doa-doa yang diucapkan bersumber dari ayat-ayat Qur’an atau Hadis-Hadis sahih. Dan baik juga berdoa dengan bahasa sendiri yang dipahami. Daripada Bahasa Arab, tapi tidak paham.

 Qur’an pun menghimpun redaksi doa beberapa Nabi. Sangat baik jika dihafal dan dipahami. Misalnya meniru doa Nabi Adam (QS.7:23), doa Nabi Ibrahim (QS.2:127-128; 14:40-41; 26:83-84; 60:4-5), doa Nabi Yusuf (QS.12:101), doa Nabi Sulaiman (QS.27:19), doa Nabi Zakariya (QS.3:38), dan lain-lain.

 QS. Al-Naml[27]: 19

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk TETAP MENSYUKURI NIKMAT-MU yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku. Dan untuk MENGERJAKAN AMAL SALEH yang Engkau ridai. Dan masukkanlah aku dengan RAHMAT-MU ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang SALEH.”

 Kaitannya dengan salat, menurut kebanyakan ahli Bahasa Arab, al-sholaat itu pertama artinya adalah al-du’aa’. Yakni meminta sesuatu dan memohon pertolongan kepada Allah. Kedua berarti al-tabriik (meminta kebaikan atau manfaat kepada Allah untuk orang lain) dan ketiga adalah al-tamjiid (memuji dan mengagungkan Allah). Sebagaimana diceritakan oleh Al-Ashfahaniy. 

Menurut Lisan al-Arab, kata al-sholaat berarti al-du’aa’ dan al-istighfaar (minta ampunan atau proteksi diri). Bentuk pluralnya adalah sholawaat.

 Al-sholaat dari Allah adalah kasih sayang (al-rohmah). Sholaat Allah kepada rasul-Nya adalah kasih sayang dan pujian-Nya kepada rasul itu. Seperti ayat berikut.

 QS. Al-Ahzab[33]: 56

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya ALLAH dan para MALAIKAT-NYA BERSHALAWAT UNTUK NABI. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

 Al-sholaat dari malaikat adalah doa dan istighfar. Dan dari Allah adalah kasih sayang. Begitu juga menurut Ibnu al-A’robiy. Karenanya diberi nama salat, sebab di dalamnya ada doa dan istighfar.

 Disebutkan dalam Hadis bahwa Nabi bersholawat untuk keluarga Abi Awfa: “Alloohumma sholli ‘alaa aali abiy Awfaa.” Yakni supaya Allah menghasihi dan menyayangi mereka.

 Menurut Abu al-Abbas, kata ‘yusholliy ‘alaykum’ pada QS.33:43 itu berarti Allah memberi rahmat dan malaikat berdoa kepada Allah untuk Kaum Muslimin.

 QS. Al-Ahzab[33]: 43

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Allah-lah yang BERSHOLAWAT (memberi rahmat) kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampun untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

 Jadi salat 5 waktu misalnya, itu adalah media doa kita kepada Allah. Bahkan salat ini adalah teknis minta tolong kepada Allah. Maka salat 5 waktu adalah media formal terbaik berdoa dan meminta tolong kepada Allah. Di dalamnya, membaca Surat Al-Fatihah misalnya. Itu isinya adalah pujian kepada Allah, meminta dan memohon pertolongan kepada-Nya.

 Adapun media non formal terbaiknya adalah seperti yang dicontohkan para Nabi di atas. Disebutkan langsung oleh Qur’an.

 “MINTA TOLONGLAH kepada Allah dengan CARA SABAR dan SALAT.” QS.2:153.

 Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab….

 *Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, dll.

x

SEPERTI BURUNG KEHAUSAN

 

—Saiful Islam*—

 “Sudah saatnya wirid Qur’an yang benar…”

 Kita juga sering mendengar wirid dengan Qur’an. Kamus Arab-Indonesia Mahmud Yunus mengartikan kata wird dengan wirid, baca-bacaan zikir, doa yang dibiasakan membacanya. Versi Al-Munawwir, kata al-wird artinya wirid, bacaan-bacaan (zikir, doa).

 Realitas masyarakat sehari-hari, kita kerap menemukan praktik wirid itu. Misalnya ‘membaca’ Surat Yusuf seminggu sekali supaya bisa ‘melet’ orang. Membaca Surat Al-Waqi’ah seminggu sekali supaya cepat kaya. Membaca Surat Al-Mulk seminggu sekali supaya naik pangkat atau mendapatkan jabatan tinggi. Dan contoh ‘amalan’ yang semisalnya. Biasanya hanya dirapal. Tanpa perlu mengerti dan apalagi memahaminya.

 Adapun di dalam Al Qur’an, kata wird atau al-wird itu hanya terulang dua kali saja. Dua-duanya tidak ada yang berarti seperti dua Kamus di atas. Yang pertama, berarti tempat yang didatangi. Menunjuk neraka. Berikut ini.

 QS. Hud[11]: 98

يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ ۖ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ

Ia (Fir’aun) berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. NERAKA itu seburuk-buruk TEMPAT YANG DIDATANGI.

 Dan yang kedua, berarti dahaga. Sebagaimana ayat berikut ini.

 QS. Maryam[19]: 86

وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ وِرْدًا

Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan DAHAGA.

 Menurut Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, asal kata al-wuruud itu berarti sengaja datang ke sumber air. Kemudian dipakai untuk konteks yang lain. Tidak ditemukan makna al-wird atau wird sebagaimana Kamus Arab-Indonesia di atas.

 Barulah ada penjelasan dalam Lisan al-‘Arab begini. Kita bayangkan ada semacam tempat minum (danau atau telaga atau sungai atau aliran air), terutama bagi sekawanan unta dan burung merpati. Tempat minum itu disebut al-wird. Sekawanan unta atau burung yang pergi setelah minum, kemudian datang lagi untuk minum kedua kalinya. Nah, waktu untuk pergi dan datang lagi untuk minum itu juga disebut al-wird.

 Makanya ada sebuah syair begini: “Merpati itu mendatangi aliran sungai.” Nah, dari sinilah, lantas sebagian bacaan Qur’an (qiroo’ah al-Qur’aan), itu dinamai wird. Seakan-akan kita itu adalah unta atau merpati yang kehausan. Sedangkan Qur’an adalah tempat minum itu. Meminumnya adalah membacanya itu. Haus itu memang berulang. Maka membaca Qur’an memang mesti berulang.

 Al-wird berarti bagian Qur’an. Seperti kalimat, “Qoro’tu wirdiy.” Yakni membaca sebagian ayat-ayat Qur’an.

 “Awroda ‘alayh khobar,” berarti menceritakan.

 Jadi kita menjadi paham makna kata wird atau al-wird itu sekarang. Sekaligus posisinya. Pertama, kata wirid sebagaimana diartikan oleh Mahmud Yunus dan Al-Munawwir, itu tidak mewakili makna wirid yang sesuai dengan Qur’an. Mahmud Yunus dan Al-Munawwir juga tidak sesuai dengan Kamus Arab seperti Al-Mufradat dan Lisan al-Arab terkait kata wirid itu. Kedua Kamus Arab Indonesia mengartikan wirid hanya berdasar praktik umum masyarakat Indonesia.

 Kedua, kata wirid yang terkait dengan membaca, sebenarnya bukan membaca zikir atau doa. Membaca yang dibiasakan, jika mengacu pada Lisan al-Arab, itu menunjuk kepada membaca Qur’an. Itu pun jelas menggunakan redaksi qiroo’ah al-Qur’aan. Yaitu membaca dengan memikir-mikirkan dan mempertimbangkan maknanya. Yakni membaca dengan berupaya memahami kandungannya. Jelas bukan merapal tanpa mengerti maknanya.

 Ketiga, wirid Qur’an itu menggambarkan orang yang selalu dahaga jiwanya, haus akalnya dengan hikmah-hikmah Al Qur’an. Karenanya ia selalu lagi dan lagi membaca Qur’an. Membaca berulang-ulang. Layaknya haus yang memang berulang-ulang. Orang yang berusaha memahami Qur’an, itu jiwanya merasa puas setelah membaca Qur’an. Layaknya burung merpati dan unta yang minum di sebuah telaga dengan puasnya. Ia akan kembali lagi ketika haus lagi.

 Jadi, membaca Qur’an berulang-ulang. Bukan merapal berulang-ulang. Membaca Qur’an berulang-ulang, itu membaca Qur’an dengan kepahaman. Paham hari ini, belum tentu akan terus sama di waktu yang akan datang. Dibaca lagi, bisa memunculkan pemahaman yang beda lagi. Terus begitu. Tidak pernah final selama seseorang masih hidup. Benar kata ulama, “Qur’an itu seperti kemilau mutiara.” Orang akan menemukan keindahan di setiap sudut-sudutnya.

 Bukan hanya boleh. Mencari manfaat dari Qur’an, itu sudah merupakan keharusan bagi setiap Muslimin. “Maka ingatkanlah Kaum Mukminin dengan Qur’an. Karena pengingat dengan ayat-ayat Qur’an itu bermanfaat bagi mereka,” (QS.51:55). Yaitu dengan memahami pesan yang dikandung di dalamnya. Kemudian mempraktikkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Pasti berdampak!

 Sehingga kalau wirid diartikan sebagai membaca berulang-ulang, itu seperti sebuah siklus. Dibaca -> dipahami -> dipraktikkan -> kembali ke dibaca lagi. Atau ditambahi diajarkan atau didiskusikan, baik lisan maupun tulisan, setelah dipraktikkan. Menjadi dibaca, dipahami, didiskusikan (diajarkan) dan dipraktikkan. Terus begitu mengiringi perjalanan hidup seseorang.

 Semoga bermanfaat. Walloohu a’lam bishshowaab….

 *Penulis buku Ayat-Ayat Kemenangan, dll.

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...