Senin, 04 Agustus 2014

KEBERUNTUNGAN MENGGUNAKAN SANG WAKTU



Indah nian kalau seseorang sudah bisa terbiasa menggunakan waktunya dalam 6 hal. Pertama, shalat.
Shalat bukan hanya sebagai kebutuhan. Tetapi shalat sejatinya adalah kebutuhan kita. Fisik kita butuh shalat. Agar pergerakan darah lancar, sendi-sendi bergerak, otot-otot tertarik, mulai dari takbir, rukuk, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, dan seterusnya. Prof. Dr. Zahra pernah menceritakan pengalaman sakitnya yang sulit sembuh. Ternyata penyakit itu hilang sendiri karena dia melakukan tahajjud secara rutin. Belum lagi khasiat bacaan-bacaan untuk kejiwaan atau psikologis seseorang. Tentu Anda telah mengenal the power of words atau kekuatan kata-kata bukan? Nah, dalam shalat itu terdapat doa-doa (harapan), pujian-pujian kepada Allah. Tentu saja dampaknya sangat bagus untuk kesehatan rohani seseorang. Tidak heran kalau Allah pernah berfirman “Mintalah tolong dengan sabar dan shalat”.
Kedua, mencari ilmu. Lagi-lagi kita diingatkan oleh Allah bahwa Dia akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu dengan beberapa derajat. Sungguh mulianya ilmu ini. Kalau orang nampak kaya hartanya, mungkin bisa dicuragai untuk tidak dihormati. Tapi kalau orang sudah nampak punya ilmu, sudah pastikan dia terhormat dan layak dihormati dan dijadikan tokoh. Kenapa? Karena harta bisa didapat dari hasil korupsi, sedangkan ilmu tidak bisa. Cara satu-satunya mendapat ilmu adalah dengan belajar keras. Dan Allah tidak mungkin meletakkan ilmu dan hikmah pada hati yang berdosa. Sebagaimana sabda Nabi bahwa jika Allah menghendaki kebaikan pada seseorang, maka dia akan dipandaikan dalam masalah agama.
Dan mencari ilmu itu kata nabi dari buaian hingga liang lahat. Apalagi sekarang sudah berkembang teknologi canggih. Mulai dari surat kabar, tv, radio, majalah, internet dan seterusnya. Kalau mencari ilmu dibiasakan, percayalah nikmatnya nggak ingin berhenti. Semakin kita belajar, semakin haus ingin melahap ilmu yang lain lagi. Selalu jadi gelas kosong dan menjaga diri dari yang diharamkan agama adalah kunci mendapat ilmu yang berkah. Benar bahwa ilmu itu nikmat sekali. Yang bisa menikmati hanya pemiliknya saja.
Ketiga, mencari uang. Ya, orang yang bisa menggunakan waktunya untuk mencari rezeki Allah berupa uang, merupakan suatu nikmat dari-Nya. Berapa banyak orang yang belum bisa atau tidak punya kesempatan dan tidak bisa membuat kesempatan untuk mencari uang untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Makanya layak bersyukur kepada-Nya. Nah, saya bingung kalau ada pemuda nyantai-nyantai aja tidak bekerja mencari uang. Padahal dengan waktu 24 jam, banyak orang mendapatkan jutaan dalam sehari. Ya, harta sebenarnya adalah waktu kita ini.  Jadi, daripada nonton telenovela boong-boongan, cangkruk di warkop tidak berguna, dan hal lain yang tidak berguna lebih baik gunakan bekerja cari uang saja.
Bahkan kalau orang sudah bisa menukar waktunya dengan uang yang banyak, dia tidak akan sembrono dengan waktunya. Bahkan dia tidak mau kalau ditukar dengan uang yang sedikit. Misalnya kerja keras saja, tapi gajinya tidak sebanding dengan waktu dan tenaganya. Bahkan ada yang berpikir, “Kalau waktu yang kugunakan mencari uang tidak membuat aku kaya, lebih baik aku mencari ilmu saja”.
Tentu saja mencari uang itu tidak usah licik. Karena tidak mungkin Allah memberi uang kita dengan cara licik. Yakinlah kalau kata agama itu adalah jalan yang salah, jalan hitam, tidak akan pernah membawa keberuntungan kepada kita apalagi kebahagiaan. Justru akan mencelakakan kita. Kalau kita maksa melakukannya, itu namanya rugi dua kali. Di dunia rugi, di akherat babak belur. Ancur!
Sebelum menginjak ke poin 4, 5 dan 6, terlebih dulu saya berikan tips dahsyat: kalau Anda ingin diberi ilmu, maka memberilah ilmu. Kalau Anda ingin diberi uang, memberilah uang. Kalau Anda ingin diberi senyum, memberilah senyum.
Ok yang keempat adalah menggunakan waktunya untuk memberi ilmu. Saya amat-amati ternyata dalam proses belajar mengajar itu, yang tambah pintar itu adalah gurunya. Kecuali santrinya atau muridnya juga ikut aktif. Kalau harta mungkin nampak di mata ketika diberikan berkurang. Tapi kalau ilmu sudah jelas kalau diberikan malah bertambah. Orang tidak cukup hanya mencari ilmu saja, tapi juga harus berkah seluas-luasnya bagi orang lain terutama bagi dirinya, maka mesti diberikan. Tidak usah menunggu diundang seminar, kajian, menjadi guru, tapi dimanapan, kapanpun dan dengan siapa pun. Usahakan obrolan Anda dengan lawan bicara tidak ada yang sia-sia apalagi dosa dengan menggunjing kejelekan dan membuka aib orang lain. Caranya itu dengan memaksimalkan memberi ilmu di dalamnya.
Apalagi dalam memberi ilmu ini, Anda membuat sistem. Seperti sekolah, yayasan, pondok pesantren yang dikemas dan didukung oleh sarana prasarana modern. Sungguh tambah mantap. Sekolah modern berbasis Alquran. Atau pondok pesantren modern berbasis teknologi tinggi dan entrepreneurship. Jujur, ini adalah salah satu impian besar dan sekaligus doa besar penulis kepada Allah. Mohon bantuan doanya agar kekuatan doa itu dahsyat sehingga dikabulkan oleh Allah, aamiin. Karena pada dasarnya, kita harus menghibahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah: harta, ilmu, waktu, jiwa, tahta untuk menjadi rahmatanlil ‘alamin.
Kelima, membiasakan waktu untuk memberi sebagian harta. Bahasa agamanya, sedekah atau bahasa kerennya giving. Alquran menyatakan bahwa yang memberi satu dibalas sepuluh bahkan tujuh ratus. Rasulullah juga tidak ketinggalan menguatkan pernyataan Allah dengan sabdanya, “Tidak akan berkurang harta karena disedekahkan bahkan bertambah, bertambah dan bertambah”. Sudah saya tidak mau banyak-banyak membahas teori tentang sedekah. Langsung praktekkan saja untuk lebih kongkretnya. Buktikan saja, lalu rasakan!
Terakhir, yang paling murah meriah adalah memberi senyum. Tapi jangan heran lo, walau murah meriah begini masih saja ada orang yang berat melakukannya. Ya, pelit senyum. Sebabnya, apalagi kalau bukan dongkol, dendam, dengki kepada orang lain. Itulah yang membuat senyum kepada orang lain jadi berat. Padahal senyum itu ibarat pintu-pintu kemudahan dan kesuksesan Anda dalam hidup di dunia ini. Dengan senyum yang tulus, menghilangkan curiga-curiga negatif dari orang lain. Orang pun memandang kita enak. Ada kata bijak bahwa orang itu tidak senang dengan hartamu, tapi indahnya wajah dan akhlakmu. 
Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramalshaleh, saling menasehati dalam kesabaran dan takwa []
TTD: Ahmad Saiful Islam 
@tips_kemenangan
@MotivasiAyat

Kamis, 24 Juli 2014

KELEMBUTAN PENAKLUK ARAL MELINTANG

Kelembutan adalah sebuah kata yang ingin aku sharingkan kali ini. Allah punya nama Al-Lathif yang berarti Maha Lembut.
Sementara Nabi Muhammad sukses dalam perjuangan dan dakwahnya kepada jalan cahaya, juga berkat kelembutan. Atau paling tidak kelembutanlah yang lebih dominan dalam diri beliau, sikap beliau dan tindak-tanduk beliau. Hal ini bahkan dikisahkan dalam Alquran bahwa seandainya Nabi Muhammad itu berhati kasar, niscaya mereka itu akan lari menjauh, ogah dengan ajakan nabi. Tapi dengan berkat rahmat Allah lah yang berupa kelembuatan itu sehingga mereka dengan senang hati mengikuti nabi.
Ya rahmat dalah cinta. Sedangkan cinta itu sangat dekat sekali dengan kelembuatan dan kesabaran. Hampir-hampir tidak ada yang gagal bila dilandasi dengan kelembuatan temannya kesabaran ini. Mari kita perhatikan fakta-fakta berikut:
Seorang balita yang nangis, pasti nangisnya tambah jadi kalau malah dibentak oleh ibunya atau babysitter-nya. Berbeda dengan ibu yang sabar, lembut, dengan ramah memperhatikannya dengan penuh cinta kasih. Sudah bisa dipastikan bayi itu langsung diam.
Seorang suami isteri yang sedang marahan. Kalau keduanya kasar, keras hati, ingin menang sendiri, pasti pertengkaran itu semakin membesar. Masalah baru muncul. Kekacauan rumah tangga tidak bisa dihindari. Rasa kasih sayang terkikis hingga akhirnya habis tanpa sisa. Ujung-ujungnya, pasti dalam rumah tangga itu tidak menemukan kebahagiaan. Lalu apa tujuan pernikahan? Bukankah mencarai kebahagiaan baru bersama orang yang kita cintai?!
Seorang pelayan restoran, tidak mungkin mengutuki customernya. Dengan misalnya, “Nih, makan lo!” sekali lagi tidak mungkin. Kalau itu terjadi, pasti restoran tersebut akan gulung tikar dalam waktu singkat. Sebaliknya, para pelayan restoran itu dengan sikapnya yang lembut, ramah, sopan, menghargai, membuat restoran itu ramai pengunjung. Belum makan menunya saja sudah enak dirasakan di hati sikap para pelayan tadi. Harga berapa pun kadang sudah tidak jadi masalah.
Soal uang. Uang itu tidak jatuh dari langit. Uang itu pasti dicari. Dan mencarinya bukan dijalan raya ada uang jatuh seperti itu. Bukan. Tapi uang pindah ke tangan kita, dari orang lain. Sudah dipastikan tidak mungkin orang lain mau membeli, memberi atau memindahkan uangnya kepada kita kalau kita kasar kepada mereka. Uang tidak akan pindah ke kita kalau kita tidak mau berinteraksi dengan mereka. Cara satu-satunya uang bisa pindah ke kita adalah dengan kelembutan, cinta kasih, keramahan, kesabaran, penghormatan, memberi solusi, interaksi yang mesra dengan mereka. Tidak cukup seorang pedagang hanya menyiapkan kualitas produk yang super misalnya. Tidak cukup. Kualitas terbaik belum tentu laku kalau cara jualannya salah. Maka perlu cara jualan yang penuh dengan cinta, dan kelembutan. Bahkan dengan kelembutan, terkadang orang bisa menjual apa saja.
Bandingkan saja, misalnya pedangan A dan B barangnya sama-sama berkualitas. Pedagang A melayani dengan membentak, gue oriented, kasar, tidak menghargai pelanggan misalnya dengan mengatakan, “Kalau lo harga sekian gak mau, sana cari di hutan aja”. Sudah bisa dipastikan pembeli tidak akan kembeli ke tokonya lagi dan sudah pasti mengutukinya. Sementara B melayani dengan ramah, lembut, sopan, kata-katanya penuh dengan rendah hati, enak didengar dan cinta, kasih sayang pada pembelinya. Menurut Anda barang siapa yang lebih banyak lakunya? Ya, jawaban Anda benar, B!
Sebaliknya, Islam tidak menganjurkan kita tergesa-gesa. Bahkan dikatakan bahwa tergesa-gesa itu adalah perbuatan setan. Maksudnya, ketika kita tergesa-gesa, sebetulnya setan yang sedang berperan mempengaruhi pikiran, hati dan perbuatan kita. Contoh orang yang tergesa-gesa, waktunya masih untuk belajar, eeeh malah sudah pacaran. Waktunya belum kaya, malah maksa kaya dengan mencuri dan korupsi. Waktunya nunggu giliran, nyerobot antrian orang, jadinya ditonjok orang. Jalan di kampung yang harusnya pelan-pelan, malah ngebut. Di jalan raya malah pelan-pelan. Jadinya, digebukin orang sekampung atau ditabrak mobil dari belakang atau dijambret maling dari pinggir jalan.
Belajar, bekerja, bercinta, mencari uang, tercapainya target dan suksesnya kehidupan secara garis besar kelembutan banyak memberi peran! Semoga kita bisa menerapkannya...
TTD: Ahmad Saiful Islam 
@tips_kemenangan
@MotivasiAyat

Selasa, 22 Juli 2014

TERCIPTA UNTUK MENJADI RAHMAT



Jika kau merasa sulit menyerap ilmu, lihat lagi dirimu: “Sudahkah aku menyedekahkan ilmuku pada orang lain?”
Jika kau merasa sulit urusanmu, lihat dirimu lagi: “Sudahkah aku mempermudah urusan orang lain?”
Jika kau merasa seret rezekimu, lihat lagi dirimu: “Sudahkah aku menyedekahkan sebagian hartaku?”
Jika kau merasa sempit hati dan pikiran, lihat ulang dirimu: “Jangan-jangan aku ini iri, dengki, dongkol, dendam, hasut, ghibah pada orang lain?”
Jika kau merasa kurang dapat senyum dari orang lain, kurang mendapat perhatian dari orang lain, kurang di-like orang lain, tinjaulah dalam-dalam dirimu: “Sudahkah aku senyum, like, perhatian dan appreciate pada orang lain?”
Orang yang tidak berterimakasih pada orang lain, sejatinya dia tidak berterimakasih kepada Allah. Seorang anak yang tidak menghormati, tidak memulyakan, tidak berterimakasih kepada orangtuanya, sejatinya dia tidak berterimakasih kepada Allah. Ridla Allah itu terletak pada ridla kedua orang tua. Murka-Nya juga terletak pada murka orang tua. Bahkan yang namanya surga itu sudahlah jangan dicari dimana-mana. Cukup kau muliakan, pelihara, jaga, cintai orangtuamu.
Barangsiapa yang mencintai apa yang ada di bumi, maka yang dilangit entah itu Allah, malaikat dan semua makhluk-Nya yang di langit akan mencintainya. Itulah alasan kenapa akherat itu dibangun di dunia sekarang. Ibarat mau panen, kita harus menanam di dunia sekarang. Kalau yang ditanam adalah kebaikan, maka yang dipanen pun juga kebaikan. Begitu juga jika keburukan yang ditabur, itulah juga yang akan dituai. Adapun balasannya, tidak hanya di akherat tapi juga di dunia sekarang.
Inti dari surga itu adalah kebahagian. Orang yang bahagia berkat kebaikan yang ditaburnya, sejatinya dia telah meraih surga di dunia ini. Ketentraman, kedamaian, semangat hidup, orientasi hidupnya jelas, hidupnya, ilmunya, tenaganya semua hidupnya bermanfaat. Bukan hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain, dan lingkungan sekitaranya. Tidak pernah yang keluar dari kata-katanya kesiaa-siaan.
Uang, pekerjaan, waktu dan cita-cita memang seharusnya imbang. Bagaimana maksudnya?
Ya, tiap orang harus menyesuaikan antara uang, pekerjaan, waktu dan cita-citanya yang paling besar. Apa gunanya pekerjaan walau meraup uang banyak, tapi banyak membuang waktunya dengan keluarga, apalagi hingga mengabaikan hobi atau cita-citanya yang paling tinggi. Kalau itu terjadi, berarti sama dengan nilai kemanusiaannya, nilai waktunya, nilai cita-citanya masih lebih rendah dari uang. Dia telah melakukan barter yang tidak imbang. Dia rela bekerja siang malam, tulang pakek dibanting-banting lagi, hanya demi uang. Sudah tidak perduli lagi keluarga, dan misi besarnya dan nilai kemanusiaannya. Bahkan hingga terpeleset terjerembab dalam hal-hal yang diharamkan. Sejatinya dia telah kehilangan hidupnya. Itulah yang namanya terperdaya dunia yang sangat jelas menipu dan sangat jelas sementara ini.
OK, umat Islam harus kaya. Umat Islam harus sukses. Umat Islam harus dahsyat dalam ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, kesehatan dan kesejahteraan. Umat harus berjuang untuk meraih simbol-simbol pendukung kebahagiaan: ilmu, harta, dan tahta. Namun jangan sampai dilupakan bahwa peran manusia adalah rahmatan lil ‘alamin. Menjadi rahmat bagi semesta alam: manusia, hewan, binatang, daratan, lautan, udara dan sebagainya. Bukan hanya Alquran atau pun hadisnya yang menjadi rahmat bagi semesta. Tapi juga manusianya harus lebih dulu menjadi rahmat bagi semua.
Itulah Islam adalah agama cinta. Cinta kepada Allah, cinta kepada diri sendiri, cinta kepada sesama dan cinta kepada alam. Jalb mashalih wa daf’ al-mafasid. Pikiran apapun, perbuatan apapun, kebijakan apapun, sistem pemerintahan apapun pada ujung-ujungnya harus membawa dampak cinta kasih, rahmat dan kesejahteraan bagi semua manusia.
Nabi Muhammad selalu mewanti-wanti bahwa tidak beriman kalian hingga mencintai apa yang dicintai saudaranya. Bahwa innama al-mu’minun ikhwah, semua orang mukmin pada hakikatnya adalah saudara. Wa’ tashimu bi habl Allah jami’a wala tafarraqu. Asal disitu ada keadilan, maka itulah cinta. Sebelum menuai cinta, rezeki, senyum, maka taburlah dulu ketiganya yang ada dalam dirimu.
 Page Facebook: Ahmad Saiful Islam
Follow >> @tips_kemenangan dan @MotivasiAyat

Senin, 21 Juli 2014

POSITIF SAMA ALLAH DULU


Ingin bahagia sebenarnya simpel. Pertama positive thinking dan positive feeling kepada Allah, kedua pada diri sendiri dan terakhir pada orang lain. Hanya saja sering kita ini melihat setitik noktah hitam di lingkaran besar yang putih. Bukan lingkaran putihnya yang di-blow up, tapi malah titik hitam kecil itu yang dibesar-besarkan.
Perasaan dan pikiran itu masing-masing akan membawa dampak kebahagiaan dan kesuksesan pada pelakunya. Selalu berpikir positif dan berperasaan baik kepada Allah, sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Inilah sumber di atas sumber. Inti segala inti. Positif segala positif. Prinsip di atas prinsip. Jangan sampai ada sedikitpun perasaan dan pikiran negatif kepada Allah. Walaupun hidup kita waktu itu tampaknya kurang enak, tidak baik. Yakinlah, dibalik ketidakenakan, ketidaknyamanan, pasti banyak beribu kenikmatan. Dan dibalik kenyamanan kalau kita terus sabar dan terus berusaha, maka ada kenikmatan di atas kenikmatan.
Positif kepada diri sendiri juga awal dari positif-positif lainnya. Teguhnya prinsip yang berdasar dari ilmu pengetahuan, skill dan cita-cita yang terpuji, ibarat batu karang yang kokoh, tegar. Tidak mudah gelombang mengombang-ambingnya. Tidak mudah angin dan air hujan mengikisnya. Ketika dia sudah tegar seperti itu, maka yang akan tertanam di otak mereka secara otomatis, “Ooo...ternyata dia kuat. Tidak mudah dirobohkan. Wah, hati-hati jangan ceroboh berhadapan dengannya”. Sebaliknya, kalau pada diri sendiri saja tidak punya prinsip, itu seperti ayam yang tidak punya taji. Seperti ular tapi tidak berbisa. Seperti elang yang hilang paruh dan cakarnya. Seperti harimau tapi hanya mengeong. Kalau keadaannya seperti itu, sudahlah jangan harap-harap bahagia apalagi sukses. Karena akan jadi bola anak kecil yang ditendang, kanan, kiri OK.
Ketika sudah positif sama Allah dan diri sendiri, insya Allah orang lain, bahkan alam semesta akan mendukung kebahagiaan dan kesuksesan Anda. Anda seperti magnet yang menarik kebaikan dan menolak keburukan secara otomatis. Anda menyedot kebaikan yang notabene membuat bahagia dan sukses Anda semakin dahsyat. Anda tinggal komit dan konsis pada kebaikan dan memperjuangkan cita-cita Anda.
Berulang-ulang saya sampaikan bahwa Allah jauh-jauh hari sudah bilang “Aku apa kata hamba-Ku saja kepada-Ku”.
Bisa Anda bayangkan. Bagiamana jadinya, kalau Anda negative thinking dan negative feeling sama orang lain, dan orang lain itu tahu sikap Anda itu? Tentu dia juga bad kepada Anda bukan? Nah, Allah itu siang malam selalu mengawasi kita. Dia itu Maha Melihat, Maha Memantau, Maha Mengawasi. Bahkan di setiap gerak hati dan pikiran kita, Allah sedang Menyaksikannya.
Kalau orang yang kita kelabui tahu, tentu dia akan marah. Tentu dia juga akan cuek kepada kita. Tentu dia juga akan tidak menghiraukan kita. Alih-alih diperhatikan, minta tolong sekalipun, belum tentu kita ditolongnya. Karena dia sudah bad kepada kita disebabkan ulah kita sendiri yang bad kepada mereka. Dan memang kalau dipikir-pikir, memang kita sendiri yang salah. Kita sebaiknya berbenah.
Mungkin kalau dengan orang lain, kita bisa membuat-buat. Kita bisa bersikap baik di depannya saja. Walau sebenarnya di hati bad. Orang lain bisa tertipu. Orang lain bisa jadi hanya melihat tampilan luar kita saja di depannya. Tapi sangat-sangat beda dengan Allah. Dia sedikitpun tidak akan lengah. Kalau kita berbuat baik, maka harus benar-benar murni antara hati, pikiran dan perbuatan harus selaras sejalan. Jadi bila kita positif memang harus benar-benar, agar kita selama dan sukses dalam kehidupan ini. Misalnya selalu mendapatkan pertolongan Allah di setiap langkah kita meraih kehidupan yang semakin membaik dari hari ke hari.
Begitulah apa yang kita tabur, tidak akan pernah salah apa yang kita tuai. Kalau padi yang kita tabur, tidak mungkin panen jagung. Begitu juga kalau kebaikan, kelembutan, cinta yang kita tabur, maka itulah yang akan kita tuai nantinya. Jadi jangan pernah bosan untuk terus menabur kebaikan. Jangan pernah malas untuk memberi cinta kepada orang lain dan alam. Mintalah tolong dengan sabar. Jangan pernah menghitung-hitung kebaikan yang kita tabur. Karena cepat atau lambat pasti dan pasti itulah yang akan kita panen. Sabar benar-benar harus menjadi andalan Anda di sini. Jangan pernah puas menabur kebaikan. Panenan Anda nantinya tidak akan pernah tertukar. Karena Allah tidak buta apalagi tidur.

Page Facebook: Ahmad Saiful Islam
Follow >> @tips_kemenangan dan @MotivasiAyat

Rabu, 25 Juni 2014

ETOS KERJA SUPER



Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah[62]: 10)

Seorang muslim justru diperintahkan untuk meraih segala karuniaAllah sebesar-besarnya dan seluas-luasnya. Raih harta benda sebanyak-banyaknya, kekuasaan seluas-luasnya, dan ilmu pengetahuan setinggi-tingginya. Untuk apa? Bukan untuk terjebak pada dunia semu, melainkan untuk berbuat kebajikan dan membangun kemaslahatan umat. Itulah cara mendekatkan diri kepada Allah yang diajarkan Allah dan rasul-Nya. Allah mengajari kita untuk meniru perbuatan-Nya. Sebagaimana Dia ajarkan berikut ini: berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dialah yang telah memberi kita ilmu, kesehatan, rezeki, kekuasaan, dan berbagai kebutuhan hidup, maka tirulah itu dengan memberikan kepada orang lain. Tentu saja setelah kita bekerja keras untuk mencapai semua itu. Bukan dengan bertapa mengasingkan diri.

Salah besar orang yang katanya dzikir, lalu menyepi tanpa bekerja. Salah besar! Bekerja serta disiplin dalam bekerja adalah bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam. Tidak lengkap keislaman seseorang tanpa adanya pekerjaan. Dimaksudkan di sini adalah pekerjaan yang menghasilkan keuntungan finansial untuk mencukupi kebutuhan diri dan juga keluarga, baik itu pekerjaan tetap maupun sebagai entrepreneur.

Perintah ayat itu bukan hanya untuk shalat jum’at saja. Tapi untuk semua shalat seperti shalat wajib lima waktu, shalat untuk kesuksesan (tahajjud) dan shalat rezeki (shalat dluha). Setelah shalat, jangan lama-lama wiridan. Ingat yang diperintah itu adalah dzikir bukan wiridan. Dzikir itu artinya mengingat, sekali lagi mengingat! Ingat siapa? Ingat Allah dan kebesaran-Nya. Dan dzikir itu tidak hanya selesai shalat dengan duduk (qu’udan) tetapi juga bisa dengan berdiri (qiyaman), dan tiduran. Boleh dzikir (mengingat Allah bukan selalu identik dengan melafalkan), dimana pun dan kapan pun. Nah semua bentuk dzikir itu bisa kita lakukan sambil kita bekerja. Dan memang seharusnya begitu yang terbaik. Makanya perintahnya bekerjalah setelah shalat. Lengkapnya hal ini terekam dalam ayat, alladzina yadzkurunallah qiyaman wa qu’udan wa ‘ala junubihim.

Nabi Muhammad SAW, pernah ditanya oleh sahabat, “Pekerjaan apa yang paling baik wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab, “Seorang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual-beli yang bersih”. Bahkan pada kesempatan lain, beliau juga menyatakan betapa pentingnya bekerja keras dan cerdas yang bertujuan mencari nafkah untuk meraih kesejahteraan hidup. Nabi bersabda, “Sungguh seandainya salah seorang diantara kalian mengambil seutas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, maka dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi atau tidak”.

Setelah shalat, menyebarlah di muka bumi carilah fadhilah (rezeki yang melimpah) Allah. Sekali lagi, kita diperintah untuk mencari fadlilah yang berarti kelimpahan. Dan tidak sekedar rezeki. Itu isyaratnya kita diperintah untuk jadi kaya. Pilihan ada dua. Kalau tidak kaya, ya kaya raya. Kenapa kita harus kaya raya? Agar kita tidak egois hanya mementingkan perut kita sendiri. Kita masih punya isteri, anak, saudara, tetangga, teman, dan saudara-saudara kita seiman, seislam. Supaya Anda tidak memberi nafkah ke isteri sekedarnya. Supaya Anda tidak memberi pendidikan pada anak, sekedarnya. Supaya Anda bisa sedekah sekedarnya. Supaya Anda tidak membeli surga sekedarnya. Supaya perjuangan hidup Anda untuk-Nya tidak sekedarnya. Jadi kerjalah, kerjalah, kerjalah dengan semangat, antusias, kerja keras dan kerja cerdas.

Tentu Anda pingin sukses dalam usaha Anda? Benar, tentu Anda juga ingin sukses dalam bisnis Anda? Benar, tentu Anda ingin sukses dalam hidup? Benar. Jawabannya adalah seperti dipaparkan ayat di atas, “Ingatlah Allah yang banyak agar kalian sukses”. Bekerja keras dan cerdas bersamaan dengan itu ingat Allah yang banyak. Wuih mantap. Sudahlah jangan risaukan lagi, hasilnya. Tiga kekuatan ini lakukan, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Urusan Anda adalah kerja keras dan cerdas dengan mengerahkan potensi akal pikiran semaksimal mungkin. Urusan hasil, ah serahkan saja kepada Allah.

Etos kerja super, Ok selamat mencoba!

TTD : Ahmad Saiful Islam / @tips_kemenangan / @MotivasiAyat

Selasa, 24 Juni 2014

ARE YOU SURE IT IS UPSET?



Selama hidup di dunia, kita harus siap menerima manis dan getirnya hidup. Enak dan tidak enaknya hidup di dunia dengan bentuk yang macam-macam. Sangat tertipu orang hidup ini kalau hanya mengharapkan jalan mulus. Atau hanya mengharapkan kesakitan terus. Mustahil hidup ini satu warna atau hitam putih saja. Selama masih hidup di dunia, kita harus siap ikhlas, rela menjumpai dan merasakan “pelangi”. Resep Alquran simpel untuk dipraktekkan. Manakakala getir menyentuh seseorang, hendaklah mengucap innalillah wa inna ilaih raji’un dan meresapinya dalam-dalam dalam qalbu dan tindakan. Dan ketika manis menghampiri kita, ucap dan resapilah alhamdulillah.
Mau getir, mau manis, silahkan saja. Yang harus tetap kita lakukan adalah selalu mendekat kepada Allah. Getir mendekat, manis pun mendekat kepada Allah. Manis dan getir, itu sama saja kalau kita dekat dengan Allah, cinta Allah dan selalu menganggap Allah itu baik apapun dan bagaimanapun keadaan kita. Ya memang sebenarnya begitu. Akal kita pun bisa menyimpulkan sebenarnya bahwa memang manis getir itu sama saja. Itu kan fakta saja. Tergantung kita meresponnya. Getir dan manis itu memang ada dalam hidup di dunia ini. Kita hanya berusaha menjauh dan getir agar merasakan manis. Tapi kalau pun toh menyentuh juga dalam hidup kita, ya biarin aja.
Tidak ada getir terus dalam hidup ini. Pun tidak ada manis abadi di dunia ini. Manis dan getir itu bumbu kehidupan. Yang terpenting respon kita kepada keduanya. Ada loh orang yang sebenarnya getir dirasakan orang, tapi dirinya sendiri merasa manis. Sebaliknya, rasanya manis, tapi bagi orang tertentu itu malah jadi getir. Sekali lagi, itu tergantung pintar-pintar orang itu mengolah kegetiran dan kemanisan dalam hatinya. Dan tentu saja kualitasnya sangat bergantung kedekatannya dengan Allah.
Orang yang sudah terbiasa getir dalam hidupnya, dia akan biasa saja. Pun orang yang terbiasa hidup dalam kemanisan, dia pun akan merasa biasa. Getir dan manis akhirnya adalah hal-hal baru yang dirasakan seseorang. Apalagi kalau kita saksikan dengan mata, ada keindahan yang nampaknya manis sekali. Ada juga kegetiran yang nampaknya sakit sekali. Tapi ternyata orang itu merasakan biasa saja. Dia sudah biasa.
Memang manusiawi, ada rasa getir saat masalah menyapa kita. Namun jangan berlarut-larut dalam rasa sakit itu. Keep enthusiasm, keep fighting. Tetaplah semangat. Bangkitlah lagi. Bahayanya, kalau Anda pas dirundung kalut, galau berlarut-larut, iblis mudah masuk dalam hati Anda. Dia dan balatentaranya akan membisikkan pesimistis dalam hidup Anda. Kalau Anda sedih, mereka akan mudah menggelincirkan Anda. Diri Anda akan sangat lemah diberdayakan oleh iblis dalam lembah kenistaan. Padahal Allah menjanjikan ampunan kepada Anda. Allah menyuruh tetap spirit. Malaikat sudah memproklamirkan diri sebagai bodyguard kita. Jangan kalah dengan iblis. Wong Allah memproklamirkan diri-Nya sebagai aktif mencintai kita meski dosa kita sebesar langit dan bumi sekalipun. Sementara iblis mengajari kita untuk negative thinking kepada Allah padahal dosanya kecil. Wes pokoknya, ingatlah ini saat Anda mulai bad sight pada Allah. Apapun dan apapun, Allah mencintai Anda. Dan Anda pun mencintai-Nya.
Apalagi, kita tidak tahu sebenarnya. Apakah kita sudah yakin bahwa kegetiran itu getir? Apakah rasanya benar-benar tidak enak? Coba baca kalimat berikut baik-baik. “Inna ma’al ‘usr yusra. Inna ma’al ‘usri yusra”. Sesungguhnya bersama satu kesulitan (getir) itu ada banyak kemudahan (manis). Sudah menjadi tradisi bahwa kemudahan itu adanya setelah kesulitan, rintangan, cobaan, masalah dan teman-temannya. Di bangku sekolah saja, tidak mungkin Anda langsung tahu sesuatu tanpa berpikir, mendengarkan penjelasan guru, masuk kelas, belajar lagi di rumah. Pada awalnya sebuah pelajaran itu sulit. Tapi endingnya mudah bukan?! Begitulah proses hidup ini seterusnya. Untuk bisa (enak) itu butuh belajar, berlatih, berkorban waktu, tenaga, pikiran, uang yang sekilas tidak enak bukan?!
Kalau Anda sudah tahap ini, sudah sepatutnya kita ucapkan alhamdulillah saja lah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad, “Qul al-hamdulillah ‘ala kull hal”. Katakan alhamdulillah apa pun keadaannya. Ya ya, mau getir rasanya bersyukur. Apalagi saat enak, tentu lebih hebat lagi bersyukurnya.
Inilah orang hebat, orang kuat itu. Hebatnya manusia, tidak hanya dinilai dari otot kawat, balong besinya. Tapi lebih dahsyat adalah nilai tahan banting mentalnya. Antusiasnya. Pantang menyerahnya. Kokoh hatinya!
Untaian seorang pendoa: Ketika kumohon kepada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat. Ketika kumohon kepada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah untuk kupecahkan. Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan, Allah memberiku akal untuk berpikir. Ketika kumohon keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi.
Ketika kumohon kepada Allah sebuah cinta, Allah mengirim orang-orang bermasalah untuk kutolong. Ketika kumohon kepada Allah bantuan, Allah memberiku kesempatan. Aku tidak pernah menerima apa yang kupinta, tapi aku menerima semua yang kubutuhkan. Doaku terjawab sudah.

AHMAD SAIFUL ISLAM

Ahmad Saiful Islam Sarjana Tafsir Hadis UINSA Surabaya Lahir di Banyuwangi,  3 Mei 1987 Islamic Journalism Community  (IJC) Surabaya (2010)...