Sabtu, 13 Juli 2019

AYAT UNTUK MENGUSIR JIN


—Saiful Islam—

“Ya Tuhanku. Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini sesuatu yang dicuekin…” 25.30

Saya terpingkal sendiri ketika menemukan cerita di Google tentang kesurupan ini. Kurang lebih begini ceritanya. Ada seorang gadis yang sedang kesurupan. Rupanya gadis ini pandai melantunkan ayat-ayat Qur’an.

Tidak lama kemudian, ada salah seorang yang berusaha ‘menyadarkan’ si gadis tersebut. Caranya dengan membacakan ayat kursi di telinga gadis itu. Ternyata dalam keadaan kesurupan itu, si gadis malah mengoreksinya.

“Pakai idgham bi ghunnah, g*bl***k!”

Hehehe. Cerita itu agaknya mewakili budaya orang Jawa dan Madura. Kerap kita menjumpai langsung dalam kehidupan sehari-hari peristiwa seperti itu. Ayat-ayat Qur’an disalahgunakan. Misalnya untuk mengusir Jin yang dianggap masuk dalam diri seseorang, seperti contoh kasus di atas.

Selain itu, kalau ada razia polisi disuruh membaca (melafalkan, komat-kamit) ayat kursi, katanya. Supaya tidak jadi ditilang dan lantas dilepaskan. Mau mengerjakan soal-soal ulangan, atau melamar pekerjaan, disuruh membaca ayat kursi. Mau ‘nembak cewek’, disuruh membaca ayat kursi. Supaya gurunya tidak galak, dibacakan ayat kursi. Innaa lillaah…

Kalau nggak gitu, balapan membaca ayat-ayat Qur’an untuk menumpuk-numpuk pahala. Cepet-cepetan. Banyak-banyakan hatam. “Sudah hatam berapa kali?” begitu pertanyaan yang sering muncul. Semakin jauh lagi, pahala-pahala ini dikirimkan untuk mayit. Pede banget, sudah yakin dapat pahala. Jangan-jangan cuma pamer supaya dipuji orang.

Makanya yang ada di masyarakat itu khotmil Qur’an. Alias hataman Qur’an. Ya, sekadar hataman. Setelah hatam? Ya sudah. Bukan fahmil Qur’an. Memahami Al Qur’an.

Padahal tidak ada satu pun ayat Qur’an yang menyatakan bahwa bacalah Qur’an untuk mengusir Jin yang masuk dalam diri seseorang. Tidak ada juga, bacalah Qur’an untuk mendapat pahala. Apalagi, bacalah Qur’an untuk pahalanya dikirimkan ke mayit. Karena memang, bukan itu tujuan membaca Qur’an. Bukan untuk mengusir Jin. Bukan untuk berburu pahala. Bukan juga untuk dikirim ke mayit.

Di Tangkong, Banyuwangi, tambah nemen. Dukun macak kiai. Pakai surban, pakai imamah, peci putih, baju koko putih, sarungan, sambil memutar tasbih. Menyuruh anak-anak muda membeli spidol tinta emas. Kemudian dia menulis semacam ayat-ayat Qur’an di selembar kertas. Kemudian dilepit-lepit, dijadikan jimat. Berupa kalung atau sabuk. Supaya gadis-gadis terpelet, katanya. Alhasil, bukannya gadis-gadis itu terpelet, para pemuda tadi semakin stres! Sering kesurupan!! Dan akhirnya, gila!!! Na’udzubillah

Di masyarakat juga santer rumor seperti ini: “Jangan banyak-banyak membaca buku. Nanti gila kamu!” Astaghfirullah. Betapa umat ini semakin dijauhkan dari dua hal yang amat sangat penting dalam kehidupan. Qur’an dan Sains. Padahal mengutip Prof. Abdullah Shahab, M.Sc., Ph.D mengatakan, “Jangan takut untuk banyak belajar. Semakin banyak Anda belajar, semakin otak Anda cemerlang!” Semakin banyak lilitan-lilitan dan lekukan-lekukan otak kita, semakin banyak ia menyimpan informasi.
Justru sebaliknya. Orang yang gampang gila, itu yang tidak pernah belajar! Jauh dari baca tulis. Tumpul otak kirinya. Liar imajinasinya. Klenik keyakinannya. Bingung. Gelap. Nabrak sana, nabrak sini. Loro kabeh

Qur’an ini untuk manusia yang hidup. Ya kita sekarang ini. Qur’an itu dibaca untuk diambil informasinya. Dipahami. Dari pemahaman itu, seseorang lantas mendapat hidayah. Alias petunjuk. Sekali lagi petunjuk. Kemudian dengan bekal petunjuk itu, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sepanjang hidup kita. Kapan pun. Dan di mana pun.

Sungguh Allah telah mudahkan Al Qur’an itu untuk pelajaran (54:17). Apakah mereka tidak mentadabburi (memikirkan, merenungkan) Al Qur’an? (47:24). Siapa yang berpaling dari Al Qur’an, maka hidupnya akan sempit (20:124).

Kepahaman dari informasi ayat-ayat Qur’an itulah yang membuat hati, jiwa, otak, dan akal yang sakit menjadi sehat. Qur’an menjadi obat. Kepahaman dari informasi ayat-ayat Qur’an itulah yang membuat hati, jiwa, otak dan akal yang mati menjadi hidup. Berbuah sikap dan tindakan yang bermanfaat bagi orang yang bersangkutan. Membuatnya selamat, sukses, dan bahagia dunia akhirat.

QS. Al-Isra’[17]: 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi PENAWAR dan RAHMAT bagi orang-orang yang beriman. Dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

QS. Shad[38]: 29
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan BERKAH supaya mereka MEMPERHATIKAN ayat-ayatNya dan supaya mendapat PELAJARAN orang-orang yang mempunyai PIKIRAN.

Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung, insya Allah…

Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...