—Saiful Islam—
“Ya Tuhanku. Sesungguhnya kaumku
menjadikan Al Qur’an ini sesuatu yang dicuekin…” 25.30
Saya terpingkal sendiri ketika
menemukan cerita di Google tentang kesurupan ini. Kurang lebih begini
ceritanya. Ada seorang gadis yang sedang kesurupan. Rupanya gadis ini pandai
melantunkan ayat-ayat Qur’an.
Tidak lama kemudian, ada salah
seorang yang berusaha ‘menyadarkan’ si gadis tersebut. Caranya dengan
membacakan ayat kursi di telinga gadis itu. Ternyata dalam keadaan kesurupan
itu, si gadis malah mengoreksinya.
“Pakai idgham bi ghunnah,
g*bl***k!”
Hehehe. Cerita itu agaknya mewakili
budaya orang Jawa dan Madura. Kerap kita menjumpai langsung dalam kehidupan
sehari-hari peristiwa seperti itu. Ayat-ayat Qur’an disalahgunakan. Misalnya
untuk mengusir Jin yang dianggap masuk dalam diri seseorang, seperti contoh
kasus di atas.
Selain itu, kalau ada razia polisi disuruh
membaca (melafalkan, komat-kamit) ayat kursi, katanya. Supaya tidak jadi
ditilang dan lantas dilepaskan. Mau mengerjakan soal-soal ulangan, atau melamar
pekerjaan, disuruh membaca ayat kursi. Mau ‘nembak cewek’, disuruh membaca ayat
kursi. Supaya gurunya tidak galak, dibacakan ayat kursi. Innaa lillaah…
Kalau nggak gitu, balapan membaca
ayat-ayat Qur’an untuk menumpuk-numpuk pahala. Cepet-cepetan. Banyak-banyakan
hatam. “Sudah hatam berapa kali?” begitu pertanyaan yang sering muncul. Semakin
jauh lagi, pahala-pahala ini dikirimkan untuk mayit. Pede banget, sudah yakin
dapat pahala. Jangan-jangan cuma pamer supaya dipuji orang.
Makanya yang ada di masyarakat itu khotmil
Qur’an. Alias hataman Qur’an. Ya, sekadar hataman. Setelah hatam? Ya sudah.
Bukan fahmil Qur’an. Memahami Al Qur’an.
Padahal tidak ada satu pun ayat Qur’an
yang menyatakan bahwa bacalah Qur’an untuk mengusir Jin yang masuk dalam diri
seseorang. Tidak ada juga, bacalah Qur’an untuk mendapat pahala. Apalagi,
bacalah Qur’an untuk pahalanya dikirimkan ke mayit. Karena memang, bukan itu
tujuan membaca Qur’an. Bukan untuk mengusir Jin. Bukan untuk berburu pahala. Bukan
juga untuk dikirim ke mayit.
Di Tangkong, Banyuwangi, tambah
nemen. Dukun macak kiai. Pakai surban, pakai imamah, peci putih, baju koko
putih, sarungan, sambil memutar tasbih. Menyuruh anak-anak muda membeli spidol
tinta emas. Kemudian dia menulis semacam ayat-ayat Qur’an di selembar kertas. Kemudian
dilepit-lepit, dijadikan jimat. Berupa kalung atau sabuk. Supaya gadis-gadis
terpelet, katanya. Alhasil, bukannya gadis-gadis itu terpelet, para pemuda tadi
semakin stres! Sering kesurupan!! Dan akhirnya, gila!!! Na’udzubillah…
Di masyarakat juga santer rumor
seperti ini: “Jangan banyak-banyak membaca buku. Nanti gila kamu!”
Astaghfirullah. Betapa umat ini semakin dijauhkan dari dua hal yang amat sangat
penting dalam kehidupan. Qur’an dan Sains. Padahal mengutip Prof. Abdullah
Shahab, M.Sc., Ph.D mengatakan, “Jangan takut untuk banyak belajar. Semakin
banyak Anda belajar, semakin otak Anda cemerlang!” Semakin banyak
lilitan-lilitan dan lekukan-lekukan otak kita, semakin banyak ia menyimpan
informasi.
Justru sebaliknya. Orang yang
gampang gila, itu yang tidak pernah belajar! Jauh dari baca tulis. Tumpul otak
kirinya. Liar imajinasinya. Klenik keyakinannya. Bingung. Gelap. Nabrak sana,
nabrak sini. Loro kabeh…
Qur’an ini untuk manusia yang
hidup. Ya kita sekarang ini. Qur’an itu dibaca untuk diambil informasinya. Dipahami.
Dari pemahaman itu, seseorang lantas mendapat hidayah. Alias petunjuk. Sekali lagi
petunjuk. Kemudian dengan bekal petunjuk itu, diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Sepanjang hidup kita. Kapan pun. Dan di mana pun.
Sungguh Allah telah mudahkan Al Qur’an
itu untuk pelajaran (54:17). Apakah mereka tidak mentadabburi (memikirkan,
merenungkan) Al Qur’an? (47:24). Siapa yang berpaling dari Al Qur’an, maka
hidupnya akan sempit (20:124).
Kepahaman dari informasi ayat-ayat
Qur’an itulah yang membuat hati, jiwa, otak, dan akal yang sakit menjadi sehat.
Qur’an menjadi obat. Kepahaman dari informasi ayat-ayat Qur’an itulah yang
membuat hati, jiwa, otak dan akal yang mati menjadi hidup. Berbuah sikap dan
tindakan yang bermanfaat bagi orang yang bersangkutan. Membuatnya selamat,
sukses, dan bahagia dunia akhirat.
QS. Al-Isra’[17]: 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ
الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Dan Kami turunkan dari Al Qur’an
suatu yang menjadi PENAWAR dan RAHMAT bagi orang-orang yang beriman. Dan Al Qur’an
itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
QS. Shad[38]: 29
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ
إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami
turunkan kepadamu penuh dengan BERKAH supaya mereka MEMPERHATIKAN ayat-ayatNya
dan supaya mendapat PELAJARAN orang-orang yang mempunyai PIKIRAN.
Begitu dulu. Semoga bermanfaat. Bersambung,
insya Allah…
Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar