—Saiful Islam—
“Cerita, itu memang tampak
seakan-akan nyata dalam pikiran kita…”
Secara bahasa, Hadis, itu berarti
baru. Lawan kata lama. Begitu diceritakan oleh Ibnu Manzhur dalam Lisan
al-Arab. Al-Hadiits juga berarti berita. Baik berita itu sedikit
atau banyak, berita yang panjang lebar atau singkat (ringkas). Bentuk pluralnya
(jamak) adalah ahaadiits.
Sedangkan Al-Mufaradat fi Gharib
al-Qur’an mengisahkan bahwa al-huduuts itu artinya adalah adanya
sesuatu setelah tidak adanya. Sedangkan hadiits diartikan sebagai setiap
kata-kata (baik ucapan maupun tulisan) yang sampai kepada manusia, baik ketika
sadarnya (terjaga) maupun saat tidurnya (mimpi). Ditunjukkan oleh QS.66:3,
QS.88:1, dan QS.12:101.
QS. Al-Tahrim[66]: 3
وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ
إِلَىٰ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا
Dan ingatlah ketika Nabi MEMBICARAKAN
secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa.
QS. Al-Ghasyiyah[88]: 1
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ
الْغَاشِيَةِ
Sudah datangkah kepadamu BERITA (tentang)
Hari Kiamat?
QS. Yusuf[12]: 101
رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ
الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ
Ya Tuhanku. Sesungguhnya Engkau
telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku
sebagian takwil MIMPI.
Bahkan Allah pun menamai kitab-Nya
(Qur’an terutama) dengan hadiits. Yaitu seperti disebut QS.52:34,
QS.53:59, QS.4:78, 87 dan 140, dan QS.7:185.
QS. Al-Nisa’[4]: 87
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ
اللَّهِ حَدِيثًا
Dan siapakah orang yang lebih benar
PERKATAANNYA dari pada Allah?
QS. Al-A’raf[7]: 185
أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي
مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ
عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
Dan apakah mereka tidak
memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan
Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada BERITA manakah
lagi mereka akan beriman sesudah Al-Qur’an itu?
Adapun yang dimaksud dengan ahaadiits
pada QS.34:19 berikut ini, artinya adalah berita-berita mereka yang dibuat
contoh.
QS. Saba’[34]: 19
فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ
وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ
Maka Kami jadikan mereka BAHAN
PEMBICARAAN dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.
Hadiits menurut Hans
Wehr: A Dictionary of Modern Written Arabic, berarti speech (pidato),
chat (obrolan), chitchat (percakapan ramah tamah/ basa-basi), smalltalk
(obrolan ringan), conversation (percakapan), talk (berbicara/
bercakap/ bercatur), discussion, interview, prattle
(ceracau/ ocehan), gossip, report (laporan), account
(catatan/ laporan), tale (kisah/ dongeng), narrative (cerita), Prophetic
tradition (kebiasaan yang dilakukan Nabi), Hadith, narrative
relating deeds and utterances of the Prophet and his Companions (cerita
yang disandarkan kepada perbuatan dan ucapan Nabi dan para Sahabat beliau).
Jadi secara bahasa, Hadis itu,
titik tekannya menunjuk pada cerita atau kisah. Atau berita. Baik yang
diucapkan maupun yang bebentuk teks. Intinya lebih ke bahasa. Jadi sudah ceritanya.
Nah, cerita itu biasanya paling tidak ada tokohnya, setting-nya (tempat
dan waktunya), serta alur cerita tersebut.
Ketika yang diceritakan adalah
segala perihal Nabi, baik ucapan maupun berbuatan beliau, maka disebutlah Hadis
Nabi. Tetapi ingat. Yang kita bicarakan ini cerita. Sudah tidak lagi kejadian
atau peristiwa aktualnya. Sayangnya, cerita tentang Nabi itu, ditulis sekitar
hampir dua ratus tahun setelah wafatnya Nabi itu sendiri.
Qur’an juga disebut hadiits,
sebab Qur’an itu teks. Bahasa. Baik ketika diucapkan, maupun setelah ditulis. Di
samping itu, di dalam Qur’an sendiri juga terdapat kisah-kisah. Lebih tepatnya
Sejarah. Salah satunya adalah Sejarah tentang Nabi sendiri. Bedanya dengan
Hadis, atau Sejarah awal tentang doktrin Islam, Qur’an pasti benarnya. Sejarah
yang qath’iy. Merupakan firman Allah, tidak diragukan lagi. Adapun
rujukan doktrin Islam yang selain Qur’an, itu kebenarannya hanya dugaan. Zhann.
Cerita, itu memang tampak
seakan-akan nyata dalam pikiran kita. Seakan-akan masih aktual. Tetapi sejatinya,
itu hanya seakan-akan saja. Tidak nyata. Yang aktual, itu ya peristiwanya itu
sendiri. Bahkan tidak sedikit yang menangis ketika membaca novel atau menonton
bioskop misalnya. Sejatinya semua itu adalah buah imajinasi belaka. Yang dituangkan
dalam buku (teks), atau audio visual (seperti radio, TV, Internet, dan lain
seterusnya). Kalau tidak kritis, kita bisa tertipu. Dikira kejadian betulan. Padahal
sejatinya hanya rekaan.
Buku biografi (Siirah) tertua
tentang Nabi Muhammad, itu ditulis oleh Ibnu Ishaq. Yang lahir di Madinah pada
tahun 85 H/ 704 M, dan wafat di Bagdad, Iraq tahun 151 H/ 768 M. Jadi ada
selisih 138 tahun dengan wafatnya Nabi yang tahun 13 H. Buku Sejarah Islam (Taariikh)
tertua, itu ditulis oleh Al-Thabari—orang
Iran yang lahir tahun 224 H/ 838 M, dan wafat di Bagdad, Iraq tahun 310 H/ 923
M. Jadi ada selisih 297 tahun. Buku Hadis tertua, ditulis oleh Malik orang Madinah
asli yang wafat tahun 179 H. Jadi ada selisih 166 tahun setelah wafatnya Nabi.
Penulisan Qur’an, itu berdasar
perintah Nabi langsung. Dengan kata lain, langsung dikawal oleh Nabi. Di awal
abad ke-7 itu. Jadi, untuk menguji kebenaran kisah-kisah, cerita-cerita, Hadis-Hadis,
dan Sejarah, itu maka wajib dan harus dengan Qur’an. Semua yang bertentangan
dengan Qur’an, mesti dan harus ditolak. Wajib. Meskipun cerita tersebut
mengatasnamakan Nabi. Karena tidak mungkin Nabi bertentangan dengan Qur’an.
Adapun Sunnah secara bahasa,
sebagaimana tercantum dalam Lisan al-Arab, adalah rupa, wajah, atau
arah. Sunnah juga berarti jalan, kelakuan, perikehidupan. Baik kelakuan yang
baik atau pun yang buruk.
Al-Raghib al-Ashfahaniy dalam Al-Mufradat-nya
di atas, menuliskan bahwa sunnahnya arah adalah jalan. Sedangkan Sunnah Nabi
adalah jalan hidup beliau yang beliau kehendaki.
Kamus Hans Wehr di atas,
mengartikan Sunnah yang bentuk pluralnya adalah sunan, sebagai habitual
practice (kegiatan atau perbuatan sehari-hari), customary procedure or
action (kebiasaan atau tindakan sehari-hari), norm (norma/ aturan), usage
sanctioned by tradition (penggunaan yang disetujui oleh tradisi). Dan
Sunnah Nabi, diartikan sebagai ucapan dan perbuatan beliau.
Jadi secara bahasa, sebenarnya
sudah bisa kita lihat. Bahwa Sunnah itu menunjuk kepada kejadian atau peristiwa
aktual. Sunnah seseorang berarti menunjuk kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan
orang tersebut. Termasuk ucapannya yang aktual. Maka kalau disebut Sunnah Nabi,
berarti segala apa yang dilakukan dan diucapkan beliau adalah Sunnah.
Sunnah Nabi, maka dari itu,
menunjuk kepada praktik aktual kehidupan Nabi. Yaitu ketika beliau masih hidup
di Madinah sekitar 15 abad yang lalu itu. Karena diri Nabi itu mempunyai dua
fungsi, yakni sebagai manusia biasa dan sebagai Rasul Allah, maka ada Sunnah
beliau yang terkait dengan syariat. Seperti iman, salat, puasa, zakat, haji,
dan seterusnya. Di sini kita mesti sami’naa wa atho’naa. Tetapi Sunnah
Nabi yang tidak terkait dengan syariat, seperti strategi perang, bentuk rumah,
baju, penampilan fisik, teknologi, dan semisalnya, itu pilihan. Boleh meniru
Nabi, atau tidak.
Jadi memang Hadis dengan Sunnah,
itu beda. Tidak sama. Kalau Sunnah adalah tindakannya atau peristiwa aktualnya.
Sedangkan Hadis, itu sudah cerita tentang tindakan atau peristiwa tersebut.
Begitu dulu. Semoga bermanfaat.
Bersambung, insya Allah…
Walloohu a’lam bishshowaab. Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar